Rahasia Pribadi Part 41

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30Part 31Part 32
Part 33Part 34Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42 END

Rahasia Pribadi Part 41

Start Rahasia Pribadi Part 41 | Rahasia Pribadi Part 41 Start

Jakarta…

Puput melangkah gontai menuju kamarnya. Cardigan yang sebelumnya dia pakai, disampirkan pada lengannya. Sedangkan tangan kirinya menenteng ransel yang tak begitu besar. Langkahnya terhenti disalah satu pintu kamar sebelah kamarnya. Puput penasaran dengan suara isak tangis yang terdengar samar-samar dari balik pintu.

Puput membuka pintu kamar dan segera masuk ke dalam. Matanya membulat saat melihat tissue yang bertebaran di lantai. Sepertinya tissue-tissue malang itu menjadi korban asal lempar setelah digunakan untuk menghapus air yang keluar dari mata dan hidung Kakaknya. Sementara gadis yang sedang meratapi nasib itu sedang meringkuk di atas ranjang sambil memeluk guling dan kotak tissunya.

“Kak, kenapa kakak nangis?” Ujar Puput saat mengambil posisi duduk di ranjang tepat disebelah Reva.

“Gak apa-apa kok, Put…hiks.” Jawab Reva berusaha menghapus air matanya.

“Cerita aja kak ma Puput… mungkin puput bisa bantu,” sebuah ketulusan dari Puput sedikit menenangkan Reva.

Puput tersenyum saat reva menoleh kepadanya. “Serius, Kakak gak apa-apa”.

“Ihhh kakak pikir Puput masih kecil yah? Asal kak Dwi tau aja, Puput udah 20 tahun tau, Kaak“

“Hehe tapi beneran Put… kakak gak apa-apa” Jawab Reva.

“Pasti masalah cowok yah?” Tanya Puput mencoba menebak penyebab kesedihan kakaknya.

“Yah begitulah Put… dia lebih memilih wanita lain daripada kakak….huhuhu” Puput mengangguk paham maksud sang Kakak. Tapi ia heran Reva bisa sepolos itu. Lalu, Puput mengelus rambut Reva dengan lembut. Ia memandang sang kakak dengan sorot mata sedih.

“Percayalah kak, semua sudah di atur oleh-Nya… mungkin memang dia gak diciptakan buat Kakak.”

“Iya sih Put… tapi kakak mencintainya.” Kata Reva begitu pelan, namun suaranya terdengar jelas di telinga Puput.

Puput sontak memeluk Reva, tak sadar ia juga meneteskan air mata. Kini ia begitu mengkhawatirkan kondisi sang kakak. Merasakan sebuah keterpurukan karena masalah cinta.

“Oh Iya, dari pada diem dikamar… mending kita kedepan yuk… tadi ibu panggil tuh di depan“ Ujar Puput.

“Makasih yah dek, Makasih banget karena kakak masih memiliki kalian,”

“Iya kak, lupakan dia, atau kakak mau Puput kenalin sama …” Ujar Puput terputus.

“Puput, Dwi, makan dulu yuk!” Teriak Ibunya dari luar kamar.

“Iya Bu” Keduanya berpelukan sebentar, menangis bersama-sama. Merasa cukup lega bisa berbagi rasa dengan sesama saudara. Lalu beranjak dari kamar menuju ruang makan.

~•○●○•~​

Di dalam ruangan HRD Director 3MP, Citra baru saja menyelesaikan pekerjaannya. “Haaaahhhh,” lalu meregangkan kedua tangannya ke atas.

Krieekkk!

“Hai, sibuk?” Seorang pria baru saja masuk kedalam ruangannya. Citra membalasnya dengan gelengan kepala.

“Sini masuk” Ajak Citra mempersilahkan L masuk.

“Makan yuk.” Ujar L.

“Hmm, bentar lagi deh… masih jam 11 nih.” Jawab Citra sambil melihat arloji di lengan kirinya.

“Ya udah, lagian aku juga belum lapar banget.” Ujar L. “Oh iya, rencana yang kemarin gimana?”

“Hehehe, Citra gitu loh… semuanya berjalan dengan lancar sesuai yang di rencanakan sebelumnya.” Jawab Citra mengangkat kedua alisnya sambil menatap wajah L.

“Huffh, emangnya gak keterlaluan beib ngerjain si bos kek gitu?” Tanya L yang sebetulnya kurang setuju dengan permainan yang Citra lakukan saat ini.

“Sekali-kali kak Al digituin… biar hidupnya sedikit berwarna lah L, dari dulu datar-datar aja tuh hidupnya” Jawab Citra tersenyum.

“Iya sih, tapi kamu harusnya bangga dengan si bos… secara, dia gak suka mempermainkan wanita seperti…” Ujar L terputus.

“Seperti kamu, iya kan?”

“Asyemm, elah… itu mah masa lalu keles.” L nyengir menyela perkataan si Citra.

“Yah kan Citra hanya mengumpamakan doang… gak salahkan?”

“Susah yeh ngomong sama kamu, ada aja jawabannya… huffhhhh”

“Tapi…justru itu yang bikin Citra suka Hihihihi” Ujar Citra sembari mengedipkan mata.

“Hehehe, iya donk… L gityu loh.” Balas L membuat Citra memanyunkan bibirnya.

“huhuhu dasar!”

“Oh iya beib… sekarang apa rencana selanjutnya nih?” Tanya L membuat Citra sedikit berfikir.

“Ehm…step ke-2, Ibu Ningsih” Jawab Citra setelah memikirkan sesuatu.

“Maksudnya?” Tanya L masih bingung.

“Gak usah banyak nanya, liat aja nanti. Hihihihihi”

“Ya udah kalau gitu aku balik ruangan dulu, telpon aja kalau udah mau istirahat.” Ujar L lalu setelah itu ia pun pamit untuk kembali ke ruangannya.

Begitu L pergi, Citra tertawa kecil sembari jari-jarinya mengetuk meja

“Ok, step ke dua… sabar yah kak, dan maafkan Citra kalau sudah membuat kakak sedih” Gumam Citra dalam hati.

~•○●○•~​

Di ruangan Direktur Utama terlihat Al sedang sibuk di meja kerjanya, sebuah ketukan dari depan pintu membuatnya sedikit menoleh ke arah pintu. “Masuk.”

Tersirat sebuah senyuman tipis di wajah Citra yang baru saja masuk ke dalam ruangan Al. karena dialah yang menjadi dalang semua ini.

“Tumben kak, sibuk banget hari ini?” Tanya Citra saat duduk di depan Al.

“Hemm,” Al berdehem tanpa menoleh ke Citra.

“Citra ganggu gak?” Tanya Citra.

“Ada apa Cit?” Tanya Al yang masih sibuk memainkan jemarinya di atas keyboard laptopnya dan kedua matanya menatap tajam layar monitor.

“Citra cuma pengen bilang, besok Eci mau ke Jakarta tuh… katanya mumpung lagi libur” Ujar Citra menahan senyumnya.

Citra sebetulnya tak tega melihat kondisi kakaknya saat ini. Namun, ia juga sedikit kesal akan tingkah Al yang tidak berani membuka jati dirinya kepada Reva.

“Ohhh, ya udah… mamah dan papah gak ikut?” Tanya Al.

“Belum tau kak, nanti coba Citra tanya lagi. Maaf kalau Citra udah ganggu kerjaan kakak.” Jawab Citra membuat Al akhirnya mengangkat wajahnya dan menatap ke Citra.

“Gak kok Cit, ini baru selesai selesaiin beberapa report yang di kirim sama si L dan Kang Nos.” Jawab Al mencoba melempar senyuman ke arah Citra.

“Ohh, ya udah deh kalau gitu… Citra tinggal dulu yah.” Ujar Citra beranjak dari duduknya.

“Ok,” Jawab Al singkat.

“Oh iya Kak, hmm… “ Citra menghentikan langkahnya dan kembali melihat ke arah Al.

“Ada apa?” Tanya Al menatap wajah Citra.

“Kakak baik-baik aja hari ini?” Tanya Citra.

“Hehehe, gak kenapa-kenapa kok Cit… kenapa emangnya?”

“Hari ini kakak kelihatan beda aja.” Jawab Citra membuat Al hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.

“Mungkin kakak kurang tidur Cit.” Jawab Al.

“Yakin?”

“Menurut kamu? Sudahlah, jangan karena lulusan psikologi, kamu mengetahui semua apa yang aku rasakan… dasar”

“Yah udah deh… Citra gak akan nanya lagi.” Citra memperlihatkan wajahnya yang sedikit cemberut.

“Udah sana… katanya mau pergi, kok masih berdiri aja disitu.”

“Iya iya, dasar! Udah yah, Citra tinggal dulu.”

“Ok.” Akhirnya Citra meninggalkan ruangan Al untuk kembali ke ruangannya.

Al menarik nafas dalam-dalam setelah Citra pergi. Mata Al sedikit lelah, wajahnya pun sedikit pucat. Kejadian kemarin seakan membuat dunianya runtuh. Ia sadar ternyata selama ini ia sangat mencintai Reva. Namun semuanya terlihat mulai meredup. Kisah mereka berdua menurutnya telah berakhir.

“Hufhhh, kenapa aku begitu tolol yah.” Gumam Al pelan. Lalu mendesah, pasrah dengan keadaan. Mencoba menerima semuanya dengan kebesaran hati yang dimilikinya saat ini. Al tidak tahu lagi bagaimana caranya menyelesaikan masalahnya dengan Reva.

“Sampai kapan kamu terus seperti ini?” Sebuah pertanyaan di dalam dirinya yang sampai sekarang ia pun tak mampu menjawabnya.

Al meraih ponselnya, terdiam sesaat menatap layar ponsel yang tertuliskan sebuah nama, Gadis Bodoh. Seorang gadis yang telah membuat hidupnya lebih berwarna. Seseorang yang dengan tulus memberikan semua yang ia miliki untuknya .

Pelan tapi pasti, Al menggerakkan jempolnya untuk menekan sebuah tombol di layar ponselnya.

Ring back tone terdengar selama menunggu jawaban dari panggilannya. Nihil, tidak ada jawaban sama sekali. Sudah berkali-kali Al menghubungi Reva. Namun gadis itu mengacuhkannya.

“Dimana aku harus menemuinya?” Gumam Al pelan.

Al merasa bodoh lebih mementingkan pekerjaan. Selama Reva di Jakarta, ia tidak tahu dimana gadis pujaannya tinggal. Sebuah penyesalan berkecamuk di pikirannya. Namun semuanya telah terjadi. Dan waktu tak bisa diputar kembali.

~•○●○•~​

Besoknya…

Pagi ini Reva baru saja membantu ibunya sedang membersihkan taman belakang. Semalam ia sudah membulatkan tekadnya untuk tak mengingat nama Al dalam hidupnya. Mengubur dalam-dalam kisah mereka berdua.

Pengkhianatan yang dilakukan Al sangat melukai hati Reva. Namun, ia masih memiliki keluarga yang mampu menghiburnya. Reva mencoba mengalihkan pikiran dengan lebih memikirkan kehidupannya bersama ibu dan adiknya.

“Oh iya bu, si aden gak pulang lagi yah semalam?” Tanya Reva saat sedang menyapu taman belakang.

“Iya Dwi, gak tau tuh… udah dua hari aden gak pulang. Ibu coba telpon HP-nya, tapi gak diangkat.” Jawab Ibunya membuat Reva hanya menaikkan kedua alisnya.

“Mungkin beliau lagi ada kerjaan diluar kota… hehehe,”

“Gak biasanya aden seperti ini, kalau ia mau keluar kota… pasti ia akan ngomong ke Ibu.” Jawab Ibunya. Tersirat di wajah Ibu Ningsih memikirkan pemilik rumah mewah tersebut.

“Iya bu, padahal Reva pengen banget ketemu… pengen ngucapin terima kasih karena sudah membantu ibu dan Puput selama ini.”

“Hehe, semoga saja ia udah pulang rumah sebelum kamu balik ke Makassar yah nak.” Ujar Ibunya tersenyum.

“Hehe, penasaran deh Reva ma dia, bu… cakep gak? Hihihi” Tanya reva membuat Ibunya sedikit heran atas pertanyaan anaknya.

“Husshhh… kamu tuh ada-ada aja… yah jelas ganteng loh nak, tapi sayang… sampai sekarang aden belum punya kekasih.” Jawab Ibunya.

“Masa sih Bu?” Tanya Reva penasaran.

“Iya Nak… ibu paling tau tentangnya. Dan memang dalam hidupnya lebih memikirkan kerjaan daripada memikirkan wanita.”

“Dasar aneh… heheheh, kira-kira kalau Reva kenalan ma dia. Apa ia akan jatuh cinta yah? Hihihihi.” Candaan Reva membuat Ibunya hanya geleng-geleng kepala.

“Mimpi kamu nak… hehehehe, udah ah yuk sarapan dulu sayang. Tuh adik kamu udah nungguin juga dimeja makan.” Ujar Ibunya mengajak Reva masuk kedalam rumah.

Di meja makan, terlihat Reva dan Puput sedang mengobrol tentang masa-masa kuliah Puput selama ini. Dan sesekali Reva pun ikut menceritakan tentang pekerjaanya.

“Enak dong, sekarang kak Dwi udah punya penghasilan sendiri.” Ujar Puput saat mendengar cerita kakaknya.

“Iya dong… makanya kamu buruan selesaiin kuliah kamu biar bisa kerja kayak kakak.” Ujar Reva.

“Iya nih kak, Puput udah berusaha semaksimal mungkin kok. Hehehehe” Ujar Puput membuat Reva ikut bahagia mendengar pengakuan adiknya.

“Iya Put, kakak bakalan bangga kalau kamu bisa selesaikan kuliah kamu dengan cepat” Ujar Reva setelah mengunyah makanannya.

“Insya allah Kak… hehehehe.”

Tiba-tiba ditengah obrolan mereka, ponsel Reva berdering menandakan adanya panggilan masuk dari seseorang.

“Bentar yah Dek.” Ujar Reva.

“Assalamualaikum, Yah Ci.” Ujar Reva saat mengangkat telponnya.

”Wa’alaikumsalam, cyinn lo lagi dimana?” Tanya Eci di seberang.

“Di Jakarta lah non… hehehe, kenapa? Kangen yah… hihihihi” Canda Reva.

”Gue juga lagi di Jakarta nih… hehehe, nih lagi diperjalanan menuju rumah kakak gue.”

“Astaga, kenapa gak bilang-bilang dulu… kan aku bisa jemput kamu di bandara.”

”Hihihihi, ada kakak gue yang jemput keles… santai aja,” Jawab Eci nyengir.

“Ya udah, pokoknya kita harus ketemuan yah… jam berapa kamu gak sibuk?”

”Hmm, nanti aku kabarin deh… bbm aja alamat kamu, nanti aku jemput.” Ujar Eci.

“Ya udah, nanti aku BBM yah.” Ujar Reva lalu setelah itu mereka pun mengakhiri obrolan di telpon. Lalu Reva mengirimkan alamat tempat tinggalnya ke Eci.

“Dari siapa kak?” Tanya Puput saat Reva kembali menyantap sarapan paginya.

“Dari teman kakak, di Makassar…. Ternyata sekarang dia juga lagi di Jakarta.” Jawab Reva.

“Ohh, ajakin main kesini aja kak.”

“Iya, kakak udah BBM ke dia alamat kita.” Jawab Reva kembali.

Akhirnya keduanya kembali menyantap sisa sarapan pagi mereka yang sempat terhenti.

Beberapa menit kemudian…

Saat Reva sedang melamun di pekarangan depan rumah, terlihat sebuah mobil Toyota All New Camry memasuki pekarangan rumah. Ibu Ningsih yang melihat mobil tersebut segera mendekat ke mobil dan berdiri di samping pintu depan bagian kanan.

Reva yang masih memperhatikan mobil tersebut sedikit menahan nafas, harap-harap cemas dan bertanya dalam hati tentang pemilik rumah tersebut. Karena kebetulan kaca mobil sedikit gelap jadi Reva agak kesulitan melihat orang yang berada di dalam mobil.

Seakan waktu berjalan begitu lambat, sesosok wanita cantik berpenampilan elegan baru saja keluar dari pintu depan sebelah kanan mobil. Ibu Ningsih sedikit membungkuk saat melihat pemilik mobil tersebut sambil tersenyum.

Dugh!

Wajah cantik Reva yang tadinya sedikit cemas seketika berubah. Pemandangan yang ada di depan matanya lah yang menjadi satu-satunya penyebab perubahan air mukanya tersebut.

Tiba-tiba seorang lagi baru saja membuka pintu mobil sebelah kiri menambah keterkejutan Reva saat mengetahui siapa gadis tersebut. Sosok yang sedang memakai pakaian santai, dengan travel bag yang berada di tangan kiri. Seorang gadis yang barusan menghubunginya.

Reva menelan ludah seakan tak percaya dengan apa yang ia saksikan saat ini, kedua gadis cantik yang baru saja keluar dari mobil begitu dikenalnya.

“Pagi Non.” Ujar Ibu Ningsih menyapa gadis yang berpenampilan elegan itu. Citra, membalas uluran tangan Ibu Ningsih untuk bersalaman.

“Eh… non Eci ternyata yang datang… kapan tibanya Non?” Ujar Ibu Ningsih lalu bergantian bersalaman dengan gadis itu.

“Sejam yang lalu bu, trus Kak Cicit langsung ngantarin kesini deh.” Jawab Eci tersenyum.

”Ada apa ini?” Batin Reva, sekujur tubuhnya terasa kaku. Jelas ke dua gadis yang baru saja tiba sudah merusak mood Reva hari ini. Entah ia harus senang atau tidak, namun dibenaknya saat ini jelas masih sedikit tak percaya dengan apa yang ia lihat.

Bukan karena kedua gadis itu yang sangat ia kenal. Namun ada hal lain yang membuat jantungnya berdetak lebih kencang.

“Hai…” Sapa Eci saat mendekat ke Reva.

Reva masih saja menatap wajah Eci dengan tubuh yang kaku. “H..Hai, ke..ke..” Bibirnya sangat susah untuk mengucapkan sesuatu. Eci hanya tersenyum seperti sedang meledeknya.

“Kenapa loe Cin? Kok kayak liat hantu aje?” Ujar Eci membuyarkan lamunannya.

“Eh… anu… ka..”

“Astagaaa biasa aje kali Cyin.” Ujar Eci. Namun Reva masih saja kaku berhadapan dengan sahabatnya.

“Hai Reva, apa kabar?” Citra ikut melangkah mendekat ke Reva lalu menyapanya dan mengulurkan tangannya mengajak bersalaman.

“Eh kalian udah saling kenal yah?” Tanya Ibu Ningsih yang terkejut.

“I..iya Bu, Alhamdulillah Ibu Ci..Citra.” Kegugupan Reva dihadapan mereka membuat Citra dan Eci tersenyum.

“Woiyyy, kenapa loe? Kok loe kayak mayat hidup gini sih Cyin?” Tanya Eci, lalu segera memeluk tubuh Reva yang masih kaku. “Sorry, gue udah tau kalau loe anak ibu Ningsih… hehehehe, tapi… pengen ngasih surprise aje ke elo tau.”

Rangkulan Eci di bahu Reva membuat raut wajah Ibu Ningsih sedikit berubah.

“Maaf yah Bu. Eci ama Reva tuh sebenarnya sahabatan di Makassar.” Ujar Citra menjawab kekhawatiran setelah melihat raut wajah Ibu Ningsih.

“Dwi…” Ujar Ibu Ningsih, dan Reva mengangguk pelan, menjawab apa yang di khawatirkan oleh ibunya.

Reva melirik Eci, dan Eci pun tersenyum. “Kenapa? Kaget yah?” Tanya Eci membuat Reva membalas senyumannya.

“Ayo… udah ketemu ama kakak gue belum? Hehehe, jangan bilang loe berdua udah ehem…ehem di sini… secara kan loe satu rumah ma doi.” Bisik Eci.

Dugh! Pernyataan Eci barusan telah menjawab apa yang di khawatirkan oleh Reva sejak tadi.

Wajahnya seketika menjadi pucat, memikirkan apa yang akan terjadi. Di satu sisi, ia masih mencintai Al walaupun sudah menyakitinya. Di satu sisi, jelas sekali ia akan bingung menjawab pertanyaan dari Eci nantinya. Dan juga pertanyaan Mamah Eci saat ia di Makassar.

Seorang pria yang selama ini menopang hidup keluarganya. Sejenak, sebuah dilema menghampirinya. Apakah ia akan tetap mempertahankan cintanya dengan Al, atau menerima perjodohannya dengan kakak Eci.

“Hei kok masih melamun sih cin?” Tanya Eci saat mereka berada di ruang tengah rumah induk.

“Hehe, gak kok Ci. Masih syok aja dengan semua ini.” Jawab Reva.

“Ya udah kalau gitu, Kak Citra tinggal dulu yah Ci… masih ada kerjaan dikantor yang harus kakak selesaikan.” Ujar Citra tiba-tiba yang sedari tadi hanya diam memperhatikan tingkah kedua sahabat tersebut.

“Oce deh bos… hati-hati nyetirnya.” Jawab Eci.

“Ok, ya udah Va, Ibu Ningsih, Eci… Citra pamit dulu yah… Assalamualaikum.” Ujar Citra lalu berpamitan untuk kembali ke kantor.

Reva kembali melamun, berfikir dengan semua ini. Ibu Ningsih hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah putrinya, namun sungkan untuk menanyakan keadaan putrinya saat ini mengingat karena adanya Eci di situ. “Ya udah, Non Eci ibu siapin sarapan pagi dulu yah.”

“Iya Bu, makasih sebelumnya.” Jawab Eci lalu ibu Ningsih meninggalkan kedua gadis itu yang masih duduk di ruang tamu.

“Udah deh cin… kok masih melamun aja?” Tanya Eci membuyarkan kembali lamunan gadis di sebelahnya.

“Hehehe, iya..iya bawel ihh” Jawab Reva.

“Ecii kangeeeeennnnnn.” Seketika Eci memeluk tubuh Reva membuat Reva sedikit terkejut. Lalu ia-pun membalas pelukan gadis itu.

“Iya, aku juga kangen ama kamu nek.” Balas Reva.

“Oh iya, sampai kapan loe di Jakarta?” Tanya Eci saat mereka kembali mengobrol.

“Hmm, minggu gue balik Makassar.” Jawab Reva.

“Hmm, gue sempat mikir Va… Buat apa loe balik ke Makassar? Mending loe disini aja… kan enak tuh ada ibu ama si puput.” Ujar Eci membuat Reva mengernyitkan alisnya.

“Terus kerjaanku di Makassar gimana non… dasar kamunya.”

“Elah, nanti gue bilang ama kak Citra, untuk pindahin loe ke Jakarta.” Jawab Eci membuat Reva terkejut. “Secara kan hotel tempat lo kerja punya kakak gue juga.”

“Iya sih… tapi…” Ujar Reva terputus.

“Udah, gak ada tapi-tapian… nanti malam gue yang akan ngomong ke kak Citra.”

“Terus kamu gimana? Masa iya aku tega ninggalin kamu di Makassar sih?” Tanya Reva membuat Eci hanya tersenyum.

“Gampang kalau gue mah… tinggal mesen tiket kalau kangen ama loe cin.” Jawab Eci dan sepertinya Reva pun tak bisa membantah keinginan sahabatnya.

Jelas sekali, keinginannya untuk tinggal bersama ibu dan adiknya saat ini sudah dipermudah oleh sahabatnya. Namun, sepertinya ada sedikit yang mengganjal di pikirannya sampai saat ini.

“Ya udah, kalau gitu kita ke kamar gue aja yuk… pokoknya selama gue di Jakarta… loe nginap di kamar gue yah.” Ujar Eci membuyarkan lamunan Reva.

“Gak apa-apa gitu?” Tanya Reva.

“Iyalah gak apa-apa… emang siapa yang mau ngelarang kamu?”

“Hufhhh kali aja kakak kamu yang larang.” Jawab Reva. Ia pun tak mampu menolak semua apa yang di inginkan oleh Eci.

Percuma saja ia menolaknya, karena ia sadar kalau Eci itu tipe orang yang keras kepala.

“Gue pastikan, kakak gue bakalan senang-senang aja kalau loe nginap dikamar gue… hehehehe,”

“Ya udah deh kalau gitu.” Jawab Reva pasrah.

“Yuk…” ajak Eci untuk naik ke salah satu kamar yang berada di lantai dua rumah tersebut.

Saat mereka berdua melangkah naik ke lantai dua, kedua mata Reva masih saja melihat-lihat sekeliling rumah tersebut. Matanya menyapu semua sisi yang berada diruangan yang ia lewati. Sepertinya mencari sesuatu. Namun, apa yang ia cari ternyata tidak terlihat sedikitpun sehingga membuatnya sedikit menarik nafas.

Mereka berhenti di depan salah satu pintu kamar di lantai dua. Kemudian Eci mempersilahkan Reva untuk masuk kedalam kamar tersebut dengan meninggalkan sebuah rasa penasaran di benak Reva. Penasaran atas apa yang selama ini ia pikirkan. ”Kok biar satu foto-pun gak ada sih… hufhhh, dasar orang aneh.” Batin Reva saat berada di dalam kamar.

~•○●○•~​

Di dalam sebuah kamar hotel mewah, Al memandang lurus ke depan, tepatnya kepada cermin yang memantulkan sebagian besar tubuhnya. Pandangannya tertancap pada matanya sendiri, mencoba mencari sesuatu dari sana. Sesuatu yang mungkin memberikan jawaban kepadanya tentang perasaannya saat ini. Hal yang telah terjadi pada malam itu memberikannya begitu banyak tuntutan dan pertanyaan yang harus ditemukan jawabannya. Bukan oleh siapapun, tetapi hanya dirinya sendiri yang dapat memberikan jawaban itu.

Rasanya sulit sekali menggambarkan perasaannya saat ini. Malam itu Al hampir saja melakukan sesuatu yang ia pun tak akan pernah menyangkanya. Walaupun dalam keadaan setengah mabuk, Al masih mampu menyadari apa yang akan ia lakukan terhadap gadis itu.

Sudah cukup bagi Al menahan beragam gejolak di dadanya. Sepantasnya ia harus memutuskan siapa gadis yang akan ia pilih.

Satu hal yang saat ini ia pikirkan, segera berterus terang tentang siapa dirinya. Walaupun tidak semudah itu baginya mengakhiri kebohongan yang telah ia buat dari awal. Al menyiapkan mental untuk menerima konsekuensi dari keputusan yang akan ia ambil nantinya.

Aku melakukan semua ini hanya untuknya. Kalimat itu yang selalu saja diteriakkan oleh hati palsunya untuk mensugesti pikirannya sendiri ketika akal sehat mulai menuntut dirinya untuk menghentikan semua permainan yang pada akhirnya nanti ia tahu dengan jelas akan menyakiti dirinya sendiri.

Ingatannya berputar, mengingat kejadian malam itu…

Al mengajak Diah untuk menemaninya untuk sekedar menghibur Al dari kesedihannya saat ini.

“Kak…” panggil Diah saat mobil yang mereka kendarai memasuki sebuah hotel mewah di daerah ibu kota.

“Ada apa?” Tanya Al tanpa menoleh ke arah gadis itu.

“Ma…mau ngapain kita kesini?” Diah tiba-tiba merasakan sebuah kegugupan saat mobil mereka tiba di depan lobby hotel.

“Entahlah… masuk aja dulu.” Jawab Al lalu membuka pintu mobilnya.

Diah hanya pasrah mengikuti Al saat ini. Sebelumnya, Al menyerahkan kunci mobilnya ke salah satu petugas valet untuk memarkirkan mobilnya. Lalu, Al dan Diah melangkah masuk ke dalam hotel menuju meja resepsionis.

Saat setelah selesai menyelesaikan administrasi, Al dan Diah menuju kamar yang sudah dipesan di antar oleh salah satu room boy hotel.

Saat berada di dalam kamar, Al maupun Diah masih terdiam dalam pikirannya masing-masing. Al saat ini duduk di sofa, dan Diah duduk di sudut ranjang.

Diah mencuri-curi pandang ke arah Al yang masih sibuk mengutak-atik smartphonenya. Membuat gadis itu hanya bisa menarik nafasnya, bingung akan tingkah Al saat ini.

“Apa yang kita lakukan disini kak?” Diah memecah keheningan setelah beberapa menit hanya diam membisu.

“Bentar.” Ujar Al beranjak dari sofa menuju ke Mini Bar yang terdapat didalam kamar hotel.

Al kembali membawa dua kaleng bir bermerek international, lalu memberikan sekaleng kepada Diah. “Apa ini Kak?”

“Udah, minum aja… temani aku malam ini yah.” Jawab Al lalu duduk di samping gadis itu.

Gluk…gluk! Al meneguk Bir kaleng miliknya, dan Diah masih terdiam memperhatikan gerak-gerik pria itu.

“Kakak kenapa? Ini bukan Kak Al yang Diah kenal deh.” Tanya Diah.

“Entahlah Di, hufhhhhh.” Jawab Al mengusap wajahnya.

“Karena si Reva yah?” Tanya Diah.

“Mungkin.”

“Kenapa kakak gak mengejarnya tadi?” Tanya Diah. Namun Al hanya menatap kosong sebuah LCD TV yang berhadapan dengan ranjang tempat mereka duduk.

“Di…” Ujar Al pelan menatap wajah Diah.

Diah sedikit gemetar melihat reaksi Al saat ini. Kemudian Al memegang kedua pundaknya. “Kamu masih pacarku kan?”

“I..iya Kak… ta-tapi.” Jawab Diah gugup dan menunduk tak mampu menatap wajah pria itu.

“Makasih yah… makasih sudah ada saat aku membutuhkan seseorang untuk menghiburku saat ini.”

“Sama-sama kak, mending kakak istirahat aja… kayaknya kakak lagi banyak pikiran saat ini.” Ujar Diah.

“Kamu takut yah?” Tanya Al membuat Diah mengernyitkan alisnya.

“Takut karena?” Diah balik bertanya.

“Takut kalau aku melakukannya.” Ujar Al membuat Diah membelalakkan matanya, tidak menyangka Al mengatakan itu.

“Hmm, kakak mau melakukannya dengan Diah?” Tanya Diah ragu.

“Hmm, kamu mau melakukannya denganku?” Tanya balik pria itu.

“Kalau kakak menginginkannya, Diah akan ikhlas kok memberikan semuanya ke kakak.” Jawab Diah membalas tatapan pria itu. Sedikit keraguan diwajah Diah yang Al tangkap saat ini.

“Aku Cuma bercanda, ya udah kamu tidur gih.” Ujar Al mengalihkan pandangannya.

“Mau tidur bareng Diah disini?” Tanya Diah membuat Al menoleh ke arahnya.

“Kenapa? Gak boleh yah?”

“Hehe, ihh justru Diah pengen banget dipeluk ama kakak.” Jawab Diah dengan polosnya.

Akhirnya keduanya berbaring di atas ranjang. Diah membelakangi Al. Detak jantungnya begitu kencang saat Al memeluknya dari belakang.

“Kak…”

“Hmm,” Al berdehem dan merapatkan tubuhnya ke tubuh gadis itu. “Hanya sebentar kok.”

Diah meneteskan air matanya, merasakan pelukan hangat dari Al. sebuah pelukan yang selama ini ia inginkan.

“Eh, kok kamu nangis?” Al tersadar saat mendengar sesenggukan gadis itu.

Diah menjawab dengan gelengan kepala. Al mengusap lembut wajah Dia. “Tuh basah” Al memperlihatkan telapak tangannya yang sedikit basah karena air mata gadis itu.

“Kakak tau, Diah bahagia banget malam ini… bisa dipeluk seperti ini, sudah cukup buat Diah kak.”

“Maaf yah Di.” Ujar Al.

“It’s ok kak… cinta memang gak bisa dipaksakan… tapi setidaknya, biar Diah merasakan kebahagiaan ini sekarang. Walaupun hanya semalam, tapi cukup buat Diah untuk mengenangnya seumur hidup Diah.”

Hening…

Al termenung mengingat kejadian tadi sore. Dan Diah sepertinya mengetahui kenapa Al terdiam saat ini.

“Kak, hmm…” Jawab Diah masih membelakangi Al.

“Yah Di.”

Diah membalikkan tubuhnya mengadap ke pria itu. Mata mereka saling menatap, dan hembusan nafas gadis itu membuat Al menarik nafas.

“Kak…” Bisik Diah dengan wajah memohon sesuatu.

“Jangan yah.” Balas Al berbisik sambil menggelengkan kepalanya.

“Jadikan aku seorang Cinderella malam ini kak.” Kata Diah.

Dengan gemetar, tangan Diah menyentuh wajah Al. mengusap wajah pria itu dengan begitu lembut. Lalu entah siapa yang memulai, bibir mereka saling berdekatan.

“Mmmfffhhhhh” keduannya berciuman sambil menutup mata. Diah begitu agresif melumat bibir Al. Tubuh mereka makin merapat pelan.

“Hash…hash…” Kening mereka bersentuhan saat mengambil nafas, mereka membuka mata lalu saling menatap. Perlahan mereka memejamkan matanya kembali, kemudian bibir mereka kembali berpagutan.

Terasa kedua tangan Diah menggenggam ujung kaos yang Al gunakan saat ini. Menggenggamnya erat, tanpa melepaskan bibir mereka yang terus menempel.

Al merasakan ciuman gadis itu semakin hangat. Namun sesuatu terlintas dipikirannya. Wajah seorang gadis yang melototkan kedua matanya membuat Al melepaskan ciumannya, Diah tersadar dan membuka kedua matanya lalu menatap mata Al untuk mencari jawaban suatu pertanyaan dalam hatinya.

“Kenapa Kak?” Bisik Diah menahan nafasnya.

“Gak Di… ini gak boleh terjadi.” Jawab Al menggelengkan kepalanya.

“Pliss… aku juga pengen merasakannya kak.” Ujar Diah membuat Al mengusap wajah gadis itu.

“Aku mencintainya Di… dan aku sudah janji, tidak akan menyentuh wanita lain selain dirinya.” Jawab Al membuat Diah kembali merebahkan tubuhnya.

“Kamu marah?” Tanya Al dengan posisi menatap langit-langit dalam kamar. Begitu juga dengan Diah yang tidur terlentang seperti posisi Al saat ini.

“Gak kok kak, justru Diah bangga sama kakak.” Jawab Diah menoleh ke arah pria itu.

“Aku akan tetap menyayangi kamu sebagai adik aku.”

“Makasih Kak, makasih karena masih menyayangi Diah.” Ujar Diah meneteskan air matanya.

“Udah jangan nangis lagi… mending kita bobo aja yah.” Ujar Al membalikkan tubuhnya mengahadap ke gadis itu. “Balik belakang gih… aku pengen meluk kamu lagi dari belakang.” Lanjut Al menyuruh gadis itu membelakanginya kembali.

Akhirnya Diah mengikuti keinginan Al, dan keduanya mulai menutup mata dengan posisi Al memeluk tubuh Diah dari belakang.

Al menarik nafasnya yang terasa berat setelah selesai mengingat kejadian malam itu. Kemudian Al menoleh ke arah ranjang yang menjadi saksi malam itu.

Sudah dua malam Al memilih menginap di hotel ini, dan semalam ia memutuskan untuk tidak mengajak Diah karena ia ingin menyendiri dulu untuk berfikir atas apa yang telah terjadi antara dia dengan gadis yang dicintainya.

Lalu Al beranjak dari posisinya dan mengambil semua barang-barangnya yang berada di atas meja. Al harus berangkat lebih awal hari ini karena mengingat ada pekerjaan yang harus diselesaikan secepatnya.

~•○●○•~​

“Mending loe putusin aja tuh cowok Va…”

“Dia sudah selingkuh tau…”

“Mending loe terima aja kakak gue, toh juga loe kan belum kenal ma doi…”

Kalimat itu masih terus terngiang-ngiang di telinga Reva. Kalimat dari Eci yang semalam ia dengar saat menginap dikamar Eci.

Reva merasakan sebuah keraguan di dalam dirinya saat ini. Sejujurnya ia tak kuasa untuk menolak, tapi tak juga bisa dengan mudah menerimanya. Sangat sulit baginya untuk memenuhi permintaan sahabatnya, karena dihatinya masih mencintai Al walaupun sudah menyakitinya dengan berselingkuh dengan wanita lain.

Satu hal yang tak bisa diterima oleh akal sehatnya. Menikah dengan seseorang yang tak dikenalnya justru akan menjadi suatu beban tersendiri bagi Reva. Bagaimana mungkin menjalani suatu kehidupan pernikahan tanpa dilandasi rasa cinta? Sedangkan cintanya sudah memilih seorang Al. hal itulah yang saat ini menjadi pertimbangan Reva hingga memberatkan hatinya untuk tulus menerima kenyataan itu.

Ketidakkuasaan untuk menolak juga menjadi batu sandungan yang paling besar dan sulit dihindarinya. Sebagai seorang anak dari ibu yang telah dibantu oleh pria itu makin membuatnya dilema.

Selama ini hidup Ibu dan adiknya telah terbantukan oleh pria itu. tinggal di rumah besar dan juga dipercaya menjaga rumah tersebut selama ini.

”Ya Allah, apa yang harus aku lakukan sekarang.” batin Reva tak kuasa menahan beban di dirinya.

Saat ini Reva duduk sendiri di ruang tamu, masih memikirkan beban yang akan ia tanggung nantinya. Sedangkan Eci masih tertidur, saat Reva memilih lebih dulu bangun pagi ini dan meninggalkan Eci di dalam kamar.

Samar-samar terdengar langkah kaki seseorang mendekatinya. Lalu ia pun menoleh ke arah suara langkah kaki tersebut.

“Kamu udah bangun, nyenyak amat tidurnya cin.” Ujar Reva saat melihat Eci berdiri di sampingnya sambil mengucek-ngucek kedua matanya.

“Hihi, maklum nek… capek tau kemarin baru nyampai dari Makassar.” Jawab Eci nyengir.

“Ya udah, bobo lagi sana… masih ngantuk kok udah bangun.”

“Enak aja… gue mau mandi dulu yah.” Jawab Eci. “Oh iya, tadi gue udah telpon kak Citra… dan dia setuju kalau loe pindah ke Jakarta.”

Dugh!

Sesaat Reva terdiam mendengar kalimat terakhir yang Eci katakan.

“So?” Tanya Reva.

“Udah ah… gue mandi dulu… entar dilanjut lagi ngobrolnya… byeee.” Eci tak menjawab pertanyaan Reva, malah lebih memilih beranjak meninggalkan Reva menuju kamarnya kembali.

“Dasar!.” Gumam Reva pelan sambil memandang tubuh Eci dari belakang yang sudah menjauh darinya.

Reva kembali terdiam, menatap layar smartphonenya. Melihat beberapa pesan dan juga panggilan tak terjawab di layar HPnya.

Beberapa kali Al mencoba menghubunginya, namun sepertinya Reva masih tak ingin membalas pesan BBM maupun mengangkat telpon dari pria itu.

”Apakah aku harus menghubunginya? Batin Reva. Awalnya memang gadis itu mengabaikan semua telpon dari Al. namun sepertinya ada sesuatu yang mengganjal dihatinya.

“Hufhh, sepertinya aku harus mencari kepastian darinya.” Gumam Reva pelan. Lalu ia pun memutuskan untuk menghubungi pria itu melalui Hpnya.

“Halo, bisa ketemuan sekarang?”

Still Continued

END – Rahasia Pribadi Part 41 | Rahasia Pribadi Part 41 – END

(Rahasia Pribadi Part 40)Sebelumnya | Selanjutnya(Rahasia Pribadi Part 42)