Sin Island Part 9

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Tamat

Cerita Sex Dewasa Sin Island Part 9 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Sin Island Part 8

GHOST’S WORD

Suasana mencekam menyelimuti mansion malam itu, berbaur rapat dengan keheningan yang seolah menyimpan sesuatu. Delapan orang yang menjadi peserta pelatihan di Pulau Dosa memutuskan untuk beristirahat di kamar masing-masing usai insiden yang baru saja terjadi pada saat makan malam, listrik yang padam seketika, lampu sorot mercusuar yang entah bagaimana caranya tiba-tiba menyala dan berputar-putar, dan piano merah di tengah lobby mansion yang berdenting, memainkan beberapa nada tanpa seorangpun menyentuhnya.

Kau melihatnya? Enyas, tanya Rio di tengah perjalanan mereka menuju kamar masing-masing. Kamar Rio dan Enyas memang bersebelahan.

Enyas tidak segera menjawab, wajah detektif muda itu terlihat pucat, keringat masih membasahi dahinya.

Kau tidak akan ketakutan seperti itu jika tidak melihat sesuatu, Rio berkata sekali lagi.

K..kau juga melihat mereka?? Enyas memandang ke arah Rio, ucapannya terbata-bata, tampak bibirnya sedikit bergetar. Rio mengangguk menjawab pertanyaan Enyas.

Enam sosok wanita

J..jangan teruss..kan, Enyas memotong ucapan Rio sambil mengangkat telapak tangannya. Mereka bisa saja masih ada di sini.

Ingat waktu pertama kali kita tiba di mansion ini? Saat aku mendekati piano merah itu? aku melihat satu dari mereka berdiri di koridor lantai dua ini, Rio menceritakan pengalamannya melihat sosok wanita saat Enyas mencoba menyalakan lampu mansion pagi tadi.

Kita bahas ini besok saja oke? Ak..aku ingin tidur, Enyas menolak untuk mendengar apa yang diceritakan oleh Rio. Jari-jemari Enyas masih bergetar saat menyentuh kenop pintu kamarnya.

Baiklah, Rio yang juga telah sampai di depan pintu kamarnya memutuskan untuk memberi waktu bagi Enyas yang terlihat shock berat akibat insiden saat makan malam barusan. Mungkin karena ini bukan pengalaman pertamanya, Rio bisa lebih tenang dibandingkan ia yang tadi pagi.

*_*_*​

Dinding kamar yang dihuni oleh Nurul dilapisi dengan wallpaper bergambar alur kayu berwarna coklat gelap, memberikan kesan natural yang mewah. Tidak banyak perabotan yang ada di dalam kamar tersebut, sebuah lemari, sebuah meja, kursi berbahan kayu jati dan sebuah ranjang berukuran King Size yang dipannya juga terbuat dari kayu jati.

Pikiran gadis cantik itu masih tertuju pada kejadian saat makan malam tadi, dimana piano merah di tengah ruang lobby dapat berdenting tanpa seorangpun memainkannya. Dia masih dapat merasakan hawa dingin yang menerpa tengkuknya saat piano itu berbunyi. Sebuah pengalaman yang sangat janggal baginya.

Kreekkk.

Perhatian Nurul teralihkan saat gadis itu mendengar sesuatu berderik, terdengar seperti derik sebuah pintu yang lama tidak dibuka. Gadis cantik itu menyapu sekitarnya, mencoba menemukan asal dari suara tersebut.

Kreekk

Suara itu terdengar kembali, kali ini semakin jelas dan dekat. Samar-samar Nurul mendengar sesuatu yang berbisik, ia beranjak dari duduknya dan kembali memandang ke sekeliling kamar. Tidak ada apa-apa di kamar tersebut, Nurul melangkahkan kakinya ke arah jendela, menyibak tirai kain berwarna merah yang menjadi gorden jendela besar tersebut. Nurul memandang ke luar, memicingkan matanya, mencoba menemukan sesuatu di kolam renang yang terlihat lengang.

Kreeek.

Suara itu terdengar lagi, Nurul berbalik dan menyapu kembali seisi ruangan, kepanikan mulai hinggap dalam benaknya.

Tok..tok

Rasanya jantung Nurul hampir copot kala ia mendengar suara ketukan di pintu kamarnya. Gadis itu melangkah hati-hati ke arah pintu.

Toktok..

Ketukan itu terdengar lagi. Nurul berjongkok dan mendekatkan wajahnya ke lubang kunci, mencoba mengintip keadaan di balik pintu, menemukan siapa yang mengetik pintunya tengah malam begini.

Dari lubang kunci Nurul dapat melihat lantai koridor yang dilapisi karpet tebal berwarna biru gelap, railing koridor yang terbuat dari kayu, namun ia tidak menemukan sosok apapun. Nurul terus mengintip dari lubang kunci sebelum sesuatu menutupi pandangannya, sebuah kelopak mata yang membalas tatapannya.

Aaaaaahh!!!

Nurul terjengkang, gadis itu menjerit keras karena terkejut, baru saja, beberapa detik yang lalu sebuah bola mata membalas tatapannya dari lubang kunci. Hal itu membuat gadis itu terkejut dan spontan menjerit. Terdengar suara pintu kamar sebelah terbuka, diikuti derap langkah yang terdengar mendekat.

Dok!Dok!Dok! pintu kamar Nurul digedor oleh seseorang.

Nurul? Kau tidak apa-apa? Suara pria yang berat terdengar dari balik pintu. Nurul mengenali pemilik suara itu, Aryosh yang menginap tepat di sebelah kamar Nurul. Suara Aryosh diikuti dengan suara beberapa derap langkah yang juga mendekat.

Apa yang terjadi? ia dapat mendengar suara seorang wanita bertanya di balik pintu. Itu suara Devisha.

Ada apa Yosh? kali ini suara pria terdengar, Nurul menduga itu suara Edi.

Tidak tahu, aku mendengar suara jeritan dari dalam kamar, suara berat Aryosh terdengar kembali.

Dok!Dok!Dok! Pintu kembali digedor.

Nurul? Kau baik-baik saja? Buka pintunya, suara Devisha terdengar, Nurul melihat kenop pintunya bergerak-gerak, tampaknya Devisha sedang berusaha membuka pintu tersebut.

Nurul beranjak dari jatuhnya dan menarik nafas panjang, sebelum memutar kenop pintu kamarnya. Rekan-rekannya telah berada tepat di depan pintu kamarnya memandangnya dengan pandangan yang menunjukkan rasa khawatir, terutama Devisha.

Kau tidak apa-apa? Apa yang terjadi? ujar Devisha sambil kedua tangannya memegang pundak Nurul.

Kenapa kau menjerit? Aryosh yang berdiri tepat di belakang Devisha ikut bertanya.

Tidak.. aku tidak apa-apa, Nurul menggelengkan kepalanya. Aaku hanya terkejut saja, tambahnya kemudian.

Ada apa? tanya Devisha pada Nurul. Apa yang membuatmu terkejut?

A..aku Nurul berhenti, menarik nafas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya. Aku mendengar suara, seperti sesuatu yang berderik, bergeser, seperti pintu yang lama tidak dibuka.

Aku juga mendengarnya dari kamarku, Aryosh menimpali.

Lalu ada yang mengetuk pintuku, Nurul melanjutkan ceritanya. Dua kali, ketukan itu terdengar dua kali. Aku mencoba mengintip melalui lubang kunci, dan

Dan?? Devisha menatap mata Nurul dalam-dalam, ia dapat melihat ketakutan di mata hitam Nurul.

Dan sebuah mata membalas tatapanku! Aku terkejut dan menjerit, lalu kalian semua datang, Nurul menyelesaikan ceritanya.

Aku tidak menemukan siapapun di depan pintu kamarmu, Aryosh menimpali cerita Nurul. Tidak ada seorangpun di koridor saat aku keluar dari kamar.

Devisha berbalik memandang ke arah Aryosh. Hanya kau dan Nurul yang menempati kamar di koridor ini kan? tanya Devisha dengan nada penuh selidik.

Apa kau menuduhku menakut-nakuti Nurul? Aryosh balas bertanya untuk melindungi dirinya sendiri.

Mungkin lebih baik kalau kau mendekati Nurul secara baik-baik daripada mengintip ketika ia akan ganti baju, Yosh, Edi menambah keruh suasana.

Anjing! Devisha termakan provokasi yang dilakukan oleh Edi, gadis itu mencengkeram kerah kaos yang dikenakan Aryosh dan mendorong badan besar pria itu, Aryosh terdorong mundur selangkah akibat tenaga Devisha yang di luar dugaan, cukup kuat untuk membuat Aryosh sedikit kehilangan keseimbangan. Dasar laki-laki cabul!! Jadi kau mengincar Nurul?!

Aku tidak mengincarnya!! Aryosh mempertahankan dirinya. Aku bahkan tidak tertarik dengannya sama sekali!! Aku tidak tertarik dengan wanita! Aku seorang GAY!! tanpa sadar Aryosh malah memberitahu semua orang di sana bahwa ia adalah seorang homosexual.

Seketika seisi ruangan terdiam karena pernyataan Aryosh yang mengejutkan. Devisha melepaskan cengkeramannya pada kerah kaos Aryosh. Rio memandang ke arah lain, beberapa detik yang lalu, ia adalah satu-satunya orang di sana yang tahu bahwa Aryosh adalah seorang homosexual. Rio telah berkomitmen untuk tidak memberitahukan hal itu kepada siapapun. Tapi kini? Aryosh malah memproklamirkan rahasianya sendiri.

Oh, pantas Rio lebih memilih untuk bekerja sama denganmu dibandingkan denganku dan Enyas, Edi mulai menambah keruh suasana. Rupanya kalian pasangan.

Bicaralah sesukamu, Edi, Rio menimpali dengan senyum mengejeknya.

Aku tidak peduli dengan siapa dan bagaimana diri kalian masing-masing, Enyas mencoba menengahi. Jika sudah tidak terjadi apa-apa di sini, aku akan kembali ke kamarku untuk beristirahat, esok bisa jadi hari yang panjang.

Aku tak melihat keberadaan mereka disini, Rio berbisik pada Enyas. Enyas mengangguk paham dengan apa yang disebut ‘mereka’ oleh Rio.

Mungkin Aryosh berbohong soal homosexual-nya. Sepertinya ia memang ingin mengintip tubuh Nurul. Ujar Enyas.

Apa kau ingin aku menginap di kamarmu malam ini, Nurul? Devisha menawarkan untuk menemani Nurul yang masih tampak ketakutan.

Oh, kau tidak bisa melakukan itu, Asri menyahut. Itu melanggar aturan yang ditetapkan.

Persetan dengan peraturan! Apa kau akan membiarkan temanmu sendiri dalam ketakutannya?

Seorang detektif mungkin akan sering menghadapi keadaan dimana ia harus melawan ketakutannya sendiri, Via ikut menanggapi. kurasa itu maksud dari peraturan tidak boleh bertukar atau pindah kamar. Agar kita bisa melawan ketakutan, apalagi setelah apa yang terjadi saat makan malam.

Devisha mendengus kesal, ia sudah tidak punya argumen lagi untuk melawan apa yang disampaikan oleh Asri dan Via terkait peraturan yang melarang mereka berpindah kamar. Devisha sekali lagi memandang ke arah Nurul.

A.. aku tidak apa-apa, ucap Nurul, berusaha menenangkan Devisha yang tampak khawatir.

Teriak atau lari saja ke kamarku jika ada apa-apa lagi. Ujar Devisha.

*_*_*​

Nurul mencoba mengatur nafasnya yang kini memburu tak beraturan, sekujur tubuhnya masih merinding ketakutan atas apa yang baru saja ia alami beberapa menit yang lalu. Jari-jari lentik gadis cantik itu masih tampak sedikit gemetar meski tadi rekan-rekannya yang lain telah berusaha menenangkannya.

Sebenarnya ia tidak ingin berada sendirian di kamar yang menakutkan ini, namun ia tidak punya pilihan lain, instruksi yang diberikan dalam pelatihan kali ini jelas-jelas mengharuskan mereka untuk tidur di kamar mereka masing-masing. Nurul kini hanya bisa meringkuk bersembunyi di balik selimut berwarna merah darah yang memang disediakan di masing-masing kamar.

Sejatinya Nurul ingin segera terlelap, namun setiap ia memejamkan mata ia terbayang tentang kejadian menakutkan yang baru beberapa menit lalu dialaminya. Nurul menutupi seluruh tubuh bahkan kepalanya menggunakan selimut. Berharap kantuk segera membawanya terlelap dan pagi lekas tiba.

Namun suara derik itu terdengar lagi, diikuti dengan bisikan yang terdengar serak dan kering. Nurul makin meringkuk, memejamkan kedua matanya rapat-rapat, berharap agar bisikan-bisikan yang disebut sebagai suara angin oleh rekan-rekannya menghilang.

Sayang bagi gadis itu, bisikan itu tidak menghilang. Alih-alih menghilang, bisikan itu malah terdengar semakin dekat dan dekat sebelum akhirnya Nurul dapat dengan jelas mendengar apa yang disebutkan dalam bisikan tersebut.

Nurul, ujar suara serak dan kering tersebut. Beberapa detik sebelum ia merasakan sepasang tangan membekapnya.

*_*_*​

Rio membuka tirai jendela kamarnya, matahari pagi tampak bersinar gagah menerangi seisi pulau itu. Mata detektif muda yang lolos melalui jalur khusus itu menangkap sosok seorang pria berbadan kekar yang tampak sedang berlari kecil mengitari air mancur. Ya, pemuda itu bernama Aryosh, pemuda yang terlatih untuk menjaga keseimbangan bentuk tubuhnya, siapa yang menyangka bahwa pemuda itu adalah seorang homosexual yang baru beberapa jam lalu membuka rahasianya sendiri di depan rekan-rekannya.

Perhatian Rio teralih saat ia menangkap sosok yang lain berlari kecil dari jalan setapak menuju ke mansion. Kali ini sosok itu wanita, Asri. Sejauh ini Rio menilai bahwa Asri, gadis berkulit eksotis itu adalah rekan wanitanya yang paling cerdas dibandingkan gadis-gadis yang lain. Di peringkat kedua, Devisha juga terlihat cerdas dan tangkas, berbanding terbalik dengan pasangan lesbinya, Nurul. Sedang Via, di mata Rio Via terlihat sebagai gadis yang mudah terbawa suasana dan siap mengambil keuntungan dalam kondisi apapun.

Tok tok tok…

Rio berbalik saat mendengar ketukan pada pintu kamarnya.

Kau sudah bangun? Rio? suara seseorang terdengar dari balik pintu. Rio mengenali sang pemilik suara, detektif Enyas. Rio beranjak untuk membuka pintu.

Ada apa, Enyas? Rio bertanya sambil menggosok-gosok matanya.

Mau membantu di dapur? Edi dan Devisha sudah di dapur lebih dulu untuk membuat sarapan, ujar Enyas.

Bukankah sudah kubilang kalau aku takkan pergi ke dapur lagi? Rio menjawab ajakan Enyas dengan penolakan cepat. Tidak, aku tidak berminat.

Oke, hmm… Rio, soal kejadian saat makan malam… Enyas menghentikan ucapannya.

Kau melihatnya juga kan? Enyas? Rio mendahului pertanyaan yang akan diajukan oleh Enyas. Wanita-wanita berbaju putih itu?

Sudah lama sekali aku tidak melihat sosok hantu, Enyas menimpali. Terakhir aku melihat dan bicara dengan mereka, itu saat aku masih kelas empat SD.

Kau bicara dengan mereka? Rio tampak tertarik dengan apa yang baru saja disampaikan oleh Enyas.

Dengar, aku… Enyas menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada orang yang bisa mendengar pembicaraan mereka. Kakekku adalah seorang cenayang, beliau bisa berkomunikasi dengan jin atau yang biasa kalian sebut sebagai hantu. Dan bakatnya itu menurun padaku, aku dapat berbicara dengan mereka, namun saat aku sadar aku memiliki kemampuan itu… kakekku telah meninggal sebelum sempat mengajarkanku bagaimana cara mengendalikan kemampuan itu.

Jadi kemampuanmu itu tidak bisa kau kendalikan? Rio kembali bertanya.

Aku selalu histeris saat pergi ke tempat umum baik pada malam atau siang hari, saat melihat seorang kriminal, aku selalu histeris, aku ketakutan. Hingga akhirnya Ayahku mengantarkanku ke seseorang yang bisa mengunci mati kemampuanku tersebut. Dan entah bagaimana, sepertinya semalam kemampuan itu terbuka lagi.

Kau bisa berkomunikasi dengan mereka, itu yang lebih penting. Kita bisa bertanya kenapa mereka menunjuk ke arah piano, Rio tampak antusias dengan ucapannya.

Raut wajah Enyas berubah saat mendengar apa yang disampaikan oleh Rio.

Tunggu… Enyas mengernyitkan alisnya, kau mau aku, bicara dengan mereka? Dengan hantu-hantu wanita yang menyeramkan itu? tanya Enyas.

Rio mengangguk mengiyakan.

Oh shit, Enyas mengumpat. Tidak Rio, itu tidak akan terjadi, aku tidak akan mau berkomunikasi, bahkan bertemu dengan… tiba-tiba saja Enyas berhenti bicara, pupil matanya melebar, detektif yang lulus dengan nilai ujian terbaik itu tampak tegang, menatap ke belakang Rio. Rio yang melihat perubahan pada diri Enyas menoleh ke arah pandangan Enyas.

Tidak ada apa-apa di sana. Hanya jendela yang terbuka dan tirai-tirai merah yang melambai-lambai tertiup angin.

Ada apa, Enyas? Rio bertanya ke arah Enyas.

Satu dari mereka di sini, jawab Enyas dengan nafas yang mulai memburu. Dia berdiri menghadap ke arah jendela, gaun putih, penuh darah, rambutnya jarang, tangan, leher dan kakinya berlumuran darah. Enyas menggambarkan sosok di depan jendela yang dilihatnya.

Mendengar hal itu membuat tengkuk Rio merinding seketika, ia merasakan ada hawa dingin yang merayap naik ke tengkuknya, Rio memandang ke arah jendela, sinar mentari pagi membuat sekitar jendela menjadi cukup terang. Dan tiba-tiba saja matanya menangkap siluet seseorang, siluet wanita bergaun putih menghadap ke luar jendela.

Aku bisa melihatnya sekilas, ujar Rio. Masuklah dan coba tanyakan padanya, Enyas, Rio meminta Enyas untuk mencoba berkomunikasi dengan hantu itu.

Kau gila, Enyas mengutuk Rio. Bergerak saja rasanya aku tidak sanggup.

Rio memandang ke arah Enyas yang tampak ketakutan, dahinya berkeringat, beberapa bahkan telah menetes membasahi lensa kacamatanya.

Beranikan dirimu, detektif! Seandainya aku bisa berkomunikasi dengan mereka, pasti sudah kutanyakan sendiri! Rio geram melihat sikap Enyas yang terlihat sangat ketakutan.

Di…dia mendengarmu, Enyas berkata saat ia melihat hantu wanita itu berbalik, matanya hitam gelap, bibir merahnya menyeringai samar, kulitnya putih pucat dan tampak sangat kurus. Enyas melihat dengan jelas bagaimana hantu itu menatap Rio untuk beberapa saat, sebelum dengan cepat menoleh ke arahnya dan bergerak maju ke arah Enyas dengan sangat cepat.

Rio melihat bagaimana Enyas memekik dengan nafas tertahan, Enyas tampak terkejut, nafasnya kini terdengar semakin memburu.

Apa yang terjadi Enyas? tanya Rio setelah melihat Enyas yang tampak sedikit panik.

Di…dia… Enyas berusaha menguasai dirinya sendiri. Dia di… di belakangku.

Kau bisa melihatkuu?

Enyas bergidik saat mendengar bisikan suara yang terdengar seperti suara angin yang berdesis di telinganya.

Kau bisa melihatkuu?

Suara itu terdengar kembali. Enyas mengepalkan tangannya, berusaha mengumpulkan keberanian di dalam dirinya.

Kau bisa melihatkuu?

Ya, aku bisa melihatmu! Enyas setengah berteriak, mencoba meledakkan ketakutan yang membelenggunya. Rio memperhatikan apa yang Enyas lakukan. Rio paham, Enyas tidak bicara padanya, melainkan bicara pada sosok lain yang ada di sana.

Hihihihi…

Bisikan tawa yang melengking terdengar di telinga Enyas.

Kau bisa mendengarkuu?

Hantu wanita itu bertanya lagi. Enyas memejamkan matanya, memberi sugesti pada dirinya bahwa ia tidak boleh kalah dengan ketakutannya, ketakutan adalah hal yang negatif, hal yang negatif akan melahirkan energi negatif, dan energi negatif hanya akan membuat mereka, makhluk-makhluk halus, menjadi lebih kuat lagi. Setidaknya itu yang pernah disampaikan oleh kakeknya. Enyas menarik nafas panjang sebelum membuka matanya dan berbalik, menatap langsung ke arah hantu wanita yang kini ada di hadapannya.

Enyas sempat tersentak saat ia menyadari wajah pucat hantu itu sangat dekat dengan wajahnya, bibir merah hantu itu membuka lebar, tampak rahang hantu itu telah patah mata hitamnya tampak begitu dingin dan mencekam.

Ya, aku bisa melihatmu, aku bisa mendengarmu dan aku ingin menanyakan sesuatu padamu, nada suara Enyas sekarang terdengar lebih baik dari sebelumnya.

Bebaskan kami… Ujar hantu wanita itu berbisik, sosok itu kini menampakkan lidah merahnya yang menjulur panjang, menggantung hingga menyentuh lantai. Bebaskan kami…

Kau sudah bebas sejak dulu, kau hanya jin yang meminjam energi dari orang yang mati dengan tragis disini. Jangan pikir aku akan menganggapmu sebagai arwah manusia yang telah mati. Kau tidak bisa menipuku! Enyas menyampaikan apa yang sempat didengarnya dari sang kakek. Roh manusia yang meninggal dunia akan memasuki alam kubur dan tidak bergentayangan di dunia ini, mereka yang bergentayangan adalah jin yang memanfaatkan kenangan, energi yang tertinggal dari kematian tragis yang dialami oleh manusia itu sendiri.

Apa maumuu? Hantu wanita itu bertanya balik.

Kenapa kalian menunjuk ke arah piano merah? Bagaimana piano itu bisa berbunyi sendiri? Hantu mana yang memainkannya?

Hihihihi…. hantu wanita itu tertawa lagi. Mainkan… mainkan… mainkanlah… Hihihihi…. jawab hantu itu sebelum bergerak maju dengan cepat, menembus tubuh Enyas, membuat tubuh Enyas terhuyung ke belakang, sedikit kehilangan keseimbangan. Enyas menoleh ke arah perginya hantu wanita itu. Hantu itu tak lagi ada di sana.

Dia sudah pergi, ujar Enyas sambil berusaha mendapatkan kembali keseimbangannya.

Apa yang ia katakan? Rio bertanya pada Enyas.

Belum sempat Enyas menjawab, terdengar derap langkah yang memburu dari arah tangga, beberapa detik kemudian Edi terlihat berlari tergopoh-gopoh, nafasnya masih tersengal-sengal saat ia sampai di depan Enyas dan Rio.

Ada apa? tanya Rio heran.

Hhh… cepat… ada sesuatu terjadi di kamar Nurul.. ujar Edi dengan nafasnya yang tersengal-sengal.

*_*_*​

Bersambung