Sin Island Part 11

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Tamat

Cerita Sex Dewasa Sin Island Part 11 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Sin Island Part 10

THE LABYRINTH

Rio beranjak menjauh dari piano kala ia merasakan lantai dibawahnya bergetar hebat. Perhatian Enyas teralih ke arah piano merah yang tampak bergetar untuk beberapa detik. Tidak satupun dari mereka berlima menduga apa yang terjadi kemudian. Mereka hanya bisa memandang takjub saat piano dan lantai di bawahnya bergeser, sebuah lubang seukuran pintu terbuka menganga menggantikan piano yang kini telah bergeser.

Ruang rahasia? Via tampak heran dengan apa yang terjadi di depan matanya. Wajar saja, ruang rahasia bukanlah hal yang lumrah di sebuah bangunan biasa. Apalagi ruang tersebut terbuka dengan memainkan sebuah kombinasi nada di piano di atas ruangan tersebut.

Kau membawa sentermu, Asri? Rio bertanya.

Asri memberikan senter yang tergantung di ikat pinggangnya dan memberikannya ke arah Rio. Rio menyalakan senter tersebut dan menyorot ke lubang yang gelap tersebut. Tampak sebuah tangga turun terbuat dari beton di dalam lubang tersebut. Rio melangkah mendekati lubang tersebut.

Kau akan masuk? Enyas tampak ragu, ia melihat sekelilingnya, memandang wanita-wanita bergaun putih yang kini bergerak menjauh dari lubang, seringai menyeramkan tampak di wajah hantu-hantu wanita tersebut.

Hihihi…. tawa melengking wanita-wanita bergaun putih itu terdengar mengiang di seisi ruangan, menggema dari dinding-dinding ruangan. Enyas tahu, dialah satu-satunya orang dalam ruangan itu yang mendengar tawa melengking yang terasa seolah mengelus-elus tengkuknya.

Ada apa Enyas? tanya Rio yang menangkap keraguan di wajah Enyas. Bukankah jelas kalau kita harus masuk, mungkin di bawah situ adalah tempat Laily ditmukan.

Tidak apa-apa, Enyas menggeleng. Mereka menjauh sambil tertawa, dan itu mengerikan.

Via, Asri dan Aryosh saling berpandangan satu sama lain, menunjukkan ketidakmengertian mereka atas pembicaraan Enyas dan Rio.

Apa yang kalian bicarakan? Siapa yang kalian sebut sebagai mereka? Asri bertanya pada Enyas dan Rio.

Bukan apa-apa, Enyas menjawab. Abaikan saja apa yang kami katakan.

Raut kecurigaan muncul di wajah Asri akibat jawaban Enyas. Hanya satu dari kalian yang bukan detektif, kan?

Oh, ayolah Asri, Rio menimpali. Haruskah kita bicarakan hal ini sekarang?

Ini semua sungguh aneh! tanpa diduga Via angkat bicara. Nurul hilang, Devisha belum kembali, kalian bilang seseorang meracuni Edi dan sekarang ruang rahasia di bawah piano. Apa yang sebenarnya terjadi?! Siapa yang bertanggung jawab atas semua ini??

Kau mau jawabannya? Rio memandang lekat-lekat ke arah Via. Kurasa sesuatu di bawah sana dapat memberi kita jawaban, Rio berkata seraya menyorot ke ruang rahasia yang baru saja terbuka.

Oh, aku tidak akan masuk ke sana bersamamu atau bersama Aryosh, Asri menimpali. Gadis berkulit eksotis itu merogoh ke dalam sakunya dan mengeluarkan secarik kertas berlambang Tri Brata yang tadi dipungutnya setelah kertas itu jatuh dari saku Edi. Asri menunjukkan apa yang tertulis di atas kertas tersebut.

Sang pemberi tak dapat menerima
​Kalian paham apa yang dimaksud dengan petunjuk ini? Asri bertanya ke arah Enyas, Rio, Aryosh dan Via. Yang dimaksud sebagai pemberi adalah donor. Donor yang hanya bisa memberi tapi tidak bisa menerima dari golongan lain.

Donor universal, gumam Via. Golongan darah O, tambahnya kemudian.

Tepat sekali, Via, Asri melanjutkan kalimatnya. Siapapun dari kita yang bukan detektif, dan kemungkinan besar adalah pelaku dibalik semua keanehan ini adalah orang yang memiliki huruf O pada namanya.

Hanya ada dua orang diantara kita yang memiliki huruf O pada namanya. Rio dan kau Aryosh, Via melengkapi hipotesa yang disampaikan oleh Asri.

Mungkin itu bisa membantumu, Enyas menunjuk ke arah secarik kertas berlambang Tri Brata yang tergeletak di atas lantai di bawah piano merah.

Via bergegas mengambil kertas tersebut, dia menemukan bekas double tape yang menempel di punggung kertas. Rupanya selama ini kertas petunjuk itu menempel di bagian bawah piano dan jatuh akibat pergeseran lantai piano.

The Catapult, ujar Via membaca apa yang tertulis. Enyas dan Rio tersenyum mendengarnya.

Tujuh petunjuk telah lengkap, ujar Enyas sambil tersenyum. Petunjuk pertama merujuk ke tangga nada diatonis mayor yang menunjukkan lingkaran biru pada sandi tersebut. Huruf A.

Menunjukkan bahwa aku dan Edi bukanlah yang dimaksud, ujar Rio. Petunjuk kedua adalah kosong, Rio menjelaskan maksud dari petunjuk kedua yang mereka temukan tertempel di papan penunjuk arah pada perjalanan mereka dari dermaga menuju mansion. Tidak ada arti dari petunjuk tersebut.

Tidak ada arti? Via tampak bingung.

Tujuh petunjuk mewakili tujuh huruf yang merupakan nama dari orang yang bukan detektif diantara kita, Rio menjelaskan. Satu petunjuk kosong menandakan bahwa ada satu huruf yang hilang. Ya, orang yang dimaksud oleh petunjuk-petunjuk tersebut hanya memiliki enam huruf dalam namanya.

Itu menunjukkan bahwa Devisha yang memiliki tujuh huruf bisa kita abaikan, Enyas menimpali. Petunjuk ketiga IN 4 OUT 4 dan petunjuk kelima OUT 4 IN 4 adalah petunjuk yang memiliki satu jawaban yang sama, Enyas kembali menerangkan. Analogimu saat menyebut angka empat itu adalah kita itu sudah benar. IN dan OUT mengacu pada INSIDE dan OUTSIDE. Huruf yang dimaksud dalam dua petunjuk tersebut ada di dalam empat orang di antara kita dan diluar atau tidak ada di dalam nama empat orang yang lainnya.

Asri tampak serius menyimak penjelasan yang disampaikan oleh Enyas. Aku tahu! gadis berkulit eksotis itu berseru. Huruf R, hanya Rio, Aryosh, Nurul dan aku yang memiliki huruf R pada namanya.

Ada satu huruf lagi, Via menyahut. Huruf S. Devisha, Asri, Enyas dan Aryosh. Hanya empat orang itu yang memilikinya.

Ya, dari empat petunjuk itupun kita seharusnya sudah mengerti siapa di antara kita yang namanya terdiri dari enam huruf dan mengandung huruf A, R, dan S, Rio menimpali.

Asri, Via melempar pandangan curiga ke arah Asri. Asri membalas pandangan Via dengan tatapan yang seolah berkata; yang benar saja!.

Aku juga sempat berpikir Asri orangnya, ujar Rio kalem. Tapi petunjuk kelima membantahnya. Empat baris rumus X itu terang-terangan menunjuk ke huruf H. Ditambah petunjuk yang jatuh dari saku celana Edi yang menunjuk donor universal atau huruf O.

Dan petunjuk terakhir kita, The Catapult. Seandainya petunjuk di bawah meja ditemukan lebih dulu, maka kita tidak memerlukan enam petunjuk lainnya, Enyas berkata sambil tersenyum.

Ya, petunjuk yang baru saja kita temukan itu adalah petunjuk kunci dari semua petunjuk yang ada. Hanya ada satu orang diantara kita berdelapan yang memiliki huruf tersebut pada namanya, Rio menimpali.

Apa maksud dari petunjuk terakhir? The Catapult?? Via dan Asri bertanya nyaris bersamaan.

Katapel, jawab Enyas. Jangan berpikit mesin catapult yang digunakan pada perang-perang jaman kerajaan. Berpikirlah tentang senjata katapel kecil yang biasa dimainkan anak-anak.

Huruf Y, ujar Asri. Katapel berbentuk menyerupai huruf Y.

Seketika itu Rio, Enyas, Asri dan Via menoleh ke arah Aryosh, satu-satunya selain Enyas yang memiliki huruf Y pada namanya. Jika kelulusan Enyas adalah sesuatu yang telah diumumkan secara nasional, maka jelas bahwa Aryosh lah satu-satunya yang tersisa. Aryosh memejamkan matanya dan tersenyum.

Ya, ucap pria berbadan besar yang sempat menyatakan dirinya sebagai gay itu. Aku bukan detektif. Aku tidak lolos dalam uji seleksi yang kita lalui bersama, Enyas, Via, Asri. Setelah uji seleksi tersebut kepolisian mengirimiku surat. Aku sangat senang saat menerima surat itu. Kupikir itu adalah surat yang menyatakan kelulusanku. Tapi ternyata aku salah, Aryosh menggeleng-geleng. Surat itu menyatakan kegagalanku sekaligus memintaku untuk ambil bagian dalam pelatihan ini. Mereka membayarku untuk ikut dalam pelatihan dengan berpura-pura sebagai bagian dari kalian, detektif-detektif yang lulus uji seleksi.

Jadi kau tahu soal semua keanehan ini? Asri bertanya pada Aryosh.

Mereka memberitahuku jawaban dari sandi-sandi yang digunakan. Baik sandi pertama kita saat mencari nama kapal, hingga tujuh petunjuk yang disebar di pulau Dosa ini. Tapi mereka tidak memberitahuku dimana lokasi tujuh petunjuk itu. Dan aku juga sama tidak tahunya dengan kalian mengenai keanehan-keanehan yang terjadi, Aryosh mengangkat kedua tangannya pertanda bahwa ia tidak ambil bagian atas hilangnya Nurul, belum kembalinya Devisha, bahan makanan yang diberi racun, maupun ruang rahasia di bawah piano merah.

Bagaimana kami tahu kalau kau bicara jujur pada kami? Via menunjukkan kecurigaannya. Bisa saja kau menipu kami, bisa saja ini semua hanya bagian dari peran yang kepolisian berikan padamu.

Aryosh mengangkat bahunya dan menggeleng, menunjukkan bahwa ia tidak tahu bagaimana caranya untuk membela diri dari pertanyaan menyudutkan yang dilontarkan oleh Via.

Hanya ada satu cara untuk memastikannya, timpal Rio seraya mengarahkan sorotan senternya ke ruang rahasia yang terbuka di hadapan mereka.

*_*_*​

Pelabuhan, waktu yang sama.

Inspektur Ipus, ketua divisi khusus kejahatan tak terpecahkan mempercepat langkahnya menuju kapal yang tengah diam bersandar di salah satu dok. Kapal tua itu tampak cukup menyeramkan, namun Inspektur Ipus tahu betul ketangguhan dari kapal bernama Noda Dosa tersebut.

Ayah, seru Dean memanggil Inspektur Ipus yang tak lain adalah Ayah kandungnya.

Inspektur, Dean. Berapa kali kukatakan agar tidak memanggilku Ayah saat kita sedang bertugas? Inspektur Ipus mengingatkan Dean yang saat ini merupakan satu dari dua detektif lain yang menjadi anggota divisi yang dipimpinnya.

Tapi Ayah kan sedang tidak bertugas? Dean mengingatkan balik bahwasanya saat ini Inspektur Ipus sedang dalam masa skorsing.

Jagalah sedikit wibawaku, Dean, Inspektur Ipus menjawab. Toh apa yang kita lakukan sekarang jauh lebih penting dari skorsing yang aku terima.

Dean tersenyum mendengar apa yang disampaikan Ayahnya. Di sepanjang perjalanan mereka dari kantor polisi hingga pelabuhan, Ayahnya telah menjelaskan apa yang membuat Pulau Dosa menjadi sangat berbahaya.

Sebuah mobil sedan berwarna merah marun berhenti tidak jauh dari mereka. Seorang pria berbadan tegap dengan usia yang tampak sedikit lebih muda dari Inspektur Ipus turun bersama seorang wanita mengenakan blazer abu-abu yang tampak berusia sekitar tiga puluhan. Keduanya melangkah mendekati Inspektur Ipus dan putranya, Dean.

Hanya berselang kurang dari lima menit, sebuah mobil van kepolisian memasuki halaman parkir. Dua belas pria berseragam biru gelap dengan rompi anti peluru hitam yang dihiasi lambang Tri Brata berwarna emas berukuran besar di dada kanan dan lambang pancasila di dada kiri mereka tampak memanggul senjata M-16 yang dipasangi Scoope dan Silencer. Dua belas pria itu mengenakan helm berwarna senada dengan rompi mereka. Masker gas tampak mengalungi leher mereka.

Siap inspektur! Wanita dan pria berbadan tegap itu memberi hormat kepada Inspektur Ipus.

Dari mana saja kalian? Inspektur Ipus terlihat kesal dengan terlambatnya pasangan suami-istri yang merupakan anggota divisinya. Meski terlihat kesal, Inspektur Ipus cukup bersyukur karena ketiga anggota divisinya telah memenuhi panggilan tak resminya.

Maaf inspektur, kami harus mengantarkan putra semata wayang kami ke rumah Neneknya dulu, Poi, wanita berblazer abu-abu menjelaskan alasan keterlambatan mereka.

Dia tidak membuat ulah lagi kan? Putra kalian itu? Inspektur bertanya.

Tidak, inspektur, Poi menjawab pertanyaan Inspektur Ipus. Wanita yang berhasil menyabet gelar juara lima tahun berturut-turut di ajang kejuaraan Karate Piala Kapolri ini memang memiliki keunikan pada namanya, entah salah pada waktu menuliskan akte atau memang bermaksud seperti itu, Poi memiliki nama lengkap yang cukup singkat; Poi Nem.

Lain lagi dengan suaminya yang terpaut sepuluh tahun darinya. Pria berbadan tegap itu cukup terkenal sebagai jawara bela diri di kepolisian. Kendati di usianya yang sudah menginjak kepala empat, Kareditya Tambusius Ron, nama lengkap pria tersebut, mampu bergerak lincah, tangkas dan bertenaga. Bisa dibilang pasutri ini adalah petugas lapangan terkuat yang dimiliki kepolisian. Ipus mengkombinasikan keduanya, bisa dibilang Ipus memiliki pasangan paling berbahaya di pertarungan jarak pendek dalam divisinya.

Mereka berdua memang pasangan paling tangkas dan berbahaya yang dimiliki kepolisian, namun keduanya tampak memiliki selera cukup buruk dalam penamaan. Seolah meneruskan jejak sang Ibu yang memiliki nama Poi Nem, putra semata wayang mereka yang tahun ini baru duduk di bangku SMU mereka namai dengan nama yang bisa dibilang unik; Mega Tambusius Ron, yang sering mereka singkat sendiri sebagai Mega T Ron.

Mengumpulkan mereka tidak mudah, Inspektur, Kareditya menunjuk ke arah dua belas petugas dengan perlengkapan tempur yang kini berbaris rapi, menunggu instruksi.

Mereka akan sangat membantu, Kared, Inspektur Ipus tersenyum.

Bukankah sebaiknya kita bergegas? Dean mengingatkan mereka. Lebih cepat kita sampai ke pulau itu, lebih cepat juga kita bisa menjemput para detektif muda itu.

Ipus menoleh ke arah putra semata wayangnya. Putra yang telah diberitahunya tentang banyak hal. Banyak hal yang mungkin sebaiknya tak diketahui oleh orang lain.

Kau benar, Dean, Inspektur Ipus mengalihkan pandangannya ke arah kapal Pulau Dosa tidak jauh dari tempat mereka berada. Mari kita jemput mereka.

Pak Agil yang tengah asyik memancing terkejut kala ia melihat Inspektur Ipus dan rombonganya naik ke geladak kapal. Pria tua beranjak dari duduknya, melempar sebatang rokoknya ke laut.

Itu hanya akan mencemari laut, Pak Agil, Ipus berkomentar.

Bukankah perjalanan seharusnya besok? Kalian seperti hendak pergi perang, Pak Agil mengomentari dua belas orang pasukan khusus bersenjata lengkap yang tengah menaiki kapal. Kau juga bukan polisi yang biasanya, kemana dia?

Kau mengenaliku, Pak Agil? senyum terkembang di wajah keriput Ipus.

Tentu, jawab Pak Agil. Kau polisi yang lima tahun lalu membawa pasukan lengkap untuk mengatasi pembunuhan berantai itu, Pak Agil balas tersenyum.

Ingatan yang sangat bagus, puji Ipus. Kami yang mengambil alih dari sini. Jadi, bisakah kita berangkat?

Mudah kalau hanya berangkat, jawab Pak Agil. Tapi aku belum membereskan kamar dan menyiapkan bahan makanan, seharusnya besok pagi kami baru belanja untuk mempersiapkan perjalanan.

Oh, kami tidak perlu semua itu, Inspektur Ipus menanggapi ucapan Pak Agil. Pastikan saja kita sampai ke Pulau Dosa secepatnya.

Paling cepat besok pagi kita akan tiba di sana. Pilih saja kamar yang kalian suka, Pak Agil menyanggupi permintaan Inspektur Ipus.

Dean bergerak ke dak kapal, memandang halaman parkir pelabuhan yang sebentar lagi akan mereka tinggalkan. Satu yang tidak disadari oleh mereka semua di sana adalah keberadaan dua pasang mata di dalam mobil sedan BMW berwarna merah yang sedari tadi mengamati mereka semua.

Apa kita tidak perlu menghentikan mereka? Wise? tanya Juna, pemuda yang saat ini duduk di kursi kemudi BMW merah itu.

Tidak perlu, Wise Crow menggeleng, wajahnya terlihat tenang dan dalam, ekspresi yang sulit sekali dibaca. Tetap saja kita akan tiba lebih cepat dari mereka, kan? tambahnya kemudian.

*_*_*​

Aryosh melangkahkan kakinya menuruni tangga beton yang cukup curam dengan sangat hati-hati. Enyas berjalan tepat di belakang Aryosh, pemuda gay yang ternyata bukan detektif diantara delapan pemuda-pemudi yang mengikuti pelatihan di Pulau dosa. Di belakang Enyas, Asri diikuti oleh Via. Sedang Rio memutuskan untuk berjalan di urutan paling belakang untuk menjaga punggung rekan-rekannya. Sesekali Rio melihat ke atas, ke arah lubang di samping piano yang menjadi pintu masuk mereka.

Mereka berlima sampai ke lantai dasar ruang rahasia tersebut. Masing-masing menyorotkan senternya menyapu seisi ruangan. Dinding-dinding ruangan itu terbuat dari batu, ruangan itu terasa lembab.

Itu, Via berkata saat lampu senternya menyoroti sebuah pintu kayu yang tampak tidak terawat.

Enyas mendorong punggung Aryosh dengan senternya, memberi isyarat agar Aryosh maju lebih dulu ke arah pintu.

Sudah kubilang aku tidak tahu apa-apa soal ini, Aryosh berkata. Berhentilah menganggapku sebagai dalang dari semua keanehan ini.

Saat ini, kami tidak punya orang lain yang berpotensi selain dirimu, Yosh, Enyas menanggapi keluhan Aryosh. Kami tidak punya pilihan selain memutuskan untuk tidak mempercayaimu.

Aryosh menghela nafas panjang saat mendengar tanggapan Enyas. Dengan terpaksa, pemuda gay berbadan kekar itu melangkah ke arah pintu dan memutar kenop pintu tersebut.

Krieettt….

Pintu terbuka, sebuah lorong panjang ada di balik pintu tersebut. Beberapa hiasan dinding berbentuk ular terpasang rapi di sepanjang lorong tersebut. Sebuah pintu lain terlihat di ujung lorong tersebut. Sebuah pintu berwarna merah. Aryosh melangkah masuk.

Sial! Enyas mengumpat kecil sambil memalingkan wajahnya ke lantai di bawahnya.

Ada apa? Asri bertanya pada Enyas yang tiba-tiba saja menghentikan langkahnya, membuat Asri yang berada tepat di belakangnya menabrak punggung Enyas. Untuk beberapa saat tak satupun dari mereka berdua yang menyadari siku tangan Enyas yang menekan payudara gadis berkulit eksotis tersebut.

Tidak, tidak apa-apa, Enyas menggeleng dan kembali menatap ke Aryosh yang kini berbalik memandanginya. Enyas mengangkat sikunya dari payudara Asri saat menyadari sesuatu yang empuk dan kencang ada di ujung sikunya. Maaf, ujar Enyas setengah gugup.

Sudahlah, Asri menjawab kalem sambil tersenyum.

Seandainya saja yang berada tepat di belakang Enyas adalah Rio bukan Asri, mungkin ia sudah menceritakan apa yang membuatnya mengumpat. Umpatan itu datang dari rasa terkejut yang bercampur ketakutan. Terkejut karena melihat potongan-potongan tangan dengan darah yang masih menetes di pangkal potongannya merambat-rambat di dinding lorong yang tengah mereka lalui. Beberapa kepala dengan kulit wajah pucat, mata merah dan seringai menyeramkan berguling-guling di lantai lorong tersebut. Pemandangan mengerikan yang saat ini tidak ingin dilihatnya.

Brakk!!

Mereka berlima baru sampai di tengah lorong ketika terdengar suara keras dari arah mereka masuk. Rupanya bunyi itu adalah bunyi yang dihasilkan oleh pintu masuk mereka yang tertutup dengan kencang. Sesuatu yang janggal terjadi, Rio memicingkan matanya. Sedari tadi Rio merasakan dingin di tengkuknya, seolah ada angin kecil yang membelai tengkuknya. Tapi jelas tidak mungkin angin sekecil itu dapat menghempaskan daun pintu sekencang itu.

Aku akan memeriksanya, kalian lanjutkan saja, nanti aku menyusul, ujar Rio sambil bergegas ke arah pintu masuk mereka.

Langkah Rio terhenti saat ia melihat sesuatu, gumpalan asap halus berwarna hijau muda keluar dari ornamen dinding berbentuk ular yang ada di kedua sisi dinding. Bukan sesuatu yang terlihat baik.

Lari! Rio berbalik ke arah rekan-rekannya yang juga tampak bingung dengan keadaan yang terjadi. Lari! Cepat! Rio kembali berteriak, ia bergegas berlari ke arah pintu masuk. Pintu masuk terlalu jauh untuk Aryosh, pria berbadan kekar itu memutuskan untuk berlari ke arah pintu merah. Melihat apa yang dilakukan Aryosh, Enyas dan Asri berlari mengikutinya, meninggalkan Via yang tampak bingung, tidak tahu harus berbuat apa. Via menatap Rio yang berlari dan sempat tersandung, di sisi lain Aryosh, Asri dan Enyas sedang berusaha membuka pintu merah dan tampaknya mereka kesulitan. Beberapa detik berikutnya Via dapat merasakan semua seolah berputar, beberapa detik sebelum gadis berambut sebahu itu kehilangan kesadarannya.

*_*_*​

Tik… tik…tik…

Bunyi air yang menetes jatuh ke atas lantai batu membangunkan Rio dari ketidaksadarannya. Rio mengerjap-ngerjapkan matanya, mencoba mengembalikan pandangannya. Ia meringis saat merasakan nyeri di dalam kepalanya. Hal terakhir yang ia ingat adalah tersandung, lemas, sakit kepala sebelum kesadarannya hilang.

Anak angkat Kapori Komang Mahendra itu beranjak berdiri dan memandang sekitarnya, dia berada di sebuah ruangan berbentuk persegi yang ukurannya tidak lebih besar dari tiga meter persegi. Tiga sisi ruangan itu adalah dinding batu yang lembab, satu sisi yang tersisa adalah jeruji besi. Sebuah lampu neon berpendar terang, tergantung di langit-langit ruangan. Ruangan ini tampak seperti ruang sel tahanan yang tak lagi terawat.

Rio berjalan ke arah jeruji, mengenggam jeruji besi itu dengan kedua tangannya dan berusaha melihat ke luar jeruji. Hanya sebuah lorong memanjang di hadapannya, tanpa ada tanda-tanda kehidupan di sana.

Sreek…

Rio memalingkan wajahnya saat mendengar sesuatu bergerak. Ada orang di sana? Rio setengah berteriak.

Uhhuk!! Uohhok!!

Seseorang yang menempati sel di samping kanan Rio terbatuk-batuk. Tanda bahwa ada orang yang menghuni sel tersebut.

Siapa di sana? tanya Rio.

Itu kau? Rio? Aku.. Uohhok!! suara itu menjawab dan batuk sebelum menyelesaikan kalimatnya.

Edi? Rio mengenali suara tersebut. Hal terakhir tentang Edi yang ia ingat adalah saat Edi batuk darah akibat seseorang meracuni bahan makanan mereka. Bagaimana kau bisa ada di sini?

Aku.. Uohhok!! Tidak tahu, begitu sadar aku sudah disini.. Uohhok! Huekk!! Edi menjawab sembari terbatuk-batuk. Kau sendiri?

Aku tidak tahu! Rio menjawab pertanyaan Edi.

Rio? Edi? seseorang memanggil nama mereka berdua, kali ini datangnya dari sel sebelah kiri Rio.

Enyas? Kaukah itu? tanya Rio kemudian.

Ya, bagaimana kita bisa ada di sini? Enyas mengulangi pertanyaan yang sedari tadi tidak satupun dari mereka dapat menjawabnya.

Kalian disini? sebuah suara terdengar menggema. Kali ini suara wanita. Suara itu kemungkinan berasal dari sel di sebelah sel yang dihuni oleh Enyas.

Asri?? tanya Enyas dan Rio nyaris bersamaan. Sedangkan Edi masih terbatuk-batuk.

Aku bersama Aryosh, dia tidak sadarkan diri, Asri memberitahu yang lainnya. Gadis itu memutuskan untuk tidak menggambarkan keadaannya yang saat ini tanpa busana. Bahkan, dalam hati Asri memohon agar kesadaran Aryosh, yang kini terkulai di sel sempit bersamanya, tidak cepat kembali. Gadis berkulit eksotis itu tidak bisa membayangkan rasa malu yang akan menghinggapinya jika Aryosh melihatnya dalam keadaan telanjang. Meskipun ia tahu Aryosh seorang gay yang mungkin tidak akan mengganggunya.

Via terbaring di sel ku, Enyas menimpali. Ia masih belum sadar dan…

Dan? Rio menanyakan sisa kalimat Enyas yang belum selesai.

Dan dia tanpa pakaian, ucap Enyas kemudian.

Nguuiiiiiingggggg…..

Sebuah suara terdengar kencang, terdengar seperti suara yang keluar dari dua microphone menyala yang didekatkan. Tinggi dan kencang, memberi rasa bising yang menyakitkan telinga.

Clapp!!

Seketika keadaan berubah menjadi gelap saat neon-neon yang menjadi penerangan mendadak padam. Enyas, Rio dan Asri terkejut dalam kegelapan. Tak satupun dari mereka berani bersuara, hanya suara batuk Edi yang tidak dapat ditahan.

Uohhok!! Uohhokk!! Siapa..? Batuk itu seketika terhenti. Rio menempelkan telinganya di dinding agar dapat mendengar lebih jelas apa yang terjadi di ruangan sel Edi.

Ngiiieek..

Terdengar suara pintu jeruji yang terbuka dari ruangan sel yang dihuni oleh Edi. Diikuti dengan suara batuk Edi yang berulang-ulang.

Siapa kamu?! Uhhuk! Apa yang…. Uohhok!! LEPASKAN!! HEI!! Uohhokk!!

Rio mengernyitkan alisnya, sesuatu sedang terjadi di sel yang dihuni oleh Edi. Rio dapat mendengar suara langkah seseorang di sel tersebut.

Dziing……

Sesuatu mendesing, seperti suara mesin yang sedang dinyalakan. Rio memejamkan matanya, mencoba menerka apa yang menjadi asal suara itu.

Lepaskan! Uohhok!! Tidd… Aaaaaghhh!!

Jeritan Edi memenuhi koridor, terdengar hingga ke sel yang dihuni oleh Asri. Bunyi desingan mesin itu kini terdengar berbeda. Desingannya berubah menjadi suara desingan mesin yang sedang menggiling sesuatu. Teriakan-teriakan Edi terus terdengar di sela-sela bunyi desingan mesin tersebut, sebuah teriakan yang menunjukkan rasa sakit luar biasa yang tengah di dera sang pemilik suara. Sayup-sayup Rio dapat mendengar Edi memohon ampun, namun jeritan kesakitannya menyusul tidak lama kemudian. Untuk beberapa menit lamanya koridor dan ruang sel-sel diisi oleh erangan-erangan Edi, hingga erangan itu menghilang. Meninggalkan desingan mesin yang seolah terus menggiling. Beberapa menit setelahnya, desingan itu ikut menghilang, berganti dengan suara derap langkah.

Siapa disana?! Apa yang terjadi?! Hey! Edi!! Jawablah aku!! Rio tidak bisa menahan dirinya untuk berteriak memanggil Edi. Namun tak ada jawaban dari sel yang dihuni oleh Edi.

Clapp!!

Lampu kembali menyala, Rio memandang ke ruang sel yang dihuninya.

Aaah!!

Jeritan kembali terdengar, kali ini asalnya dari sel yang dihuni oleh Asri dan Aryosh.

Asri?! Ada apa? Enyas yang selnya berada tepat di sebelah sel Asri bertanya.

Tidak, tidak ada apa-apa, aku hanya terkejut, jawab Asri yang kini memilih untuk meringkuk, menekuk kakinya ke perutnya dan menyilangkan kedua tangannya, mencoba menyembunyikan tubuh telanjangnya.

Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu terkejut, jawab Aryosh yang rupanya telah sadar. Kau tidak perlu menutupi tubuh telanjangmu, tidak akan berpengaruh padaku. Aku seorang gay, kau ingat?

Asri mendelik marah ke arah Aryosh. Kalimat Aryosh barusan sama saja dengan memberi tahu Rio dan Enyas bahwa saat ini ia sedang dalam keadaan telanjang bulat.

Apa yang terjadi Enyas? Rio? Bagaimana kita bisa ada disini? pertanyaan lama itu kembali terdengar. Kali ini dari mulut Aryosh.

Kami sama bertanyanya dengan dirimu, Enyas menjawab singkat. Ia menoleh ke belakang saat merasa sesuatu bergerak di belakangnya. Enyas melihat Via yang bergerak meringkuk ke sudut ruangan, berusaha menutupi tubuh telanjangnya. Kau sudah sadar rupanya, ujar Enyas sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.

Tap… tap…tap…

Suara derap langkah terdengar mendekat dari arah koridor. Rio menoleh ke arah suara, seseorang mengenakan jubah abu-abu tampak berjalan mendekat. Sosok itu membawa sebuah ember logam kecil di tangan kirinya, wajahnya terhalang hood berwarna senada dengan jubah longgar yang dikenakannya.

Siapa kau?! Rio menghardik sosok berjubah itu.

Tidak ada jawaban. Sosok berjubah itu berjalan tenang melewati sel yang dihuni oleh Rio sambil menenteng ember logamnya. Mendadak Rio merasa mual saat ia melihat isi dari ember tersebut. Sebuah potongan lengan, dua ruas jari yang kukunya telah dicabut dan sebuah kepale berambut pendek yang wajahnya menghadap ke dasar ember.

Anjing!! Rio memaki. Siapa kau bangsat!! Lepaskan kami!! Rio mendorong-dorong jerujinya dengan penuh tenaga. Seolah berharap jeruji itu bisa lepas begitu saja.

Sosok berjubah itu berjalan melewati sel yang dihuni oleh Enyas. Rio dapat melihat tangan Enyas terjulur, berusaha untuk menggapai ujung jubah abu-abu namun gagal. Koridor itu cukup lebar sehingga tangan Enyas tak sampai.

Suara dentingan jeruji besi terdengar saat sosok berjubah itu melewati sel yang dihuni oleh Asri dan Aryosh. Sepertinya Aryosh berusaha mendorong jatuh jeruji itu dengan tenaganya. Sayang sekali tenaga gay berbadan kekar seperti Aryosh masih tidak cukup untuk menjatuhkan jeruji tersebut.

Lepaskan kami bangsat!! Aryosh mengumpat. Sebuah umpatan yang rupanya tidak cukup untuk menarik perhatian sang sosok berjubah. Sosok itu berlalu dalam diamnya.

Kau lihat itu, Enyas? Rio berkata kepada Enyas yang tertahan di sel sebelahnya. Kita harus keluar dari sini.

Aku tidak memiliki apa-apa, Enyas menjawab. Apa kau punya alat yang bisa membuka jeruji ini?

Tidak, jawab Rio singkat.

Jadi kita akan mati di sini? tiba-tiba saja Via menyahut. Suara gadis itu bergetar, menggambarkan ketakutan dan keputus-asaan yang kini menghinggapinya.

Kau tidak melihat apapun di sini Enyas? Rio bertanya. Hantu atau apapun yang bisa kita minta pertolongan?

Tak satupun terlihat, Enyas menjawab. Lagipula butuh jin tua yang memiliki ilmu cukup tinggi untuk bisa membantu mengambilkan kunci. Untuk menyenggol benda saja mereka butuh energi cukup besar!

Dia kembali, Aryosh memberitahu yang lainnya saat melihat sosok berjubah itu terlihat berjalan ke arah mereka sambil membawa sebuah jeriken. Sosok itu tampak menyiramkan isi jeriken tersebut ke dinding dan lantai yang di laluinya. ini buruk… ujar Aryosh.

Kenapa? Enyas bertanya.

Sepertinya dia akan membakar kita semua hidup-hidup, Aryosh berkata getir.

*_*_*​

Apa yang akan kita lakukan sekarang? Juna bertanya sembari memutar-mutar rubiknya tanpa semangat. Menyiratkan kebosanan yang kini melandanya.

Tidak ada, jawab Wise Crow sebelum menghisap cerutunya. Kita hanya menunggu.

Puh, wajah Juna terlihat kurang senang. Seharusnya aku tinggal saja di ruang cafe dan menonton dengan santai. Pasti akan lebih menarik, keluhnya sambil memandang langit-langit goa.

Kau yang memutuskan untuk ikut, kan? Wise Crow menanggapi keluhan Juna dengan santai. Kau sendiri yang mengatakan ingin mengucapkan selamat pada tokoh utama dalam pertunjukan kali ini.

Aku tidak yakin kau bisa mengoperasikan kapal selam mini buatanku dengan baik, Juna menimpali. Ada banyak teknologi baru yang kutanamkan di kendaraan ini, sedikit sulit untuk mengoperasikannya. Seandainya saja aku tahu kau tidak perlu persenjataan mungkin aku memilih untuk tidak ikut.

Aku bukan Agen tipe A. Senjata terbesarku adalah waktu, kan? nada Wise Crow masih terdengar santai dan seolah tanpa beban. Bersabarlah sedikit, Director.

*_*_*​

Rio mendorong jeruji selnya kuat-kuat saat sosok berjubah itu melewati selnya seraya menyiramkan isi jeriken ke dinding dan lantai ruangan.
Jawab aku bangsat!! Apa kau tidak bisa bicara?! Hey!! Bangsat!! Rio terus memaki sosok berjubah tersebut. Rupanya kau hanya pengecut yang bisu, hah?! Rio belum berhenti memaki, berharap kalimat-kalimatnya dapat menarik perhatian sosok berjubah tersebut.

Dan rupanya itu berhasil. Sosok berjubah itu kini berbalik menghadapnya, diam seolah memandangi Rio yang masih saja mendorong-dorong jeruji selnya. Rio tidak dapat melihat wajah yang tersembunyi sempurna di bawah hood lebarnya, namun Rio tahu, sosok itu kini tengah mengamatinya.

Kau punya nama? Hey, pengecut?! Rio terus berusaha memprovokasi. Ia melihat tangan sosok berjubah yang terbalut sarung tangan itu menggenggam.

Blood of roses.. sosok berjubah itu bicara lirih sebelum kembali melanjutkan aktivitasnya.

Kau… Nurul?? Enyas yang samar-samar mendengar suara lirih sosok itu bertanya. Nurul? Apa yang kau lakukan? Hey!! Enyas terus bertanya, namun sosok berjubah itu tidak menggubrisnya, tetap menyiramkan isi dari jeriken yang dibawanya.

Dan mereka semua terdiam kala sosok itu melempar jeriken kosong di tangannya. Sosok itu diam untuk beberapa saat, sebelum mengeluarkan pemantik api, menyalakan pemantik tersebut dan melemparnya ke arah jeriken.

Api menyala dan menjalar dengan cepat mengikuti jalur siraman sosok berjubah tersebut. Berkobar dengan cepat menjilat-jilat dinding koridor. Rio menoleh ke arah sosok berjubah itu namun sosok itu tak lagi terlihat. Udara di koridor itu kini terasa memanas. Rio dapat mendengar sesenggukan yang mungkin berasal dari Via atau Asri yang kini menangis. Tidak ada lagi yang bisa ia katakan untuk menenangkan yang lainnya. Ia tak bisa membuka jeruji yang menahannya.

Rio menyandarkan punggung dan kepalanya ke arah dinding, memejamkan matanya dan menarik nafas panjang. Sebuah senyum sinis muncul di raut wajahnya, senyum ketidakpercayaan, dia benar-benar tidak menyangka hidupnya akan berakhir seperti ini. Terjebak di sebuah pulau, di sebuah sel dan terpanggang hidup-hidup. Saat ia mulai memasrahkan semuanya, saat itulah hidungnya mengendus aroma bunga sedap malam yang cukup menusuk. Rio membuka matanya dan terkejut melihat seseorang melemparkan besi bundar dengan banyak kunci tergantung pada besi bundar tersebut. Rio mengenali sosok tersebut.

Nenek? Rio mengernyitkan alisnya dan mendekat ke jeruji. Bagaimana bisa?

Diamlah anak muda, ujar Nenek tersebut. bebaskan dirimu dan bantu teman-temanmu keluar dari sini. Cepatlah, ikuti tanda kapur yang akan aku tuliskan ke dinding agar kalian tidak tersesat. Cepatlah! Waktu kita tak banyak, Nenek itu beranjak pergi meninggalkan jeruji.

Rio tahu betul, ia tidak memiliki banyak waktu untuk berpikir. Dengan sigap Rio meraih rangkaian kunci dan mencobanya satu persatu.

Apa yang terjadi Rio, siapa Nenek itu? terdengar suara Enyas bertanya.

Kau juga melihatnya? Rio bertanya balik.

Tentu saja! jawab Enyas.

Cklek!

Rio berhasil menemukan kunci yang cocok, detektif muda itu mendorong pintu jerujinya dan bergegas untuk membuka sel yang menahan rekan-rekannya. Ia memulai dengan membuka pintu sel yang dihuni oleh Aryosh dan Asri mengingat sel yang mereka huni adalah sel yang terjauh dari tempatnya berada saat ini.

Hawa ruangan sudah sangat panas, Rio dapat merasakan telapak kakinya ikut memanas. Dengan konsentrasi penuh Rio mecoba satu-persatu kunci di tangannya, api berkobar semakin besar, keadaan sudah benar-benar genting.

Cklek!

Tidak ada waktu yang bisa dibuang, segera setelah berhasil membuka pintu sel Aryosh dan Asri, Rio beralih ke sel tempat Enyas dan Via ditahan. Asri memekik tertahan saat gadis berkulit eksotis itu merasakan panas di telapak kakinya. Aryosh yang melihat hal itu segera mengambil tindakan yang cukup gentleman. Direngkuhnya tubuh telanjang Asri dan digendongnya dengan kedua tangannya yang kekar. Asri cukup terkejut karena tidak menduga Aryosh akan menggendongnya.

Cklek!

Pintu sel terakhir terbuka. Enyas melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh Aryosh, menggendong Via. Namun karena tenaga Enyas tak sebaik Aryosh, maka Enyas hanya menggendong Via dengan punggungnya. Payudara telanjang gadis itu terasa menekan punggung Enyas.

Kemana kita? Aryosh bertanya pada Rio.

Kesana, Rio menunjuk ke arah perginya sang Nenek. Ikuti aku, kita ikuti tanda dari kapur.

Rio sempat menoleh ke arah sel yang dihuni oleh Edi, tampak potongan-potongan tubuh yang di cincang dengan sangat brutal tergeletak tak berbentuk di lantai sel tersebut. Untuk sejenak, Rio bergidik ngeri membayangkan apa yang telah terjadi kepada Edi. Edi memang bermulut besar, sedikit sombong dan menyebalkan, namun tetap saja terlalu tragis jika ia harus meninggal secara terpotong-potong tak beraturan. Rio menghentikan lamunannya dan bergegas menyusuri koridor, menghindari jilatan-jilatan api di sepanjang koridor tersebut. Enyas dan Aryosh yang masing-masing menggendong Via dan Asri mengikuti Rio hingga ke mereka berhenti di sebuah persimpangan. Rio melihat tanda panah yang ditulis menggunakan kapur di dinding.

Lewat sini, ucap Rio kemudian.

Mereka terus menyusuri koridor yang berkelok dan bercabang-cabang, ibarat sebuah labirin bawah tanah raksasa. Rio dapat melihat goresan kapur di dinding itu semakin menipis, menandakan kapur yang digunakan oleh sang Nenek sudah semakin sedikit. Satu yang mengganjal di benak Rio adalah bagaimana mungkin mereka belum bisa menyusul sang Nenek, padahal mereka berjalan cukup cepat dan tidak berhenti sekalipun.

Dan perjalanan mereka berakhir di sebuah pintu berwarna lorong buntu.

Tidak mungkin!! Rio mendekat ke dinding batu yang menjadi ujung perjalanan mereka. Rio meraba-raba dinding tersebut dengan kedua tangannya, berharap menemukan sebuah tombol atau apapun yang bisa membuat dinding itu terbuka. Kenapa jalan buntu?!

Kau sedang menginjak anak kecil, Rio, Enyas berkata sambil mengatur nafasnya. Dia masih menggendong Via yang saat itu tanpa busana.

Hah? Rio bergerak mundur, untuk beberapa saat tadi Rio tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Enyas sebagai anak kecil. Untuk beberapa saat Rio benar-benar lupa bahwa Enyas dapat melihat makhluk halus.

Ke atas, ujar Enyas kemudian. Anak kecil itu menunjuk ke atas.

Rio memandangi langit-langit di atasnya yang memang tampak lebih pendek ketimbang langit-langit di sepanjang lorong yang mereka lewati. Rio mengangkat kedua tangannya dan merasakan sesuatu yang dapat diangkat. Anak angkat Kapolri itu memusatkan tenaganya di telapak tangan dan mulai mendorong batu yang berada di atasnya.

Sinar matahari segera masuk dan menerangi ruangan ketika batu di atas Rio bergeser. Rio melompat naik dan menemukan dirinya berada tidak jauh dari pondok kayu di dekat air terjun. Rio berbalik untuk membantu rekan-rekannya yang lain.

Dimana kita? tanya Via yang kini menutupi bagian bawah tubuhnya dengan kaos yang baru saja di berikan oleh Enyas. Terima kasih, Nyas, Via mengucapkan terima kasih. Enyas hanya tersenyum dan untuk beberapa saat ada raut wajah yang menggelikan muncul di wajah Enyas.

Aryosh kini bertelanjang dada, memberikan kaosnya pada Asri yang kini menyilangkan tangannya, menutupi payudaranya yang cukup besar, padat dan menantang. Seandainya saja mereka dalam keadaan normal, mungkin saja akan terjadi pesta seks diantara mereka, dengan Aryosh sebagai pengecualian.

Rio memandang matahari yang sudah terlihat condong. Dari udara yang terasa panas, Rio menyadari bahwa hari telah menjelang sore. Itu artinya mereka telah tidak sadarkan diri dalam waktu yang cukup lama.

Kita harus kembali ke mansion, ujar Rio kemudian.

Tidak setuju, Enyas menolak gagasan Rio. Menurutku kita harus sembunyi, sosok berjubah itu mungkin masih ada di mansion.

Kita sergap dan kita bekuk dia, Aryosh menanggapi. Aku akan menghajarnya sepuasku sebelum menyerahkannya ke kepolisian, ujarnya geram.

Hei, lihat! Asri menunjuk ke arah hutan, dimana ia melihat segerombolan orang bergerak ke arah mereka.

Sial! Kita harus sembunyi! Enyas terlihat panik. Ayo kita pergi dari sini!

Kurasa tidak perlu, Rio mengangkat satu tangannya, memberi isyarat agar mereka semua tidak panik. Gerakan mereka terlalu terorganisir, orang-orang ini kemungkinan adalah militer atau orang kepolisian. Lagipula, seorang psikopat seharusnya bekerja sendirian.

Aku masih belum percaya sosok itu adalah Nurul Enyas menimpali. Tapi suara itu jelas sekali, itu suara Nurul.

Ada orang di sana? terdengar seseorang diantara gerombolan itu berteriak.

Kami disini!! Via berteriak sembari melambai-lambaikan tangannya, membiarkan bukit kembarnya berayun bebas. Kami detektif yang ikut dalam pelatihan!

Inspektur, mereka di sini! salah seorang dari gerombolan itu kembali berkata sebelum mereka bergerak serentak mendekat ke air terjun. Rio bersyukur saat mengenali pria tua diantara gerombolan pasukan bersenjata lengkap. Inspektur Ipus, salah seorang aparat yang sering muncul di televisi karena prestasinya dalam memecahkan banyak kasus kriminal yang tak terpecahkan.

Kalian tidak apa-apa? tanya Inspektur Ipus seraya mendekat. Kemana yang lainnya?

Mati, Asri menjawab lirih. Nurul membunuh mereka.

Nurul? Dia salah satu detektif yang lulus uji seleksi kan? Aku sudah membaca data tentang kalian semua. Hanya data tentang seorang pemuda bernama Aryosh yang tidak ada karena ia tidak lulus uji seleksi, Inspektur Ipus memandang ke arah pemuda berbadan kekar yang bertelanjang dada. Kau yang bernama Aryosh, kan? tanya Inspektur Ipus. Aryosh mengangguk menjawabnya.

Beri nona-nona ini pakaian, Dean yang datang bersama pasukan bersenjata memberi perintah kepada para pasukan khusus kepolisian. Ayah, sebaiknya kita menanyakan apa yang terjadi setiba di tempat yang aman, ujar Dean kemudian.

Bawa mereka ke kapal, perintah Inspektur Ipus.

*_*_*​

Juna mengangkat kedua tangannya untuk meregangkan tubuhnya. Pemuda yang masih duduk di bangku kelas satu SMU itu menguap bosan.

Kau benar-benar membuatku bosan, Pak Tua, ujarnya pada Wise Crow yang sedang memotong ujung cerutu barunya. Jangan sampai aku membunuhmu karena kebosanan.

Kupikir kau akan menyukainya, jawab Wise Crow. Tidak jelas apa yang dimaksudkan oleh pria tua itu tentang bagian mana yang akan disukai oleh Juna, bagian kebosanan atau bagian dimana Juna membunuhnya. Seorang penjaga yang sadis, brutal dan patuh. Bukankah itu yang kau inginkan sebagai penjagamu, Director?

Ya, kau benar, Juna kembali memutar-mutar kubus rubik 50×50 nya yang entah sudah berapa kali diselesaikan lalu diacaknya kembali. Untuk itu kan aku menghabiskan dana cukup besar dari Association demi menciptakan pulau ini? Kita melatih seorang psikopat di pulau ini, membiarkannya membunuh sesuka hatinya sebelum melatihnya kembali untuk menahan diri. Itu semua ide yang brilliant Wise.

Dan penjagamu telah tiba, Wise Crow tersenyum saat melihat sosok berjubah keluar dari balik kegelapan goa. Pria tua itu berdiri untuk menyambut sosok berjubah tersebut.

Kau datang terlalu cepat! ujar sosok tersebut.

Itu karena kami tidak ingin kehilanganmu, Wise Crow mengeluarkan pemantik dari saku jasnya dan menyulut cerutunya. Sebaiknya lepaskan pengubah suara dari lehermu, cukup menggelikan mendengar suara gadis bernama Nurul itu keluar dari dirimu, Edi.

Edi, pemuda yang mengenakan jubah longgar berwarna abu-abu itu menurunkan hood yang menutupi wajahnya dan menarik lepas sebuah alat berbentuk segitiga yang merupakan alat perubah suara. Edi melemparkan alat itu ke arah Juna yang dengan sigap menangkap alat buatannya tersebut.

Aku sudah menghabisi dua gadis lesbian itu persis seperti yang tertulis dalam case, ujar Edi seraya menanggalkan jubahnya. Racun yang kau berikan itu benar-benar membuatku batuk darah! Sialan!

Kita harus memberikan pertunjukan yang terbaik, kan? Wise Crow menimpali ucapan Edi.

Kau datang terlalu cepat, aku masih ingin bermain-main dengan empat orang yang lain. Kau bilang aku bebas melakukan apa saja selama tidak membunuh mereka. Aku sudah membayangkan betapa menyenangkan memotong kedua puting pelacur bernama Via, mengiris sebagian pantat pria homo, mengiris perut gadis bernama Asri hingga rahimnya sedikit robek dan pasti sangat mengasyikkan mengiris pelan-pelan lidah detektif hebat bernama Enyas itu!. Sirene panggilanmu membuyarkan semuanya!! Edi tampak kesal karena merasa kesenangannya terganggu oleh sirene yang dibunyikan Wise Crow.

Kau lebih baik dari pendahulumu, Edi. Menahan diri untuk tetap mematuhi case adalah hal utama agar kau tetap bisa bertahan di Association. Pendahulumu? Ia bertindak berlebihan dengan membunuh terlalu banyak orang di luar target. Dan kami menggantungnya di rumahnya karena hal tersebut. Kerja bagus, Edi, kau layak menerima codename-mu.

Dan kapan aku akan menerima codename itu? Kapan aku dapat ijin untuk menghabisi pemuda yang kau bilang memiliki Blood of Roses itu? Seringai jahat terkembang di wajah Edi.

Kurasa kau akan kesulitan menghabisi Blood of Roses bahkan jika aku mengijinkannya, Wise Crow tersenyum. Sebuah senyum sombong yang memuakkan.

Bagaimana kalau kita coba buktikan saja kata-katamu itu? tantang Edi.

Tidak, tidak, Wise Crow menggeleng. Mulai sekarang, kau tidak hanya akan mendapat codename sebagai agen tipe A. Tapi kau juga akan bekerja secara pribadi untuknya. Sama seperti Deadly Orchid, Wise Crow menunjuk ke arah Juna.

Dia? Edi mengernyitkan alisnya. Aku harus bekerja pada anak kecil yang menjadi asistenmu? Yang benar saja!

Jaga bicaramu, psycho, Juna tampak tersinggung. Kau sedang bicara dengan seorang Director.

Dia? Director Association? Edi tampak tidak percaya.

Director No. 6 tepatnya, Wise Crow membuang cerutunya yang masih menyala ke laut. Sekarang naiklah ke dalam kapal dan kita pergi dari sini. Welcome aboard, Mr. Edi… mungkin sebentar lagi aku akan memanggilmu Hard Bougenville, ujar Wise Crow seraya tersenyum lebar.

*_*_*​

Rio menghisap rokoknya, memandang ke arah rumah di dekat dermaga. Dia baru saja selesai memberikan keterangannya tentang apa yang terjadi pada mereka selama di Pulau Dosa. Hampir tidak ada hal yang tidak ditanyakan oleh Detektif Dean sepanjang interogasi. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia berhadapan dengan seseorang yang seolah mampu membaca pikiran sekaligus membuatnya mengingat semua detail kejadian yang ia alami hingga kejadian terkecil sekalipun.

Hari yang berat, Nak? tanya Pak Agil yang datang dan ikut menyulut rokok tepat di sebelah Rio. Siapa sangka tragedi lima tahun yang lalu bisa terulang kembali.

Ya, itu mengerikan, ujar Rio sambil menghembuskan asap dari hidung dan bibirnya. Tapi kami harus berterima kasih pada Nenek, seandainya saja Nenek tidak datang membantu, mungkin kami sudah terpanggang di sana, bisa tolong sampaikan terima kasihku kepada Nenek? Aku ingin menyampaikannya langsung tapi aku tidak menemukannya di dalam rumah. Sepertinya beliau sedang bersembunyi entah dimana.

Nenek? Pak Agil memandang heran ke arah Rio. Ada Nenek di pulau ini? tanyanya lagi.

Nenek, Rio mencoba menegaskan ucapannya. Ibu tiri anda? Beliau yang membawakan kami kunci sel saat kami hampir terpanggang. Beliau juga yang menuliskan petunjuk menggunakan kapur agar kami bisa keluar dari labirin bawah tanah yang menyesatkan itu!

Jangan bercanda, Nak! wajah Pak Agil tampak serius dan menyeramkan. Ibu tiriku telah meninggal lima tahun yang lalu, ujar Pak tua pemilik kapal Noda Dosa itu dengan mimik serius.

*_*_*​

Rio membuka pintu rumah itu dengan sangat hati-hati, keadaan rumah itu sama gelapnya dengan saat terakhir Rio berkunjung untuk melihat keadaan sang Nenek. Aroma bunga sedap malam masih tercium di ruangan tersebut, posisi kursi goyang masih tetap sama. Di atas kursi goyang tersebut tampak rajutan yang belum selesai dan sebuah bola benang wol yang tersambung dengan rajutan tersebut. Rio memberanikan diri untuk melangkah mendekat.

Klontang!!

Langkah Rio terhenti saat kakinya menyandung sesuatu hingga terlempar. Rio menyalakan senter untuk melihat benda apa yang tanpa sengaja tersandung olehnya. Sebuah asbak berbahan logam tampak tertelungkup di lantai akibat sandungan kaki Rio, abu rokok dan beberapa puntung rokok berhamburan di sekitarnya. Rio berjongkok dan mengambil sebuah puntung rokok dan memperhatikannya dengan seksama.

Puntung rokok itu berwarna hitam dengan gambar mawar putih pada filternya.

TAMAT