Smile of My Girl Part 21

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28

Smile of My Girl Part 21

Start Smile of My Girl Part 21 | Smile of My Girl Part 21 Start

Part 21. Intuisi bag. 2

SIREN POV

Jakarta, Indonesia…

Sepulang menjenguk Andra di rumah sakit, aku jadi banyak pikiran. Semua yang terjadi hari ini terasa janggal. Penyebab Jenni bunuh diri juga masih misteri. Andra belum mau menjelaskan permasalahan yang terjadi antara dia dan Jenni.

Palaku cenat-cenut, pusing sendiri. Ingin rasanya ngomong atau curhat sekedar mengeluarkan kekesalan dan kegundahan, tetapi gak ada yang bisa diajak ngobrol. Mau ngobrol sama Kak Deni kayaknya kakakku sedang stress berat, aku gak mau menganggunya dulu. Biarlah aku rasakan pusingku sendiri.

Sebenarnya aku sangat bangga sama Kak Deni. Walaupun mertuanya boleh dibilang orang sukses, tetapi sejak dulu kak Deni memang gak mau bergantung hidup pada mertuanya, ia ingin sukses dengan jerih payahnya sendiri.

Aku jadi teringat sama ayahnya Kak Rissa, beliau sedang sakit keras. Pak Abraham Wijaya, orang tua kak Rissa yang aku lebih suka memanggil beliau dengan sebutan Pak AW sedang dirawat di rumah sakit sehingga Kak Rissa lah disuruh memimpin perusahaannya. Mungkin, untuk beberapa waktu ke depan, Kak Deni dan Kak Rissa akan menginap di rumah Pak AW.

Daripada pusing sendiri, mending aku mainin ponselku. Aku mencari ponselku di atas kasur. Baru saja aku ambil, ponsel itu berbunyi.

Kring… Kring…

Ternyata, Vita sahabatku menelpon. Seperti ketiban durian runtuh, akhirnya aku dapet temen ngobrol. Segera saja aku angkat teleponnya.

“Hai Vital, gue kangen masa.”

…..

“Iya Vit, iya.. Gue ke rumah lo yah sekarang.”

…..

“Bawel ih..”

Kumatikan panggilan telepon dan bergegas memakai jaketku. Menuruni tangga keluar rumah dan menemui kak Revan.

Gerbang rumah kak Revan gak terkunci, begitupun pintu rumahnya.

“Kak…” panggilku.

Aku menaiki tangga menuju kamar kak Revan. Aku membuka pintu kamarnya, kosong. Aku teringat ruangan pribadinya yang bersebelahan dengan kamar tidur, aku lekas menuju ke sana.

Klekk..

“Va bene. Ti richiamo dopo. (Ya.. Nanti kuhubungi kembali).”

Kak Revan mematikan ponselnya dan meletakan di atas meja.

“Kakak telpon siapa? Sibuk banget.” aku memanyunkan bibirku, kulipat tangan di depan dadaku.

Ia terkekeh pelan dan mendekatiku.

Cup..

“Kau cemburu?” kak Revan menciumku dan memelukku erat.

“Vale?”

Aku membalas pelukan Vale.

“Hem.. Kau melupakanku, mia amore.”

Aku menggeleng cepat.

“Justru aku kesini menemuimu. Aku mau ke rumah Vita, boleh kan?” dalihku.

Vale mengurai pelukan kami.

“Untuk apa?”

“Ada hal yang perlu aku sampaikan ke Vita, penting.”

Ia tampak berpikir.

“Aku antar.”

“Jangan! Vita belum tahu hubungan kita. Kau kan janji akan merahasiakan, sebelum kau melamarku.”

“Oke, aku antar sampai di depan rumahnya saja. Tidak akan keluar dari mobil.” tawar Vale.

“Oke deh, tapi… Gendong yah!” manjaku.

Kugesek-gesekan satu jariku pada milik Vale secara perlahan. Ia melenguh tertahan. Kemudian tanganku mulai meremas. Kuusap dari bawah ke atas hingga menggembung dan membesar.

“Kau sengaja menggodaku, Amore.” ia menggeram pelan. Tangannya ikut meremas pinggulku.

Aku tertawa geli. Lucu sekali lihat pipi Vale memerah. Gemesin. Gerakan telapak tanganku makin kencang, dan mengocoknya dari luar celana panjang yang ia kenakan.

“Enak??” tanyaku dengan senyum menyeringai. Kupandang wajah Vale, ia sedang memejamkan mata. Aku menghentikan aksi tanganku pada miliknya. Ia membuka mata dan menatapku, senyumnya mesum dan mupeng.

“Andai saja aku tidak pernah berjanji untuk mengambilnya lagi sampai waktunya, kau pasti sudah berada di bawahku, Amore.”

Aku hampir lupa! Vale pernah berjanji padaku kalau ia akan melakukannya lagi hingga saatnya tiba nanti. Kupalingkan wajahku, malu, padahal aku juga lagi pengen banget. Dia gak tahu aja kalau lubang pusatku udah lembab dan terasa gatal. Ini semua pasti karena ulah tanganku pada batang Vale dan remasan tangannya pada pinggulku.

Memang akhir-akhir ini aku merindukan belaiannya. Bukan karena sifatku, namun puting payudaraku selalu terasa gatal dan yang di bawah sana kayak ada yang mengalir hingga membuatku menggelinjang.

“Dengar, Amore.” Vale menyentuh daguku dan mengangkatnya agar aku menatap wajahnya. “Kau tahu? Aku juga tidak kuat menahan hasratku.” lanjutnya.

Ia menghela napas panjang.

Aku tersentuh ucapan Vale. Ia menepati janjinya.

Vale mendaratkan bibirnya pada bibirku dan melumatnya sebentar serta memelukku.

“Jadi pergi?”

Aku mengangguk.

“Eh..” kagetku.

Vale menggendongku ala bridal dan berjalan keluar kamar. Kuletakan kepalaku pada ceruk lehernya. Ia membuka pintu dan menuruni anak tangga menuju garasi mobilnya.

Dalam perjalanan aku diam saja. Gak tahu mau bicara apa?

Sangat memalukan mengingat kejadian tadi. Tapi tekadku sudah bulat, saat kak Revan muncul aku harus menggodanya. Aku tersenyum-senyum sendiri.

“Apa yang kau pikirkan?”

Vale mengagetkanku. Ia memperhatikan raut wajahku sejak tadi.

“Tidak ada. Nanti kamu akan tahu sendiri.” aku tersenyum manis.

“Rahasia? Aku tahu apa yang ada dalam otakmu, Amore.” ia tersenyum miring.

Aku memanyunkan bibirku kembali. Vale memang selalu bisa menebak isi pikiranku.

“Vale berhenti di sini saja.”

“Yang mana rumah temanmu?” Vale melihat kiri dan kanan.

“Nomor 12, yang disana.” aku menunjuk rumah Vita. “Aku turun disini saja Vale. Vita pasti menungguku di depan rumahnya.

“Aku antar sampai sana.”

Ucapnya seraya menjalankan mobilnya kembali.

“Jangan Vale. Vita belum mengenalmu, nanti saja aku memperkenalkan kalian.”

Aku memang gak mau Vita tahu kalau aku sudah mempunyai kekasih. Mulut keponya pasti gak akan berhenti komat-kamit.

Vale tampak masih keberatan.

“Baiklah.. Telpon aku, jika urusanmu sudah selesai.”

“Kamu tidak capek?”

“Tidak ada kata lelah, jika itu tentangmu Amore.”

Vale tersenyum manis.

“Grazie, Amore.”

Aku mengecup bibir Vale lembut.

Aku keluar dari dalam mobil dan berjalan menuju rumah Vita. Bernar saja sahabatku itu sedang mondar-mandir di depan rumahnya.

“Vital..” teriakku dari luar gerbang rumahnya.

Kubuka pintu gerbang dan masuk ke dalam. Vita terkejut tapi langsung berlari dan menyambut kedatanganku.

“Lama banget sih lo.” omelnya.

“Kenapa sih, muka lo serius banget!”

Vita menarik dan mendorongku masuk ke dalam mobilnya. Ia menutup pintu dengan kencang. Ia memutari mobil dan duduk di belakang kemudi.

“Mau kemana kita?” tanyaku masih bingung akan tingkah laku Vita.

“Kita ke pemakaman Jenni sekarang. Pake seatbelt lo, gue mau selidikin sesuatu.” sahut Vita cepat.

“Emang ada yang aneh? Jangan bikin gue penasaran deh Vit.”

“Gue juga gak tau, Ren. Makanya kita kesana sekarang. Andra udah nunggu.”

Vita memasang muka serius, aku terpaksa diam walaupun banyak yang ingin kutanyakan.

Kami meluncur ke pemakaman Jenni. Aku dan Vita membeli satu buket anyelir putih untuk Jenni. Dan melanjutkan perjalanan.

Orang tua Jenni baru saja keluar dari area pemakaman menaiki mobil dan berlalu pergi. Andra dan teman-teman sekolah masih berada di tempat peristirahatan terakhir Jenni.

Aku berjongkok di depan pusara Jenni. Meminta maaf dengan tulus atas kesalahan yang aku sengaja ataupun gak kusengaja. Biar bagaimanapun ia pernah menjadi teman dekatku.

Andra terdiam berdiri di dekatku. Delapan orang anak buah Andra juga tak bersuara, kami hanya khusyuk berdoa bersama.

“Tadi pagi Sandra ditangkep polisi.”

Kata Andra memecah keheningan. Kami semua menoleh pada Andra.

“Maksud lo ‘Ndra?” ucap Vita tak percaya.

“Setelah diotopsi, polisi menemukan sidik jari Sandra di leher Jenni.” terang Andra. Ia menghela napas panjang. Dari matanya terpancar kesedihan yang mendalam.

“Gue gak percaya Sandra ngelakuin itu semua.” aku menyela penjelasan Andra.

Mereka semua menatapku.

“Kita ke rumah gue aja ‘Ndra. Kita semua perlu kejelasan. Lo ikut gue yah?”

Andra menoleh pada Vita dan mengangguk.

“Gue bantu.” kataku seraya menyentuh lengan Andra yang memegang tongkat.

Andra memalingkan wajahnya dan menoleh pada Vita. “Vit, tolongin gue.”

Vita menganga melirik ke arahku seperti meminta jawaban. Aku mengangguk tersenyum lemah.

“Cepet, Vit.” Andra menarik tangan Vita serta merangkulnya.

Sejak kemarin Andra gak mau bicara sama sekali denganku. Wajar saja sih Andra marah karena penolakan. Gak jauh berbeda denganku dulu. Vita yang gak tahu apa-apa ikut bingung melihat sikap Andra.

Kami bergegas balik ke rumah Vita yang betulan lagi sepi. Ayah dan ibunya sibuk di rumah sakit. Beberapa anak buah Andra mengekori mobil kami di belakang, dengan motornya.

Usen, seorang kaki tangan Andra, membuka gerbang rumah Vita. Kami semua memasuki pelataran rumah dan memakirkannya di teras depan.

“Duduk dulu, gue siapin minum.” kata Vita lalu berlari ke dalam rumah tanpa menolong Andra keluar dari mobil.

“Vit, tunggu.” teriak Andra kesal. Ia memukul pintu mobil berkali-kali kayak anak kecil.

Aku terkekeh pelan melihat sikapnya yang kekanakan.

“Sen.. Tolongin boss lo tuh. Kakinya gak boleh napak ke tanah.” ucapku pada Usen yang baru menutup gerbang.

Andra melotot. “Lo gak nolongin gue?”

Aku menaikan alisku. “Lo yang gak mau gue bantuin.”

“Harusnya lo paksa gue dong, Ren. Masa lo diem aja!” sewot Andra.

Aku menggeleng. “Ckck.. Childish.. Cepatan Sen, angkat tuh boss lo.” perintahku pada Usen.

“Gak.. Gue gak mau!” Andra mendorong Usen. “Lo aja yang nolongin gue, baru gue masuk.”

Usen mengacak rambutnya kesal mendengar petengkaran kami. Anak buah Andra yang lain tawa-tiwi tanpa berani bersuara.

“Makanya jangan sok.” aku menghampiri Andra memegang tangannya, membantunya berdiri. “Lo sebenernya udah bisa jalan kan? Cuma manja aja.” sindirku.

Aku melihat gips pada kaki Andra sudah dibuka, hanya menggunakan perban tipis yang membelit kakinya.

Andra tertawa lepas. “Kapan lagi gue bisa peluk lo.” ia merangkul bahu kiriku.

“Modus.. Gue jatuhin nih.” ancamku.

Andra hanya cengengesan. Kami semua masuk dan duduk di ruang tamu. Vita keluar bersama Bi Uting yang membawa sirop rasa jeruk.

Aku menuntun Andra hingga ia duduk di sofa yang nyaman. Kubantu Andra meletakan tongkatnya di samping sofa.

“Nah gitu akur, kan enak lihatnya.” Vita cengengesan dan duduk di sebelahku.

Aku memanyunkan bibir, sedang Andra dan yang lain tertawa kencang.

“Sekarang jelasin deh ‘Ndra. Ada masalah apa sebenarnya.” tanyaku menghentikan tawa mereka.

Suasana hening.

“Gue..gue..” gugup Andra. Ia mengedarkan pandangan menatap kami semua.

Andra menghela napas.

“Sejak gue ngejauh dari lo dan Vita. Gue terjerumus mengkonsumsi obat-obatan terlarang.” ungkap Andra.

Kami semua terperangah mendengar penuturan Andra. Wajahnya kuyu, menyimpan satu kesedihan yang ia gak mau ungkapkan dengan orang lain.

Andra menceritakan saat pertama ke pergok Jenni sedang memakai barang haram di toilet sekolah. Waktu itu Andra sedang frustasi karena perceraian kedua orang tuanya.

Andra memilih jalan pintas untuk menghilangkan stress. Ia mencoba memakai obat-obatan terlarang setelah dipengaruhi oleh temannya.

Ternyata orang yang menawarkan barang tersebut adalah orang suruhan Jenni.

Jenni merekam perbuatan Andra dan mengancam akan menyerahkannya ke kepala sekolah dan pihak berwajib. Jika Andra gak memenuhi permintaanya.

So, Andra terpaksa mengiyakan permintaan Jenni untuk berpacaran dengannya.

Sebab itu juga Andra tak menampakan lagi batang hidungnya di kantin dan membolos pada pelajaran terakhir demi menghindari Jenni.

“Kenapa lo gak cerita sama gue atau Vita? Seenggaknya kita bisa cari jalan keluar bersama ‘Ndra.” desakku.

“Gue gak mau lo illfeel sama gue, Ren. Makanya gue ngejauh dulu sementara. Sampe akhirnya gue dapet rekaman asli sama copyannya video gue di rumah Jenni.” jawab Andra.

“Eh.. Tunggu deh. Kalo lo jadian sama Jenni, kok gue gak pernah lihat lo beduaan yah?” tanya Vita pada Andra.

Andra menarik napas dalam.

“Gue yang minta, Ren. Gue mau jadian sama dia asal kita backstreet!” jawabnya lesu.

“Terus gimana lo bisa dapetin rekaman asli video lo?” tanyaku penasaran.

“Gue… Nipu Jenni. Mak..maksud gue..” Andra grogi.

“Ngomong yang jelas, ‘Ndra.” tegasku.

Vita dan yang lainnya hanya diam mendengarkan perbincangan kami.

“Gue.. Gue sengaja memperdaya Jenni saat bonyoknya gak ada di rumah.” Andra mengelap keringat di dahinya.

“Gelagat lo begini, kayak abis nyolong mangga tetangga buat bini lo yang lagi ngidam, ‘Ndra.” ceplosku ngasal.

Vita tertawa keras sekali diiringi tawa anak buah Andra, sedang Andra tersenyum paksa.

“Sorry, waktu itu gue boong sama Jenni kalo gue beneran jatuh cinta sama dia. Terus gue…” Andra gugup banget menghentikan ucapannya.

“Terus lo?” kutatap Andra tajam.

Hening sesaat.

“Gue maen sama dia, tapi gak sempet masuk kok.” Andra bicara sangat cepat.

“Enak?” Ooops dalam situasi gini aku malah keceplosan. Andra mendelik kesal ke arahku.

Vita terkejut menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Semua anak buahnua juga terkejut, melotot gak berkedip. Aku hanya menggigit bibir karena kaget sekaligus malu.

“Maen apa? Maen bilyar? Kalo ngomong yang jelas.” cecar Vita.

“Gue memperdaya Jenni. Gue yakinin dia kalo gue tuh bener-bener cinta sama dia. Akhirnya Jenni ngaku kalo dia emang sengaja menjebak gue dan merekam waktu gue lagi ‘make’ di toilet.” jelas Andra.

“Dia juga keluarin file rekaman asli dari dalam laci mejanya dan copyan-nya yang ia simpen di laptopnya. Akhirnya gue nekad masuk ke kamarnya dengan cara melakukan hal itu. Tapi gak sampe jauh kok. Percaya sama gue.” lanjut Andra.

Kami semua bergeming.

“Udah pecah telor belom?” cibirku.

“Hah? Gak sampe situ, Ren. Cuma di luar aja.” wajah Andra memerah malu.

Andra menggosok hidungnya dengan jari telunjuk. Pertanda ia sedang berbohong atau sedang menutupi suatu hal.

Jika laki-laki yang gak biasa berbohong akan menyentuh wajahnya setelah mengucapkan kebohongan, dan berusaha untuk menyembunyikan mulutnya. Hal ini terjadi secara refleks, seolah-olah mereka gak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan. Cara itu juga menunjukan penyesalan mereka.

“Ya udah gue percaya. Lo balik sama siapa tar ‘Ndra?” aku mengalihkan pembicaraan Andra.

“Sama Fredy.” sahut Andra pelan, lalu menunduk.

Benar Andra menyembunyikan suatu hal.

“Sorry yah semua. Bukannya gue ngusir. Tapi kayaknya si Andra butuh istirahat deh. Lebih baik kalian pulang dulu, Andra biar gue aja yang jagain.” kataku lembut pada anak buah Andra.

Andra menegakkan kepala terharu melihatku. “Lo perhatian banget, Ren.” ucap Andra.

Aku tersenyum manis dan mengangguk.

“Cie..cie..cie.. Auw..” kutoyor kepala Vita yang sedang menggoda kami.

“Oke deh! Boss kita cabut yah. Besok pagi kita jemput. Ren, Vit gue balik yah..” ucap Usen diikuti anak buahnya yang lain.

Aku dan Andra mengangguk.

“Hati-hati yah..” pekik Vita.

Mereka semua keluar dari pekarangan rumah Vita dan menutup kembali pintu gerbang.

“Udah sepi ‘Ndra.” ucapku pada Andra.

“Iya, terus?” Andra kebingungan.

“Jelasin ke gue kejadian sebenernya antara lo dan Jenni. Jangan ada lagi yang lo tutupi.” tegasku pada Andra.

“Maksud lo apa sih, Ren? Si Andra kan udah ceritain semuanya.” Vita menyela.

Aku menghela napas.

“Bicara sekarang, ‘Ndra.” desakku.

“Lo tahu gue belum ceritain semuanya, Ren.” Andra bertanya balik.

Vita celingak-celinguk melihat kami berdua.

“Siapa yang bunuh Jenni?” tanyaku to the point.

Andra mulai menceritakan kronologis sebenarnya. Waktu ia di rawat di rumah sakit, Sandra masuk ke kamar Andra dan mencabut selang infus dan selang bantu pernapasan yang terpasang pada tubuh Andra.

Namun tiba-tiba Jenni masuk menyelamatkan Andra dan memukul Sandra. Terjadi perkelahian dalam kamar VVIV tersebut. Sandra kalap dan memukul Jenni dengan tas sekolah. Jenni terjatuh dan terbentur dinding, tapi ia bangun kembali dan menarik rambut Sandra kuat.

Adu mulut (bukan ciuman ya hihi) antara Jenni dan Sandra terdengar oleh Andra yang mulai tersadar dari pengaruh obat penenang. Sandra mengatakan ia sangat membenci Jenni karena orang tua Jenni memecat secara sepihak orang tua Sandra. Hingga orang tua Sandra mengalami stress dan masuk rumah sakit.

Sandra berbalik dan mencekik Jenni dengan kuat hingga Jenni hampir berhenti bernapas. Tapi niat Sandra gagal setelah mendengar suara ketukan sepatu di luar kamar.

Sandra melarikan diri keluar dari dalam dan menabrak Fredy yang kebetulan sedang membuka pintu.

Andra siuman dan melihat Jenni dengan tampilan acak-acakan di sisi tempat tidur. Motif Sandra ialah ingin melukai orang-orang yang Jenni sayangi, untuk membalas dendam. Ia lelah atas tekanan dan tindakan Jenni dan orang tuanya yang semena-mena.

Jenni yang menceritakan itu semua ketika melihat kondisi Andra telah membaik. Jenni menyesal, ia menangis dan mau meminta maaf karena sudah berbuat curang pada Andra, aku dan Vita.

Andra memaafkan kesalahan Jenni asalkan Jenni mau berubah seperti dulu. Keadaan Jenni tampak kacau, ia pulang ke rumahnya dan berjanji akan sering mengunjungi Andra.

Sejak hari itu Jenni gak terlihat lagi. Ditemukan oleh ibunya gantung diri di gudang, kala ibunya pulang dari luar negeri.

Orang tua Jenni curiga atas kematian anaknya karena melihat leher Jenni membekas gambar tangan yang memerah. Jenni dibawa ke rumah sakit untuk di otopsi. Hasilnya menunjukan kalau Jenni dicekik sampai kehilangan napas sebelum ia gantung diri.

Dari hasil penyelidikan dan informasi, polisi mendatangi Andra untuk meminta keterangan. Andra menceritakan kronologis kejadian sebelum Jenni meninggal.

Saat itu Andra sudah mendengar kabar meninggalnya Jenni dari Usen, yang kebetulan melihat orang tua Jenni berada di ruangan kepala sekolah.

Sandra melarikan diri dan tertangkap tadi pagi di desa tempat tinggal neneknya.

Aku masih gak percaya kalau Sandra membunuh Jenni. Semuanya terjadi sangat cepat. Apa ada orang lain yang punya dendam sama Jenni?

“Gue juga gak percaya Sandra ngelakuin itu sama Jenni, Ren. Selama ini Sandra sangat baik. Dia juga yang ngebantu ngerencanain, buat dapetin file rekaman di laptop Jenni. Tapi Sandra udah mencoba membunuh gue.” ucap Andra lesu.

“Dikantin lo bilang, lo punya kartu As Jenni dan Fera. Apalagi yang lo sembunyiin?” desakku pada Andra.

“Sandra yang kasih tau gue, kalo selama ini Jenni menjebak gue atas usulan dari Fera. Gue suruh Fredy selidikin semua itu. Ternyata orang tua Fera juga terlibat, mereka pengedar. Jenni juga pemake sama kayak gue. Fredy mendapatkan beberapa bukti beserta foto-foto transaksi mereka. Gue jadiin itu sebagai alat buat mengancam mereka.” terang Andra.

“Lo masih make sampe sekarang?”

“Udah gak, Ren. Gue kapok, hanya beberapa kali aja dulu di sekolah.” ucap Andra lesu.

Andra menyesali perbuatannya dan berjanji gak akan memakai barang itu lagi. Aku dan Vita bernapas lega Andra mau mengakui kesalahannya.

Namun hatiku masih terasa mengganjal!

Aku berniat akan menjenguk Sandra esok di penjara setelah pulang sekolah bersama Vita dan Andra.

“Telpon Fredy, ‘Ndra. Lo anterin gue balik sekalian.” ucapku lembut pada Andra.

Andra menurut ia langsung menelpon Fredy. 27 menit menit kemudian Fredy datang dengan mobilnya, menjemput kami berdua.

Aku dan Andra berpamitan pada Vita. Andra duduk di depan bersebelahan dengan Fredy karena aku paksa, sedang aku duduk di bangku penumpang.

“‘Ndra.. Sekarang anterin gue ke rumah Fera.” kataku tanpa basa-basi.

“Mau ngapain lo, Ren? Lo bilang mau pulang.”

“Gue mau selidikin sesuatu.” sahutku pada Andra. “Pak Fredy, bapak tahu kan alamat rumah Fera?” lanjutku bertanya pada Fredy.

“Tahu, Non.” jawabnya datar.

“Tolong antar saya kesana, Pak.” pintaku ramah.

“Mau ngapain sih lo, Ren? Bahaya tahu.” balas Andra.

“Tar aja kalo sampe sana lo juga tahu.” sahutku tegas.

Mobil kami segera melaju ke rumah Fera. Kompleks rumahnya dijaga ketat oleh beberapa petugas, Fredy berbicara secara pribadi di post keamanan hingga mobil kami dapat masuk tanpa dicegah. Entah apa yang ia bicarakan!

Rumah Fera dijaga oleh beberapa orang petugas berpakaian preman. Kami gak bisa begitu saja masuk. Mobil kami terparkir di seberang rumah Fera.

Sudah lebih dari 30 menit kami mengawasi rumahnya. Gak ada yang mencurigakan.

“Ngapain kita kesini, Ren? Gue bete tahu..” Andra ngoceh saja sejak tadi.

Namun kuacuhkan. Aku harus tahu siapa dalang atas kematian Jenni. Firasatku mengatakan, walaupun Sandra sangat membenci Jenni. Tapi Sandra bukanlah pembunuh. Ia gak mungkin tega melakukan semua ini.

Sebuah mobil mewah silver keluar dari dalam gerbang, itu mobil kesayangan Fera.

“Pak tolong ikuti mobil itu, jangan sampai kehilangan jejak Pak.” kataku pada Fredy.

“Kurang kerjaan banget sih lo, Ren. Ngikutin si Fera.” gerutu Andra.

“Baik, Non.”

Mobil mewah Fera meluncur sangat cepat, hampir saja kami kehilangan jejak. Aku merasakan firasat aneh lagi.

Fredy sangat pandai mengemudikan mobil, kami tetap berada di belakang Fera. Ia menjaga jarak agar Fera gak curiga.

Fera berbelok di depan pada gang sempit. Ia turun dari mobilnya. Kami mengawasi dari jauh.

“Itu salah satu markas Franklin, orang tua Fera.” Fredy memecah keheningan.

Aku menoleh ke kaca spion melihat Fredy dan tersenyum.

“Sebab itulah aku meminta tolong pada bapak.”

Kami berdua tersenyum licik. Sepertinya sejak awal Fredy sudah mengetahui niatku membuntuti Fera. Hanya Andra saja yang kebingungan sendiri menatap kami berdua.

Aku terkejut saat melihat Fera berlari terburu-buru keluar melalui gang sempit tersebut. Ia kayak dikejar-kejar seseorang.

“Pak, tolongin Fera cepat jangan sampai dia terluka.” pintaku pada Fredy.

Fredy hanya diam tak menjawab apapun, sedang Andra menoleh kepadaku.

“Jangan Ren, bahaya.” cegah Andra.

Aku bergegas keluar dari mobil tanpa bicara lagi. Aku kasihan melihat Fera yang tampak ketakutan.

“Ren..” pekik Andra panik.

Jalan ini memang sangat sepi, Fera memasuki gang buntu. Dikejar oleh 5 orang berpakaian serba hitam.

Aku bergegas menyelamatkan Fera dari orang yang mengejarnya. Mereka hampir saja memukul Fera yang sedang berjongkok melindungi kepalanya dengan kedua tangannya.

“Heh berhenti..” teriakku lantang.

Mereka semua menoleh kepadaku. Tanganku bergetar melihat 5 orang pria berwajah sangar, mereka terlihat sangat marah.

Aku gak mungkin mengalahkan mereka semua. Tapi Fera harus kuselamatkan, apapun caranya. Aku yakini Fera adalah kunci atas kematian Jenni dan penyebaran foto-fotoku di sekolah.

Fera menatap ke arahku. Bias ketakutan nampak dari matanya, ia seperti baru saja melihat hal mengerikan di dalam gudang kosong tadi.

“Heh bocah, lu cari mati rupanya.” kata pria yang memakai topi, ia tampak geram melihatku.

“Kalian gak punya nyali? Lima orang pria ngelawan satu wanita lemah cih…” aku berdecih, meledek.

“Kurang ajar lu..” geramnya. “Tangkap tuh bocah.” perintahnya pada anak buahnya.

Aku jadi waspada. Kupasang kuda-kuda, tanganku mengepal siap meninju lawan pertama yang akan kuhadapi. Satu pria kurus maju menerjangku dengan kaki kanannya. Aku melesat ke kanan dan menendang dadanya balik. Ia terjatuh ke belakang.

Satu temannya marah, ia maju dan memukulku satu arah di depan wajahku. Aku murka jika saja wajah cantikku sedikit saja tersentuh tinjuannya, aku memiringkan wajahku, melengos ke kanan. Kupukul tangannya dengan tangan kiri dan kupukul balik wajahnya dengan tangan kananku. Kutendang dengan kencang, hingga ia terguling ke belakang.

Bugh..

Suara pukulan seseorang di belakangku. Aku menoleh, ternyata Fredy menyelamatkanku dari orang yang ingin memukul dari arah belakang.

Licik sekali mereka, melawan satu perempuan saja lewat belakang saat aku lengah.

Fredy maju di depan melindungiku. Wajahnya masih saja datar.

“Heh.. Broklat pecundang.. Licik banget cara lo. Gue gak mau tahu urusan lo sama perempuan itu.” aku menunjuk Fera yang bergetar di pojok reruntuhan dinding. “Tapi gue cuma gak suka cara lo. Cuma banci yang beraninya melawan perempuan gak berdaya.” ucapku lantang.

Wajah pria bertopi merah padam. “Lu bocah, beraninya lu ngatain gue. Apa maksud lo broklat?”

“Muka lo mirip broklat, bikin mules.” ejekku.

Aku tergelak kencang.

“Kurang ajarr.. Habisin itu bocah.” perintahnya pada anak buahnya.

Aku bersiap siaga ingin melawan kelima begundal bersama dengan Fredy. Kami saling membelakangi.

“Menyingkirlah, Non. Biar saya saja yang menghadapi mereka.” kata Fredy yang berada di belakangku.

“Gak bisa, Pak. Kita hadapi bersama.” kataku tegas.

“Keras kepala.” sindir Fredy padaku.

“Emang!!” balasku.

Dua orang pria sangar maju dan ingin memukulku. Kutangkis tangan satu pria terdekat dan memukul balik rahangnya diikuti tendangan kakiku ke bagian perutnya.

Pria satu lagi bersiap menerjangku dengan tendangan sangat tinggi. Aku merunduk sembari merengkas satu kakinya yang lain hingga ia terguling ke samping.

Kulihat Fredy dengan cepat bisa mengalahkan kedua pria sangar di depannya. Tak salah penilaianku, Fredy bukan orang sembarangan. Ia pasti sudah terlatih, makanya orang tua Andra mengutusnya buat menjaga anak mereka.

Ketua pria sangar tersebut sedang lengah menelpon seseorang. Aku bergegas berlari menghadapi Fera dan menuntunnya menjauh.

“Lo gapapa, Fer?”

Punggung Fera bergetar melawan tangis. Ia memelukku kencang sekali. “Berasa lesbiola deh gue.” pikirku.

Aku merenggangkan pelukan Fera dan ingin mendekat pada Fredy.

Namun aku terkepung oleh dua pria yang tadi melawanku. Aku menyembunyikan Fera di balik punggungku.

“Berhenti… Cabut.. Ini perintah boss besar.” pekik pria sangar pada anak buahnya.

Mereka semua mundur teratur dan pergi begitu saja. Fredy mendekati kami, membuka jasnya dan memakaikan pada bahu Fera.

Aku gak melihatnya tadi. Dress Fera koyak bagian ketiak sampai bawah. Begitupun scoop neck-nya yang robek, hingga belahan payudara Fera terlihat dengan jelas.

“Makasih yah, Pak.” kataku tulus pada Fredy.

Aku tersenyum tulus sembari merangkul Fera. Pak Fredy mendekat ke arah sampingku dan berbisik kecil.

“Ada yang merekam perkelahian kita. Sebaiknya kamu bawa Fera ke mobil. Aku akan mengejarnya.”

Aku mengernyit sesaat, tapi aku tahu maksud perkataan Fredy tadi.

“Kita pulang, Pak.” aku mengeraskan suara agar terdengar oleh si penguntit.

“Nona sebaiknya kembali ke mobil, saya kebelet.” Fredy berjalan dan melompat ke balik dinding yang runtuh.

Aku menuntun Fera berjalan keluar gang, menuju ke tempat mobil Andra terparkir. Kubukakan pintu mobil penumpang, Fera naik lebih dulu sedang aku naik di sebelahnya.

“Lo gapapa, Ren? Batu banget sih lo. Gue khawatir sama lo.” ucap Andra dengan suara keras. “Lo ngapain sih nolongin dia? Dia yang udah mencoba membunuh kita berdua, Ren.” pekik Andra marah.

Aku terkejut melihat kemarahan Andra. Kembali aku menoleh pada Fera, ia sedang menangis.

“Lo tahu darimana ‘Ndra?” aku bertanya balik penasaran.

“Fredy yang selidiki. Fera juga mau membunuh lo, waktu lo pulang dari rumah sakit pas jenguk gue kemarin. Tapi kata Fredy, lo udah diselametin duluan sama orang asing.” sahut Andra lantang.

“Kejadian kemarin dong? Gue kan sama kak Revan.” pikirku.

Aku kembali menoleh pada Fera.

“Bener, Fer? Yang dibilang Andra!” tanyaku tegas.

Fera mengangguk lemah. “Maaf.. Ren, Dra.”

Dugaanku benar lagi. Jenni gak terlibat kecelakaan.

Aku menghela napas dalam.

“Kenapa lo lakuin itu?” tanyaku lembut pada Fera. Meredam sementara segala kemarahanku. Gak mungkin Fera akan menjawab jujur kalau aku berkata kasar.

“Gue.. Iri lihat lo dari kelas 10. Waktu itu lo dipilih kakak kelas buat jadi kapten cheers. Gantiin kak Diandra.” ungkap Fera menangis dan menundukan kepala.

“Gue kan udah ngalah. Gue juga gak demen teriak-teriak bawa pom-pom sama pake rok mini. Gak banget, tau gak!!” ucapku kesal. “Gue akrab sama Kak Diandra, cuma karena doi orangnya asik. Bukan karena ngerayu pengen gantiin jadi kapten cheers. Culas otak lo.” cibirku.

“Maafin gue, Ren.” Fera memelukku dari samping.

Andra memperhatikan kami lewat kaca spion.

“Lo beneran minta maaf? Jelasin ke gue, siapa pembunuh Jenni sebenernya!!” aku tatap Fera tajam.

Pelukkan tangan Fera terlepas. Tangannya bergetar, wajahnya tampak gelisah. Ia kayak menyembunyikan sesuatu.

“Lo yang pasang foto gue di mading?” tanyaku to the point. “Lo yang bunuh Jenni?” tuduhku.

Fera menunduk dan kembali menangis. Ia menggelengkan kepalanya. “Emang gue yang nyebarin fitnah di sekolah, tentang lo. Tapi bukan gue yang bunuh Jenni.” Fera sesenggukan.

“Lo harus laporin pembunuh itu ke polisi.” tegasku.

“Kita bawa aja langsung si Fera ke polisi, Ren.” geram Andra.

“Jangan ‘Ndra, please.. Gue cuma punya bokap. Nyokap gue udah meninggal. Gue gak mau kehilangan orang yang gue sayang satu-satunya.”

Aku dan Andra saling melirik. Dengan kata lain Fera mengaku bahwa ayahnya yang telah membunuh Jenni. Tapi mengapa?

Fera menutup mulutnya. Ia keceplosan.

“Fera denger. Lo sendiri gak mau kalo sampe bokap lo dipenjara. Tapi bokap lo udah membunuh Jenni, lo tahu sendiri kalo Jenni itu anak semata wayang. Orang tuanya stress atas kematian anak tunggalnya.”

Napasku memburu. Aku harus bisa membujuk Fera agar menjadi saksi untuk membebaskan Sandra.

“Please jangan, Ren. Gue gak mau bokap gue masuk penjara.” Fera menggelengkan kepalanya.

“Gimana kalo nanti akan ada korban yang lain?” tanya Andra. “Gimana kalo bokap lo nanti membunuh gue dan Siren juga? Bokap lo itu pembunuh, Fer.” lanjut Andra tajam.

Fera menggeleng kencang dan menangis sejadi-jadinya. “Gue mohon, jangan laporin bokap gue.”

Aku memejamkan mata, pikiranku tak tenang.

Tok Tok Tok..

Mataku terbuka. Aku menoleh ke kaca jendela mobil. Fredy datang mengikat seorang pemuda dengan wajah lebam. Wajah Fredy pun sama penuh luka. Sepertinya mereka baru saja berkelahi.

“‘Ndra pindah ke belakang jagain Fera.” pintaku pada Andra tegas.

Andra mengangguk malas, mengangkat kakinya yang diperban dan pindah duduk di pinggir. Hingga Fera berada di tengah-tengah kami.

Kubuka pintu mobil dan lekas turun dari mobil. Aku berbicara berbisik pada Fredy, ia mengangguk mengerti. Fredy juga menyerahkan ponsel milik pemuda tersebut dan kumasukan pada saku celana jeansku.

Fredy masuk ke dalam mobil megang kemudi dan berlalu pergi. Aku menatap tajam pada pemuda yang berada di hadapanku.

Aku melangkah mengitarknya dan kini berdiri di belakang pemuda itu mengirim pesan singkat pada seseorang.

Wajah pemuda itu menunduk. Aku membuka ikatan tali pada pemuda tersebut.

“Wajah lo lebam semua, sakit gak?” kusentuh lembut pipinya yang merona merah, dia menunduk malu. “Kita makan yuk, gue laper banget.”

Aku menelpon taksi langgananku dan menunjukkan alamat tempatku berada.

Tanganku masih merangkul bahunya, kami berjalan ke tempat yang agak ramai. Pemuda itu sungguh lucu, pipinya semakin memerah. Imut banget, membuatku tak tahan menggodanya.

Beberapa menit taksi pun datang. Kami masuk ke dalam taksi. Aku menyebutkan nama tempat tujuanku. Di perjalanan kami saling diam. Pemuda itu tampak gugup, seperti belum pernah disentuh perempuan.

Aku turun diikuti pemuda itu di sebuah cafe yang sepi pengunjung, karena hari masih sore. Aku menggemgam pergelangan tangannya masuk ke dalam cafe.

Orang yang ingin kutemui sudah berada disana. Wajahnya menegang saat melihat kedatanganku bersama pemuda tersebut. Aku tersenyum manis melihat orang yang ingin kutemui.

“Duduk.” perintahku pada pemuda tersebut.

Aku duduk disebelahnya. Kami saling berhadapan. Pemuda itu hanya menunduk tanpa berani bersuara.

“How are you, Mister.” aku tersenyum kecil.

Bersambung ke part 22

END – Smile of My Girl Part 21 | Smile of My Girl Part 21 – END

(Smile of My Girl Part 20)Sebelumnya | Selanjutnya(Smile of My Girl Part 22)