Smile of My Girl Part 16

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28

Smile of My Girl Part 16

Start Smile of My Girl Part 16 | Smile of My Girl Part 16 Start

Part 16. Opia

AUTHOR POV

Siren berjalan menyusuri trotoar tanpa arah, ia sedang melamun. Matanya tak fokus, pikirannya melayang. Memikirkan Revan yang lagi-lagi menghilang. Langkah kakinya hanya mengikuti kemana angin berhembus.

Bahkan ia tak tahu di belakangnya ada mobil yang selalu mengekorinya kemanapun ia pergi. Mulai dari keluar rumah, menemui psikolog hingga ke rumah sakit menemui psikiater, mobil itu sudah mengikutinya. Entah pelindung atau penjahat!

Baru saja ia kembali menemui psikiater yang dikenalkan oleh pak Toga, psikolog yang tempo hari baru saja ia temui untuk berkonsultasi.

Pak Toga mengatakan penyebab umum seseorang mengidap Dissociative Identity Disorder (DID) adanya trauma atau kekerasan pada masa kecil. Dan agar lebih ditangani lagi ia harus membawa Revan menemui psikiater.

Tapi bagaimana mungkin! Kemarin ia baru saja menolak untuk berbicara dengan Revan.

Hatinya mencelos. Ia tak bisa menghadapi kenyataan itu. Siren benar-benar terguncang, hatinya perih bagai tersayat. Orang yang ia anggap sebagai mahluk sempurna kini mempunyai celah.

Memang tidak ada satu mahluk pun yang sempurna di dunia ini. Semua orang pasti mempunyai kekurangan masing-masing.

Namun tak ada yang bisa ia lakukan saat ini. Bahkan orang yang ingin ia temui saja tidak tahu ada dimana?

Siren berhenti di depan salah satu butik yang pernah ia datangi dengan Revan dulu. Air matanya mengalir begitu saja. Kedua tangannya menempel pada dinding kaca pembatas. Ia memandangi gaun pengantin indah pada manekin yang dipajang di depan butik.

Siren menelisik lebih tajam. Gaun pengantin itu telah memudar. Warnanya tidak seputih dulu karena berdebu, gaun yang simple dan tidak mewah memang.

Gaun pengantin itu pernah menjadi incarannya sewaktu ibunya Revan, mengajaknya ke butik tersebut. Kedua sudut bibirnya tertarik membentuk senyum, namun air matanya mengalir deras.

Kenangan indah itu tak begitu saja hilang dari ingatan. Hatinya remuk redam. Impian yang telah ia bangun sejak dulu menguap begitu saja bagai buih memecah terurai.

“Kau menyukainya?”

Degh.

Jantungnya berdetak lebih cepat. Setelah mendengar suara seorang pemuda. Siren melihat bayangan pemuda tampan melalui dinding kaca.

Tatapan mereka beradu dalam pantulan kaca. Manik yang sama-sama menyiratkan kerinduan dan kepedihan. Tangisnya semakin kencang. Siren berbalik dan memeluk sang pemuda itu.

Sang pemuda mendekapnya lebih erat melepaskan kerinduannya yang membuncah. Mata pemuda itu berkaca-kaca tak sanggup melihat Siren menangis. Hatinya pedih meratapi ketidakberuntungan nasibnya.

Takdir seolah-olah mempermainkannya. Jika saja ia yang bertemu dengan Siren sebelum orang lain, ia akan sangat bahagia. Namun itu hanya dengan kata ‘jika’.

Mungkin ini pertemuan terakhirnya dengan Siren. Ia tak bisa membayangkan masalah apa yang akan terjadi nanti, kalau ia masih mengutamakan egonya demi bertemu dengan Siren.

Pemuda itu mengeluarkan sapu tangannya dan merenggangkan pelukannya pada Siren serta menghapusnya air mata di wajah Siren lembut. Matanya lekat memandang wanita yang dicintainya, hatinya terkoyak sembilu melihat penderitaan di mata Siren.

Batinnya menjerit!

Namun tak ada lagi yang bisa ia lakukan. Hanya sebuah ucapan perpisahan yang mampu ia ucapkan hanya di dalam hati.

Pemuda itu menggandeng lengan Siren memasuki butik tersebut. Siren hanya mengikuti tanpa banyak bertanya. Ia tahu pasti di hatinya masih bertahta pemuda itu. Bahkan mata Siren tak pernah lepas menatap sang pemuda, tidak melihat orang-orang yang memperhatikan mereka berdua.

Gaun pengangin indah rancangan fashion stylis terkenal, akhirnya dibeli oleh pemuda itu. Berapapun harganya tak menjadi masalah bagi pemuda itu. Hadiah untuk wanita yang mampu memutar balikan dunianya.

Ia juga menggenggam jemari Siren. Memasuki sebuah cafe di pusat kota, yang berada tak jauh dari butik tersebut. Keduanya makan dalam diam, meskipun manik mereka berpandangan.

Tampilan senyum manis Siren sangat berbeda. Begitu pula senyum sang pemuda.

Otak Siren sedang tak bisa mencerna apapun. Yang ada di hatinya ialah ia ingin selalu ada di dekat pemuda itu. Bibirnya membungkam sejak tadi, hanya ada senyuman tipis dihiasi mata yang selalu berkaca-kaca.

Siren hanya ingin bahagia. Namun hatinya terasa sukar dimengerti. Ada rasa yang mengganjal. Ia pun tak tahu apa itu?

Ia acuhkan rasa itu sejak tadi. Inilah saatnya ia mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Walaupun bibirnya terkunci dengan rasa takut kehilangan.

Siren hanya menusuk-nusuk steak dengan garpu tanpa minat. Pemuda itu memperhatikannya sejak tadi.

“Mengapa? Kau tak suka makanannya?”

Siren mengangkat kepalanya, ia menggeleng lemah dan tersenyum.

Tiba-tiba Siren berdiri dan menggeser kursi ke sebelah pemuda itu. Lalu duduk bersebelahan dan memeluk pemuda tersebut dari samping. Ia bahkan menyandarkan kepalanya pada bahu tegap itu.

Si pemuda menegang. Ia tak mengira Siren akan memeluknya erat. Tangan Siren mengikat erat bahunya.

Hatinya trenyuh!

Jika saja saingannya itu orang lain, pasti ia akan membunuh pesaingnya dan mengejar Siren mati-matian.

“Apa Kakak baik-baik aja?”

Siren memejamkan matanya.

“Seperti yang kau lihat. Keadaanku membaik” jawab Volte. “Setelah bertemu denganmu, My lady” lanjutnya dalam hati.

“Itu udah cukup buatku, Kak.” balas Siren menahan sesak didadanya.

Kepala Siren bergerak pelan mengenai leher, membuat Volte semakin menegang kaku tak berani menggerakan tubuhnya.

“Kau sungguh agresif, My lady.” pikir Volte.

Terbit senyum tipis di bibir Volte. Hatinya berdebar kian membara.

Tangan Siren bergetar. Ada rasa yang berbeda ia rasakan saat memeluk pemuda itu. Ia mengalami dilema dalam hatinya.

“Nada bicaramu berubah, Kak.” ucap Siren dalam hati.

“Aku senang, melihatmu baik-baik saja.” sahut Volte tersenyum getir.

“Apa hanya itu yang Kakak lihat dariku?” tanya Siren tertahan dalam hati.

“Aku akan baik-baik aja. Aku harap Kakak juga begitu.” sahut balik Siren tersenyum hambar. Matanya masih terpejam, merasakan getaran aneh dalam dadanya.

Keduanya sungguh canggung. Tak ada percakapan pribadi. Masing-masing menyimpan gundah di hatinya.

“Jaga dirimu baik-baik. Aku akan pergi.” pamit Volte dengan suara parau.

Siren menegakkan kepala, menatap manik Volte dalam. Ia tak sadar dimatanya membendung, hingga memburamkan pandangannya. Kemudian menetes deras.

Volte menahan perih dihati, melihat tetesan air mata Siren mengalir.

Siren melepas pegangannya pada bahu Volte. Ia meremas tangannya erat yang bergetar, tak tahu perasaan apa yang kini menghinggapi.

Wajah Volte memerah, tak sanggup melihat Siren, timbul penyesalan telah mengatakan hal yang tak perlu ia katakan.

“Kakak akan pergi lagi?”

“Jangan menangis. Hatiku turut sakit melihatmu terluka.” sahut Volte bergetar mengalihkan arah pembicaraan.

“Apa Kakak akan kembali?” bibir Siren keluh.

Volte mengangguk tersenyum pahit.

“Ia akan kembali, My lady.” lirih Volte dalam hati.

Siren sesenggukan. Ia merasa ini adalah ucapan selamat tinggal terakhir dari Revan. Siren tak sanggup menahan tangisnya.

Beberapa kali Siren merasa sedang dipermainkan. Namun hari ini ia merasakan kesungguhan, mata pemuda itu berkata jujur. Luka hatinya semakin dalam.

Mereka pulang hampir malam. Volte mengantar Siren dengan mobilnya. Tak ada lagi pembicaraan.

Mobil memasuki area kompleks rumah Siren dan berhenti di depan gerbang rumahnya.

“Sudah sampai.” ucap Volte.

“Aku boleh tanya sesuatu sama Kakak?” tanya Siren.

“Segalanya untukmu, My lady.” jawab Volte.

“Dia bukan Kak Revan.” pekik Siren dihati.

Hati Siren tercabik, ia memandang nanar.

“Siapa Kakak sebenarnya?” sarkas Siren.

Degh.

Mata Siren menajam menatap Volte.

Volte membungkam. Ia tidak menyangka Siren dapat mengetahui penyamarannya. Wajahnya memang tenang, tapi hatinya berdetak semakin cepat.

“Apa maksudmu, My lady.” ucapnya datar.

“Sebelum Kakak mengaku siapa Kakak sebenarnya. Aku mohon Kakak jangan temui aku dulu.” sahut Siren. Ia turun dari mobil tanpa menoleh.

Volte menatap Siren menghilang dibalik pintu rumahnya. Ia bersandar pada sandaran kursi mobil dan menarik napas dalam.

Air mata itu turun juga. Sungguh ironis jika siapa saja menyaksikannya, mafia paling di takuti di pulau Sisilia terluka batin.

***

Bagi Siren beberapa hari ini ialah hari kegalauannya. Di rumah pikirannya tak tenang, di sekolah diganggu oleh mahluk tak kasat mata.

Pagi ini ke sekolah Siren, diantar oleh Deni. Mukanya kusut, rambut di gulung ke atas. Deni mencak-mencak melihat perubahan Siren yang semakin amburadul.

Jika Rissa tidak membantu menyisir dan menggulung rambutnya pagi tadi, mungkin orang yang akan melihat Siren akan menyangka ia terkena tsunami dasyat.

Di kelas tanpa Vita sahabatnya, sekolah terasa membosankan bagi Siren. Yang ada hanya Andra si penguntit.

Bilangnya tidak akan masuk ke sekolah kalau kemarin tak dijenguk oleh Siren, nyatanya? Hari ini nongol dan terus mengekor.

Makin sumpek berada di kelas. Tidak ada teman bicara dan teman yang akan menghiburnya.

Siren hanya diam tanpa gairah, tanpa keceriaan, tanpa canda tawa dan tanpa senyum menghiasi bibirnya.

Perpustakaan menjadi tempat pavoritnya saat ini untuk menenangkan diri. Bukan untuk belajar tapi merenungi keadaan.

Waktu berdetak lama sekali.

Hingga Andra mengganggu kesendiriannya.

“Ren, gue mau ngomong penting sama lo.” Andra mengagetkan Siren yang sedang melamun.

“Eh… Apa ‘Ndra? Jangan sekarang gue lagi gak mood.” jawabnya malas.

“Please, Ren. Sebentar aja. Gak disini! Gue tunggu di depan ruang UKS.”

Andra ingin mengajak Siren ke depan ruangan UKS yang memang sangat sepi dan tempatnya berada di sudut gedung sekolah.

“Besok aja deh, gue lagi mager.” tolak Siren halus, lalu meletakkan kepalanya kembali di meja.

“Lima menit aja Ren, setelah ini gue gak ganggu lagi.” melas Andra.

Siren mengangkat kembali kepalanya, menatap Andra.

“Ya udah, lima menit yah. Terus gue balik ke kelas.”

Siren merapihkan buku pelajaran di meja dan menuju ruang UKS mengikuti Andra dari belakang.

Sesampainya di depan UKS, Andra memegang tangan Siren dan menyatakan cintanya kepadanya. Siren terkejut pernyataan jujur dari Andra, ia lantas menghempaskan tangan Andra cepat.

Hampir setahun sejak kelas 11, Andra menjauhi Siren dan Vita serta bergabung dengan anak nakal. Hingga menjadi ketua mereka.

“Jadi Andra ngenjauhin gue karena perasaan itu?” batin Siren.

Perasaan Siren menjadi tak nyaman, ia tak ingin kehilangan sahabatnya.

Yang Siren tak tahu kalau Andra hanya memandang dan memperhatikannya dari jauh. Menunggu saat yang tepat untuk mengutarakan isi hatinya.

Dalam hati Siren, ia hanya menganggap Andra sebagai sahabat tidak lebih. Walaupun mereka cukup akrab dan sering berkumpul bersenda gurau bersama.

“Kalo cinta kenapa ditahan?” tanya Siren pada Andra.

“Gue gak mau lo jadi benci sama gue. Gue gak mau persahabatan kita rusak. Makanya gue gejauh.” jelas Andra.

“Lalu? Dengan lo ngomong ini sekarang, persabatan kita gak akan rusak?”

“Gue gak sanggup lagi, Ren. Gue gak bisa lagi nahan perasaan gue. Gue mau lo jadi pacar gue.”

“Itu bukan sifat Andra yang gue kenal! Kepala lo kebentur dimana?” sindir Siren. “Apa yang lo suka dari gue? Otak gue gesrek, sikap gue pecicilan, plin-plan, gaje, wajah standar, gak pintar, gak ada yang bisa dibanggakan.” lanjut Siren tajam.

“Siapa bilang? Gue gak liat kesempurnaan dari seorang perempuan. Keceriaan lo yang selalu buat gue ketawa. Keceriaan lo yang selalu buat gue gak pernah bisa ngelupain lo. Keceriaan lo yang tanpa beban bisa melengkapi hidup gue yang nestafa.” terang Andra.

Siren tergelak kencang.

“Keceriaan tanpa beban?”

Siren melanjutkan tawanya geli, hingga mengeluarkan air mata.

“Kenapa lo bisa berpikir sampe situ? Statement lo bikin gue ngakak. ‘Ndra… Tertawa bukan berarti senang, menangis bukan berarti sedih.” Siren menepuk bahu Andra.

“Gue cuma anggap lo sebagai sahabat gak lebih. Dan gue mau lo tetep jadi sahabat gue untuk selama-lamanya. Gue lagi fokus belajar buat ujian. Gue harap lo ngerti.” Siren memberi penjelasan.

“Kalo hari ini lo gak terima gue, gue bakal coba lagi besok, besoknya gagal, gue akan coba terus setiap hari biar lo ngerti hati gue cuma buat lo, Ren.” cetus Andra.

“Serah lo..”

Siren melangkah cepat ke kelas meninggalkan Andra yang uring-uringan di belakang.

Saat ini Siren sedang dilanda kesedihan. Ia tak pernah berpikir akan menerima siapapun di dalam hatinya, kecuali Revan.

Andra semakin menjadi-jadi. Mengejar cinta Siren tanpa lelah. Menjadi bayangan yang terus mengekor pada tuannya.

Berkali-kali Siren menolak secara halus dan bilang kepada Andra bahwa Siren sedang fokus untuk menghadapi ujian kelulusan. Namun Andra pantang mundur, sejak pembicaraannya waktu itu ia benar-benar tak berhenti berbuat ulah.

Di sekolah selalu saja memberikan perhatian-perhatian kecil. Ia pun selalu membawakan sarapan di antar ke kelas Siren.

Teman sekelasnya selalu bergunjing membicarakan mereka berdua. Siren menarik napas dalam, ia sungguh sangat lelah meladeni Andra. Vita sahabatnya belum juga masuk ke sekolah.

Baru saja Andra berkelahi karena ada salah satu siswa yang mengejek Siren. Alhasil siswa itu babak belur dan Andra masuk ruang BP.

Andra menjadi posesif. Beberapa hari ini, ia tak pernah lelah memperhatikan dan memaksa ingin menghantar jemput pergi dan pulang ke sekolah. Padahal Siren terus saja menolaknya, merasa kesal dan jenuh melihat tingkahnya.

“Apa perasaan ini juga yang meliputi hati Kak Revan saat gue ngejar cintanya?” gumam Siren lirih.

Hatinya kembali perih. Beberapa hari juga ia tak melihat Revan. Sepertinya ia terserang malarindu.

Siang itu seusai pulang sekolah, Andra memaksa ingin menghantarkan Siren pulang ke rumah dengan motornya.

Siren yang merasa risih tak menanggapi Andra. Ia menaiki angkutan umum dan duduk di kursi penumpang bagian belakang dekat dengan jendela.

Andra mengikuti angkutan umum tersebut dengan motornya dan meneriakan nama Siren dengan kencang. Sepertinya Andra sudah kerasukan.

Dicegatnya angkutan umum yang Siren tumpangi. Sang sopir Marah-marah dan menyuruh Siren turun daro mobil. Wajah Siren memerah menahan malu, ia mengalah turun dari angkutan umum tersebut.

“Mau lo apa sih ‘Ndra? Nekad banget lo, ngeselin!” marah Siren kepada Andra.

“Gak ada cara lain Ren, gue suka sama lo. Hampir tiga tahun kita kenal, gue gak akan ngelapasin lo. Please, beri gue kesempatan buat ngerebut hati lo!!”

“Gue cuma anggap lo sahabat ‘Ndra, gak lebih. Gue gak mau persahabatan kita rusak karna status. Gue harap lo ngerti.”

“Mana lo tau? kalo lo gak kasi kesempatan sama gue sedikitpun!”

Siren memutar bola matanya malas. Ia berbalik melangkah menuju halte ingin menunggu angkutan umum berikutnya.

“Gue anter, Ren.” melas Andra.

“Please jangan ikutin gue terus, risih tau gak?” pinta Siren. Ia menjauh dari halte dan berjalan.

Andra masih saja mengikutiku di belakang, sedangkan motornya ditinggal di pinggir jalan.

“Ren, denger gue dulu. Kasi kesempatan buat gue ngerebut hati lo Ren. Gue gak akan mundur Ren, lo tau kan sifat gue!”

“TERSERAH!!” teriak Siren sambil berlari ingin menjauhi Andra hingga ke tengah jalan raya, tanpa membalikan badan menghadap Andra.

Tanpa di sadari Siren ada sebuah mobil truk melaju cepat tepat dibelakangnya.

“Ren, awaaasss…”

Braakkkkk…..

Bersambung ke Part 17

END – Smile of My Girl Part 16 | Smile of My Girl Part 16 – END

(Smile of My Girl Part 15)Sebelumnya | Selanjutnya(Smile of My Girl Part 17)