Sin Island Part 7

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Tamat

Cerita Sex Dewasa Sin Island Part 7 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Sin Island Part 6

STRANGE NIGHT

Apa-apaan ini? Rio mendengus kesal saat membaca kertas yang berisi giliran masak untuk makan malam. Kenapa para pria yang harus mendapat giliran masak pertama? protesnya.

Sore itu mereka berkumpul di ruang makan yang tidak terpisah dengan lobby dimana piano merah ada di tengah ruangan. Ruang makan itu terletak di sudut ruangan, dengan dua buah jendela besar di samping meja makan panjang. Pemandangan yang dilihat lewat jendela itu cukup indah, sebuah mercusuar yang terbangun di atas pulau kecil, sebuah jembatan gantung menghubungkan antara Pulau Dosa dengan pulau kecil tersebut. Sayang, jembatan gantung itu telah rusak dan putus.

Kami lelah sudah berkeliling pulau sepanjang hari, wajar dong kalau para pria menunjukkan sikap gentleman-nya dengan membiarkan kami beristirahat? ujar Asri, gadis yang membuat jadwal giliran masak selama mereka di Pulau Dosa.

Kau hanya bermain di pantai seharian! Jangan berlagak seperti orang yang sudah mengelilingi pulau demi mencari petunjuk, Enyas menimpali kalimat Asri.

Sudahlah, atau jangan-jangan kalian, para pria, tidak bisa memasak? Devisha menyindir dengan nada yang mengejek.

Oh, kalau soal itu Rio menimpali sindiran Devisha. Aku memang tidak bisa memasak, tambahnya dengan wajah tanpa dosa.

Aku juga tidak, Enyas ikut menimpali. Memasak mie instant saja sering gagal. Kau bisa memasak? Aryosh?

Sedikit, jawab Aryosh, Tapi aku tidak menjamin bagaimana rasa masakanku.

Kalian semua payah! Edi beranjak dari kursinya dan tersenyum penuh kesombongan. Oke, aku akan menjadi chef kalian malam ini. Dan kalian bertiga, ia menunjuk ke arah Enyas, Rio dan Aryosh. Akan menjadi asistenku di dapur.

Memangnya kau bisa memasak? Nurul tampak meragukan kemampuan memasak yang dimiliki Edi.

Tiga tahun bekerja paruh waktu sebagai chef di Trattoire, Edi menjawab, masih dengan nada sombongnya.

Restoran Italia yang terkenal itu? Nurul tampak masih tidak percaya dengan apa yang disampaikan oleh Edi.

Saat ini kau boleh ragu, Bambolina. Simpan dulu komentarmu sampai kau merasakan kelezatan masakan buatanku, Edi memanggil Nurul dengan panggilan Bambolina yang berarti boneka kecil.

Sepertinya layak untuk dibuktikan, Devisha tersenyum sinis. Kehebatan Chef Edi.

Seorang chef saja tidak cukup, kualitas masakan juga dipengaruhi oleh kemampuan chef assistant. Dan malam ini, kalian para ladies, akan menyaksikan kehebatan Chef Edi dengan tiga asistennya yang kita singkat saja menjadi Chef Edi and the E.R.A, Edi seenaknya menyingkat nama Enyas, Rio dan Aryosh menjadi E.R.A.

Sepertinya menarik, gumam Enyas.

*_*_*​

Sore itu empat pria berkutat di dapur mansion, Edi yang kini menyebut dirinya sendiri sebagai Chef Edi memilih bahan makanan dan menentukan menu yang mereka olah. Di luar dugaan, rupanya dapur mansion itu memiliki perlengkapan masak yang nyaris setara dengan yang dimiliki restoran bintang lima.

Edi memotong-motong bahan makanan dengan cepat dan terlatih, membuktikan bahwa ucapannya bahwa ia pernah menjadi chef di restoran Italia bernama Trattoire bukan isapan jempol belaka. Enyas terlihat sedang memarut keju, Aryosh tengah memotong daging, dan Rio mengaduk-ngaduk sebuah panci yang berisi bahan pasta.

Lakukan dengan perasaan, Enyas, Edi mendekat ke arah Enyas setelah memasukkan hasil potongan wortel, daun bawang dan paprika ke dalam wadah untuk dicuci. Memarut keju itu mudah, namun jika kau memarutnya seperti ini Edi memutar alat parut kecil berbahan logam hingga horizontal, sejajar dengan permukaan meja dan menggesekkan keju ke atas parutannya. Hasilnya akan lebih rapi dan mudah meleleh saat dipanaskan. Rasanya akan jadi lebih baik nantinya.

Enyas mengangguk dan menirukan apa yang telah dicontohkan oleh Edi tanpa banyak berkomentar.

Salah Rio! kali ini Chef Edi mengomentari apa yang dilakukan oleh Rio, Kau tidak boleh mengaduknya sembarangan, aduk searah jarum jam dan pertahankan kecepatan adukan, jangan terlalu cepat, jangan terlalu lamban! Camkan itu.

Rio membalas ucapan Edi dengan tatapan kesal, namun tetap berusaha menjaga emosinya. Genggamannya pada sendok pengaduk semakin kencang, tapi ia berhasil mempertahankan gerakan mengaduknya.

Kau tidak bisa memotong daging dengan baik ya? Aryosh? Edi menghampiri Aryosh dan merebut pisau potong dari tangan Aryosh. Badanmu saja yang besar, cemooh Edi. Kau harus memperhatikan urat dan otot yang ada pada daging, potong searah dengan urat dan otot agar daging itu mudah di kunyah dan lebih lumer di lidah nantinya, Edi memberi contoh dengan terampil.

Saat keempat pria sedang sibuk di dapur untuk menyiapkan makan malam, empat wanita lainnya malah asyik bermain kartu di lobby mansion. Keadaan ini rasanya kebalikan dari apa yang terkandung dalam lirik lagu; wanita dijajah pria sejak dulu.

Straight Flush, ujar Via sambil menunjukkan kartunya, ia berhasil menang lima kali berturut-turut.

Kok bisa begitu sih? Devisha meletakkan kartunya dengan kesal. Bagaimana kau bisa mendapatkan kartu bagus lima kali berturut-turut?

Keberuntungan pemula, ucap Asri yang dalam lima ronde terakhir selalu memutuskan untuk fold. Asri yang juga berperan sebagai bandar kembali membagikan kartu. Usai membagikan dua kartu tangan ke masing-masing peserta, Asri membuka kartu meja pertamanya, Jack Spade.

Raise Two, ujar Via yang berarti ia menaikkan taruhan menjadi dua kali lipat.

Tiga gadis yang lain mengikuti bet yang diajukan oleh Via. Tidak satupun dari mereka yang melakukan fold. Asri kembali membuka kartu kedua di atas meja, Ace Clover.

Raise two, Via kembali menaikkan taruhan.

Fold, Devisha mendengus kesal dan memutuskan untuk mundur.

Call, Nurul memutuskan untuk ikut. Asri melakukan hal yang sama dengannya.

Satu kartu lagi dibuka, Four Diamond.

Raise two, sekali lagi Via menaikkan taruhan. Tampaknya gadis itu ingin menambah rekor kemenangannya menjadi enam kali berturut-turut.

Asem, Nurul mengumpat. Fold, Gadis cantik itu memutuskan untuk mundur.

Asri memandang ke arah Via yang kini menatapnya balik sambil tersenyum.

Bagaimana denganmu? Asri? Masih punya cukup nyali menghadapi permainan sang pemula yang beruntung? sindir Via, rupanya Via cukup kesal dengan ucapan Asri yang menyebut kemenangannya lima kali berturut-turut sebagai keberuntungan pemula.

Pemula tetap saja pemula, Asri membalas ucapan Via dengan nada datar. All in, Asri menantang Via dengan All in yang berarti menaikkan taruhan menjadi lima puluh kali lipat.

Via terdiam sejenak, melirik ke tiga kartu di atas meja, sebuah kartu Jack, sebuah As dan sebuah kartu berangka empat. Ditangannya saat ini ia memiliki dua buah kartu As dan King. Saat ini kartunya telah membentuk Three of a kind, dan dengan satu keberuntungan kartu itu dapat menjadi Full house. Ia hanya butuh satu kartu King, Jack atau empat.

All in, Via menjawab tantangan Asri.

Tanpa membuang waktu, Asri membuka satu kartu keempat di atas meja; Four Spade.

Yes!! Via bersorak sambil membuka kartunya, Full House, Ace, ujarnya bangga.

Sial! Asri mengumpat. Pemula tetap saja pemula, mendadak nada bicara Asri kembali datar sambil membuka kartu tangannya. Four of a kind, Four, ujarnya sambil menunjukkan dua buah kartu berangka empat yang ada di tangannya. Devisha dan Nurul terkejut dengan apa yang ada di kartu tangan milik Asri. Keduanya bersorak melihat Via yang kalah di ronde kali ini.

Asem!! Via balas mengumpat. Kemenangan yang sudah di depan mata ternyata sirna begitu saja.

“Apa kau sadar kalau matamu berkedip-kedip saat kartu tanganmu bagus?” komentar Asri. “Aku melihatnya setiap kali kau mendapatkan kartu bagus. Dan kurasa kartumu cukup bagus kali ini. Sayang, kali ini keberuntungan bukan untuk pemula.”

Ngomong-ngomong, kalian menemukan petunjuk di pantai? Nurul bertanya pada Via dan Asri yang seharian tadi mengunjungi pantai.

Tidak, Via menggeleng. Tapi kami menemukan petunjuk di dermaga.

Kalian ke dermaga? Kali ini Devisha yang bertanya.

Apa kalian pikir kami ke pantai hanya untuk main-main? Asri berkata kalem. Karena tidak menemukan petunjuk apapun di pantai, kami pergi ke dermaga dan menemukan satu petunjuk tertempel di dinding rumah di dekat dermaga.

Oh, rumah milik Pak Agil, timpal Nurul.

Bagaimana dengan kalian? Kalian menemukan sebuah petunjuk? Via balik bertanya.

Hmm, bukan kami yang menemukannya sih, Rio yang menemukannya, jawab Nurul.

Bagaimana kalau kita saling bertukar petunjuk? Asri meletakkan kartu ke atas meja dan memberikan tawaran untuk bertukar informasi.

Oke, Devisha mengeluarkan secarik kertas dengan lambang Tri Brata. Asri juga mengeluarkan kertas yang sama dari saku celananya dan mereka saling menyerahkan satu sama lain.

Ini kebalikan dari petunjuk yang ada di atas piano, komentar Asri saat membaca tulisan OUT 4 IN 4 yang ada pada kertas yang diberikan oleh Devisha.

Kurasa dua petunjuk itu berhubungan, komentar Via.

Kurasa begitu, jawab Asri kembali.

Berbeda dengan Asri, Devisha dan Nurul tampak serius mengamati apa yang tertulis di atas kertas berlambang Tri Brata yang diberikan oleh Asri, empat baris rumus persamaan matematika yang tampak sangat sederhana tertulis di atasnya. Tiga rumus teratas berwarna merah dan satu rumus terakhir berwarna biru, tidak seperti tiga rumus lainnya, rumus keempat tertulis tanpa tanda sama dengan.

X+X=2X

2X-X=X

X/X=X

X-X​

Devisha menggelengkan kepalanya, tanda ia tidak mengerti dengan apa yang sedang dibacanya saat ini. Kali ini, Nurul tampak lebih berinisiatif, gadis cantik itu mengeluarkan sebuah notes kecil dari sakunya dan menuliskan sesuatu di atas notes tersebut dengan menggunakan pena.

Ini arti dari X di rumus tersebut, Nurul menunjukkan apa yang ditulisnya di atas notes kepada Devisha. Persamaan paling sederhana, hanya dengan satu unknown variable, tidak banyak angka yang bisa digunakan dalam rumus tersebut.

Dari dulu kau memang jauh lebih jago matematika dariku, jawab Devisha. Tapi yang kau dapatkan itu angka, kita butuh huruf Tunggu dulu, jika kita mengkonversikan angka itu berdasarkan urutan deret huruf dalam alphabetical. Itu jadi..

Ya, huruf ini, ujar Nurul sambil menuliskan sebuah huruf.

Lima dari kita berdelapan memiliki huruf itu dalam namanya, termasuk juga aku, Devisha menimpali.

Oh, aku tidak akan khawatir padamu, Nurul tersenyum seraya menggenggam telapak tangan Devisha.

Sepertinya kalian dapat memecahkan petunjuk itu, ujar Asri melihat Devisha dan Nurul yang sedari berbisik-bisik lalu tersenyum.

Ya, sepertinya begitu, jawab Devisha.

Petunjuk yang itu memang lebih mudah dibanding petunjuk-petunjuk yang lainnya, apa kalian sudah memecahkan petunjuk ini juga? Asri mengangkat tangannya, menunjukkan kertas petunjuk yang tadi diberikan Devisha padanya.

Sayang sekali kami sama tidak tahunya seperti kalian, Devisha menggeleng.

Yang aku tahu, kuncinya ada di angka empat ini, empat ini adalah kita, Asri memulai analisanya.

Kenapa empat itu menjadi kita? Nurul menanyakan dasar ucapan Asri.

Berapa jumlah kita? Delapan, jumlah angka di petunjuk itu? Empat ditambah empat sama dengan delapan, berapa jumlah laki-laki dan wanita di rombongan kita? Empat pria dan empat wanita, Asri menjelaskan dengan sejelas-jelasnya.

Masuk akal, itu logika yang bagus, Devisha menimpali.

Tinggal IN dan OUT yang belum terpecahkan, Via ikut mengomentari.

IN-OUT, masuk-keluar, keluar-masuk Nurul bergumam.

Aku rasa kurang tepat jika di artikan sebagai keluar-masuk, Asri mengomentari gumaman Nurul. Untuk keluar-masuk biasanya digunakan exit dan enter kan?

Berarti yang dimaksud IN dan OUT itu adalah dalam dan luar? Devisha mengernyitkan alisnya.

Inside and Outside, Via mencoba melakukan analisa. Di dalam dan di luar.

Di dalam 4 dan di luar 4, apakah itu artinya ada empat petunjuk di dalam bangunan ini dan empat petunjuk lagi di luar bangunan ini? Nurul kembali bertanya.

Bisa jadi, Devisha segera menimpali. Sudah empat petunjuk yang kita temukan di luar mansion, satu di kapal, tertempel di papan petunjuk jalan menuju kemari, dermaga, dan air terjun. Satu ditemukan di dalam mansion, yaitu di atas piano.

Sebentar dulu, Asri menyahut. Ada dua petunjuk yang menggunakan IN, OUT, dan angka empat. Satu petunjuk mewakili satu huruf, apa menurut kalian petunjuk di atas piano dan yang kalian temukan di air terjun itu merujuk ke satu huruf yang sama?

Kalau iya, itu artinya yang bukan detektif diantara kita adalah orang yang memiliki huruf yang sama di dalam namanya, Via mengalihkan pandangannya ke arah Nurul.

Hah? Hey, maksudmu itu aku? Nada suara Nurul meninggi.

Hanya kau yang namanya memiliki dua huruf yang sama, huruf U, Nurul, Via mulai memberi tekanan pada Nurul.

Itu tidak mungkin, Devisha angkat bicara, mencoba membela Nurul yang merupakan pasangan-nya. Pertama, ada tujuh petunjuk, masing-masing petunjuk mengarah ke satu huruf, berarti ada tujuh huruf, sedang Nurul hanya memiliki lima huruf, satu-satunya yang memiliki tujuh huruf pada nama hanya kau, Devisha.

Oh, aku tidak memiliki huruf yang sama pada namaku, Devisha mencoba berkelit.

Dan Nurul tidak memiliki huruf A pada namanya! Devisha meneruskan pembelaannya. Petunjuk yang kalian temukan di dermaga, variabel X dalam rumus tersebut merujuk ke angka 1, huruf pertama dalam deret huruf alphabetical adalah huruf A. Nurul tidak memiliki huruf A dalam namanya.

Bisa saja yang dimaksud petunjuk itu bukan huruf A, kali ini Via angkat bicara.

Bisa saja dua petunjuk IN dan OUT itu memiliki dua arti yang berbeda! Devisha terus mendebat.

Dua petunjuk yang kau maksud memang berhubungan, tapi mengacu ke dua huruf yang berbeda, Rio menimpali. Ketegangan yang terjadi antara keempat wanita itu rupanya membuat mereka tidak menyadari kehadiran Rio yang hendak menginformasikan bahwa makan malam telah siap. Keempat gadis yang sedang asyik berdebat itu terkejut dengan kehadiran Rio.

Dan aku rasa rumus-rumus dengan variabel X itu tidak mengacu ke huruf A, Rio melihat ke secarik kertas di atas meja, tepat di depan Devisha. Jawaban dari petunjuk itu ada pada rumus yang terbawah yang berwarna biru.

Keempat gadis itu secara serentak mencondongkan badan mereka untuk mengamati kertas petunjuk yang dimaksud Rio.

Lama sekali kalian? Edi berteriak dari arah meja makan. Bukankah ini waktunya kalian merasakan kelezatan yang disajikan oleh Chef Edi dan asistennya E.R.A?

Rio melangkah ke arah meja makan, diikuti oleh Nurul, Via, Asri dan Devisha tidak lama kemudian.

*_*_*​

Luar biasa, puji Devisha setelah menyantap hidangan makan malam yang dihidangkan oleh Chef Edi dan E.R.A.

Sekarang kalian baru percaya kemampuanku, sesumbar Edi. Nada bicaranya menunjukkan kesombongan yang semakin menjadi-jadi.

Sepertinya urusan masak-memasak kita serahkan saja pada Chef Edi, Via memberi usul.

Sudah cukup, aku tidak akan ke dapur lagi, Rio menolak untuk kembali beraktivitas di dapur.

Berarti dengan ini, E.R.A resmi dibubarkan, Devisha malah menanggapi ucapan Rio dengan sebuah joke yang tidak lucu.

Enyas yang duduk paling dekat dengan jendela memandang ke arah luar jendela, di luar terlihat sangat gelap. Hanya cahaya bulan sajalah yang menjadi penerangan di luar sana. Siluet mercusuar yang menjulang kokoh terlihat samar, terbias oleh cahaya bulan.

Delapan orang yang tengah duduk di meja makan sontak terkejut oleh lampu di seluruh ruangan yang tiba-tiba berkedip-kedip, meredup, lalu kembali terang, hal itu terjadi berkali-kali.

Ada apa in..

CLAPP!!

Nurul belum sempat menyelesaikan kalimatnya saat lampu seisi mansion mendadak padam. Seketika ruangan itu menjadi gelap. Cahaya bulan yang menembus jendela sangat minim. Belum habis keterkejutan mereka akibat lampu yang tiba-tiba saja padam, sebuah sinar sangat terang menembus jendela sebelum hilang kembali. Mereka menoleh ke tempat sinar itu menyala, rupanya sinar tersebut berasal dari lampu besar di mercusuar yang kini tampak berputar. Sinar itu kembali masuk melalui jendela saat menyorot ke arah mansion.

DengDingDeng

Kali ini giliran denting piano yang mengejutkan mereka, hampir secara serentak kedelapan pemuda-pemudi menoleh ke arah piano merah di tengah ruangan. Piano itu berbunyi, seolah memainkan sebuah nada yang mencekam, Piano itu bermain sendiri tanpa ada seorangpun yang memainkan tutsnya.

Rio beranjak dari kursinya, berniat untuk melihat lebih dekat apa yang sedang terjadi. Namun langkahnya terhenti, detektif muda itu tercekat saat melihat sosok samar seorang wanita bergaun putih di atas koridor lantai dua, kali ini lebih jelas, sosok wanita tanpa ekspresi itu menunjuk ke arah piano merah yang tengah berdenting sendiri.

Rio mengalihkan pandangannya ke arah piano dan ia semakin terkejut saat menyadari ada dua, tiga, empat sosok wanita bergaun putih berdiri beberapa meter mengelilingi piano yang tengah berbunyi tersebut. Rio merasa tengkuknya merinding, hawa dingin menguasainya, sosok-sosok itu mengangkat tangan kiri mereka perlahan dan menunjuk ke arah piano. Untuk mengusir ketakutan yang kini mulai merengkuhnya, Rio memalingkan pandangannya ke arah luar jendela.

Ah!! Rio tersentak kaget saat ia melihat sosok wanita bergaun putih berdiri di luar jendela, rambutnya hitam, panjang dan jarang, kulitnya pucat seperti mayat, matanya hitam dan tak terlihat, bibir wanita itu berwarna merah darah, tampak menyeringai sambil tangan kirinya terangkat, menunjuk ke arah piano merah.

Deng.

Denting piano itu terhenti seketika, lampu sorot mercusuar yang tadinya menyala dan berputar mendadak padam. Detik berikutnya lampu mansion kembali berkedip sebelum akhirnya kembali menyala terang. Sosok wanita di balik jendela sudah tidak terlihat lagi, Rio memandang ke arah piano merah lalu ke koridor di lantai dua, tidak ada lagi sosok-sosok wanita bergaun putih yang menunjuk ke arah piano.

Jantung Rio masih berdegup kencang saat ia tanpa sengaja memandang ke arah Enyas yang kini menunduk, bulir-bulir keringat dingin terlihat jelas di dahi lebar Enyas, wajah Enyas tampak pucat dengan nafas yang memburu. Saat itulah Rio sadar, dia bukan satu-satunya yang dapat melihat sosok wanita bergaun putih tersebut.

*_*_*​

Bersambung