Rahasia Pribadi Part 26

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30Part 31Part 32
Part 33Part 34Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42 END

Rahasia Pribadi Part 26

Start Rahasia Pribadi Part 26 | Rahasia Pribadi Part 26 Start

Suara pancuran air dari ruang tengah membangunkan seorang gadis yang saat ini sedang tertidur di kamar atas yang terletak di lantai 2 sebuah rumah mewah bergaya western dengan cat dominan berwarna putih dan kuning gading. Desain interiornya mampu membuat fresh otak pemilik rumah saat dikantor pekerjaannya sangat menumpuk. Meski berukuran kecil, nuansanya yang terbuka membuatnya terkesan lapang. Posisi kolam renang di desain khusus, sehingga berada di tengah-tengah rumah dan mudah diakses dari segala ruangan, yakni dari ruang keluarga, ruang tamu, dan bahkan dari area parkir.

Diah baru saja terjaga dari tidurnya pagi ini, ia pun beranjak keluar kamar dan saat membuka pintu kamar seketika matanya melihat se-isi ruangan membuatnya berdecak kagum atas apa yang dilihatnya.

Perlahan-lahan ia pun melangkah turun menuju ruang tengah dan berdiri melamun dengan menyisir seluruh ruangan lantai 1, lalu berhenti tepat di pinggir kolam renang.

Diah tak mendapatkan seorang pun didalam rumah, matanya masih mencari-cari pemilik rumah yang bernuansa sangat privat. Tak hentinya ia memperhatikan kolam renang indoor didalam rumah yang sangat mewah ini, ditambah lagi penggunaan furniture di sekitar kolam memberikan aksen yang sangat kental dengan style western. Di salah satu sisi kolam, terdapat satu set kursi santai, sebagai tempat untuk bercengkrama bersama keluarga. Di sisi lainnya, terdapat satu set meja makan. Di sini, keluarga bisa menikmati hidangan bersama dengan view kolam renang yang menyegarkan. Sementara itu, nuansa alami semakin kental dengan peletakan beberapa tanaman hias di sisi kolam lainnya.

“Sudah bangun?” Tiba-tiba seseorang menyapa Diah pagi ini yang baru saja keluar dari kamar pribadinya yang terletak di lantai 1. Diah menoleh ke arah suara itu, lalu ia pun mendapati Al sudah berpenampilan rapi menggunakan kemeja hitam kotak-kotak dan jas berwarna hitam, tetapi bawahannya hanya menggunakan jeans biru dengan sepatu 3/4. Senyum terlukis diwajah cantik Diah saat mengetahui siapa yang baru saja menyapanya.

“Iya Kak, maaf semalam Diah ngerepotin kakak.” Ujar Diah lalu melangkah mendekat ke arah pria itu. Seutas senyuman hangat dari gadis itu saat berada tepat dihadapan Al.

“Hemmm… tadi Bu Ningsih udah nyiapin sarapan buat kita, dan kalo mau apa-apa silahkan ke belakang aja. Karena memang para pekerja disini jarang masuk kedalam rumah kecuali saat mereka membersihkan rumah… Bu ningsih tinggal di belakang rumah kok” ujar Al menjelaskan ke Diah keadaan rumahnya yang memang para pembantu dirumahnya tinggal di belakang.

“Kak, bentar” ujar Diah lalu memperbaiki letak kerah baju Al, pria itu langsung tersenyum diperlakukan seperti itu. Diah merapikan Jas Al sambil mengusap dada dan lengannya.

“Udah, tampan… berkharisma… baik hati,” gumam Diah pelan tapi cukup pelan terdengar ditelinga Al membuatnya tersenyum.”Diah masih pacar kakak kan sampai bentar malam… hehehe,” anggukan kepala Al membuat Diah bahagia.

“Pakaian baru ada di dalam lemari, tadi pagi aku menyuruh anak Bu Ningsih untuk menyiapkan semuanya… kamu dirumah aja dan gak usah kemana-mana. Kalo mau keluar rumah, silahkan minta tolong ke pak Ray supir pribadi dirumah ini untuk mengantar kamu… tinggal pilih aja mobil digarasi” Ujar Al dan di jawab dengan anggukan kepala dan senyuman gadis itu.

“Ya udah, kalo gitu aku ngantor dulu yah.” Saat Al pamit, lengannya ditahan oleh Diah membuat Al menghentikan langkahnya.

“Aku masih pacarnya kak Al kan?” Tanya Diah dengan wajah memelas dan dijawab dengan anggukan dan senyuman kembali oleh Al. “Hemmm… kalo gitu, kenapa pamitnya gak cium Diah dulu?”

Al menarik tubuh Diah lalu mengecup kening gadis itu membuatnya merasakan sebuah kebahagiaan. Walaupun hanya sehari, tapi mampu membuat gadis itu sejenak melupakan masalahnya yang saat ini menimpanya.

“Kak, ti ati” ujar Diah lalu menyalim tangan kanan Al dan dijawab dengan elusan dipipinya.

“Kalo butuh sesuatu, minta saja no HP ku di Bu Ningsih yah… ya udah aku tinggal dulu” akhirnya Al meninggalkan Diah sendiri dalam rumah dan berangkat ke kantornya dengan sebuah perasaan aneh dihatinya.

○●○​

Pagi hari, sebuah Jeep GC berwarna Hitam sedang bermacet ria di jalan tol menuju kantor pusat 3MP. Al yang duduk di kemudi sambil mendengarkan radio berita tentang suasana ibu kota pagi ini lebih memilih untuk nenelfon seseorang. Al membuka layar HPnya yang sudah ter-connect dengan double Din yang dilengkapi dengan perangkat bluetooth, lalu menekan tombol 1 dan langsung terconnect dengan nomor seseorang. ‘Gadis Bodoh’, nama itulah yang tertera di layar HP Al dengan foto seorang gadis yang telah mengisi hatinya saat ini.

“Halo,” ujar Al saat gadis itu yang tak lain si Reva mengangkat telfonnya.

“Yah halo Al, ada apa?”jawab Reva diseberang.

“Pengen nelfon aja,”

“Hehe, bilang aja kalo kamu lagi kangen sama aku.” Ujar Reva.

“Emang, udah sarapan?”

“So sweet… hihihi, udah barusan dikantin bawah… kalo kamu?”

“Bentar lagi kalo udah dikantor, nih masih kena macet” ujar Al tersenyum, ntah kenapa saat mendengar suara Reva hatinya sangat senang. Ingin rasanya ia mengungkapkan apa yang saat ini ia rasakan, tetapi dalam benaknya mungkin belum saatnya. Biarlah waktu yang akan menjawabnya.

“Eh btw, besok acara akad nikah si Rahma… kamu gak datang?”

“Gak, lagi banyak kerjaan di Jakarta Va” jawab Al, tapi cukup membuat hatinya terpukul mendengar kabar tentang pernikahan Rahma.

“Yakin? Kenapa gak datang dan ngebatalin pernikahan mereka?” ujar Reva yang sedikit serius mengucapkan pertanyaannya barusan.

“Emang sinetron, cowoknya datang menggagalkan pernikahan ceweknya? Lagian kan udah ada kamu. Bener gak?”

“Hehe… bener juga sih, tapi… hemmm. Kapan kamu ke Makassar Al?”

“Kenapa? Kangen yah?” Tanya Al.

“Yehhh… siapa juga yang kangen sama cowok Gay kayak kamu. Malas banget” ledek Reva yang terdengar mulai santai.

“Ya udah, kalo gitu aku gak akan ke Makassar lagi”

“Kok gitu sih, trus hemmm…” Ujar Reva terpotong.

“Hahahah, kan ketahuan kalo kamu lagi kangen sama aku”

“Hehe, udah ah… aku mau kerja dulu. Gak enak, ada Indah disini. Ntar kena marah lagi”

“Siapa yang berani marahin kamu?” Tanya Al dengan nada serius.

“Elah, yah jelas atasan aku lah. Lagian emang kamu bisa apa, kalo aku kena marah? Emang kamu yang punya perusahaan?”

“Hehehe… gak, ya udah kalo gitu… kamu kerja lagi gih,”

“Ya udah, kamu juga hati-hati di Jakarta. Jangan nakal-nakal loh. Ingat janji kamu dan calon bayi yang ada diperut aku. Hehehehe” Ujar Reva becanda tapi cukup membuat Al terdiam.

“Bayi?”

“Hahahahahaha… gak lah Al, baru digertak gitu aja udah gugup. Santai aja, lagian kan tuh malam kamu keluarinnya diluar. Masa iya mau jadi”

“Hufhhhhhh… kalo becanda itu jangan keterlaluan Va. Kalo misal iya, aku hari ini akan ke Makassar dan langsung bertanggung jawab dengan apa yang aku perbuat”

“Ya udah, sekarang kamu ke sini. Aku lagi hamil anak kamu. Wekk”

“Yeh… kata-kata pertama yang aku pegang tau, udah yah nih jalannya udah agak longgar. Ntar dilanjut lagi” ujar Al.

“Oke deh, ti ati yah… muachhh” ujar Reva dan memberikan ciuman jauh dari seberang.

○●○​

Hari ini, tepat sudah hari acara akad nikah antara Rahma dan Reza yang di adakan dirumah kediaman orang tua Rahma. Iring-iringan calon mempelai pria-pun telah tiba. Reza yang memakai pakaian adat Bugis sedang berjalan menuju ke tempat yang telah disediakan. Panggung kecil yang telah lengkap dengan pak Imam kelurahan untuk memulai proses ijab kabul.

Rahma, yang sedang menunggu di dalam kamar masih merenung atas apa yang terjadi dalam hidupnya. Seandainya saja ada pilihan lain diberikan kepadanya, Rahma jelas akan memilih mengakhiri perjodohan tak wajar ini dengan melarikan diri dari pernikahan yang sudah di depan mata. Sayangnya tidak ada satupun opsi yang memberinya kesempatan untuk kabur atau menghentikan waktu.

Beberapa menit kemudian, suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya. Ia sadar bahwa Reza sebentar lagi akan sah menjadi suaminya. Ia mematung tepat di depan pintu kamarnya, lalu muncullah mama Rahma dengan tersenyum sambil menggandeng lengan gadis itu untuk bertemu dengan Reza.

Rahma menatap lurus jauh ke para tamu undangan yang telah hadir. Matanya berair, menginginkan seseorang yang hadir saat ini. Semua tamu undangan yang hadir tersenyum kepadanya. Ada Reva, Indah, dan semua rekan-rekan sekerjanya baik yang masih memakai seragam karena memang mereka lagi bertugas. Dan juga yang memang sedang libur malah memakai pakaian pesta. Sanak saudara, para sahabat juga ikut hadir dalam acara tersebut.

Rahma menatap mereka dengan tatapan hampa. Pikirannya kacau, jantungnya berdetak cepat dan matanya sedikit kabur karena air mata yang berusaha ia tahan. Keadaannya mendadak kacau seperti itu karena mendapati Reza berdiri tegak diatas panggung bersama papanya dan kedua orang tua Reza yang memang sudah menunggu kehadirannya untuk melangsungkan acara ijab kabul dimana ia harus mendampingi Reza saat proses tersebut.

Berulang kali Rahma menelan ludah, rasanya pahit seperti ia baru saja memakan sayuran yang tak enak. Tangannya yang memegang buket bunga terasa berkeringat walau ada sarung tangan yang menjadi perantara di antara kulitnya. Kakinya sulit sekali digerakkan, seakan tubuhnya terpaku di tempatnya berdiri sekarang. Otaknya terus menerus memberi perintah agar ia memaksa kakinya untuk melangkah menjauh dari panggung, sepintas ia berbalik menatap pintu rumahnya dan seakan pikirannya menyuruhnya untuk pergi meninggalkan semuanya sesuai dengan keinginannya selama ini. Tapi di lain pihak, Rahma tidak habis pikir kenapa hatinya mengatakan hal yang berbeda. Hatinya tetap saja memerintahkan untuk meneruskan pernikahan ini, walau sulit sekali mendapat logika yang tepat untuk menjelaskan hal itu.

Beberapa kali Rahma tampak menoleh ke belakang, menatap pintu Rumahnya dan berharap seseorang akan hadir disana. Seseorang yang sangat diharapkannya datang dan memberikan angin segar untuk masa depannya. Alfrizzy, nama pria yang terus muncul dalam kepala gadis itu sejak dulu bahkan hingga saat menjelang acara akad nikahnya. Harapan besar telah digantungkan Rahma pada pria itu. Harapan atas kehadiran pria itu sebagai tumbal pembatalan proses pernikahan. Tapi, sampai saat terakhirpun sepertinya pria itu tidak akan muncul dari arah itu. Rahma hanya menarik nafasnya dan pasrah pada takdir dan nasibnya.

Satu sentuhan ringan di lengan kirinya membuat Rahma tersadar bahwa waktunya tiba. Rahma menatap Reva, mengisyaratkan sebuah pertanyaan bahwa kenapa ‘Dia’ tak datang. Sorot matanya menyiratkan bahwa Rahma sama sekali tidak siap untuk melangkahkan kakinya menuju panggung yang mungkin hanya berjarak beberapa meter saja.

“Sayang ayo,” suara Mamanya membuyarkan kembali lamunannya.

Perkataan Mamanya hanya ditanggapi anggukan dingin oleh Rahma. Beberapa detik kemudian mereka bersama berjalan pelan, langkah demi langkah, menuju panggung pelataran yang menentukan nasib masa depannya.

Sepanjang jalan, Rahma hanya memperlihatkan ekspresi kaku dan tatapan mata kosong. Ketidakrelaan itu terlihat sekali dari wajahnya. Reza yang menyaksikan pemandangan tersebut dari atas hanya bisa menghela napas pelan. Ia sangat mengerti bagaimana perasaan Rahma sekarang. Tapi Reza tetap tidak bisa mundur dengan situasi itu.

Reza mencintai Rahma. Cinta yang menimbulkan ego dalam hatinya, ingin sesegera mungkin memiliki Rahma seutuhnya. Walau cenderung selfish dan dipaksakan, dia tidak peduli. Karena alasan itu pula reza beberapa kali bertindak kasar ke al. Tentunya karna reza tidak ingin Rahma jatuh ke pelukan Al.

Situasi tegang tidak bisa dihindarkan saat mama Rahma menyerahkan putrinya pada papanya untuk melanjutkan acara akad nikah mereka. Rahma hanya melirik sekilas wajah pria itu, ketakutan menghampirinya. Reza merasakan tangan gadis itu yang gemetar saat ia menyentuhnya untuk membantu dan membimbing Rahma untuk duduk disebelahnya.

Suasana tiba-tiba hening, hanya terdengar suara pak Imam yang mengucapkan bait demi bait syair AlQuran melalui sound.

Beberapa kali Rahma menelan ludahnya, memejamkan mata dan menenangkan pikiran. Berusaha memikirkan seseorang yang mungkin lebih diharapkan berdiri disampingnya. “Izzy kamu dimana?” Rahma tak henti-hentinya bergumam memohon dan berdoa kepada sang pencipta untuk mendatangkan sebuah ke ajaiban yang bisa merubah segalanya. Namun, jalan inilah yang ia pilih. Beberapa kali ia diberi kesempatan untuk mengulang kembali kisah mereka, tetapi malah ia lebih mengikuti perjodohan yang ditentukan oleh kedua orang tuanya.

Tiba saatnya pengucapan Ijab kabul, mau tak mau Rahma menerima semuanya.

“Saya terima nikahnya Rahma Lisiana binti Umar dengan mas kawin dibayar tunai” lidah Reza dengan cepat mengucapkan ijab kabul tersebut.

“Sah?”

“Saaaahhhhhh”

“Amiiinnnnn”

Semua tamu undangan yang hadir bersama-sama meneriakkan kata ‘Amin’ dan juga yang hadir sebagai saksi, bahwa Reza dan Rahma telah sah menjadi sepasang suami istri. Reza cukup lega setelah berhasil mengucapkan ijab kabul pernikahannya dengan sempurna.

Para sahabat Rahma yang mengetahui perjalanan hidupnya serta cinta terpendamnya terhadap Al yang selama ini membuatnya tersiksa, tak dapat menahan lelehan air matanya. Mereka merasa bahwa Rahma sangat kuat menjalani hidupnya. Mungkin Rahma yang mengambil keputusan untuk menikah dengan Reza adalah hal yang sudah ditakdirkan oleh sang pencipta. Dan didalam doa mereka bahwa semoga Rahma bisa menerima dengan lapang hati dan berusaha tegar menghadapi kenyataan yang terpampang di hadapannya.

Tangan Rahma ter-ulur seperti robot saat Reza hendak memakaikan cincin nikah padanya. Sebuah cincin dengan satu berlian tersuruk di jari manisnya. Cincin yang tampak sangat mewah dan mahal itu telah sah menjadi simbol kepemilikan Reza terhadap Rahma sebagai istri sahnya. Tangan Rahma juga terlihat sedikit gemetar saat berusaha memakaikan cincin ke jari tangan milik Reza. Sambil menahan napas akhirnya Rahma berhasil menyematkan cincin itu dijari manis suaminya.

Ketika kedua orang tuanya memberikan instruksi kepada mempelai pria untuk mencium pengantinnya, spontan Rahma menutup matanya. Ingin sekali rasanya ia mempercepat atau melompati adegan ini. “Please, can I skip this fase?? Tanya Rahma dalam hati, namun tak akan ada seorangpun yang menjawabnya.

“Muachhhhh” kecupan dari Reza dikeningnya membuatnya menghela nafas. Semua telah terjadi, dan mungkin mulai detik ini ia harus mengubur dalam-dalam masa lalunya. Cinta sejatinya terhadap Al, dan menerima Reza sepenuhnya menjadi suaminya.

○●○​

Ngeesshhhhhhh…

Sreeeeng

Sreeeeng

“Hmm kurang dikit kecapnya”

Creeek creek!

Sreeng sreeeng!

“Hmmm yummy! Semoga kakak suka masakan aku, hihihi”

Matahari belum menampakan sinarnya, tapi sudah ada kesibukan di dapur sebuah rumah mewah di salah satu kawasan elite Jakarta. Gadis manis itu terlihat energik memotong sayur dan bumbu-bumbu, serta mengolahnya menjadi hidangan lezat untuk sarapan.

Diah saat ini sedang bergelut dengan beberapa peralatan dapur. Gadis itu ingin mempersiapkan sarapan pagi yang sangat special buat pemilik rumah, lalu setelah semuanya beres Diah meletakkan semua peralatan masaknya di westafel untuk dicuci kembali.

“Yeeey, jadi juga! Nasi goreng ala chef diah” gadis itu semangat sekali pagi ini. Membawa nuansa keceriaan di pagi hari. Wajah yg cerah, senyuman selalu mengembang di bibirnya. Memberi warna baru di dalam rumah Al saat ini.

Hari ini juga adalah hari dimana acara akad nikah Rahma dan Reza dilangsungkan di kota Makassar, dalam ruangan kerja yang terletak di samping kamar pribadi Al yang dikelilingi oleh kaca dan horden berwarna biru saat ini Al sengaja menyendiri di ruangannya, ia duduk di depan Mac Pro-nya yang berwarna putih dengan menatap kosong layar monitor.

Al lebih memilih untuk berdiam diri di rumah, setelah mengkonfirmasi ke Nostra bahwa hari ini ia sedang tak enak badan.

Diah, yang merasakan sebuah keanehan terhadap diri Al pagi ini yang tak kunjung keluar dari kamar merasa prihatin, gadis itupun akhirnya memberanikan diri untuk menghampiri ruangan Al.

Tok… tok… tok…

Suara ketukan di pintu kaca membuyarkan lamunannya.

“Masuk” teriak Al.

Krieeekkkk…

Sosok Diah dengan membawa secangkir kopi pagi ini mampu menghapus sedikit kegundahan di hati Al saat ini. Senyuman sendu membuat kesejukan di diri Al yang menatapnya dengan tersenyum.

“Kelihatannya kakak lagi ada masalah yah?” tanya Diah sambil mendekat ke meja kerja Al. Al memandang Diah dengan tatapan sendu, ia menggelengkan kepalanya kemudian menghela napas.

“Gak, hanya memang lagi malas keluar aja” Jawab Al.

“Minum dulu kak kopinya, mumpung belum dingin” ujar Diah menawarkan secangkir kopi yang diletakkan di atas meja kerja Al, lalu seakan meminta izin untuk duduk di depannya.

“Srupp…” Al menyurup kopinya sambil menatap wajah Diah membuat gadis itu tersenyum, seakan menunggu komentar dari pria itu mengenai kopi buatannya.

“Enak… pas gula dan kopinya” ucap Al membuat Diah lega.

“Kak, Diah mau pulang ke kosan hari ini yah. Hemmm… kan sekarang Diah udah gak jadi pacar Kak Al lagi.” Beberapa saat Diah mulai membuka obrolan sambil menunduk tak mampu melihat wajah Al di hadapannya.

“Kamu udah sarapan?” Sepertinya Al mengalihkan pembicaraan dan menanyakan hal lain.

“Hehehe… kakak mau sarapan? Kebetulan tadi Diah udah buatin nasi goreng special buat kak Al” sumringah di wajah Diah dan melupakan sejenak niatnya untuk meninggalkan rumah Al karena mendapatkan jawaban anggukan kepala dari Al.

“Ayo,” ajak Al lalu Diahpun dengan senang sekali beranjak mengikuti Al menuju ke ruang tengah dekat kolam renang.

“Maaf kak, Diah cuma nyiapin nasi goreng doank… hehehe” ujar Diah saat mereka tiba dimeja makan berbentuk bulat yang berada di dekat kolam dan Al hanya tersenyum lalu menarik kursi untuk duduk.

“Yuk bareng” ajak Al dan di iyakan oleh Diah.

Mereka berdua menghabiskan sarapan pagi sambil sesekali Diah mencuri pandang ke wajah Al yang masih saja terlihat murung.

Setelah sarapan, Diah membersihkan piring yang mereka gunakan dan Al beranjak masuk kembali ke dalam ruangannya. Diah menoleh ke pria itu lalu menatap pundak Al dari belakang. Seketika, Al menghentikan langkahnya lalu menoleh ke Diah sambil tersenyum.

“Kamu siap-siap yah, temani aku jalan-jalan” ujar Al membuat Diah riang lalu meng-iyakan tawaran Al.

○●○​

Dengan mengendarai mobil JEEP WR hijau Army miliknya, Al mengajak Diah menuju daerah Ancol hanya sekedar melihat suasana pantai dan menghibur hatinya yang saat ini sedang galau.

Diah berusaha mengurangi beban pikiran Al dengan cara menghiburnya dan mencoba mengalihkan pikiran Al saat ia mulai kembali memikirkan tentang Rahma. Walaupun Diah tak mengetahui apa yang terjadi terhadap Al saat ini, tapi sedikit banyaknya dia paham kalau ada sedikit masalah yang saat ini Al hadapi. Dan bukan masalah kerjaan tentunya, tapi masalah hati.

Al mengajak Diah jalan-jalan. Cukup sukses, karena keceriaan dari Diah dan manjanya terhadap Al membuat Al kembali ceria lagi. Dan ia berusaha tidak memikirkan masalah yang sedang dihadapinya.

“Mau makan apa?” Tanya Al saat mereka tiba di sebuah restoran seafood.

“Hehehe, ikut kakak aja deh” jawab Diah yang duduk di sampingnya.

“Makasih yah,” ujar Al menoleh ke Diah.

“Sama-sama kak, eh btw… hemmm, dari awal ketemu kakak itu gak pernah manggil nama Diah yah? Dan juga selalu berbicara seadanya aja.” Betul kata Diah, karena pria itu gak pernah menyebut namanya saat Al memanggilnya. Dan juga selalu berbicara seperlunya saja.

“Masa sih?”

“Iiih, pasti kakak gak sadar deh. Huhuhu” Diah merajut menggembungkan pipinya. Ekspresi kesal namun terlihat sangat lucu dan menggemaskan di mata Al.

Seorang waiters menghampiri meja mereka, lalu menanyakan pesanan sambil mencatat di kertas panjang. Al memesan udang bakar dan ikan bakar kerapuh, tak lupa dua mangkuk sayur lodeh. Untuk minumannya, Al memesan 2 botol teh Sosro untuk dirinya dan segelas Jus Jeruk untuk Diah.

Diah memangku kedua lengannya bersandar di meja panjang tempat mereka duduk, dagunya berpangku di lengan sambil menunggu pesanan mereka datang. Wajah manja dan lucu mampu sedikit membantu Al untuk melupakan apa yang saat ini pria itu rasakan.

“Kak,” tanya Diah tapi masih memangku wajahnya di ujung meja.

“Kok muka kamu kek gitu,?” Al memperhatikan kelakuan Diah lalu tertawa karena melihat bibir manyun yang di buat-buat oleh gadis itu.”Apaan sih kamu,” lanjut Al lalu mengusap lembut rambut Diah.

“Silahkan mas mba,” ujar Waiters yang tadi saat membawakan pesanan minuman mereka. “Makanannya bentar lagi pak,”

“Makasih yah Mas,” ujar Al.

Srruuuppp… sruppppp…

Glukkkk… glukkkk…

Diah memainkan straw di gelas minumannya sambil menghisap jusnya lalu meniup untuk menggelumbungkan kembali ke minumannya. Terlihat jorok sih kalau orang lain yang melihatnya, tapi cara itu mampu membuat Al kembali tertawa.

“Hahahaha, hei. Malu diliat ama orang tau” ujar Al masih tertawa melihat tingkah Diah disampingnya.

“Emang Diah pikirin… huuuuu” jawab Diah dengan memanyunkan bibirnya sambil menggigit manja straw di mulutnya.

Al hanya bisa melihat tingkah laku aneh gadis itu tapi cukup mampu menghiburnya, sekilas Diah melirik ke arah Al dan tersenyum melihat perubahan wajah pria yang saat ini dia kagumi.

“Gityuuu donk, masa jalan sama cewek cantik mukanya ditekuk sih kak. Ihhh, malu-maluin Diah aja.” Ucap Diah cemberut.

“Hahahahahahaha… udah udah, kamu tuh dasar…. haha”

Al menarik kepala Diah lalu di kucek-kucek rambut gadis itu saking gemasnya, Diah seakan mencoba menghindar tapi tak menjauhkan kepalanya dari tangan Al.

“Ihhhhhhh… rambut Diah bisa rusak kakakkkk. Gimana sih! ih.” Diah pura-pura kesal malah bikin Al makin gemas kepadanya.

Mereka akhirnya tertawa bersama mengingat tingkah mereka berdua saat ini, dalam hati Diah saat ini sangat bersyukur karena bisa membuat Al tersenyum lagi.

Tiba-tiba intro music sebuah lagu kesayangan Diah dari SO7 terdengar di sound dalam resto.

“Sssstttttt… kak, diem dulu.” Diah meletakkan jarinya di bibirnya menyuruh Al untuk diam sejenak.

Lalu gadis itu kembali melipat kedua tangannya dan menopang dagungnya di atas meja. Sambil menutup matanya menikmati alunan lagu tersebut. Sedangkan Al hanya bisa diam dan tersenyum.

SHEILA ON 7

Buat Aku Tersenyum

Datanglah sayang dan biarkan ku berbaring.

Di pelukanmu walaupun tuk sejenak.

Usaplah dahiku dan kan kukatakan semua.

Bila kulelah tetaplah disini,

Jangan tinggalkan aku sendiri

Bila kumarah biarkanku bersandar,

Jangan kau pergi untuk menghindar.

Rasakan resahku dan buat aku tersenyum,

Dengan canda tawamu walaupun tuk sekejap.

Karna hanya engkaulah yang sanggup katakan aku.

Karna engkaulah satu-satunya untukku.

Dan pastikan kita selalu bersama

Karna dirimulah yang sanggup mengerti aku,

Dalam susah ataupun senang.

Dapatkah engkau s’lalu menjagaku.

Dan mampukah engkau, mempertahankanku.

Bila kulelah tetaplah disini,

Jangan tinggalkan aku sendiri.

Bila kumarah biarkanku bersandar,

Jangan kau pergi untuk menghindar​

“Fiuhhhhhh…”

“Suka?”

“Bangettttt, hihihi… dan itu buat kakak. Hehehe” cengir Diah dengan manjanya. “Biar kakak bisa tersenyum lagi gityuuu… hihi”

“Makasih yah,” ujar Al. Dan dijawab dengan anggukan kecil oleh gadis itu sambil melempar sebuah senyuman dari wajah cantiknya.

Hening…

“Gimana? Apakah kamu udah selesaikan masalah kamu?” Tanya Al kembali.

“Sudah kak, kemarin Diah udah bayar semua.” Jawab Diah mencoba tak terbawa suasana kesedihan karena mengingat justru ia yang harus menghibur Al yang saat ini sedang galau.

“Ya udah deh, kalau ada apa-apa ngomong aja”

“Beresss bos” ujar Diah sambil mengedipkan matanya sambil mengangkat tangan kanannya memberikan hormat ke Al.

“Hehehe… kamu lucu yah ternyata.” Ujar Al.

“Lucu dan imut kan” dengan gaya manjanya gadis itu memanyunkan bibirnya.

“Yah bisa dibilang gitu,”

Saat pesanan mereka datang, Diah segera mengambilkan beberapa lauk ke piring Al dan juga nasi yang awalnya pria itu menolaknya. Tapi, karena sedikit paksaan dari gadis manja disampingnya maka Al meng-iyakan saja pelayanan gadis itu terhadapnya.

Setelah merasa tubuh mereka telah letih maka Al memutuskan untuk kembali ke rumah, dan tak lupa Al mengajak Diah untuk kembali lagi kerumahnya. Walaupun sedikit penolakan dari Diah, tapi sepertinya tak berlaku buat Al untuk mengajak gadis itu pulang.

○●○​

Di kantor pusat 3MP, hari ini adalah hari terakhir Pak toto dan ke tiga seangkatannya mengikuti sesi trainning selama 2 minggu. Setelah semuanya beres, mereka bertemu kembali dengan pemilik perusahaan di dalam ruangan.

Al saat ini sibuk di depan laptopnya langsung teralihkan perhatiannya saat ke empat RBD mengetuk pintunya. Ia pun mempersilahkan mereka untuk masuk.

Merekapun akhirnya berbasa basi sambil mengobrol ringan, Al sedikit memberikan pengarahan tentang beberapa metode bisnis yang akan mereka kerjakan saat kembali ke area masing-masing.

Tiba-tiba dering Hp pak Toto berdering dan terdengar oleh yang lainnya karena memang lupa di silent.

“Angkat aja pak, mungkin penting. Lagian kan trainingnya udah selesai.” Al menyuruh Pak Toto untuk mengangkat telfonnya.

“Iya halo Za,”

“Oh gitu, iya hari ini rencananya saya balik Makassar.”

“Besok? Boleh deh… kamu sms aja tempatnya.”

“Iya maaf gak bisa hadir,”

“Hemmm… ya udah deh, nanti info aja jamnya dan tempatnya yah. See u yah bye” akhirnya pak Toto menutup telfonnya lalu memasukkan kembali ke sakunya.

“Wah kayaknya ada yang udah gak sabar nih ketemu ma istrinya” ujar Al mencoba mencairkan suasana kembali.

“Eh gak kok Pak Al, ini tadi si Reza… kan saya gak hadirin pesta pernikahan dia dengan si Rahma anak resepsionis… biasa cinta lokasi… trus ngajakin acara makan malam bersama keluarga.” Jawab Pak Toto.

Terlihat sebuah senyuman di wajah Al, tapi senyum penuh arti lalu menatap tajam ke depan.

“Hemm… boleh aku ikut?”

Still Continued

END – Rahasia Pribadi Part 26 | Rahasia Pribadi Part 26 – END

(Rahasia Pribadi Part 25)Sebelumnya | Selanjutnya(Rahasia Pribadi Part 27)