Sin Island Part 6

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Tamat

Cerita Sex Dewasa Sin Island Part 6 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Sin Island Part 5

WET AT WATERFALL

Rio membiarkan barang-barang bawaannya berserakan begitu saja di atas ranjang kamar mansion. Sebagian tubuhnya masih gemetar, ia masih dapat merasakan hawa dingin yang menjalar seketika di tengkuknya. Sosok yang tadi menatapnya tanpa ekspresi dari kegelapan di lantai dua jelas bukan manusia. Sosok seorang wanita berambut panjang, mengenakan gaun putih yang terlihat berbaur samar dengan kegelapan di sekitarnya.

Cermin besar yang merupakan bagian dari lemari pakaian di kamar itu memantulkan bayangan Rio. Wajahnya terlihat sedikit pucat, Rio berusaha mengatur nafasnya sedemikian rupa, dalam benaknya, pria itu berusaha untuk mengalihkan pikirannya. Mencoba membangkitkan logika-logikanya agar dapat mengalahkan ketakutannya akan sosok hantu wanita tersebut.

‘Tok tok tok’

Ketukan di pintu kamar sedikit mengejutkan Rio. Tapi hal itu membuatnya merasa lega. Setidaknya, sebuah ketukan yang mengejutkan dapat mengalihkannya dari rasa takut yang hampir menguasainya.

“Rio? Kau di dalam?” terdengar suara Enyas memanggil.

Rio beranjak dari duduknya dan melangkah untuk membuka pintu. Ia menemukan Enyas dan Edi di depan pintunya. Sepertinya kedua rekannya sudah siap untuk menjelajahi pulau.

“Ada apa?” tanya Rio.

“Kau mau ikut bersama kami? Kita akan mencari petunjuk ke seisi pulau,” Enyas mengajak Rio mencari petunjuk bersamanya.

“Dimana yang lain?” Rio bertanya sekali lagi.

“Nurul dan Devisha sudah pergi lebih dulu, Asri memilih bersantai di pantai bersama Via, sedang Aryosh… sepertinya ia masih ada di kamarnya,” jawab Enyas.

“Apa kita harus mengajaknya? Enyas?” Edi tampaknya kurang suka dengan ide mengajak Rio di perburuan petunjuk ke seisi pulau.

“Ya,” Rio menimpali sebelum Enyas sempat menjawab pertanyaan yang dilontarkan Edi. “Kenapa aku harus ikut dengan kalian?”

“Oh ayolah Rio,” Enyas menanggapi. “Kau tahu lebih baik bekerja sama dengan kami ketimbang dengan yang lain kan? Setidaknya tidak satupun dari kita akan mencoba mengaburkan petunjuk.”

“Kenapa aku harus berasumsi kalian tidak akan mengaburkan petunjuk yang didapat?” Rio menunjukkan ketidakpercayaannya pada apa yang baru disampaikan oleh Enyas.

“Karena petunjuk pertama menunjukkan bahwa kita adalah detektif,” Edi menyahut. “Kau tahu kan? Petunjuk pertama itu adalah diato…”

“Aku adalah orang pertama diantara kalian yang membaca petunjuk pertama,” Rio memotong kalimat Edi. “Jelas aku tahu kalau petunjuk itu berarti huruf A.”

“Oh, aku tidak akan bekerja sama dengan seorang homosexual!” Nada bicara Edi meninggi. “Kau boleh bekerja sama dengan sang anak emas kalau kau mau, Enyas. Tapi jangan harap aku akan bekerja sama dengan seorang homo!”

“Jangan kuatir, aku juga tidak berminat untuk bekerja sama dengan seorang amatir macam dirimu, detektif Edi,” Rio membalas ucapan Edi dengan sinis.

Edi bergegas pergi ke arah tangga, meninggalkan Enyas dan Rio yang kini berhadap-hadapan.

“Kau yakin tidak ingin bekerja sama?” Enyas menawarkan sekali lagi.

“Aku rasa Aryosh lebih bisa diandalkan dibanding partner barumu itu, Enyas,” Rio menjawab, sebuah jawaban yang menyiratkan penolakan atas tawaran yang diberikan oleh Enyas.

“Baiklah,” Enyas mengangkat bahunya dan bergegas menyusul Edi, meninggalkan Rio yang memutuskan untuk kembali ke kamarnya.

*_*_*​

“Kau percaya hantu?” Rio bertanya pada Aryosh di tengah-tengah perjalanan mereka menuju Solar Power Plant yang terletak di bagian lain pulau.

“Hantu?” Aryosh mengernyitkan alisnya. “Kau takut hantu?”

“Tidak,” jawab Rio tanpa ekspresi. “Aku hanya bertanya apa kau percaya akan adanya hantu.”

“Oh, aku percaya pada keberadaan makhluk lain selain manusia, terlepas dari bagaimana kamu mendefinisikan hantu,” jawab Aryosh. “Aku merasakan keberadaan makhluk halus begitu memasuki mansion.”

“Kau dapat merasakan keberadaan mereka?” Rio memandang ke arah Aryosh.

“Hanya merasakan saja, aku rasa semua orang punya potensi untuk merasakan keberadaan makhluk-makhluk itu.”

“Dimana kau merasakannya? Maksudku bagian mansion yang mana? Ruang tengah? Dapur?” Rio makin mempertajam pertanyannya.

Aryosh menghentikan langkahnya, untuk sesaat ia memandang ke atas, ke arah beberapa burung yang bertengger di dahan pohon.

“Lantai dua, di koridor lantai dua, koridor yang menghadap ke arah piano,” jawab Aryosh kemudian.

Rio memandang ke arah Aryosh, ia sedikit terkejut dengan apa yang baru saja disampaikan Aryosh. Posisi yang dimaksud Aryosh hampir sama dengan tempat dimana sosok hantu wanita itu muncul.

“Seperti apa sosoknya?” Rio bertanya sekali lagi.

“Entahlah, aku kan tidak melihatnya? Hanya merasakan keberadaannya saja,” jawab Aryosh sambil melanjutkan langkahnya. “Aku rasa kita hampir sampai,” ujar Aryosh sembari menunjuk ke ujung sebuah menara tinggi yang menjulang diantara pepohonan. Menara itu dapat dilihat dari lantai dua mansion tempat mereka menginap.

Rio mempercepat langkahnya, beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di tepi hutan. Di atas dataran rendah, beberapa puluh meter di depan Rio dan Aryosh, terlihat panel-panel solar power plant yang berjajar rapi, mengelilingi sebuah menara tinggi yang merupakan menara kendali dari power plant tersebut.

“Ternyata mereka sudah disini lebih dulu,” gumam Rio saat melihat Enyas dan Edi sedang berbincang-bincang di depan menara kendali. Enyas tampak melihat ke arah Rio dan Aryosh, detektif muda itu melambai ke arah mereka. Aryosh dan Edi melanjutkan langkah mereka memasuki kawasan Solar Power Plant tersebut.

“Apa yang kau temukan?” tanya Aryosh pada Enyas dan Edi.

“Maaf aku tidak akan bicara padamu selama kau bersama si homo itu,” jawab Edi sinis sambil menunjuk ke arah Rio. Ia tampak masih kesal dengan Rio yang menyebutnya sebagai amatir.

“Tidak ada apa-apa disini selain tuas dan panel,” Enyas menjawab pertanyaan Aryosh, mencoba untuk tidak ikut ambil bagian dalam konflik antara Edi dan Rio.

“Tidak ada petunjuk?” Aryosh kembali bertanya, mencoba mencari tahu apakah Enyas dan Edi menemukan kertas berlambang Tri Brata yang merupakan bagian dari tujuh petunjuk yang tersebar.

“Nihil,” Enyas menggeleng. “Jujur, tadinya aku berharap ada petunjuk di tempat ini. Tapi hasilnya nihil. Kecuali petunjuk tersebut ada di ruang bawah tanah yang terkunci.”

“Terkunci?” kali ini Rio angkat bicara. “Ada ruangan yang tidak bisa dimasuki?”

“Ada ruang bawah tanah yang terkunci rapat,” Enyas menjelaskan. “Kita bisa mengintip ke dalam lewat jendela yang ada di pintu ruangan tersebut, ruangan kecil, mungkin sekitar satu meter persegi, isinya cuma alat pembersih lantai. Sepertinya itu hanya tempat penyimpanan alat-alat pembersih.”

“Sebaiknya kita ke dalam, Yosh,” Rio mengajak Aryosh untuk masuk ke dalam menara kendali.

“Dan sebaiknya kita pergi dari sini, Nyas,” Edi menimpali. “Aku sudah cukup muak berada di dekat homosexual.”

Rio berjalan masuk ke dalam menara kendali, mengabaikan kata-kata Edi yang bersifat provokatif. Aryosh terlihat bingung dengan apa yang terjadi, dia menatap Edi dan Rio bergantian.

“Lebih baik kita tidak bersikap kekanakan,” ujar Enyas sambil bergegas meninggalkan tempat itu. Edi mengikuti tepat di belakangnya.

Aryosh memandang Edi dan Enyas yang berjalan meninggalkan area Solar Power Plant, matanya menangkap ke arah Edi yang memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana panjangnya. Satu hal yang tidak diketahui oleh Aryosh, Rio ataupun Enyas, tangan kanan Edi menggenggam secarik kertas berlambang Tri Brata di dalam saku kanan celananya.

*_*_*​

“Waah sejuk sekali,” Nurul tampak senang melihat air terjun di hadapannya. Rimbunan pohon di sekitar mereka tampak berpadu selaras dengan air terjun dan sungai dangkal yang penuh bebatuan. Air sungai itu terlihat jernih.

“Ayo kita istirahat dulu di sana,” Devisha menunjuk pondok kecil berbahan kayu yang terbangun di tepi sungai.

Nurul berjalan dengan lincah ke tepi sungai, berjongkok dan memasukkan tangannya ke dalam air sungai yang mengalir. Air sungai itu tampak bening dan menyegarkan.

“Airnya jernih,” Nurul mengomentari air sungai di hadapannya. “Sepertinya segar sekali, rasanya aku ingin mandi di sungai ini.”

Devisha duduk di pondok kecil tidak jauh dari tempat Nurul berada, gadis itu memandang ke sekitarnya, rimbunan pohon yang mengelilingi mereka, air terjun yang cukup tinggi, sungai kecil yang tampak jernih, sebuah pemandangan yang sangat sulit ditemui di Jakarta, tempat kelahirannya.

“Lepas saja,” ujar Devisha saat ia melihat Nurul mulai menggulung ujung celana jeans. “Kau tidak ingin kembali ke mansion dengan celana yang basah, kan?”

Nurul menoleh ke arah Devisha yang memandangnya sambil tersenyum. Nurul memandang sekitarnya, memastikan bahwa tidak ada orang lain di dekat sana selain mereka berdua.

“Aku hanya ingin mencoba kedalaman sungainya kok,” Nurul berkata menanggapi saran dari Devisha.

“Oh, aku tahu kau ingin mencoba kesegaran airnya,” Devisha tersenyum sambil beranjak dari duduknya. Gadis itu tidak melepaskan pandangannya dari Nurul saat tangannya menyentuh kancing celana jeansnya sendiri, melepas, dan menurunkannya sambil sedikit menggoyang tubuhnya.

Devisha tidak berhenti disitu, gadis itu memegang ujung kaos yang dikenakannya lalu menarik kaos tersebut ke atas, serta merta kaos tersebut lepas melalui kepala gadis manis tersebut. Dengan santainya, Devisha menurunkan celana dalamnya, membuat kewanitaannya yang hanya tampak seperti garis vertikal tipis terpampang bebas.

“Aku butuh bantuan disini,” ujar Devisha sambil berbalik badan memunggungi Nurul, meminta Nurul membantunya melepaskan kait bra yang dikenakannya.

Nurul tersenyum melihat kelakuan Devisha yang sudah dikenalnya sejak masih duduk di bangku SLTP. “Dasar…” timpal Nurul sambil mendekati Devisha.

*_*_*​

Rio memandangi panel-panel di depannya dengan seksama, dua lampu indikator berwarna hijau di depannya menyala. Tepat di bawah lampu-lampu yang menyala tersebut terdapat tulisan ‘POWER’ yang menurutnya pertanda bahwa listrik di pulau telah dialirkan.

“Ada yang kau temukan?” Aryosh bertanya.

“Aku bahkan tidak paham dengan apa yang ada di sini,” jawab Rio sekenanya. “lihat panel-panel ini, benar-benar membingungkan.”

“Jangan tanya padaku, aku sama butanya tentang kelistrikan,” Aryosh menimpali. “Kita tidak bisa naik ke ujung menara karena lift itu tidak berfungsi,” Aryosh menunjuk ke arah elevator yang tak bergerak meski Aryosh telah berkali-kali mencoba mengoperasikannya.

“Dan tidak ada tangga menuju kesana,” Rio melengkapi ucapan Aryosh. “Tidak ada petunjuk disini, sebaiknya kita ke tempat lain.”

Rio dan Aryosh keluar dari menara kendali, berjalan meninggalkan area Solar Power Plant.

“Kemana kita pergi?” tanya Aryosh sambil membuka peta yang dibawanya.

“Aku rasa sebaiknya kita selidiki sekitar mansion, seharusnya ada satu atau dua petunjuk di sana,” Rio menjawab pertanyaan Aryosh.

“Ide yang bagus Rio,” Aryosh memandang Rio untuk sesaat. “Apa ada yang ingin kau bicarakan, Rio?” tiba-tiba saja Aryosh bertanya.

“Tentang apa? Power Plant ini? Ya, aku hanya merasa aneh untuk apa membangun Solar Power Plant sebesar ini jika hanya untuk mengalirkan listrik ke dermaga dan mansion. Menurutku itu sebuah pemborosan.”

“Pemilik pulau ini pasti seorang milyader yang bingung menghabiskan uangnya,” komentar Aryosh.

“Namanya Billy, Pak Agil sempat menyebut namanya. Mungkin ia ingin mendirikan sebuah resort besar yang lengkap dengan taman bermain atau mungkin dia ingin mendirikan kotanya sendiri di pulau ini.”

“Ya, bisa jadi,” Aryosh menimpali.

Keadaan hening untuk sesaat, Aryosh dan Rio berjalan melewati jalan setapak dan mulai memasuki hutan.

“Ada lagi yang ingin kau sampaikan?” Aryosh bertanya sekali lagi.

“Hah?” Rio memandang Aryosh dengan wajah bingung, tidak paham dengan arah pertanyaan Aryosh. “Maksudmu? Kau ingin tahu soal petunjuk pertama? Soal tujuh lingkaran itu? atau soal petunjuk ketiga? IN 4 OUT 4?”

Aryosh menggeleng, “Aku bisa memecahkan semua petunjuk itu sendiri,” ucapnya kemudian.

“Lalu? Apa maksud dari pertanyaanmu itu?”

“Tentang Edi,” Aryosh menjawab.

“Oh, detektif amatir yang malas berpikir itu. Ada apa dengannya?”

“Dia menyebutmu seorang homosexual,” wajah Aryosh tampak serius saat mengucapkan kalimat homosexual.

“Oh, aku tidak mau memikirkan hal tidak penting seperti itu,” Rio sedikit tertawa menanggapi ucapan Aryosh. “Tidak perlu diperhatikan, terserah apa yang ingin dikatakan detektif amatir itu.”

“Aku pernah berada di posisimu,” sahut Aryosh, masih dengan nada yang serius. “Kau tidak perlu menutupi apapun di depanku. Tidak perlu berpura-pura menjadi orang yang bukan dirimu.”

Tawa kecil Rio terhenti seketika, Rio memandang ke wajah Aryosh yang tampak serius dengan apa yang saat ini mereka bahas.

“Apa maksudmu dengan berpura-pura menjadi orang yang bukan diriku?” Rio mengernyitkan alisnya.

“Kau boleh terbuka padaku, aku sama sepertimu, kita memang kaum minoritas, banyak orang yang menganggap kita sebagai manusia rendah, gila, bahkan hina,” Aryosh meletakkan tangan kanannya ke pundak Rio. “Hanya kita yang bisa mengerti kaum kita,” ucap Aryosh seraya menatap mata Rio dalam-dalam.

“Brengsek!” Rio mengibaskan pundaknya dan melompat mundur. Untuk sejenak Rio mengamati Aryosh dari ujung kaki hingga kepala, seolah ia tidak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Aryosh. “Kau benar-benar berpikir aku homosexual?? Dan kau… kau seorang homosexual?” ujar Rio dengan nada yang cukup tinggi.

“Ya, sama sepertimu? Kenapa kau harus berpura-pura? Kita ini sama,” Aryosh tampak heran dengan sikap Rio.

Rio mengarahkan telunjuknya ke arah Aryosh. “Tidak Aryosh!” ujar Rio sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku bukan homo! Maaf, tapi aku normal, aku tertarik dengan lawan jenisku, dan aku tidak tertarik dengan hubungan sejenis!” Rio berkata sambil menuding-nudingkan jarinya ke arah Aryosh.

Aryosh diam untuk sesaat, entah apa yang saat itu dipikirkan oleh Aryosh, tapi akhirnya ia menyadari bahwa Rio bukanlah seorang homosexual, tidak seperti dirinya.

“Aku rasa kita berpisah disini, Aryosh, maaf, tapi lebih baik begitu,” Rio berpaling dan melangkah menjauh dari Aryosh yang masih diam. Tiga langkah kemudian, Rio berbalik menatap Aryosh. “Tidak perlu khawatir, Aryosh…” ujar Rio kemudian. “Aku tidak akan memberitahu siapapun tentang hal ini,” ucapnya sebelum meninggalkan Aryosh. Sepanjang perjalanan Rio menggeleng-gelengkan kepalanya, ia masih tidak percaya akan fakta bahwa seorang pria berbadan besar, tinggi dan kekar, dengan nada suara yang berat layaknya pria jantan seperti Aryosh, ternyata seorang homosexual.

*_*_*​

Gemericik air terjun terdengar berbaur dengan canda tawa dua gadis yang sedang bertelanjang ria di bawahnya. Tubuh padat berisi milik Devisha terlihat begitu menggairahkan dalam keadaan basah, rambut panjang hitamnya tampak menempel di sebagian buah dadanya yang membusung indah. Gadis itu menjerit kecil saat Nurul memberi cubitan kecil pada payudaranya yang berareola kecoklatan dengan puting yang tidak begitu menonjol.

Pemandangan di samping Devisha tidak kalah menggairahkan, seorang gadis berparas cantik dengan tubuh ramping namun terlihat padat dan berlekuk juga telanjang tanpa sehelai benangpun. Nurul, gadis berkulit cerah yang sering mempermainkan banyak pria sekaligus tampak usil mencolek-colek payudara Devisha. Jika ada laki-laki yang melihat keduanya dan diharuskan memilih salah seorang diantara Nurul dan Devisha, pastilah sebagian besar laki-laki akan memilih untuk menikmati Nurul yang berparas lebih cantik, sebagian yang lain mungkin memilih Devisha karena tubuhnya dapat dikatakan lebih montok, payudara Devisha memang lebih besar dan lebih membusung kencang dibandingkan Nurul.

“Aw!” Devisha memekik lagi saat Nurul dengan isengnya mencolek bagian kewanitaannya. Nurul tertawa cekikikan melihat reaksi Devisha.

“Sekali lagi kau lakukan itu, akan kubuat kau lemas di bawah air terjun ini,” ancam Devisha.

“Siapa takut?” Nurul malah menantang Devisha.

Tanpa banyak bicara, tangan kanan Devisha merengkuh tengkuk Nurul, yang lebih pendek beberapa sentimeter dari dirinya dan menarik kepala Nurul hingga bibir mereka bertemu. Devisha melumat dan menghisap bibir Nurul dengan ganas dan Nurul membalas ciuman tersebut dengan tidak kalah ganasnya.

Dua orang gadis yang sama-sama telanjang bulat saling melumat, Keduanya mendekatkan tubuh mereka, Devisha menempatkan tangan kirinya melingkar dari pinggul ke punggung Nurul, membuat tubuh telanjang keduanya kini bergesekan di bawah percikan air terjun. Buah dada kedua gadis itu saling bersinggungan, bergesekan seolah tak ingin kalah dengan gesekan bibir keduanya. Kedua tangan Nurul kini melingkar di pinggang Devisha, gadis cantik itu membelitkan kaki kanannya ke kaki kiri Devisha, membuat paha mereka merapat, membuat liang kenikmatan mereka sesekali saling menggesek.

“Ah…” Nurul melepaskan ciumannya saat dengan sengaja Devisha mengangkat lutut kanannya hingga menekan liang kewanitaan Nurul. Sambil menjaga keseimbangan, dengan lihai Devisha menggesek-gesekkan pahanya ke vagina Nurul, memberikan rangsangan yang samar-samar terasa nikmat bagi Nurul. Mata indah Nurul semakin terpejam saat Devisha mendaratkan bibirnya menyusuri leher putih Nurul, Devisa memainkan lidahnya di sekujur leher gadis cantik itu sambil sesekali memberikan hisapan yang makin merangsang.

Seolah ingin mengejar kenikmatan yang lebih, kedua tangan Nurul kini berada di bongkahan pantat montok Devisha, meremas dan menarik-narik bongkahan indah itu sehingga gesekan paha Devisha di liang kewanitaannya semakin terasa. Nurul dapat merasakan vaginanya mulai basah, bukan hanya basah karena guyuran air terjun, namun juga karena cairan lain yang keluar dari dalam liang kenikmatannya sendiri.

Ciuman dan hisapan Devisha kembali naik ke bibir Nurul, keduanya kembali terlibat dalam ciuman yang semakin panas, lidah keduanya bertemu, saling menyapu dan saling membelit saat tubuh keduanya menempel erat. Setelah itu, dengan lembut Devisha menghentikan ciumannya, keduanya bertemu pandang dan saling tersenyum. Detik berikutnya, Devisha bergerak turun, berjongkok hingga liang kewanitaan Nurul berada tepat di hadapan wajahnya.

“Ouhh… yesshh…” Nurul melenguh saat merasakan sesuatu yang hangat dan bertekstur menyapu kewanitaannya, menghantarkan sebuah kenikmatan ke seluruh tubuhnya. Nurul kembali melenguh saat Devisha mulai menusukkan lidahnya dengan lembut, membelah bibir kewanitaan Nurul yang terlihat bersih terawat. Dengan gerakan yang teratur lidah itu menyapu lipatan bagian dalam bibir kewanitaan Nurul, hal itu dilakukan berkali-kali sebelum lidah itu bergerak naik, menyentil bagian sensitif dari liang kewanitaan itu sendiri.

“Ohh… Beib…” Nurul meracau saat Devisha memainkan klitorisnya dengan lidah. Dengan mahir Devisha memainkan lidahnya, bergerak melingkari klitoris Nurul, menyentil-nyentilnya dengan gerakan yang makin lama makin cepat. Tanpa sadar Nurul menjepit kepala Devisha dengan kedua pahanya. Nurul kini tidak lagi malu untuk mengeluarkan suara desahan yang lebih kencang dari sebelumnya. Gadis itu mendesah, menggelinjang, kedua tangannya bermain di payudaranya sendiri, memutar dan memilin puting payudaranya yang mengeras.

“Ahhhh!!!” Akhirnya Nurul menjerit, tubuhnya tampak tegang, dengan sigap Devisha menahan pinggang Nurul agar tidak ambruk, Devisha memejamkan matanya saat merasa cairan orgasme Nurul yang menyembur, semburannya tidak kencang, namun cukup banyak mengalir di lidah Devisha.

Nurul masih sedikit kesulitan menjaga keseimbangan saat Devisha kembali berdiri dan melumat bibirnya. Mereka berdua kembali larut dalam percumbuan sejenis hingga tidak menyadari keberadaan orang lain yang kini berjalan mendekat ke arah pondok kayu.

“Ah!” Nurul sedikit memekik dan mendorong tubuh telanjang Devisha menjauh saat ia menyadari kehadiran orang lain. Devisha menoleh dan menemukan Rio sedang berjalan ke arah pondok, berusaha untuk tidak memandang kedua gadis tersebut.

“Lanjutkan saja permainan kalian, jangan khawatirkan aku,” ujar Rio tanpa memandang ke arah Nurul dan Devisha. “Aku hanya tertarik pada apa yang tertempel di tiang pondok itu,” Rio mencabut secarik kertas berlambang Tri Brata yang tertempel di salah satu tiang pondok kecil tersebut. Rupanya kertas tersebut luput dari pengamatan Nurul dan Devisha.

“Oh, tentu kami tidak khawatir kepadamu, Rio,” Devisha menyahut menanggapi kalimat Rio.

Rio berhenti dan berbalik memandang ke arah Nurul dan Devisha. Kali ini Rio memandangi tubuh telanjang Devisha dan Nurul dengan seksama, dari ujung kaki hingga kepala, sempat berhenti cukup lama saat memandang buah dada Devisha yang membusung kencang. Devisha dan Nurul seketika merasa risih, pandangan Rio barusan adalah pandangan penuh nafsu.

“Kalian cantik dan menarik sekali, tubuh kalian bagus dan Nurul, kau benar-benar cantik. Sayang kalian sepasang lesbi.” Ucap Rio dengan nada yang melecehkan.

Nurul yang terlihat risih menutupi kewanitaannya yang basah dengan tangan kanan sedang tangan kirinya berusaha menutupi kedua buah dadanya.

“Apa bedanya dengan seorang homosexual sepertimu? Kami sudah mendengarnya dari Edi, bahwa kau seorang gay,” Devisha membalas ucapan Rio dengan ketus.

“Oh, kau ingin bukti bahwa aku bukan gay?” Rio merentangkan kedua tangannya. “Kemarilah dan hisap penisku!” Tanpa basa-basi Rio menurunkan resleting celananya dan mengeluarkan penisnya yang tampak menegang. “Pertunjukan kalian tadi sangat membuatku terangsang,” ujar Rio setengah geram.

Pandangan Devisha dan Nurul kini tertuju pada batang kejantanan sepanjang kurang lebih 15-16 sentimeter milik Rio, batang itu bengkok ke arah kiri namun tampak keras dan tegak. Wajah Nurul terlihat memerah, liang kewanitaannya yang baru saja mendapatkan orgasme terasa berdesir gatal, gadis itu menatap ke arah batang kejantanan Rio lekat-lekat, seolah membayangkan kenikmatan yang dirasakannya saat batang itu memasuki tubuhnya.

“Siapa yang sudi melakukan itu!” Berbeda dengan Nurul, Devisha tidak menatap batang kejantanan Rio lekat-lekat. Gadis itu justru membalas apa yang dilakukan Rio dengan mengacungkan jari tengahnya ke arah Rio.

“Oh, jadi begitu…” Rio tersenyum dan kembali memasukkan penisnya ke dalam celana. “Rupanya, satu dari kalian adalah biseks?” ucap Rio setelah menaikkan kembali resletingnya.

“Apa pedulimu?!” Devisha membalas ucapan Rio dengan nada yang semakin ketus.

“Oh, aku tidak peduli,” Rio membaca apa yang tertulis di kertas petunjuk yang baru ia ambil dari kolom pondok kayu kecil di dekat mereka. Rio diam untuk beberapa saat, seolah mencoba merekam apa yang tertulis di atas kertas tersebut.

OUT 4 IN 4​

Rio tersenyum penuh makna, ia berhasil mengerti apa yang dimaksud dalam petunjuk kali ini. Rio meletakkan kertas berisi petunjuk tersebut itu di atas dipan pondok lalu memandang sekali lagi ke arah Devisha, kemudian Nurul.

“Kau bisa merasakannya jika kau berminat, Nurul,” Rio mengedipkan matanya sebelum pergi meninggalkan Devisha dan Nurul yang masih dalam keadaan tanpa busana.

*_*_*​

Bersambung