Smile of My Girl Part 10

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28

Smile of My Girl Part 10

Start Smile of My Girl Part 10 | Smile of My Girl Part 10 Start

Jakarta, Indonesia..

Aku gak bisa berkata apapun saat ini, kecuali senyuman kebahagiaan yang selalu menghiasi bibirku.

Saat ini usiaku sudah 18 Tahun lebih. Aku pun hampir lulus SMA. Ngebet banget pengen di lamar sang pangeran yang ada di sebelahku.

Kugandeng pria yang amat kucintai dengan erat, seperti takut terlepas lagi.

Siang tadi calon kekasihku mencegatku di pinggir jalan. Ternyata selama ini ia gak melupakanku sama sekali, bahkan sikapnya semakin membuatku terpesona.

“Kau merindukanku, My lady..” dengan senyum miring menggoda.

Kata-kata itu yang keluar dari bibirnya ketika pertama kali ia menyambutku. Aku berlari dan memeluknya erat. Melampiaskan rasa rinduku yang mendalam.

Memang ada yang berbeda dengan sikapnya kali ini. Wajah yang begitu cool menambah daya tariknya. Senyuman kepolosan yang selalu ia tunjukan berubah menjadi seringaian.

Tapi apapun itu, aku gak peduli. Aku mencintainya dengan segenap jiwaku.

Kami memasuki salah satu butik. Katanya, kak Revan mau ajak candle light dinner. Jadi aku harus berdandan cantik mengenakan dress.

“Selamat siang, Pak, Mbak. Silahkan masuk.” sapa penjaga butik.

Penjaga butik itu memandang kak Revan tanpa mengedipkan mata. Gaya bicara dan bahasa tubuhnya seperti sedang mencari-cari perhatian.

“Hemm..ehemm..ehemm..” dehemku kesal.

Kak Revan menaikan satu alisnya memandangku, sedangkan penjaga butik itu menjadi salah tingkah.

Kuhentakkan kakiku kesal, lalu masuk ke dalam butik sambil menarik tangan Kak Revan. Ia harus segera dijauhkan dari si mbak penjaga yang kegenitan.

Aneh sekali sikap kak Revan kali ini. Biasanya ia selalu mengerti akan sikapku, tapi kali ini ia hanya cuek tanpa bicara sepatah katapun. Kesal sekali jadinya.

Pemilik butik ini ternyata wanita jejadian. Tingkah genitnya hampir sama dengan mbak penjaga yang tadi. Caper banget pokoknya, bikin mual. Dikit-dikit pegang, dikit-dikit ngedipin matanya. Tubuhnya gemulai. Mungkin ini yang dinamakan hermaprodit!

Mataku melotot lihat si pemilik butik belaga terjatuh dan menyandarkan kepalanya pada lengan kak Revan. Tapi kak Revan menghempaskan tangan si pemilik butik sedikit kasar.

Membuatku terkejut! Pemilik butik itu jatuh terjungkal.

Aku tak bisa menahan tawaku, aku tergelak kencang. Inilah yang aku mau dari kak Revan sejak dulu.

Pemilik butik itu menggerutu dengan wajah merah karena malu ditertawakan oleh anak buahnya sendiri.

Dipelototi oleh si pemilik butik, akhirnya anak buahnya menghentikan tawanya dan membantu membangunkannya berdiri dari lantai.

Pemilik butik itu pergi berlalu ke ruangannya, sedang kami hanya ditemani karyawannya saja.

“Duh.. Jadi makin cinta deh!” ucapku dalam hati terkagum-kagum.

Kupilih-pilih dress yang gak terlalu seksi, berwarna salem. Namun kak Revan memilihkan dress hitam selutut sangat seksi. Belahan dada rendah serta bagian belakang dibiarkan terbuka tanpa memakai bra.

Aku memasuki ruangan ganti untuk mencoba memakainya.

Semriwing..

“Berasa telanjang aja gue pake baju ini, adem banget angin pada masuk.” pikirku.

Aku menghadap cermin besar. Putingku yang mungil tampak menonjol sedikit terlihat dari luar dress.

Untung saja aku membawa plester di tas sekolahku. Aku pakai sedikit buat nutupin putingku agar gak terlalu terlihat dari luar dress.

Aku pun keluar ruang ganti. Pipiku memanas, bersemu merah.

Kak Revan menatapku tak berkedip. Ia seperti terpesona, mungkin karena baru sekali ini aku memperlihatkan keseksian tubuhku di depannya.

Sebenernya dalam hati aku risih sekali memakainya. Tapi aku pakai juga karena itu pilihan kak Revan.

Kutatap ke dalam manik kak Revan tajam, kubuka celah bibirku sedikit seperti mengaum bak harimau betina kelaparan. Kemudian kugigit bibir bawahku menggodanya dan berbalik membelakanginya.

Kutunjukan gaya nan sensual. Kumiringkan kepala ke kiri sedikit, kuusap-usap perlahan bagian tengkukku hingga ke bahu atas bagian kanan. Lalu kutegakkan kepala kembali, kutarik ikatan kuncirku dengan gemulai, hingga helaian rambut panjangku berjatuhan.

Dengan tangan kiri, kusampirkan helaian rambutku ke depan sebelah kiri memperlihatkan tengkuk dan punggungku yang putih mulus. Tali dress sebelah kanan sengaja kugeser sedikit demi sedikit hingga terjatuh ke samping.

Namun ditahan oleh tangan kak Revan, yang entah sejak kapan ia berada tepat dibelakangku. Ia pun menaikannya lagi ke atas bahuku.

“Kau tidak akan pernah tahu, apa yang akan terjadi jika kau melakukan hal itu lagi, My lady…” bisiknya halus di telingaku.

Tubuhku meremang!

Hembusan napasnya terasa hangat menerpa tengkuk hingga leherku. Membuatku merinding, napasku ikut bergemuruh. Dadaku turun naik mengikuti irama jantungku.

Aku sadar perbuatanku tadi bagai jalang yang haus akan belaian. Dahal aku hanya ingin menggodanya saja. Aku yakin kak Revan gak akan berani macam-macam.

Aku merasakan keanehan itu lagi!

Biasanya kak Revan selalu memalingkan muka jika aku duduk sembrono di depannya. Kali ini justru wajah kelaparan yang ia tampakan seperti ingin menerkamku. Tangannya memeluk pingangku posesif.

Aku juga didandani cantik sekali di salon butik ini. Rambut panjangku, aku biarkan tergerai saja. Lumayan buat nutupin punggungku yang terbuka.

Malamnya kami dinner disalah satu hotel bintang lima. Yang paling aneh lagi gak ada pengunjung yang dateng! Dahal restoran segede gaban gini harusnya bisa muat seratus orang lebih.

Bola mataku berubah hijau. Mikirin berapa banyak duit kak Revan yang keluar buat sewa tempat ini. Mendingan duitnya buat buka usaha, kan? Ada hasilnya lagi.

Suasananya romantis banget. Kak Revan ngasih aku bunga mawar merah. Serta gelang emas putih bertahtakan mutiara.

Kayak ada sesuatu yang lain kurasakan. Orang yang selama ini kurindukan berada di hadapanku. Tapi mengapa jiwa ini masih saja hampa.

Aku tak menampik, jika aku bahagia sekali hari ini. Namun ada perasaan sangat berbeda mengganjal di hatiku.

Entah apa Itu!

Kutatap dan perhatikan pangeran pujaanku. Gayanya jauh berbeda dengan kak Revan yang dulu.

“Makasih yah, Kak. Untuk malam ini aku seneng banget.” ucapku bahagia tersenyum manis.

“Segalanya untukmu, My lady..” sahutnya dengan senyum tipis.

Kutatap kak Revan lebih dalam.

“Mamih Marta dimana, Kak? Kapan balik ke Indo?”

“Mom tidak akan pulang ke Indonesia. Ia akan menetap di Italy.”

“Kakak bohong.” ucapku dalam hati.

shifty eyes!

Sepersekian detik aku menangkap pergerakan matanya sebelum menjawab pertanyaanku. Kak Revan sendirilah yang mengajarkan aku sedikit tentang psikologi, kini kakak sendiri yang terperangkap.

“Aku kangen banget sama Mamih, Kak. Pengen deh telpon Mamih, sebentar aja.” pancingku kembali.

Kutampakan wajah lesu menyiratkan kerinduanku pada mamih Marta.

Aku menyentuh tangan kak Revan, membalikkannya hingga punggung tangan di bawah. Kuusap telapak tangannya lembut.

“Mom tidak betah tinggal disini. Ia ingin dekat dengan Dad saja. Mungkin nanti Mom akan menghubungimu.” jawabnya pelan dan tegas.

Wajah kak Revan memang tanpa ekspresi. Namun telapak tangannya berkeringat. Ada perubahan tingkat metabolisme tubuh yang gak bisa diatur, itu semua terjadi secara otomatis dan berada di alam bawah sadar manusia.

Alasan lainnya, jika seseorang sedang berbohong, detak jantungnya akan mulai meningkat. Anggap saja seperti ia sedang bekerja berat.

Ini adalah cara sederhana untuk mendeteksi kebohongan selain dengan alat detektor poligraf.

“Kenapa Kakak berbohong? Apa yang sedang Kakak sembunyikan dariku?” lirihku dalam hati.

Kembali aku merasakan sesak. Sakit hati tanpa tahu penyebabnya!

“Ya udah, aku bakal nunggu Mamih telepon. Terus Kakak kenapa selama ini baru balik?” tanyaku kembali.

“Apa kau tidak bisa mengganti topik pembicaraan?” balasnya dengan suara meninggi mengejutkanku.

“Dia bukan kak Revan!!” pekikku dalam hati tanpa sadar.

Kak Revan gak mungkin bicara seperti itu. Hampir tiga tahun aku mengenalnya. Tapi siapa dia?

Ini gak mungkin!

Kak Revan menggerakan bahunya gelisah tanpa sadar. Tangan kanannya mengetuk meja, tangan kirinya meremas tangan kananku erat berulang-ulang.

Stereotipe pembohong yang mudah tersinggung gak dapat berhenti dengan “gerakan kecil itu”. Semua terlihat jelas, meskipun wajah dinginnya menatap mataku tajam.

Kutarik cepat tanganku dari remasannya.

Mengapa dadaku sesesak ini. Sakit sekali melihat sikapnya telah berubah. Aku kembali merindukan sikap hangat kak Revan yang dulu. Perasaanku risih seperti sedang berkhianat dengan pria lain.

“Minumlah.. Kau terlihat lelah, My lady.” ucapnya melembut.

Kak Revan memberikanku minuman. Aku gak tahu minuman apa itu.

Seperti minuman berakohol. Rasa dan baunya menyengat. Aku mencicipinya sedikit, tenggorokanku menjadi panas beserta perutku.

Kepalaku pusing sekali rasanya. Setelah itu aku gak tahu lagi.

***

Aku mengerjap pelan. Kepalaku terasa berat, pusing sekali. Bagai tertimpa bebatuan beribu-ribu ton. Kulihat cahaya dari kristal menggantung di tengah langit-langit. Membuatku memejamkan mataku dan membukanya kembali.

Dimana ini? Seperti bukan kamarku!

Aku melihat sekeliling ruangan kamar ini, luas sekali. Kucoba mengingat-ingat kejadian sebelumnya. Aku sedang bersama kak Revan saat itu. Tapi dimana ia sekarang?

Tubuhku menghangat. Napasku memburu kayak ada magma yang menjalar menyatu dengan aliran darahku.

Aku tergeletak dibawah ranjang king size. Kamar yang begitu indah. Namun aku tak perduli, rasa ini kian memanas.

“Mungkin AC di kamar ini mati.” pikirku.

Aku mencoba bangun dari pembaringanku. Ingin menghidupkan AC kamar ini. Namun kakiku melemas, hingga aku tak bisa menjaga keseimbanganku. Kemudian aku terjatuh duduk di lantai. Kepalaku pusing sekali.

“Hati-hati.. My lady..”

Suara bass itu menghampiriku.

Kak Revan memapahku kembali duduk di tepi ranjang. Sentuhan kak Revan membuat bulu kudukku merinding.

Aku ingin ia menyentuhku lagi. Mataku sayu memandang kak Revan. Jiwaku bergelora menantikan sentuhan hangatnya.

Ada suatu yang membuatku semakin lama kehilangan kewarasanku.

Panas.. Panas sekali rasanya..

“Kak, panas.. Idupin AC-nya Kak.” pintaku memelas.

Kak Revan tersenyum miring menatapku. Tubuhku kembali meremang menginginkan ia mendekapku sekarang juga.

“Sebentar lagi, My lady..” bisiknya lembut di telingaku.

Tubuhku kembali meremang.

Ada sesuatu yang lembab dan gatal dibawah disana!

Kutarik tangannya agar kak Revan berada di dekatku. Kutatap sayu seperti menginginkan sesuatu.

Panas ini semakin menjadi. Darahku mengalir deras merasakan sensasi yang baru pertama kurasakan. Tarikan napasku menjadi berat.

Aku menaiki kakiku ke ranjang. Gelisah tak menentu. Gesekan kakiku perlahan terasa nikmat sekali.

Kak Revan tepat berada di hadapanku. Napasku memburu, tatapan tajam kak Revan seperti ingin menelanjangiku.

Kusandarkan kepalaku di dada kirinya. Kugores abstrak dengan ujung kuku jari telunjukku lembut didada kanannya. Tubuh kak Revan menegang, tangannya mulai menyentuh dan membelai punggungku yang terbuka.

Aku pun ikut menegang. Perlahan kupejamkan mataku menikmati elusannya pada punggungku yang kemudian naik ke atas menurunkan tali sebelah kanan dressku ke samping.

Ia mengecup kecil bahuku.

Detak jantungku menjadi tak beraturan. Gejolak hati kian membara.

Kecupannya naik hingga ke tengkuk. Hembusan napasnya panas, kak Revan menyampirkan helaian rambutku yang mengganggu. Mulai menggesekan hidungnya pada leherku dari atas hingga leher bagian bawah. Ia menghirup aroma harum dari tubuhku dalam-dalam.

Jantungku lari marathon. Menikmati sentuhannya yang menambah kenikmatan ini. Tak sabar menantikan pergerakannya yang lain.

Aku meremas kemeja putih kak Revan kencang. Ku angkat kepalaku yang sejak tadi menunduk, membuat kak Revan menghentikan aktivitasnya sesaat lalu berbalik menatapku.

Kami beradu tatap. Siratan sayu mataku seperti memohon agar ia melakukan yang lebih lagi. Wajah kak Revan mendekat, aku memejam mataku menantikan perbuatannya.

Kring Kring..

Suara ponsel kak Revan mengagetkan kami. Aku meremas kembali tanganku dan menggesek-gesekan kakiku. Ada gejolak nikmat yang belum pernah ku alami.

“Arrgh… ” Kak Revan menggeram kesal.

Kak Revan bangun dari sisi ranjang dan mengangkat telepon.

“Ya.. Aku akan menghubungi kembali.” kak Revan berbicara dengan seseorang lewat telepon.

“Kita akan lanjutkan nanti My lady.. Wait for me.”

Kak Revan mencium keningku dan lekas pergi keluar kamar. Meninggalkanku sendiri yang mendambakan sentuhannya.

Tubuhku menjadi gelisah tak karuan. Wajahku memerah sudah sangat memanas. Seperti terbakar di dalam sana.

Aliran itu terus turun hingga ke dasar merembes keluar, membuat menggelinjang nikmat. Aku merapatkan pahaku erat serta menggesek-gesekannya.

Suhu kamar kian panas. Aku tak tahan lagi!

Kubuka bajuku dan ku lempar ke lantai. Ku usap cepat bagian dadaku yang seperti menahan sesuatu. Gesekan tanganku mengeser sedikit demi sedikit plester yang menutupi putingku.

Sakit bercampur nikmat kurasakan pada putingku, dan plester pun terlepas. Kubuka juga plester pada putingku yang satunya, sedangkan satu kupakai untuk memencet puting yang sudah tanpa penutup.

Putingku menegang.

Aku menggelinjang keenakan, dan tiba-tiba dinding kemaluanku berdenyut geli dan merembeskan cairan lebih banyak. Aku sedikit pipis, tapi kali ini rasanya beda, sangat nikmat.

“Sssshhh… mmmhhhh….” aku mendesis-desis seorang diri.

Tubuhku semakin meremang dan kemaluanku sangat gatal. Kumasukan tanganku ke dalam balik celana dalamku dan mengusapi bulu-bulu halus yang selalu kurawat.

Bukannya mereda, sentuhanku malah membuatku semakin gatal dan panas dingin. Kugaruk-garuk rambut halus disekitar daerah kemaluanku dan kutarik-tarik bulu-bulunya dengan jemari, satu tangan semakin kuat meremasi payudaraku sendiri.

“Aaaah… Kak Revan.” gumamku tanpa sadar.

Aku pun bangkit untuk menurunkan celana dalamku dan meloloskannya sampai ke mata kaki. Kulihat bibir kemaluanku yang imut sudah sangat basah, seperti habis pipis, enak tapi gatal, sepertinya minta dienakin lagi.

Kutarik kaki kiriku sehingga celana dalamku terlepas, dan hanya membelit pergelangan kaki kananku.

Kuusapi bibir kemaluanku yang rapat tapi lembab. Aku pun menggelinjang hebat sambil mengerang. Aku gak pernah merasakan kegelian dan kenikmatan seperti ini sebelumnya. Dahal aku kan sering menyentuh dan membersihkannya ketika mandi atau pipis.

Kleeek..

Pintu kamar terbuka. Kulihat Kak Revan muncul. la nampak kaget melihat tubuh polosku. Aku hanya bisa menatap wajah gantengnya dengan sendu. Tanpa sadar, tanganku masih memegang kemaluanku dan putingku sendiri.

“Sa..yang?” kagetnya dengan bibir bergetar.

Uuuuh.. Kak Revan memanggilku ‘Sayang’. Ia telah berubah seperti yang pernah ku kenal. Ucapannya gak membuatku malu, tapi malah semakin merangsangku.

Aku pun bangkit duduk membuat kedua payudaraku terayun. Kak Revan pasti mupeng deh. Uuuuh.. aku lupa, tangan satunya masih mengelusi bibir kemaluanku. Makin geli aja rasanya.

“Kak..” desisku, kini seluruh tubuhku makin meremang geli.

Kak Revan mendekatiku. Jantungku semakin berdetak kencang.

Kulihat ia menarik napas panjang beberapa kali sambil lekat menjelajahi tubuh polosku. Iiih.. aku ingin sekali disentuh olehnya, tapi ia malah menghentikan langkah di samping ranjang.

Wajah kak Revan memerah, matanya menajam. Seperti menahan suatu gejolak.

“Sayang, kamu kenapa?” tanyanya. Napasnya mulai pendek, sama sepertiku.

“Kak.. uuuh… tolong aku, Kak.” ucapku memohon.

Duh dasar mulut gak tahu malu. Mukaku merah kan jadinya. Tapi tubuhku sudah gak kuat ingin disentuh oleh kak Revan.

Kak Revan pun mendekat. Tubuhnya merunduk. Bukan menyentuhku, tapi mengambil selimut untuk menutupi tubuh polosku.

“Kamu tunggu sebentar, Sayang. Kakak akan memesan susu hangat.” jawab kak Revan lembut.

Kucengkram erat pergelangan tangannya ketika ia berdiri ingin menjauhi. Mataku sayu menatap ke dalam maniknya.

“Kak, panas banget Kak. Gak tahan emm…” desisku sambil menggigit bibirku sendiri.

Aku kecewa karena Kak Revan sama sekali gak mau menyentuhku, dahal aku kepengen banget.. banget bangeeet…!!!

Ia terpaku, wajahnya masih memerah.

Sentuhan selimut pada kulit polosku malah membuatku semakin mengeliat, rasanya panas banget, dan keringat sudah mulai membasahi pelipis dan leherku.

Dengan kesal kudorong selimut yang ia pasangkan, dan kujejak dengan kakiku.

“Kak, aku gak kuat..” ucapku lemah menahan hasrat.

Kemaluanku, eh rasa maluku sudah hilang. Kalah oleh rasa panas dan gairah. Aku benar-benar terangsang, dan pusat semakin geli.

Tapi Kak Revan gak menanggapiku. Aku menarik tangannya, namun ia menarik tangannya dan melangkah mundur ketika aku mau menciumnya.

“Kakak pesankan susu dulu buat kamu.” ucapnya dan berbalik melangkah menjauhi.

Hatiku mencelos!

Kak Revan berjalan ke arah meja seperti ingin menelepon seseorang.

Hatiku menggeram kesal.

Entah kekuatan dari mana. Aku bangun dan mengambil bantal melempar dengan kuat ke arah kak Revan.

Pukk..

Bantal itu sukses mengenai bagian kepala belakangnya.

Ia berbalik menghadapku. Kali ini dengan aura dingin yang mencekam. Semua rambut di tubuhku berdiri. Wajahnya kian memerah seperti terbakar sama sepertiku.

“Berani sekali kau melakukan itu padaku, My girl..” kak Revan menggeram. Seperti menggertak.

Wajah kak Revan berubah bengis. Seringaian yang ia tampakan sangat berbeda, matanya menusuk tajam ke bola mataku. Membuatku gentar.

Gak seperti kak Revan yang ku kenal. Perubahan raut wajahnya sangat signifikan. Aku terpaku sesaat. Namun gairah ini tak terbendung lagi. Api neraka di dalam tubuhku kian memanas. Iblis betina sudah menguasai tubuhku.

Akal sehatku telah musnah, berganti dengan gadis binal nan jalang.

“Touch me!!” tantangku menajamkan mataku tak ingin terpengaruh gertakannya.

Kuangkat daguku tinggi menantangnya.

“Pakai kembali bajumu, aku tak ingin kau menyesal esok.” tekannya.

Aku sungguh tak sabar lagi menahan gelora birahi yang meledak-ledak. Kemarahanku pun tak tertahankan melihat sikap pengecutnya.

“TOUCH ME… BRENGSEKKK!!!” teriakanku menggema ke seisi kamar.

Kali ini aku seperti kerasukan iblis betina jahanam. Menanti sang iblis jantan biadab.

Napasku berubah cepat menahan kekesalan. Dadaku turun naik mengikuti kecepatan jantungku.

Kak Revan memejamkan matanya sesaat dan terbuka kembali. Menatap tajam mataku. Ia melangkah dengan cepat menghampiriku.

Direngkuhnya pinggangku dan mendekapku. Dada kami saling menempel. Tanganku meremas sweaternya kencang. Mata kami saling menatap tajam, napas kami pun sama-sama bergemuruh.

Ia merenggangkan pelukannya dan menuntunku duduk di tepi ranjang, kemudian ia duduk di sisiku. Langsung kupeluk dengan tubuh polosku. Meski suhu tubuhku panas, rasanya aku langsung menggigil bisa menyentuhnya. Kedua payudaraku gatal terjepit antara dadaku dan lengannya.

Kak Revan menegang seperti berpikir. Hanya diam tanpa ekspresi.

“Kak..” bisik gairah kuhembuskan pada telinganya.

Kak Revan menatapku menggoda.

“Mmhhh… You are so cute, My girl.” bisiknya.

Hatiku berbunga-bunga mendengarnya.

Kak Revan memiringkan wajahnya sehingga bibir kami begitu dekat. Napasnya hangat menerpa bibirku.

Dag dig dug… Berdebar… Dan cuuuup.

Ciuman pertamaku.

“Mmmmh..” desah kami saat bibir kami beradu.

Tubuhku bergetar, geli sekujur tubuh semakin menjadi. Gairahku meletup-letup.

Kak Revan memejamkan matanya, melumat bibirku perlahan. Aku tak tahu harus bagaimana. Karena ini pengalaman pertamaku.

Kupejamkan mataku sambil mencoba membalas lumatan Kak Revan, mengikuti naluriku. Ia bernapsu, aku lebih bernapsu lagi.

Aku terasa melayang dan berada di awang-awang ketika Kak Revan mulai mengusapi punggungku tanpa melepaskan ciuman.

“Mmmmmh…” hanya lenguhan yang bisa kusampaikan.

Kak Revan meraih kepala belakangku, lalu mendorongku lembut, mengambil bantal di sisi sebelah kiriku dan membaringkan tubuhku di atas kasur serta meletakkan kepalaku di atas bantal tanpa sedikit pun bibir kami terlepas.

“Kau sangat seksi, My girl.” gumamnya sambil mulai menggerayangiku.

Kak Revan memandang lapar pada bagian dadaku, telapak tangannya menangkup payudara kiriku.

Aku langsung kelejotan. Geli dan nikmat berbaur dalam rasa tubuhku.

“Aaah… kak…” lenguhku.

Kak Revan mulai menciumi leherku yang lembab karena keringat. Jarinya memelintir putingku.

Tanganku meremas rambutnya kuat. Dan duh.. malah kudorong agar semakin ke bawah. Putingku sudah mendambakan bibirnya.

Kak Revan seperti tahu apa yang kumau. Ia mengecupi payudara ranumku. Aku belum pernah merasakan enak seperti ini sebelumnya. Kakiku menendang-nendang kecil.

“Kakaaaak… iiiiih…sssh…mmmmh….”

Aku mendesis gak bisa menahan erangan ketika Kak Revan akhirnya mencium putingku dengan dengus napasnya yang panas. Dadaku otomatis membusung, kepalaku mengdongak ke atas. Tanganku menekan kuat kepala kak Revan kearah dadaku.

Kini ia punya kesenangan baru dengan menciumi dan meremasi payudaraku bergantian. Aku kian merintih-rintih gak karuan.

Kulihat kak Revan pun bermandikan keringat sama denganku. Otak mesumku bereaksi, aku memegang ujung sweater kak Revan dan meloloskannya dari tubuhnya. Ia pun membantu mengangkat tangannya cepat.

Ku lempar sembarang sweater beserta kausnya entah kemana.

Posisi kak Revan sudah berada di tengah-tengah kakiku.

Kutelusuri lembut dadanya hingga ke bagian perut dengan jemariku diikuti sentuhan tangannya. Aku terpanah melihat pemandangan indah ini. Ia memejamkan mata sesaat meresapi sentukanku. Ia juga menggeram tertahan.

“Kau menyukainya, My girl?” ucapnya lembut.

Seringaian bak serigala kelaparan yang tampak sekarang. Aku tak bisa bicara apapun hanya menggigit bibir bawahku menahan hasrat yang kian membara.

“Kau memancingku eh?”

 

Wajah kak Revan mendekat. Ia menciumku lagi. Kali ini ciuman panas, lidahnya merangsek masuk menari-nari di langit-langit mulutku. Untuk saja aku bisa menyeimbanginya, karena napsuku tak kalah dengan napsunya. Tangan kiriku meremas rambutnya gemas, tangan kananku mencakar punggungnya.

“Jika kau menggigit bibirmu lagi, inilah hukuman yang akan kau terima.” bisiknya di sela-sela ciuman kami.

Ambigu!!

Kak Revan semakin buas kayak kerasukan berbagai macam jin, kecuali jin item. Aku menjadi kewalahan menahan serangannya. Hampir saja hehabisan napas. Jika ia gak menghentikan ciuamannya. Napas kami ngos-ngosan.

Ciuman kak Revan turun kembali menjelajahi leher dan dadaku, kali ini lebih cepat dan lebih buas. Aku tak pernah berhenti mendesah, mendesis, serta menggeliat.

Bahkan bibirnya sekarang mengecup, menjilat serta mengigit-gigit kecil puting payudaraku. Dadaku membusung, kutekan kembali kepala kak Revan lebih kuat. Ia mengenyot payudaraku makin kuat bergantian, tangannya pun tak lupa meremas kencang hingga aku blingsatan.

“Ouchh…terus..Kak..” lenguhku tak sadar.

Aku benar-benar mabuk kepayang dibuatnya. Tangan kiriku meremas-remas seprai erat. Kepalaku menoleh ke kiri dan ke kanan.

Ciumannya terus turun ke perut hingga ke bagian bawah. Aku sangat nikmat, tapi seperti masih menginginkan kenikmatan yang lebih. Kemaluanku rasanya sudah sangat basah dan menginginkan disentuh.

“Ohh, My girl.” kak Revan mendesis ketika ia menurunkan wajahnya dan menatap kemaluanku.

Gak sulit bagi Kak Revan untuk melihat privasiku yang paling intim karena kakiku sudah mengangkang.

Ia mendongak sebentar dan menatapaku. Wajahnya memerah dan napasnya tersengal. Padahal aku lebih tersengal lagi.

Kak Revan seperti menyeringai. Ia menunduk.

“Aaaaarrghhhh…” aku meraung ketika bibir Kak Revan mengecup bibir kemaluanku.

Aku bagai tersengat dan tubuhku berkejat. Aku hanya bisa menggelinjang-gelinjang menahan desakan-desakan pada pusat tubuhku.

Ingin rasanya aku meronta menyambut kenikmatan yang tak pernah kurasakan sebelumnya, tapi tubuh tegap Kak Revan selalu berhasil menahanku.

Aku ingin menjerit ketika Kak Revan membuka kedua sisi bibir kemaluanku, dan lidahnya menyusuri pintu lubangku.

Aku sudah mandi keringat. Kini yang kupikirkan hanya ingin menikmati sensasi birahi yang sudah melandaku. Aku sudah gak bisa berpikir jernih lagi.

“Hiyaaaa… uuuuuhh….” aku sudah tidak bisa menahan teriakanku ketika Kak Revan mengecup pusat ku yang sudah sangat gatal dari tadi.

Angan dan jiwaku melayang. Sangat enak. Gak bisa kugambarkan.

Tubuhku melengking dan mataku terpejam. Kugigit bibirku sendiri.

Di bawah.. Kak Revan menjilati klitorisku semakin rakus, dan rasa pengen pipis pun sudah tak bisa kutahan lagi.

“Kak, awaaaassss… aku mau pipiiiisss.”

Aku menggelepar-gelepar, tapi bukannya menjauh, ia malah semakin buas menciumi dan menjilati kemaluanku.

“Kakak… aku pipiiiiissss…” ucapku lemah tertahan.

Kukatupkan kakiku rapat dan menekan kepala kak Revan mentok ke pusatku. Aku sudah gak bisa menahan lagi. Dinding-dinding pintuku berkedut keras, dan cairan deras pun keluar dari celah kemaluanku. Pipis yang sangat nikmat.

Aku hanya bisa menjerit sambil kejang-kejang.

Aku sangat lega ketika pipisku keluar. Disambut oleh Kak Revan. Sepertinya ia meminumnya, tapi tubuhku sudah sangat lemas.

Kesadaranku mulai memudar. Aku sudah tak kuat. Aku pengen bobo.

Bersambung

END – Smile of My Girl Part 10 | Smile of My Girl Part 10 – END

(Smile of My Girl Part 9)Sebelumnya | Selanjutnya(Smile of My Girl Part 11)