Smile of My Girl Part 20

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28

Smile of My Girl Part 20

Start Smile of My Girl Part 20 | Smile of My Girl Part 20 Start

Part 20. Intuisi bag. 1

POV SIREN​

Jakarta, Indonesia..

Semalaman belajar rasanya penat sekali. Untung saja Vale selalu menbantuku menyederhanakan soal-soal sulit hingga aku dapat mengerjakannya dengan mudah.

Dibalik kemesumannya, Vale sangat jenius gak berbeda dengan kak Revan. Ia bahkan gak terpengaruh godaan sayton.

Niat awal ingin menjelma menjadi cambion, tapi gak kesampaian. Ternyata jika sedang belajar Vale sama sekali anti hal-hal berbau lendir.

Padahal pelajaran akan cepat terserap oleh otak jika ‘kehendak hati sudah terlaksana’. Siapa tahu dengan ia memasukan miliknya pada lubangku, materi pelajaran juga bisa masuk ke dalam otakku.

Vale pengen banget aku segera lulus dan menjadi istrinya. Yang ia gak tahu kalau seorang wanita bisa saja terserang nymphomania jika lama tak disentuh oleh pria!

Aku menarik napas dalam.

Setelah Vale menampakan diri, sejak hari itu juga kak Revan gak pernah muncul lagi.

Pengen banget ngerasain bermesraan sama kak Revan. Bicara jujur takut menyinggung jiwa asli, gak ngomong rindu setengah mati.

Coba dua-duanya muncul! Pasti wajahku dibelai sayang, dan bagian bawah dipacu liar. Aaah.. pasti terasa nikmat.

Pikiranku sudah terkontaminasi bacaan panas penulis “King of Mesum” di forum dewasa.

Koplak jadinya.

Aku menuruni undakan anak tangga dari kamarku menuju ke lantai bawah untuk pergi ke sekolah

Senandung lagu tentang cinta kunyanyikan dengan merdu. Kayaknya aku berbakat menjadi penyanyi.

Aku terkekeh sendiri.

“Wah cantik.. Adiknya Kakak…” kata kak Rissa yang berada di bawah tangga.

“Kan dari dulu, Kak.”

Aku tersenyum malu.

“Kamu waras kan, Ren?” sela kak Deni mengernyitkan dahinya. Menatapku curiga.

“Deni.. Jangan mulai yah!” sergah kak Rissa melotot tajam.

“Gak kok, Yang. Adikmu tuh liat! Bentar nangis, bentar ketawa. Aku jadi curiga saja kalo Siren depresi.” sarkas kak Deni tajam melihatku.

“Kak..” melasku pada kak Rissa.

“Astaga.. Deniii…” marah kak Rissa.

Pluk Pluk Pluk..

Kak Rissa memukuli bahu kak Deni, berulang-ulang. Aku hanya menggelengkan kepala.

“Sakit, Yang.. Aduh.. KDRT ini namanya…”

“Biarin… Mulut kamu tuh gak disekolahin apa? Adikmu sendiri kamu bilang gak waras. Otak isinya hanya selakangan yah begini.” geram kak Rissa memukul kak Deni makin keras.

Aku tergelak kencang. Inilah hiburan dari kakakku Deni kalau aku sedang berada berada di rumah.

Aku kembali menggelengkan kepala. Baru beberapa hari yang lalu mereka berjanji gak akan bertengkar lagi, hari ini sudah seperti Tom mengejar Jerry. Ada-ada saja kedua kakakku itu.

Kutinggalkan kedua kakakku yang berkejaran mengitari meja makan. Aku bergegas keluar untuk bertemu mio amore.

Mobil Vale telah menungguku di depan gerbang rumahnya. Aku berlari menghampiri mobil dan membuka pintu sebelah kiri serta memasang seatbelt.

“Jalan, Vale.” kataku tanpa melihat wajahnya.

Aku membereskan buku dan tas sekolah yang lupa kuseletingin dari rumah.

“Kenapa?”

Aku menoleh ke arah Vale. Sejak tadi ia hanya melihatku dan tersenyum manis.

“Kakak??” aku terperangah.

Ia mengangguk.

Kubuka seatbelt dan memeluknya dari arah samping. Hatiku bahagia bisa melihat kak Revan-ku kembali. Getaran di dadaku semakin kencang. Ia juga membelitkan tangannya pada pinggangku erat.

“Kamu bahagia?” tanyanya lembut.

Aku mengangguk cepat.

“Saatnya Siren beraksi.” ucapku dalam hati. Aku terkekeh senang.

Aku bangun dan mengangkat kaki kiriku dan segera naik ke pangkuan kak Revan. Bokongku kini tepat berada di atas pahanya. Kakiku menekuk, pusatku hanya beberapa senti saja dengan miliknya. Ia sempat terkejut, pipinya bersemu merah menggemaskan banget.

Kami bertatapan. Aku tersenyum semanis mungkin, sedang ia tampak kikuk.

“Ti voglio bene.”

Kataku dan mengecup bibir kak Revan sekilas. Senyumnya mengembang, walau tampak kaku. Kak Revan harus terbiasa dengan perlakuanku.

“Kok diam, Kak? Peluk dong.” pintaku manja.

Kak Revan terkejut sesaat karena sifat manjaku. Lalu memelukku erat sekali.

Keisenganku muncul!

Aku menggesekkan pusatku sedikit demi sedikit. Tubuh kak Revan menegang dan bergetar. Aku menahan pusatku yang masih terasa nyeri.

“Sayang, nanti kamu telat.”

Kak Revan menahan laju pinggulku dan meremasnya.

“Aku masih rindu..”

Sengaja kutekan dadaku pada dada bidangnya. Kurangkul bahunya sangat erat. Napas kak Revan memburu. Menyenangkan sekali menggoda kak Revan. Aku merasakan guling juniornya membesar menekan pusatku.

“Sudah jam tujuh, Sayang.”

“Hah!!”

Aku terkejut melepaskan pelukanku dan turun dari pangkuannya serta duduk di bangku sebelah. Kulihat jam yang melilit pada pergelangan tangan kiriku. Masih jam 6 lewat 10 menit.

Aku melirik tajam pada kak Revan. Ia mesem-mesem sambil melajukan mobilnya.

“Liat saja pulang nanti!” batinku sambil membetulkan celana dalam miniku yang terjepit bibir pusatku karena gesekan tadi. Basah kurasakan. Aku terangsang!

Kumanyunkan bibirku menoleh ke kiri. Aku dikerjai oleh kak Revan. Dahal seru sekali melihat rona merah di wajah kak Revan. Kalau tahu akan begini, sudah kutancap dari dulu.

Tiba-tiba kak Revan meraih tangan kananku lalu mengecupnya lembut.

“Pacar Kakak cantik sekali hari ini.” pujinya sambil tersenyum menawan.

Marahku menguap begitu saja. Pipiku bersemu merah, aku tersenyum menatapnya dan memeluknya dari samping. Aku memang gak bisa benar-benar marah padanya.

“Kak Re.” bisikku di dekat telinganya. Tanganku bergelayut manja mendekap kak Revan yang sedang menyetir mobil.

“Emm…” gumamnya. Menoleh tersenyum kepadaku.

“Es… Es apa yang bisa bikin aku bahagia?”

“Es?? Apa yah!” ia mengerutkan dahi seolah sedang berpikir.

“Ayo apa? Nyerah yah?”

“Nyerah deh! Kalau gombal, pacar Kakak jagonya.” mengedipkan mata menoleh ke arahku.

Aku tersipu-sipu. Ia bisa juga menggodaku.

“Es yang bisa bikin aku bahagia.. Es-Senyuman Kekasihku.” Kuletakkan kepalaku di bahunya kembali.

Kak Revan mendaratkan bibirnya di dahiku. Aku semakin berbunga-bunga.

Sampai di sekolah kak Revan membukakan pintu mobil untukku. Membuatku sangat tersanjung.

Para siswa-siswi yang baru saja datang memperhatikan kami. Mereka berbisik-bisik.

“Seperti ada yang aneh.” pikirku.

Kualihlan kembali pandanganku.

“Makasih yah, Kak.”

“Pulang Kakak jemput yah.”

“Iya, Kakak hati-hati di jalan. Bye..bye..”

***

Pagi ini di sekolah sangat aneh. Suasana jadi gak enak banget. Seluruh siswa berbisik-bisik tetangga. Memandang sinis dan jutek padaku.

“Heh..heh.. Tunggu lo. Kenapa lo liat gue kayak gitu?”

Kataku menarik adik kelasku yang lagi lewat.

“Liat aja di mading.” siswi itu melepas tanganku kasar dan pergi menjauh.

“Kayak gak ada harga diri deh gue.” gerutuku pelan.

Karena penasaran aku berjalan ke gedung B yang merupakan gedung paling tengah yang berada di sekolah. Letaknya strategis, tempat mading, ruang Osis dan ruang guru juga berada di sana.

Aku berlari menyingkirkan kerumunan siswa-siswi di depan mading. Aku membulatkan mataku, terkejut melihat beberapa fotoku berjalan bergandeng tangan dengan seorang pria dewasa.

“Sial.. Siapa yang berani nantangin gue? Pasti si trio kebatilan.” geramku dalam hati.

Kubuka kaca mading dan mengambil beberapa gambarku dari sana. Kusobek-sobek hingga kecil dan kulempar sembarang.

Napasku memburu. Baru saja aku mendapatkan kebahagian, eh malah langsung dibikin sewot lagi. Sepertinya masalah tak pernah lepas dariku.

Aku berjalan ke kelas untuk menenangkan diri. Hari ini Vita sahabatku belum masuk sekokah, Andra belum keluar dari rumah sakit.

Keadaan kelas pun sama. Mereka memandangku rendah. Tak ada satupun yang percaya padaku.

“Siren, lo dipanggil bu Yessy ke ruang BP.” kata seorang cewek adik kelasku.

Brakk..

“Lo gak punya sopan santun manggil Kakak kelas lo sendiri?” marahku menggebrak meja.

Ia memalingkan wajahnya malas. Dan pergi begitu saja.

Aku menarik napas dalam. “Kurang ajar banget itu anak. Kalo gue lagi gak kena masalah pasti udah gue bogem.” batinku geram.

Aku bangun dari kursi, berjalan keluar kelas menuju ruang BP yang berada di dekat mading.

Kepalaku nyut-nyutan serasa mau pecah. Aku tahu, itu pasti ulah Jenni, dialah dalang dibalik sabotase foto-fotoku tersebut. Tapi aku belum mempunyai bukti untuk membela diri.

Bu Yessy ialah guru BP (bukan Buka Paha) di sekolah. Panggilan hari ini pasti gara-gara adanya foto tersebut.

Tok Tok..

“Masuk.” kata bu Yessy yang telah menungguku di dalam.

“Pagi, Bu. Ibu manggil saya?”

“Duduk, Siren.” sahutnya jutek.

Aku menghela napas. Lalu duduk di sofa depan meja kerja bu Yessy.

“Kamu tahu alasan saya manggil kamu?” tanyanya sembari duduk menyilangkan kakinya dengan angkuh di hadapanku.

“Tahu, Bu.” sahutku pelan.

“Kenapa kamu lakukan hal tersebut? Kamu telah mencoreng nama baik sekolah kita. Harusnya kamu saya skorsing!” omel bu Yessy dengan nada tinggi. “Tapi karena sebentar lagi UN, saya akan membahasnya dalam rapat dewan guru. Ini surat panggilan untuk orang tua kamu.” lanjutnya panjang lebar.

Aku mangut.

Bu Yessy menyerahkan surat dalam amplop dan kulipat, kumasukan ke dalam saku baju seragamku.

“Kalau kamu masih mau mengikuti Ujian Nasional, hari ini juga kamu harus membawa orang tuamu ke sini.” mulutnya masih pedas.

Aku mangut lagi.

“Kepala sekolah ingin memberimu keringanan karena kamu sudah hampir lulus. Setelah orang tuamu datang ke sini, saya akan mempertimbangkan jenis hukuman lain untuk kamu.”

Aku mangut-mangut.

“Harusnya kamu bisa menjaga sikap. Kamu sudah dewasa, Siren. Kamu harus tahu hal itu tidak baik!”

Aku mangut-mangut malas berkali-kali.

“Hanya tinggal beberapa hari lagi kamu akan lulus, tapi malah membuat ulah. Mengapa kamu lakukan itu?” cerocosnya.

Aku diam.

“Kenapa kamu diam?”

“Kepala saya capek, Bu.”

“Kalau ditanya kamu harus jawab Siren. Tidak sopan bicara seperti itu pada orang yang lebih tua dari kamu.” marahnya dengan nada meninggi.

“Iya, Bu.”

“Tumben kamu tidak protes? Kamu tidak menyangkalnya, apa benar kamu lakukan hal tersebut? Saya sama sekali tidak pernah menyangka, kamu berperilaku seperti itu.” ketusnya.

“Kalo saya bicara, memang Ibu mau percaya sama saya?”

“Kamu..” geramnya. “Sudah salah banyak tingkah lagi!”

“Saya diam salah, bicara salah.” aku menghela napas. “Ibu Yessy yang saya hormati. Foto itu belum tentu benar adanya. Foto itu diambil setelah saya mengalami kecelakaan, sepulang sekolah bersama Andra. Sampai saat ini pun Andra masih dirawat di rumah sakit karena kondisinya belum memungkinkan untuk pulang dan masuk sekolah kembali. Ibu tahu itu, kan? Dan waktu itu saya juga mengalami benturan keras di kepala. Ibu lihat ini?” kataku menunjukan dahiku yang terluka.

“Bagaimana mungkin seorang yang terluka parah dengan kondisi lemah, bisa menjual diri?”

Bu Yessy sempat terdiam beberapa saat mendengarkan penuturanku. Dahinya berkerut memikirkan sesuatu.

“Maksudmu, ada orang yang sengaja menjebakmu?”

Aku menghela napas panjang.

“Saya belum punya bukti, Bu. Saya juga gak tahu motif dari beredarnya foto editan tersebut. Memang dari pihak sekolah gak ada penyelidikan! Siapa orang yang sengaja menempel foto tersebut di mading?” sarkasku tajam.

Bu Yessy membeku. Ia menelisik wajahku. Menelaah semua perkataanku, dahinya semakin berkerut.

“Kalau kamu tidak melakukannya, mengapa kamu tidak membela diri?”

“Lalu saya harus ngapain?” tanyaku bingung.

Bu Yessy menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Aku tahu ia terbawa emosi tadi.

“Kamu kembali saja ke kelas. Saya akan bicarakan ini dengan kepala sekolah.” perintahnya pelan, gak ngomel kayak sebelumnya.

“Ibu belum jawab pertanyaan saya.”

“Pertanyaan apa?” tanyanya ikut bingung.

“Apa yang harus saya lakukan?” sahutku datar.

“Siren… Kalau kamu tidak kembali ke kelas, saya akan berikan kamu point di buku kasus.” ia menggeram kesal.

Aku mengangkat bahu cuek.

“Ya sudahlah. Saya ke kelas dulu, Bu.” pamitku langsung keluar kelas.

***

Dua jam pelajaran kosong, sangat membosankan. Berisik sekali suasana kelas, menggosipkan berita buruk tentangku.

Kutulikan telingaku dan termenung.

Kuabaikan celotehan teman-temanku karena gak mood berkelahi. Di kelas aku cuma sendiri, kukeluarkan buku tulis kosong dan pensilku untuk menghilangkan kebosanan.

Kugaris abstrak buku tulisku dengan pensil. Gambar tanpa makna. Kubuka lembaran baru, ku tulis lima titik kemudian kutarik membentuk rasi bintang seperti kursi terbalik.

Rasi bintang Cassiopeia!

Alkisah, Cassiopeia adalah istri seorang raja bernama Cepheus dari kerajaan Aetiophia. Suatu hari kesombongan Cassiopeia melewati batas dengan mengatakan bahwa kecantikannya dan kecantikan putrinya, Andromeda melebihi kecantikan Nereid (peri laut), para putri Poseidon.

Mendengar hal tersebut, sang dewa laut marah besar dan mengutus monster laut bernama Cetus (dalam mitologi digambarkan sebagai ikan paus) untuk menghancur-leburkan kerajaan Aetiophia.

Poseidon sendiri menghukum kesombongan Cassiopeia dengan mengikatnya di atas kursi singgasananya sendiri dan menaruhnya terbalik di atas langit. Seringkali digambarkan, Cassiopeia memegang cermin sembari mengagumi kecantikannya sendiri.

Aku berkaca melihat diriku sendiri. Apa mungkin Tuhan memberiku banyak sekali cobaan karena kesombonganku?

Gak pernah sekalipun niatku buat menebar permusuhan terhadap orang lain. Tapi orang lainlah yang menganggapku sebagai penggangu.

Aku belajar menerima keadaan.

“Gun, lo duduk di sini dong. Gue gak mau duduk di belakang cewek munafik.”

Tiba-tiba suara Dina terdengar tepat di belakangku, menyindirku.

“Lo bayar aja pake dolar, biar dia minggat keluar hahaha….” Gun-gun tertawa meledek.

“Mendingan duitnya gue tabung daripada bayar chili.” hina Dina tajam.

Mereka tertawa bising sekali.

“DIAAMMM…!!” bentakku tak sadar.

“Huuuu…….” mereka menyoraki.

“Apa kalian yakin foto itu asli? Apa kalian yakin foto itu bukan rekayasa? Apa kalian liat sendiri gue menjual diri? APA KALIAN BISA MEMBUKTIKANNYA???” marahku berapi-api.

“Kenapa kalian bisa dengan mudah menjudge orang lain salah, padahal belum tentu orang itu benar-benar melakukan hal yang buruk? Jaman sudah maju. Kalian sudah mengenal banyak sekali aplikasi editor foto. Kalau kalian pintar dan punya otak, hanya dalam sekali lihat saja kalian bisa langsung tahu bahwa foto itu hasil sabotase. Kemana perginya otak pintar kalian? Apa kalian lupa caranya bertanya secara baik-baik pada orang yang berada dalam foto tersebut?” sarkasku.

Mereka semua diam terhenyak mendengarku.

“Apa karena satu gosip murahan, kalian membully kawan sendiri? Bagaimana jika hal itu terjadi pada diri kalian sendiri? Menangis? Frustasi? Bunuh diri? Bodoh!! Sampah!! Kaleng rombeng!! Kerupuk lembek!!” hujatku.

“Dengar… Lihat lebih teliti dengan mata kepala kalian sendiri. Jika kalian gak buta, kalian akan temukan jawabannya.”

Mereka terdiam tanpa suara.

Selesai bicara aku membawa tas ke perpustakaan untuk menenangkan diri.

Rasanya sedikit lega mengungkapkan kesedihan dengan teriak kemarahan. Walaupun itu seperti bukan aku yang sebenarnya.

“Ren.. Berhenti lo.”

Tiba-tiba lenganku ditarik oleh Fera.

“Apaan sih lo, jangan cari ribut sekarang, gue lagi gak mood.” sahutku malas.

“Dasar pembunuh!! Lo penyebab semua ini.” geram Fera ingin memukul wajahku.

Namun aku menangkap pergelangan tangan Fera sebelum menimpa wajahku. Aku mengernyitkan dahi, gak mengerti arah pembicaraan Fera.

“Lo punya cecunguk baru?” aku melihat Fera ditemani oleh lima orang siswi yang terkenal nakal di sekolah ini. “Lo dibayar berapa sama Fera?” sindirku.

Kulepaskan tangan Fera kesal.

“Kali ini lo gak bisa lolos, Ren. Guys seret dia ke gudang.” perintah Fera pada ke lima anak buahnya.

Lima orang siswi itu mendekat padaku dengan wajah menyeramkan.

“Eitss.. Tunggu. Jadi lo cari ribut sama gue? Satu lawan enam gitu?” aku tergelak kencang. “Sebegitu cemennya lo Fer, sampe bayar orang buat nyeret gue.” ejekku pada Fera.

“Banyak omong lo, bawa dia ke gudang biar kita kasih pelajaran.” geram Fera.

“Elahh Fer, hayo deh gue jabanin.” kataku menantang. “Lepass!! Gue bisa jalan sendiri. Lo sentuh gue lagi, gue bogem lo.” aku menatap tajam pada anak buah Fera.

Aku melangkah ke arah barat menuju gudang yang terletak di bagian belakang sekolah. Para begundal chili-chilian membuntutiku.

Jalan menuju gudang memang agak sepi. Apalagi seluruh siswa berada di kelas. Hanya ada taman dan danau buatan, kursi kayu serta pohon rindang tempat para siswa belajar.

Aku berbelok dari taman menuju gudang, namun dalam keadaan siaga. Kupertajam kupingku agar tak lengah menghadapi mereka. Langkah kakiku berhenti di depan pintu gudang sekolah.

Apes banget hari ini. Baru saja dijebak, sudah terkena masalah lagi.

“Stop.. Sekarang lo jelasin. Kenapa lo bilang gue pembunuh? Lo ada bukti real nuduh gue?” aku melipat tangan di depan dada.

“Jenni meninggal bunuh diri. Itu pasti lo penyebabnya.” tuding Fera.

“Apa??”

Aku membulatkan mataku, aku sangat terkejut. Pantas saja beberapa hari ini Jenni gak kelihatan di sekolah. Tapi apa penyebab Jenni bunuh diri?

“Kalo Jenni bunuh diri. Terus siapa yang udah nyebarin foto gue sama kak Revan? Apa ada hubungannya sama Andra!” batinku, penasaran.

“Lantas, kenapa lo nuduh gue pembunuh? Lo bilang barusan dia bunuh diri!” sarkasku pada Fera.

“Semua terjadi karena lo. Seluruh sekolah juga tau, kalo lo pernah terlibat perkelahian sama Jenni.” marahnya menggebu-gebu.

“Lo ada bukti?” aku menaikan sebelah alisku.

Napas Fera memburu. Aura kebencian terlihat di matanya.

“Abisin dia..” perintah Fera pada anak buahnya.

Kelima anak buah Fera mengeroyokku dari berbagai arah. Aku memasang kuda-kuda ingin membela diri.

Pok Pok Pok…

Suara tepuk tangan seorang siswa dari balik pohon mengagetkan kami. Kami berhenti memandang siswa aneh yang baru saja mendekat.

“Hallo.. Sedang main apa?” tanyanya tersenyum manis. Logat bicaranya sungguh aneh, sepertinya bukan orang Indonesia.

“Main-main.. Lo gak liat gue lagi dikeroyok bondolan.” sindirku pada Fera.

“Sialan lo..” marah Fera padaku. “Lo anak baru mendingan lo cabut dari sini.” bentak Fera pada siswa itu.

Siswa itu mengerutkan dahinya kebingungan melihat Fera melotot. Sedangkan aku terkekeh kecil.

“Why? Kalian sudah kelas 12? Oke, aku harus lapor guru.” ancam siswa baru itu tenang.

“Sial.. Awas lo yah..” Fera melotot ke arahku.

Rombongan bondolan pergi dengan kesal. Aku terkekeh kencang dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Hei anak baru. Thanks yah…” aku menepuk bahu siswa tersebut dan berjalan ke arah taman.

“Tunggu! Siapa namamu?” panggilnya padaku dan tersenyum.

“Aish.. Lo belajar bahasa Indonesia aja yang bener. Nanti kalo udah lancar, gue kasih tahu. Bye…” aku berjalan sembari melambaikan tangan tanpa berbalik.

Aku bergegas kembali ke perpustakaan. Ingin menenangkan diri dari semua masalah yang terjadi hari ini.

***

Peristiwa hari ini serba mengejutkan. Senin esok sudah diadakan Ujian Nasional, dan aku gak mungkin memberitahu kak Deni kalau aku terkena kasus dan telah dijebak seseorang di sekolah.

Kak Deni pasti marah besar, kak Rissa sudah pasti akan pingsan. Aku menghela napas gusar.

Kuambil ponsel pintarku menelepon kak Revan. Kayaknya memang ia yang bisa menolongku.

“Hallo.. Kak, dimana? Aku mau minta tolong nih.” kataku manja.

……

“Hah!! Kakak tahu darimana?”

……

“Ya sudah, aku tunggu yah. Aku ada di perpustakaan.”

“Makasih pacar hehe….” tawaku dan mematikan ponsel.

Aku harus menyelidiki sesuatu. Jalan satu-satunya, aku harus ke rumah sakit menemui Andra dan mencari tahu.

Pertemuanku terakhir aku dengan Jenni, ia kayak masih baik-baik saja, dan Jenni memukulku sekuat tenaga di rumah sakit. Sampai membekas di pipi kiriku.

Setengah jam aku menunggu kak Revan datang ke sekolah. Kak Revan bilang, ia tahu kasus yang sedang aku alami. Entah darimana!

“Ren, ada yang menunggu kamu di luar perpus.” suara pak Jali mengagetkanku.

“Eh.. Iya Pak, makasih yah.” jawabku ramah.

Aku berjalan keluar perpus dan melihat kak Revan sedang tersenyum manis.

“Kakak.” sapaku. Aku berlari menghampirinya.

“Sudah selesai! Yuk kita pulang.”

“Selesai? Maksudnya?”

“Tidak akan ada hukuman, Sayang. Kakak sudah menjelaskan pada gurumu.”

“Beneran?” tanyaku senang.

Kak Revan mengangguk lembut.

“Sebentar, Kak.”

Aku kembali ke dalam perpus untuk mengambil tasku, lalu kembali menggandeng kak Revan berjalan keluar sekolah.

Pandangan para siswa-siswi kepoh mengintip dari balik jendela kelas. Aku cuek tanpa peduli hinaan mereka lagi.

Kak Revan mengantarku ke rumah sakit tempat Andra dirawat. Aku harus tahu perihal Jenni bunuh diri.

Aku juga ingin mencari jawaban dari rasa penasaran dan unek-unekku selama ini. Apa hubungan Andra dengan Jenni yang sebenarnya.

Berselang 27 menit kami tiba di rumah sakit. Aku memasuki ruangan Andra tanpa mengetuk pintu. Kulihat ada Fredi, asisten orangtua Andra yang berjaga di rumah sakit. Fredy pun keluar ruangan, gak ingin mengganggu kami.

Kak Revan sengaja menyuruhku masuk terlebih dahulu, sedang ia menunggu di luar kamar. Pengen memberiku privasi, katanya. Aku jadi heran sama kak Revan, ia gak cemburu sedikitpun aku menemui pria lain.

“‘Ndra.. Gimana keadaan lo hari ini?”

“Ren.. Lo udah pulang sekolah?” Andra balik bertanya memperhatikan jam dinding.

“Ada yang mau gue sampein ke lo. Ini masalah Jenni ‘Ndra.”

Andra menghela napas.

“Oh.. Gue udah tahu, Ren. Usen tadi telpon gue.”

“Lo baik-baik aja ‘Ndra?” selidikku.

“Terus lo mau gue nangis?” Andra memanyunkan bibirnya.

“Seenggaknya dia dulu temen kita ‘Ndra. Kenapa Jenni sampe bunuh diri? Lo pasti tahu.” sengitku pada Andra.

“Gue gak tahu, Ren. Waktu kejadian, dia orang pertama yang jagain gue di sini. Setelah Jenni pamit, dia gak nongol lagi sampai sekarang. Tahu-tahu ada kabar dia bunuh diri.” ucap Andra lesu.

“Berarti bener dong, dia pacaran sama lo?” sarkasku.

“Ceritanya panjang, Ren. Nanti aja gue ceritain, gue belum siap.” lirih Andra.

Andra menggerakan bahu gelisah tanpa sadar. Ia kayak menyimpan suatu rahasia.

Aku semakin penasaran atas jawaban Andra. Dari ucapan Andra sepertinya memang terjadi sesuatu di antara mereka. Entah apa itu?

Krekk..

Suara pintu terbuka. Kak Revan masuk ke dalam dan tersenyum pada kami.

“Oiya ‘Ndra kenalin, ini pacar gue.”

Andra melotot garang.

Bersambung ke Part 21.

END – Smile of My Girl Part 20 | Smile of My Girl Part 20 – END

(Smile of My Girl Part 19)Sebelumnya | Selanjutnya(Smile of My Girl Part 21)