Rahasia Pribadi Part 34

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30Part 31Part 32
Part 33Part 34Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42 END

Rahasia Pribadi Part 34

Start Rahasia Pribadi Part 34 | Rahasia Pribadi Part 34 Start

Makassar…

Malam yang sejuk mengiringi langkah seorang gadis yang baru saja tiba di appartemen milik Al. Angin malam turut membelai lembut rambut gadis itu yang tak lain adalah Reva.

Seharian Reva sangat kesal karena beberapa kali menghubungi Al namun tak bisa tersambung. Ada apa dengan Al yah? Pikiran gadis itu terganggu oleh ketidak adanya kabar seharian penuh dari si pria yang telah berjanji kepadanya.

“Hufhhhh…Tuh anak tumben gak ada kabar.” Gumam Reva, terlihat wajahnya antara ke-khawatiran dan juga sedih tak mendapatkan kabar dari Al.

Mungkin Al sedang sibuk saat ini, hingga tak menyempatkan memberi kabar kepada Reva, itulah yang saat ini gadis itu fikirkan. Berifikir positif, dan mengalihkan pikirannya lebih baik dari pada berfikiran yang aneh-aneh. Akhirnya Reva tiba di depan pintu Appartemen, lalu saat setelah membuka pintu tersebut antara sadar atau tidak ia melihat sesosok bayangan sedang duduk di depan TV tempat Al duduk seperti biasanya saat pria itu berada di appartement-nya.

“Al…” Gumam Reva pelan sambil mengernyitkan alisnya.

Ceklek! Reva menyalakan lampu ruang tengah, namuh sosok bayangan tersebut tiba-tiba menghilang.

“Hufhhhhhh…” Reva menarik nafas panjang, beberapa hari belakangan ini ia seringkali melamun tentang masa depannya, tentang hubungannya dengan Al.

Dan tak jarang juga ia seringkali di ganggu oleh bayangan Al saat dirinya sedang melamun.

Gadis itu melangkahkan kakinya menuju kamar yang biasa ia gunakan bermesraan dengan Al.

Ceklekk! Reva menyalakan lampu kamar saat dirinya berada dalam kamar tersebut. Lama gadis itu menatap ranjang yang menjadi saksi awal mahkotanya direbut oleh Al.

“Hei, Bersih-bersih dulu gih…” Sebuah suara mengagetkannya, sosok pria sedang berbaring di atas ranjangnya.

“Tidak-tidak… kok gue jadi aneh gini yah sekarang” gumam Reva mengetahui bahwa sosok dan suara tersebut hanyalah sebuah halusinasi.

Untuk menghilangkan penat karena seharian kerja, akhirnya gadis itu memilih mandi dan segera bergegas masuk kedalam kamar mandinya yang masih berada di dalam kamar.

Tak lama gadis itu saat setelah selesai mandi, ia pun keluar ke ruang tengah.

Appartement yang saat ini di titipkan oleh Al memang lumayan mewah, semua perabotannya serba lengkap. Mampu membuat setiap orang bakalan betah tinggal di tempat itu.

Namun, bukan itu yang ia inginkan saat ini.

Mengapa ia begitu bodoh, kan Al sudah berjanji kepadanya akan datang dan melamarnya setelah satu purnama telah lewat. Namun, saat ini ada keraguan dalam dirinya.

Apakah Al tahu, segumpal hati Reva saat ini terlukis jelas namanya, bagaikan semburat warna-warni yang menghias indah, bagaikan pelangi yang terlukis di kala senja berbaur dengan warna siluet emasnya, tapi kenapa seakan akan pria itu tak peduli?

“Hufffhhhh…. Entahlah,” Gumam Reva pasrah lalu perlahan-lahan ia memejamkan kedua matanya mencoba beristirahat dari gejolak hatinya saat ini.

~•○●○•~​

Ke-esokan harinya…

Sore hari, sebuah rumah mewah berbentuk minimals yang terletak di daerah Cendrawasih adalah kediaman orang tua pemilik tunggal PT. Tiga Mandiri Perkasa, Tbk. Dimana saat ini kedua orang tua Al sedang duduk santai di depan teras rumahnya.

Kedua orang tua Al sedang mengobrol tentang rencana pernikahan Putrinya yang bernama Citra Dwi Andayu yang akan di laksanakan 3 Bulan ke depan.

“Jadi wajib donk pah, L dan Citra pake adat Makassar saat akad nikah nantinya?” Tanya Mamahnya di tengah obrolan mereka.

“Ya iyalah Mah, tapi saat resepsi pernikahannya yah terserah mereka” Jawab Papahnya.

“Ya udah, kita serahkan semua ke anak kita yah pah… moga aja, acaranya mereka sukses, masalahnya Mamah udah gak sabar menggendong cucu”

“Hehehehe… sama donk ama Papah, mana si Yudha entah kapan mau nikah… cewek aja gak punya” Ujar Papah Al dengan wajah sedikit lesu mengingat Putra sulungnya yang entah sampai kapan hidup membujang.

“Oh iya, apa sebaiknya kita yang harus turun tangan yah Pah?” Tanya Mamahnya yang baru saja memikirkan sebuah ide buat Putranya.

“Jangan bilang mamah mau nyariin jodoh buat Yudha?” Tanya Papahnya.

“Tenang aja Pah, inikan udah bukan jaman siti nurbaya lagi… dan tau sendiri karakter si Yudha kek gimana… mana mau dia dijodohin” Jawab Mamahnya masih menggantung idenya saat ini.

“Trus apa dong?”

“Jadi gini Pah……” Ujar Mamahnya menceritakan semua ide yang akan mereka lakukan nanti.

Terlihat senyum di wajah Papahnya Al saat mengetahui rencana Istri tercintanya untuk Putra sulungnya, Papahnya hanya manggunk-mangguk mendengar Istrinya mengoceh menceritakan secara detail rencanyanya.

“Hehe… boleh juga Ide mamah, yah udah Papah sih setuju-setuju aja” Ujar Papahnya saat Mamahnya selesai menjelaskan semua rencana kedepannya.

“Pokoknya serahin semuanya sama Mamah yah Pah”

“Oke deh Mah,”

“Bentar, Mamah mau ngomong dulu sama Eci nih… karena dia satu-satunya yang bisa membantu rencana mamah nantinya”

“Masih di kamarnya kali,” Jawab Papah Al kembali menyerup Teh nya yang telah di sediakan oleh Istrinya sebelumnya.

“Ya udah, Mamah tinggal bentar yah Pah” Ujar Mamah Al dan di iyakan oleh Papahnya.

Mamah AL meninggalkan Papahnya menuju kamar Eci di lantai 2 rumah mereka.

Tok…tok…tok! “Ci…Eci…” Ujar Mamah Al saat setelah mengetuk pintu kamar putri bungsunya.

Kriekkkk! Pintu kamar terbuka, terlihat Eci masih bermalas-malasan karena baru saja bangun dari tidur siangnya.

“Edede… yah Mah, kenapa… Hoaemmmm” Jawab Eci setelah membukakan pintu kamar.

“Mamah mau ngomong ama kamu gih” Jawab Mamahnya yang tanpa dipersilahkan langsung nyosor masuk kedalam kamar Eci.

“Ihhhh mamah… Eci masih pengen bobo”

“Kamu tuh… udah bangun sana, Mamah pengen ngomong serius ama kamu” Jawab Mamahnya yang sudah duduk di tepi ranjang.

“Tumben…” Ujar Eci yang telah naik kembali ke atas ranjangnya.

“Jadi Gini….” Ujar Mamahnya yang segera menjelaskan semua rencananya yang akan ia lakukan bersama Eci.

Eci hanya mangguk-mangguk dan tersenyum karena mengetahui apa yang direncanakan oleh Mamahnya saat ini.

“Beres Mah… serahin sama Eci kalo masalah itu” Jawab Eci dengan mimik wajah serius namun seperti memikirkan sesuatu sambil mangguk-mangguk di depan Mamahnya.

“Oke, jadi mamah anggap kamu mengerti apa yang harus kamu lakukan yah”

“Siap Bos” Jawab Eci.

Akhirnya Mamahnya meninggalkan kamar menuju kembali ke depan teras rumah untuk menemui suami tercintanya.

Eci yang masih di kamar segera bergegas menuju kamar mandi untuk mandi karena tak sabar akan segera melaksanakan rencananya bersama kedua orang tuanya.

~•○●○•~​

Malam harinya…

Sebuah city car keluaran Mitsubishi sedang parkir di parkiran karyawan Clarion Hotel dimana seorang gadis cantik berwajah campuran timur tengah sedang menunggu seseorang di atas mobil miliknya.

Sengaja ia menunggu di atas mobil hanya ingin melakukan rencanaya di awal, yaitu mengintai kegiatan seseorang saat ini.

Tak begitu lama, orang yang di tunggu pun baru saja keluar dari pintu karyawan Hotel tersebut.

“Hemmm… itu dia, Ok Ci saatnya beraksi” Ujar gadis di dalam mobil yang tak lain adalah Eci.

Seorang gadis yang tak sadar telah diperhatikan dari jarak jauh, sedang melangkah keluar dengan memakai seragam kerjanya untuk mencari taksi yang akan mengantarkannya berbelanja keperluannya di suatu tempat.

Akhirnya taksi berwarna biru yang mengantar Reva saat ini telah tiba di depan sebuah Mall di daerah kota Makassar. Mall Panakukang boleh dibilang, saat ini merupakan mall terbesar yang ada di Kota Makassar. Lokasinya yang strategis, terletak di CBD Panakkukang, membuatnya mudah dijangkau dengan Pete-pete (Angkutan Umum). Mall yang mulai beroperasi sejak tahun 2006 dulunya lebih dikenal dengan mall diamond. Mall ini juga terintegrasi dengan Panakkukang Trade Center yang berada di sebelah timurnya melalui jembatan di lantai 2 dan 3 serta Hotel SwissBellInn yang ada di sebelah utara PTC.

Malam ini MP sedang ramai, karena mengingat akhir bulan banyak Pegawai Swasta yang baru saja menerima upah/gaji bulanan mereka dan memilih ke Mall tersebut untuk berbelanja seperti yang akan Reva lakukan.

Lokasi yang strategis menarik banyak tenant besar beroperasi di mall berlantai 4 ini. Membuat banyak pilihan buat para pengunjung Mall tersebut. Lotte dan Hypermart adalah 2 tenant besar yang bermain di segmen yang sama dan beroperasi di sini. Sementara Carrefour ada di PTC. Banyaknya pilihan merek-merek fashion ternama, dept store, elektronik, perawatan, toko buku, arena ice skating dan lain-lain mejadikannya tempat yang tepat untuk window shopping.

“Hemm… Hypermart aja deh” Gumam Reva saat berada di dalam Mall dan sempat berfikir untuk berbelanja dimana. Akhirnya pilihannya jatuh di Hypermart.

Saat Reva melangkah masuk ke dalam Hypermart, ternyata Eci tak jauh darinya sedang mengikutinya masuk kedalam Supermarket besutan dari group Lippo.

Eci berjalan dengan santainya berjarak sekitar 6-10 Meteran di belakang Reva, sepertinya Eci menahan ingin memulai rencananya. Menunggu momen yang pas mungkin.

Eci melihat Reva mengambil Troli dorong lalu melangkah masuk ke dalam Hypermart.

Reva mulai memilih-milih belanjaannya baik itu keperluan kecantikannya maupun kebutuhan makanan maupun minuman lalu menaruh ke dalam Troli-nya.

Eci tak lupa mengambil keranjang kecil sambil mengambil beberapa produk biar gadis yang saat ini ia buntutin tidak curiga terhadapnya.

Sepertinya Reva memang tidak menyadari sama sekali kalau dirinya sedang di ikuti sejak tadi, terlihat dia masih saja sibuk memilih-milih produk yang pas untuk ia beli.

Akhirnya Reva menuju ke gondola yang mendisplay produk-produk Home Care seperti sabun cuci piring, detergen dan lain-lainnya.

Eci memilih memutar mengelilingi gondola grocery non food lalu bertemu dengan Reva sambil berpura-pura memilih-milih sabun di gondola tersebut.

Reva yang menyadari bahwa seseorang berada di dekatnya langsung menoleh ke samping lalu tersenyum kepada Eci.

“Hei, Loe kan yang tuh malam ketemu di Retro bareng kak Citra kan?” Ujar Eci saat membalas menoleh ke Reva.

Beberapa detik Reva mencoba mengingat siapa gadis yang baru saja menyapanya.

“Oh iya ingat” Ujar Reva yang baru saja mengingatnya. “Adiknya ibu Citra kan?” Lanjut Reva tersenyum, namun sedikit rasa sungkan mengingat Eci adalah adik dari pemilik perusahaan tempat Reva bekerja.

“Yup… gue Eci, loe Reva kan?” Ujar Eci yang mengajak Reva untuk bersalaman.

“Hehe, iya Ibu… aku Reva” balas Reva membalas salaman dari Eci.

“Eci aja… emang gue keliatan udah tua yah?” Ujar Eci yang wajahnya dibuat cemberut, namun tersenyum kembali saat melihat Reva tersenyum.

“Hehe, iya gak enak aja kalo manggil nama…secara kan…” ujar Reva terputus.

“Pokoknya Eci aja, gak pake embel-embel… lagian pasti loenya lebih tua deh dari pada gue” ujar Eci membuat Reva tersenyum kembali.

“Ok lah… yah udah, kalo gitu aku duluan yah Ci… ” ujar Reva seakan ingin meninggalkan Eci, karena merasa rada kikuk bertemu dengan adik pemilik 3MP.

“Eh tunggu Va, temenin gue makan yuk bentar” ujar Eci mengajak Reva untuk dinner bareng.

“Hemmm…” Reva sedikit berfikir.

“Udah… sok pake acara di pikir lagi… pasti loe juga belom makan kan?” Ujar Eci dan Reva pun tak bisa menolak permintaan Eci.

Setelah selesai berbelanja, dan juga Eci yang mau gak mau berbelanja seadanya biar si Reva tidak curiga terhadapnya. Akhirnya kedua gadis cantik itu keluar meninggalkan Hypermart menuju salah satu resto yang masih berada di Mall Panakukang.

Disinilah mereka…

Abe Resto & Café menjadi pilihan Eci untuk makan bareng Reva.

Reva masih terlihat kikuk di depan Eci, namun sepertinya gadis berparas timur tengah tersebut mengetahui keadaan Reva saat ini dan memulai mencairkan suasana.

“Wah kayaknya habis gajian nih… banyak bener loe belanjaannya” Ujar Eci memulai obrolan saat setelah memesan makanan mereka ke salah satu waiters café tersebut.

“Hehehe… iya Ci, maklum tinggal sendiri jadi harus nyetokin untuk keperluan sebulan” Jawab Reva tersenyum.

“Emang cowok loe kemana? Eh cowok lu yang tuh malam mabar ma gue ma kak Citra kan?” Tanya Eci membuat raut wajah Reva berubah seketika. “Eh, gue salah ngomong yah?” Lanjut Eci yang tersadar atas perubahan wajah Reva.

“Eh gak-gak… iya dia Al, dan hemmmm… dia gak di Makassar saat ini” Jawab Reva.

“Ohhh… LDR nih ceritanya…. Hihihihi” Ujar Eci.

“Hemm… entahlah Ci” Jawab Reva sambil mengangkat ke dua bahunya.

“Makasih yah Mas” Ujar Eci saat seorang waiters baru saja mengantarkan pesanan mereka.

“Makan yuk Va” Ujar Eci dan mencoba mengalihkan pikiran Reva saat ini.

“Yuk… hehehe”

Mereka berdua akhirnya makan bersama menikmati makanan masing-masing. Sesekali mereka berdua mengobrol santai namun Eci memilih tidak menyinggung masalah Al lagi.

Ia mulai membaca suasana hati Reva saat ini. Ada baiknya ia mengalihkan pembicaraan.

Mereka mengobrol santai, baik itu cerita tentang fashion, pergaulan di Makassar maupun tempat-tempat hang out yang berada di daerah Makassar.

Beberapa saat kemudian akhirnya mereka selesai Makan dan meninggalkan Abe resto menuju parkiran.

Sebelumnya Reva sempat menolak ajakan Eci untuk mengantarnya pulang, namun bukan Eci namanya yang tak mampu memaksa Reva untuk mengantarnya pulang.

“Thanks banget yah Ci tuk hari ini” Ujar Reva yang sudah merasakan ke akraban dengan Eci.

“Hehehehe… besok weekend bareng yah, loe pulangnya sore kan?” Tanya eci.

“Hemm… iya sih, besok Reva hubungin Eci deh kalo gimana-gimana” Jawab Reva.

“BBM aja yah… pokoknya harus, gak pake nolak… kalo gak, nanti gue bilangin ama Kak Citra nih… hehehehe” Ujar Eci bercanda.

“Mulai deh… selalu pakai cara menjual nama Kakaknya, ededeeee….” Ujar Reva mencibir candaan Eci.

“Biarin… yah udah mana Pin loe sini” ujar Eci yang mengingat bahwa mereka ternyata belum bertukaran nomor HP maupun Pin BBM.

Akhrinya City Car milik Eci meninggalkan appartemen tersebut saat setelah pamitan dan bertukaran kontak pribadi masing-masing. Mereka berdua janjian untuk Weekend bareng besok.

~•○●○•~​

Jakarta…

Sehari sebelumnya…

Al dan kedua sahabatnya baru saja keluar dari ruangan meeting sore ini. Ketiga pentolan 3MP baru saja menyelesaikan beberapa proyek raksasa yang membuat mereka harus lembur beberapa hari ke-depan.

“Huaaaaa….” ujar Nostra merentangkan kedua lengannya. “pegel nih… Mijet yuk” lanjut Nos menoleh ke arah L.

“Sue lu… Ogah” jawab L.

“Kang… Gak kasian ama si Elsya? Kan ntar lagi dia jadi bini kang Nos kan” ujar Al membuat Nos menahan tawanya.

“Woi… Positif thinking doloe, lagian gue mau mijit tradisional keles… Kan ada ntuh aki-aki deket-deket kantor yang minter mijit… Mayan bisa bikin badan gue seger lagi” jawab Nos ngeles.

“Elahhhhh… Ngeles loe dah basi nyet” jawab L membuat Nos hanya cengingisan.

“Ya udah… Kalo gitu gue duluan dah, cabin gue dah nunggu ntuh di bawah” lanjut Nos pamit.

“CABINNN??” Tanya Al dan L bersamaan.

“Calon Bini ncuk”

“Hahahahahhaa, dasar loe… Ya udah, gue juga Al balik duluan yah… Pengen nemenin adek loe dinner nih” ujar L yang juga meminta pamit pulang.

“Ya udah, bareng aja yuk turunnya” jawab Al dan akhirnya ke tiga sahabat itu melangkah menuju lift karyawan.

Saat berada di lobby karyawan, terlihat Elsya sudah duduk manis sambil menunggu Nos selesai meeting.

Teng…tong! Pintu lift terbuka, Elsya menoleh ke pintu lift dan orang yang di nanti-pun akhirnya nongol juga.

“Hai Neng… Sorry udah nunggu” ujar Nos saat menghampiri Elsya di sofa.

“Hehehe… Gak apa-apa pak. Emang dah selesai meetingnya?” jawab Elsya balik bertanya sambil tersenyum manis.

“Udah dong…” jawab Nos. “Yah gak bos” lanjut Nos saat Al dan L menghampiri mereka.

“Masih manggil pak juga ye Sya?” tanya L pengen cengin si Mr.Nos dan Elsya.

“Kan masih dikantor… Lagian udah biasa pak L manggil bapak ke pak Nos” jawab Elsya.

“Udah ah… Yuk sayang, kalo masih disini bisa-bisa arisan kite bakalan naik” ujar Nos yang menarik pelan lengan Elsya untuk segera mengambil langkah seribu agar terhindar dari cengan si L maupun Al. “Gue duluan yah Bos… L… See u tomorrow”

“Pak L dan Pak Al, Elsya pamit yah” ujar Elsya ikutan pamit. Al halnya menjawab sebuah kata “Ok”

Namun L malah berbeda. “Jangan lupa, pake pengaman… Ntar bisa tekdung”

“Fakkkk” jawab Nos yang sudah membelakang L dan Al sambil menggandeng bahu Elsya. Kemudian jari tengahnya ia acungkan ke arah L tanpa menoleh sedikitpun.

“Hahahahaha…” L dan Al tertawa bareng melihat tingkah Nos.

“Ya udah Al, sampai ketemu besok ye” L pun akhirnya ikutan pamit lalu meninggalkan Al di lobby karyawan.

Al meraih HPnya dari saku celananya, kemudian melihat dilayar HPnya 44 panggilan tak terjawab dari Reva. Reva, gumam Al mengernyitkan alisnya, dan ia pun tersadar bahwa seharian ia tak memberikan kabar kepada gadis yang selama ini sudah mengganggu pikirannya.

Al membuka aplikasi BBMnya, ternyata banyak BBM dari Reva menanyakan kabar beberapa kali, kok tidak mengangkat telfonnya dan lain-lain.

“Hufhhhhh… ” Al menarik nafas, lalu saat ingin menekan tombol dial untuk menelfon balik gadis itu, tiba-tiba telfon masuk di HPnya mendahului jarinya.

“Diah?” gumam Al saat melihat nama di layar HPnya.

“Halo,” jawab Al dengan suara khasnya yang rada berat.

“Kak, udah selesai meetingnya?” tanya Diah di seberang.

“Udah… Kenapa?” jawab Al simple. Namun, Diah sangat pahan betul kebiasaan Al.

“Kangen aja… Hehe, emang gak boleh?” jawab Diah manja.

“Hemm, kamu dah makan?” Al balik bertanya.

“Belom kak… Kenapa? Mau ajakin Diah dinner bareng?”

“Hemmm, boleh deh… Kamu dimana sekarang?” tanya Al tersenyum.

“Di kontrakan Kak, hehehe… Kalo mau jemput biar Diah siap-siap dulu jawab Diah sumringah mengingat pria yang selalu hadir dalam mimpinya mengajaknya dinner.

“Ya udah, aku kesana sekarang”

Akhirnya setelah menutup telfon, Al keluar ke parkiran karyawan. Sebuah JEEP WR meninggalkan gedung 3MP menuju kontrakan Diah.

Saat di dalam mobil, Al teringat kembali untuk menelfon Reva. Kemudian ia pun meraih HPnya di samping jok. Namun, saat ingin menekan tombol Dial, panggilan masuk dari Nostra mendahuluinya kembali.

“Kang Nos… Hemmm” gumam Al saat melihat nama Nostra di layar HPnya.

“Yah Kang” jawab Al.

“Oitttt bos, gue keknya akhir bulan ini pengen mecat si Elsya dah” Ujar Nos menggantung.

“What… kena angin apaan kamu kang, pake acara mecat si Elsya segala?” Tanya Al heran.

“Hahahaahah, belom jug ague sambung loe maen nyambung segala” Jawab Nos tertawa diseberang. ” Jadi gini… si Elsya kan bentar lagi jadi bini gue, nah… masa iya ratu Nostra Ajie Prasetyo masih aje kerja jadi bawahan di kantor… Dia mah kudu di pingit sekarang”.

“Ohhh, kirain…Yah terserah kamu aja kang, emang sih sebaiknya dia diem dirumah dan bantu persiapan nikahan kalian… Tapi, emangnya udah nentuin kapan nikah?”

“Belom… Hahahaha” jawab Nos singkat sambil cengengesan di telfon.

“Dasar… Ya udah kang, atur aja gimana baiknya… Ngomongin juga ama team HRD”

“Siap bos”

Saat Al menutup telfon dari Nos, dan akan menelfon kembali si Reva. Ternyata niatnya terpending kembali, karena gapura perumahan tempat kontrakan Diah sudah terlihat tak jauh dari posisi mobil Al saat ini.

Akhirnya Al mengurungkan niatnya untuk menelfon Reva malam ini, dan mungkin akan menghubungi gadis itu besok pagi aja.

~•○●○•~​

Present…

Sudah dua hari ini Al tak memberikan kabar kepada Reva, membuat gadis itu merenung di tempat kerjanya. BBM gak dibalas, telfon gak di angkat. Sms apalagi, makin membuat Reva hanya bisa menarik nafas dan menunggu.

Lama ia melihat layar HPnya bolak balik, berharap ada kabar dari Al pagi ini.

Beberapa saat kemudian, karena memang sekarang hari sabtu. Maka Hotel tempat Reva bekerja rame oleh para tamu yang nginap di Hotel tersebut.

Reva mulai menyibukkan diri dengan kerjaan-kerjaannya yang dirasa cukup lumayan mengalihkan pikirannya saat ini.

Pagi ketemu siang, siang ketemu sore. Tak terasa waktu pergantian shift pun tiba.

Setelah pamit kepada Indah, akhirnya Reva pun pulang sore ini.

Di parkiran Hotel, ternyata Eci sengaja menunggu Reva pulang kerja. Saat Reva keluar dari pintu karyawan, maka Eci turun dari mobilnya dan menghampiri gadis itu.

“Hei… Baru pulang?” ujar Eci menyapa Reva yang tak sadar kehadiran Eci di sampingnya.

“Eh astagaaa… Kok gak info dulu kalau mau datang” ujar Reva. “Iya nih dah kelar kerjaannya” lanjutnya.

“Ya udah… Yuk, gue anterin ke appartemen loe” ajak Eci dan Reva pun meng-iyakan tawaran Eci. Lumayan hitung-hitung ngirit ongkos dan tentu saja bisa menemani kegalauannya di malam minggu kali ini.

“Yuk masuk dulu Ci” Ujar Reva saat mereka telah tiba di depan pintu appartemen.

“Wow, keren yah Va… ini cowok loe yang punya?” Ujar Eci saat berada di ruang tengah.

“Yah gitu deh Ci” Jawab Reva sambil melangkah ke dapur mengambil minuman untuk Eci.

Apartemen dengan gaya modern berhasil menarik perhatian si Eci karena desain interiornya yang menawan. Seperti apartemen Al yang tampil mewah dan glamor dengan gaya modernnya. Penempatan pencahayaan yang tepat dan dramatis. Selain pencahayaan, permukaan perabotan yang mengkilap menambah kesan glamor. Material dengan warna emas, perak, dan ungu makin menambah kesan mewah dan mahal.

“Wahhhh, cowok loe tajir juga yah Va” Ujar Eci saat Reva udah kembali membawakan 2 kaleng softdrink.

“Nih Ci, minum dulu” Ujar Reva tak menjawab pertanyaan Eci, lalu Eci pun segera duduk di sofa berwarna kuning gading.

“Emang cowok loe pengusaha yah Va?” Tanya Eci kembali membuat Reva menoleh saat ia telah duduk di samping Eci.

“Entah lah Ci, aku aja gak tau kerjaannya apaan di Jakarta” Jawab Reva bingung.

“Kali aja emang beneran dia tajir” Ujar Eci member semangat. “Kan lumayan Va, hehehehehe, gue aja pengen nyari cowok tajir kek elu”

“Hahahaahahah, kan kamunya dah tajir, pasti gampanglah nyari cowok tajir kayak kamu” Ujar Reva sambil meneguk softdrinknya.

“Kakak gue yang tajir kale Va, gue mah numpang doang… tapi kan ke depannya pasti gue juga kudu harus mandiri, gak bergantung terus ama kakak gue” Jawab Eci sambil tersenyum.

“Ya udah, aku tinggal dulu yah Ci… gerah nih mau mandi dulu” Ujar Reva dan di iyakan oleh Eci.

Akhirnya setelah selesai, mereka berdua keluar bersama-sama untuk bermalam mingguan, yah walaupun hanya sekedar dinner dan nongkrong bareng di café. Tapi cukup membuat Reva menghilangkan kegalauannya hari ini. Begitu juga dengan Eci yang tak sabar ingin cepat-cepat pulang dan meng-update ke mamahnya tentang semuanya, tentang kepribadian Reva dan juga tentang kabar Al dan Reva yang sejauh ini belum ada kejelasan tentang hubungan mereka.

~•○●○•~​

Berbeda tempat…

Diperumahan mewah daerah ibu Kota, lebih tepatnya di kediaman Mr.Nostra saat ini terlihat sepi. Hanya dua insan yang saling mencintai berada di dalam rumah tersebut.

Elsya berada di lantai 2 memakai Dress berwarna pink sedang menatap ke bawah, di ruangan yang terlihat mewah bergaya western Elsya melamun di dinding yang terbuat dari kaca.

Tiba-tiba Nos dating dan memeluknya dari belakang, membuat Elsya menoleh ke samping sambil tersenyum hangat.

“Hemmm, nengnya cantik banget malam ini” Ujar Nos membisikkan di telinga Elsya.

“Ih aa, gombaaaaalllll” Jawab Elsya tersipu sambil menundukkan wajahnya karena malu.

“Dan sepertinya, Nostra tak mengijinkan Neng Elsya untuk pulang malam ini” Ujar Nos merapatkan pelukannya dan dibalas oleh Elsya dengan memegang kedua lengan Nos.

Keduanya masih menatap ruangan lantai satu dari balik kaca di lantai 2. Sambil melamun mengingat semua kejadian-kejadian antara mereka selama ini.

“Makasih yah aa,”

“Hemmm, buat apaan neng?”

“Pokoknya makasih sudah memilih Elsya, dan Elsya gak akan membuat a Nos kecewa nantinya” Jawab Elsya menoleh kembali.

“Kan aa dah bilang, kalo Nengnya itu yang bakalan jadi istri a Nos nanti…hehehe” Ujar Nos. “Jadi, apakah Aa dah bisa suruh Nengnya gak pulang kan malam ini?” Tanya Nos dengan wajah tengilnya.

“Yang bilang Elsya mau pulang siapa a?” Tanya Elsya menoleh kembali sambil mengulum mulutnya seakan menantang Nos.

Nos menjadi kikuk dan menggaruk kepalanya yang sebetulnya tidak gatal sama sekali. Elsya yang melihatnya hanya bisa tersenyum jahil.

“Yuk ah… baring-baring di kamar” Ujar Nos dan mendapat jawaban anggukan kepala dari Elsya.

Di dalam kamar, Elsya dan Nos sudah berbaring di atas ranjang kamar pribadi Nos. keduanya masih memakai pakaian lengkap yang sedari tadi mereka pakai.

Saling berhadapan, Nos menggenggam erat kedua tangan Elsya membuat Elsya tersenyum menatapnya.

Suasana yang begitu romantis, tanpa mengeluarkan sepatah katapun dan hanya saling menatap membuat keduanya merasakan kebahagiaan dan jelas juga bagi Elsya yang seakan masih merasakan mimpi mendapatkan seorang Nos menjadi suaminya di kemudain hari.

“Ini…” Nos memperlihatkan cincinnya yang sepasang dengan milik Elsya.

“hemmm… kenapa a” Bisk Elsya pelan.

“Gak kenapa-kenapa… hehehe” Ujar Nos membuat Elsya cemberut.

“Lagian… kayak orang bisu aje gak ngomong apapun”

“Biarin… hehehe, kan Elsya menikmati saat-saat berdua ma aa” jawb Elsya.

“Grrrrrrrr…. Gemesnya ma nih anak” Ujar Nos tak tahan godaan wajah dan aroma tubuh gadis itu. “Siniiiii” Lanjutnya menarik tubuh Elsya dan di rapatkan ke tubuh nya lalu memeluk Elsya dengan erat.

“Makasih aa” Ujar Elsya kembali sambil memejamkan kedua matanya di dekapan dada Nos.

Nos mencium kening Elsya sambil tersenyum bahagia, Elsya masih saja memejamkan kedua matanya meresapi dan menikmati momen-momen berdua saat ini bersama pria yang ia cintai.

“Aa…” Bisik Elsya saat Nos memberikan hembusan nafas di telinga kanan gadis itu.

“Yah sayang” Jawab Nos.

“Apakah harus sekarang?” Tanya Elsya yang mengetahui apa yang akan terjadi kemudian.

“Mau nya sih… hehehehe” Jawab Nos cengengesan.

Elsa membuka matanya lalu menatap sendu wajah tengil Nos, lalu seakan meminta jawaban pasti. Karena sejujurnya ia pun menginginkannya namun sedikit ada keraguan di dalam hati gadis itu.

“Ihhh… emang gak mau nunggu sampai kita nikah nanti?” Tanya Elsya pelan.

“Iya sih… harusnya kek gitu neng, tapi anu… hufffhhhhhh” Ujar Nos menggantung lalu menarik nafas karena saat ini nafsunya sudah di atas ubun-ubun.

“Tahan yah aa… kan Elsya bakalan jadi milik aa nantinya” Balas Elsya mengelus pipi Nostra.

Nostra yang diperlakukan seperti itu hanya bisa tersenyum kecut, dan Elsya saat ini untuk menahan hasratnya dan sepertinya memang dialah yang harus mengontrol diri saat ini.

“Tapi kalo nyium boleh kan?” Tanya Nos dan di jawab dengan anggukan kepala Elsya lalu menutup kedua matanya untuk mempersilahkan pria itu mencium bibirnya yang merah merekah dan sedikit terbuka menunggu Nos menyentuhnya.

Perlahan-lahan Nos menyentuhkan bibirnya ke bibir Elsya, lalu makin merapatkan tubuh Elsya ke dekapannya.

“Mmmffffffmmmm” Nos menghisap bibir Elsya dengan sedikit membasahinya memakai lidahnya.

Bibir mereka bedua menyatu dalam sebuah keheningan malam di dalam kamar yang full Ac, suasana erotis nan romantic mereka ciptakan dengan tekhnik berciuman yang tidak terburu-buru.

Nos memutar kepalanya menikmati setiap inci bibir Elsya, dan tangannya mengusap wajah Elsya memberikan sebuah kehangatan kepada Elsya.

Nostra menghembuskan nafasnya yang beraroma mint ke dalam rongga mulut Elsya, tumben kali ini Nos memperlakukan Elsya begitu lembut. Dan juga kedua tangannya sekuat tenaga ia tahan agar tak turun ke daerah intim gadis itu, hanya sebatas wajah rambut bergantian ia usap dan sesekai ia remas rambut Elsya membuat Elsya bergetar.

Lalu Nos melangkah jauh, dengan menggunakan ke dua bibirnya. Ia menyedot bibir bawah Elsya bergantian dengan bibir atas gadis itu membuat Elsya seakan tak berdaya dengan perlakuan Nos. Elsya pun membalas menghisap dan menyedot kedua bibir Nos bergantian. Tersirat sebuah senyuman di wajah Nos karena mengetahui Elsya sudah mampu mengikuti permainannya.

Nos memberikan sedikit gigitan-gigitan kecil di bibir Elsya, lalu memasukkan lidahnya dan menggelitik lidah Elsya. Langkah selanjutnya ia pun melepas bibirnya dan mencoba mencium lembut dagu, mata dan pipi Elsya.

“Aa… isssshhhhhhhh” Desah Elsya saat Nos mulai mencium leher dan kembali kedagu sambil membasahinya memakai liurnya.

Sepertinya Elsya terlihat pertahanannya sebentar lagi akan runtuh. Ia pun tak berdaya dengan sentuhan-sentuhan erotis yang dilakukan oleh Mr.Nos.

Nos mengambil alih permainan dan tubuhnya sedikit dimiringkan lalu meluruskan tubuh Elsya menghadap ke atas. Kemudia masih bertahan tangannya mengelus lembut wajah dan lengan gadis itu yang terlihat pasrah.

“Ougthhhhhhh…. Sssstttttttt” Desah Elsya saat Nos kembali menggelitik belakang telinga gadis itu.

Gigitan-gigitan kecil bergantian dengan jilatan di seputaran leher dan dagu Elsya dilakukan oleh Nos, lalu sedikit meningkatkan temponya. Nos menghisap leher bawah Elsya yang berjarak beberapa centi dari gundukan payudaranya yang terlihat naik turun karena nafas gadis itu yang menahan gairah.

“Aaa….ssssttttttt” Desahan demi desahan terdengan ditelinga Nos membuat Nos tersenyum karena mengingat sepertinya sebentar lagi ia akan mengambil apa yang menjadi haknya selama ini.

Lengan Elsya pun ikut di cium dan dijilat oleh Nos dari arah siku kembali ke atas lalu kembali ke bibir Elsya.

Elsya yang tak kuat diperlakukan seperti itu, membalas dan menarik leher Nos sambil menghisap bibir pria itu dan menjulurkan lidahnya masuk ke dalam rongga mulut Nos.

Saat mereka sibuk berciuman, kedua tangan Nos perlahan-lahan membuka kancing dress yang Elsya gunakan. Lalu tanpa meraba apapun Nos melepaskan bibirnya dan menjilat kembali leher gadis itu.

“Oughhttttttttt…” Desah Elsya saat Nos dengan menggunakan jari telunjuknya meliuk-liuk meraba leher dan gundukan payudara Elsya yang masih terhalang oleh Bra berwarna hitam.

“Stttttttttttttttttt…” telapak tangan kanan Nos berhenti di atas payudara kiri Elsya lalu menyentuhnya yang masih terlapir oleh Bra.

Elsya tersadar lalu membuka kedua matanya dan menatap wajah Nos yang dilanda nafsu birahi.

Elsya menggelengkan kepalanya mengisyaratkan bahwa ia belum siap melakukannya.

“Jangan yah a” Bisik Elsya lalu menggenggam jemari kanan Nos yang masih berada di payudaranya menyingkirkannya membuat Nos kentang malam ini.

“Hadehhhhhh… kok ditahan neng?” Tanya Nos sedikit kecewa.

“Belum saatnya a… dan janji yah, aa gak akan menyentuh Elsya sampai kita resmi nikah nanti”

“Ya udah… mau gak mau wajib bilang iye yah… hehehe” Ujar Nos dengan tengilnya.

“Iya donk… ” Ujar Elsya sambil memasang kembali kancing dressnya yang sempat terbuka tadi.

“Ya udah… yuk bobo lagi a,” Ujar Elsya kembali lalu menarik lengan Nos untuk memeluknya erat.

Still Continued

END – Rahasia Pribadi Part 34 | Rahasia Pribadi Part 34 – END

(Rahasia Pribadi Part 33)Sebelumnya | Selanjutnya(Rahasia Pribadi Part 35)