Smile of My Girl Part 12

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28

Smile of My Girl Part 12

Start Smile of My Girl Part 12 | Smile of My Girl Part 12 Start

POV SIREN

Jakarta, Indonesia.

Keesokan paginya.

Aku menggeliat pelan, merenggangkan tubuhku. Rasanya capek banget, tulang kayak mau patah semua.

Perasaanku benar-benar plong. Beban dihatiku musnah dalam sekejap setelah mimpi indah semalam. Sungguh mimpi yang menakjubkan.

Aku memeluk lebih erat bantal guling. Namun kerasa aneh, gulingnya berasa keras banget. Mana lagi nih mata masih saja enggan terbuka.

“Eh!” Aku terkejut, saat merasakan ada helaan napas halus menerpa wajahku. Kuraba-raba pelan bantal gulingku, berasa ada kenyal-kenyal kayak megang agar jelly lalu menggembung, membesar, memanjang mirip pegangan handle gerbong kereta api.

Helaan napas panas gak beraturan kini berhembus di depan wajahku.

“Kau menggodaku lagi eh?” Suara parau terdengar di telingaku dengan jelas.

Mataku terbuka sempurna. Kualihkan wajahku menengadah ke atas. Wajah itu berada dekat sekali dengan wajahku. Hanya berjarak beberapa senti saja.

Aku terlena. Hanya menganga gak percaya pada penglihatanku. Gak bisa berpikir jernih, karena sejujurnya kepalaku masih pusing banget.

Ilusi!

Tanganku gemetaran. Kuremas-remas kencang guling junior di bawah sana, guna membuktikan kalau ini bukan mimpi.

“Ouuhhhh… Kau menginginkannya lagi, My girl?” godanya lagi.

Napasnya semakin memburu, terasa panas menerpa wajahku. Ia juga mendesah dan menggeram tertahan.

“Eh!” aku masih melongo.

Getaran tanganku semakin kencang. Tak kuasa melepas guling junior dibawah sana. Mimpi ini kayak semakin nyata bagiku. Kulepas tanganku perlahan dari bawah menuju ke atas mau memegang wajah yang sudah tak asing lagi bagiku.

Benar! Itu memang benar dia.

Orang yang selama ini kurindukan. Kucubit pipi kak Revan pelan.

“Jika sekali lagi kau membangkitkannya, kau harus bertanggung jawab, My girl!” ucapnya dengan napas tertahan.

Pandangan mata kami masih saling beradu. Senyuman menggoda yang sangat menawan. Aku menelan salivaku sendiri. Tubuh kami masih saling menempel.

Ceglukk..

Aku teringat sesuatu. Hanya sedikit saja, kejadian di saat malam panas itu. Wajahku memanas, pipiku bersemu merah.

“Ka..kakak ngapain dikamarku?” tanya bodohku gugup.

“Lihatlah lebih jelas, My girl. Kau yang berada dikamarku.” godanya dengan seringaian mesum.

“Hah!!”

Kak Revan tersenyum geli memandang sikap konyolku. Aku melihat-lihat seisi kamar. Bukan kamarku!

Ku tundukkan wajahku, karena tak mampu menampakan rasa maluku dihadapannya. Bahkan aku menutupi dengan tangan kiriku dan menggeliat pelan.

“Ouhh.. Kau memang sengaja memancingku, My girl.” desahnya ambigu.

Hembusan napasnya semakin memburu. Dekapan dari tangan kanannya semakin erat pada pinggangku yang tanpa tertutup.

Dadanya terkena gesekan tanganku saat mendekap wajahku tadi. Bahkan payudaraku menyapa lembut perut bagian sampingnya. Aku tersadar kalau aku masih tanpa sehelai benang pun saat ini. Ada sesuatu yang mengalir dan terasa lengket dibawah sana. Aku menggelinjang pelan.

“Jangan-jangan itu? Apa semalem gue bener-bener ngelakuin hal itu?” tanya batinku.

Aku terkejut, tubuhku menegang menahan rasa malu. Pipiku semakin memanas. Otak kancilku bekerja!

Aku berbalik membelakanginya, mendekap erat selimut menyelimuti tubuhku. Menangis sesenggukan seperti seorang gadis yang telah ternodai meminta sang kucing garong bertanggung jawab.

“Hikss..hikss.. Kakak harus tanggung jawab sama aku. Aku udah gak suci lagi huaa..” tangisku kencang dengan air mata palsu. Kututupi wajah dengan kedua tanganku.

Kak Revan tergelak kencang. Tak menanggapi keluhanku. Jujur, hatiku kesal merasa tak diindahkan. Aku tetap pada rencanaku menjebak sang korban menjadi pelaku.

“Kakak jahat, aku benci kakak! Tega banget kakak berbuat itu sama aku. Bagaimana aku nanti? Orang lain akan menggunjingkanku kalo aku hamil diluar nikah hikss..hikss..” tangisku semakin meratap kepiluan. Air mata palsuku mengalir semakin deras. Bahkan cairan kental di hidung ini ku lap pada selimut.

Kak Revan tertawa menggelegar.

“Kau lah yang harus bertanggung jawab, My girl. Kau yang menggodaku lebih dulu. Aku hanya menuruti kemauanmu, kau tak ingat? Semalam kau sangat hot…” sarkas kak Revan terkikik.

“Aku gak kayak gitu. Kakak udah ambil kehormatanku satu-satunya. Kakak jahat!!” kilahku tak mau kalah.

Kak Revan berhenti tertawa. Hening sesaat.

“Aku sangat kecewa! Kau bahkan tak mengingatnya. Apa perlu kita ulang kembali?” goda mesumnya gak jelas.

“Ma..maksud Kakak a..apa?” gugupku. Pura-pura gak mau.

Seperti bukan kak Revan biasanya.

“Kau mengeluarkan sesuatu di depan wajahku.” bisiknya halus di dekat telinga kananku.

Tubuhku kembali meremang.

“Hah??” jawabku terkejut.

Meningat-ingat semalam pipis di depannya. Malu banget rasanya.

Kunetralkan degub jantungku yang semakin kencang, mencoba menenangkan diri. Dan kutarik napas dalam. Aku berhenti menangis, mencoba mengingat pergulatan semalam. Wajahku semakin merah, aku sungguh sangat binal memancing sang alpha menerkam sang mate.

“Em..emang gak kejadian Kak?” tanyaku gugup.

Ku lap airmata dan ingusku dengan selimut yang menutupi tubuh polosku. Kemudian aku berbalik ke kanan, kearah kak Revan.

Mata kak Revan memandang tajam dadaku. Kuikuti arah pandangannya, mataku melotot dan membuatku malu setengah mati. Dadaku terjepit oleh tangan kiriku kedua balonku semakin besar mengembang.

Ku tarik selimut menutupi dadaku hingga leher. Kutundukan lagi kepalaku malu. Pipiku bersemu merah.

“Mengapa kau tutupi, My girl? Aku sudah melihat semuanya semalam.” godanya.

“Kak, em..emang gak ada masuk semalem?” bibirku bergetar gugup. Suaraku semakin pelan karena bibirku keluh.

Kak Revan bergerak menyamping. Berada tepat sangat dekat di depanku.

“Kau melupakannya heh? Aku bahkan belum memulainya.” sahutnya ambigu.

“Eh!”

Mataku melirik kiri dan kanan berpikir apa yang terjadi sebelum aku tertidur.

“Kau bahkan belum melihat yang disana!” ucapnya lagi. Bibirnya menguncup mengarah ke bagian bawah tubuhnya.

Senyum incubus yang tampak sekarang!

Ku ikuti arah matanya ke bagian bawah. Mataku melolot hampir keluar melihat boxernya menggembung besar. Ada yang tak tahan sedang mengintip semakin keluar dari celah atas celananya. Pipiku memanas dan bersemu merah.

“Iih Kakak mesum.” pekikku berbalik dan bangun berdiri.

Kak Revan tergelak geli.

Tak sadar aku tak memakai apapun.

“Kau harus bertanggung jawab telah membangkitkannya, My girl.” desahan kak Revan seperti menahan hasrat. “You are so hot, My girl.” tambahnya menyeringai menggoda.

Aku terpanah melihat perubahan sikap kak Revan. Kualihkan tatapan mataku, tak bisa fokus kayak orang linglung mencari helaian pakaianku yang entah berantah berada dimana.

Kak Revan kembali menyeringai, menatap tajam pada tubuh polosku.

Maka ku tarik selimut dengan paksa untuk menutupi bagian depan tubuhku. “Baju aku mana, Kak?” lalu ku lempar pertanyaan mengalihkan tatapan godaan di depanku.

“Sudah aku buang. Aku akan membelikannya nanti.” ucapnya tegas. Memalingkan muka.

Raut wajahnya berubah dingin. Membuatku merinding. Tatapan itu berubah menyiratkan kemarahan.

Aku menghentakan kakiku kesal beralih ke kamar mandi meninggalkannya.

.

.

Setengah jam kemudian.

Aku merenung di dalam bathtub. Memikirkan perubahan kak Revan. Kepalaku kembali sakit, rasanya pusing sebelah.

“Apa ini efek gue minum alkohol semalem?” pikirku lesu.

Kak Revan gak mungkin ngasih aku minuman keras kayak gitu. Dan sikapnya pagi ini benar-benar diluar dari kebiasannya. Mana kepalaku rasanya mau pecah.

Kuingat lagi kebersamaan kami kemarin. Perubahannya sangat drastis. Ada sesuatu yang mengganjal dihatiku.

Kepalaku berdenyut semakin keras. Hatiku menjadi kalut.

“Gue harus selidiki sesuatu.” pikirku penasaran.

Setengah jam berlalu, aku gak mau keluar dengan keadaan seperti ini. Aku tak memiliki baju ganti, hanya ada handuk disini.

Aku menarik napas dalam.

Tok Tok Tok..

“Sayang, ini bajunya.”

Ketukan pintu mengagetkanku. Kak Revan seperti sedang menunggu di depan pintu.

“Sebentar, Kak ” sahutku malas.

Aku keluar dalam bathtub lesu, tanpa gairah. Ku pakai handuk putih meliliti tubuhku. Handuknya hanya sampai mampu menutupi 10 senti di bawah pusatku. Berjalan keluar membuka kunci dan pintu.

Krekk..

Wajah kak Revan memerah dan memalingkan muka. Tangannya kanannya memegang handbag. Sungguh aneh sekali padahal tadi ia menggodaku sampai aku tak punya muka lagi.

Hatiku bersedih.

“Kenapa Kak jijik liat aku?” ceplosku lirih.

Mataku berkaca-kaca melihat perubahan sikapnya. Ia seperti mempermainkanku.

“Tidak seperti itu Sayang. Pakailah bajumu. Kakak tunggu di luar.” jawabnya lembut. Menatapku kembali dan tersenyum manis.

Ku ambil handbag dari tangannya. Ia lekas berbalik melangkah keluar kamar.

“Apa-apaan nih? Apa sehina itu gue sampe kak Revan aja males ngeladenin gue lagi!!” lirihku dalam hati.

Hatiku sakit sekali melihat perubahan sikapnya, berbeda dengan tadi saat bangun tidur.

Kututup pintu kembali perlahan. Kak Revan membelikanku dress berwarna salem, warna kesukaan kak Revan. Kukenakan pakaianku cepat tanpa berdandan. Hanya rambutku saja yang tersisir rapih.

Aku melihat cermin besar. Meratapi tubuhku yang telah disentuh orang.

“Apa benar semalem kaga naena? Tapi kok rasanya lain.” pikirku.

Kata orang pertama kali pasti sakit dan gak bisa jalan. Aku berlari di tempat dengan cepat mengecek keadaan di bawah sana.

Memang gak ada yang sakit sama sekali. Ternyata benda itu memang gak dimasukan!

Fiuhh… Aku menarik napas antara lega dan menyesal.

Perasaan lega karena selaput darahku masih utuh hingga sekarang. Kak Revan masih menjaganya.

Perasaan menyesal karena, kenapa semalam gak langsung coblos saja. Kan, biar bisa langsung di nikahin.

Aku menggeleng-gelengkan kepala, menenangkan pikiran.

Aku keluar pintu kamar mandi, melangkah keluar dan membuka pintu depan kamar. Seperti kamar hotel mewah. Aku baru menyadarinya sekarang. Kamarnya besar, ada kamar dan ruang santai terpisah.

Kak Revan benar-benar menungguku di ruang tengah. Ia tersenyum manis menyapaku seperti kak Revan biasanya.

“Sudah? Kakak antar kamu pulang.” kata kak Revan lembut tersenyum manis.

Ia berbalik menuju arah pintu meninggalkanku dibelakang. Seperti gak terjadi hal apapun.

Hatiku mencelos!

“Tunggu Kak. Sebenernya Kakak anggap aku apa?” tanyaku lirih. Bibirku keluh.

Kak Revan berbalik menatap mataku dalam dan lembut. Ia menghampiriku dan tangannya membelai-belai rambutku, menyampirkan helaian rambutku yang masih setengah basa ke telinga.

“Kakak sayang sekali sama kamu.” jawabnya lembut masih dengan senyuman manisnya.

Jawabannya masih menggantungkan pertanyaanku. Kepalaku pusing sekali memikirkan banyak sekali perubahan sikap dan senyumannya

“Apa Kakak_” aku tak berani melanjutkan pertanyaanku.

Bibirku bergetar, keluh tak sanggup lagi bicara. Aku tak ingin membuatnya marah seperti kejadian tadi malam.

“Kamu adalah karunia terindah yang Tuhan kirimkan untuk Kakak, kamu harus tahu itu!” sahut kak Revan.

Hatiku trenyuh.

Kak Revanku kembali seperti dulu.

Aku menarik napas lega. Seengganya ia masih menyayangiku. Aku melihat gelagat bahwa ia juga merindukanku.

Kak Revan memelukku erat, sangat erat. Perasaan ini kembali menari-nari di nirwana.

.

.

Sebelum pulang kak Revan mengajakku makan di restoran. Kami makan siang bersama dan ngobrol sedikit. Sepanjang perjalanan aku selalu menggandeng tangannya erat.

Ada banyak pertanyaan berputar di otakku. Tapi aku gak berani bicara. Melihat sikapnya telah kembali saja, hatiku sudah sangat bahagia.

***

Sesampainya di rumah, aku mengendap-endap masuk ke dalam kamar. Tak ingin kak Deni dan kak Rissa tahu jika adik kesayangannya pulang dari hotel diantar seorang pria dewasa. Yang tak lain adalah tetangganya sendiri.

Di dalam kamar aku berpikir. Bagaimana caranya agar aku tak kehilangan kak Revan lagi. Sama seperti kemarin.

Sikapnya saja sangat aneh. Dalam jangka waktu sekejap, perubahan wajahnya sangat menakutkan.

Mungkin karena pekerjaannya sangat banyak menyita waktunya. Ia menjadi sedikit tertekan.

Sore hari kak Deni ngajak balik ke kampung. Baba (Ayah) sama Aai (Ibu) panggilanku pada kedua orang tuaku. Selalu marah-marah telpon kak Deni. Minta aku dipulangkan, kangen katanya. Pengen lihat anak kesayangannya saja, sampai sakit-sakitan.

Perjalanan satu jam lebih sampai di rumah. Karena macet jadi lama dijalan.

Baba Kana masih gak berubah, sayang banget sama anak gadis semata wayangnya. Sedang Aai Ani nangis-nangis sambari peluk aku gak dilepas-lepas. Dahal minggu kemarin baru ketemu.

“Baba, aku lagi kepengen nasi Biryani nih.” kataku. Kangen nasi dari beras basmati yang di kukus dan campur rempah-rempah asal negara India, terus dicampur sama daging.

“Acha..achaa.. Baba masakan biryani sebentar.” jawab baba Kana. Sembari muter-muter tangannya ke atas, khas gaya indiahe.

Baba Kana dulu ialah seorang koki. Masakan Baba enak banget. Baba sama Aai ketemu sewaktu mereka bekerja di kalimantan. Lalu cinlok (cinta lokasi) kemudian lahirlah aku.

Perhatian Aai sama Baba selalu buat aku seorang. Kak Deni cuma manyun saja kayak iri sama adiknya sendiri. Baru datang sudah ngajak pulang. Setelah makan ngajak pulang lagi.

Kak Deni cuma dapat tatapan tajam dari sang isteri dan Aai. Aku sama Baba ketawa cekikikan.

Kasihan banget deh lihatnya. Mirip anak tiri tak di anggap. Kak Deni pun selalu di acuhkan sama kak Rissa.

Kemesumannya gak tahu tempat. Wajah kak Rissa sampai merah karena malu. Kepala Baba sama Aai geleng-geleng gak berhenti.

Sungguh terlalu! Keluarga pada ngumpul di meja makan kak Deni malah ngusel-ngusel di bahu kak Rissa.

Aku sampai jijik lihatnya. Untung saja sifat aku gak seperti kak Deni.

Malam hari kami pulang ke rumah. Sepanjang jalan kak Rissa nengok ke jalan, sedang bibir kak Deni terjulur sepuluh senti. Perang dingin antara suami isteri ngeri juga ternyata. Aku tetap netral gak mau berpihak.

“Ren, kamu sayang kan sama Kakak?” tanya kak Deni padaku. Sambil lihat dari kaca spion mobil.

“Sayang dong, Kak hehehehe…” jawabku nyengir kuda.

“Kalo sama Kakak, lebih sayang siapa?” tanya kak Rissa. Nengok ke belakang menatapku intens.

“Sayang Kak Rissa dong hehehehehe…” jawabku tertawa hambar. Kemudian nyengir lagi.

“Jadi kamu gak lebih sayang ke Kak Dendenmu ini heh?” sela kak Deni. Bibirnya manyun lagi.

“Sa…” aku tak melanjutkan ucapanku.

Kak Rissa melihatku memperlihatkan kesedihannya.

“Kayaknya bakal ada perang nuklir nih.” pikirku.

“Jawab dong, Ren!!” tekan kak Deni dengan garang.

“Aku sayang dua-duanya kok.” sahutku pelan. Lalu nyengir lagi.

Wajah kak Rissa berpaling menghadap bahu jalan. Bibirnya kak Deni gerak-gerak ngoceh tanpa suara. Gigiku sampai kering rasanya, nyengir saja dari tadi.

Lucu sekali kan mereka. Cara bertengkarnya kayak begitu, Kekanak-kanakan. Gak sepertiku yang selalu tampak anggun mempesona.

***

Keesokan harinya…

Semalam sebelum tidur aku kembali memikirkan taktik untuk memperdaya korban. Mumpung kak Revan sudah balik dari tugas. Kubuka kembali catatan hasil browsing dulu.

Jurus lain ‘1001 menahlukan pria’ ialah mengatakan hal yang sejujurnya kepada pasangan!

“Oh mungkin gue disuru nembak kali ini.” aku menebak.

Aku pikir-pikir benar juga yang dikatakan di jurus itu dalam catatanku. Mau bicara yah bicara, mau katakan silahkan katakan, masalah di tolak urusan belakangan.

Pedekate hampir tiga tahun. Bukan waktu yang sebentar kan?

Apalagi semalam sudah merem melek bareng. Kalau sampai ditolak benar-benar keterlauan.

Tunggu apalagi!

Tekadku sudah bulat. “Jika kali ini rayuan maut gue gak ada hasil aku akan berhenti.” ucapku dalam hati.

Bukan untuk mundur atau menyerah, tapi hanya mengistirahatkan hatiku yang gulana.

Aku tak ingin hanya mendekap bayangnya. Bagaimana jika lain kali kak Revan bakalan pergi lagi?

Mau cari kemana?

Ingin marah pun gak punya hak. Karena aku bukan siapa-siapanya!

Siang ini aku sepulang dari sekolah dengan cepat, karena gak sabar bertemu dengan pangeran pujaanku.

Ia tampak sangat sibuk, sedang menangani kliennya.

Tuh kan! Suamiable banget. Baru balik saja sudah langsung bekerja. Memang gak salah pilihanku.

Aku terkekeh senang.

Aku menunggu tak sabar di taman samping kantornya. Masih menggunakan seragam sekolahku.

Rumahnya tampak jauh lebih bersih dari kemarin. Mungkin pagi tadi kak Revan suruh orang buat bersihin.

Kubuka daun pintu dengan pelan dan mengusilinya. Ku lambai-lambaikan tanganku saat kak Revan menatap ke arahku.

Aneh. Kak Revan masih fokus dan mendengar keluhan kliennya.

Kuhentakkan kakiku kesal dan berbalik menunggu kembali di taman.

Akhirnya yang di tunggu-tunggu tiba, kliennya keluar dan pergi dari ruangan kak Revan. Aku mengendap-endap ingin mengagetkannya.

Berjalan pelan tanpa suara berada dibalik pintu.

“Duarr..”

Tak terpengaruh. Kak Revan sibuk merapihkan kertas dan map di depan meja.

“Iihh.. Kok gak kaget sih?” ucapku kesal memanyunkan bibirku, dan berjalan ke arah meja. “Gak seru deh.”

Tiba-tiba kak Revan mengacak-acak rambutku.

“Jangan Kak, tar gak cantik lagi ih..” keluhku merapihkan kembali rambut sebahuku.

“Makanya jangan usil, Sayang.” dengan santai ia berjalan dan duduk di sofa.

“Salah kakak dong, lama nanganin kliennya. Aku nunggu 1 jam diluar tau.” gerutuku. Aku mengikuti kak Revan di belakang dan duduk di sebelahnya.

“Iya, maaf. Hari ini tidak ada puisi? Atau rayuan?” tanyanya lembut dengan senyum diwajahnya.

Hatiku kembali berbunga-bunga. Ia masih ingat kalau aku sering buatkan kata rayuan untuknya.

“Ada dong! Tapi aku mau tanya satu hal dulu ke Kakak!”

Telapak tanganku berkeringat dan menarik-narik ujung rok abu-abu yang ku kenakan untuk menghilangkan kegerogianku.

Kak Revan menaikan sebelah alis mata sebelah kanan dan tersenyum menatapku.

“Sepertinya serius! Mau tanya apa?”

“Kakak kan ganteng, cute, baik, pengertian, ramah perpecto deh pokoknya.”

Pujiku senyum-senyum sendiri.

“Kakak emm… Kakak udah punya pacar belum?”

“Bwahahaha… Kamu tanya apa sih?” tawanya menggelegar menganggetkanku.

“Kok ketawa sih? Ini tuh serius, Kak. Menentukan nasibku dikemudian hari.” penasaranku menggebu-gebu.

Kak Revan kembali menatapku masih dengan senyum di wajahnya.

“Kamu belajar saja dulu yang rajin setelah lulus baru ngurusin pacar.”

Dengan wajah muram dan lesu aku kembali bertanya.

“Pasti udah punya kan? Jadi gak mau jawab.”

Mataku berkaca-kaca.

“Tidak ada, Sayang.”

Jawab kak Revan sambil menghapus setetes air mataku yang terjatuh dan menyampirkan helaian rambutku ke telinga.

“Setetes air matamu ini sangat berharga, jangan pernah keluarkan air mata berhargamu ini untuk orang lain.” kata yang keluar dari bibirnya bagai alunan simpony terdengar indah di telinga.

Nyess… Hatiku tersentuh.

“Beneran gak punya pacar?” mataku berbinar-binar.

Ia mengganggukan kepala.

“Kalo gitu sama aku aja Kak, oke! hari ini kita resmi pacaran.” paksaku tak tahu malu.

“Kamu belajar saja yang rajin, buat orang terdekat kamu bangga. Masalah ini kita bicarakan lagi nanti.”

“Jadi aku di tolak?”

Ia geleng-geleng kepala.

“Diterima?”

Kak Revan masih menggelengkan kepalanya, tapi dengan senyumannya yang selalu menghipnotisku.

“Siren sayang, untuk saat ini kamu hanya mengagumi Kakak. Belum pada tahap cinta. Jika kamu sudah dewasa nanti kamu akan mengerti dan paham apa yang Kakak bicarakan ini. Jaga diri kamu baik-baik, Kakak tidak ingin kamu terluka.”

Terangnya bijaksana. Kak Revan terus membelai rambutku dengan lembut dan membelai pipiku.

“Lalu yang kemarin malam itu apa?” tanya hatiku, perih.

“Biar waktu yang akan menjawabnya nanti.” lanjut kak Revan. Menatap manikku dalam.

“Tidak ditolak ataupun diterima dengan kata lain Kak Revan menggantungkan perasaanku.” pikirku.

“Ya udah deh, tapi aku mau minta satu permintaan boleh?” pintaku lirih.

Ia menganggukan kepala dan tersenyum manis.

“Aku punya dua kalimat rayuan. Aku harap Kakak mau mengucapkan dua kalimat itu sekarang. Satu kaliiii ajaaa… Please…” ibaku mengacungkan satu jari telunjuk.

“Kalimat apa?” tanyanya dengan selalu disertai senyumnya yang menawan.

Ku keluarkan satu lembar lipatan kertas dari saku baju seragamku dan ku serahkan padanya. Kertas putih bertuliskan dua kalimat rayuan kepada kak Revan dan menunggu reaksinya.

Senyum kak Revan semakin mengembang dan ia menatap ke dalam mataku sambil berkata :

“Jika ada yang lebih bersinar daripada bintang

Itu pasti kamu

Jika ada yang lebih indah daripada rembulan

Itu pasti senyuman kekasihku”

Terdengar syahdu sekali ditelingaku. Aku terharu dan tak kuasa menahan tangisku.

Kak Revan mendekat dan memelukku dari arah samping, meletakan kepalaku di dadanya serta menghapus air mataku.

Saat ini urat maluku terasa putus. Aku yang membuat dan merangkai kalimat rayuan itu sendiri dan meminta orang lain membacakannya kepadaku. Yang lebih parahnya lagi dengan seorang laki-laki yang menggantungkan perasaanku.

“Kata rayuan paling indah yang pernah Kakak dengar. Terimakasih, Sayang. Kamu selalu membuat Kakak tertawa dan bahagia. Selamanya Kakak sayang kamu.” ucapnya menambah tangisku semakin kencang.

Bersambung

END – Smile of My Girl Part 12 | Smile of My Girl Part 12 – END

(Smile of My Girl Part 11)Sebelumnya | Selanjutnya(Smile of My Girl Part 13)