Sin Island Part 4

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Tamat

Cerita Sex Dewasa Sin Island Part 4 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Sin Island Part 3

WELCOME TO PULAU DOSA

​Edi adalah orang terakhir yang memasuki ruang tengah kapal Noda Dosa pagi itu. Pemuda beramut ombak itu menggosok-gosok matanya sebelum mengambil piring yang telah disediakan di sudut ruangan.

Jadi kalian sudah melihat rekamannya? Aryosh yang baru saja menyelesaikan sarapannya bertanya kepada Enyas.

Kita sedang makan, Yosh, Asri memandang kesal ke arah Aryosh. Gadis itu merasa sedikit mual saat Aryosh menyebut tentang rekaman yang mereka terima di kamar masing-masing.

Ada gambaran, Nyas? Aryosh bertanya lagi, mengabaikan Asri yang melotot ke arahnya.

Masih samar, jawab Enyas sambil meletakkan sendok dan garpunya. Kita masih butuh banyak sekali petunjuk.

Setidaknya ada satu tugas yang mudah, kan? Nurul yang berada di meja lain ikut menanggapi pembicaraan. Yah, setidaknya aku sudah menyelesaikan tugas pertamaku, gadis itu terlihat bersemangat.

Dalam sekejap, seluruh mata yang ada dalam ruangan memandang ke arah Nurul, tak terkecuali Rio yang baru saja hendak membakar rokok di tangannya.

Lho? Kenapa? Nurul tampak bingung dengan sikap ketujuh rekannya.

Kau menyelesaikan tugas pertamamu? Enyas berpaling menghadap ke arah Nurul. Bagaimana bisa? tanyanya kemudian.

Lho? Tugas pertama kan sangat mudah? Nurul mengernyitkan alisnya, berusaha memahami keheranan yang muncul di wajah rekan-rekannya. Tugas pertama kan hanya menulis nama rekan-rekan sesama detektif? Tinggal menuliskan nama kalian semua, kan?.

Enyas tertawa mendengar jawaban Nurul yang tampak benar-benar polos. Aryosh menggeleng-gelengkan kepalanya, Asri, Via, Devisha dan Edi ikut menertawakan Nurul. Rio hanya tersenyum sinis sambil membakar rokoknya.

Kenapa tertawa? wajah cantik Nurul terlihat cemberut. Gadis itu tampaknya belum mengerti apa yang menyebabkan rekan-rekannya menertawakannya.

Ada berapa jumlah kita, Rul? kali ini Devisha yang bicara. Nurul melihat ke sekitarnya dan mulai menghitung satu-persatu.

Delapan termasuk aku, jawab Nurul kemudian.

Dan kau ingat apa yang diucapkan Kapolri Komang Mahendra di awal rekaman? Devisha bertanya sekali lagi. Nurul menggeleng.

Dan kami mengumpulkan kalian semua pada pelatihan ini, tujuh detektif muda kepolisian, Devisha mengulangi ucapan Komang Mahendra di awal rekaman.

Tujuh? Artinya? Nurul baru menyadari apa yang ia lewatkan.

Ya, ujar Enyas. Jumlah kita delapan orang, dan hanya ada tujuh diantara kita yang benar-benar Detektif. Artinya ada satu nama yang harusnya tidak kita tulis dalam tugas pertama kita.

Kita semua mengikuti uji seleksi bersama kan? Kecuali satu… Rio, Nurul memandang ke arah Rio yang tampaknya sudah menduga percakapan ini akan terjadi. Rio yang bukan detektif.

Belum tentu juga, Asri menanggapi, gadis itu tampak tidak setuju dengan hipotesa yang diambil oleh nurul. Dari kita bertujuh yang ikut dalam seleksi, hanya Enyas yang hasilnya jelas-jelas diumumkan bahwa ia lulus. Selebihnya, termasuk aku sendiri, menerima pemberitahuan itu lewat surat ke alamat masing-masing.

Berarti yang tidak memiliki surat adalah satu orang yang dimaksud, Nurul kembali melontarkan sebuah hipotesa.

Asri mengangkat kedua telapak tangannya, harusnya begitu, tapi jujur saja, aku tidak membawa suratku.

Aku juga, jawab Aryosh kemudian. Siapa yang sangka kita butuh surat itu,

Apa kalian pikir aku membawanya? Enyas menyatakan bahwa ia juga tidak membawa surat yang dimaksud. Devisha, Nurul, Via, Edi, apa kalian berempat membawa surat kalian?

Edi dan Via menggeleng, sedang Devisha dan Nurul mengangguk.

Jadi hanya kalian berdua yang membawanya. Ujar Enyas kemudian.

Tapi…. menurutku bagaimanapun Rio lah yang paling mencurigakan, Nurul terus berusaha memojokkan Rio.

Senyum sinis kembali muncul di sudut bibir Rio yang kini lebih memilih untuk menikmati rokoknya ketimbang menanggapi ucapan Nurul.

Oh, aku tidak akan mengambil kesimpulan secepat itu, Via menimpali. Aku sih akan melihat petunjuk yang akan diberikan dulu sebelum mengambil kesimpulan.

Petunjuk apa? Aryosh bertanya pada Via. Bagaimana kau bisa tahu kita akan dapat petunjuk?

Semalam aku bicara dengan Pak Agil, bukankah sebagai detektif kita harus pandai mencari informasi? jawab Via sebelum menenggak habis segelas air putih di hadapannya. Sesaat setelah Via menyelesaikan ucapannya, Rio dan Edi beradu pandang, saat ini hanya merekalah yang tahu apa yang dimaksud ‘bicara’ oleh Via. Rupanya Via sempat mengambil keuntungan dari apa yang ia lakukan semalam.

Pembicaraan mereka terhenti saat Pak Agil dan istrinya, Mila, memasuki ruang tengah. Mereka berdua membawa sebuah kotak kardus berukuran sedang dengan logo Tri Brata di keempat sisi kardus tersebut.

Oke, aku minta perhatiannya, ucap Pak Agil sambil menepukkan kedua tangannya. Perhatian kedelapan peserta pelatihan secara otomatis tertuju pada pria tua itu.

Pak Agil mengeluarkan sebuah VCD Player Portable seperti yang diterima para peserta di kamar mereka masing-masing. Setelah meletakkannya sedemikian rupa, Pak Agil menyalakan player tersebut. Kembali, logo Tri Brata muncul di layar, diikuti tampilnya Kapolri Komang Mahendra.

Selamat pagi, Detektif, sapa Kapolri Komang Mahendra sambil tersenyum. Aku rasa kalian semua sudah menangkap kesulitan yang aku berikan dalam tugas pertama kalian. Ya, satu dari kalian tidak termasuk detektif kepolisian. Menyenangkan bukan? Saat insting detektif kalian diminta untuk menerka-nerka siapa sebenarnya satu dari kalian yang bukan detektif?

Seisi ruangan tampak serius memperhatikan apa yang diucapkan oleh Komang Mahendra, kecuali satu orang, Rio tampak lebih memilih untuk menikmati rokoknya yang kini mengepulkan asap putih.

Tiga hari yang lalu aku beserta tim pergi ke Pulau Dosa untuk mempersiapkan semuanya. Memastikan bahwa unsur-unsur utama penunjang kehidupan seperti air dan listrik di pulau itu dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Dan pada kesempatan itu, kami menyebar petunjuk-petunjuk yang bisa kalian gunakan untuk menyelesaikan tugas pertama kalian, menemukan siapa diantara kalian yang bukan bagian dari kepolisian, Kapolri melanjutkan lagi ucapannya.

Rio mematikan rokoknya dan bergabung bersama yang lain, mencoba menangkap petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh Kapolri yang tak lain adalah ayah angkatnya sendiri.

Kami menyiapkan tujuh petunjuk yang ditulis di atas kertas berlogo Tri Brata seperti ini, Komang Mahendra menunjukkan sebuah kertas berukuran A4 dengan logo Tri Brata tercetak di atasnya. Masing-masing kertas mewakili satu huruf. Petunjuk pertama akan diberikan begitu saja kepada orang yang pertama kali naik ke atas kapal Noda Dosa, dan enam lainnya telah disebar ke seisi pulau. Kalian boleh bekerja sama, saling bertukar informasi, atau menyimpan sendiri petunjuk yang kalian temukan, itu semua terserah pada diri kalian masing-masing.

Kapolri Komang Mahendra menghentikan ucapannya untuk sejenak, sebelum menunjukkan sebuah kertas dengan gambar di atasnya, gambar itu terlihat semacam sebuah peta.

Masing-masing dari kalian akan menerima sebuah peta seperti ini, ucap Kapolri. Ini adalah peta Pulau Dosa. Kalian punya tiga hari sebelum kapal Noda Dosa kembali menjemput kalian. Manfaatkanlah waktu kalian sebaik-baiknya, kalian tidak boleh bertukar kamar. Dan sebagai catatan, kami tidak menempatkan petugas atau orang lain di pulau tersebut, kalian harus berusaha sendiri. Semoga sukses, Detektif.

Layar kembali menunjukkan lambang Tri Brata, sebelum benar-benar padam. Pak Agil membagikan lembaran kertas yang merupakan peta dari Pulau Dosa. Selesai membagikan peta tersebut, Pak Tua itu memanggil Rio dan menyerahkan secarik kertas berlambang Tri Brata dengan nomor ‘1’ tertera di punggung kertas tersebut.

Rio membuka lipatan kertas tersebut dan memperhatikan isinya, ada tujuh lingkaran tergambar berjajar di kertas tersebut, enam dari lingkaran itu berwarna merah, satu di antaranya berwarna biru. Dua lingkaran pertama dari kiri adalah lingkaran berwarna merah yang terisi penuh, lingkaran ketiga dan ketujuh masih berwarna merah namun hanya terisi setengah penuh. Lingkaran keempat dan kelima adalah lingkaran merah yang penuh, sama seperti lingkaran pertama dan kedua. Sedang lingkaran keenam adalah lingkaran penuh berwarna biru, satu-satunya lingkaran yang berwarna biru.

Rio memperhatikan gambar di bawah tujuh lingkaran tersebut. Tepat di bawah ketujuh lingkaran tersebut tergambar angka dua, diikuti gambar pangkat melati satu yang biasa digunakan oleh kepolisian. Rio mengenali lambang tersebut sebagai lambang yang digunakan untuk menandai pangkat Komisaris Polisi.

Semua mata saat ini memandang ke arah Rio yang sedang membaca apa yang tertulis di dalamnya. Seisi ruangan saat itu tampak sangat penasaran dengan petunjuk yang didapatkan oleh Rio. Seolah sadar dengan hal itu, Rio beranjak dari kursinya dan melangkah ke luar ruangan, setelah meletakkan kertas berisi petunjuk begitu saja. Senyum terkembang di wajah pemuda itu, senyum yang menunjukkan bahwa ia telah berhasil memecahkan sandi yang tertulis dalam petunjuk pertama.

Tepat setelah Rio meninggalkan kertasnya, Tujuh orang yang tersisa mendekat ke arah kertas tersebut untuk melihat apa isi dari petunjuk pertama. Beberapa menit kemudian, mereka tampak bingung, Enyas mengambil buku catatannya dan meggambar ulang gambar yang ada di petunjuk pertama. Detektif yang mendapat nilai tertinggi dalam uji seleksi itu lalu kembali ke bangkunya, mencoba memecahkan apa yang tertulis pada petunjuk pertama. Senyum yang hampir mirip dengan yang muncul di raut wajah Rio, tergambar di wajah Enyas beberapa menit kemudian.

Kau bisa? Enyas? tanya Edi yang jelas-jelas terlihat kesulitan memecahkan sandi tersebut.

Petunjuk itu masih belum menunjukkan apa-apa, jawab Enyas kemudian. Tapi setidaknya aku tahu apa yang ada di dalam petunjuk tersebut.

Beri aku petunjuk, Edi mendekat ke arah Enyas dan berbisik meminta bantuan.

Kau meminta petunjuk untuk memecahkan sebuah petunjuk? Enyas menyindirnya. Sekali-sekali tunjukkan kalau kau memang detektif, Detektif Edi.

Edi mendengus kesal, kau jadi semakin sombong, keluhnya. Sebentar lagi mungkin kau jadi sama sombongnya seperti anak emas itu.

Enyas hanya tersenyum menanggapi ucapan Edi.

*_*_*​

Cuaca cukup cerah saat kapal Noda Dosa merapat di dermaga Pulau Dosa. Via sibuk memperhatikan petanya, memperhatikan keterangan-keterangan tempat yang tertulis di atas peta tersebut.

Jadi kita harus jalan kaki ke penginapan? wajah Nurul tampak cemberut saat mengetahui jarak antara penginapan dengan dermaga yang terlihat cukup jauh.

Tidak sampai satu kilometer kok, jawab Pak Agil yang sedang sibuk menurunkan beberapa kotak kayu. Ganjar, putra Pak Agil mendorong sebuah trolli dan membantu Ayahnya mengangkat kotak-kotak kayu tersebut ke atas trolli. Nah, yang ada di dalam kotak ini adalah bahan makanan dan minuman untuk bekal kalian selama tiga hari di pulau ini. Sampai jumpa tiga hari lagi.

Rio menyapukan pandangannya ke sekitar, tampak seolah mencari sesuatu.

Ada apa? tanya Ganjar pada Rio.

Eh, aku mencari Nenekmu, katanya beliau akan tinggal di pulau ini juga bersama kami? Rio menjelaskan sosok Nenek yang ia cari.

Oh, Nenek sudah turun lebih dulu, jawab Ganjar. Jadi kakak yang semalam bertemu dengan Nenek? Nenek cerita tentang Kakak, kata beliau kakak orangnya sopan sekali.

Rio tersenyum mendengar apa yang diceritakan oleh Ganjar. Nenekmu orang yang ramah.

Ayo cowok-cowok yang membawa barang-barang ini, Asri berkata setengah berteriak, mencoba mengalahkan angin laut yang berhembus cukup kencang di dermaga.

Kenapa harus cowok? Edi protes. Bukankah sekarang jamannya emansipasi? Dimana kaum feminis yang mati-matian mengatakan cowok dan cewek itu sama saja?

Yee, itu kan dalam artian yang berbeda, Nurul mendukung Asri.

Dasar cewek, maunya yang enak-enak saja, giliran yang berat dikembalikan ke cowok, Edi meneruskan protesnya.

Heh, kalau kamu laki-laki, kamu akan lebih sedikit bicara, seperti Aryosh tuh, Via menunjuk ke arah Aryosh yang kini tengah mendorong trolli berisi kotak-kotak perbekalan mereka. Cowok kok banyak omong, Via sempat menyindir Edi sekali lagi.

Apa kamu bilang? Dasar pela…

Sudah, simpan saja tenagamu, detektif, Enyas menepuk pundak Edi. Bagaimana kalau membantu membawakan karung beras di belakang? Aku dan Rio membawa masing-masing satu, kalau kau membawa satu juga maka kita tidak perlu kembali ke dermaga sesampainya kita di penginapan.

Edi menoleh ke arah Rio yang kini memanggul sekarung beras dan berjalan mengikuti jalan setapak tanpa banyak bicara. Enyas juga saat ini tengah memanggul sekarung beras. Akhirnya Edi memutuskan untuk mengangkat sebuah karung yang tersisa.

Mereka berjalan beriringan mengikuti jalan setapak yang merupakan satu-satunya jalan menuju penginapan, mereka melewati pohon-pohon yang cukup rimbun dan asri, pemandangan di sepanjang perjalanan terlihat hijau dengan udara yang terasa cukup menyegarkan.

Hei, lihat itu, Asri yang berada paling depan menunjuk ke sebuah papan petunjuk yang ada di persimpangan jalan setapak. Sebuah kertas berlambang Tri Brata terpaku di papan petunjuk tersebut. Asri setengah berlari ke arah kertas tersebut dan dengan hati-hati menarik kertas itu lepas dari paku yang menancapnya.

Petunjuk lagi? tanya Devisha dan Nurul yang berlari menyusul Asri. Apa isinya?

Hmm… Asri membolak-balikkan kertas di tangannya, kertas itu hanya berlambang Tri Brata, tanpa ada sesuatu yang tertulis di dalamnya.

Kosong… ujar Asri bingung.

Apa yang kalian dapat? Aryosh menghentikan trollinya.

Asri memberikan kertas itu pada Devisha dan Nurul yang kini membolak-balikkan kertas tersebut, sesekali mengarahkan kertas itu ke langit, seolah berharap ada sesuatu yang muncul jika mereka mengarahkan kertas tersebut ke matahari.

Benar-benar kosong, gumam Devisha sambil menyodorkan kertas itu ke arah Enyas yang tampak berkeringat.

Simpan saja dulu, kita pecahkan di penginapan nanti, jawab Enyas.

*_*_*​

Bersambung