Rahasia Pribadi Part 40

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30Part 31Part 32
Part 33Part 34Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42 END

Rahasia Pribadi Part 40

Start Rahasia Pribadi Part 40 | Rahasia Pribadi Part 40 Start

Jakarta…

Sore ini, disebuah Café yang terletak tak jauh dari kantor pusat 3MP. Diah sedang duduk menghirup aroma khas yang begitu di kenal oleh hidung dan lidahnya. Hot cappucino latte kesukaannya baru saja di bawakan oleh salah satu waitres café tersebut.

Gadis itu duduk sendiri di kursi bagian pojok kiri. Ia sedang menunggu seseorang yang baru saja mengabarinya melalui pesan singkat dari BBMnya, bahwa orang yang ditunggu sedang di perjalanan menuju Café.

Wajahnya murung, sambil menyerup cappuccino kedua matanya menatap jalan raya dengan pandangan kosong.

Dilema yang begitu besar yang saat ini hinggap di pikirannya, setelah bertemu dengan Citra beberapa hari yang lalu. Dimana gadis itu di panggil menghadap ke ruangan HR Director.

Beberapa penggal ingatannya tentang kejadian beberapa hari belakangan ini, sebuah ingatan yang membuat sesak di dadanya.

Saat Diah sedang sibuk membuat laporan di depan computer kerjanya pagi itu, Citra baru saja masuk melalui pintu Lobby karyawan sedang menerima telpon dari seseorang.

“Pagi Kak Citra,” Sapa Diah tersenyum sambil berdiri dari kursinya untuk sekedar memberikan hormat kepada gadis dengan penampilan elegan. Namun,Citra hanya membalasnya dengan anggukan kepala karena masih sibuk berbicara dengan seseorang di telpon.

”Oh iya dong, kan bentar lagi Kak Al akan dijodohkan dengan Reva… hehehe”

Dugh!

Mendengar kalimat yang terucap dari bibir gadis elegan itu, membuat jantung seorang Diah berdetak begitu kencang.

Kesedihan melandanya, tetapi sebisa mungkin menahan isaknya yang hampir saja meledak.

”Beres, serahin semuanya sama Citra yah Mah.”

“Eh, bentar Mah.” Ujar Citra lalu berhenti didepan meja Diah sambil tersenyum namun belum menutup telponnya. “Ada sesuatu yang menarik hari ini?” Lanjut Citra bertanya ke Diah.

“Ma..Maaf Kak, kalau ada yang urgent… nanti Diah infokan lagi.” Jawab Diah mencoba menahan kesedihannya kali ini di depan Citra.

“Kamu kenapa?” Tanya Citra saat melihat Diah sedikit berbeda pagi ini.

“Eh, gak…gak apa-apa kok Kak.” Bibir Diah bergetar saat menjawab pertanyaan dari Citra. Namun Citra hanya tersenyum sambil menaikkan kedua alisnya.

“Baiklah… ya udah aku tinggal dulu yah.” Ujar Citra lalu melanjutkan telpon-telponannya dengan seseorang sesaat setelah mendapatkan jawaban ‘Iya’ dari Diah.

Tanpa Diah sadari, seringai tipis di wajah Citra saat sudah berada di dalam lift.

Besoknya,

Didalam ruangan HR Director, saat ini Diah sedang duduk berhadapan dengan Citra.

Pikirannya berkecamuk, memirkirkan hal apa yang akan Citra katakan kepadanya. Karena baru kali ini ia di panggil untuk menghadap ke ruangan adik pemilik perusahaan.

“Hmm, Maaf yah sebelumnya.” Ujar Citra membuka obrolan.

“I..Iya Kak,” Jawab Diah gugup.

“Aku tau, saat ini kamu sedang dekat dengan kak Al… hemm,” Ujar Citra menggantung kalimatnya.

“I…Iya kak, terus?”

“Dan tentu saja kamu tau, kalau Kak Al itu sudah punya kekasih di Makassar… bener gak?” Tanya Citra membuat Diah menarik nafas dan menjawab dengan anggukan kepala. “Sekarang, aku butuh bantuan kamu… boleh gak?”

“A…apa itu kak? Semoga Diah bisa membantu Kakak.” Jawab Diah gugup dan tak berani menatap wajah gadis dihadapannya.

“Cukup kamu ikutin semua permainannku, aku belum bisa mengatakannya saat ini… tunggu info dariku selanjutnya.” Ujar Citra menatap tajam wajah Diah.

“I…Iya Kak, tapi…” Jawab Diah ragu.

“Ngomong aja, gak usah gugup gitu sama aku.” Ujar Citra.

“Diah sayang kak sama Kak Al-nya…hik” Jawab Diah tak bisa membendung kesedihannya saat ini.

“Aku tau Diah, kalau kamu sebenarnya masih mencintai dia.” Ujar Citra menggantung.

“Dia siapa kak?hik” Tanya Diah.

“Rizal… mantan kamu, iya kan?”

DEG!

Diah terperangah mendengar jawaban citra. Dia juga heran darimana Citra tahu tentang Rizal. Selama ini dia menutup rapat kisah masa lalunya.

“Darimana kakak tau tentang kak Rizal?”. Setelah berhasil menguasai diri, Diah mencoba bertanya pada citra.

“Jadi gini ceritanya…” Citra mulai bercerita tentang semuanya.

~•○●○•~​

Beberapa hari yang lalu…

Beberapa hari ini, Citra seringkali melihat seorang cowok berdiri di depan kantor pusat 3MP. Namun awalnya gadis itu tak menghiraukannya.

Yang ada dipikirannya, mungkin cowok itu sedang menunggu seseorang yang bekerja di kantornya. Namun yang membuat Citra bingung, saat jam kerja dan kebetulan Citra yang sedang ada urusan diluar kantor sering mendapati cowok itu masih berdiri di depan kantornya. Dan saat ia kembali ke kantor saat jam istirahat, ia malah mendapati cowok itu bersembunyi di belakang halte depan kantornya.

Suatu sore, Citra memilih pulang kantor lebih awal karena ada urusan mendadak di apartemennya. Ia melihat cowok itu masih saja berada di depan kantor sambil menatap pintu masuk lobby karyawan.

Sedikit rasa penasaran yang hinggap di pikiran gadis itu. Maka hampir tiap hari selama 3 hari belakangan Citra mulai memperhatikan gerak-gerik cowok itu.

Dan, kecurigaannya makin besar karena berulangkali ia mendapati cowok itu seperti menunggu seseorang. Berdiri menatap kantornya mulai dari jam masuk kantor sampai jam istirahat siang. Saat jam istirahat, justru cowok itu bersembunyi dibelakang halte. Lalu kembali ke posisi sebelumnya saat jam istirahat selesai.

Akan tetapi, saat jam pulang kantor. Malah cowok itu sudah tak terlihat di tempat tersebut.

Gadis itu tergelitik hatinya untuk mencari tau maksud dan tujuan cowok itu yang sering berada di depan kantornya.

Dengan modal keberanian, dan tentu saja modal bela dirinya yang ia kuasain selama ini. Citra mencoba untuk mencari tau maksud cowok itu dengan mendekatinya langsung.

Tanpa cowok itu sadari, Citra sudah berada di halte tempat cowok itu berdiri. Sejenak, Citra menunggu waktu yang tepat untuk mengajaknya berbicara.

Bertepatan dengan waktu istirahat makan siang, maka Citra mencoba menyapa cowok itu yang sepertinya akan segera bersembunyi. “Mas, boleh ngomong bentar.”

“Eh… ada apa yah Mba?” Tanya cowok itu yang terlihat gugup.

”Hmm, sepertinya dia cowok baik-baik.” Batin Citra, karena biar bagaimana dengan modal lulusan S2 psikologi sangat mampu membaca karakter cowok itu.

“Hmm, mari ikut denganku.” Jawab Citra, namun cowok itu ragu untuk mengikutinya.

“Tenang aja Mas, aku gak bakalan ngapa-ngapain masnya.” Ujar Citra tersenyum ramah. “Citra mas,” gadis itu mengulurkan tangannya mengajak berkenalan.

“Ri..rizal mba.” Jawab cowok itu gugup.

“Yuk Mas, ikut Citra…” Ujar Citra mengajak Rizal.

Mereka melangkah masuk kedalam parkiran kantor 3MP, dan dua security tadi yang berjaga-jaga jikalau terjadi sesuatu hanya tersenyum saat melihat Citra baik-baik saja.

“Yuk ikut Mas.” Ujar Citra mengajaknya mengikutinya ke kantin belakang.

Kebetulan kantin agak sepi, dan Citra mengajak Rizal untuk masuk kedalam ruangan yang memang khusus untuk para direksi saat memilih untuk makan siang dikantin.

“Kang Nos, L… bisa keluar bentar?” Ujar Citra saat melihat L dan Nos berada diruangan tersebut.

“Wah…wah, L… bini loe keknya ngajakin cowok lain tuk selingkuh nih.” Celetuk Nos.

“Ada apa sayang? Emangnya kami gak bisa gabung?” Tanya L.

“Penting! Bisa keluar bentar?” Tanya Citra membuat L hanya mengangguk lalu berdiri untuk keluar dari ruangan.

“Hufhh, dasar nenek sihir… orang lagi nyantai, eh dia datang gangguin aje.” Celetuk Nos.

Plaaakk! “Woi, dia ntuh cewek gue nyet… awas loe, ngatain dia lagi nenek sihir… gue keplak loe.”

“Eittt… woles bro… woles… gue becanda doank dodol…hahahaha” Ujar Nos dan akhirnya sambil tertawa, keduanya meninggalkan ruangan itu dan lebih memilih naik kembali ke ruangan masing-masing.

Saat didalam ruangan tadi, Citra mempersilahkan Rizal untuk duduk. “Duduk mas.”

“Eh iya Mba.” Ujar Rizal lalu duduk di hadapan Citra.

“Ok, aku hanya ingin menanyakan… kenapa beberapa hari ini masnya sering berdiri di tempat tadi? Seperti sedang menunggu seseorang.” Tanya Citra membuat Rizal gugup.

Rizal menunduk dan terdiam sesaat. Rasa penyesalan menghantuinya selama ini. Penyesalan akan semua perbuatannya pada Diah dimasa lalu. Citra menangkap apa yang dirasakan pria di depannya. “Cerita aja mas, mungkin Citra bisa bantu.”

“Anu… jadi gini mba…” kata Rizal mencoba menjelaskan.

“Hemm,”

“Aku itu baru saja keluar dari penjara mba, dan aku sangat menyesal dengan semua yang aku lakukan dulunya.” Ujar Rizal menunduk.

“Oke, trus?”

“Aku dulunya…”

Rizal menceritakan semuanya, tentang dimana saat ia masih menjadi kekasih Diah.

Ia mengakui semua kesalahannya. Apa yang selama ini ia lakukan dengan memanfaatkan gadis itu untuk mencarikan uang untuknya. Meninggalkan utang mengatas namakan Diah, hanya untuk kesenangannya sendiri.

Namun dia sadar akan kesalahannya dan memilih meninggalkan Diah sendiri di kosan. Bukannya dia pergi kemana-mana, akan tetapi dia justru memilih menyerahkan diri ke kantor polisi dengan kasus penipuan/penggelapan dengan pasal 378.

Karena korbannya seorang pria yang baik, akhirnya korban menarik laporannya di kepolisian. Akan tetapi, kasusnya tetap diproses karena sudah di P21 kan oleh pihak kepolisian ke pihak Kejaksaan. Maka, Rizal tetap menjalani hukuman penjara selama 3 bulan.

Dan sekarang ia kembali untuk menebus semua kesalahannya selama ini, Walaupun nantinya Diah tidak mau memaafkannya, Rizal takkan perduli. Bisa mengatakan semuanya saja kepada Diah sudah lebih dari cukup untuk Rizal.

“Hmm, Kamu masih mencintainya?” Tanya Citra setelah mendengar semua cerita Rizal.

“Kalau itu, selamanya mba… cintaku kepadanya tidak akan pernah tergantikan.” Jawab Rizal membuat Citra tersenyum dan mengangguk seperti mengerti semua yang dirasakan oleh pria itu.

“Ini kartu namaku, coba nanti aku ngomong ma dia… kali aja dia bisa memaafkan kamu.” Ujar Citra sembari memberikan kartu namanya.

“Ba..baik Mba, makasih sebelumnya.” Jawab Rizal menerima kartu nama gadis itu.

~•○●○•~​

“Gitu ceritanya…” Ujar Citra menyelesaikan ceritanya. Diah mulai meneteskan air matanya.

“Hik…hik… tapi…tapi dulu dia jahat banget kak.” Ujar Diah menangis dihadapan Citra.

“Maafkan dia, itu aja yang dia butuhkan saat ini… sebuah kata maaf darimu” Ujar Citra mencoba memberikan kekuatan terhadap gadis itu dengan menggenggam kedua tangannya.

“Gak…gak tau Kak, Diah juga bingung dengan semuanya… disatu sisi, Diah mencintai Kak Al… disatu sisi, Kak Rizal memang cinta pertama Diah… hik…hik…hik”

“Gak usah ragu, kamu cukup menjalani semuanya… mengenai jodoh, semuanya sudah di atur sama yang maha kuasa Di. So, kita gak tau dikemudian hari yang akan jadi jodoh kita itu siapa nantinya… masih menjadi misteri.” Ujar Citra.

“I..iya sih Kak.”

“Ya udah, kamu bersihin muka kamu gih… ini ada tissue. atau gak di kamar mandi aja… gak enak diliat orang kamu habis nangis kayak gini.” Ujar Citra dan Diah hanya mengangguk.

Tak lama, setelah Diah membersihkan wajahnya dengan tissue. Ia pun segera pamit untuk kembali bekerja.

“Liat aja nanti, aku gak akan ngelepasin kak Al.” Gumamnya pelan setelah mengingat semua yang terjadi beberapa hari belakangan ini.

Saat gadis itu sedang sibuk melamun, tiba-tiba seorang pria menghampirinya. Al, baru saja tiba di café tersebut. “Maaf, udah nunggu.”

“Eh Kak… hehe, baru juga sampai.” Diah terkejut, lalu menoleh ke pria itu sambil tersenyum saat melihat Al sudah berada di depannya.

“Dasar.” Ujar Al lalu menarik kursi di samping gadis itu.

“Mana oleh-olehnya Kak.” Ujar Diah manja.

“Hehe, lupa Di.” Jawab Al membuat gadis itu cemberut. “Kok mukanya ditekuk gitu?” Tanya Al kembali.

“Au ah…” Jawab Diah memasang muka cemberut sambil memangku wajahnya di meja dengan kedua tangannya.

“Dasar gadis manjaa…” Al mengucek-ucek rambut gadis itu.

“Ihhh, apaan sih… sebel Diah sama kakak.”

“Kok gitu?” Tanya Al menahan senyumnya.

“Pokoknya sebal aja… masa selama di Makassar gak pernah ngabarin Diah ih.” Ujar Diah.

Tiba-tiba, sebuah intro lagu terdengar di sound dalam café. “Sttttttt,” Al menyuruh gadis itu untuk diam sejenak.

SHEILA ON 7

♫Datanglah sayang dan biarkan ku berbaring.♫

♫Di pelukanmu walaupun tuk sejenak.♫

♫Usaplah dahiku dan kan kukatakan semua.♫

♫Bila kulelah tetaplah disini,♫

♫Jangan tinggalkan aku sendiri♫

♫Bila kumarah biarkanku bersandar,♫

♫Jangan kau pergi untuk menghindar.♫

♫Rasakan resahku dan buat aku tersenyum,♫

♫Dengan canda tawamu walaupun tuk sekejap.♫

♫Karna hanya engkaulah yang sanggup katakan aku.♫

♫Karna engkaulah satu-satunya untukku.♫

♫Dan pastikan kita selalu bersama♫

♫Karna dirimulah yang sanggup mengerti aku,♫

♫Dalam susah ataupun senang.♫

♫Dapatkah engkau s’lalu menjagaku.♫

♫Dan mampukah engkau, mempertahankanku.♫

♫Bila kulelah tetaplah disini,♫

♫Jangan tinggalkan aku sendiri.♫

♫Bila kumarah biarkanku bersandar.♫

♫Jangan kau pergi untuk menghindar♫ ​

“Untukmu Di.” Ujar Al tersenyum saat lagu selesai.

“Makasih Kak.” Jawab Diah membalas senyuman Al.

“Jangan bersedih lagi ya, masih ingat kan? Dulu kamu yang hibur aku dengan lagu ini.” Ujar Al.

“Hu uh.” Jawab Diah.

“Ya udah, kalo gitu senyum lagi dong.”

“Kak, hemm…” Ujar Diah masih memangku wajahnya menoleh ke Al.

“Kenapa?” Tanya Al.

“Lupain aja… hehe,” Ujar Diah tersenyum menatap mata pria itu. Tatapan mata sayu membuat Al tersenyum.

“Ngomong aja,”

“Apakah kakak pernah merasa sayang sama Diah gak?” Tanya Diah dengan wajah memohon.

“Hmm, mau jujur?” Tanya Al.

“Hu uh.”

“Aku sayang ke kamu, seperti halnya aku sayang ke Citra. Ngertikan maksudku?” Tanya Al membuat Diah menunduk. Tetesan air mata gadis itu tak terasa mengalir di pipinya, saat mendengar jawaban pahit dari Al.

“Makasih Kak, hik..” Ujar Diah tak berani menatap wajah Al.

“Kamu marah?” Tanya Al dan Diah hanya menjawabnya dengan menggelengkan kepalanya. “Maaf,”

“Gak apa-apa kak, mungkin Diah yang terlalu berharap ke Kakak.”

“Sejak awal, aku udah menyayangi kamu seperti halnya aku menyayangi Citra. Kamu ngertikan maksudku?”

“Ngerti Kak…” Jawab Diah.

“Ya udah, kalau gitu jangan sedih lagi dong… apa perlu aku minta ke masnya untuk mutarin lagu yang tadi lagi?” Ujar Al.

“Gak perlu kak… hehehe,” Jawab Diah dengan senyum dipaksa.

“Kamu butuh sandaran gak, untuk sekedar melampiaskan kesedihan kamu saat ini.?” Tanya Al. namun Diah menjawabnya dengan menggelengkan kembali kepalanya sambil tersenyum.

“Kak, boleh Diah minta sesuatu gak hari ini?” Tanya Diah yang kembali menatap wajah Al.

“Silahkan.”

“Jadikan aku kekasih kak Al malam ini, boleh gak?” Tanya Diah membuat Al mengernyitkan alisnya.

“Dasar aneh.”

“Boleh gak?” Tanya Diah memohon.

“Hehe, hanya sehari aja kan?”

“Iya kak, hanya malam ini aja… dan, hmmm… temani Diah malam ini.” Jelas gadis itu. “Boleh kan?”

“Ya udah… btw, masih mau nongkrong disini atau?” Tanya Al.

“Hmm, ajak Diah bersenang-senang dong Kak.” Ujar Diah tersenyum membuat Al akhirnya mengangguk mengiyakan permintaan gadis itu.

“Makasih Kak Al-ku… muachhh” Ujar Diah mengecup pipi Al.

Akhirnya tak lama, mereka meninggalkan café itu. Diah menggandeng manja lengan Al saat mereka melangkah menuju ke mobil pria itu.

Saat mereka di jalan, Diah mengirimkan sebuah pesan BBM kepada seseorang. Walaupun sedikit berat namun ia telah berjanji akan melaksanakan permintaan orang itu.

~•○●○•~​

Sore ini, Ibu Ningsih sedang membersihkan rumah Al. kebetulan kedua putrinya sedang jalan-jalan ke Mall. Maka ia memutuskan untuk sekalian memasak makanan buat para pekerja di rumah tersebut.

Tiba-tiba, HPnya berdering adanya panggilan masuk.

Sejenak wanita itu mengernyitkan alisnya saat melihat nama yang tertera di layar smartphonenya.

“Assalamualaikum, Iya Non Citra… ada apa yah telpon ibu?” Tanya Ibu Ningsih saat menjawab telponnya.

“Loh, kok bisa Non?”

“Hah? Waduh… coba deh nanti ibu telpon si Puputnya.”

“Semoga aja yang Non liat itu beneran si Puput, jadi dia bisa ngambilin barang Non Citra yang ketinggalan.”

“Ya udah deh Non, Ibu telpon Puputnya dulu… assalamualaikum.” Ujar Ibu Ningsih menutup telponnya.

Sedetik wanita itu mengernyitkan alisnya, sedikit pertanyaan dalam hatinya. Kenapa bisa kebetulan begitu yah. Tanpa pikir panjang, wanita itu segera menelpon putrinya untuk meminta tolong mengambikan barang Citra yang ketinggalan tadi.

“Wa’alaikumsalam, Put kamu lagi dimana nak?”

“Waduh, kamu bisa ke Grand Indonesia Gak nak?”

“Iya, kebetulan dompet non Citra ketinggalan di toko Charles & Keith”

“Ya udah, kebetulan kamu lagi deket situ… kamu singgah gih nak, kasian Non Citranya tuh.”

“Wa’alaikumsalam,” Ujar Ibu Ningsih saat menutup telponnya.

“Dasar Non Citra, semoga saja dompetnya masih ada.” Gumam Ibu Ningsih pelan lalu melanjutkan kerjaannya.

Beberapa menit kemudian, saat Ibu Ningsih sedang memasak di dapur. Hpnya kembali berdering.

“Assalamualaikum, iya Non.”

“Alhamdulillah kalau gitu, Syukur deh kalau udah ketemu.”

“Gak masalah Non,”

“Iya, tadi ibu sudah minta tolong ke Puput… mungkin dia udah tiba di sana”

“Hehe, yah gak apa-apa Non… nanti biar ibu yang telpon ke Puputnya bilangin kalau dompet Non Citranya udah ketemu.”

“Iya Non, sama-sama.”

“Wa’alaikumsalam.”

Setelah menutup telpon Citra, ibu ningsih segera menelpon putrinya untuk memberitahukan bahwa dompet Citra ternyata sudah diketemukan.

Akan tetapi karena puput terlanjur sudah berada di Grand Indonesia, jadi kedua putrinya memilih untuk sekedar berjalan-jalan sejenak. Akhirnya Ibu Ningsih mengijinkan kedua putrinya untuk kembali berjalan-jalan dengan syarat pulangnya jangan terlalu malam.

~•○●○•~​

Grand Indonesia Shopping Town merupakan salah satu Mall terbesar di Jakarta. terdiri dari tiga bagian: East Mall, West Mall dan sebuahSkybridge yang menghubungkan kedua bagian tersebut. Skybridge tersedia di lantai 1, 2, 3, 3A, dan 5 dengan sebuah foodcourt berkonsep Food Louver yang berada di lantai 3. di Food Louver ini Anda bisa menemukan berbagai macam jenis makanan seperti Mie Lekker, KFC, Gado-Gado, Bakwan Malang, Masakan Jawa, Masakan medan.

Puput dan Reva sedang bercanda sambil berjalan-jalan mengelilingi mall tersebut. Walaupun mereka tak berbelanja, tapi setidaknya Reva cukup puas walaupun hanya sekedar berkeliling.

Lumayan, menambah pengalaman untuk gadis itu yang memang baru pertama kali ia menginjakkan kakinya di ibu kota.

“Kak, Puput ke toilet dulu yah.” Ujar Puput.

“Ya udah, kakak nunggu disini yah.”

“Hehehe, iya lah… jangan jauh-jauh… ntar tersesat baru tau rasa” Candaan Puput membuat Reva ikut tertawa.

“Dasar, Ya udah buruan sana.”

“Oce boss” Jawab Puput lalu meninggalkan Reva.

Saat Reva masih melihat-lihat pakaian wanita dari balik kaca. Dari arah Magnum Café sepasang muda-mudi saling bergandengan tangan baru saja keluar dari café itu.

Mereka sedang melangkah keluar Mall, berjarak beberapa meter dari Reva yang masih membelakangi mereka.

“Huff lama nih si Puput,” Gumam Reva sesaat sebelum membalikkan tubuhnya.

Tiba-tiba…

Dugh!

Saat Reva membalikkan badan. Ia melihat seorang pria yang begitu dikenal dan di cintainya sedang berjalan mesra berduaan dengan wanita lain. Pikirannya berkecamuk, seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat.

Reva berdiri tegak dan menatap wajah pria itu, mencoba untuk menguatkan emosionalnya sebelum mencari kebenaran atas semua ini dan mencoba untuk berusaha berfikir positif.

Sepasang muda mudi itu masih bercanda tanpa menyadari sosok Reva sudah berjarak dua meter dari mereka. Bahkan pria itu tersenyum terhadap gadis di sebelahnya menambah rasa sakit di dada Reva. Sedetik kemudian, Reva memberanikan diri melangkahkan kakinya sedikit demi sedikit walau hatinya dipenuhi rasa sakit untuk mendekati mereka. namun ia harus mencari jawaban langsung dari pria itu.

“Al…” Reva memanggil nama pria itu dengan bibir gemetar. Yang ternyata pasangan itu tak lain Al dan Diah.

“Eh,” Al yang tersadar segera menghentikan langkahnya. Namun, Diah masih saja menggandeng lengannya dengan manja.

“Maaf,” Hanya satu kata yang terucap dibibir pria itu. Biar bagaimana apa yang ia lakukan saat ini sudah sangat salah.

Reva menjawab dengan mengangguk dan menatap tajam mata Al.

“Siapa Kak?” Tanya Diah menoleh ke Al.

“Dia…” Ujar Al terputus.

“Sudah jelas, inilah jawaban selama dua hari ini kamu tidak mengabariku.” Ujar Reva mencoba menahan sesak didadanya.

Mata Reva mulai berkabut, dadanya terasa sesak. Tak bisa dipungkiri bahwa ia merindukan sosok itu, orang yang sangat ia cintai, namun takdir berkata lain.

“Apa yang kamu lihat saat ini, hanyalah…” Ujar Al terputus. Mencoba merangkai sebuah kalimat untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

“Gak Al, udah jelas kok semuanya.” Reva menyela sambil menggelengkan kepalanya. Membuat Al hanya menarik nafasnya. Entah apa yang ia harus lakukan saat ini.

Sedih bercampur pasrah, karena percuma saja ia menjelaskan kepada Reva. Karena ia sadar saat ini Reva sedang emosi.

“Di, bisa lepaskan tangan kamu dulu.” Ujar Al pelan membuat Diah mengikuti kemauan pria itu. “Makasih.”

Tubuh Reva kaku, lututnya perlahan-lahan terasa lemas. Napasnya kini makin terasa sesak setelah menyadari bahwa harapannya sudah musnah. Apa yang ia lihat didepan mata kepalanya sendiri telah menjawab semuanya.

“Kamu marah?” Tanya Al mendekati gadis itu.

“It’s ok Al… mungkin aku yang tolol sudah mempercayai semuanya.” Jawab Reva pelan dan sudah tak bisa membendung kesedihannya saat ini. Butiran-butiran air mata perlahan-lahan turun membasahi kedua pipinya.

Hatinya terasa begitu sakit. Seseorang yang dicintainya dan dipujanya begitu tega melakukan sebuah kebohongan yang sangat menyakitkan untuknya. Reva merasa sudah ditipu mentah-mentah. Reva merasa telah menjadi orang paling bodoh di dunia karena begitu mudahnya dipermainkan oleh satu orang pria yang sangat dipercayainya. Rasanya Reva ingin berteriak, bila mengingat semuanya yang pernah mereka lalui bersama.

“Stop! Jangan mendekat lagi.” hardik Reva keras. Tubuhnya menegang dan kaku karena menahan emosi. Sedangkan Al menghentikan gerakannya persis seperti yang diinginkan Reva karena ia sendiri pasrah dengan semuanya.

“Va… maaf” Ujar Al pelan.

“Plis, mulai sekarang jangan ganggu aku lagi… kisah kita sudah berakhir disini, semua janji-janjimu selama ini ternyata palsu… hik…hik” Ujar Reva yang sudah menangis dan menatap tajam wajah Al. “Kamu tau Al! Sakit Al… sakit banget” Lanjutnya memukul pelan dadanya.

“Iya Va, pasti sakit… dan aku minta maaf.” Jawab Al membuat Reva tak mampu berkata apapun.

Sebuah harapan yang Reva tanamkan ke diri Al musnah seketika. Mimpi-mimpi indah yang akan mereka rajut saat menikah nanti kini hilang ditelan kenyataan pahit. Kenyataan bahwa Al telah membohonginya selama ini. Menciptakan sebuah perasaan cinta terhadapnya. Membiarkan dengan ikhlas melepaskan sebuah mahkota terpentingnya untuk pria itu. Ternyata hanyalah sebuah permainan yang telah diatur oleh Al selama ini.

“Percuma kamu minta maaf Al…hik…hik… dan terima kasih atas semua kebohonganmu selama ini…hik”

“Maafkan aku Va.” Ujar Al menyesali semua yang telah terjadi. Namun tak bisa melenyapkan kesedihan yang Reva rasakan.

“Sudah cukup… sudah cukup semuanya… aku benci kamu Al…hikk…hik” Tak bisa menahan lagi perasaannya. Maka Reva memilih untuk segera meninggalkan tempat itu. “Maaf, aku harus pergi… hik…hik… dan sekali lagi jangan ganggu aku mulai saat ini dan selamanya.” Ujar Reva sesaat sebelum meninggalkan Al dan Diah.

Hening!

Diah mendekat ke Al yang masih berdiri kaku menatap kepergian Reva.

“Kejar Kak,” Ujar Diah pelan.

“Gak usah Di,” Jawab Al menoleh ke gadis itu.

“Kenapa kak?” Tanya Diah yang sebetulnya tak tega berbuat seperti ini.

“Ntah lah, aku juga bingung dengan semuanya.” Jawab Al pasrah.

“Diah minta maaf yah kak… hik…hik” Ujar Diah yang ikut bersedih.

“Kamu gak salah kok, ini semua salahku.” Ujar Al menarik tubuh Diah lalu memeluk gadis itu. “Yuk, mending kita pergi saja”

“Kakak yakin gak mau mengejarnya?” Tanya Diah.

“Buat apa? Toh dia juga lagi emosi saat ini… yang ada, dia pasti makin emosi saat aku mengejarnya.”

“Hufhh, dasar Kak Al… pengecut” Ujar Diah pelan.

“Memang…” Jawab Al membuat Diah hanya menggelengkan kepalanya.

Saat Al dan Diah melangkah meninggalkan tempat yang menjadi saksi kejadian yang menyedihkan tadi, Puput baru saja kembali dari toilet.

“Loh, Kak Dwi mana yah?” Gumam Puput saat tak melihat kakaknya berada di tempat itu.

“Loh, itukan Pak Al.” Lanjutnya saat melihat Al dan Diah dari jauh sedang melangkah keluar. “Hufhhh, pasti itu cewek yang tuh hari nginap dirumah… tapi serasi sih… hihihihi, semoga Pak Al bisa mendapatkan jodoh secepatnya.”

“Eh, ngomong-ngomong kak Dwi dimana yah?”

Puput kemudian menelpon kakaknya, “Halo Kak, lagi dimana?”

“Oh ya udah, Puput kesana sekarang.” Ujar Puput lalu pergi menemui Reva yang sudah berada di luar Mall setelah menutup telponnya.

~•○●○•~​

Diperjalanan, Al masih diam sambil fokus menyetir. Dalam diamnya dia menyesali semua apa yang ia lakukan tadi. Kenapa semuanya serba kebetulan seperti ini. Padahal apa yang ia lakukan hanyalah sekedar untuk menyenangkan si Diah, namun kenyataannya malah sangat jauh berbeda.

“Kak…” Diah mencoba memecah keheningan sambil menoleh ke arah Al.

“Hmm,” Al hanya berdehem tanpa menoleh sedikitpun.

“Kita mau kemana?” Tanya Diah sedikit merasa heran. Karena mobil yang mereka kendarai berlawanan arah dengan tempat tinggalnya maupun tempat tinggal Al.

“Malam ini kamu masih pacarku kan?” Tanya Al masih tidak menoleh ke gadis itu.

“Menurut kakak?”

“Temani aku malam ini.” Ujar Al masih menatap tajam jalan raya.

“Emangnya mau kemana Kak?” Tanya Diah sedikit gugup.

“Entahlah… pokoknya temani aku aja.”

“Ya su..sudah.” Jawab Diah mengangguk dan kembali menatap jalan raya dengan pikirannya yang berkecamuk memikirkan pria disampingnya.

~•○●○•~​

Berbeda dengan Reva, saat ini mereka berdua telah tiba di rumah. saat diperjalanan, Reva mencoba menutupi kesedihannya dari adiknya. karena biar bagaimanapun ia tidak tega jikalau adik dan ibunya merasakan kesedihannya saat ini. karena mengingat mereka baru bertemu yang selama ini terpisahkan.

Reva mencoba mengalihkan pikirannya dengan mengajak bercanda adik dan ibunya dirumah.

“Oh iya, nelpon sepupu kamu gih… ajakin main ke rumah lagi.” Ujar Ibunya saat mereka bercanda bertiga di ruang tamu.

“Ya udah, bentar bu.” Jawab Reva lalu menelpon sepupunya.

“Halo Di, lagi dimana?” Tanya Reva.

“Oh, iya nih dicari sama ibu.”

“Hehehe, iya disuruh main kerumah.”

“Bagus lah… ya udah sekalian aja makan malam dirumah. hehehe, ditunggu yah sayang.”

“Byee,” Ujar Reva menutup telponnya.

“Gimana Nak?” Tanya Ibunya,

“Iya bu, dia mau kesini… habis selesai kerjaannya dari kantor dia langsung ke rumah.” Jawab Reva tersenyum dipaksakan.

“Kamu kenapa nak?” Tanya Ibunya tersadar melihat Reva seperti sedang sedih.

“Gak ada apa-apa bu… hehehe,”

“Oh iya, kalau kalian mau berenang atau main di depan silahkan aja… kebetulan malam ini aden gak pulang rumah.”

“Hmm, bu…” Ujar Reva seakan ingin menanyakan sesuatu kepada ibunya.

“Kenapa nak?” Tanya Ibunya.

“Eh… gak..gak jadi deh bu.” Reva mengurungkan niatnya. dalam benaknya, ia penasaran dengan pemilik rumah tersebut.

“Tapi, sepertinya aku gak salah dengar suara itu… apakah mungkin?? ahhh gak… gak mungkin dia.” Batin Reva.

Sejam kemudian…

“Assalamualaikum,” Sebuah suara dari seorang gadis terdengar dari luar pintu rumah saat Reva dan keluarganya sedang bercengkrama di ruang tamu.

“Wa’alaikumsalam… masuk Di.” ujar Reva menoleh ke pintu masuk.

Seorang gadis masih memakai seragam pemerintahan baru saja tiba di rumah. akhirnya setelah dipersilahkan masuk, gadis itu meminta izin untuk menumpang mandi dan berganti pakaian. karena malam ini ia memutuskan untuk menginap dirumah Reva.

Still Continued

END – Rahasia Pribadi Part 40 | Rahasia Pribadi Part 40 – END

(Rahasia Pribadi Part 39)Sebelumnya | Selanjutnya(Rahasia Pribadi Part 41)