Skandal Di Sekolah S3 Part 45

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat

Cerita Sex Dewasa Skandal Di Sekolah S3 Part 45 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Skandal Di Sekolah S3 Part 44

Lemah Syahwat

Aliyah

Hari ini aku kembali lagi ke rumah sakit untuk mengecek kandunganku, tentunya dengan dokter idamanku yaitu dr.budi.

“Mbak, saya mau cek kandungan dengan dokter budi?” ucapku di resepsionis.

“Maaf bu… dr.budi sedang cuti di luar kota, yang ada saat ini hanya dr.yadi” jelas susternya. “Oo gitu…” ucapku singkat seraya manggut-manggut.

“Jadi gimana bu?” tanya sang suster memecah lamunanku.

“Gak apa-apa deh sus” ucapku.

“Baik bu, atas nama siapa?” tanya sang suster.

“Aliyah” jawabku. Tak berselang beberapa menit, “Bu aliyah.. silahkan ke lantai 2, lalu menuju ruang dr.yadi” jelas sang suster.

Aku pun langsung menuju ruang periksa yang dimaksud, “Tok…tok tok…” aku mengetuk pintu.

“Silahkan masuk” terdengar suara berat dari dalam. Saat kubuka pintunya, ternyata dr.yadi sudah masuk kategori dokter senior disini sepertinya, kutaksir usianya sekitar 60an.

“Silahkan duduk bu… Bu aliyah” ucap dr.yadi yang sedikit kesulitan membaca namaku di kartu berobat yang kuberikan.

“Jadi ada keluhan apa bu?” tanya dr.yadi ramah.

“Ini dok.. saya mau cek kondisi kandungan saya” ucapku.

“Oh… silahkan ke ranjang periksa di sebelah sana bu” ucap dr.yadi seraya mempersiapkan alat periksanya.

Saat kubuka tirai di dekat ranjang tersebut, aku terkejut melihat ada semacam penyangga di kanan dan kiri, sebelumnya di ruang periksa dr.budi tidak ada hal seperti ini.

“Kok berdiri saja bu?” sapa dr.yadi mengagetkanku.

“I..ini gimana saya mau baringnya dok?” ucapku menunjuk kedua penyangga itu.

“Oo ini untuk penyangga kaki ibu… ibu silahkan baring seperti biasa dulu karena kan cuman pakai USG.

“Maaf bu..” ucap dr.yadi saat menarik rok gamisku yang berwarna biru tua ke perut. Kebetulan hari ini aku tak mengenakan legging, hanya mengenakan cd berwarna hitam.

Kulihat dr.yadi sedikit melotot dan menelan ludah saat menyaksikan tubuh bagian bawahku terpampang dihadapan matanya, “Dasar tua-tua keladi” batinku.

“Mari kita mulai ya bu…” ucap dr.yadi dengan nada yang berat. Iapun mulai meletakkan beberapa alat scanner USG di atas perutku yang sudah membelendung karena hamil.

“Dari pantauan mesin USG, ibu mengandung bayi kembar, dan kedua bayi ibu dalam keadaan sehat” jelas dr.yadi.

“Alhamdulillah deh dok” ucapku singkat.

“Apa ibu ada keluhan lain?” tanya dr.yadi. Aku ada ide ingin mengerjai dokter tua ini.

“Dok… saya kadang merasa nyeri di sekitar pangkal paha dan pinggang saya dok” ucapku.

“Hmm… dengan tidak mengurangi rasa hormat dan profesionalitas saya, bolehkah saya membuka CD milik ibu untuk saya lakukan pemeriksaan?” tanya dr.yadi dengan nafas yang sedikit memburu.

“Boleh pak” ucapku singkat.

Beliau lalu membuka CD ku dengan cukup cepat, tangannyapun tak lepas dari menyusuri selangkangan, paha, betis hingga kakiku. Hal itu membuatku kegelian sehingga tanpa kusadari diri ini samar-samar mendesah. Kulihat dr.yadi berkali-kali menelan ludah saat melihat memekku yang ditumbuhi bulu cukup lebat, aku tertawa di dalam hati. Beliau dengan hati-hati mulai melakukan pijatan lembut di sekitaran pinggangku dan tak jarang jari kelingkingnya menyentuh jembutku.

“Yang disebelah mana yang nyeri bu?” tanya dr.yadi.

“Hmm dekat situ dok uhh” ucapku dengan sedikit mendesah.

“Bu coba kedua kaki ibu dinaikkan ke kedua penyangga ini agar saya dapat melihat titik-titik nyeri pada selangkangan ibu dengan lebih mudah” jelas dr.yadi seraya mengangkat betisku keatas penyangga.

Kuyakin saat ini dokter yadi dapat menyaksikan lubang memekku terbuka indah.

“Disini bu nyerinya?” tanya dr.yadi seraya meletakkan tangannya diatas jembutku.

“Hmm kalau disitu bukan nyeri dok, tapi gatal” ucapku menggodanya.

“Gaa.. gatal?” tanya dr.yadi terbata-bata, kulihat wajahnya merah.

“Ma..maaf bu.. saya salah tingkah” ucap dr.yadi jujur namun jemarinya mulai nakal dengan perlahan ia masukkan ke dalam bibir memekku.

“Uhh dok” desahku.

“Bu.. sudah basah” ucap dr.yadi. Aku hanya tersenyum dibalik cadar biru muda ku. Satu jari… bahkan kini dua jarinya keluar masuk di memekku.

“Ma..masih nyeri.. eh masih gatal bu?” tanya dr.yadi terbata-bata.

“Nikmaat dok ssh” desahku mulai tak karuan padahal hanya dimasukkan oleh jari kasar dr.yadi.

Seketika ia mencabut keluar jarinya, aku hanya bisa menatap sayu seolah mempertanyakan ia melakukan itu. Namun tindakan beliau berikutnya seolah menjawab pertanyaanku, dr.yadi dengan tergesa-gesa membuka celana kain yang ia kenakan berikut cd miliknya dan seketika kontol miliknya yang telah tegang mengacung gagah, kutaksir ukurannya gak sepanjang milik dr.budi cuman ini gemuk banget menurutku ditambah bentuk kepalannya yang gepeng lebar.

“Maaf bu… maaf saya lancang… istri saya meninggal tahun lalu… dan kini birahi yang sama seperti bersama istri saya kembali bangkit saat melihat ibu mengangkang seperti itu” jelas dr.yadi jujur seraya menggenggam kontolnya yang telah keras itu.

“Begitu… saya paham kok dok” ucapku seraya kembali tersenyum. Dengan sedikit tergesa-gesa dr. yadi menurunkan kedua kakiku dari penyangga, menyingkirkan kedua penyangga itu dan bergegas naik ke ranjang periksa ini. Pelan tapi pasti, dr. yadi memasukkan kontolnya ke memekku.

“Ughh dok..” lenguhku saat merasakan kontol besar itu merangsek memekku.

“Kenapa bu? Konek suami ibu gak sebesar ini ya?” tanya dr.yadi dengan bahasa yang mulai cabul.

Aku hanya mengangguk.

Tanpa babibu saat kontolnya sudah berada di dalam memekku, ia langsung menggenjotku dengan tempo yang begitu cepat, “Ughh sshh ahh dok… cepet amat…” desahku.

Ia tak menggubris ocehanku. Dan terus menggenjotku dengan tempo cepatnya, sesekali ia menyodokkan keras berharap kontolnya dapat menyentuh pintu rahimku namun itu sia-sia karena kontolnya tak lebih panjang dari milih dr.budi. Dr.yadi berusaha mencumbuku dari balik cadarku namun kualihkan wajahku kesamping karena aku tak ingin dicumbu dengan pria tua bau kubur seperti dia ini.

“Aliyah! Jahat banget fikiranmu!” aku membatin.

Belum lama ia menggenjotku, tiba-tiba pintu ruang periksa ini terbuka, dan seketika aku panik karena ada perawat yang masuk sementara tirai tempat periksa ini terbuka. “

Wah dr.yadi asik banget mainnya” kudengar suara pemuda.

Saat kulirik ternyata perawatnya bukan perempuan melainkan laki-laki muda.

“Uggh eh kamu ron… iyaah bapak gak tahan habisnya” celetuk dr.yadi yang masih mengobok-obok memekku dengan kontolnya. Aku palingkan wajahku enggan melihat wajah perawat tersebut.

“Mbak-mbak cadar rupanya… hoki banget kamu pak bisa genjotin mbak cadar begini” celetuk perawat tersebut.

“Pak gantian dong… masa’ bapak terus” ucap sang perawat.

“Gak.. gak boleh hmm… ini hanya saya.. dan sekali ini saja” ucap dr.yadi terengah-engah.

“Yowes.. berarti saya minta sisi, si suster yang biasa bapak genjot aja ya” celetuk sang perawat seraya keluar dari ruang periksa ini.

“Gak tahan karena istri meninggal yaa? Alasan yang bagus” aku membatin seraya tersenyum mengingat alasan yang dr.yadi utarakan sebelum menjamahiku tadi.

“Oughh oughh saya gak tahan mbak…” lenguh dr.yadi dan “Crottt..croott…croott” ada sekitar 4 semburan peju beliau yang langsung menghangatkna liang memekku.

“Ahh lemah amat dah dokter tua ini… udah crot aja… aku belum dapet padahal” aku membatin kesal.

“Makasih bu… maaf saya jadi begitu lancang pada ibu, maafkan juga perawat saya tadi” ucap dr.yadi seraya beranjak dari atas tubuhku.

Bersambung