Sin Island Part 10

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Tamat

Cerita Sex Dewasa Sin Island Part 10 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Sin Island Part 9

THE RED PIANO

Pintu mansion telah terbuka saat Rio dan Asri memasuki mansion. Saat itu langit telah mulai memerah, pertanda bahwa malam hari akan segera tiba. Asri dan Rio dapat mencium aroma masakan dari arah dapur. Rio membuka pintu dapur dan menemukan Edi yang sedang memasak.

“Oh, kalian sudah datang rupanya,” ujar Edi saat melihat Rio dan Asri.

“Mana yang lain?” tanya Asri pada Edi yang tampak sibuk menumis buncis.

“Entah, aku rasa belum datang, aku yang pertama sampai ke mansion. Kupikir tidak ada salahnya menyiapkan masakan sebelum kalian semua datang. Kalian pasti lapar, kan?” jawab Edi.

“Mana Devisha?” Rio bertanya. “Bukankah kau bersamanya?”

Edi mengangkat wajannya dan meletakkan tumisan buncis ke atas piring datar, aroma wangi buncis tersebut tercium. Aroma yang sungguh harum dan menggoda selera.

“Tadinya kupikir dia sudah kembali lebih dulu, tapi ternyata aku tidak menemukannya di mansion,” jawab Edi sambil menusuk sebuah buncis dengan garpu dan memakannya. “Kurang garam sedikit,” gumamnya.

“Jadi kau meninggalkan Devisha sendirian?” nada suara Asri sedikit meninggi mengetahui bahwa Edi tidak kembali bersama Devisha. “Bagaimana kalau sesuatu terjadi padanya? Bagaimana kalau dia tersesat?”

“Hey, dia yang memaksa untuk pulang sendiri!” Edi membela dirinya. “Kami baru tiba di Power Plant saat dia marah dan memutuskan untuk kembali ke mansion. Dia yang meninggalkanku!”

“Apa yang terjadi sebenarnya, Edi?” Rio bertanya, menatap tajam ke arah Edi.

“Kami berjalan melalui jalan setapak menuju ke Power Plant. Kau tahu kan perjalanan di sana cukup jauh jadi aku berusaha untuk mengajaknya berbincang. Dia hanya menanggapi kalimatku seadanya, dan itu menyebalkan!” Edi mendengus kesal, mengambil sebotol garam dan menakar isinya menggunakan sebuah sendok teh. “Kami sudah hampir sampai saat dia marah karena menyebut sikapnya berlebihan menghadapi hilangnya Nurul,” Edi mencampurkan garam ke masakannya, mengambil sepotong buncis dengan garpu dan memakannya. “Ini baru pas,” ujarnya. “Dia mendadak marah, menyebutku sebagai pecundang, monyet, dan beberapa umpatan lagi. Setelah puas mengumpat dia berbalik meninggalkanku.”

“Kau tidak berusaha mencegahnya?” Asri mengucapkan sebuah pertanyaan yang menyudutkan Edi.

“Tentu aku mencegahnya! Aku bukan pria bodoh yang membiarkan seorang wanita pulang sendirian.”

“Lantas?” Asri terus mengejar jawaban Edi.

“Marahnya makin menjadi, lihat?” Edi menunjukkan pipinya yang tampak memerah. “Dia menamparku dan meninggalkanku begitu saja. Dan kupikir aku tidak akan kembali dulu sebelum melaksanakan tugasku memeriksa Power Plant. Yang benar saja, aku tidak berjalan sejauh itu hanya untuk kembali tanpa hasil.”

“Menemukan sesuatu di Power Plant?” tanya Rio.

“Tidak, kondisinya sama persis seperti saat terakhir aku berada di sana,” jawab Edi.

“Kita harus mencari Devisha, Rio. Kita tidak bisa membiarkannya sendiri di luar sana,” Asri meyakinkan Rio untuk mencari Devisha.

“Oh ayolah Asri,” Edi menimpali ucapan Asri. “hanya ada jalan setapak di luar sana. Dan siapapun yang mengikuti jalan setapak tidak akan tersesat.”

“Dia benar, Asri,” Rio membenarkan ucapan Edi. “Kecuali ia melihat sesuatu, sesuatu yang menarik perhatiannya untuk keluar dari jalan setapak.”

“Itu lebih berbahaya, kita harus mencarinya, Rio.” Asri meyakinkan Rio untuk pergi bersamanya mencari Devisha.

“Tunggu, aku ikut..Uhukk!!” Edi terbatuk setelah menyatakan ia akan ikut bersama Asri dan Rio untuk mencari Devisha. “Uhukk!! Uohoook!!” batuk yang dialami Edi semakin menjadi-jadi, pria itu menutupi mulutnya dengan kedua tangan sembari batuk.

“A..pa?” Wajah Edi tampak terkejut saat ia melihat tangannya yang dilumuri ludah dan darah.

“Hei, kau baik-baik saja Edi?” Rio bergegas ke arah Edi yang tiba-tiba terhuyung jatuh, beruntung Rio cukup cekatan untuk menangkap tubuh Edi sebelum ia jatuh menghantam lantai. Rio melihat ke arah Edi, wajahnya tampak pucat.

“Uhhukk!!” Edi kembali batuk, darah menyembur cukup banyak bersama batuknya, berceceran di lantai dapur dan sebagian menempel di punggung kemeja yang dikenakan Rio. Nafas Edi terdengar memburu lemah.

“Apa yang terjadi dengannya?” Asri terlihat panik.

“Bahan makanan dan minuman kita…” Rio memandang ke tumis buncis yang tersaji di piring. “Ada yang meracuni bahan makanan dan minuman kita. Bantu aku membawanya ke kamar.”

Asri mengangguk setuju. Rio memapah tubuh Edi dan membawanya naik ke lantai dua, Edi beberapa kali batuk saat Rio memapahnya. Darah ikut menyembur setiap kali Edi batuk. Rio berusaha membuka kamar Edi, namun terkunci. Rio berusaha merogoh ke saku celana Edi, mencari kunci kamar. Tangannya menemukan kunci kamar yang ditempati Edi, namun itu bukan satu-satunya yang ada di saku celana pemuda yang jago memasak tersebut. Secarik kertas berlogo Tri Brata ikut tertarik jatuh saat Rio menarik keluar kunci kamar.

“Itu?” Asri memandang ke arah kertas yang terjatuh dari saku celana Edi.

“Kita akan mengurus kertas itu nanti. Ayo kita baringkan Edi di tempat tidur,” ujar Rio menimpali pandangan Asri.

*_*_*​

Beberapa jam sebelumnya,

Devisha mendengus, raut wajahnya menampakkan rasa kesal yang cukup tinggi. Bagaimana ia bisa terima saat Edi menyebut Nurul, pasangannya yang tengah hilang, sebagai penggoda kaum lelaki yang bisanya hanya memanfaatkan kaum lelaki dengan kecantikannya. Devisha berjalan menyusuri jalan setapak untuk kembali ke mansion sambil memegangi telapak tangannya yang memerah karena telah menampar pipi Edi.

“Laki-laki sialan,” Devisha masih mengumpat, kesalnya pada Edi masih belum juga hilang. Gadis itu menghentikan langkahnya saat melihat sesuatu melambai di antara pepohonan. Devisha memicingkan matanya, detik berikutnya ia tampak terkejut karena mengenali sesuatu yang melambai sebagai robekan kain pakaian yang tersangkut di ranting pohon. Devisha berlari mendekati kain tersebut. Alangkah terkejutnya ia saat menyadari bahwa corak kain tersebut sama persis dengan baju tidur yang dikenakan oleh Nurul semalam. Devisha memandang ke sekelilingnya, mencoba menemukan petunjuk yang lain, pandangan matanya melihat secarik kain lain yang tersangkut di ranting pohon beberapa meter dari dirinya. Gadis itu melangkah ke arah kain tersebut, menginjak rerumputan yang berbaur dengan tumpukan daun-daun kering.

SRAAAAAK……

“Aaah!!” Devisha menjerit saat pijakan kakinya hilang, tubuhnya meluncur jatuh ke dalam lubang yang cukup dalam. Gadis itu dapat merasakan sendi pergelangan kakinya terkilir saat ia mendarat cukup keras ke dasar lubang tersebut.

“Uuh…” Devisha merintih, lengan gadis itu lecet akibat gesekan dengan tanah dan akar pohon yang keluar dari dinding-dinding lubang tersebut. Ia memandang ke atas, lubang itu mungkin hanya sedalam tiga meter. Tampak akar-akar pohon menembus tanah yang menjadi dinding-dinding lubang tersebut.

Setelah mengatur nafasnya Devisha beranjak bangkit, namun gadis itu sedikit kesulitan karena kakinya yang terkilir. Nyeri di kakinya memaksa gadis itu untuk berjongkok memegangi mata kakinya, meringis menahan nyeri di mata kakinya. Gadis itu merintih pelan sebelum akhirnya kembali berusaha untuk berdiri, tangannya menumpu ke dinding-dinding lubang tersebut, dengan terpincang-pincang, gadis itu meraih akar pohon yang terdekat, setelah memastikan akar tersebut cukup kuat, ia menarik tubuhnya ke atas dengan susah payah.

SRAAAKK!!

Tubuh gadis itu kembali meluncur ke bawah saat ia baru mencapai setengah dari kedalaman lubang. Kali ini ia mendarat dengan punggung lebih dulu, kepala gadis itu terantuk sebongkah batu di dasar lubang. Gadis itu sempat meringkuk merasakan nyeri di punggungnya sebelum pandangan matanya memudar. Ia dapat melihat bayangan seseorang berdiri di bibir lubang sebelum kesadarannya benar-benar hilang.

*_*_*​

Rasa lembab di wajah mengembalikan kesadaran Devisha. Gadis itu dapat merasakan sentuhan kain basah mengusap wajahnya. Devisha dapat merasakan seseorang membasuh wajahnya dengan sebuah kain basah. Reflek, gadis itu menggerakkan kepalanya menghindar dari usapan-usapan di wajahnya.

Butuh waktu beberapa detik bagi Devisha untuk mengembalikan pandangannya. Kini gadis itu dapat melihat sosok yang sedang mengusap wajahnya dengan handuk putih kusam yang telah dibasahi. Sosok itu mengenakan jubah longgar berwarna abu-abu dengan hood yang menyembunyikan wajahnya. Devisha terkejut saat menyadari ia tidak lagi berbusana, lebih terkejut lagi kala gadis itu tak dapat menggerakkan tangan dan kakinya yang terikat kencang dalam posisi berdiri, membuat tubuhnya membentuk huruf X.

“Siapa kau?!” tanya Devisha setengah membentak sosok berjubah di hadapannya.

Sosok itu diam tak menjawab, usapannya kini turun ke leher Devisha. Memberikan rasa geli kala bulir-bulir air itu merambat pelan turun dari leher ke dadanya. Gerakan tangan sosok berjubah itu terus turun higga ke lingkar bagian atas dadanya, memijat-mijat buah dada kenyal yang tampak kencang menggoda itu dengan gemas.

“Ah!” Devisha memekik kecil, badannya sedikit menggelinjang kala usapan handuk basah itu sampai di putingnya. Memberikan rasa geli yang menyengat. Devisha dapat mendengar tarikan nafas sosok berjubah itu.

“Siapa kau? Apa yang kau lakukan??” tanya Devisha.

Sosok berjubah itu menghentikan kegiatannya. Nafasnya terdengar memburu, seolah tengah menahan sesuatu dalam dirinya. Sosok itu melempar handuk basah di tangannya ke lantai lalu bergerak menjauh, mengambil sebuah kain berwarna biru tua di atas meja lalu mendekat ke arah Devisha yang kini tampak gusar.

“Hey!! Apa-apan ini!!” Devisha berontak saat sosok itu membelitkan kain biru tua itu ke kepalanya, menutupi pandangan matanya. “Lepaskan!! Siapa kamu bajingan!!” Devisha memaki, gadis itu dapat merasakan ikatan di belakang kepalanya ditarik kencang hingga ia tidak dapat melihat apapun lagi. Hanya gelap dan suara tarikan nafas sosok berjubah itu yang terdengar semakin berat.

“Diamlah,” ujar sosok berjubah tersebut.

Devisha menghentikan rontaan sia-sianya kala gadis itu mendengar dan mengenali suara tersebut.

“Nurul??” ujar Devisha.

Tidak ada jawaban, sosok berjubah itu diam dan mundur selangkah. Berhenti sejenak menghadap ke arah Devisha yang kini tak dapat melihatnya, seolah sedang mengamati gadis telanjang yang kini terikat tak berdaya.

“Nurul? Kaukah it.. ahh…” Kalimat Devisha terpotong oleh desahannya sendiri kala ia merasakan sesuatu yang basah, hangat dan terasa kesat menyentuh dan bergerak-gerak di pusarnya. Menimbulkan rasa geli di perutnya. Devisha tak perlu melihat untuk tau apa benda hangat yang tengah mengusap perutnya, ia tahu betul bagaimana rasanya saat seseorang menjilat tubuhnya.

Sosok berjubah itu memainan lidahnya melingkari pusar gadis cantik yang terikat telanjang di depannya. Lidah itu semakin turun hingga menyentuh bagian kewanitaan Devisha. Membuat tubuh Devisha menggelinjang merasakan rasa geli yang menyengat. Rasa itu semakin kuat kala sosok berjubah itu menggerakkan lidahnya menyusuri garis kemaluan Devisha.

Lidah itu perlahan bergerak pelan membelah bibir kewanitaan Devisha, bergerak dan terus merangsek masuk dengan perlahan. Membuat Devisha semakin menggelinjang.

“Ah…” satu desahan terlepas dari bibir Devisha yang kini sedikit terbuka akibat rangsangan di kewanitaannya. Mendengar desahan tersebut, sosok berjubah itu menarik lidahnya, berdiri dan berbalik ke arah meja yang berisi gulungan kain.

“Mmpphh!!” teriakan protes Devisha tertahan saat sosok berjubah itu menyumpal mulutnya dengan segumpal kain. Detik berikutnya, pandangannya kembali setelah kain yang menutup matanya dilepaskan.

Devisha memandang ke arah sosok berjubah abu-abu yang diam di hadapannya. “Nurul? Apa yang terjadi?” tanya Devisha heran. Ia yakin benar bahwa suara yang didengarnya tadi adalah suara Nurul.

Sosok itu menggeleng sebelum menjawab dengan nada setengah berbisik. “Tidak…” ujar sosok berjubah itu. “Tidak apa-apa,” bisiknya lagi seraya berbalik dan melangkah menuju meja besar di sudut ruangan.

Mata Devisha mendelik ketika melihat apa yang kini ada di tangan sosok berjubah itu, sebuah pisau kecil berwarna perak. Kilau pisau kecil yang disebut scalpel itu menunjukkan ketajaman yang dimilikinya. Devisha berusaha meronta saat sosok berjubah itu menyentuh payudaranya. Devisha menggumam tidak jelas dan menggeleng-geleng saat ia merasakan ujung dingin scalpel sedikit menusuk kulit payudaranya.

Dan satu dorongan kecil mengawali rasa sakit yang dilukiskan dari jerit tertahan gadis itu.

*_*_*​

Devisha menangis tersedu dan terisak menahan rasa sakit yang begitu hebat kala sosok berjubah itu meremas-remas payudaranya yang kini hanya tampak bagai tonjolan merah, basah tanpa kulit yang menutupinya. Rasa sakit itu sungguh luar biasa, gadis itu memejamkan matanya, mengharap kematian segera menjemputnya. Devisha benar-benar tidak menyangka bahwa akan datang saat seperti ini dalam hidupnya. Saat dimana ia sangat menginginkan kematian untuk menggantikan rasa sakit yang kini menyiksanya.

Sosok berjubah itu menarik kedua tangannya, sarung tangan yang dikenakannya kini dilumuri oleh darah. Sosok itu beranjak pergi, mengambil segelas air dan menyiramkannya ke wajah Devisha. Tampaknya sosok berjubah itu ingin agar Devisha tetap sadar saat ia bermain-main dengan tubuhnya.

Isak sedu Devisha tampaknya tak sedikitpun menyenggol rasa iba dari sosok berjubah tersebut. Sosok itu kini kembali ke meja yang berisi deretan senjata tajam. Devisha sudah terlalu lemah saat ia melihat sosok itu kembali membawa sebuah alat pemotong keramik elektrik dengan pisau bundar yang bergerigi kecil. Sosok itu menancapkan saklar dan menyalakan tile cutter tersebut.

Zzzingg….

Devisha memejamkan matanya saat ia mendengar deru tile cutter yang dinyalakan. Suara deru itu terdengar semakin dekat. Memberikan rasa ngeri di setiap desingannya. Devisha semakin tersedu, mengharap rasa iba dari sang sosok berjubah yang kini menyiksanya meski ia tahu, rasa iba itu takkan pernah datang.

“Mmpphhh!!! Mmmmhhh!!”

Jeritan Devisha berbaur dengan deru mesin tile cutter yang kini memberikan rasa sakit luar biasa pada kewanitaannya. Pisau bundar bergerigi tile cutter itu berputar cepat, memotong klitorisnya, membongkar liang kewanitaannya. Nafas sosok berjubah itu semakin memburu, melihat darah yang bercipratan. Bersama dengan potongan-potongan kecil daging kewanitaan Devisha yang terlempar tidak beraturan ke lantai, dinding dan jubahnya.

*_*_*​

“Sang pemberi yang tak bisa menerima,” Asri membaca apa yang tertulis di kertas berlambang Tri Brata yang jatuh dari saku Edi. Gadis itu diam dan berpikir sejenak, sebelum akhirnya tersenyum. Ya, tampak jelas bahwa gadis itu telah mengerti apa yang dimaksud oleh petunjuk kali ini. Asri menoleh ke arah Rio yang tampak sibuk membuka kemeja yang dikenakan Edi. Tampaknya Rio telah lupa tentang kertas petunjuk tersebut. Asri meremas kertas itu dan memasukkannya ke dalam saku celananya.

“Kau akan baik-baik saja, aku akan mencari obat, pasti ada obat di bahan perlengkapan kita,” Rio mencoba menenangkan Edi. Edi sudah tak lagi batuk, namun darah masih keluar dari sudut bibir Edi. Berkali-kali Rio memeriksa nadi di leher Edi untuk memastikan mantan chef assistant di restoran Italia itu masih hidup.

“Aku akan mencari obat-obatan di perbekalan kita. Kau jaga Edi di sini,” Rio memberi instruksi pada Asri.

“Aku ikut denganmu,” Asri menolak untuk tinggal di kamar Edi.

Rio memandang ke arah Edi dan beralih ke arah Asri untuk beberapa saat.

“Dua orang lebih cepat mencari dibanding satu orang kan?” Asri berkata, mencoba meyakinkan agar Rio mengijinkannya ikut mencari obat.

“Baiklah,” Rio bergegas meninggalkan kamar, menuju ke arah dapur, tempat perbekalan mereka disimpan. Baru saja Rio menuruni tangga, pintu mansion terbuka lebar, tampak Enyas dan Via memasuki mansion.

“Kemana Aryosh?” tanya Rio kepada Enyas. “Seharusnya kalian bersamanya.”

“Saat berada di air terjun ia merasa mendengar sesuatu dari arah hutan, dia bilang dia mendengar jeritan seorang wanita. Ia pergi memeriksanya dan tidak kunjung kembali, kami pikir Aryosh telah kembali lebih dulu ke mansion,” jawab Enyas.

“Bagus!” ujar Rio. “Setelah Devisha kini Aryosh yang hilang.”

“Hilang? Ada apa sebenarnya, Rio?” Via tampak khawatir.

“Edi dan Devisha terpisah, Devisha belum juga kembali dan seseorang meracuni bahan makanan kita,” Asri menjawab pertanyaan Via.

“Racun?” Enyas dan Via bertanya nyaris bersamaan.

“Edi mencicipi masakannya dan kini terbaring, darah terus keluar dari mulutnya. Kalian harus membantuku, pasti ada obat di perbekalan kita,” Rio meminta bantuan Enyas dan Via untuk mencari obat di antara perbekalan mereka.

“Bagaimana dengan Nurul? Ada tanda-tanda tentangnya?” Via bertanya lagi.

Asri menggeleng lemah. “Negative,” ujar gadis berkulit eksotis tersebut. “Sekarang Devisha dan Aryosh juga hilang.”

“Siapa yang hilang?” suara berat Aryosh terdengar dari arah pintu. Tampak Aryosh memasuki mansion dan keheranan melihat ekspresi panik di wajah rekan-rekannya. “Apa yang terjadi? Kenapa kalian memandangku seperti itu?”

“Aku akan melihat kondisi Edi,” Enyas bergegas menuju ke tangga.

Langkah kaki Enyas tertahan saat ia melihat sesuatu berdiri di atas tangga. Seorang wanita bergaun putih dengan rambut tebal terurai tampak menatap ke arahnya. Wanita itu diam, dan Enyas tak dapat menahan perasaan dingin yang seketika itu menjalari tengkuknya. Enyas menoleh ke arah dapur dan melihat sesosok hantu wanita yang lain tengah berdiri menatapnya.

“Hihihihi…”

Tawa melengking terdengar tepat dari belakang Enyas. Enyas tidak menoleh ke belakang, ia cukup tahu apa yang saat ini mungkin berada sangat dekat dengan dirinya. Enyas bergidik, ia dapat merasakan peluh yang tiba-tiba saja muncul di dahinya akibat rasa bergidik yang mengerikan itu. Enyas memejamkan matanya, mencoba mengatur nafasnya, mengembalikan ketenangannya. Setelah dirasa cukup, detektif muda itu kembali membuka matanya.

“Aaah!!” Enyas menjerit dan bergerak ke belakang saat menemukan sosok wanita berambut tebal yang tadi menatapnya dari arah tangga sudah berada sangat dekat di depannya. Enyas mundur beberapa langkah hingga ia dapat merasakan tubuhnya sedikit tersengat kala ia menembus sosok wanita lain yang ada di belakangnya.

“Mainkan…” bisik salah satu dari hantu wanita itu.

“Mainkaaan…” terdengar bisikan kering dari hantu wanita yang lain.

“Mainkaaan…”

“Kau tidak apa-apa Enyas?” Rio menepuk pundak Enyas, membuat Enyas terkejut setengah mati. Enyas menoleh ke arah Rio dengan gerakan yang cepat, menunjukkan bahwa tepukan kecil Rio sangat mengejutkannya. Saat itulah Rio menyadari apa yang sedang terjadi pada diri Enyas.

“Mereka disini?” tanya Rio. “Apa Enyas? Apa yang mereka katakan?”

“M…Ma… mainkan…” ujar Enyas terbata-bata, ia masih belum bisa mengendalikan ketakutannya.

“Mainkan? Apa yang dimainkan?” Rio terus bertanya sedang Asri, Via dan Aryosh hanya bisa memandang heran ke arah mereka berdua.

Enyas mengangkat jarinya perlahan, menunjuk ke arah piano merah di tengah ruangan.

“Mainkan pianonya?” Rio melangkah ke arah piano merah di tengah ruangan dan membuka penutup tuts piano yang dilapisi debu. Rio mengangkat jarinya dan memandang heran ke tuts-tuts tersebut. “Apa yang harus aku mainkan, Enyas?”

“Sebenarnya apa yang kalian lakukan?” Aryosh bertanya dengan suara beratnya.

“Tuts yang dimainkan semalam…” gumam Rio. “Tuts mana yang dimainkan semalam?”

“Do-Mi-Sol-Do-Mi-Sol,” jawab Asri.

Rio menoleh ke arah Asri. “Bagaimana kau bisa tahu?”

“Apa kau pikir aku akan ada di sini jika aku tidak punya kelebihan?” Asri menjawab pertanyaan Rio yang meragukan daya ingatnya. “Mungkin tidak istimewa, tapi sebagian besar keluargaku adalah pemusik.”

Rio mengamati tuts di depannya sebelum meletakkan jarinya ke atas tuts, dan mulai memainkannya.

Deng…deng…deng…

Rio memainkan nada Do-Mi-Sol sesuai arahan dari Asri.

Deng…deng…deng…

Enyas bergidik, wanita-wanita bergaun putih menoleh ke arah piano, tangan mereka terangkat perlahan dan menunjuk ke arah piano merah tersebut.

Kilasan cahaya menembus jendela di ruang makan, menembus hingga ke lobby dan lalu hilang sebelum kembali muncul. Via dan Aryosh melihat ke sumber cahaya dan menemukan bahwa cahaya itu berasal dari lampu suar mercusuar yang entah mengapa, kini menyala dan berputar.

“Nada itu membuat lampu mercusuar menyala,” gumam Asri.

Kreek…kreek…

Suara derik muncul entah darimana, Rio merasakan tubuhnya sedikit terguncang. Suara derik itu semakin terdengar jelas saat Rio menyadari piano merah itu bergetar kuat. Membuat seisi ruangan terkejut dan tenggelam dalam kebingungan masing-masing.

*_*_*​

Bersambung