Smile of My Girl Part 18

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28

Smile of My Girl Part 18

Start Smile of My Girl Part 18 | Smile of My Girl Part 18 Start

Part 18. Mengenal

Dua insan anak manusia masih terlelap letih. Menyatu di atas alas peraduan mereka. Sang wanita menggeliat pelan, sedang sang pria tersenyum bahagia masih dengan mata terpejam.

Sang wanita? Sang pria? Ya.. Sebut saja begitu karena mereka telah menyatu.

“Ouhh.. Diamlah Amore, kau membangkitkannya.” Valerio melenguh tertahan. Tangannya menggapai sesuatu yang menggeliat membesar dibawah sana dan membenarkan letak posisinya.

“Emm…” Siren merasa terusik dalam lelapnya. Ia berbalik arah dan memeluk selimut, matanya enggan terbuka.

Valerio menghembuskan napas pelan dari mulutnya. Ia juga ikut memiringkan tubuhnya, memeluk Siren dari belakang.

“Kau harus bertanggung jawab, Amore.”

Valerio mengecup kecil bahu Siren yang terbuka, menelusuri leher jenjang wanitanya hingga ke belakang kuping. Tangannya membelit hingga ke perut sang wanita, menggesekan tongkatnya ke celah bukit kembar bagian belakang.

“Diem dulu, Kak. Aku ngantuk.” protes Siren.

“Pangil aku Vale.”

Mata Siren terbuka sempurna, mendengar nama ‘Vale’ disebut. Ia melepaskan ikatan tangan Valerio dan berbalik berhadapan.

Siren menatap dalam mata Valerio. Melihat dengan seksama wajah yang kini ada di hadapannya. Tangannya mengelus lembut wajah Valerio. Ia menggaris pelan dahi, merasakan lebatnya alis pejantan itu, menyentuh hidung mancungnya dan berakhir ke bibir.

Valerio mengecup kecil jari telunjuk Siren dan tersenyum manis. Sedang Siren terkejut. Siren mengepak-ngepakan kedua tangannya pada kedua pipinya yang bersemu merah.

“Hentikan itu, Amore. Kau menyakitiku.” Valerio menangkap kedua tangan Siren dan memegangnya erat dengan tangan kanannya, sedang tangan kirinya merangkul bahu Siren agar mendekat.

Siren tertegun. Nyawanya belum sepenuhnya terkumpul. Matanya tepat berada pada dada bidang Valerio. Pipinya memanas, ia baru saja teringat pertempurannya dalam perang dunia kedua semalam. Ia menyembunyikan wajahnya menempel pada dada bidang pejantannya.

“Kau sangat menggemaskan, Amore.”

Valerio tersenyum geli. Siren mendengak melihat Valerio tak suka.

“Siapa Amore?” Matanya setajam silet.

Valerio terkekeh geli.

“Kau, Amore.. Ti Amo..”

“Aku Siren, kamu lupa? nama gadis yang semalam kamu gempur.” geram Siren, absurd.

Valerio tergelak kencang dan mengecup kening Siren cepat. Ia tersenyum senang melihat sang wanita cemburu.

“Amore itu berarti sayang. Lagi pula, sekarang kau bukan gadis lagi.” goda Valerio.

Wajah Siren semakin bersemu merah, namum hatinya berbunga-bunga. Ia kembali menyembunyikan wajahnya ke ceruk leher Valerio. Membuat Valerio menegang, rambut Siren bergesekan dengan lehernya dan dada kenyalnya menyapa lembut dada bidang Valerio.

Valerio menghembuskan napas pelan, menahan hasrat. Ia kembali memperhatikan Siren.

“Mengapa kau malu? Lihat aku, Amore.”

Valerio mengelus pipi Siren, sayang. Ia ingin melihat wanita yang ia cintai.

Kepala Siren terangkat. Ia mengecup kecil pipi Valerio dan tersenyum manis. Mata mereka beradu mesra menyiratkan kebahagiaan.

“Apa masih sakit?” Valerio mengecup dahi Siren yang terluka masih dilapisi perban.

Siren menggeleng pelan, dahinya berkerut seraya sedang berpikir.

“Apa yang kau pikirkan?”

“Aneh saja. Sejak kemarin tak diberi makan.”

Siren teringat kembali pada Revan. Jiwa yang berbeda dari Valerio selalu mengutamakan kesehatan Siren. Tak pernah lupa memberikan perhatian kecil seperti makan dan minum Siren.

Valerio tergelak kencang.

“Kau lapar? Kau tidak terlihat lemah, Amore. Tadi malam kau sudah disuntik.” Valerio menahan senyum.

Pipi Siren memanas, ia hanya menunduk. Siren berpikir disuntik mengarah ke konotasi negative yakni sebuah benda panjang yang ditusukan ke dalam tubuh hingga mengeluarkan cairan.

“Bicaramu mesum, Vale.”

Valerio tergelak kencang.

“Tadi malam kondisimu sangat lemah. Dokter menyuntikan vitamin pada lenganmu.” bibir Valerio menuncup mengarah pada tangan Siren.

Siren semakin malu saja, hanya menundukan kepala.

Tidak biasanya ia seperti itu! Ia akan semakin agresif tergantung siapa lawan biacaranya. Dengan Valerio, Siren tak berkutik. Berbeda jika berhadapan dengan Revan yang pendiam.

“Kau lah yang selalu berpikir ke arah sana, Amore.” kata Valerio telak.

Siren memeluk Valerio semakin erat. Bibirnya tak mampu bicara lagi. Sepertinya ia memiliki lawan tangguh untuk bersilat lidah.

Valerio melenguh tertahan. Sejak tadi miliknya bangkit tanpa bisa ditidurkan kembali.

“Vale.. kamu mencintaiku?” tanya Siren tiba-tiba.

Siren deg-degan menunggu respon dari Valerio.

“Aku mencintaimu lebih dari apapun, Mia amore.”

“Mia amore?”

Siren tampak kebingungan karena perbedaan bahasa. Revan tak pernah bicara seperti itu.

“Artinya kekasihku.”

Siren tersenyum manis.

“Bella.”

“Siapa Bella?”

Siren memanyunkan bibirnya, sedang Valerio terkekeh senang.

“Bella itu cantik.”

Siren menarik kedua sudut bibirnya. Valerio memandang dengan cinta.

“Bellisima, il sorriso della mia amata.”

“Artinya?”

“Sangat cantik, senyuman kekasihku.”

Pipi Siren bersemu merah. Tidak ada satu pun rayuan laki-laki yang mampu membuatnya klepek-klepek. Bahkan selama ini ia yang mati-matian menggombali Revan yang pendiam. Berbanding terbalik dengan sikap Valerio yang blak-blakan.

“Mia Amore.” ucap Siren.

Valerio terbahak-bahak.

“Kenapa tertawa?” Siren cemberut.

“Bahasa Italia itu berbeda, Amore. Panggil aku Mio amore.”

Valerio tersenyum gemas melihat kekasihnya.

“Mio amore, artinya?”

“Kekasihku. Khusus diucapkan wanita kepada pasangannya.”

“Mio Amore.”

Siren mengecup bibir Valerio sekilas. Ia juga mengencangkan pelukannya pada kekasihnya.

“Vale, boleh aku bertanya?”

“Ya.. Tentu saja, Amore.”

“Kenapa kamu bisa jatuh cinta padaku? Padahal kita hampir tak pernah berbicara.” tanya Siren serius. Ia merenggangkan pelukannya dan menelisik wajah Valerio lebih seksama.

“Aku selalu melihatmu, Amore. Dengan mata ini.” Valerio menunjuk matanya.

“Kenapa baru sekarang kamu menampakan dirimu? Hampir tiga tahun kita kenal.”

Valerio terdiam. Ia tak ingin membuat orang yang ia cintai terluka kembali karenanya. Tidak mungkin ia bilang, bahwa awal perkenalan mereka Valerio hanya memainkan hatinya.

“Aku tidak ingin kau terluka. Aku tidak ingin kau tersakiti. Cintaku tidak akan berubah sampai kapanpun. Kau belum percaya padaku?” wajah Valerio berubah sendu.

“Bu..bukan begitu.” gugup Siren tak ingin Valerio bersedih. “Maksudku..” lanjut Siren, namun terhenti karena ia bingung cara mengungkapkan penasaran yang ada di hatinya. Jika Siren mengutarakannya, ia takut jiwa lain dari Valerio akan bersedih. Siren hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Perjuanganmu sudah cukup, mulai saat ini biarkan aku yang berusaha. Aku akan membuatmu menjadi milikku, ratu dalam hatiku.”

Meleleh! Mata Siren berkaca-kaca, rasa penasaran dalam hatinya terjawab sudah. Ia hanya tidak menyangka jika Valerio mencintainya, karena belum lama ini cintanya digantungkan oleh Revan.

Valerio bisa menangkap maksud perkataan Siren dengan cepat. Mereka berpelukan erat, dada ranum Siren menekan dada Valerio lembut.

“Lihatlah ke bawah, Amore. Kau yang telah membuatnya seperti itu sejak tadi.” Valerio menggeram menahan hasrat.

Siren mengacuhkannya. Ia bahkan menaikan sebelah kakinya dan mengesek-gesekan pada senjata roket milik Valerio.

“Kau bermain-main denganku, Amore. Bisa kita ulangi yang semalam?” napas Valerio mulai memburu.

Siren menggelengkan kepala.

“Hanya sebentar.”

Siren menggeleng cepat. Ia tahu maksud dari ‘hanya sebentarnya’ Valerio dan Revan akan berakhir sampai pagi. Ia mulai teringat sesuatu.

“Vale, aku harus pulang. Kak Denden pasti nyariin aku.”

Siren menyingkap selimut dan bergegas bangun, namun rasa nyeri membuatnya terduduk kembali di tepi tempat tidur. Ia mengernyit menahan sakit.

Valerio ikut bangkit dari tempat tidur, panik melihat Siren terjatuh duduk.

“Hati-hati Amore. Aku akan menemanimu menemui Kakakmu. Jangan khawatir! Aku akan bertanggung jawab.”

Siren tersenyum senang, mendengar penuturan Valerio. Prianya sangat gentle, sangat tahu jikala hati Siren sedang merisaukan suatu hal.

Valerio menggendong Siren ala bridal. Membawa ke kamar mandi dan meletakan di atas wastafel. Sementara ia menyiapkan air hangat di dalam bathtub.

Wajah Siren memerah memperhatikan roket Valerio mengacung tegak mengangguk-angguk. Siren tersenyum-senyum sendiri melihat bayi raksasa berjalan.

“Aku tahu kau mengaguminya.” Valerio tersenyum mesum.

“Eh..” Siren terkejut, tertangkap basah.

Valerio berjalan mendekati Siren, tersenyum penuh arti. Mata Siren melotot lalu melirik ke kiri dan ke kanan. Namun tidak bisa melarikan diri, pusatnya masih terasa nyeri.

Valerio menggendong Siren dan meletakannya di dalam bathtub.

Mereka mandi bersama. Untuk kesekian, terulang kembali peperangan yang semalam. Siren telah pasrah hanya melenguh nikmat dalam permainan air tersebut.

***

Siren berdandan di depan cermin besar. Wajahnya berseri-seri, senyuman terukir di wajahnya. Valerio memperhatikannya sambil memeluknya dari belakang.

“Vale, darimana kamu tahu ukuran bajuku?”

“Aku tahu semua tentangmu, Amore.”

Siren tersenyum kecil memperhatikan wajah kekasihnya dari pantulan cermin.

“Aku hampir lupa. Jadi semua hadiah itu, kau yang mengirimkan?”

Siren teringat akan hadiah yang telah ia terima dengan inisial huruf V.

“Hem.. Jangan lepaskan jam tangan itu, Amore. Kau tidak tahu betapa aku mengkhawatirkanmu.”

“Memang ada apa dengan jam tangan itu?”

Siren berubah murung. Ia telah menganggap jam tangan itu ialah pembawa kesedihan. Karena itu benda terakhir yang diberikan Revan sebelum ia menghilang beberapa bulan.

Valerio melihat raut kesedihan pada wajah kekasihnya.

“Mengapa? Kau sakit?”

Siren mendesah, menggeleng lemah.

“Karena jam tangan itu, kau pergi lama sekali dan tidak memberiku kabar.”

“Hei.. Dengarlah, Amore. Maafkan aku telah melukaimu, kau harus tahu aku selalu memperhatikanmu dimana pun.”

Siren mengerutkan dahi, heran.

“Bagaimana caranya? Setiap hari aku datang ke rumah ini dan sangat sepi. Kau ada dimana?” Siren penasaran.

Valerio menghela napas. Ia lalu membalikan tubuh Siren menghadapnya. Mereka beradu pandang.

“Dengar, Amore. Kau telah menjeratku dengan cintamu, hingga aku sulit terlepas lagi. Dimana pun aku berada, percayalah aku selalu melihatmu.”

Siren terkekeh kecil.

“Memangnya kau ini mangsa?”

“Bukannya kau yang selalu memancing sisi iblisku?”

Valerio tersenyum miring, sedang Siren menunduk merona malu.

“Aku tidak akan melepasmu, itu sumpahku.” janji Valerio.

Siren mengangkat kepalanya dan mengecup Valerio sekilas. Hatinya sangat bahagia.

“Aku percaya padamu. Tapi ada banyak yang ingin kutanyakan padamu.” terang Siren jujur.

“Katakanlah.”

“Mengapa kau? Em.. Tidak jadi.” Siren merasa tidak ingin membuat hati Valerio terluka pada hari bahagianya ini.

“Tidak apa-apa, Amore. Aku tahu kau pasti akan menanyakan hal ini padaku. Ini semua terjadi saat aku berusia 10 Tahun. Aku menyaksikan hal-hal yang tidak pantas dilihat oleh seorang anak.” papar Valerio pelan.

“Tidak perlu dilanjutkan, Vale. Jika kau belum sanggup menceritakannya.” Siren memotong ucapan Valerio, tak ingin kekasihnya bersedih.

Kedua tangan Siren menangkup wajah Valerio lembut. Valerio tersenyum kecil saat Siren memberikan perhatian.

“Tak apa, Amore. Akan kulanjutkan, aku menyaksikan pembantaian, hal mengerikan yang terjadi di Italy. Saat itu aku tidak sadar jika aku mempunyai jiwa yang lain, yaitu Revan. Sifatnya sangat berbeda dariku. Saat itu aku seperti kehilangan beberapa memory. Tanpa sadar aku berada di tempat yang sepi, jauh dari rumah.” lirih Valerio.

Siren meneteskan air mata, memeluk kekasihnya. Hatinya ikut merasakan pahitnya masa kecil Valerio.

“Aku diasingkan oleh ayahku ke Thailand setelah ia tahu aku mengidap kelainan jiwa. Mom menemaniku menemui beberapa orang ahli dan mereka mengobatiku, aku mengikuti serangkaian test. Hingga Revan tak pernah mengambil alih tubuhku lagi.” ungkap Valerio.

Air mata Siren terjatuh membasahi kemeja Valerio, ia terisak-isak. Tangannya ke atas merangkul kedua bahu Valerio semakin erat. Valerio balas mengikat pinggul Siren.

“Sejak bertemu denganmu. Revan selalu mengambil alih tubuhku, aku tak kuasa menolaknya. Kau lah yang telah membangunkannya, Amore.”

Siren melepaskan rangkulannya. Pandangannya buram bersimbah air mata.

Hatinya mencelos!

Siren teringat akan kebaikan, perhatian dan kasih sayang yang telah Revan berikan selama ini. Bagaimana mungkin ia tega mengobati Valerio atau Revan hingga salah satu diantara mereka menghilang?

Bodoh!

“Maaf, aku..aku.. Kemarin_” Siren kembali sesenggukan.

“Jangan menangis lagi, Amore. Hatiku sangat sakit melihatmu bersedih. Aku tahu, kau tak salah. Akulah yang terlalu pengecut! Aku tidak ingin kau takut melihatku seperti kemarin.” paparnya lemah.

Valerio menghapus air mata Siren.

“Mulai saat ini berbagilah kesedihanmu padaku, Vale.”

Valerio mengangguk lemah dan tersenyum kecil. Untuk beberapa menit mereka berpelukan melepaskan kesedihan yang telah lama tersimpan.

“Aku harus pulang. Nanti aku akan kembali lagi. Kamu tidak akan menghilang lagi kan?” tanya Siren khawatir.

Valerio terkekeh kecil.

“Aku akan menemui Kakakmu. Aku akan bertanggung jawab.”

Siren melotot. Ia menggelengkan kepalanya.

“Jangan sekarang, Vale. Aku akan disate Kak Denden.” sahut Siren panik.

“Tidak akan kubiarkan itu terjadi padamu, Amore.” geram Valerio.

Wajahnya berubah dingin. Siren merinding dan terkejut merasakan aura mencekam.

“Kamu menakutiku, Vale.”

Valerio tersadar melihat kekasihnya. Ia menarik napas dalam menenangkan emosinya.

“Maaf, aku tidak bisa mengontrol emosiku. Jangan takut padaku, Amore.” raut wajah Valerio kembali tenang.

Siren mengangguk kecil. Ia harus terbiasa dengan hal itu. Lalu, tersenyum manis.

“Minggu depan aku akan ujian kelulusan. Aku akan belajar dengan giat, kau mau membantuku?” Siren mengalihkan pembicaraan.

Valerio mengangguk dan tersenyum manis. Hati Siren berbunga-bunga.

“Aku telah menyiapkan kejutan untukmu, Amore.”

“Benarkah?”

“Aku akan mengajakmu ke suatu tempat. Setelah kau lulus.”

Valerio tersenyum mesum dan mengedipkan sebelah matanya.

“Dasar mesum.” cibir Siren.

Valerio tergelak kencang. Sekarang baginya menggoda kekasihnya ialah kesenangan yang paling indah.

Siren senang melihat kegembiraan di wajah Valerio.

***

Siang itu cuaca sangat panas. Siren kembali pulang ke rumah mengendap-endap seperti pencuri. Ia sangat takut menemui kedua kakak kesayangannya.

Diruang tamu, Deni hanya melamun. Sedang Rissa berjalan mondar-mandir wajahnya sangat mencemaskan sesuatu.

Krekk..

“Loh Kakak gak kerja?” kata Siren kaget, baru masuk ke dalam rumah.

Untung saja Siren tak mau diantar oleh Valerio untuk masuk menemui kakaknya. Deni akan berpikir macam-macam jika ia diantar oleh seorang pria setelah semalaman tidak pulang. Walaupun dengan tetangga yang telah menjadi kekasihnya.

“Siren, sayang kamu dari mana aja hiks..hiks..” Rissa menangis memeluk Siren.

“Siren, apa yang terjadi kenapa kamu gak pulang?” sahut Deni cemas.

Deni dan Rissa memeluk Siren kencang. Siren berkaca-kaca merasa bersalah melihat kedua kakaknya khawatir.

“Kak, aku gak bisa napas.”

“Maaf, sayang. Jidat kamu kenapa? Tangan kamu juga luka-luka semua. Apa yang terjadi?” balas Rissa panik.

Siren menangis sesenggukan rasa bersalahnya semakin besar.

“Kemarin aku kecelakaan, Kak.” Siren memasang raut sedih.

“Apa? Gimana keadaan kamu sekarang?” sahut Deni shock.

Wajahnya memerah, matanya melotot, sedang Siren menangis makin kencang.

“Loh..loh.. Kok makin kenceng. Kamu kenapa, Ren? Ngomong dong ke Kakak, jangan bikin Kakak mikir macem-macem.” Deni tambah panik. “Duduk sini dulu, Ren.”

Deni menuntun Siren untuk duduk di sisi sofa. Mencoba menenangkan adik kesayangannya. Rissa menggantikan Deni memeluk Siren dengan mendorong Deni sedikit kasar.

“Sakit, Yang. Kejem bener jadi bini.” Deni menggerutu.

Dibalas pelototan dari Rissa.

Siren menangis makin keras, masih tak mau bicara hingga mereka kebingungan.

“Kamu kenapa sih, Ren? Selaput darah masih utuh kan?” ceplos Deni.

Wajah Siren memerah.

“DENIIII…..” pekik Rissa murka.

“Ambil minum sana biar Siren lebih tenang.” perintah Rissa pada Deni. “Cepettt…” lanjutnya.

“Iya..iya.. Gitu aja ngomel.” gerutu Deni pelan.

Deni mengambil gelas berisi air dari dapur yang berada dekat dengan ruang tamu.

“Kak Riss… Aku udah bikin orang laen kecelakaan kemarin hua….” tangis Siren, sesenggukan.

“Hah?? Gimana kejadiannya? Jelasin lagi sayang.” Rissa Penasaran.

“Ini Ren minum dulu.” Deni memberi gelas berisi air minum.

Glekk Glekk Glekk..

Siren menghabiskan air minumnya. Setelah tenang, Siren menceritakan kejadian kemarin. Andra menyelamatkanya dari kecelakaan.

Tentunya tanpa menceritakan pertikaian antara Siren dan Andra sebelum peristiwa itu terjadi.

Deni ingin mengucapkan rasa terima kasih karena Andra telah menolong adiknya di jalan. Kemudian mereka pun sepakat untuk menjenguk Andra di rumah sakit.

Setelah berdandan seperlunya, Siren dan kakaknya meluncur ke rumah sakit di mana Andra dirawat. Tidak memakan waktu lama Siren, Deni dan Rissa sampai di rumah sakit.

Walau bukan waktu berkunjung, perawat memberi izin Siren dan Deni untuk menjenguk. Karena kamar yang Andra tempati VVIP alias kamar sakit buat orang berduit. Semalam Andra dipindahkan ke ruang perawatan.

Orang tuanya belum kembali dari luar negeri. Mereka hanya memerintahkan dokter memberi perawatan eksklusif pada Andra. Di rumah sakit Andra hanya sendirian.

Tidak ada siapapun yang menjenguk. Anak buah Andra pun tak terlihat, Jenni entah berada dimana saat ini!

“Apa sesibuk itu orang tua Andra! Atau mereka belum tau Andra kecelakaan.” Siren kasihan melihat Andra.

Ingin sekali Siren bertanya mengenai hubungannya dengan Jenni tapi tetap ditahan. Karena Andra masih harus banyak istirahat.

Andra telah siuman, wajahnya pucat pasi. Banyak luka yang di perban di tangan dan dahi Andra. Tulang kaki kanannya retak terkena benturan keras hingga dipasang gips.

Dokter mengatakan kalau kondisi Andra baik-baik saja, benturan pada tulang pinggul dan kakinya tidak fatal. Hanya keserempet terbawa mobil dan beberapa hari lagi Andra akan segera masuk ke sekolah.

Andra sangat senang sekali melihat Siren bersedih karena dia, apalagi Siren datang bersama kakaknya, Deni dan Rissa.

“Andra, saya sangat berterimakasih kamu telah menolong Adik saya kemarin. Saya gak tau mau balas pake apa? atas kebaikanmu.” tutur Deni sopan.

“Gapapa, Kak. Sudah sewajarnya seorang pria sejati menolong wanita yang sedang kesusahan.” jawabnya cengar-cengir. Meskipun meringis masih menahan nyeri pada wajahnya yang terluka.

Rasa iba Siren menguap. Berganti rasa kesal melihat Andra yang lebay.

“Gimana keadaan kamu sekarang? Apa kata dokter?” tanya Deni lagi.

“Ah.. Tenang saja, Kak. Hanya luka kecil. Tidak ada apa-apanya untuk seorang pria sejati seperti saya. Tulang kaki cuma retak sedikit, Kak. Bentar lagi juga sembuh. Perlu istirahat aja beberapa hari disini hehe…” balas Andra cengengesan sembari mengedipkan matanya pada Siren.

“Pengen noyor rasanya.” batin Siren.

Kalau tak ingat Andra lagi sakit. Siren tentu sudah memukul kepalanya.

“Maaf yah ‘Ndra. Gara-gara gue lo jadi kayak gini. Makasih yah, lo tetep sabahat gue selamanya.” Siren tersenyum manis. Sedang Andra melotot tanda tak setuju.

“Gapapa, Ren. Ini cuma hal kecil, gue seneng kok lo udah mau jenguk gue.” balas Andra mengedipkan kembali sebelah matanya.

“Masih sakit aja lo nyebelin ‘Ndra.” batin Siren.

Siren tertawa hambar. Rissa tersenyum-senyum memperhatikan tingkah Andra.

“Kamu sudah makan belum? Kakak bawakan makanan dari rumah, dimakan yah!” tawar Rissa.

“Makasih Kakak ipar, eh.. Maksudnya Kak Rissa. Saya akan makan sebentar lagi.” sahut Andra cengengesan.

Rissa tertawa kecil, sedang Deni melotot tak suka.

“Lo sendirian ‘Ndra? Siapa yang jagain lo disini.” tanya Siren penasaran.

“Si Fredy bentar lagi dateng kok. Tapi kalo lo mau jagain gue juga gapapa hehe…” jawab Andra.

Deni melotot garang pada Andra.

“Becanda, Kak.” Andra nyengir.

“Oh ya sudah. Kalo gitu Kakak sama Siren balik dulu yah? Kamu istirahat saja dan semoga cepet sembuh.” pamit kak Deni.

“Saya juga pamit. Lekas sembuh yah.” ucap Rissa.

“Makasih yah, ‘Ndra. Gue balik dulu. GWS.” kata Siren datar. “Oiya jangan lupa dimakan yah!” lanjut Siren.

“Iya, makasih yah Kak Deni, Kak Rissa, Ren udah mau nengokin. Hati-hati di jalan.” Andra tersenyum manis sembari melambaikan tangan ala miss univers.

Siren mual melihat tingkah konyol Andra. “Sedang sakit saja masih banyak gaya.” pikir Siren.

Tak banyak yang mereka bicarakan dengan Andra. Siren pulang ke rumah dengan perasaan lega.

Bersambung ke Part 19.

END – Smile of My Girl Part 18 | Smile of My Girl Part 18 – END

(Smile of My Girl Part 17)Sebelumnya | Selanjutnya(Smile of My Girl Part 19)