Rahasia Pribadi Part 27

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30Part 31Part 32
Part 33Part 34Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42 END

Rahasia Pribadi Part 27

Start Rahasia Pribadi Part 27 | Rahasia Pribadi Part 27 Start

Anjungan Pantai Losari menjadi pusat keramaian kota Makassar, dengan berbagai latar belakang penikmat sunset di sore hari. Di sepanjang jalan penghibur ramai para pedagang pisang EPE yang menjajakkan jualannya memakai gerobak dan tenda yang sudah terpasang rapi. Al dan Reva memilih sore ini bersama di salah satu gerobak pisang EPE yang terletak di depan Rumah Sakit Stella Maris. Lebih tepatnya di atas trotoar yang memang dipersiapkan oleh pemerintah kota buat para pedagang tersebut.

Yah, awalnya Al berfikir keras apakah ia harus menghadiri acara makan malam Reza dan Rahma atau tidak. Namun, dalam benaknya saat itu bahwa mungkin sudah saatnya Rahma mengetahui yang sebenarnya. Akhirnya, siang tadi Al berangkat ke Makassar setelah memantapkan hatinya untuk mengungkap semuanya ke keluarga Rahma maupun Reza tentang siapa dirinya.

Dan, sore ini Al menjemput Reva di tempat kerja lalu mengajak Reva untuk melihat sunset di Pantai Losari.

“Al, hemmmm…” Reva mengulum mulutnya seakan meminta menginginkan sesuatu tapi entah sepertinya susah ia katakan.

“Kamu kenapa Va?” Al melihat perubahan raut wajah Reva saat ini.

“Gak jadi deh,”

“Astagaaa bilang aja, kok pake acara malu-malu segala sih” ujar Al tersenyum.

“Pacaran yuk,” ujar Reva langsung menembak Al membuat Al tersenyum dan seakan ingin menertawakan gadis itu.

“Gini nih, susahnya kalo sayang ama cowok GAY” gumam Reva cukup terdengar ditelinga Al.

“Susah apanya?”

“Eh gak gak gak… anggap kamu gak dengar yah.”

“Lho, kok gitu?”

Reva menghela napas. Memalingkan wajahnya ke arah jalan raya. Sambil menekuk wajahnya ia pun menatap ke depan dan mendapati Al yang duduk didepannya sedang menatapnya dengan wajah tersenyum.

“Eh, tuh kan.. ” ujar Reva salah tingkah karena ditatap oleh Al.

“Udahlah Va, ingat apa yang aku katakan itu hari? Sedikit lagi yah”

“Iya, satu purnama belum lewat kok” gerutu Reva membuat Al makin gemas kepada gadis di hadapannya.

“Oh iya, nanti malam kamu nemenin aku yah… ada temen ngajakin makan malam.” Ujar Al.

“Duh, anu Al. Aku kayaknya gak bisa deh. Nah sekalian nih, ada yang aku ingin omongin ama kamu” ujar Reva sambil memasang wajah memohon.

“Ngomong aja Va, kenapa gitu?”

“Gini, kebetulan nanti malam sepupuku tuh dari mama datang ke Makassar. Mau tes CPNS gitu Al, hemmm… trus aku pikir daripada dia nginap dihotel seminggu, mending dia nginap bareng aku aja di appartemen kamu. Tapi kalo kamu gak mengizinkan gak apa-apa sih.” Reva terlihat memasang wajah memohon dan Al tersenyum setelah mendengarkan ucapan Reva barusan.

“Silahkan, itukan juga appartemen kamu”

“Hehehe, makaciii yah Al. Duhh sini sini.” ujar Reva dengan wajah dibuat-buat genit sambil memanggil Al untuk duduk disampingnya.

“Hushhhh… dasar mesum kamu Va”

“Tapi enak kan kalo dimesumin?hihihi”

“Dasar,”

Reva memandang wajah Al sambil mengulum mulutnya, rasa senang dan bahagia yang saat ini ia rasakan. masih terus terngiang-ngiang di ingatannya saat pertama kali bertemu dengan Al. Bahkan saat pertama kali gadis itu menyerahkan keperawanannya kepada pria dihadapannya saat ini.

Walau dia sampai saat ini masih menganggap Al itu adalah Gay, tapi dia tak bisa membohongi hatinya bahwa dia sangat mengagumi Al. Bahkan Reva sudah sangat menyayanginya. Pria Gay yang memiliki sejuta pesona dari ketampanan wajahnya dan segala yang dimiliki di tubuhnya sudah cukup membuat Reva kelepek-kelepek.

“Kok ngeliatin aku kek gitu Va?” tegur Al dan membuat Reva tersadar dari lamunannya. Al membetulkan duduknya, kemudian meminum minumannya yang baru saja di antarkan oleh si pedagang beserta pisang EPE pesanan mereka.

“Hehehe… gak kok Al, hemmm… Aku hanya berpikir kok bisa-bisanya yah kamu jadi Gay.” Jawab Reva asal sambil menggigit bibir bawahnya menutupi kegugupannya akibat ketahuan memandangi wajah Al, lalu mengalihkan pembicaraan yang tidak sesuai dalam hatinya. Ingin sekali rasanya dia mengucapkan kalimat ‘kamu tampan sekali’. Tapi, biar bagaimana Reva masih menjaga gengsinya didepan Al.

Jawaban Reva membuat Al mengerutkan dahinya, tak lama kemudian ia mengangguk seolah mengerti apa yang dimaksud Reva dengan kata-kata absurdnya. “Bisa saja kan, buktinya udah ada.” Ujar Al.

Spontan Reva memutar bola matanya, ia tak pernah mengira bahwa pria tampan didepannya bisa menjadi seorang Gay. Apakah mungkin dia bisa menyembuhkan Al untuk menjadi normal lagi?.

“Al, kok Rahma dari dulu gak pernah nerima cinta kamu yah? Ckckckck… kayaknya ada yang salah nih.” Ujar Reva terhenti sesaat ketika menyadari ia menyebut nama Rahma. Hal itu membuatnya kikuk sendiri. “Ah, tapikan dia baru saja menikah dengan Reza,” pikir gadis itu dalam hati. “gak masalah donk sekarang… hihi”.

“Gak ada yang salah kok, Memang sangat sulit seorang wanita secantik Rahma mau berhubungan dengan pria yang gak jelas sepertiku”

“Oh, tapi Al… hemmm, sepertinya dia juga mencintaimu, aku lihat waktu akad nikahnya. Dia sepertinya sedang menunggu seseorang… keknya dia sangat tersiksa deh Al” ujar Reva yang sudah mengunyah pisangnya.

“Hemm… salah orang kali Va, yang dia tunggu mungkin bukan aku. Lagian, aku tidak sangat berminat membahas dia lagi. Kan sudah ada kamu” ujar Al cukup membuat Reva tersenyum.

“Jadi, kamu pulang appartemen gak nanti?” Tanya Reva.

“Sepupu kamu cowok apa cewek?”

“Cewek lah, kalo cowok gak mungkin aku ajak nginap bareng.” Jawab Reva sambil sibuk mengunyah pisangnya bareng Al.

“Ohh… ya udah, mungkin biar aku nginap dirumah ortu aja Va.”

“Tapi, hemm… aku kok pengen berduaan ama kamu lagi Al” Reva menyadari sepertinya mereka akan berjauhan lagi.

“Hehe… ntar kalo berduaan melulu bisa kejadian lagi donk Va.”

“Biarin, emang kamu gak mau gitu?” Tanya Reva malu.

“Belum saatnya kali Va, nanti kalo udah resmi baru kita gituan lagi,” jawab Al cukup membuat Reva tersenyum bahagia. Ada rasa senang setelah mendengar ucapan Al barusan. Apakah pria itu sungguh-sungguh? Biarkan waktu yang akan menjawabnya.

“Siapa juga yang mau nikah ama kamu… ups” ledek Reva.

“Yakin? Emangnya kamu gak nyesal nanti kehilangan pria tampan dan dahsyat kayak aku. Huh?” Tanya Al membuat Reva melongo mendengar kenarsisan Al dihadapannya.

“Hahahahahaha… kok sekarang kamu makin hari,* makin narsis aja sih Al? Hahahaha”

“Kan kamu yang ajarin,”

“Iya iya, kamu memang hemmm… yah gitu deh” Ujar Reva yang hampir keceplosan. Andai ia ngomong ‘Tampan’ dihadapan Al, Itu sama saja menerima kenarsisan Al walau mungkin kenyataan memang benar adanya. Reva kembali menyendokkan Pisang EPE ke dalam mulutnya dengan sikap secuek mungkin.

“Apalagi nanti kalo kamu udah punya anak? Aku maunya cewek. Pasti cantik banget,” ujar Al. “Ditambah bundanya yang cantik kayak kamu, aku yakin…” ucapan Al terpotong.

“uhukk..uhukk…” Reva tersedak makanannya begitu mendengar perkataan Al. Cepat-cepat Reva mengambil segelas air dan meminumnya dengan sedikit terburu-buru. Setelahnya, Reva menarik napas untuk menenangkan diri dari serangan shock yang bisa saja datang menimpanya.

“Kamu gak apa-apa Va?” tanya Al sok khawatir, padahal sedari tadi pria itu mengulum bibirnya menahan senyum sekuat tenaga.

“anu… uhukkk… uhukkk, gak apa-apa kok. Tiba-tiba keselek aja.” Jawab Reva dengan senyum terpaksa.

“Kok terkejut gitu? Apa karena aku menyebut ‘anak’? Aku pikir itu hal yang wajar deh. Memangnya kamu gak ingin mempunyai anak dari aku?” tanya Al setenang mungkin.

“Eh..itu..” tiba-tiba Reva jadi panas dingin dan salah tingkah di serbu pertanyaan seperti itu oleh Al. Pertanyaan Al membuatnya tak berkutik. Semudah itu Al menyebutkan keinginan mempunyai anak padanya. Lidah Reva terasa kelu untuk memberikan jawaban, senang dan bahagia tentunya mendengar semua itu. Tapi ia sama sekali tak bisa memberikan jawaban karena saking senangnya. Dan Reva berusaha menutupi kesenangannya dihadapan Al.

“So?” Tanya Al dengan seringaian di wajahnya berupa senyuman indah. Namun apa yang telah dikatakan Al justru membuat wajah Reva memerah.

“Anu…, tentu saja.” Jawab Reva pelan dengan gigi yang rapat dan senyuman kecut. Menikah dengan Al… dan mempunyai anak darinya? Ya ampun, bagaimana mungkin ia bisa menolak. Ternyata benar si pria Gay ini sedang promosi, dan ujung-ujungnya dia yang menjadi korban, gerutu Reva dalam hati.

“Hahahaha… udah ah, balik yuk. Takutnya ntar aku telat hadirin makan malam bareng teman” ujar Al dan di iyakan oleh Reva dengan sebuah harapan baru. Harapan menyongsong masa depan bersama Al. Dan membuat dirinya bersemangat untuk menunggu Al melewati satu purnama. “Aku pasti menunggumu Al” gumam Reva dalam hati saat mereka sudah berada di atas mobil.

○●○​

Runtono Resto yang cozy dan mewah bergaya chinese style sangat cocok buat acara Dinner bersama keluarga, dengan masakan yang lezat dan berkualitas papan atas. Runtono Resto terletak di Jl. Gunung Bawakaraeng. Dengan dekorasi khas berwarna coklat kayu yang mendominasi diantara warna putih yang di gambari sketsa-sketas menawan, membuat Resto ini terasa lebih fresh dan nyaman. Interior ditata rapi senyaman dan sesegar mungkin agar konsumen mau berlama-lama di dalam Resto.

Menu yang disajikan oleh Runtono Resto cukup bervariasi dari menu Indonesia sampai Western.

Sebelumnya Al menelfon pak Toto saat diperjalanan menuju Resto, dan ternyata Pak Toto telah tiba duluan di tempat.

Sebuah SUV Range rover baru saja memasuki parkiran Resto, dan terlihat mobil SUV Fortuner milik pak Toto terlah terparkir diparkiran. Al memarkirkan mobilnya persis disamping mobil Pak Toto, kemudian menelfon Pak Toto yang ternyata masih menunggu Al didalam mobil.

“Malam Pak,” ujar Pak Toto yang telah turun dari mobilnya dan menghampiri Al disebelah kanan saat Al membuka pintu mobilnya.

“Malam Pak Toto, maaf telat yah. Biasa rada macet sih tadi” ujar Al menjabat tangan pak Toto.

“Gimana? Apa Pak Reza dan keluarga udah pada berkumpul?” Tanya Al saat mereka melangkah masuk ke dalam Resto.

“Udah setengah jam yang lalu pak, dan mereka sengaja menunggu kita didalam” Jawab Pak Toto.

“Sudah konfirmasi kalo kita datang berdua?”

“Sudah Pak Al, dan mereka sangat senang sekali atas kedatangan bapak di acara keluarga mereka” jawab Pak Toto.

“Selamat Malam, untuk berapa orang pak?” Sapa salah satu pegawai Resto yang memang sengaja berdiri di depan pintu masuk untuk menyambut para tamu Resto.

“Udah pak, keluarga Pak Reza.” Jawab Pak Toto.

“Silahkan pak, meja 44” jawab pegawai tadi.

“Makasih yah,” ujar Pak Toto lalu melihat se-isi ruangan dan di arah jam 11 dari posisinya berdiri saat ini telah berkumpul seluruh keluarga Reza di meja bundar no 44.

Reza mengangkat tangannya saat melihat kedatangan Pak Toto, tapi sayangnya posisi Al berdiri saat ini terhalang oleh dua orang pegawai yang berdiri di depan pintu. Jelas menghalangi pandangan Reza dan keluarga saat ini.

“Ayo Pak Al, keluarga udah menunggu.” Ujar Pak Toto.

“Eh bentar Pak, aku mau ketoilet bentar. Udah dari tadi nahannya pak.” Ujar Al dan Pak Toto meng-iyakannya.

Pak Toto melangkah menghampiri meja 44. Semua yang berada di meja 44 berdiri menyambut Pak Toto dan saling berjabat tangan satu-satu mengingat Pak Toto adalah atasan langsung Reza saat ini. Dan karena Pak Toto lah Reza terangkat menjadi General Manager menggantikan posisinya.

“Loh, si bos mana Pak?” Tanya Reza saat tak melihat keberadaan Al.

“Oh beliau sedang ketoilet Za. Paling bentar lagi dia kesini” jawab Pak Toto sambil duduk di kursi berdampingan dengan Reza.

“Wah, suatu kehormatan buat kami nih Pak Toto bisa hadir di acara keluarga kami… apalagi sampai mengajak pemilik perusahaan tempat Pak Toto dan Reza bekerja.” Ujar Pak Umar yang duduk berhadapan dengan Pak Toto. Terlihat senyum bangga setelah mengetahui bahwa Al akan hadir di acara keluarganya saat ini.

Suasana Resto saat ini tidak begitu ramai, mengingat memang Resto ini ditujukan untuk acara private maupun acara pertemuan-pertemuan kalangan kelas atas. Harga permenunya juga kelas premium.

“Iya Pak, saya juga bangga lah punya pemimpin perusahaan yang menyempatkan hadir di acara keluarga salah satu karyawannya.” Ujar Pak Toto. “Jarang loh, owner kayak beliau yang masih muda dan energik mau repot-repot sampai terbang ke sini hanya untuk menghadiri acara makan bersama kayak gini. Apalagi dengan kondisi yang saat ini, dimana perusahaan sedang sibuk menangani beberapa proyek raksasa. “

“Oh yah, jadi ownernya masih muda yah?” Tanya Pak Umar.

“Sepantaran Rahma dan Reza deh kalo gak salah.” Jawab Pak Toto.

Terlihat senyum mengartikan sesuatu di wajah Pak Umar. “Andai saja anak saya ketemu dengan pemilik perusahaan, pasti jauh lebih baik dari pada ketemu dengan Reza.” tanpa sadar, pikirannya berkecamuk memikirkan hal yang sangat tidak masuk akal. Apakah memang betul di otaknya hanyalah harta dan harta? Tapi, sudahlah. Dia sadar bahwa segalanya tidak mungkin, mengingat anaknya sudah resmi menjadi milik Reza.

Begitupun Reza saat ini yang tak sabar bertemu dengan sang big bos. Ada kebanggaan di dirinya saat ini mengingat seorang big bos mau menghadiri acaranya. Wajahnya terlihat cerah. Ada sebuah harapan baru tentunya dipikirannya, apakah karirnya akan naik lagi mungkin dikemudian hari? Jelas. Jika kita dekat dengan bos, pasti akan ada sedikit nilai plus tentang hal itu. Bagi Reza, tapi tidak berlaku buat Al.

Pak Toto beberapa kali melirik ke arah toilet, ketidaksabaran tergambar jelas pada ekspresi wajahnya. Beliau tidak sabar ingin segera memperkenalkan Al kepada Reza beserta keluarga besarnya. Dalam benak Pak Toto, sebuah kebanggaan menunjukan kepada Al hasil didikannya yang sukses berprestasi. Dengan usia yang relatif masih muda, Reza dapat menunjukan kepiawaiannya dalam memimpin tim. Dan karena kinerjanya yang sangat baik, Reza dianggap mampu mempin dan membawa Hotel Clarion ke arah yang lebih baik. Selain itu, sebuah apresiasi dari Pak Toto dengan menghadirkan pemilik perusahaan di acara spesialnya.

Al keluar dari toilet, setelah menuntaskan hajatnya yang sedari tadi ia tahan selama perjalanan dari rumahnya ke resto. Dia melihat ke penjuru resto mencari keberadaan Pak Toto. Tiba-tiba Al melihat ke arah jam 2 dari posisinya.

Dug… dugg… duggg!

Jatung Al berdegup kencang, saat Al melihat sosok wanita yang pernah bersemayam di hatinya. Bahkan bisa dikatakan hingga saat ini. Rahma, wanita yang sukses membuat Al galau terlihat sedang berbicara dengan waitress. Sejenak Al berdiam diri menguatkan hatinya, bersiap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi pada saat dia muncul di hadapan Rahma dan keluarga besarnya. “Maaf Ma, mungkin sudah saatnya aku harus jujur ke kamu” berulang kali Al memantapkan keinginannya untuk membuka jati dirinya dihadapan semua keluarga Rahma. Begitu ia merasa dapat menguasai diri walaupun suasana hati masih sedikit gelisah, perlahan tapi pasti Al berjalan menuju ke meja nomor 44 yang ditempati Rahma dan keluarga besarnya beserta Pak Toto.

Di meja bundar saat ini, berjarak sekitar 2 meter dari tempat Al berdiri. Pak Toto sedang duduk membelakangi Al bersama dengan Reza. Tetapi Pak Umar, ayah Rahma, yg pertama menyadari kehadiran Al dan memang sedang duduk berhadapan dengan Pak Toto langsung terpancing emosinya. Al dianggap akan mengacaukan acara pertemuan penting anak menantunya dengan pemimpin dan pemilik perusahaan 3MP, tempat Reza dan Rahma Bekerja. Tanpa sungkan terhadap Pak Toto, Pak Umar langsung menghardik Al.

“Untuk apa kamu kesini?!” hardik Pak Umar begitu Al sampai. “Jangan harap kamu bisa merusak acara penting anak dan menantu saya!”

Semua yang hadir, kecuali Pak Toto langsung menoleh ke arah Al.

Mereka kaget melihat Al ada disini, tak terkecuali Rahma yang baru saja tiba dan terkejut atas kedatangan Al berdiri kaku di samping Al. Emang sih Rahma begitu mendambakan kehadiran Al di pesta pernikahannya. Ada perasaan senang melihat Al, Namun rasa kecewa yang lebih dominan di hati Rahma. Dia kecewa mengapa Al datang terlambat, bukan datang di acara pernikahannya dan membawanya kabur.

Raut ketidaksukaan akan hadirnya Al juga tergambar dari ekspresi wajah Reza saat menoleh ke belakang. Dia berpikiran Al akan merusak acara penting dia, keluarga besarnya, dan pemimpin perusahaan tempatnya bekerja. Namun karena kehadiran Pak Toto, Reza mencoba menahan diri.

“Sudah saya katakan, pemuda yang masa depannya suram sepertimu tidak pantas untuk anak saya!” Pak Umar belum puas memaki Al. “Asal kamu tahu, Reza sudah resmi menjadi suami Rahma. Masa depannya cerah, calon pemimpin hotel besar. Tidak sepertimu yang tidak jelas asal usulnya!”

“Ada apa, Pak? Kok marah-marah?” tanya Pak Toto yang sedari tadi asik membaca program-program kerjanya sebagai RBD, dan seakan tidak mempedulikan keributan yang terjadi.

“Ini pak, ada pemuda tidak jelas yang sering mengganggu putri saya” jawab Pak Umar dengan merendahkan Al. Pak Toto hanya mengangguk, tak ingin ikut campur masalah mertua anak buahnya.

“Pergi kamu! Dasar pengganggu!” kali ini Pak Umar mengusir Al.

“Sabar pah, sabar. Enggak enak sama Pak Toto marah-marah begitu” Reza mencoba menenangkan Pak Umar. Walau sepertinya saat ini Reza sedang emosi, tapi sebisa mungkin dia mencoba menahannya.

“Dan kamu, saya mohon pergi dari sini. Jangan mengganggu kami lagi” Reza berbicara dan menunjuk Al.

Al hanya tersenyum sinis menanggapi semua cacian dan hinaan Pak Umar. “Oke…Kita liat siapa yang akan tertawa belakangan.” gumam Al yang sudah merasa tidak tahan lagi menerima perlakuan kasar dari mereka. Dengan menganggukan kepalanya sambil tersenyum sinis, Al pun kemudian memohon pamit kepada pak toto.

“Sepertinya kehadiran saya tidak diharapkan disini” akhirnya Al angkat bicara “Pak Toto, saya pamit ya”.

Reza, Rahma, Pak Umar, dan semua yang hadir terkejut mendengar perkataan Al. Kenapa? Beberapa kali mereka bertanya dalam hati bagaimana bisa Al mengenal Pak Toto. Keterkejutan terutama dari Pak Umar yang sudah sedikit grogi berhadapan dengan Al. Sementara itu Reza juga mencoba menoleh samping seperti meminta jawaban dari Pak Toto. Akhirnya Pak Toto pun menoleh ke belakang melihat Al. Beliau pun langsung berdiri di samping Al.

“Loh, Pak Al. Sudah dari tadi disini?” tanya Pak Toto kepada Al.

Cukup membuat semua keluarga menjadi makin terkejut. Tetapi, masih dengan tingkah sombongnya, Pak Umar bertanya pada Pak Toto, “Bapak kenal pemuda tak punya malu ini?”

Mendengar itu, Pak Toto pun geram.

“Tolong jaga bicara bapak dan bersikaplah lebih sopan terhadap pak Al. Beliau sudah rela datang jauh-jauh untuk menghadiri makan malam ini sebagai penghormatan untuk Reza dan anak bapak yang baru menikah. Beliau sangat tidak pantas diperlakukan dengan kasar oleh bapak, terutama oleh kamu Reza.”

Hening sedetik.

“Kalau bapak belum tahu, beliau ini lah pemilik tunggal PT Tiga Mandiri Perkasa. Induk perusahaan tempat anak dan menantu bapak bekerja. Bapak Alfrizzy Yudha Pratama”

Duaaaarrrrrrr!

Dunia seakan runtuh dihadapan mereka. Khususnya Pak Umar setelah mendengar ucapan Pak Toto, tubuhnya menjadi kaku. Bibirnya gemetar seakan tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. Matanya menatap wajah Al dengan tatapan ketakutan. Kedua telapak tangannya basah karena keringat dinginnya yang sudah membasahi tubuhnya. Hancur sudah semuanya, “Kenapaaaa nakkkkkk… kenapaaaa baru sekarangggg kamu bilaaanggggg”. Penyesalan menghinggapinya sekarang. Sebuah keserakahan yang membutakan dirinya selama ini. Penyesalan karena telah menilai seseorang dari luarnya saja. Pak Umar sadar selama ini telah menyakiti Al, dan putrinya sangat mencintai pria yang kenyataannya saat ini adalah pemilik 3MP. Dia mengorbankan cinta dan impian putrinya hanya karena sebuah kesesatan karena harta, dan tak sedikitpun melirik ke pria yang dicintai putrinya selama ini.

Begitu juga dengan Reza, yang sekujur tubuhnya terasa kaku. Ia tak habis pikir dengan semua ini. Ketakutan sekejap menghampirinya, apakah ia akan di depak oleh Al. Maaf! Beberapa kali seakan bibirnya ingin mengucapkan kata maaf tersebut, akan tetapi bibirnya seakan kaku gak bisa digerakkan.

“Ini gak mungkinnnn… ini gak mungkiiiiinnnnn” suara tangisan dan histeris mendengar sebuah kenyataan saat ini, Rahma melangkah mundur sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Mulutnya tertutup dengan kedua tangannya. Air matanya berlinang membasahi kedua pipinya.

“Kenapaaaaaa Zy??? Kenapaaa gak dari dulu kamuuuu bilaaangggggg” Rahma sepertinya belum menerima kenyataannya saat ini. Ia histeris dan menyalahkan Al yang terlambat mengatakan semuanya. Andai saja, yah kata andai lah yang terbersik dipikiran wanita berkerudung itu.

Semua keluarga yang hadir menunduk, dan menyesal telah menilai Al dari luarnya. Pak Umar tak henti-hentinya menyalahkan dirinya sendiri. Kedua matanya terasa kabur menahan isak tangisnya saat ini. Begitu juga mama Rahma yang tak henti-hentinya mengusap pundak Pak Umar untuk menenangkan suaminya dari emosional jiwanya saat ini.

“Pak Reza, aku minta izin yah” ujar Al meminta izin untuk menenangkan Rahma yang masih menangis dan tertunduk lemas di lantai.

Reza hanya mengangguk dan tak bisa berbuat apapun saat ini.

“Ma, lihat aku” ujar Al mengangkat tubuh Rahma lalu memegang kedua pundaknya sambil menatap wajah Rahma dengan sendu.

“Hikss….kamu tegaa…kamu jahat Zy….dengan status kamu itu, kamu biarin aku sendiri dan bukannya…..bukannya……” Rahma langsung menolehkan wajahnya tidak mampu mengucapkan kata-kata terakhir yang ingin di ucapkannya. Rahma sadar statusnya sebagai istri orang lain, sehingga tidak pantas mengucapkan kalimat ‘kenapa kamu tidak datang dan membawaku pergi dari tempat pelaminan’. Andai saja… andai saja Al jujur mengenai statusnya dari awal, semua ini tidak akan pernah terjadi menurut Rahma.

“Maafin aku Ma. Tapi aku mencari pasangan hidup yang menilai aku apa adanya, bukan ada apanya. Karena bagiku, harta tidak bisa membeli sebuah ketulusan. Dan kebahagiaan seseorang tidak bisa di nilai dari materi saja. Hiduplah tuk hari esok, karena waktu gak akan pernah berjalan mundur. Tapi, jadikan ini sebagai pelajaran hidup buat semua yang ada disini.” Al menghapus air mata Rahma. “Aku minta maaf, mungkin takdir tidak mengizinkan kita untuk bersatu. Mungkin takdir sudah mengatur agar ini merupakan jalan yang terbaik untuk semuanya. Jalanilah takdirmu, dan biarkan aku menjalani takdirku juga”

“Zyyyy…. hiks… hikss..”

“Kamu liat pak Reza? Dia begitu mencintai kamu, masa depannya juga cerah. Aku harap kisah kita sudah selesai sampai disini, kembalilah ke Pak Reza” ujar Al. “Pak Reza,” lanjutnya sambil menoleh ke Reza dan menarik lengan Rahma pelan untuk membantu Rahma duduk di samping suaminya.

“Maaf semuanya, sudah membuat suasananya sedikit gak enak… apakah aku masih bisa gabung?” Ujar Al sambil tersenyum. Tak ada dendam, tak ada amarah yang terlihat diwajah Al saat ini. Bahkan sebuah senyuman yang sangat ikhlas dilemparkan ke semua keluarga yang selama ini pernah menghinannya.

Akhirnya semua menganggukkan kepala meng-iyakan untuk Al tetap bergabung. Al tersenyum, “Makasih” kemudian menarik kursi disebelah Pak Toto untuk duduk bergabung dengan yang lainnya.

Al merasakan suatu kelegaan setelah menunjukkan siapa dia sebenarnya, masih dengan sopan pun ia tersenyum sambil menjabat tangan ke semua yang ada di meja.

“Oh iya, Congratulation buat Pak Reza dan Ibu Rahma. Maaf yah, tidak sempat hadir di acara pernikahan kalian. Sekali lagi, congratulation juga karena sudah menggantikan posisi Pak Toto sebelumnya menjadi General Manager di Hotel kami. Semoga Hotel kami menjadi jauh lebih baik saat di tangani oleh bapak.” Ujar Al saat berjabat tangan dengan Reza yang sedikit gemetar saat menyentuh telapak tangan Al.

Tak ada satupun yang berani mengeluarkan kata-kata, Al sekilas melirik wajah-wajah penyesalan di wajah mereka semua kecuali pak Toto yang sedari tadi hanya diam tapi sudah mampu membaca situasi yang terjadi saat ini.

“Sudah pesan?” Tanya Al ke Pak Toto dan Pak Reza.

“Sudah Pak,” jawab Reza.

Beberapa saat Rahma menatap hampa dan masih terngiang-ngiang dengan kenyataan yang ada saat ini. Al, seorang pengusaha sukses yang selama ini ia cintai. Tak hentinya Rahma menyalahkan semua orang bahkan Al pun tak luput dari amarahnya saat ini. Pikirannya saat ini sangat gundah, apa mungkin baginya bisa menjalani hubungannya dengan Reza setelah mengetahui kebenaran tentang Al?Sulit. Itu adalah jawaban saat ini yang hinggap dibenaknya.

Walaupun Rahma, berpikir bahwa pernikahannya adalah suatu keterpaksaan tanpa diikuti rasa cinta maupun ketertarikan. Tapi, dia gak bisa lari dari statusnya saat ini sebagai ‘Nyonya’ Reza. Tetapi baru beberapa hari yang lalu diresmikan, sudah muncul lagi godaan dihatinya.

Haruskah Rahma mengikuti egonya, memilih menggapai cintanya dan secara terang-terangan bilang “CERAI” di depan suami dan keluarganya?Tidak akan semudah itu. Berkali-kali Rahma meyakinkan dirinya bahwa jawabannya adalah kesulitan luar biasa untuk terus menerus menyembunyikan perasaannya terhadap Al. Apakah dia akan terus seperti ini? Lalu bagaimana kelanjutannya di masa depan? Entahlah, itu hanya akan membuat kepala Rahma pusing.

Sekarang yang harus dipikirkan Rahma adalah bagaimana kembali menjalani harinya dari waktu ke waktu ketika ia sedang bersama Reza. Tanpa ia sadari, sedari tadi menatap Reza dengan beragam pikiran.

“Maafkan kami yah Pak Al,” bibir Pak Umar gemetar saat pertama kali mengeluarkan suara setelah mengetahui siapa Al sebenarnya. Wajahnya terlihat kusam, jantungnya berdebar kencang. Stress, saat ini yang ia rasakan.

“Gak perlu minta maaf Pak, lupakan semuanya dan jaga kesehatan bapak. Aku lihat bapak sepertinya kurang sehat saat ini.” Ujar Al menoleh ke Pak Umar sambil tersenyum dan mencoba memberikan sedikit ketenangan dengan memegang tangan Pak Umar.

Tiba-tiba Reza maupun Rahma meneteskan air matanya saat mengetahui bahwa Al sama sekali tak marah maupun dendam terhadap Pak Umar. Justru, saat ini malah Al yang menenangkan Pak Umar yang terlihat stress.

Al terlihat berbisik-bisik ke Pak Toto untuk meminta tolong mengosongkan resto saat ini. Karena memang beberapa tamu yang tadi memperhatikan kejadian di meja no 44 nampak telah selesai makannya.

Tak lama Pak Toto kembali ke kursinya setelah mengobrol dengan Manager Resto untuk menutup Restonya karena tempatnya telah di booking oleh Al.

“Sepertinya malam ini semuanya harus makan banyak yah,” ujar Pak Toto mencairkan suasana. “Dan tadi saya suruh close aja tempat ini supaya lebih private lah”

Semua yang ada di meja yang tadinya memandang enteng si Al, berubah menjadi kekaguman terhadap diri Al. Bagaimana tidak? Sudah dihina, tapi Al tak pernah dendam sedikitpun ke mereka. Bahkan, justru Al mengakrabkan diri dan mencoba melupakan kejadian-kejadian selama ini. Masih muda, sukses, dan sangat bijaksana terhadap situasi didepannya.

Kedua orang tua Reza pun berdecak kagum dan sedikit di raut wajah ayah Reza seperti merasakan sebuah ke-khawatiran akan sesuatu. Lama ia menatap wajah Al, seakan ingin mengucapkan sesuatu. Namun, ada sedikit rasa sungkan terhadap pemuda itu.

Akhirnya semua pesanan mereka pun tiba di antarkan dua orang waitress, membuat suasana mulai mencair.

“Oke, mari makan yuk… udah nunggu lama dan sepertinya udah lapar nih” ujar Pak Toto dan akhirnya merekapun ikut makan bersama.

Rahma tak henti-hentinya mencuri-curi pandang ke arah Al, ada rasa penyesalan dalam dirinya karena tidak memaksakan kehendaknya sejak dulu. Andai saja dia mempertahankam cintanya kepada Al, mungkin saat ini ia akan bahagia bersama pria yang di cintainya. Namun, sekilas Rahma mengingat kalimat yang di ucapkan Al tadi. Lalu wanita itu menoleh kesamping, melihat wajah suaminya yang sedikit terlihat pucat. Dia sangat paham bahwa kondisi saat ini semua orang kecuali Al dan Pak Toto tak pernah menyangka bahwa siapa Al sebenarnya.

“Hufffhhhhh…” beberapa kali Rahma menghela nafas mengatur perasaannya yang sedikit shock.

Kemudian, wanita itu menyentuh tangan Reza dan menggenggamnya untuk memberikan kekuatan menerima kenyataan ini.

Berbeda dengan ayah Reza, dimana pria itu masih saja menatap Al seakan ingin menanyakan sesuatu. Walau berat, tapi dia harus mencari jawaban dari ke-khawatirannya itu.

“Hemm… maaf sebelumnya Pak Al, saya dan ibu sebagai orang tua jujur tidak mengetahui banyak permasalahan bapak dengan anak dan besan kami. Tapi… eeehhhh, anu Pak gini, Apakah dengan kejadian ini akan berdampak dengan kerjaan anak saya?” Ujar ayahnya Reza yang dengan berat hati mengeluarkan unek-unek di hatinya.

“Aku tidak pernah mencampur adukkan masalah pribadi dengan masalah profesional. Dan aku berharap mulai saat ini lupakan semuanya, dan buat Pak Reza sendiri. Silahkan jalankan apa yang menjadi tanggung jawab baru bapak di posisi yang sekarang.” Jawab Al membuat semua orang di meja menghela nafas panjang karena lega atas ucapan Al.

“Makasih Pak,” ujar ayah Reza sambil berucap syukur dalam hati.

“Oh iya, buat Pak Reza, Ibu Rahma dan Pak Toto… bahkan yang lainnya. Apa yang terjadi malam ini tolong di lupakan saja. Dan, khususnya buat Pak Reza dan Ibu Rahma tolong informasi tentangku jangan di cerita di kantor. Siapa aku, dan ada hubungan apa dengan kalian. Intinya, tolong identitasku dijaga jangan sampai bocor ke anak-anak yang lain”

“Baik Pak.”

“Gak ada maksud sih, tapi alangkah baiknya kalian mengetahuiku sebagai orang biasa saja.” Ujar Al kembali dan cukup dimengerti oleh semuanya.

Makin lama keakraban terjadi di antara mereka, Al pun mulai mencair dan mengobrol ringan sambil menghabiskan hidangan makan malam mereka.

Al malam ini hanya makan sedikit. Saat dipiringnya sudah terlihat bersih atau makanannya sudah habis. Ia pun membisikkan sesuatu ke Pak Toto dan di jawab dengan satu anggukan oleh Pak toto.

“Permisi, aku kebelakang sebentar.” Ujar Al pamit untuk ke toilet.

Sebetulnya Al tidak ke toilet, tapi justru dia menuju kasir untuk menyelesaikan semua bill pesanan mereka malam ini. Nilainya lumayan banyak, tapi tidak masalah bagi seorang Al.

Tak lama Al kembali ke meja dan tersenyum ke arah Pak Toto.

“Hemm… gini pak Reza dan semuanya, mohon maaf nih. Aku kayaknya harus pamit, karena kebetulan aku juga ada janjian dengan rekanan bisnis di Makassar. Nih, orangnya udah bbm.”

“Wah, baiklah pak Al. Terima kasih Pak atas kedatangan bapak.” Ujar ayah Reza.

“Maafkan bapak yah nak.” Ujar Pak Umar justru keceplosan memanggil Al dengan kata Anak. Al tersenyum sambil menjabat tangan Pak Umar dan mengangguk mengiyakan bahwa Al memaafkan semua kesalahannya selama ini.

“Oke kalo begitu aku pamit dulu yah Pak, Rahma, Pak Reza dan Pak toto. Ibu dan bapak. Sekali lagi terima kasih.” Ujar Al lalu pamit untuk pulang.

Saat Al sudah meninggalkan tempat, Reza mengangkat tangannya memanggil salah satu waitress untuk menghitung bill pesanan mereka.

“Gak usah Za, udah di handle sama Pak Al.” Ujar Pak Toto membuat Reza terdiam dan berucap dalam hati ‘sebuah rasa terima kasih yang sangat banyak terhadap kebaikan Al’.

Al berjalan menuju parkiran mobilnya, sebuah kelegaan terlukis di wajahnya saat mengingat semua apa yang sudah terjadi. Anggaplah suatu pelajaran buat Reza maupun keluarga, agar tidak menilai seseorang dari penampilan luarnya.

Still Continued

END – Rahasia Pribadi Part 27 | Rahasia Pribadi Part 27 – END

(Rahasia Pribadi Part 26)Sebelumnya | Selanjutnya(Rahasia Pribadi Part 28)