Rahasia Pribadi Part 39

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30Part 31Part 32
Part 33Part 34Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42 END

Rahasia Pribadi Part 39

Start Rahasia Pribadi Part 39 | Rahasia Pribadi Part 39 Start

Sebuah appartement bergaya western, terdapat 2 kamar tidur yang lumayan luas. Terdapat 1 kamar mandi bersebelahan dengan Kamar tidur bagian belakang, tetapi masing-masing kamar mempunyai kamar mandi dalam. Beberapa perabotan-perabotan yang cukup mewah menghiasi tiap suduh dalam ruangan.

Di salah satu ruangan yang dijadikan ruang kerja, Al dengan lincah memainkan jemarinya pada keyboard laptop. Matanya menatap tajam monitor produk lansiran Apple. Lalu Sesekali mengalihkan pandangannya ke arah pintu masuk, otaknya sedang berpikir sesuatu lalu kembali menatap layar monitornya. Terlihat jelas dia sedang serius mengerjakan presentation untuk bahan meeting dengan SatuLever, Prinsipal yang menjadi Mitra 3MP.

“Haaaaaarrhhh,” Al menghembuskan nafas panjang lalu menyandarkan tubuhnya di kursi, mengangkat ke dua tangannya ke atas untuk sekedar meregangkan otot-ototnya setelah menyelesaikan semua kerjaannya. Merasa cukup, Pria itu beranjak dari kursi kerjanya. Tersirat sebuah senyum diwajahnya saat melihat foto yang berada di dinding. Ingatannya terputar kembali, berawal dari sebuah ketidaksengajaan, sehingga tak terasa hubungan mereka sudah sejauh ini. Hubungannya dengan Reva tak terasa telah berjalan kurang lebih enam bulan. Namun, Al masih belum berani jujur. Ia masih menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkan semuanya pada Reva.

Beberapa saat kemudian, terdengar pintu terbuka diiringi sapaan dari orang yang baru saja masuk. “Al… aku pulang,”

“Loh… kok gak bilang-bilang sih, kan aku bisa jemput” Ujar Al saat menghampirinya. Reva sore ini memutuskan untuk pulang cepat.

“Hehehe, males aja dijemput terus… hufhhh lelahnya” jawab Reva yang sudah duduk disofa dan menghela nafas.

“Jadi gimana? Di Acc gak pengajuan cuti kamu?” Tanya Al.

“Iya dong, tapi nanti cutinya senin aja… Biar bisa seminggu di Jakarta.” Jawab Reva.

“Kok cutinya gak besok aja? Biar bisa bareng aku ke Jakartanya.” Ujar Al membuat Reva menatapnya.

“Hemm, karena sepertinya aku harus duluan berangkat ke Jakarta Va… ada urusan mendadak yang harus aku selesaikan secepatnya.” Lanjut Al mencoba tersenyum.

“Hufhhh, emang ini perusahaan nenek moyangmu Al… ngajuin Cuti itu paling lambat seminggu sebelumnya… dasar!” Jawab Reva membuat Al hanya tersenyum kecut mendengar jawaban gadis itu. “Katanya kamu pengen bareng ke Jakarta-nya?”

“Iya Va, tapi sekali lagi aku minta maaf… gak bisa nepatin janji aku,” Jawab Al. “Lagian kan, nanti kita ketemuan di Jakarta… pokoknya nanti aku yang jemput yah,”

“Hufhhhh, terserah kamu aja deh.” Jawaban Reva barusan membuat Al menarik nafas. Lalu pria itu menatap wajah Reva, namun gadis itu hanya memejamkan matanya untuk sekedar beristirahat sejenak.

Hening!

Al menarik nafas, lalu mencoba mengobrol kembali. “Oh iya, Seandainya memang itu perusahaanku… apa kamu percaya?” Ujar Al memancing reaksi Reva.

Dugh!

Reva membuka matanya, menatap wajah Al. mencari sebuah jawaban atas penuturan Al barusan. Beberapa detik, gadis itu menatap wajah Al dengan ekspresi wajahnya seolah mengatakan “Apakah ini jawaban dari kecurigaanku? Ohh tidak…tidak..tidak”

“Hahahahahaha, mimpinya jangan ketinggian Al… hahahaha, udah ah. Aku mau mandi dulu.”Ujar Reva lalu beranjak dari duduknya.

“Hehe, dibilangin gak percaya.” Ujar Al dan sepertinya Reva tak menggubrisnya yang sudah meninggalkannya berdiri sendiri di ruang tamu. “Va…Va, gimana caranya yah aku ngomong ke kamu yang sebenarnya… hufhhhhh,” lanjutnya bergumam menatap kepergian Reva.

~•○●○•~​

Jakarta…

Ditempat yang berbeda, L dan Citra saat ini sedang berada di jalan menuju apartemen Citra. L sore ini mengantar kekasihnya pulang. Dalam perjalanan, mereka mengobrol mengenai rencana pernikahan mereka nantinya yang tinggal 2 bulan lagi.

Tiba-tiba Hp Citra berdering. “Bentar yah L” Ujar Citra meraih Hpnya.

“Wa’alaikumsalam… Yah Ci.” Citra menjawab teleponnya.

“Hufff, masa sih… jadi gagal dong rencana awalnya Mamah.”

“Hehe, bagus dong kalau gitu… jadi dia gak menilai apa yang saat ini di miliki oleh kakak kita… betul gak?”

“Iya, tapi kan orangnya sama… Kakak ama cowok dia kan orang yang sama, hehe” Kata Citra tersenyum saat L menoleh ke samping.

“Apa yah? Hmmm, coba deh nanti Kak Cicit mikirin rencana apa yang bagus buat mereka… kebetulan kak Cicit lagi ma Kak L nih… kali aja dia bisa membantu rencana kita.”

“Ya udah nanti Kakak update kekamu seperti apa rencana kakak ma Kak L”

“Wa’alaikumsalam,” Jawab Citra lalu menutup telfonnya.

“Kenapa sayang?” Tanya L saat Citra menoleh kepadanya.

“Ini si Eci ma si Mamah lagi pengen ngerjain Kak Al” Jawab Citra.

“Apaan tuh?”

“Jadi gini ceritanya…” Ujar Citra menceritakan apa yang selama ini direncanakan oleh Mamahnya dan juga adiknya.

L mendengarnya hanya bisa mangguk-mangguk dan sesekali memberikan masukan terhadap rencana mereka.

Lucu sih, tapi mau gimana lagi. Karena Citra pun ikut kesal terhadap kelakuan kakaknya yang gak gentle membuka identitasnya kepada orang yang dicintainya.

Setelah Citra selesai menceritakan rencana mereka, L terdiam sejenak sedang memikirkan sesuatu.

“Jadi gini… sepertinya kita butuh bantuan orang lain nih. Hmm, kan kamu bilang ntuh cewek mau ke Jakarta juga kan?” Tanya L setelah selesai berfikir.

“Iya, tuh ibunya ternyata yang kerja dirumah Kakak… dia pengen nemuin ibunya disini.” Jawab citra.

“Ohhhh, hahahaha… dunia ini emang sempit yah, hemmm sesempit punya kamu sayang.” Ujar L nyengir.

Plaaaakkk! “Kamu tuh yah… ihhhh menyebalkan.” Ujar Citra menabok pelan kepala L.

“Cie..cie..cie… yang malu-malu gitu… hahahahahaha.. tapi emang benerkan masih sempit.” Ledek L membuat Citra kesal.

“Udah gak sempit lagi… udah di bobol ama orang lain… PUASS!” Jawab Citra membuat L langsung menoleh ke arahnya dengan wajah terkejut.

“Nah loh…” Ujar L.

“Hahahaha, makanya buruan dijebol… ntar Citra kasih ke orang lain baru tau rasa kamunya.” Ledek Citra membuat L gerang.

“Grrrrrr, kan tuh malam kamu yang belum siap… gimana sih”

“Hehehe, iya sih… maaf yah L” Jawab Citra memohon.

“Ada tante LUX kok… jadi no problem.” Jawab L sembari menggaruk-garuk kepalanya. Ekspresi L sukses membuat Citra terpingkal-pingkal.

“Hahahahaha, tapi aku bangga sama kamu.” Ujar Citra mengelus lengan kiri pria disampingnya.

“Bangga sih bangga… tapi akunya yang sakit kepala tau,” Ujar L.

“Hahahahaha, biarin. Lagian sabar dikit lah L. kan tinggal dua bulan lagi,” Ujar Citra mengingatkan hari pernikahannya.

“Iya…iya, btw gimana tadi… lanjutin lagi rencana ma si Al” Kata L.

“So… yang kamu maksud orang lain itu siapa?” Tanya Citra penasaran.

“Diah.” Jawab L tersenyum licik membuat Citra sejenak berfikir dan tersenyum saat mengetahui apa yang direncanakan oleh kekasihnya.

“Ok, nanti Citra yang mancing deh”

“Sipp kalau gitu… nanti aku yang bantuin nyicipin yah”

Plaaakkk! “Auww sakit tau… kamu tuh yah makin hari makin suka nabok euy Cit” Ujar L mengelus kepalanya.

“Tau ah… dasar cowok mesum” Ujar Citra kembali cemberut.

“Ya elah… bercanda kaleee.”

“Auhh ahhh… bicara aja ama tembok”

“Hahahahaha, kamu gak pantas ngambek kek gitu kali non… kagok jadinya. Hahahahaha” Ledek L melihat tingkah Citra di sampingnya.

“Ihhhhhh kamu tuh yah… udah, mulai besok jangan ngomong ma Citra lagi. Titik!”

“Hihhihihi, ampun sayang,” Ujar L membuat Citra tersenyum.

Tak lama, akhirnya mobil sedan Audi milik L memasuki parkiran apartemen Citra. “Masuk dulu yuk L.” ujar Citra meminta L untuk mampir sebentar.

“Hmm, L…” Ujar Citra saat baru saja membuka pintu apartemennya.

“Yah sayang?” Tanya L dengan wajah mesumnya.

“Tayang-tayangan lagi yuk… hehe,”

“Wanjirrrr… hayuuuuu siapa takut”

“Auwwww” pekik Citra saat L langsung menggendong tubuh gadis itu untuk melanjutkan sayang-sayangan mereka di apartemen milik kekasihnya.

~•○●○•~​

Beberapa hari kemudian…

Wajah Reva terlihat tidak bersemangat siang ini, lebih tepatnya seperti kesal yang bercampur dengan rasa penasaran. Ponsel dalam genggamannya mungkin saja terasa panas karena sedari tadi bolak-balik dipandangi dan digenggam erat karena menunggu panggilan ataupun pesan singkat dari seseorang.

“Dihhhh… orang ini kemana, sih? Sejak kemarin sore hingga pagi ini dihubungi tidak pernah diangkat. Sekarang malah tidak aktif sama sekali.” Gerutu Reva sambil menatap kesal pada ponselnya. Sudah beberapa kali sejak sore kemarin, Reva menghubungi Al. Awalnya ia ingin sekedar menginformasikan bahwa hari ini ia akan ke Jakarta kepada pria itu, tapi tidak ada respon yang didapat hingga Reva merasa kesal sendiri. “Apa dia tidak ingin menjemputku nanti?”

Reva berdiri dengan kesal di depan pintu Apartemen, sesekali menghentakkan kakinya yang berbalut sepatu Sneakers abu-abu kesayangannya. Reva sedikit penasaran dengan kondisi Al saat ini. Pria itu memang mengetahui bahwa hari ini Reva akan berangkat ke Jakarta dan akan berada disana selama seminggu untuk menemui Ibunya. Tapi sebagai pasangan kekasih, Reva ingin Al sering menghubunginya untuk bertukar kabar. Dan saat ini, Reva ingin Al menjemputnya di Bandara.

“Woi Va, udah siap belom? Kok ngelamun sih” Ujar Eci yang sedari tadi melihat tingkah Reva. “Kenapa muka loe ditekuk gitu? Apa loe dah hubungi cowok loe di Jakarta?” Eci melempar beberapa pertanyaan, namun Reva hanya menjawan dengan menggelengkan kepalanya.

Eci siang ini berencana untuk mengantar Reva ke Bandara. “Gak kok… hehehe, Yuk ah Ci” Jawab Reva tersenyum.

“Loe belom jawab pertanyaan gue kale non” Tanya Eci saat mereka sudah berada dijalan menuju Bandara Sultan Hasanuddin Makassar.

“Sudahlah Ci, tidak penting juga kok.” Ujar Reva.

“Dasar aneh… jangan bilang cowok loe gak bisa jemput loe nanti?” Tanya Eci.

“Maybe… tapi ada sepupu gue kok yang jemput nanti”

“Dasar! Kalau gitu, kenapa muka loe masih ditekuk gitu?”

Reva menghela nafasnya berat, dengan wajah yang masih tertekuk dan senyum dipaksakan. Wajah Al berulang kali membayang dalam pikirannya dengan berbagai ekspresi berbeda dari pria itu. Mulai dari wajah yang tersenyum, jahil, marah, bahkan cemberut. Membuat Reva semakin kesal karena pria itu tak kunjung membalas pesan BBMnya maupun menelponnya kembali.

“Kan gue dah bilang, mending loe ama kakak gue… gini kan loe gak sakit hati lagi. Hehehehehe”

“Gak lah Ci… gue cintanya ma dia, dan gue bukan type cewek yang menilai cowok dari kekayaannya” Jawab Reva menoleh ke Eci sambil tersenyum.

“Iye, tapi kan setidaknya Kakak gue jauh lebih baik dari pada cowok loe yang sekarang” Ujar Eci mencoba memanas-manasi Reva.

“Menurut kamu gitu, kan aku belum kenal ma kakak kamu”

“Mau gue telpon gak? Biar kakak gue yang jemput loe di Jakarta nantinya. Trus sekalian loe bisa kenalan ma dia… Gimana?” Tanya Eci membuat reva terkejut.

“Eh..eh, gak perlu Ci… gak segitunya juga kali”

“Ya sudah, terserah loe aje dah” Ujar Eci.

“Hehehe, maaf yah Ci… bukan maksud menolak keinginanmu untuk ngejodohin ama Kakak kamu. Tapi, cinta itu gak bisa dipaksain.” Ujar Reva, tersirat diwajahnya masih merasakan kesal dan sedih terhadap Al.

“Iya sih Va, it’s Ok… kan belum tentu juga loe nikahnya nanti ama cowok loe… kali aja tuhan berkeinginan lain. Dan ternyata jodoh loe itu Kakak gue. Hehehehehe”

“Hehe, ngarep yah? Lagian kenapa sih kamu pengen banget ngejodohin aku ma kakak kamu?” Tanya Reva.

“Karena gue tuh tau banget, kalau kakak gue itu cocoknya ama elo… dan lagian gue juga udah sayang banget ama loe Va.” Jawaban tulus dari Eci membuat Reva tersentuh.

“Makasih yah Ci, udah sayang dan mau bersahabat denganku yang berasal dari masyarakat biasa.”

“Elah… biasa aja kali Va. Gue juga orang biasa kok… kan gue dah bilang, kakak gue doank yang kaya… kalau gue mah sama ama kayak elu.” Ujar Eci.

“Tapi kan biar gimana, kekayaan kakak kamu itu berasal dari kedua orang tua kan.” Ujar Reva membuat Eci menoleh dan tersenyum.

“Gak Va, loe salah… keluarga gue itu sama ama kayak loe. Dulunya susah juga kok… asal loe tau aja, semua ini dibangun dari nol ama kakak gue loh. Dan gak ada bantuan sama sekali dari keluarga.” Jawaban Eci membuat Reva sedikit terkejut.

“Masa sih Ci? Jadi semua ini memang karena hasil kerja keras kakak kamu yah?”

“Yup… makanya gue bangga banget dengan kakak gue… dan gue gak mau nantinya dia dapat istri yang hanya mencintainya karena apa yang saat ini ia dimiliki.” Ujar Eci membuat Reva hanya mangguk-mangguk. “Setidaknya, calon kakak ipar gue nantinya harus mengetahui bahwa Kakak gue itu dulunya orang susah.”

“Ohhh, tapi maaf sayang. Bukan Reva orangnya.” Ujar Reva.

“Iya… kan belum tau kedepannya seperti apa. Hehehehe” Jawab Eci dan Reva hanya bisa mangguk-mangguk.

Reva sempat berfikir dan juga penasaran, seperti apa sosok kakak Eci. Yang jelas, Reva saat ini tersentuh dengan cerita Eci barusan. Ia pun ikut bangga terhadap apa yang telah dilakukan oleh Kakak Eci. Akan tetapi, hatinya tidak tersentuh sama sekali jikalau kembali pembahasan tentang perjodohannya dengan pria itu. Karena cintanya sudah memilih Al, dan sudah tak bisa berpaling ke orang lain.

“Hmm, Va… andai saja kakak gue ternyata itu cowok loe… gimana?” Tanya Eci mencoba menyinggung Reva.

“Eh… hehehehe, gak mungkin lah. Mana mungkin dia seberuntung kakak kamu Ci.” Tepis Reva membuat Eci hanya tersenyum mendengar kepolosan Reva.

“Kan sapa tau aja, lagian loe juga gak pernah ketemuin gue ke cowok loe.”

“Iya, dia nya yang gak mau ketemu ama teman-temanku Ci. Apa yah… hmmm. Emang orangnya rada aneh sih. Tapi justru itu yang membuatku mencintainya.” Jawab Reva.

“Emang loe gak cerita tentang gue? Siapa gue gitu… dan lagian kan loe udah gue anggap sodara sendiri. Masa iya segitunya dia gak mau ketemu ma gue.” Tanya Eci.

“Gak sih Ci, aku hanya ngomong ke dia… sahabatku pengen ketemu ma dia, tapi… yah gitu… sebelum aku ngelanjutin ceritaku, dia udah pergi dan seakan tak perduli dengan apa yang aku tanyakan sebelumnya.” Ujar reva menjawab pertanyaan Eci.

“Dasar cowok aneh. Yang tuh malam kan? Yang suka mabuk itu” ujar Eci.

“Emang aneh kok… hehehe, tapi aku mencintainya” Jawab Reva. “Dan dia buka type cowok yang suka mabuk-mabukan, tuh malam dia kek gitu karena sesuatu alasan.”

“Makan tuh cinta…hehehehe” Ledek Eci membuat keduanya tertawa di dalam mobil sepanjang perjalanan menuju bandara.

Akhirnya city car milik Eci tiba di Bandara Sultan Hasanuddin, lalu setelah itu Eci segera membantu menurunkan salah satu tas ransel milik Reva.

“Makasih yah Ci, kontek-kontekan aja yah.” Ujar Reva.

“Iya sama-sama Va, salam buat ibu loe yah disana… dan juga sama cowok loe tuh yang sok misterius.” Balas Eci lalu setelah cipika-cipiki akhirnya Eci meninggal kan Reva di bandara.

Reva melangkahkan kakinya menuju pintu keberangkatan, lalu setelahnya Reva melakukan check in di salah satu counter merek penerbangan pesawat berlambangkan kepala Singa.

~•○●○•~​

Beberapa Jam kemudian…

Sebuah perumahan elite ibu kota, berdiri di atas tanah seluas 1.000 meter persegi di kawasan Green Garayan Residence, Jakarta Selatan. Rumah berlantai dua dibangun dengan konsep modern bergaya western terlihat sepi.

Beberapa pepohonan menambah kesan mewah terhadap rumah tersebut, terdapat sebuah pos security yang terletak di sebelah kanan pagar rumah.

Sebuah taksi yang baru saja tiba di depan pagar rumah mewah tersebut, membuat seorang security segera menghampiri taksi tersebut.

Dan didalam taksi ternyata Reva dan sepupunya yang tadi menjemputnya sedang mengobrol.

“Yakin ini alamatnya?” tanya Reva mengernyitkan keningnya.

“Yakin banget, nanti aku antar masuk kedalam” jawab gadis yang mengantar Reva ke alamat orang tua kandungnya.

“Hehehe, makasih yah Di” ujar Reva.

“Anggap aku bayar utang ma kamu Va, kan tuh hari udah ngijinin nginap ditempat kamu selama 2 minggu”

“Hehehe, siap sayang”

Sebuah rasa ketidaksabaran menghinggapi Reva, rasa rindu yang begitu besar ingin segera bertemu dengan ibunya.

“Selamat siang, mau ketemu dengan siapa Mba?” Tanya security saat kaca mobil terbuka.

“Ibu ningsihnya ada pak? Saya ponakannya yang kemarin datang.” Jawab sepupu Reva.

“Eh si enengnya… bentar yah.” Jawab Secutiry tadi lalu segera kembali ke posnya dan membuka pagar rumah dengan menekan sebuah tombol di atas meja. Pagar pun terbuka secara otomatis,

“Silahkan neng… bapak sudah menelfon ibu di dalam.” Ujar pria itu untuk mempersilahkan taksi tersebut masuk kedalam.

Saat taksi yang digunakan oleh Reva dan sepupunya masuk ke dalam pekarangan rumah mewah tersebut, terlihat beberapa mobil mewah terparkir dengan rapinya di garasi rumah maupun di pekarangan.

“Rumah ibu kamu berada dibelakangnya Va” Ujar Sepupu Reva saat melihat gadis disebelahnya sedang diam memperhatikan seluruh penjuru rumah tersebut.

“Hehehe, Iya Di… ibu hanya kerja disini kan.” Jawab Reva membalas senyuman gadis di sebelahnya.

Bagaimanapun Reva tak akan pernah lupa walau semua peristiwa itu terjadi saat ia masih berusia 12 tahun. Lebih tepatnya saat ia masih duduk di bangku kelas 6 SD. Dan hari ini, semuanya akan terbayarkan. Rasa rindu terhadap ibunya yang telah terpisah lama dengannya.

Saat Reva baru saja turun dari Taksi, seorang wanita setengah baya sedang berdiri kaku di depan pintu rumah yang tak lepas menatap tubuh Reva saat ini.

Reva menatap wanita itu, sebuah mata yang telah mengalirkan air mata. Sudah terlalu lama gadis itu memendam rasa rindunya terhadap wanita itu.

“I..ibu,” Ujar Reva kaku, sekujur tubuhnya terasa bergetar dan bibirnya gemetar memanggil wanita itu. Sedangkan gadis di sebelahnya hanya bisa terdiam memperhatikan adegan mengharukan antara ibu dan anak.

“Dwi… hik..hik..hik… Dwiii anaaakkk ibuu.” Balas ibunya, dan segera Reva berlari dan menghambur tubuhnya memeluk tubuh wanita itu. “Maafkan ibu sayang… hik.”

“Dwi kangeennn sama ibu..hik” Balas Reva. Tangisannya pun memecah dan memeluk erat tubuh ibunya. Bibirnya gemetar. Pandangannya ikut kabur karena dipenuhi air mata merasakan kebahagiaan yang selama ini ia impikan. Bermimpi bertemu dengan ibunya.

Dengan tangan gemetar, Ibunya mengelus rambut Reva lalu tersenyum penuh duka saat menatap wajah putrinya. “Maafkan ibu yah nak”

Terharu melihat pertemuan antara ibu dan anak, keponakan ibu Ningsih masih saja terdiam dan tak terasa meneteskan air mata bahagia.

“Dwi kangennn bu… pliss jangan tinggalkan Dwi lagi…hik” Ujar Reva tak mengehentikan tangisannya. Ibu Ningsih tak mampu berkata-kata lagi, hanya bisa membalas pelukan anaknya dan menjawab pertanyaan putrinya hanya dengan anggukan kepala.

Sekian lama terpisahkan antara jarak dan waktu, membuat Reva mengucap syukur kepada yang maha kuasa. karena masih diberikan kesempatan untuk bertemu kembali dengan ibunya.

Beberapa saat, setelah tangisan mereka mereda. ibu Ningsih mempersilahkan kedua gadis itu untuk masuk. “Ayo masuk dulu, gak enak dilihat ma orang. Apalagi sama aden, karena bentar lagi beliau akan pulang kantor.”

“Puput kemana Bu?” Tanya Reva saat tak melihat adiknya.

“Adikmu masih dikampus sayang, bentar lagi pulang kok… yuk, kita kebelakang aja langsung.” Ujar Ibunya lalu mengajak mereka melalui pintu samping menuju tempat tinggalnya yang memang telah di siapkan oleh pemilik rumah.

Reva tak henti-hentinya memeluk tubuh ibunya, seakan tak ingin melepaskan pelukannya saat ini. Sedangkan sepupunya masih tak bisa mengeluarkan sepatah katapun, bahkan ia pun ikut terharu dan meneteskan air mata melihat Reva bertemu dengan ibunya setelah sekian lama terpisahkan.

“Duduk Di, maaf rumah berantakan.” Ujar Ibu Reva mempersilahkan sepupu Reva untuk duduk di sofa.

Sebuah rumah yang terletak dibelakang rumah induk, yang tak begitu besar tetapi cukup buat Ibu Ningsih dan putrinya tinggal selama ini.

“Iya tan… ” Jawab gadis itu lalu duduk di sofa ruang tamu.

“Udah yah, ibu bikinin minum dulu.” Ujar Ibunya seakan ingin melepaskan pelukan Reva ditubuhnya.

“Gak mau… Reva masih kangen ama ibu.” Jawab Reva dengan manja, yang justru makin mengeratkan pelukannya ditubuh ibunya.

“Iya sayang… cantik kamu sekarang yah..” ujar ibunya mengangkat wajah Reva lalu menatap wajah cantik anaknya.

“Siapa dulu dong ibunya,” Jawab Reva tak henti-hentinya mencium pipi ibunya. Melepaskan semua apa yang ia rasakan.

“Ya udah, mending kamu ganti baju dulu… oh iya Di, kamu nginap juga disini kan malam ini?” Ujar Ibu Reva sembari bertanya kepada ponakannya.

“Iya tan… hehehe, lagian juga aku sedang gak ada kerjaan kok.” Jawab ponakannya.

“Ya udah ganti baju dulu gih… oh iya, nanti malam kalian gak usah keluar rumah yah, gak enak ama aden kalau kalian berkeliaran diluar.” Ujar Ibunya.

“Pasti galak yah bu tuan rumahnya?” Tanya Reva.

“Justru malah beliau baik banget loh nak… ibu yang sungkan aja kalau dia lihat kalian berkeliaran didepan.” Jawab Ibunya.

“Eh Va, kata tante… pemilik rumahnya masih muda loh, single juga. Hehehe, kali aja kamu bisa berkenalan dengan dia. Iya gak tan?” Ujar sepupu Reva membuat Reva hanya tersenyum.

“Hussttt, ngawur kalian.” Ujar ibunya membuat keponakannya hanya nyengir.

“Ya udah, ibu tinggal dulu… mau masakin makan malam para pekerja disini, kalian istirahat aja dulu. Kalau mau apa-apa telfon aja, gak usah keluar sebelum ibu yang menyuruh kalian nantinya.” Ujar Ibu Reva.

“Iya Bu,”

“Iya Tan,”

Akhirnya kedua gadis itu bergegas berganti pakaian dan juga mengatur barang bawaan Reva untuk diletakkan di lemari setelah ibunya kembali bekerja.

Saat Reva dan sepupunya sedang sibuk merapikan beberapa pakaiannya, tiba-tiba pintu depan diketuk. “Assalamualaiku,”

“Wa’alaikumsalam,” Jawab Reva lalu keluar dari kamar.

“Ka…kakak,” Ujar seorang gadis yang baru saja masuk kedalam rumah. Dan kedua matanya sudah mengeluarkan air mata melihat sosok Reva saat ini.

“Puput? Hik.hik…” Ujar Reva yang segera berlari dan memeluk tubuh adiknya.

“Kak Dwi, hik… Puput kangen banget ama kakak.” Tangis adiknya memecah. “Ibu tadi udah ngomong didepan, kalau kakak udah datang… makanya Puput langsung lari ke belakang.. hik..hik..hik,”

“Iya Put, maafkan kakak yah.” Jawab Reva.

“Puput yang minta maaf kak, gak pernah ngasih kabar ke kakak selama ini.”

“Udah… udah deh, udah cukup acara nangsi-nangisnya… mending bantuin kakak kamu ngaturin pakaian dan barang-barangnya.” Ujar sepupu Reva yang hanya bisa menyaksikan kembali drama sedih di hadapannya.

“Hehe, ya udah mana Puput bantuin,” Jawab Puput dan akhirnya mereka bertiga larut dalam sebuah kebersamaan yang begitu bahagia.

Mereka bertiga akhirnya hanya ngumpul didalam kamar, sambil mengobrol tentang masa-masa selama mereka berpisah sambil menunggu ibunya kembali ke rumah mereka.

~•○●○•~​

Malam hari, sebuah Mobil JEEP WR baru saja tiba di parkiran rumah saat security yang sedang berjaga di pos depan telah membukakan pintu pagar rumahnya.

“Malam Pak,” Sapa Al saat security tadi membukakan pintu mobilnya.

“Malam juga Pak Al,” Balas Bapak security sambil membungkukkan tubuhnya saat Al memberikan kunci mobil kepadanya untuk memarkirkan mobil tersebut.

“Makasih ya Pak,” Ujar Al lalu melangkah masuk kedalam rumah.

Saat Al berada di ruang tengah, Ibu Ningsih baru saja selesai membersihkan rumah dan tersenyum menyambut kedatangan pria itu. “Malam Den,”

“Malam Bu… Oh iya, aku mau keluar lagi yah Bu… gak usah nyiapin makan malam buatku.” Ujar Al menghentikan langkahnya di depan pintu kamar pribadinya lalu kembali menoleh ke arah ibu Ningsih.

“Baik Den,” Jawab Ibu Ningsih tersenyum. “Oh iya Den, ibu minta maaf sebelumnya.”

“Kenapa Bu? Ngomong aja.” Tanya Al tersenyum ramah.

“Anu Den, anak ibu yang dari Makassar udah tiba tadi siang.” Ujar Ibu Ningsih. “Dan dia akan nginap dirumah selama berada di Jakarta.”

“Oh ya udah Bu… hehehe, Gak masalah kok.” Al tersenyum sambil mengangguk menyetujuinya. “Kalau butuh apa-apa ngomong aja yah, atau mau kemana-mana minta tolong aja sama supir untuk mengantarnya selama di Jakarta.”

“Gak perlu Den, paling nanti Ibu mau ngajakin keliling-keliling kota Jakarta pake busway.” Tolak ibu Ningsih dengan sopan.

“Ya udah, ibu atur aja yah…” Jawab Al. “Kalau gitu aku tinggal dulu yah Bu.”

“Baik Den, makasih sebelumnya.” Balas Ibu Ningsih membungkukkan tubuhnya dan dibalas sebuah anggukan kepala dari Al sambil tersenyum sebelum pria itu melangkah masuk ke dalam kamarnya.

Saat Al berada di dalam kamar, Ibu Ningsih melihat Puput baru saja masuk dari ruang samping. Dan disusul oleh Reva membuat Ibu Ningsih segera menghampiri mereka.

“Eh ngapain kalian disini?” Tanya Ibu Ningsih.

“Hehe, ini Kak Dwi katanya udah lapar Bu.” Jawab Puput.

“Astaga, ya udah tungguin aja dibelakang… gak enak Put, ada Aden di dalam kamarnya.” Ujar Ibu Ningsih mencoba mendorong pelan tubuh Puput untuk menyuruhnya kembali ke rumah belakang.

“Ihhh Ibu, emangnya Bapak mau menggigit kami… dasar ibu, parnonya kebangetan Kak Dwi.” Ledek Puput.

“Put, Dwi tungguin ibu aja deh di belakang… ini bentar lagi adennya mau keluar… sana-sana, jangan berkeliaran disini dulu.” Ujar Ibunya kebingungan dan menyuruh kedua putrinya untuk kembali kerumah mereka.

“Iya…iya…ihhh Ibu cerewet banget. Lagian kan Puput pengen ngenalin Kak Dwi ama bapak.” Ujar Puput.

“Udah Put… yuk ah, dengerin kata Ibu.” Ujar Reva menarik lengan adiknya.

“Hustttt… kalau didengar ama aden. Bisa kena marah kamu Put.”

Saat Ibu Ningsih masih menyuruh kedua Putrinya untuk keluar, terlihat pintu kamar pribadi Al terbuka. “Bu Ningsih.” Ujar Al memanggil nama Ibu Ningsih.

“I..Iya Den… udah kalian kebelakang sekarang… tuh aden udah keluar kamar.”

“Iya iya… yuk Kak.” Ujar Puput mengajak Reva untuk kebelakang. Namun sepertinya Reva sedang memikirkan sesuatu.

“Ada apa kak?” Tanya Puput saat mereka melangkah ke belakang.

“Eh gak kok dek, lupakan aja.” Jawab Reva tersadar dari lamunannya barusan.

“Apa aku gak salah dengar suara tadi?” Batin Reva.

Still Continued

END – Rahasia Pribadi Part 39 | Rahasia Pribadi Part 39 – END

(Rahasia Pribadi Part 38)Sebelumnya | Selanjutnya(Rahasia Pribadi Part 40)