Sin Island Part 1

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Tamat

Cerita Sex Dewasa Sin Island Part 1 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sex Dewasa Sin Island Part 1

KEBERANGKATAN​

Nurul mencoba mengatur nafasnya yang kini memburu tak beraturan, sekujur tubuhnya masih merinding ketakutan atas apa yang baru saja ia alami beberapa menit yang lalu. Jari-jari lentik gadis cantik itu masih tampak sedikit gemetar meski tadi rekan-rekannya yang lain telah berusaha menenangkannya.

Sebenarnya ia tidak ingin berada sendirian di kamar yang menakutkan ini, namun ia tidak punya pilihan lain, instruksi yang diberikan dalam pelatihan kali ini jelas-jelas mengharuskan mereka untuk tidur di kamar mereka masing-masing. Nurul kini hanya bisa meringkuk bersembunyi di balik selimut berwarna merah darah yang memang disediakan di masing-masing kamar.

Sejatinya Nurul ingin segera terlelap, namun setiap ia memejamkan mata ia terbayang tentang kejadian menakutkan yang baru beberapa menit lalu dialaminya. Nurul menutupi seluruh tubuh bahkan kepalanya menggunakan selimut. Berharap kantuk segera membawanya terlelap dan pagi lekas tiba.

Namun suara derik itu terdengar lagi, diikuti dengan bisikan yang terdengar serak dan kering. Nurul makin meringkuk, memejamkan kedua matanya rapat-rapat, berharap agar bisikan-bisikan yang disebut sebagai suara angin oleh rekan-rekannya menghilang.

Sayang bagi gadis itu, bisikan itu tidak menghilang. Alih-alih menghilang, bisikan itu malah terdengar semakin dekat dan dekat sebelum akhirnya Nurul dapat dengan jelas mendengar apa yang disebutkan dalam bisikan tersebut.

Nurul, ujar suara serak dan kering tersebut.

*_*_*​

Jarum-jarum jam di arloji Swiss Army berwarna hitam yang dikenakan Edi menunjukkan pukul tujuh lewat lima belas menit saat ia turun dari mobil bersama enam orang rekannya yang lain. Angin di dermaga kecil itu bertiup cukup kencang. Di atas mereka, langit cerah membentang dengan bintang-bintang yang bertabur indah dan bulan purnama bulat sempurna menghiasi sang langit.

Masih ada empat puluh lima menit lagi, gumam Asri, gadis manis berkulit eksotik itu mengibaskan rambut panjangnya, T-shirt merah jambu yang dikenakannya sedikit kontras dengan warna kulitnya.

Lebih baik daripada terlambat bukan? ujar Letnan Kolonel Satria, orang yang bertugas mengantarkan mereka ke dermaga tersebut. Ini nama kapal kalian, pastikan kalian sudah ada di atas kapal itu sebelum jam delapan pagi atau kalian akan ditinggalkan, Letkol Satria menyodorkan secarik kertas pada masing-masing dari tujuh orang tersebut.

Apa ini? Edi keheranan melihat kertas yang diterimanya. Kertas itu tidak berisi tulisan, melainkan sebuah kombinasi angka. Edi menoleh ke arah rekan-rekannya yang juga tampak kebingungan. Hanya ada satu orang yang tampak santai dan tampak tidak terkejut dengan isi kertas yang diterimanya. Orang itu adalah Ellyas Enyas, seorang pemuda lulusan akademi kepolisian Balikpapan.

Ini Enkripsi, jawab Enyas santai sambil membakar rokoknya.

Kau bisa menerjemahkannya? Enyas? Via bertanya, rambut sebahunya tampak tertata rapi. Via membaca deretan angka dan tanda yang tertulis pada kertas di tangannya.

11/10/12/412/10/9/8​

Enyas diam sejenak, semua mata tertuju padanya.

Ya, kurasa tugasku cukup sampai disini, LetKol Satria memecah keheningan yang ada sambil beranjak ke arah mobilnya. Semoga sukses dengan latihan kalian.

Terima kasih banyak komandan, Nurul, gadis tercantik diantara tiga gadis lain yang juga ikut dalam rombongan mereka mengucapkan terima kasih sembari tersenyum ramah. Selain cantik Nurul juga terlihat lebih sopan diantara gadis lainnya.

Jangan buat skandal lagi, Nur, Devisha, gadis yang cukup akrab dengan Nurul dengan sengaja menyenggol lengan Nurul dengan sikutnya. Kau tidak ingin membuat Letkol Satria jadi korban kecantikanmu kan?.

Yee, itu kan bukan salahku, Nurul mencibir.

Empat puluh persen dari itu adalah salahmu, Aryosh menimpali, perawakan Aryosh terlihat cukup menakutkan, badannya tegap, tinggi sekitar 186 cm dengan otot-otot lengan yang cukup terlatih. Aryosh mungkin lebih cocok sebagai binaragawan daripada detektif atau polisi.

Tiga pemuda dan empat gadis yang ada di dermaga itu, Enyas, Edi, Aryosh, Nurul, Via, Devisha dan Asri adalah tujuh orang yang berhasil lolos dalam uji kompetensi sebagai detektif khusus kepolisian. Mereka telah mengalahkan ratusan pemuda-pemudi lainnya.

Dan saat ini mereka tengah dikumpulkan dalam rangka latihan awal guna meningkatkan kemampuan mereka. Kode rahasia berbentuk enkripsi yang baru saja mereka terima adalah bukti bahwa kapabilitas mereka sebagai detektif baru kepolisian yang muda dan berbakat sedang diuji.

Tiba-tiba saja perhatian teralih saat Enyas melangkah ke sebuah arah tanpa bicara sepatah katapun, membuat keenam rekannya memandang heran ke arahnya.

Hei! Enyas! Edi berseru memanggil. Enyas berhenti dan menoleh ke arahnya.

Mau kemana? Kau sudah memecahkan enkripsi itu? tanya Edi.

Enyas tersenyum, wajahnya tampak heran. Sudah jelas kan? Kalian tidak bisa memecahkannya? Kita tidak boleh terlambat kan? Enyas menjawab, raut wajahnya tampak seperti orang yang keheranan, heran karena rekan-rekannya belum bisa menemukan jawaban atas enkripsi yang dibagikan tadi.

Kau benar, Enyas, Asri berjalan mendekat ke arah Enyas. Ini cukup mudah, ujar gadis itu sambil menatap rekan-rekannya yang lain. Sebuah tatapan yang menggoda.

Kalian bisa mengikutiku kalau kalian mau, ujar Enyas. Tapi aku tidak menjamin apa mereka mengijinkan kalian naik jika kalian tidak bisa memecahkan enkripsi tersebut.

Sial! Edi mengumpat. Kau selalu menggodaku, setidaknya beri kami petunjuk! Edi meminta petunjuk dari Asri dan Enyas. Via, Nurul dan Devisha yang belum berhasil memecahkan sandi rahasia itu juga ikut meminta petunjuk.

Enkripsi adalah permainan mengkonversi angka menjadi huruf, mendadak Aryosh bicara dengan suara beratnya yang cukup mengejutkan. Kalian bahkan tidak mencoba, ujarnya sambil bergabung dengan Enyas dan Asri, tanda bahwa ia telah memecahkan kode rahasia tersebut.

Oke, Via mengambil pena dari tas tangannya. Sebelas, gumamnya. Huruf ke-sebelas dalam alfabet adalah huruf K, gadis itu menuliskan huruf K di kertasnya.

Melihat apa yang dilakukan Via, empat lainnya segera melakukan hal yang sama.

KJLD-LJIH, Edi membaca hasil konversinya. Apa maksudnya itu?.

Kau pikir akan semudah itu? Aryosh mengomentari. Kalau cuma sederhana seperti itu sih kurasa anak SD juga bisa.

Tiga puluh menit lagi, Enyas, Asri mengingatkan. Kurasa sebaiknya kita segera naik ke kapal.

Enyas melirik arlojinya. Kau benar, jawabnya kemudian sambil berbalik.

Hey! Beri kami petunjuk lagi raut wajah Edi sudah terlihat cukup panik, demikian juga dengan Nurul yang cantik. Kulit putih gadis itu tampak memucat karena panik. Enyas dan Asri tampak melenggang tanpa menghiraukan.

Bukan dua puluh enam, Aryosh berkata datar, suaranya cukup mengejutkan. Dua belas, bukan dua puluh enam, ujarnya sambil berbalik mengikuti Enyas dan Asri.

Dua belas bukan dua puluh enam? Edi mengulang petunjuk yang diberikan Aryosh, wajahnya tampak semakin bingung.

Dua puluh enam adalah jumlah dari alfabet, ujar Via sambil berpikir.

Berarti bukan alfabet, kita harus menemukan sesuatu yang terkait dengan huruf dan jumlahnya hanya dua belas Devisha mencoba memecahkan petunjuk dari Aryosh. Apa yang hanya dua belas? Lusin? Satu lusin? Selusin? Bulan?

BULAN!! seru Via, Devisha dan Nurul bersamaan, Edi hanya bengong melihat ketiga gadis itu.

Bulan ke-11, November, kita ambil huruf depannya yaitu N, Via mulai menganalisa.

Berikutnya bulan ke-10, Oktober, berarti O, Devisha menambahkan.

ke-12 itu Desember berarti D, Nurul kini mulai ikut menganalisa.

N-O-D-A-D-O-S-A Edi menyelesaikan susunan enkripsinya berdasarkan petunjuk dari Aryosh yang telah dipecahkan oleh Via dan Devisha. Aku rasa itu nama kapal kita, Edi tampak sumringah, wajahnya kini mirip dengan orang yang baru saja lolos dari maut.

Ayo, waktu kita tidak banyak, Via bergegas.

*_*_*​

Sampai juga kalian, ledek Enyas saat melihat keempat rekannya satu-persatu naik ke geladak kapal. Aku dan Asri sudah berpikir betapa tenangnya pelatihan di pulau tanpa kalian, guraunya lagi.

Sebaiknya kalian tunda dulu bulan madu kalian, Via menjawab sebal. Ngomong-ngomong, bagaimana kalian bisa langsung tahu cara memecahkan enkripsi itu?

Siapa bilang kami langsung tahu? jawab Asri sambil meminum sebotol air mineral di tangannya. Kami hanya langsung berusaha mencari jawaban, bukannya mengeluh dan membiarkan rasa bingung menguasai.

Apalagi sampai mengemis-ngemis minta bantuan, Aryosh berkata singkat. Edi tampak tersinggung dengan sindiran Aryosh. Sayang, tampaknya dia lebih takut dengan sosok Aryosh yang jelas-jelas terlihat jauh lebih garang darinya.

Jadi detektif itu harus tenang dulu, kan? Itu kan yang diajarkan Inspektur Ipus saat uji seleksi dulu? Enyas mengingatkan rekan-rekannya.

Bagaimana rasanya jadi orang pertama yang naik ke kapal ini? tanya Edi dengan maksud menyindir.

Sayang sekali aku bukan yang pertama, jawab Enyas ringan.

Jadi Asri yang lebih dulu naik? Atau Aryosh? Edi menoleh ke Asri dan Aryosh, keduanya menggeleng.

Dia detektif pertama yang naik ke kapal ini, ujar Enyas sambil menunjuk ke beranda samping kapal. Sepertinya dia juga akan mengikuti pelatihan ini.

Edi menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Enyas. Seorang pemuda seumuran mereka tampak memandang ke laut lepas yang gelap di hadapannya, sesekali asap rokok berwarna putih muncul dari bibir pemuda tersebut.

Siapa dia? tanya Devisha.

Anak emas, nada bicara Asri menunjukkan kekurang-sukaannya kepada pemuda yang tengah mereka bicarakan. Kalian mungkin tidak pernah bertemu dengannya, dia mendapatkan jalur khusus dalam seleksi detektif kepolisian. Aku cukup sering melihatnya di kantor polisi pusat.

Memangnya siapa sih? kali ini Nurul yang bertanya.

Anak angkat Kapolri Komang Mahendra Asri menjawab. Namanya Rio.

Untuk beberapa saat semua mata memandang ke arah Rio. Rio sendiri bukannya tidak sadar bahwa saat ini ia jadi sorotan. Rio berusaha untuk tetap cuek dengan apapun yang tengah dibicarakan ketujuh orang yang akan menjadi rekannya dalam pelatihan kali ini. Baginya, pelatihan ini cukup penting, karena ia ingin menjadi detektif seperti apa yang disarankan oleh ayah angkatnya, Komang Mahendra yang saat ini menjabat sebagai Kepala Polisi Republik Indonesia.

Hai, aku Ellyas Enyas, Enyas membuyarkan ketenangan Rio. Pemuda itu menyodorkan tangannya, mengajak Rio untuk berjabat tangan. Rio tersenyum dan menerima jabatan tangan Enyas.

Rio, ujarnya singkat.

Jalur khusus dari uji seleksi kan? Aku dengar kau mendapatkan jalur khusus karena berhasil membantu kepolisian memecahkan kasus pembunuhan tingkat dua? Enyas membuka pembicaraan.

Itu kasus dua tahun yang lalu, Rio menghisap rokoknya dan menghembuskan asapnya ke angkasa. Waktu itu aku masih kelas dua SMU.

Luar biasa, pantas saja mereka memberimu jalur khusus…

orang berpikir aku adalah anak emas karena mendapatkan jalur khusus, sebagian berpikir aku istimewa, sebagian lain menganggap itu semua karena aku adalah anak angkat Kapolri. Tapi kuberi tahu kau, Ellyas… aku juga berusaha keras untuk ini. Sama seperti halnya dirimu, Rio memotong ucapan Enyas begitu saja.

Panggil aku Enyas, Enyas menjawab seraya tersenyum. Aku pikir kau pantas untuk menjadi detektif, terlepas dari siapapun dirimu, kau sudah melakukan hal yang hebat.

Kita lihat saja apa yang kau katakan itu adalah pandanganmu yang sebenarnya tentangku, Ellyas Enyas, pemuda yang mendapatkan nilai tertinggi dalam semua bidang yang diujikan pada uji seleksi. Mereka berharap cukup tinggi padamu, Rio mencoba mengejutkan Enyas dengan menyebutkan semua data yang diketahuinya tentang Enyas.

Rupanya kau mempelajariku, senyum samar terkembang di wajah Enyas, senyum yang menyiratkan rasa bangga karena telah menarik perhatian pria yang disebut-sebut sebagai detektif nomor satu masa depan di kepolisian.

If you know both yourself and your enemy, you can win numerous, ucap Rio sebelum menghisap rokoknya dalam-dalam.

Art of war Chapter 3, Sun Tzu, Enyas tersenyum mengetahui asal kutipan yang baru saja diucapkan Rio. Hohoho… kurasa ini akan jadi menarik, Enyas tertawa kecil menanggapi ucapan Rio.

Seharusnya menarik, ujar Rio sambil mengalihkan pandangannya ke laut lepas. Tahukah kau apa yang saat ini lebih menarik bagiku?

Apa?

Dari tadi aku tidak berhenti bertanya dalam hati, kenapa mereka memberi kapal ini nama NODA DOSA, gumam Rio seraya menghisap rokoknya sekali lagi.

Karena hanya kapal ini yang akan mengantarkan kalian ke pulau Dosa, suara seorang pria cukup mengejutkan mereka, Enyas dan Rio menoleh ke arah pria itu nyaris bersamaan. Pria itu mengenakan kaos polos berwarna abu-abu dan celana pendek yang tampak kumal. Dari kerut-kerut samar di wajahnya tampak pria itu berusia sekitar empat puluhan.

Dan anda adalah? Enyas memberanikan diri untuk bertanya.

Agil, jawab pria tersebut. Pemilik sekaligus kapten di kapal ini. Meski hanya kapal kecil, setidaknya aku memilikinya. Kalian sudah bertemu dengan Ganjar putraku kan? Yang tadi mempersilahkan kalian naik kemari?. Aku rasa sebentar lagi kalian akan bertemu dengan istriku, Mila. Dia sedang menyiapkan makan malam.

Pulau Dosa? Rio mengulang pernyataan yang diucapkan oleh Agil.

Aku rasa kalian akan mengetahuinya saat kalian ada di dalam kamar kalian masing-masing, jawab Pria tua tersebut.

Anda tinggal di kapal ini bersama keluarga? Enyas bertanya.

Yah, ini adalah rumahku, setidaknya itu yang tersisa setelah orang serakah bernama Billy menyita pulau dan rumahku. Membangun sebuah resort yang akhirnya hanya penuh dengan dosa dan darah, Pak Agil tampak kesal. Dan karena itu, aku, keluargaku dan istri kedua Ayahku hanya bisa tinggal di kapal ini.

Bisa beritahu kami sedikit mengenai pulau yang menjadi tujuan kita? Enyas kembali bertanya, mencoba menggali informasi lebih dalam tentang apa yang mereka hadapi kali ini.

Ah tidak, maaf, Agil menggeleng. Aku sudah terlalu banyak bicara, harusnya kalian mencari jawaban atas semua pertanyaan kalian sendiri. Bukan bertanya.

Bertanya adalah sebagian dari pekerjaan kami sebagai detektif, Rio meniupkan asap rokoknya, membumbungkannya ke langit malam yang makin gelap.

Hahaha, kalian memang suka bertanya, Agil terkekeh-kekeh mendengar ucapan Rio. Sebaiknya kalian berkumpul di ruang tengah, makan malam akan segera disajikan, ujarnya seraya berbalik pergi.

*_*_*​

Bersambung