Sahabat Suamiku

Sahabat Suamiku

Awalnya tak terpikir sama sekali kalau Peristiwa (nikmat) itu bakal terjadi. Entah atas alasan apa dan kenapa juga Teh Della mau memberikan kenikmatan seks pada laki-laki yang bukan suaminya.

Laki-laki tersebut bernama Neorman a.k.a Oman. Sahabat sang suami. Berteman sejak SMP hingga saat ini sudah dikaruniai 4 keturunan, persahabatan mereka kental kayak emmhh kayak apa yaa ?? hehehehe

Mereka sudah seperti kakak-adik. Kalau ketemu akrab sekali, ngobrol pun bisa berjam-jam, oleh karena itu Oman sering nginep, baik di rumah Orang Tua suami (waktu itu sebelum menikah, karena suami masih tinggal dengan ortunya) atau di rumah Teh Della sendiri, setelah menikah.

Teh Della mengenal sosok Oman ini sejak masih pacaran. Kalau sedang diajak main ke rumah camer, Oman selalu hadir di sana. Pembawaannya yang kocak dan tek-tok lempar jokes dengan calon suami sangat bisa mencairkan suasana. Apalagi saat itu Teh Della masih menyandang status calon menantu, kadang ada rasa grogi didirinya menghadapi keluarga calon suami. Tapi untungnya ada Oman ini, setiap kali Teh Della berkunjung, rasa grogi itu pun lambat laun mencair menjadi rasa percaya diri.

Sikap dan tingkah lakunya itu tak pernah berubah sedikit pun, ya setidaknya sampai kejadian itu. Oman selalu membaur, bahkan menjadi ice breaker kalau suasana sedang tidak asik, tapi anehnya hal tersebut berbanding terbalik ketika momen-momen tertentu, yakni kalau hanya ada Teh Della dan Oman saja.

Oman menjadi kikuk, grogi, dan canggung. Waktu sebelum nikah sih masih belum kerasa, makin menjadi beda setelah nikah, jika Oman main ke rumah teh Della, dan ada momen suaminya ada keperluan yang harus meninggalkan mereka berdua maka Oman akan canggung secanggung-canggungnya.

Teh Della pun paham dengan sikapnya itu tapi ya masa perempuan yang ambil aksi duluan. Seiring waktu bejalan biar saja jawaban itu muncul sendiri, pikirnya saat itu.

Teh Della dan Suami saat itu baru mmpunyai 3 anak, Oman sama sekali tidak berubah. Masih sama ketika Teh Della pacaran dan awal-awal berumah tangga. Oman masih sering menginap, ikut mengajak dan menemani main anak-anak Teh Della. Kadang Oman menawarkan jasa supir kalau-kalau keluarga teh Della pergi berlibur. “gaperlu dibayar” katanya, cukup makan aja sama rokok.

Memang begitulah Oman, baik, sopan, lucu, dan menggemaskan. Teh Della jadi gregetan kalau ingat kikuknya.

Kebaikannya itu bukan tanpa sebab sih sebenernya, yaa lebih ke hubungan simbiosis mutualisme, saling merasa diuntungkan. Oman sering meminjam uang ke temannya itu, walaupun jumlah ga pernah besar, jadi ketika dia menawarkan bantuan, dia bersedia tanpa bayaran. Sekali lagi itu membuat Teh Della kagum.

Oman bisa begitu karena saat itu dia belum bekerja, jadi ada banyak waktu yang bisa di gunakan.

Saking sopannya Oman ini, kalau dia mau berkunjung ke rumah, sekedar main ato nginep. Komunikasinya pasti dengan suami, ga pernah sekalipun kontak Teh Della untuk berbasa-basi atau meminta ijin. Jadi kadang ada kalanya ketika Teh Della pulang dari kantor, setibanya dirumah yang menyambutnya ya Oman ini. Kejadian seperti itu yang membuat sangat gemas, karena hanya akan ada anak-anak, pembantu dan mereka berdua. Yang lain masa bodo, Oman dan teh Della akan seru dalam momen canggung.

Pernah sekali waktu, teh Della sedang menyiapakan makan untuk anak-anak di dapur, ketika makanan siap disajikan, Oman yang saat itu sedang di sana juga mau ke dapur untuk minum. Mereka papasan tepat dimulut pintu dapur, Oman dengan sopan memunggungkan badanya, tapi waktu yang mepet, Teh Della dengan mengangkat piring makanan melawati pintu dapur.

Secara otomatis tubuh mereka bertemu, lebih tepatnya bergesekkan. Toket Teh Della yang berukuran sedang menyapu punggung Oman. Sekejap Teh Della menangkap raut muka merah malu dari wajah Oman. Teh Della menggigit bibir karena rasa gemasnya sambil berlalu menuju ruang tengah dimana anak-anaknya menunggu makanannya.

Pernah juga suatu sore Teh Della turun dari lantai dua rumahnya pake baju ketat ( kebiasaan Teh Della kalau pergi2 jauh dari rumah pasti pake baju ketat abis itu didouble sama hijab dan baju gamisnya), Oman yang sedang asik main hp seketika melongo melihat kedatangan Teh Della sampe bengong, Ketika ditegor baru sadar dia dan gelagapan jawabnya, dalam hati Teh Della tertawa, “sumpah lucu abis ini orang”.

Kejadian-kejadian seperti itu bukan sekali-duakali saja. Semakin sering terjadi semakin penasaran dan timbul juga rasa iseng dari Teh Della, ya walaupun ga tau gimana mengaturnya.

Tapi ada satu waktu, hari jumat saat itu, Teh Della pulang kantor lebih awal dari biasanya. Sesampainya di rumah, Oman sedang menghembuskan asap rokoknya dalam lamunan yang dalam, sampai-sampai kedatangan Teh Della pun ga Oman sadari.

“man, heh! ngapain disitu? Masuk atuh ke dalam” seru Teh Della

Oman ini bukannya ga dibolehin masuk sebenernya. sama pembantu disuruh masuk tapi ga tau lah orangnya sopan banget. Dia lebih milih di luar kecuali dia haus baru dia masuk ambil air sendiri, atau pas dia sholat

“eh, baru pulang Dell? Iya iyaa..” tanpa berdiri Oman menjawab ajakann Della untuk masuk

“ngelamunin apa sih? Aku dateng aja sampe ga sadar gitu” sembari ia lepaskan sepatu hillsnya

“ahhh eng.. engga enggaa hehehe”

“yauda aku masuk duluan ya, capek”

“ii iya..iya Dell”

Sekitar pukul 5 sore Teh Della turun dari kamarnya. Sambil duduk di meja makan, dia perhatikan anak-anaknya yang sedang bermain Playstations. Oman terburu-buru masuk, sambil sedikit berlari.

“misi ya, kebelet”

Lucu melihat orang itu bertingkah demikian, gumam Teh Della dalam hati.
Beberapa menit kemudian Oman keluar kamar mandi, dengan rambut basah.

“misi ya, mau shalat”

Oman pun shalat di tempat yang sudah disediakan. Setelah selasai Oman keluar kamar, teh Della masih belum beranjak dari kursinya.

“si Aa pulang jam brapa Dell?” dengan kikuknya Oman nanya basa-basi

“hm? Gatau man, bentar lagi mungkin” ada nada menggoda dari kalimat Teh Della

“ohhh” balas Oman

“ehh, mau kemana, sini duduk dulu? Ngapain sih diluar mulu?” Teh Della mencegah Oman untuk keluar

Saat itu Teh Della sudah melepas hijab dan gamis karena sering ketemu dengan Oman ya pikirknya santai aja. Tapi ternyata dia masih juga grogi, ngomongnya jadi banyak gagapnya. Tapi itu yang membuat Teh Della kesenengan, liat cowo malu-malu kayak gitu, makin Teh Della berani untuk menggoda. Tapi bukan menggoda yang gimana-gimana, cuma memposisikan tangan menyilang dibawah toked biar makin keangkat dan yaa bisa ditebak, ekspresi Oman makin blingsatan, Teh Dilla cuek aja karena tau Oman ga bakalan berani ngapa2in.

“kenapa man?”

“emmh gapapa Dell hehe” sambil garuk2 kepala

Adzan magrib berkumandang bersamaan dengan deru mesin mobil suami Teh Della yang memasuki garasi rumah.

Setelah makan malam selesai, teh Della ikut nimbrung dengan suaminya dan Oman di teras rumah. Biasa laki-laki wes mangan ora ngudud, kan aseemm. Hanya sekitar 15 menit Teh Della disana. Karena ga enak dengan suaminya, sebab kali itu Oman jadi kikuk juga, padahal ada sahabatnya disana.

Apa mungkin karena sore tadi digodain dengan suguhan toket di atas meja makan ya. Teh Della buru-buru masuk ke dalam, sebelum suaminya menyadari kecanggungan Oman, membantu anaknya mengerjakan tugas sekolah/PR lalu pergi ke kamar tidur.

Oman sudah sangat terbiasa nginep dirumah itu, karena memang mau pulang juga nanggung. Soalnya suami Teh Della itu doyan ngobrol, sejalan dengan Oman yang pintar mencari topik obrolan. Malam itu pun Oman menginap, tidur satu kamar dengan anak Teh Della No.1 dan No.2, beralas kasur springbed empuk yang cukup untuk 2 orang sebenarnya. Itu sudah kebiasaan, kalau oman nginep ya tidurnya di kamar itu, dari si no 2 belum lahir sampe si no 3 kemudian lahir.

Pagi harinya Teh Della siap2 untuk berangkat kerja. Setelah mandi dan memakai kimono, Teh Della berniat untuk mengambil pakaian kerjanya yang disimpan di lemari khusus kebutuhan pekerjaan. Sepatu, tas, baju, celana, kecuali celana dalam, semua disimpan di lemari itu. Dan ya lemari itu ada di kamar anaknya yang kebetulan tempat Oman tidur menginap.

Teh Della sih udah terbiasa dengan situasi ini. Anak-anaknya pasti sedang mandi, suaminya juga sedang siap-siap, nah Oman yang pengangguran ini masih pulas dalam tidurnya. Namun ketika Teh Della membuka lemari untuk mengambil kemeja kerjanya, dia mendengar Oman mengigau.

“emmh Deell” pelan seperti berbisik

“Della.. Della” Oman memanggil nama istri dari sahabatnya itu dalam tidurnya

Teh Della kaget, kenapa bisa Oman mengigau memanggil namanya. Apa dia memimpikannya? Mimpinya seperti apa? antara penasaran dan lucu akhirnya Teh Della memilih cuek saja, toh Oman begitu tanpa sadar.

Namun sesaat Teh Della mau keluar kamar, Oman mengubah Posisi tidurnya, dari tengkurap menjadi telentang. Alangkah kagetnya Teh Della melihat Boxer Oman yang mengembang, menandakan kalau Penisnya sedang ereksi.
Sempat terbesit dalam pikirannya, sebesar dan sepanjang apa penis Oman, namun segera dibuang pikiran itu lalu kembali ke kamar untuk siap-siap pergi kerja.

Sejak kejadian pagi itu, Teh Della walaupun dengan rasa penasaran, tapi dia mencoba untuk menjaga jarak. Ketika sedang ada momen berdua, Teh Della hanya menikmati kegugupan Oman, tanpa perlu dia menggodanya lagi.

Sampai suatu hari Teh Della mau mengambil sesuatu dari lemari yang ada di kamar anaknya. Nah malem itu ternyata Oman nginep, walaupun biasanya kalau ngobrol sama suaminya tuh bisa sampe subuh baru berhenti, tapi malam itu mereka langsung pergi ke tempat masing-masing biasanya tidur beberapa menit setalah magrib.

Teh Della keluar kamarnya sekitar pukul 6.30an tepat dengan suaminya yang baru masuk kamar mau tidur. Kira-kira jam 8 Teh Della mau mengambil baju dilemari.

Pas masuk kamar ternyata Oman sedang Onani, tapi anehnya dia melakukannya sambil tidur. Kaget, malu, dan horni (karena ternyata penis Oman gede juga ), pokoknya saat itu perasaan teh Della campur aduk deh. Karena ga enak trus Teh Della panggil-panggil nama Oman tapi dia ga bangun-bangun juga.

Akhirnya Teh Della memberanikan diri memegang tangan dan penis Oman dan Teh Della pisahkan. Saat itu tangan Oman memang tidak begitu cepat mengocok batang penisnya, jadi mudah untuk Teh Della melakukan itu. Kemudian Teh Della naikkan lagi celananya, karena bukan apa-apa takut anak-anaknya masuk kekamar soalnya.

Malam harinya, Teh Della gabisa tidur dengan nyenyak, karena kejadian beberapa menit yang lalu terus membayang, dari situ Teh Della makin suka kepikiran dengan sosok Oman, lebih tepatnya penis Oman.

Hari-hari berikutnya kadang Teh Della merindukkan momen-momen seperti itu. Melihat Penis orang lain membuatnya bergairah. Apalagi penis Oman terlihat lebih besar dan lebih Panjang. Gairah itu Teh Della salurkan kepada suaminya, kadang ketika bercinta, sosok Oman lah yang saat itu Teh Della bayangkan sedang menyetubuhinya.

Kini Teh Della hamil anak ke-4nya. Nafsu birahinya makin menjadi, walaupun suami setia dengan kewajibannya, dan selalu memenuhinya. Teh Della masih terbayang-bayang sosok Oman. Teman suaminya itu malah mulai menunjukkan perhatian, mengingat Teh Della hamil Oman jadi seperti Bodyguard yang selalu siap kapanpun dibutuhkan. Namun tentu saja sikap sopan dan lugunya tidak pernah lepas, sesuatu yang membuat Teh Della gemas.

Saat itu Teh Della sedang Hamil Muda, mungkin usia kehamilannya belum genap 3 Bulan. Hari Rabu itu adalah jadwal pemeriksaan kandungan, sengaja memilih hari rabu supaya tidak mengantri.

Suaminya pun setia menunggu sampai proses pengecekan selesai. Mereka lalu pulang ke rumah setelah sebelumnya mampir ke sebuah pusat pembelanjaan.
Sesampainya di rumah ternyata Oman sudah disana, Teh Della juga tidak merasa kaget dengan itu, karena sang suami langsung mengkonfirmasi kalau Oman mau dateng, mau pinjem uang dan nginep juga katanya.

Oman membantu menurunkan belanjaan yang sebetulnya ga banyak itu, tapi itu lah dia selalu gesit. Kemudian mereka sama-sama masuk rumah. Teh Della hanya sebentar ber-basa basi, menyiapakan makan malam, lepas jilbab trus naik ke kamar atas, mandi dan tidur-tiduran di kamar, saat itu kira-kira masih jam 8an.

Karena Teh Della tau kalau suami pasti bakal begadang, maka dari tidur-tiduran malah ketiduran beneran, sementara suaminya dan Oman masih asik mengobrol di bawah. Namun ternyata, sekitar pukul 11 malam (kalau ga salah) suami Teh Della masuk kamar.

Teh Della pun terbangun dari tidurnya.

“tumben?” dia bertanya singkat pada suaminya

“lagi capek nih.. euhhhh !!” suami teh Della menjawab singkat sambil meregangkan tangannya

“oh iya, si Oman ga tidur di kamar anak-anak, mau nonton champions katanya di bawah”

“hhmm” Teh Della menjawab dengan setengah sadar karena masih mengantuk

Kira-kira jam 1 dini hari Teh Della kembali terbangun dari tidurnya karena kehausan. Air minum yang biasanya tersaji di meja kecil pun ternyata kosong, kemungkinan suaminya yang minum sebelum tidur. Maka dengan hanya memakai daster selutut dan kerah yang longgar Teh Della turun kebawah untuk mengambil minum.

Saat itu Teh Della lupa kalau ada Oman di bawah dan sedang nonton sepakbola sesuai informasi suaminya, tapi ada yang aneh ketika Teh Della udah sampai di ujung anak tangga. Lampu ruangan dimatikan, dan tv masih menyala. Posisi tangga itu dibelakang Oman, setelah lebih diperhatikan ternyata Oman lagi nonton film porno di hp.

Teh Della pun diam-diam memperhatikan apa yang sedang Oman perbuat. Saat itu, mata Oman fokus ke layer Hp sementara tangannya mengocok-ngocok pelan penisnya. Oman bahkan menurunkan celananya sampai lutut. Batang kelaminnya terlihat menggoda, ada sedikit cairan bening di ujung lubang kencingnya. Teh Della pun merasakan sesuatu yang berdenyut pada vaginanya, dia terbawa nafsu melihat oman sedang bermasturbasi.

Kurang dari semenit dalam gelap ruangan yang sedikit diterangi cahaya tv Teh Della hanyut dalam birahi, dia pun segera mengontrol diri, walaupun dia tau saat itu vaginanya gatal ingin sekali disetubuhi.

“Ekheem!” Teh Della berdehem untuk memberi tanda kehadiran dirinya disana

Seketika Oman terperanjat kaget, dia tertangkap basah sedang melakukan hal senonoh di rumah orang lain, sahabat yang telah baik kpada dirinya. Tanpa pikir panjang, Oman naikkan celana boxernya dan memasukkan burung tegang ke sangkarnya.

“ehh Del, aduh.. maaf ya.. maaaf banget, aku ga maksud apa apa.. maaf yaa”

Tanpa menjawab permintaan maaf Oman, Teh Della melenggang pergi ke arah dapur untuk mengambil minum. Oman hanya duduk bersila di depan tv yang menyala, dengan kepala tertunduk menyesali perbuatan tidak sopannya. Teh Della dengan segelas air putih masuk dan duduk di meja makan tidak jauh dari posisi Oman.

Ada rasa takut campur aduk, karena menahan horny yang nanggung itu mungkin. Tapi itu menurut teh Della jadinya lucu, vaginanya masih saja berkedut.

Teh Della pun mengganti kursi duduknya, lebih dekat dengan posisi Oman.

“udah man gpp aku ga bakal ngadu kok, ga usah pucet gitu” Teh Della menegur Oman

Oman pun membalikkan badan dan hanya menyengir lebar. Mungkin dia bingung dan juga canggung mau bersikap bagaimana

“nonton apa tadi man?”

“emh, banyak sih tadi, cuma pas kamu turun dan ngegepin, lagi nonton yang jepang” jawab Oman dengan masih menundukkan kepala

Beberapa detik kemudian, keberaniannya mungkin mulai muncul.

“maaf ya Dell, beneran ga ada mksud apa-apa, aku pikir ga bakal ada yang turun karena udah jam segini”

“iyaa, yaudah sihh minta maaf mulu, seneng ya nonton begituan?”

“iya” jawabnya singkat

Kembali hening…

“soalnya aku kan ga punya pasangan” tiba-tiba oman nyeletuk

Dalam hati Teh Della merasa lucu juga, udah mau 40 padahal umurnya tuh.

Masih dalam rasa kalut, berkali-kali Teh Della meneguk air minumnya. Horny pun semakin menjadi, kini mungkin miawi-nya sudah lembab. Tatapan Teh Della berhenti tepat di boxer yang Oman kenakan. Jelas sekali kalau penisnnya masih tegang sempurna, tapi entah pengaruh film atau pengaruh daster yang Teh Della pake saat itu.

Teh Della makin merapatkan pahanya, menahan gejolak birahi dari pusat syahwatnya. Terus Teh Della memberanikan iseng tanya

“kok itu masih tegang?”

tapi Oman ga menjawab hanya membalikkan badan kembali menghadap tv dan cengengesan, trus ga tau kenapa tanpa sadar teh Della bilang,

“boleh liat ga man?” sambil nunjuk ke arah selangkangannya,

Teh Della masih merasa penasaran aja gara-gara pernah mergokin Oman mengigau dalam tidur memanggil nama Teh Della dan Coli dalam tidur, yang kmungkinan besar memimpikan sosok Teh Della juga.

Oman tidak berkutik dengan pertanyaan Teh Della, tetap gamau menjawab. Cuma dari ekspresi dan gerak tubuhnya nampak Oman kebingungan, panik atau malah kesenengan, bingung gitu deh, campur aduk.

Dalam kebingungannya itu pun Oman tetap gamau mengeluarkan senjata biologisnya, pistol berukuran pisang ambon. Teh Della sempat kesal, tapi rasa horny dan penasaran lebih menguasainya, lalu Teh Della dengan sedikit berbisik

“bener Man ga akan kasih liat?” tanya Teh Della lagi

Dengan sedikit gugup, baru Oman menjawab

“km yakin?”

“iya” jawab Teh Della yakin

“kenapa?” tanya Oman

“mau liat aja, aku penasaran”

sebenernya rasa penasaran memang lebih tinggi, tapi efek seksual sedang hamil muda rasanya menambah sensasi dan horny.

Oman bergerak dari duduknya, berdiri mendekati Teh Della yang ada duduk di kuris meja makan. Tanpa membuang-buang waktu diturunkan celananya dan…

Tuiiing… !!

Keluar dari sangkar boxer hitam bermotif tengkorak, penis tegang, ereksi maksimal.

Teh Della sempat terperanjat kagum namun dia refleks, mengarahkan tangannya ke batang kemaluan Oman yang tegang itu. Oman menahan tangan Teh Della yang sedikit lagi menggengam penisnya

“jangan, ga enak Dell” Oman berkata singkat

Dia merasa kalau suami Teh Della adalah temennya dari kecil udah dia angga kayak sodara sendiri.

Mereka saling tatap, Oman berdiri dengan boxer yang terbuka dan tergeletak di mata kaki, sementara Teh Della duduk di kursi, di depannya kemaluan Oman mengacung tegak mengarah dada Teh Della.
Ekspersi Oman saat bilang “ga enak” membuat Teh Della sangat gemas dan kepolosannya menunjukkan bahwa sebenarnya dia ingin lebih, sangat terbaca dari ekspresi mukanya.

“ga apa apa kan man, aku cuma pegang doang” Rayu Teh Della

Oman menggelengkan kepala pertanda ga setuju..

“kenapa sihh? Aku aja gpp, aku Cuma penasaran man, gpp ya aku pegang?” rayuan Teh Della lebih menggoda

“jangan Dell, aku yang ga enak” sekali lagi Oman bersikukuh, tapi Penisnya berekspresi lain, malah makin tegak dan keras.

“tuh liat, burung kamu aja mau aku pegang kyknya, gerak-gerak gitu man”

“soalnya aku penasaran maan, boleh ya?” Rayu Teh Della lebih manja

“emmhh oke, tapi dipegang aja ya Dell” ada sedikit sunggingan senyum diujung bibir Oman

Sementara Teh Della dengan sigap melepas tangannya dari tangan Oman dan langsung menggengam batang kemaluan Oman. Walaupun hanya dipegeng Teh Della dapat merasakan panjangnya yang hampir sama dengan punya suaminya, tapi milik Oman lebih gemuk dan banyak uratnya.

“sshh”

Desisan kecil dari mulut Oman refleks keluar dari mulutnya, ketika kulit halus Teh Della mengenai kulit kelaminnya. Teh Della pun refleks menggerakan genggaman tangannya mengocok penis Oman yang sudah sangat tegang

Teh Della pun bertanya menggoda “enak? Hm?”

Oman hanya mengangguk ga jawab apa-apa, mengisyaratkan setuju dengan pertanyaan Teh Della. Bahwa dirinya merasa nikmat mendapat perlakuan seperti itu. Namun hatinya masih bergejolak bahwa seseorang yang sedang membantunya bermasturbasi adalah istri sahabatnya. Maka dalam ketidakfokusan itu, konsentrasinya buyar. Dan dalam hitungan menit

“CROOTT…CROTTT.. CROOTTT”

Sperma hangat menyembur dan mengenai tangan Teh Della dan sebagian jatuh ke lantai. Semua terjadi tanpa kontak lain selain kocokan pada kemaluan Oman. Rasanya Teh Della mau ketawa karena pikirnya itu terlalu cepet, tapi dalam hatinya takut Oman tersinggung.

Masih dalam pikirannya itu, walau tak saling pandang tangan teh Della ga berhenti bergerak. Penis Oman masih tegang walau udah muncrat, itu membuat darah Teh Della makin berdesir,

kini mereka saling bertatapan.

“maaf Dell udah ngotorin tangan kamu” Oman meminta maaf dengan meringis linu, karena penisnya yang baru saja klimaks masih tetap dikocok-kocok pelan olah tangan Teh Della.

Pikiran Teh Della merasa aneh dengan jalan pikiran Oman. Kok dibilang ngotorin, orang tangannya aja masih tetep pelan2 ngocokin penisnya walau udah muncrat, yang menandakan kalau Teh Della suka malakukan itu terhadap Oman.

Sambil ngocokin gitu Teh Della sempet nanya,

“man km knp sih kalau kita berdua ngomong suka ga konsen gitu?”

kontak mata dan senyum manis dari Teh Della ditangkap Oman dengan sukarela, dia pasrah, dia lupa shabatnya, ini saatnya jujur.

“Aku sebenernya suka sama kamu, dari dulu, makanya aku bertahan kyk gini” Oman menjawab dengan ekspresi polos dan malu-malu.

Tangan Teh Della seketika berhenti, dia ga bisa mengomentari apa-apa atas statement Oman itu. Walaupun sudah lama Teh Della menduganya, tapi tetap saja mendengar langsung dari orangnya membuat Teh Della salah tingkah juga. Akhirnya Teh Della Hanya tersenyum.

tapi dalam hati Teh Della ketawa lucu, “bisa2nya orang lagi dicoliin tapi mukanya malu2 gitu” hahahaha

Kemudian Teh Della menegak air minumnya lagi lalu bediri berhadapan dengan oman. Tanpa melepaskan tangan dari Penis Oman, Teh Della bergerak menuntun (penis) Oman menuju Sofa tamu yang tak jauh dari situ.

“Man, coba duduk disitu” instruksi Teh Della dengan lembut

Oman pun duduk, membuka kakinya, dan memegang menutup penisnya sendiri. Sementara di depannya Teh Della dalam remang ruangan itu, menjadi objek seksi karenya hanya ada deru nafas, dan nafsu yang menguap dari lekuk-lekuk tubuhnya.
Teh Della pun bersimpuh diantara dua kaki Oman, dia sempet mundur gitu, mungkin masih berantem antara inget istri teman baik dengann nafsu,

“udah ga papa” Teh Della meyakinkan Oman dengan senyum manisnya dan sura yang hampir berbisik, serak dan basah. Akhirnya Oman pun pasrah.

Teh Della mulai mnurunkan kepalanya tepat ke kemaluan Oman. Genggaman tangannya seakan menjadi penahan posisi Penisnya supaya tepat menjadi objek nikmat mulut Teh Della.

“uhhh Dell,.. sshh” desah Oman ketika, ujung Penisnya masuk mulut Teh Della

Hanya sebagian yang masuk Teh Della mainkan dengan lidahnya, sebagain yang diluar dia kocok dengan tangannya. Sesekali tangannya berpindah ke biji peler Oman, dan semua batang kemaluan Oman teh Della lahap dengan penuh nafsu.

“Aaahhh Deelll.. enaak bnget emmhh”

Kleq..kleqh… kleqhh.. Penis Oman keluar masuk mulut teh Della..

Liur teh Della membuat Penis Oman terlihat menggiurkan, basah dan mengkilap.

Awalnya oman hanya bisa memegang bantal kecil yang ada disofa itu. Namun lama-kelamaan dia mulai berani pegang rambut dan bahu tapi ga berani pegang toked Teh Della, padahal tokednya itu keliatan kalau dari posisi Oman, secara kancing daster kebuka tapi dia cuma pegang rambut atau pundak aja.

Ketika Bahu dan Rambutnya bersentuhan dengan Oman, teh Della pun merasa tersetrum, refleks tangannya yang lain, bergerak ke kelaminnya sendiri. Cd putihnya sudah tecetak basah akibat lendir mekinya yang merembes, Teh Della hanya memainkannya dari luar. Dia teken2 mekinya tepat dibagian klitorisnya, daging kecil mirip kacang yang tersembunyi di ujung bibir vagina.

Dari bersimpuh Teh Della mngubah posisinya menjadi berjongkok, sehingga paha yang mulus sampe pangkalnya terpampang jelas. Teh Della menyelinapkan tangannya di pangkal pahanya, sementara mulutnya sibuk mengulum penis Oman.

Desahan-desahan Oman makin ga terkontol, menandakan kalau dia sudah terlalu merasa keenakan. Bahaya pikir Teh Della. Maka sebelum Oman mengeluarkan cairan kenikmatannya. Teh Della menyudahi isapan-isapan mulutnya takut keburu muncrat lagi. Teh Della beranjak bediri lalu duduk disamping Oman. Oman masih kikuk, dia membuka matanya lalu saling berpandangan.

Teh Della yang sudah diselimuti nafsu birahi, mengambil langkah pertama. Dia pegang leher Oman, menarik mendekatnya lalu menciumnya. Untuk sesaat Oman kurang lincah dalam membalas ciuman yang Teh Della berikan, maka dengan sabar Teh Della mengajari bagaimana membalas ciuman.

Lidah dan hisapan-hisapan mulut Oman mulai beraksi. Teh Della makin dibakar Birahi. Kakinya membuka, kembali Teh Della memainkan klitorisnya. Oman pun demikian, demi tetep menjaga ereksi, dia mengocok penisnya sendiri. Padahal saat itu Teh Della memberi kode untuk dijamah, dengan cara memainkan Mekinya sendiri. Ya, Teh Della mulai memasukkan tangannya ke dalam cd yang ia pakai.

Ciuman itu berlangsung 5-10 menit, Oman juga tak bereaksi apa. Dia terlalu fokus sama bibir dan lidahnya. Tangannya sibuk mengocok penisnya, padahal Teh Della ingin sekali dipegang, diremas, dimainkan toked berukuran sedang itu.

Ada satu kesempatan mengambil nafas yang memburu. Teh Della bersumpah dalam hati “ini orang polos atau ngerasa bersalah mungkin sama suamiku?”

tapi faktanya memang Oman masih perjaka diumurnya yang udah mau 40 waktu itu.
Teh Della menangkap lirikkan Oman pada tokednya yang membusung, inilah saatnya pikir Teh Della.

“km mau pegang? Hm?”

dan Oman cuma ngangguk, cukup buat Teh Della untuk menyodorkan dadanya, dan kembali berciuman.

“pegang man” lirihnya

Disela-sela berciuman pun Teh Della masih memberikan instruksi agar Oman tidak terlalu kaku.

“mainin man, remes2, mainin putingnya”

Sshhh mmmmhhhh… hmmppfffhh

Desahan-desahan meraka sudah tak tertahan kan lagi, Tangan Teh Della pun kembali mengocok Penis Oman.

Makin lama semakin panas yang mereka rasakan. Teh Della melepaskan ciuman dan kocokan tangannya di Penis Oman lalu berdiri, membuka dasternya dengan sekali angkat dan menyisakann celana dalam putih berenda. Tak lupa Teh Della pun menyuruh Oman membuka pakainnya, daripada bengong ngeliatin body teh Della yang hampir bugil.

“buka dong man kaosnya, masa aku aja yang telanjang” bujuk Teh Della

Kini mereka sama-sama telanjang, kecuali secuil cd putih yang menempel di tubuh Teh Della.

Mereka kembali berciuman lagi, saat itu mereka merasa deg2an juga sebenernya, secara suami teh Della diatas sedang tidur sendiri. tapi pikir Teh Della kalau keluar mudah2an kedengeran suara pintunya, begitu pikiran nakalnya yang kini sudah dipenuhi bayangan penis Oman yang menyeruak masuk vaginanya. Bayangan mereka sedang bersetubuh.

Sebetulnya mereka sudah sangan horny, tapi menunggu Oman untuk mengambil langkah duluan nampaknya mustahil. Maka sekali lagi Teh Della yang inisiatif mengambil alih, dia menyuruh suruh tiduran di atas sofa, dengan pandangan yang sayu penuh nafsu kea rah batang penis Oman yang tegak dan keras Teh Della membuka Celana dalamnya, lalu dilemparkan sembarang ke lantai.

Oman dapat melihat dengan jelas Vagina Teh Della yang ia impikan, yang selalu ia bayang-bayangkan. Vagina dengan jembut yang lebat tapi rapih membuat oman makin bernafsu.

Teh Della mulai bergerak manaiki Oman yang telentang. Lalu memegang batang penis Oman dan mengarahkan ke vaginya. Dengan menggunakan kepala penis Oman yang besar itu, Teh Della mencoba membuka bibir vaginanya yang seksi, karena sudah basah sedari tadi. Dimainkannya klitorisnya dengan kepala penis itu agar menimbulkan sensasi nikmat yang menyenangkan.

“uuhhhh maaaan” Teh Della merasakan nikmat ketika klitorisnya bergesekkan dengan kepala penis Oman

Agar tidak membuang waktu, maka teh Della tempatkan penis Oman tepat di lubang surgawinya. Oman yang pertama selain suaminya yang akan merasakan kenikmatan persenggamaan dengan mekinya Teh Della.
Mereka pun kompak menggerakan badanya, Teh Della menurunkan badannya, dan Oman menikkan pinggulnya. Kelamin mereka bersatu dalam nikmat, hangat, dan basah. Sejenak Penis Oman terdiam didalam vagina Teh Della yang mencengkram.

“aduh maan enaak, punyaku berasa penuuh.. uhhh sshh”

“aku juga enak banget Dell, petama kali”

Teh Della baru ingat kalau ini pertama kalinya Oman bersetubuh dengan perempuan. Ada suatu sensasi yang muncul, bahwa dia telah mem-perjakai seseorang, dan itu mengasyikkan.

“ya udah genjot man dari bawah ya”

“iyah Dell”

Awalnya Oman pelan menggerakn pinggulnya. Tapi rangsangan yang diterima penisnya tidak bisa dia kontrol. Ditambah liukan-liukan badan seksi teh Della yang sedang hamil membuat Oman hilang kontrol.

Teh Della memaikan kedua tokednya sewaktu penis Oman mengobok-obok liang senggamanya dari bawah.

Sungguh sangat seksi, ditambah rambut nya yang hampir mencapai tulang ekornya menambah sensasi tersendiri. Oman menyaksikan keseksian itu seorang diri, dirinya merasa sangat beruntung, dalam hatinya dia aka lebih menggilai perempuan ini.

“aah ah ahh ahh man teruss maan” Teh Della mulai mendesah pelan

Tangannya berpindah dari toked ke klitorisnya.

“aah iya iyaa man, mainin man ini man”

Teh Della menarik tangan Oman untuk memainkan klitorisnya.

Oman pun memainkan Klitoris teh Della sembari terus menggenjot dari bawah. Teh Della semakin merasa nikmat.

“Awwhhh uuuhhh iyaa gitu maaan” ceracaunya

Lalu tiba-tiba Oman menarik tubuh Teh Della dan memeluknya, dengan sangat cepat Oman menghujamkan Penis besarnya ke Vagina teh Della.

Crooottt crot crootttt.. !!

Beberapa semburan sperma Oman kembali keluar dari lubang penisnya. Menyemprotkan lahar panas nikmat ke dalam vagina teh Della. Teh Della pun mengejang pada saat bersamaan menandakan dia mendapatkan Organsmenya.

Mereka berpelukan dalam peluh yang bercucuran. Penis Oman masih tertancap di liang senggama Teh Della. Beberapa detik kemudian, kedutan-kedutan dari kelamin masing-masing menghidupkan saklar birahinya.

“aku masih mau Dell”

“aku juga man”

Tak sedikit pun mereka membicarakan bahwa Oman telah menyemprotkan sperma didalam Vagina Teh Della. Ahhh mereka sama-sama tahu, kondisi hamil Teh Della sudah menjadi jawabannya.

Walaupun Oman sudah ejakulasi, tapi kekerasan pada penisnya hanya menurun sedikit. Teh Della merasa kagum dengan itu.

Plopph ! teh Della mengangkat pinggulnya sehingga penis oman yang berlumuran lendir kenikmatan keluar dari sarangnya, miawi Teh Della yang seksi itu.

“sini man” ajak Teh Della selanjutnya

Mereka tidur berdampingan, ukuran sofanya memang tidak cukup, tapi dengan begitu maka mereka bisa sangat berhimpitan.
Oman yang melumat bibir Teh Della, teh Della pun menyambut dengan penuh Nafsu.

Emmhhh…. hmmmppff…

Tangan Oman pun tak tinggal diam, punggung dan pantat menjadi area favoritnya. Begitu juga Della, dia tak henti-hentiny membelai mempermainkan kelamin Oman supaya tegang maksimal lagi.

“man, isepin toked aku doong” pinta Teh Della manja

Sigap Oman memindahkan mulutnya dari bibir seksi Teh Della ke Puting mancung khas ibu hamil.

“ssllrrppphhhh… emmhhh sllrrpp”

Oman cukup lihai dengan permainan mulut dan lidahnya, mungkin dia ingat salahsatu video bokep yang ia tonton.

“aaaahhhh ssshhhh enak bnget man”

“gigit man.. Tarik eemmhhh”

Rambut Oman semrawut diacak-acak Teh Della. Pinggulnya pun bergerak menekan ke segala arah untuk mengekspresikan kenikmatan yang diterima dari ujung puting susunya.

Paha oman basah dengan ledir meki Teh Della yang digesek-gesekkan.
Desahan-desahan Teh Della dan gerakan badannya. Gesekan antar kulit, membuat Oman kembali nafsu. Penisnya sudah benar-benar ereksi maksimal.

“Dell, masukkin lagi ya?”

“iya, yuk. Aku juga mau man”

“aku di atas ya”

“….” Teh Della hanya menjawab dengan senyum sumringah

Lalu memposisikan dirinya tidur terlentang dan langsung membukakan kakinya untuk Oman.
Oman juga sudah siap di posisinya.

“jangan sungkan man” genit dan seksi Teh Della memberikan ijin kepada Oman

Oman pun memegang batang penisnya. Mengarahkan ke vagina Teh Della, dia tempatkan di klitoris, ia tekan lalu bergerak turun membelah bibir miawi Teh Della yang licin. Tepat ketika kepala penis Oman berada diujung liang senggama Teh Della, Oman mendorong pinggulnya.

“aaahhh shhh” keduanya mendesah bersamaan, mengekspresikan kenikmatan senggama kelamin mereka bedua

Oman membenamkan seluruh panjang penisnya ke dalam vagina Teh Della.

“aduuhh ssshhhh, mentok ya man”

“heehh”

Oman mulai menarik penisnya keluar, hanya seperempat dari panjang total, lalu ia hujam kan lagi.

Kecipak vagina Teh Della yang sangat basah membuat oman leluasa menggenjotnya.

Tangannya menumpu badannya pada sofa, percis di samping kiri dan kanan pinggul Teh Della. Teh Della dengan menggigit bibirnya, dan memegang punggung tangan Oman yang lumayan kekar, menikmati setiap hujaman penis yang bukan milik suaminya.

Teh Della mengambil bantal kecil yang tergeletak dilantai.

“bentar man”

Tanpa mencabutnya, Teh Della menyelipkan bantal itu dibawah pantatnya. Sebenernya ini trik Teh Della biar Oman istirahat dan mengambil nafas. Genjotannya sudah semakin cepat, takut-takut keburu nyembur lagi, Teh Della masih ingin berlama-lama.

“ayo, genjotin aku lagi man”

Dalam waktu yang singkat ketika Teh Della mengganjal pantatnya dengan bantal, terlintas dalam pikiran Oman, sebuah gaya seks yang ada di video bokep yang pernah ia tonton.

Maka setelah Teh Della mengajak untuk segera mulai lagi, Oman menarik kedua kaki teh Della, lalu menempatkannya di pundak, tak lupa tangan teh Della pun ia genggam, iya tempatkan percis di atas bukit vaginanya.

Lalu ia hujamkan dengan cepat penis keras dan panjang itu.

Cleb cleb cleb cleb cleebbhh…

Pertahan mereka pun hampir luruh, genggaman mereka sudah terlepas. Kaki teh Della sudah tinggal satu yang nyangkut di pundak Oman. Oman masih terus menggenjot vagina impiannya itu, satu kaki itu ia peluk dan ciumi, Teh Della pun memainkan tokednya menikmati perlakuan Oman. Dia merasa adanya rasa dan ambisi pada kesabaran oman selama ini.

“ahh man, sini man.. ahh ah” Teh Della meregangkan tangannya

Oman mengerti dan langsung tunduk dalam pelukan. Badan yang berkeringat kini rapat menempel.

Mereka berciuman sebentar, lalu..

“ayo man puasin maann.. emmh” bisik teh Della tepat pada lubang telinga Oman

Hangat nafasnya terasa menyetrum, rangsangan hebat dalam aksi yang minim.

Bukan hanya pinggul Oman saja yang bergerak, Teh Della pun menggerakkan pinggulnya mengimbangi tusukan-tusakn penis Oman.

“aahhhh dell dell uuhhh.. akuu”

Oman pun memberi isyarat kalau klimaksnya sudah diujung kepala penisnya.

Teh Della menyambut isyaratnya dengan pelukan erat pada punggung Oman serta lingkaran kakinya pada pinggul Oman.

“keluariin man… ayo.. ahh aku.. juga eemmh ayo maan”

“eemmmmmhhhhhhh aaaaaaaahhhh!!”

Oman menekan penisnya sampai habis di telan vagina. Teh Della membusukkan dadanya menirima semprotan sperma Oman pada rahimnya.

“uuhhhh maann enaakk”

Lalu mereka berciumaann, detak jantung Oman sangat kencang, pun begitu dengan Teh Della.

“man aku belum dapet”

Oman mengerti, dia mengecup kening dan bbir teh Della, menjilati leher dan Tokednya lalu menarik penisnya keluar dari vagina Teh Della.

“sini Dell”

Oman mengajak Teh Della duduk dalam pangkuannya.

Teh Della sigap bangun dari posisi tidurnya. Ada beberapa tetesan sperma yang jatuh saat ia berpindah posisi, tapi masa bodo pikir dia. Saat itu ia ingin puas lagii. ingin mendapat organsmenya lagi.

Oman menyambut teh Della dengan ciuman dan remasan pada pinggulnya. Teh Della menggigit bibir Oman ketika miawi basahnya bergesekan bertemu penis Oman yang sedikit lesu pasca klimaks.

Lalu teh Della pun menggoyangkan pinggulnya. Depan belakang, berputar menggeol layaknya goyangan penyanyi dangdut.

Usahanya berhasil, penis Oman ereksi kembali.

“man, emmh ma.. masukk… kin lagi ya.. shhhh” Teh Della terbata karena saat itu Oman sedang menikmati toked Teh Della yang memberi rangsangan hebat pada tubuh teh Della

“i.. iyya.. Della, kamu arahin”

Teh Della memegang batang kelamin oman yang sudah keras. Lalu menempatkannya tepat digerbang liang vaginanya. Lalu Teh Della dengan pelan menurunkan pantnya, sampe panjang penis Oman tenggelam dalam nikmat dan hangat yang Teh Della berikan melalui vaginanya.

“aaahhhhhh maan”

“aaahh Delll”

Teh Della memegang pundak Oman sebagai tumpuan. Tangan Oman tak berpindah dari tubuh teh Della, sementara kakinya menjuntai ke lantai.

Lalu Teh Della dengan cepatnya menggerakan pinggulnya seperti sesaat lalu, tapi kini penis Oman berada didalamnya. Rasanya nikmaat sekali, sampai lupa kalau dia melakukannya dengan orang lain, bahkan suaminya sendiri sedang tidur diatas sana.

“aahhh maan aaah ah ahh”

“eemmmmhhhhh ssshhhhhh aah”

Pandangannya sayu menatap Oman sambil menggiti bibirnya, Oman hanya membalas dengan senyum penuh makna. Mengisysaratkan terimaksih, dan kepuasan.

makin cepat gerakan tubuh Teh Della, dirinya sudah dikuasai syahwat, rasa ingin segera mendapatkan organsme juga sudah begitu kuat. Oman membantu dengan meremas-remas toket Teh Della yang menggantung indah.

“ahh ahh hiya man.. uh hiya gituu”

“bhenti dulu Dell, coba jongkok”

kemudian Teh Della jongkok mengangkang di atas paha dan kemaluan Oman. Tangan Oman menangkap pangkal kedua belah pantat semok Teh Della, memegangnya supaya pada posisi itu.

Ujung penis Oman yang masih berada di Liang senggamanya memudahkan Oman untuk kembali menggenjot vagina istri sahabatnya itu.

“ahh ah aha sshhhhh… enaak maan aah aduuh”

“terus maan.. aku… aku ga.. emmhh”

“iya terusssss aahh”

Racau Teh Della menikmati Genjotan penis Oman

Karena belum bepengalaman Oman pun merasa pegal, tangannya lepas dari pantat Teh Della, otomatis pantat Teh Della jatuh dipangkuannya. Dan itu sensasi lain, Penis Oman terhujam dalam di vagina teh Della.

“AAAHHHHHHHHH SHHH”

“maaan aku dapeeeth aahh emmhhh”

Ketidaksengajaan itu membuat mereka mendapatkan organsmenya.

Habis sudah energi terkuras dalam nikmat persetubuhan. Jarum jam menunjukkan angka 3 dinihari. Teh Della menyandarkan badannya dalam pelukan Oman untuk beberapa saat, sampai Oman mengingatkan untuk bersih-bersih badan.

Mereka berpakaian dengan tergesa. Sambil saling terus bertatapan, senyum sesekali tersungging. Setelah semua sudah menempel di badan. Oman memeluk Teh Della dengan mesra.

“makasih Dell, makasih banget”

Teh Della tidak menjawab ucapan terimaksihnya, dia melepaskan pelukan Oman lalu mencium bibir Oman dengan romantis dan penuh rasa.

Setelah itu mereka pergi ke lantai dua, Teh Della ke kamarnya Oman ke Kamar anak teh Della. Kamar dimana menjadi awal cerita ini tertulis

Tamat