Sin Island Part 5

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Tamat

Cerita Sex Dewasa Sin Island Part 5 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Sin Island Part 4

THE MANSION

“Masih jauh ya?” keluh Nurul sambil menyeka bulir-bulir keringat di dahinya. Gadis cantik itu tampak kelelahan. Kendati begitu, kecantikan Nurul tetap terlihat.

“Sabar,” ujar Devisha yang berjalan tepat di sebelah Nurul. “Kalau melihat peta ini kita sudah dekat kok.”

Empat pemuda dan empat pemudi itu melanjutkan langkahnya melewati jalan setapak yang dikelilingi oleh pohon-pohon rimbun. Para pria yang tengah membawa bekal perlengkapan mereka berjalan dalam diam, tampaknya mereka lebih memilih untuk tidak bicara demi menyimpan tenaga.

“Lihat!!” Via bersorak seraya menunjuk sesuatu di depan mereka. Ujung atap dari sebuah bangunan terlihat diantara rimbunnya pepohonan. “Itu pasti penginapan yang dimaksud!” ujar gadis berambut sebahu itu riang.

Aryosh menegakkan pandangannya ke arah ujung bangunan sebelum mulai mempercepat langkahnya.

“Woow…” Asri tampak kagum akan apa yang dilihatnya sekarang. Mereka sampai ke sebuah taman rumput hijau dengan patung berbentuk kuda jingkrak yang mengeluarkan air. Gemericik air yang keluar membuat suasana terasa hidup, ditambah bunga-bunga yang tumbuh di sekitar kaki patung tersebut.

Bukan taman itu yang membuat Asri berdecak kagum, melainkan apa yang ada setelah taman tersebut. Sebuah bangunan megah bergaya Eropa, dengan empat pilar besar di depan bangunan. Dinding-dinding putihnya tampak sedikit kusam, beberapa tanaman merambat liar di dinding dan pilar-pilar bangunan tersebut. Di lantai dua terlihat jendela-jendela besar berbentuk persegi yang biasa digunakan pada bangunan-bangunan lama. Jendela tersebut berjajar rapi.

“Ini sih bukan penginapan,” Enyas menurunkan karung berisi bahan makanan yang dipanggulnya. “Ini sebuah mansion,” tambahnya seraya menyeka keringat di keningnya.

“Mewah juga ya?” Rio ikut berkomentar.

“Tapi sepertinya menyeramkan,” Via yang saat itu ada di dekat Rio menyahut. “Seperti bangunan mewah yang terabaikan di film-film horror.”

“Kau bisa tidur bersamaku jika merasa takut, Via,” ujar Edi, mencoba meluncurkan Speak Speak Iblis ke gadis tersebut. Via hanya mencibir lalu menjauh.

“Seharusnya kau lihat ronde kedua dari permainan Via semalam, Rio,” Edi menyenggol bahu Rio dengan sikunya. “Luar biasa HOT,” tambahnya.

“Aku pikir lebih baik aku tidak meracuni pikiranku dengan hal semacam itu agar bisa fokus ke pelatihan kali ini,” jawab Rio dingin.

“Oh, ternyata…” sebuah senyum aneh tersungging di bibir Edi sebelum pria itu melangkah menjauh. Entah apa maksud dari senyum Edi.

Rio mengangkat kembali karung yang dibawanya sebelum menyusul ke arah rekan-rekannya yang telah memasuki halaman mansion tersebut.

Kraaak….

Nurul dan Devisha mendorong double door yang merupakan pintu depan mansion. Pintu berukuran besar yang cukup berat itu menimbulkan suara derak ketika dibuka. Sedikit ragu-ragu, Devisha melangkahkan kakinya di atas lantai mansion yang dilapisi marmer berwarna terang.

“Besar sekali…” gumam Devisha melihat sebuah ruangan yang besar dan gelap.

“Kita harus menemukan saklar lampu,” Asri dengan sigap membuka tas ranselnya dan mengambil sebuah senter kecil. Senter itu cukup berguna untuk mencari sesuatu di ruangan yang gelap.

Asri mengarahkan senternya menyapu seisi ruangan, cahaya bulat yang diciptakan senter tersebut bergerak membelah kegelapan ruangan, menyorot dua buah tangga berukuran besar yang ada di sisi kanan dan kiri ruangan, sebuah karpet merah di tengah ruangan dan sebuah piano merah yang terlihat klasik di tengah ruangan. Sepertinya saat ini mereka berada di ruang lobby dari mansion yang dulunya dipergunakan sebagai penginapan ini.

Cahaya senter Asri terus menyapu hingga menemukan panel tombol berwarna putih yang menempel pada dinding di bawah tangga sebelah kanan. Asri menyorot panel tersebut untuk beberapa saat.

“Sepertinya itu tombol lampunya,” ujar Asri seraya melangkah mendekat ke tombol tersebut.

“Hati-hati,” Enyas mengingatkan. Pria itu meletakkan karung yang tadi dipanggulnya lalu bergegas melangkah ke samping Asri. “Biar aku saja,” ujar Enyas dengan sikap yang gentleman.

“Oh, terima kasih,” Asri menyerahkan senternya pada Enyas dan mundur kembali ke arah pintu.

Enyas melangkahkan kakinya ke arah panel tersebut dengan hati-hati, lampu senternya menyorot beberapa pecahan keramik yang berserakan di lantai, beberapa tampak seperti puing-puing pot yang terpecah. Saat Enyas telah berada di depan panel tersebut, ia terdiam sejenak, membaca tulisan yang tercetak di bagian atas tombol-tombol tersebut.

Sebuah senyum muncul di raut wajah Enyas saat menyadari bahwa tombol-tombol di hadapannya memang tombol yang digunakan untuk menyalakan lampu penerangan mansion. Enyas menjulurkan jarinya, menekan sebuah tombol.

‘CTEK!’

Tidak ada yang terjadi. Enyas menekannya sekali lagi.

‘CTEK! CTEK!’

Masih tidak ada yang terjadi.

“Sepertinya mereka tidak berfung…”

‘KLOTAK-KLOTAK-KLOTAK!’

Suara gaduh muncul dari dalam kegelapan ruangan, Enyas mengarahkan senternya ke arah suara dan sempat melihat sekelebat bayangan melompati piano. Rio yang melihat tersebut membuka ranselnya dan mengambil senter miliknya. Rio bergerak maju ke arah piano dengan senter menyala di tangannya, pemuda itu tampak maju tanpa rasa takut sedikitpun.

“Hey! Rio!” Enyas memanggil Rio yang kini berhenti di depan piano, menggerakkan senternya ke arah kaki-kaki piano dan terus ke lantai di bawah piano tersebut. Cahaya senter milik Rio menangkap sebuah gerakan, tidak lama kemudian sekelebat sosok melesat dari kaki piano tersebut berlari dengan empat kakinya ke arah ruangan lain. Rio tersenyum menyadari sosok sebenarnya dari bayangan itu.

“Apa itu, Rio?” Enyas bertanya dari kejauhan.

“Seekor kucing,” jawab Rio sambil tetap memunggungi rekan-rekannya. “Cobalah tombol yang lain, Nyas,” saran Rio kepada Enyas.

‘CTEK!’ terdengar suara Enyas menekan tombol yang lain.

Sudut mata Rio menangkap sesuatu pada kaki piano di hadapannya, Rio berjongkok dan menyorot kaki piano tersebut dengan senternya, sebuah goresan terlihat di kaki piano tersebut, tampak seperti bekas cakaran. Rio meraba kaki piano itu dengan dua jarinya untuk memastikan goresan tersebut.

‘CTEK! CTEK!’ Enyas masih mencoba tombol yang lain.

Rio mendekatkan kepalanya ke arah goresan pada kaki piano, mengamatinya lebih dekat. Dan seketika itulah Rio merasakan sesuatu yang aneh, sebuah hawa dingin yang entah dari mana seolah menyergap tengkuknya, bulu kuduknya terasa merinding. Rio mencoba mengabaikan perasaan aneh yang muncul tiba-tiba itu, sebuah perasaan yang sangat tidak biasa. Rio mengatur nafasnya dan memejamkan matanya.

Saat itulah Rio merasakan hawa dingin yang merindingkan bulu kuduk itu semakin kuat, diikuti dengan perasaan aneh yang menjalari punggungnya. Perasaan di punggungnya itu, sama dengan perasaan yang terasa kala seseorang menatapmu dalam waktu yang cukup lama.

Rio membuka matanya, dia dapat merasakan sesuatu sedang menatapnya dari belakang, dari balkon di lantai dua yang gelap. Perasaan itu terasa semakin kuat, perlahan namun pasti, Rio menoleh ke belakang dalam posisi masih tetap berjongkok.

Rio memandang ke lantai dua di belakangnya, gelap, dan dalam keadaan gelap tersebut, ia melihat sesuatu yang samar, seolah siluet seseorang mengenakan pakaian putih panjang tengah berdiri dan menatap ke arahnya, semakin lama sosok itu tampak semakin jelas, seorang wanita berambut panjang, dengan kulit pucatnya, dengan wajah yang tersamarkan kegelapan mengangkat tangan kirinya perlahan, seolah menunjuk ke arah Rio.

KLAP!!

Tiba-tiba lampu menyala terang, secara reflek, mata Rio berkedip, Rio mengerjapkan matanya berkali-kali untuk menyesuaikan dengan kondisi terang yang muncul tanpa aba-aba. Setelah beradaptasi, Rio memandang kembali ke arah sosok samar seorang wanita yang tadi menatapnya dari lantai dua. Sosok itu kini tak lagi ada, seolah tak pernah ada di sana.

“Yes! Berhasil!” ujar Enyas yang akhirnya berhasil menyalakan lampu. Rio menatap ke arah Enyas yang kini mendekat ke arahnya.

“Ada apa Rio?” tanya Enyas. “Kau seperti habis melihat hantu.”

“Hey, lihat, petunjuk ketiga,” Nurul menunjuk secarik kertas dengan logo Tri Brata yang ada di atas piano merah di tengah ruangan. Gadis itu lantas bergegas untuk mengambil kertas tersebut, melewati Rio yang masih tampak bingung.

“Kosong lagi?” tanya Devisha.

“Tidak, yang ini ada isinya. Lihat,” Nurul menunjukkan kertas tersebut pada Devisha.

Devisha mengernyitkan alisnya melihat isi kertas tersebut. Sebuah pesan singkat yang ditulis dalam bahasa inggris ;

IN 4 OUT 4​

“Apa maksudnya itu?” tanya Nurul pada Devisha.

“Biar kulihat,” Asri meminta Devisha agar menyerahkan kertas berisi petunjuk tersebut. Devisha menyerahkan kertas tersebut pada Asri. Asri membaca sekilas, membolak-balik kertas tersebut sebelum mnyerahkannya pada para pria.

“Empat di dalam empat di luar,” gumam Devisha setengah berbisik pada Nurul. “Ada empat lelaki di sini dan empat wanita. Kurasa itu ada hubungannya dengan petunjuk kali ini.”

“Jangan bilang kalau kita harus berhubungan badan dengan para lelaki itu,” timpal Nurul.

Devisha memandang heran ke arah Nurul. “Apa hubungannya dengan berhubungan badan?” tanya Devisha heran.

“Ya… kan bisa dikeluarkan di dalam atau di luar?” ujar Nurul dengan wajah tak bersalahnya.

Devisha menepuk keningnya sendiri.

“Sebaiknya kita letakkan barang di kamar masing-masing, sesuai dengan pembagian kamar yang diberikan,” Asri memberi ide.

“Semua kamar ada di lantai dua ya?, kita harus menaiki tangga setelah perjalanan dari dermaga yang cukup melelahkan itu. Bagus sekali,” Via berjalan malas menuju tangga.

“Letakkan saja karung-karung kalian di atas troli, biar kuantarkan ke dapur,” ujar Aryosh pada Enyas, Edi dan Rio.

“Kau tahu dimana dapurnya?” Edi bertanya pada Aryosh, kecurigaan tentang bagaimana Aryosh bisa mengetahui posisi dapur di mansion ini pada kunjungan pertamanya ke tempat ini.

“Tidak,” jawab Aryosh. “Tapi aku rasa tidak sulit mencarinya,” tambahnya sambil menunjuk ke sebuah pintu berwarna putih dengan tulisan ‘KITCHEN’ pada daun pintunya.

“Aku duluan,” Rio melangkah menuju tangga meninggalkan ruang lobby dan nyaris menabrak Aryosh yang tengah mendorong trolinya ke arah dapur. Enyas menatap gerak-gerik Rio yang terlihat aneh baginya.

“Ada apa dengannya?” gumam Enyas sambil berbalik menatap piano merah di dekatnya, mencoba mencari sesuatu yang janggal dari piano tersebut.

“Aku tidak akan dekat-dekat dengan Rio jika aku jadi kau, Enyas,” ujar Edi tiba-tiba.

“Kenapa?” Enyas bertanya.

“Rio itu homo, aku punya dasar mengatakan hal tersebut,” jawab Edi meyakinkan.

“Tidak… aku tidak percaya,” jawab Enyas sambil tersenyum mengejek.

“Oke, aku tanya padamu, apa menurutmu Via adalah gadis yang jelek?” Edi melontarkan sebuah pertanyaan.

“Tidak, Via.. cantik menurutku.”

“Seksi?”

Enyas tidak segera menjawab, ia mencoba menerka-nerka arah pertanyaan yang disampaikan oleh Edi. “Ya… dia seksi.”

“Kalau di depan matamu, Via sedang bersetubuh dengan seorang pria, keduanya sama-sama dalam keadaan telanjang bulat, dan sangat menggairahkan. Apa kau akan memalingkan wajahmu dan menolak melihatnya?”

“Tidak, tentu saja tidak. Aku akan menikmati apa yang kulihat.”

“See?” Edi tersenyum. “Semalam aku dan Rio melihat Via bersetubuh dengan Pak tua pemilik kapal, dan Rio malah memilih pergi.”

“Kau? Apa? Via dengan Pak Agil?” Enyas mengernyitkan alisnya, seolah tidak percaya dengan apa yang baru dikatakan oleh Edi.

Edi tersenyum dan mengeluarkan ponsel berkameranya. “Aku sempat mengambil beberapa foto,” ujarnya sambil menunjukkan foto-foto yang menunjukkan Via sedang berhubungan badan dengan Pak Agil.

“Oh shit…” gumam Enyas melihat foto-foto di layar ponsel Edi, tampak jelas di sana seorang pria berbadan tegap yang posturnya tampak seperti Pak tua Agil sedang menindih seorang gadis yang tak lain adalah Via. Wajah Via terlihat jelas di foto tersebut, bibir gadis itu setengah terbuka, matanya terpejam. Via terlihat sangat menikmati perlakuan Pak Agil atas tubuh telanjangnya.

“Aku tidak berbohong, Rio malah memilih pergi. Bukankah itu berarti dia seorang homosexual?” Edi menekankan hipotesanya kembali.

Enyas menggeleng dan tersenyum. “Kau tidak bisa menyimpulkan semudah itu, Detektif Edi,” timpal Enyas dengan nada yang sangat tenang. “Kita tidak tahu bagaimana Rio dibesarkan, bagaimana ia menerima ajaran atau pendidikan tentang moral. Dan lagi, dia adalah putra angkat Kapolri, bisa saja ia memutuskan pergi karena ia tidak ingin citranya jadi buruk atau tersangkut masalah nantinya.”

“Aryosh tidak setuju denganmu,” Edi balas menimpali. “Dia sependapat denganku.”

“Terserahlah, aku tidak ingin terlibat dengan hipotesamu itu,” Enyas menolak untuk berdebat. “Yang aku inginkan sekarang adalah kita bertiga, aku, kau dan Rio bekerja sama dalam menyelesaikan tugas ini.”

“Aku tidak akan bekerja sama dengan seorang homosexual,” Edi menolak permintaan Enyas mentah-mentah. “Lagipula bisa saja Rio bukan detektif!”

“Oh, itu tidak mungkin,” ujar Enyas sambil tersenyum. “Aku, Rio dan dirimu sudah pasti detektif. Begitu juga dengan Nurul.”

“Bagaimana kau bisa seyakin itu?” Edi tampak meragukan kebenaran dari apa yang baru saja diucapkan Enyas.

“Satu petunjuk mewakili satu huruf, ingat?” Enyas mendekat ke arah piano merah di tengah ruangan dan membuka penutup tuts piano yang berdebu. “Dan petunjuk pertama menunjukkan bahwa aku, kamu, Rio dan Nurul adalah detektif.”

“Berhenti berbelit-belit, Nyas. Katakan apa yang dimaksud dengan petunjuk pertama.” Edi mulai kehilangan kesabaran.

“Angka dua dan lambang komisaris polisi itu kuncinya,” Enyas meminta Edi mendekat dengan isyarat tangan. Edi bergerak mendekat.

“Apa sebutan lain bagi Kompol? Komisaris Polisi?” tanya Enyas.

“Hmm… sebutan lainnya… Mayor,” jawab Edi.

“Tepat!” Enyas membenarkan jawaban Edi. “Angka dua itu merujuk ke kata ‘Di’. Sama seperti yang digunakan pada istilah dikotil-monokotil.”

“Di dengan mayor… artinya?”

“Diatonis Mayor. Apa itu berarti sesuatu bagimu?” senyum di wajah Enyas semakin mengembang.

“Diatonis mayor, diatonis minor, itu semacam ada hubungannya dengan musik?” Edi tampak ragu dengan jawabannya.

“Nada dasar dalam sebuah titinada,” Enyas menyempurnakan jawaban Edi. “Tujuh lingkaran, sebagian terisi penuh dan dua diantaranya terisi setengah, persis dengan jumlah ketukan dalam sebuah titinada. Satu-satu-setengah-satu-satu-satu-setengah. Mengerti?” Enyas menunjuk ke arah tuts piano di hadapannya. “Tuts berwarna putih ini bernilai satu, dan tuts berwarna hitam di antaranya bernilai setengah. Nada dasar yang digunakan dalan diatonis mayor adalah C.”

“Dan satu lingkaran berwarna biru itu adalah yang huruf yang dimaksud, lingkaran keenam berwarna biru dan terisi penuh…” Edi mulai mencoba menganalisa. “C-D-E-F-G-A-B, petunjuk itu berarti huruf A!”

“Kau benar, detektif. Namamu, Rio dan Nurul tidak memiliki unsur A di dalamnya. Sudah jelas kalian adalah detektif kepolisian.”

“Cerdas sekali!” Edi tersenyum. “Tapi bagaimana denganmu? Namamu memiliki huruf A di dalamnya.”

Enyas tersenyum dan mengangkat kedua tangannya. “Kalau itu terserah kalian apakah kalian mau mempercayaiku atau tidak,” ujar Enyas.

“Bagaimana dengan petunjuk kedua dan ketiga? Kau sudah memecahkannya?” Edi menanyakan perihal petunjuk kedua yang berupa kertas kosong dan petunjuk ketiga yang bertuliskan ‘IN 4 OUT 4’.

“Aku belum tahu soal petunjuk kedua,” jawab Enyas. “Tapi kalau petunjuk ketiga, itu jauh lebih mudah dari petunjuk pertama. Masalahnya adalah…”

“Masalahnya adalah?” Edi mengulang ucapan Enyas.

“Petunjuk ketiga itu memiliki dua jawaban, dan aku tidak tahu yang mana jawaban yang benar,” jawab Enyas kemudian.

*_*_*​

Bersambung