Sin Island Part 3

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Tamat

Cerita Sex Dewasa Sin Island Part 3 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Sin Island Part 2

MALAM PENUH DOSA

Via keluar dari kamarnya di tengah malam yang hening. Dia masih merasa cukup mual dengan apa yang baru saja dilihatnya dalam rekaman yang diberikan oleh kepolisian. Benar-benar sebuah pemandangan yang brutal dan menjijikkan. Gadis itu benar-benar tak habis pikir, bagaimana mungkin ada seseorang yang sebegitu keji dan tanpa perasaan.

Mencincang korbannya seperti sebuah mainan Lego yang bisa dibongkar-pasang dan digeletakkan begitu saja setelah bosan. Via menyusuri koridor kamarnya, melewati dua kamar di sebelahnya yang masing-masing dihuni oleh Edi dan Nurul. Gadis berambut sebahu itu menuruni tangga dan berbelok keluar, ke arah geladak kapal, gadis itu menghirup udara laut malam dalam-dalam sambil mengangkat kedua tangannya, membuat dadanya membusung membentuk siluet tubuh rampingnya.

Udara laut malam tidak baik untuk kesehatan, suara Pak Agil mengejutkan Via. Gadis itu menoleh ke samping kanan, dimana Pak tua Agil sedang duduk santai di atas sebuah matras yang di gelar di lantai sambil merokok. Tidak bisa tidur Non? tanya Pak tua itu santai.

Ya begitulah, jawab Via sambil memperhatikan penampilan Pak tua Agil malam itu. Penampilan Pak Agil saat itu memang sedikit berbeda. Pria empat puluh tahun itu hanya mengenakan celana boxer berwarna putih yang kumal dan bertelanjang dada, menampakkan tubuh tuanya yang masih terlihat tegap dan gagah.

Seketika itu muncul ide nakal di kepala Via, gadis itu memang suka menggoda pria, sejak SMU dia terkenal sebagai gadis cerdas yang liar. Dan kali ini fantasi tengah memenuhi kepalanya, fantasi yang makin kuat saat ia melihat tonjolan batang kejantanan Pak Agil yang cukup besar.

Via memandang pangkal paha Pak Agil cukup lama, menerka-nerka seberapa besar, panjang dan keras batang itu jika dalam keadaan ereksi. Sejak uji seleksi dimulai dua bulan yang lalu, dia memang belum berhubungan intim sekalipun. Uji seleksi detektif ini benar-benar telah menguras waktu dan perhatiannya.

Apalagi, selama ini Via hanya melayani pria-pria sebayanya, fantasi liarnya semakin diperkuat oleh rasa penasaran tentang bagaimana rasanya disetubuhi oleh pria yang lebih tua dua puluh tahunan darinya.

Bapak bisa berpikir aneh-aneh kalau Non terus melihat seperti itu ke celana Bapak, kata-kata Pak Agil mengejutkan Via, menyadarkan gadis itu dari lamunan liarnya. Tapi entah kenapa, kalimat yang diucapkan oleh Pak Agil justru terdengar seperti sebuah pancingan di telinga Via. Gadis itu buru-buru memalingkan pandangannya ke laut, mencoba menyembunyikan perang batin yang kini melandanya.

Via mengangkat dagunya, memandang ke atas langit yang bertabur bintang. Di antara bintang-bintang tersebut, bulan sabit bertengger dengan angkuhnya. Ini malam yang benar-benar indah dan romatis, sebuah malam yang cukup mendukung untuk sebuah persetubuhan di bawah langit lepas, desir gelombang laut akan menambah warna dari persetubuhan tersebut.

Via tidak lagi mampu berpikir jernih, dia dapat merasakan kewanitaannya terasa lembab dan ada sensasi ingin disentuh. Tidak butuh waktu lama bagi Via untuk kembali larut dalam fantasi liarnya; disetubuhi oleh Pria tua di tengah laut, di bawah naungan langit malam yang indah.

Non benar-benar cantik ya? tiba-tiba saja Pak Agil sudah berada di samping Via tanpa disadari oleh gadis berambut sebahu itu. Cewek-cewek muda jaman sekarang cantik-cantik, pujinya lagi.

Eeh… Bu Mila dimana ya Pak? Via bertanya, mencoba mencari pengalihan atas imajinasinya. Mencoba mengingatkan dirinya sendiri bahwa Pak Agil adalah suami dari seorang wanita.

Mila sudah tidur Non. Dia tidak boleh terlalu lelah, fisiknya sebenarnya lemah, Pak Agil menceritakan tentang keadaan istrinya. Bahkan untuk melayani birahi suamipun tidak bisa.

Via menoleh, sedikit terkejut dengan kata melayani birahi yang baru saja diucapkan oleh Pak Agil. Kata birahi saat ini dapat menimbulkan debaran sendiri dalam diri gadis tersebut.

Maksud Bapak? Bu Mila tidak bisa… Via menghentikan kata-katanya, mencoba menemukan kata yang tepat untuk menggantikan nafsu birahi.

Ya Non, Bapak tidak bisa ngentot Mila, berlawanan dengan Via yang mencoba berhati-hati memilih kata, Pak Agil malah dengan santainya mengucapkan kata ngentot. Kata itu membuat darah Via serasa berdesir.

Sudah lama sekali Bapak tidak ngentot, Pak Agil tampaknya dapat membaca gejolak di hati gadis muda di sampingnya yang kini pipinya tampak bersemu malu. Pria tua itu kini mencoba memanfaatkan situasi, tanpa mengalihkan pandangannya ke arah laut yang gelap, Pak Agil menggerakkan tangannya ke bagian bawah tubuhnya, mengelus batang kejantanannya sendiri dalam gerakan yang jelas memancing perhatian.

Gerakan Pak Agil membuat Via menoleh ke apa yang dilakukan tangan pria tua itu. Pak Agil mengelus-elus batang kejantanannya, membuat penisnya tercetak makin jelas di boxer kumal yang dikenakannya. Kini Via dapat melihat panjang batang kejantanan Pak Agil yang terlihat cukup besar dan menantang.

Gairah gadis muda itu makin terbakar, khayalan liarnya semakin berapi-api. Via mencoba untuk tetap menatap ke arah laut gelap tanpa mempedulikan apa yang dilakukan Pria tua di sebelahnya, namun ekor matanya sesekali masih menangkap gerakan-gerakan siku pria tua itu. Via mencoba memejamkan matanya, namun itu malah memperjelas fantasi liarnya tentang bagaimana nikmatnya persetubuhan liar di tengah laut lepas.

Eng! Via memekik kecil terkejut saat merasakan tangan Pak Agil merangkul pinggang mungilnya. Tidak berhenti disitu, tangan pria tua itu terus merayap ke kedua buah dadanya. Rupanya Pak Agil telah memanfaatkan momen saat Via sibuk dengan perang batinnya, antara menikmati atau mengendalikan fantasi liarnya.

Akal sehatnya memintanya untuk menghardik aksi kurang ajar yang dilakukan Pria empat puluh tahun ini kepadanya, namun remasan pria tua itu lembut bertenaga tanpa kesan terburu-buru, dan itu sungguh terasa nikmat! Lebih nikmat dari yang dibayangkannya.

Via memejamkan matanya saat Pak Agil meremas-remas dadanya dari belakang, gadis itu kini larut dalam gairahnya. Sekujur tubuhnya terasa lemas, hingga tanpa sadar punggung gadis itu kini tersandar di dada telanjang pria tua itu. Menyadari tidak adanya penolakan dari sang gadis, Pak Agil makin leluasa meremas-remas dada ranum gadis yang usianya jauh lebih muda darinya.

Telapak tangan pria tua itu meremas-remas pelan sembari memusatkan tenaga remasannya di bagian puncak buah dada yang masih terbungkus baby doll biru muda berbahan tipis itu.

Pria tua itu menginginkan lebih, dan dia tahu bahwa gadis muda yang saat ini dalam rengkuhannya juga menginginkan hal yang sama. Akal sehat Via masih bekerja saat Jemari tangan kanan Pak Agil menyentuh kancing depan babby doll-nya, pikirannya masih dalam kebimbangan saat jari-jari tua yang kasar itu melepaskan kancing-kancing itu dari lubangnya.

Gerakan dan remasan tangan kiri Pak Agil di dada kirinya masih terasa nikmat, dan birahi masih menguasai tubuh gadis muda itu. Via dapat merasakan jantungnya berdebar makin kencang saat satu-persatu kancing itu lolos tanpa perlawanan sedikitpun.

Ahh…sshh… desahan dan desisan keluar dari bibir mungil Via saat tangan kanan pria itu menyelusup masuk ke dalam bra-nya, menyentuh langsung kulit buah dada kirinya dan memberi rangsangan kuat melalui putingnya. Kancing baby doll yang dikenakannya memang hanya lima buah teratas, namun itu mampu memberi celah yang cukup bagi tangan kanan Pak Agil untuk menyusup masuk ke dalam, memberi rangsangan yang sangat kuat untuk dilawan. Badan Via bergetar sesekali saat Pak Agil menjepit putingnya dengan kedua jari dan memilin-milinnya pelan. Gadis itu semakin larut dalam api gairah liarnya.

Desahan Via semakin memburu, tubuhnya menggeliat-geliat kecil. Pria tua itu terbukti berpengalaman dalam memancing birahi lawan jenisnya. Tangan kiri Pak Agil yang bebas menggenggam lembut jemari kiri Via dan menuntun jemari lentik gadis itu ke batang kejantanannya yang masih terbalut boxer kumal. Sadar akan apa yang diinginkan oleh Pak Agil, Via mengelus lembut batang kejantanan pria tua itu dan mulai meremas-remasnya pelan.

Pak Agil cukup terkejut saat ia menemukan pengait bra gadis itu ternyata ada di depan, sebuah keuntungan yang tidak disia-siakan olehnya. Pak Agil menarik tangannya dari buah dada kiri Via untuk selanjutnya melepas kaitan bra yang dikenakan gadis muda itu.

Pria tua itu mengangkat ujung bawah baby doll yang dikenakan Via, mengangkatnya cukup tinggi hingga payudara gadis muda itu terbuka bebas. Selanjutnya dapat ditebak, pria tua itu menggunakan kedua tangannya untuk meremas dua bukit kembar gadis itu.

Pak Agil sungguh merasa beruntung malam ini, payudara Via yang berukuran 34B terasa kencang dan padat di tangannya. Via mendesah makin kencang merasakan remasan tangan kasar Pak Agil yang kini terasa makin bertenaga, menghantarkan kenikmatan yang juga semakin kuat, gadis itu bersandar pasrah, mulutnya terbuka kecil, matanya terpejam dan tubuhnya sesekali menggeliat.

Rangsangan itu semakin kuat saat Pak Agil mulai mengecup lehernya, helaan nafas pria tua di tengkuk Via membuatnya merinding. Via memalingkan wajahnya ke arah kiri kala Pak Agil mencium sebelah kanan leher dan tengkuknya.

Aaahh.. Pakk… Via tak kuasa untuk tidak menjerit saat tangan kanan pria tua itu dengan cepat turun dan menekan kewanitaannya yang masih terbalut celana tidur berbahan tipis. Nafas Via semakin memburu kala tangan kanan pria itu menyusup masuk ke celananya, terus menyusup ke dalam celana dalamnya dan menekan-nekan klitorisnya. Liang kewanitaan gadis muda itu memang sudah lembab dan basah. Tangan kiri Pak Agil mempercepat pilinannya di payudara kiri gadis itu, seiring dengan semakin cepatnya gerakan jari tengah tangan kanan pria tua itu menggesek-gesek klitorisnya.

Via membuka matanya, memalingkan wajahnya ke wajah Pak Agil dan dengan liar bergerak melumat bibir pria tua itu, tangan kiri Via semakin kencang meremas penis Pak Agil. Mereka berdua beradu mulut. Pengalaman seks pria tua itu semakin terbukti handal karena dia mampu berciuman dengan sangat panas tanpa menurunkan tempo gerakan jarinya, baik di puting payudara maupun di vagina gadis itu. Via makin blingsatan, desahannya teredam oleh ciumannya yang semakin ganas. Tiba-tiba Via melepaskan ciumannya.

Pakk… Akuhhh… Engghhhh!!! gadis itu melenguh setengah menjerit, badannya mengejan hebat sambil bersandar di tubuh Pak Agil. Pak Agil dapat merasakan adanya cairan yang keluar dalam jumlah cukup banyak membasahi jari kanannya yang berada di dalam celana dalam gadis muda itu. Via mengejan untuk beberapa kali sebelum kembali tersandar lemas. Matanya terpejam, nafas gadis itu memburu hebat, membuat dadanya yang membusung indah terlihat naik-turun.

Via masih merasa tubuhnya sangat lemas akibat orgasme hebat yang baru saja ia rasakan kala pria tua yang baru beberapa jam dikenalnya itu mendorong punggungnya ke arah pagar besi di tepi kapal. Via memegangi pagar besi yang cukup berkarat itu, mencoba menahan tubuhnya sendiri.

Dia dapat merasakan celananya ditarik turun bersamaan dengan celana dalamnya, angin laut terasa di bibir-bibir kewanitaan Via yang kini tak terhalang sehelai benangpun. Pak Agil mengangkat pinggang Via hingga sedikit terangkat, entah kapan pria tua itu menurunkan boxer kumalnya.

Yang jelas, kini Via dapat merasakan benda lunak, keras dan hangat di gerbang kewanitaannya. Gadis muda itu sadar bahwa tidak lama lagi, tubuhnya akan dimasuki oleh pria tua yang baru dikenalnya, sebuah pengalaman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Ngghh… tubuh Via sedikit terdorong saat penis Pak Agil memasuki liang kenikmatannya. Mereka melenguh bersamaan saat batang itu terus merangsek masuk ke dalam vaginanya. Mata Pak Agil terpejam saat ia merasakan betapa sempitnya vagina gadis muda itu. Sebuah pengalaman yang selama ini hanya bisa ia bayangkan, menyetubuhi gadis kota yang cantik dan muda.

Pak Agil tidak terburu-buru, ia mendiamkan batang kejantanannya sejenak di dalam vagina Via. Setelah diam untuk beberapa detik merasakan nikmatnya jepitan vagina gadis itu, barulah ia mulai menggerakkan pinggulnya, membuat rasa nikmat di penisnya menjadi semakin nikmat.

Genjotan penis pria tua itu terasa bertenaga dan dalam, Via mendesah setiap kali batang itu bergerak masuk ke dalam tubuhnya. Payudaranya berayun mengikuti pompaan pria tua yang kini tengah mencampurinya. Gadis itu merasakan nikmat yang tak terbantahkan, terasa berbeda dan lebih nikmat dari teman-teman pria yang pernah menyetubuhinya.

Enak Non, legit, puji pria tua itu di sela-sela lenguhannya sembari mempercepat gerakan pinggulnya.

Ahh… ssh… jangan di.. dalam ya Pakkh.. Ouuhh, ujar Via terbata-bata.

Tiba-tiba saja, Pak Agil menghentikan gerakannya, membenamkan penisnya dalam-dalam dan melangkah hingga tubuh mereka kini benar-benar menempel. Pria tua itu memegang bahu gadis cantik yang kini disetubuhinya erat-erat.

Tahan ya Non, Bapak genjot kencang-kencang, ujarnya memberi peringatan sebelum mulai memacu vagina gadis cantik itu kencang-kencang.

Via setengah menjerit setengah mendesah saat pria tua itu kini tanpa ampun menggempur vaginanya. Gerakan pria tua itu cepat dan bertenaga. Tubuh gadis itu kini terayun-ayun kencang, Via mempererat genggamannya pada pagar tepi agar tidak kehilangan keseimbangan.

Beberapa menit kemudian gadis itu menjerit dan mengejan, menandakan orgasme kedua yang didapatnya. Pria tua itu masih tidak berhenti, tidak juga mempedulikan Via yang tengah orgasme. Pak Agil tampak sedang mengejar kenikmatannya sendiri saat ini.

Benar saja, tidak lama kemudian giliran pria tua itu yang mendorong kencang, membenamkan penisnya dalam-dalam ke vagina sang dara, melenguh dan mengejan hebat. Sedang Via, ia terlalu lemas untuk bereaksi kala pria tua itu menyemprotkan benih-benih kelelakiannya ke dalam rahim sang gadis.

Dua insan berlainan jenis dan usia itu tampak bermandikan peluh, nafas keduanya memburu. Akal sehat gadis itu berangsur-angsur kembali. Setengah tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi, dimana akhirnya fantasi liarnya menjadi kenyataan. Dikemas dalam sebuah persetubuhan hebat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Yang tidak disadari oleh keduanya, dua pasang mata melihat apa yang baru saja mereka lakukan. Rio yang saat itu tengah menjelajahi isi kapal untuk mencari angin segar tanpa sengaja bertemu dengan Edi yang tengah mengintip aksi Via dan Pak Agil melalui tepi pintu kapal.

Saat menyadari keberadaan Rio, Edi memberinya isyarat untuk diam dengan jari telunjuknya dan memberi isyarat mata agar Rio melihat ke arah Via dan Pak Agil. Dan keduanya pun mendapat sebuah pertunjukan gratis yang liar di tengah malam yang mencekam.

*_*_*​

Rio beranjak dari samping Edi saat Pak Agil melucuti pakaian Via dan menuntunnya ke arah matras kumal yang terletak di lantai geladak kapal. Tampaknya pria tua itu belum puas dan ingin menyetubuhi gadis muda itu lagi. Via sendiri tampak pasrah.

Belum selesai lho, bisik Edi saat Rio bergegas pergi.

Terlalu banyak melihat hal seperti itu hanya akan membuatmu makin sulit tidur, jawab Rio dingin sambil melangkahkan kakinya kembali ke kamar, meninggalkan Edi yang memutuskan untuk menikmati pertunjukan tak berbayar di hadapannya.

Sepanjang langkahnya Rio tidak habis pikir, bagaimana bisa seorang gadis cantik, yang memiliki otak cukup cerdas seperti Via, seorang detektif kepolisian bisa dengan mudahnya dikalahkan oleh nafsu birahi. Malam itu adalah pengalaman pertamanya menyaksikan persetubuhan secara live. Bohong jika ia tidak terangsang atau tertarik dengan hal semacam itu. Seandainya tidak tertarik, tentu ia sudah pergi sedari tadi, bukannya malah ikut mengintip di samping Edi.

Rio sudah sampai di depan pintu kamarnya kala sekelebat bayangan lewat di ujung koridor. Gerakannya cepat, menimbulkan rasa penasaran dalam benaknya. Rio memicingkan matanya, mencoba untuk melihat lebih jelas, namun ujung koridor itu terlalu gelap. Akhirnya dia memutuskan untuk mengabaikan hal tersebut dan memutar kunci kamarnya. Saat itulah secara tiba-tiba hidungnya mencium aroma yang wangi, seperti aroma bunga sedap malam.

Tok…tok…tok…

Sebuah suara mengejutkan Rio, suara itu berasal dari kamar di ujung koridor. Saat itu, entah kenapa ia merasa bulu tengkuknya merinding, diikuti rasa takut yang segera ditepisnya. Rio bukanlah penakut yang mudah ditakuti. Dia bahkan tidak percaya dengan hal-hal yang berbau mistis. Segalanya pasti dapat dijelaskan dengan logika, itulah yang menjadi prinsip detektifnya.

Tok…tok…tok…

Suara itu terdengar lagi, tiga ketukan berirama. Rio memicingkan matanya sekali lagi sebelum akhirnya melangkah menuju ujung koridor yang gelap. Ada perasaan ganjil yang kini menyelimuti dirinya, sebuah perasaan yang aneh, rasanya kini ia dapat merasakan suhu udara di sekitarnya berubah menjadi dingin. Rio hanya tersenyum menertawakan dirinya sendiri yang mulai berpikir di luar logika. Udara yang dingin pastilah karena udara memang sedang dingin.

Langkah detektif muda itu berhenti tepat di ujung koridor yang gelap, di hadapan sebuah pintu kamar yang tidak memiliki nomor. Rio yakin benar bahwa kamar itu bukan tempat rekan-rekannya yang lain menginap. Semua kamar memiliki nomor. Bahkan kamar yang ditempati Pak tua Agil dan istrinya Mila pun memiliki nomor. Ruangan yang kini ada di depannya pastilah hanya sebuah kamar yang difungsikan sebagai sebuah gudang.

Tok…tok…tok…

Suara itu terdengar lebih jelas, kali ini Rio yakin suara itu berasal dari balik pintu di hadapannya. Rio mengetuk pintu itu empat kali.

Tok…tok…tok…tok

Tidak ada jawaban.

Permisi? Ada orang di sana? Rio bertanya cukup keras.

Masih tidak ada jawaban. Rio memegang kenop pintu ruangan tersebut, berhenti beberapa saat untuk mempertimbangkan apakah ia harus membuka pintu itu atau tidak. Bagaimanapun ini bukan kapal atau rumah miliknya, tidak seharusnya ia seenaknya membuka ruangan.

Tok…tok…tok…

Tiga ketukan itu terdengar lagi. Seolah meminta Rio untuk membuka pintu. Akhirnya Rio memutar kenop pintu dan perlahan membukanya.

Krieeett…

Pintu itu berderik saat Rio membukanya, Rio melihat sebuah ruangan yang gelap, ruangan itu terlihat seperti kamar tempatnya menginap. Sebuah ranjang dengan kain sprei berwarna putih, sebuah meja, sebuah kursi dan sebuah lemari. Sama seperti isi kamarnya.

Tok…tok…tok…

Suara itu terdengar lagi, rupanya berasal dari meja, Rio melihat seseorang sedang duduk di kursi tepat di depan meja. Rambutnya panjang, sosok itu memegang sesuatu di tangannya. Di atas meja di hadapan sosok tersebut ada sebuah papan kayu setebal kurang lebih empat sentimeter dan di atas papan tersebut ada empat tangkai bunga sedap malam berwarna putih. Ujung-ujung bunga tersebut tampak pipih seperti telah dihantam oleh sesuatu. Rio terkejut saat sosok itu menoleh ke arahnya.

Siapa? tanya sosok tersebut, dari suaranya Rio dapat mengenali sosok tersebut sebagai seorang wanita tua. Maaf aku tidak mendengarmu. Oh! Apakah kau menginap di kamar dekat sini? Apa aku sudah mengganggu tidurmu dengan pukulan-pukulanku?

Rio diam tak menjawab untuk beberapa saat, ia memicingkan matanya entah untuk keberapa kalinya, mencoba menangkap wujud dari sosok yang kini bicara padanya menggunakan suara wanita tua.

Oh, maaf, aku tidak begitu suka terang, sosok itu beranjak dari kursinya, dari bayang siluet yang ditangkap oleh mata Rio, sosok itu tampak sedikit bungkuk dan berjalan tertatih menuju ke samping lemari.

Klik!

Lampu ruangan itu berpendar perlahan, sempat menyala dan meredup beberapa kali sebelum akhirnya benar-benar menyala. Lampu ruangan itu tidak begitu terang, berbeda dengan lampu kamar atau lampu ruangan lain di kapal ini yang cukup terang.

Rio memandang ke sosok yang tadi bicara dengannya. Seorang wanita tua dengan rambut putih yang tergelung rapi tampak tersenyum padanya. Wanita itu mengenakan daster longgar berwarna biru yang bagian atasnya ditutup dengan rajutan sweater kumal berwarna putih.

Tamu ya? Maaf kalau aku mengganggu, biasanya tidak ada tamu yang mau menginap di koridor ini karena hanya ada satu kamar tamu di koridor ini, ujar wanita tua itu sambil tersenyum. Wanita itu cukup terlihat sehat untuk wanita seusianya, wajahnya terlihat ramah. Gurat-gurat kecantikan masa muda masih dapat terlihat samar dibalik wajah keriputnya. Aku tidak tahu kalau kali ini Agil menyewakan kamar di koridor ini juga. Sekali lagi maafkan aku.

Saya yang minta maaf telah seenaknya membuka kamar Nenek, ujar Rio dengan sopan. Kali ini Rio merasa telah melakukan hal yang benar-benar tidak sopan. Seenaknya masuk ke kamar seseorang merupakan pelanggaran privasi yang serius. Bisa saja Nenek ini menghardiknya, Rio bersyukur wanita tua itu tampak sangat ramah.

Nenek… Ibu dari Pak Agil? tanya Rio kemudian.

Ibu tiri, wanita tua itu tersenyum menjelaskan. Aku sedang membuat wewangian dari bunga sedap malam. Tahukah bahwa bunga sedap malam ini akan lebih wangi jika kau memipihkannya seperti ini? Wanita tua itu mengangkat cobek kayu yang dipegangnya dan menghantamkannya tiga kali ke bunga sedap malam di atas meja.

Tok…tok…tok…

Rio tersenyum menyadari bahwa bunyi ketukan yang didengarnya itu ternyata berasal dari pukulan nenek tua tersebut. Dia semakin tersenyum saat mengingat bahwa beberapa menit yang lalu ia sempat berpikir di luar logika tentang asal suara tersebut.

Baiklah Nek, saya akan kembali ke kamar saya, Rio undur diri, masih dengan nada yang sangat sopan.

Oh baiklah ujar nenek itu kemudian. Sebelum itu, nenek ingin bertanya, kenapa kalian ingin pergi ke pulau Dosa? Itu bukan tempat yang bagus untuk liburan.

Oh, kami ini detektif kepolisian Nek, kami sedang mengadakan pelatihan di pulau itu, jawab Rio sambil tersenyum.

Oh begitu, kalau begitu kita akan bersama-sama di pulau itu selama beberapa hari, ujar Nenek itu kemudian. Mampirlah ke pondokku di dekat dermaga jika butuh sesuatu, Anak muda.

Setahu saya, kepolisian telah menyiapkan semuanya, Nek. Dan lagi, kapal ini akan langsung pergi setelah mengantarkan kami. Apa Nenek akan tinggal di pulau itu bersama Ganjar? Cucu nenek?

Nenek itu menggeleng seraya tersenyum lemah. Agil tidak akan mengijinkan Ganjar tinggal denganku di pulau itu, jawab Nenek itu lembut. Lagipula aku terbiasa sendiri di pulau itu. Kebun bunga di halaman belakang rumahku perlu disirami.

Rio membalas senyuman lembut orang tua itu, senyuman nenek itu terasa menyenangkan, ada rasa damai di setiap tutur lembut sang Nenek. Rio undur diri sekali lagi sebelum menutup pintu kamar dan kembali ke kamarnya sendiri.

*_*_*​

Bersambung