Sin Island Part 2

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11

Cerita Sex Dewasa Sin Island Part 2 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Sin Island Part 1

DI ATAS NODA DOSA

Tiga meja kayu berbentuk bundar tertata rapi membentuk segitiga dengan jarak sekitar dua meter dari masing-masing meja. Sebuah meja panjang berisi beberapa hidangan yang tersaji rapi berada di satu sudut ruangan. Disamping meja hidangan tersebut, sebuah lemari tua berbahan kayu jati setinggi satu meter menjadi tumpuan televisi empat belas inchi yang tidak menyala. Televisi itu sempat menyala, namun tidak ada gelombang siaran yang bisa diterima oleh televisi tersebut.

Asri, Enyas, Aryosh dan Edi berada di satu meja makan. Tampak asyik menyantap hidangan laut yang disajikan oleh Mila, istri Agil sang pemilik kapal. Meja di samping mereka diisi oleh Nurul, Devisha dan Via yang sibuk membicarakan pengalaman mereka saat pertama kali naik ke kapal ini. Sepertinya ini adalah pertama kalinya mereka naik kapal.

Meja bundar ketiga diisi oleh Rio seorang, entah kenapa tidak ada seorangpun yang mau berbagi meja dengannya. Mungkin karena yang lain belum mengenal Rio secara resmi, Rio sendiri tampak acuh, seolah tidak memiliki keinginan mengenal anggota detektif muda yang lainnya.

Rio baru saja menghabiskan makan malamnya dan hendak menyulut sebatang rokok saat Via pindah ke mejanya.

Jadi namamu Rio? tanya Via sambil tersenyum.

Rio hanya mengangguk pelan, menyimpan kembali rokoknya ke tempatnya. Kau?

Kau tidak membaca berkas tentangnya? tiba-tiba saja Enyas berpindah meja dan bergabung bersama Rio dan Via.

Hanya berkas tentangmu yang masuk dan tersimpan di meja Kapolri, jawab Rio sambil mengambil gelas berisi air putih dan meminum habis isinya. Aku tidak mengenal yang lain.

Hoo kalau begitu kau harus berkenalan dengan yang lain, Enyas berkata sembari beranjak dari kursinya. Semuanya, ada yang ingin memperkenalkan diri, ujar Enyas seraya menepukkan tangannya. Rio silahkan… tambahnya lagi.

Rio tersenyum kecut, raut wajahnya terlihat malas-malasan saat ia berdiri dan mulai memperkenalkan dirinya.

Perkenalkan, namaku Rio. Baru bergabung sebagai detektif melalui jalur khusus, ujar Rio tanpa memandang mata-mata yang kini berpusat padanya.

Oke Rio, yang di depanmu adalah Via, Enyas mulai memperkenalkan yang lain pada Rio. Via beranjak dari kursinya dan menyodorkan tangannya untuk berjabatan.

Rio, ucap Rio sambil menjabat tangan halus Via.

Via, gadis itu menjawab dengan nada yang dibuat secentil mungkin, Devisha melengos melihat sikap Via, tampaknya ia menganggap sikap Via terlalu berlebihan.

Aku rasa kau harus bersalaman dengan semuanya, Rio. Bukankah begitu cara orang Indonesia berkenalan? Enyas tersenyum, senyum yang terlihat cukup menyebalkan di mata Rio.

Rio berjalan mendekat ke arah Aryosh, Edi dan Asri untuk berjabatan, setelah itu dia melanjutkan ke Devisha dan Nurul.

Oke, berarti sekarang kita sudah saling kenal, semoga kita semua bisa kompak dalam pelatihan kali ini, Enyas tersenyum lebar.

Kau putra dari Kapolri? Asri bertanya ketus tanpa memandang wajah Rio.

Anak angkat tepatnya. Kapolri mengadopsiku, Rio menjelaskan.

Oh, kami tahu apa yang dimaksud dengan anak angkat, Aryosh menyindir dengan suara beratnya. Rio mencoba untuk tidak menanggapi apa sindiran tersebut.

Suasana hening sejenak, sebuah suasana yang tidak mengenakkan kini memenuhi ruang tengah kapal. Seolah datang untuk mengakhiri suasana yang akward, Agil dan istrinya, Mila, masuk sambil membawa sebuah kotak dengan gambar Tri Brata berwarna emas di empat sisi kotak tersebut.

Maaf mengganggu waktu santai kalian, tapi ini saatnya membagi kamar. Kepolisian telah menetapkan kamar-kamar kalian di kapal ini. Aku akan memanggil nama dan meminta kalian maju untuk menerima kunci kamar kalian, ujar Agil.

Memangnya ada berapa kamar di kapal ini? tanya Via.

Empat belas kamar termasuk kamar tidurku, Anakku dan kamar Ibuku, jawab Agil. Oke, kita mulai dari Enyas.

Enyas maju untuk menerima kunci kamarnya. Dia melihat ke gantungan kunci berbahan logam yang menunjukkan nomor 1 sebagai nomor kamarnya. Agil memanggil nama mereka satu-persatu hingga kunci kamar selesai dibagikan.

Oke, kita akan tiba di tempat tujuan sekitar pukul sembilan pagi, aku harap kalian bisa beristirahat di antara ayunan ombak yang cukup memabukkan malam ini. Dan satu lagi… kepolisian telah menyiapkan sesuatu di masing-masing kamar kalian. Aku sendiri tidak tahu isinya apa, Agil menjelaskan sebelum pergi meninggalkan ruang tengah kapal. Rio beranjak menuju kamarnya tidak lama kemudian, diikuti dengan detektif-detektif yang lain.

*_*_*​

Rio duduk di tepi ranjang kamarnya yang terasa bergoyang mengikuti ombak lautan. Kertas sampul berwarna coklat dengan lambang Tri Brata, lambang yang digunakan oleh kepolisian berserakan di lantai kamarnya. Isi dari bingkisan itu, sebuah VCD Player Portable dengan layar berukuran sepuluh inchi kini ada di pangkuannya. Jari telunjuk Rio menekan tombol ON dan alat itupun menyala.

Lambang Tri Brata muncul di layar, diikuti dengan sosok yang dikenal olehnya -ayah angkatnya sendiri yang menjabat sebagai Kapolri- Komang Mahendra, muncul dengan senyum di wajahnya.

Sebelumnya aku harus mengucapkan selamat bergabung dengan kepolisian kepada kalian semua, Komang Mahendra memulai ucapannya. Dan kami mengumpulkan kalian semua pada pelatihan ini, tujuh detektif muda kami, untuk melakukan analisa singkat kalian terhadap kasus pembunuhan tingkat satu yang terjadi lima tahun yang lalu di sebuah pulau yang kami sebut sebagai Pulau Dosa.

Rio mengambil sebuah buku saku dan pena dari tas ranselnya dan mulai menuliskan sesuatu.

Lima tahun lalu, Divisi Khusus Kejahatan Tak Terpecahkan yang dipimpin oleh Inspektur Ipus mendapatkan kasus besar yang cukup menarik untuk dijadikan bahan pelajaran kalian.

Layar sepuluh inchi menampilkan foto sebuah ruangan, salah satu dinding ruangan itu penuh dengan noda darah. Satu hal yang menarik perhatian Rio adalah benda yang teronggok di atas lantai ruangan tersebut, sebuah tangan kanan yang berlumuran darah.

Seorang pengunjung pulau itu menemukan seonggok tangan di kamar yang disewanya. Dari sinilah kasus besar itu dimulai.

Layar berganti, menampilkan foto kaki kiri yang berlumuran darah di semak-semak.

Keesokan harinya seonggok kaki ditemukan di semak-semak tepat di belakang penginapan. Selang sehari setelah kaki tersebut ditemukan, Inspektur Ipus beserta tim dari kepolisian tiba di lokasi. Mereka tiba pukul sembilan pagi, dan pukul empat sore hari itu juga, potongan tangan kiri ditemukan di dalam kamar tempat potongan tangan kanan ditemukan. Ya… potongan tangan itu seolah muncul begitu saja di ruangan yang terkunci rapat.

Rio menekan tombol pause untuk memperhatikan dengan seksama foto-foto yang ditampilkan pada rekaman tersebut. Dari bentuk jari dan potongan kaki, Rio menyimpulkan bahwa korban adalah wanita. Setelah menambahkan beberapa catatan di buku sakunya, Rio melanjutkan rekaman tersebut.

Insting detektifnya merasa tertantang dengan ketidakmungkinan yang baru saja disampaikan ayah angkatnya; potongan tangan itu seolah muncul begitu saja di ruangan yang terkunci rapat. Merasa cukup, Rio menekan kembali tombol play.

Esok harinya sesuatu yang lebih gila terjadi. Potongan Tubuh yang masih tersambung dengan kaki kanan ditemukan di dasar kolam renang di belakang penginapan. Tidak jauh dari lokasi penemuan potongan kaki kiri. Inspektur Ipus meminta agar semua pengunjung tidak meninggalkan kamar dan beliau memimpin tim untuk menyusuri sekitar penginapan. Empat jam kemudian mereka menemukan kantung plastik hitam yang digantungkan di dekat dermaga. Kantung itu berisi kepala korban, dengan hidung, mata, telinga dan gigi yang sudah diurai terpisah.

Seketika perut Rio terasa mual kala layar menunjukkan isi kantung plastik yang ditemukan oleh Inspektur Ipus dan kawan-kawan. Sebuah pemandangan yang sangat sadis, menjijikkan dan memuakkan. Bagaimana bisa seseorang mencincang orang lain seperti itu, membongkar-bongkar bagian tubuh orang lain seperti sebuah mainan bermerek LEGO.

Layar berganti, kali ini menampilkan foto tujuh orang wanita, empat diantaranya adalah warga negara asing.

Dan itu belum semua… Kapolri Komang Mahendra melanjutkan. Sekembalinya tim yang dipimpin Inspektur Ipus, Tujuh orang wanita pengunjung pulau yang seharusnya ada di kamar mereka masing-masing dinyatakan hilang. Hilang seperti menguap begitu saja.

Rio terkesima, dia telah membaca banyak cerita misteri, menonton banyak sekali film tentang detektif atau beberapa berkas kasus rumit yang sempat dibawa pulang oleh Ayah angkatnya, namun apa yang disimaknya dari rekaman kali ini jauh lebih mengejutkan. Darahnya terasa bergejolak, otaknya kini dipenuhi oleh rasa ingin tahu dan mulai memikirkan kemungkinan-kemungkinan tentang apa yang sebenarnya terjadi di Pulau Dosa lima tahun yang lalu.

Inspektur Ipus mengerahkan seluruh timnya menyusuri pulau guna menemukan tujuh wanita yang hilang namun tidak menghasilkan apa-apa. Keesokan paginya, kami seolah mendapatkan tamparan keras dengan ditemukannya puluhan kantung plastik hitam yang berisi potongan-potongan tubuh para wanita tersebut di kamar-kamar yang disewa oleh para wanita itu.

Isinya bercampur antara potongan tubuh satu wanita dengan wanita yang lain. Inspektur Ipus berusaha mengidentifikasi potongan-potongan tubuh itu secepat yang ia bisa. Sebuah langkah yang tidak percuma, dari identifikasi tersebut Inspektur Ipus mendapat kesimpulan bahwa mereka menemukan enam mayat dari tujuh wanita yang hilang.

Layar berganti menampilkan foto seorang wanita berambut hitam pendek. Wanita itu tampak seperti gadis berusia remaja.

Laily, gadis delapan belas tahun asal Sumatra Barat belum ditemukan. Inspektur memeriksa seluruh ruangan yang ada di penginapan, aku tidak bisa menceritakan bagaimana Inspektur Ipus berhasil menemukan gadis itu terikat di sebuah ruangan tanpa busana, itu adalah salah satu tugas kalian untuk mengungkap bagaimana Inspektur Ipus berhasil menemukan wanita itu.

Layar kembali berubah, menampilkan foto seorang pria tua berbadan kurus, kulit pria itu terlihat hitam gelap.

Inspektur Ipus berhasil mendapatkan informasi dari Laily, gadis itu memberitahu siapa yang menculiknya dan melakukan pembantaian massal tersebut. Adalah Suherman, pria berusia lima puluh dua tahun, penduduk asli pulau yang bekerja sebagai tukang kebun pulau tersebut adalah pelakunya.

Inspektur Ipus dan timnya segera bergerak untuk menangkap pelaku. Sayang sekali mereka kalah cepat, Suherman telah lebih dulu mengakhiri hidupnya dengan gantung diri di dalam rumahnya yang terkunci rapat.

Layar kembali menampilkan Kapolri Komang Mahendra.

Kasus itu telah terpecahkan, namun tetap menjadi satu dari sekian kasus paling menarik yang diselesaikan oleh Divisi Khusus Kejahatan tak Terpecahkan. Kasus itu dapat menjadi pembelajaran yang baik bagi kalian semua, para detektif muda. Sekarang, kami memberikan tiga tugas yang harus kalian sajikan sebagai laporan hasil pelatihan pada kami, Kapolri Komang Mahendra menghentikan ucapannya sejenak.

Pertama, kalian harus menuliskan nama-nama rekan kalian sesama detektif yang ikut dalam pelatihan kali ini. Kedua, kalian akan menuliskan bagaimana caranya Inspektur Ipus dapat menemukan Laily berdasarkan hasil pengamatan dan analisa kalian selama tiga hari di pulau tersebut. Dan ketiga, kalian harus menyerahkan foto-foto ruangan tempat Laily disekap, pria yang menjabat sebagai Kapolri itu menjelaskan tugas yang harus dikerjakan oleh para detektif muda dalam pelatihan kali ini.

Selama tiga hari kalian akan berada di pulau tersebut, semua bekal makanan akan diberikan oleh Agil, pemilik kapal Noda Dosa ini saat kalian tiba di pulau itu nanti. Kapal ini akan meninggalkan kalian di tempat resort berdarah yang indah itu dan baru akan kembali tiga hari kemudian.

Selama itu, kalian harus bisa menjaga diri kalian sendiri sebagai seorang detektif yang dapat diandalkan. Dan dalam pelatihan kali ini, kalian diperbolehkan bekerja secara kelompok. Namun, kalian tidak diperbolehkan bertukar kamar, kamar-kamar kalian, baik di atas Noda Dosa atau di Pulau Dosa nanti telah ditentukan, pelanggaran terhadap peraturan ini bersifat permanen. Jadi… semoga sukses dan nikmati pelatihan sekaligus liburan kalian ini. Sampai jumpa lagi di Kantor pusat kepolisian, Detektif.

Rekaman berakhir tepat setelah Kapolri Komang Mahendra menyebut kata Detektif. Rio mengamati catatannya untuk beberapa saat, sebelum memutuskan untuk memutar kembali rekaman tersebut, memastikan ia tidak melewatkan satupun petunjuk penting.

*_*_*​

Bersambung