Rahasia Pribadi Part 22

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30Part 31Part 32
Part 33Part 34Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42 END

Rahasia Pribadi Part 22

Start Rahasia Pribadi Part 22 | Rahasia Pribadi Part 22 Start

Clarion Hotel, terletak di Jl. A. P. Pettarani kota Makassar. Sore ini, sebuah SUV Range Rover milik Al memasuki area parkir Hotel. Entah mengapa hari ini Al ingin sekali memberikan sebuah kejutan kepada Reva. Dalam benaknya kali ini, apakah dia harus berterus terang kepada gadis itu tentang siapa dirinya sebenarnya. (mengingat apa yang telah terjadi diantara mereka berdua)

Namun, sepertinya keinginan harus kembali terpendam. Begitu melihat reva, Al menjadi bimbang. Apakah gadis itu akan menerima pengakuannya atau malah akan menjauhi al karena merasa telah dibohongi dan rasa sungkan terhadapnya jika mengetahui Al adalah pemilik hotel tempat Reva bekerja. Al tentu tidak ingin jauh dari gadis yg tanpa sadar telah mengisi sebagian dari relung hatinya saat ini. Maka dari itu, al kembali mengurungkan niatnya. Ketika gadis itu mendekat ke arah mobilnya, Al pun turun dan menghampiri Reva.

“Va…” sapa Al membuat Reva menghentikan langkahnya.

Beberapa teman Reva yang bersamaan keluar melihat siapa pria itu. Ada yang tiba-tiba memasang muka kasihan, ada pula yang memasang muka mengejek karena mengingat kejadian saat lamaran Rahma dimana Al dipermalukan oleh orang tua Rahma.

“Huh, gak dapat Rahma… malah nyari pelampiasan sama yang lain. Hati-hati lu Va, karena mungkin lu dijadikan tempat pelarian semata… kasian banget yah” ujar Indah yang baru saja menghampiri mereka. Setelah mengejeknya, gadis judes itu beranjak menuju mobilnya.

Al mendengar bisikan sinis Indah mencoba tetap tenang, tidak terpancing oleh kata-kata gadis itu. Reva pun kesal mendengarnya. Namun dia tahu watak Indah seperti apa, jadi dia tak mempedulikannya. Reva pun tersenyum memandang Al yang berdiri dihadapannya.

“Ngapain lu kesini Al?” Tanya Reva tersenyum mencoba menenangkan pikiran Al saat ini.

“Jemput kamu… hehehe” jawab Al. “Yuk” kemudian lengan gadis itu ditarik pelan mengikutinya menuju mobil SUVnya.

“Mobil lu mana?” Tanya Reva bingung.

“Tuh” jawab Al menunjuk mobil SUV mewah miliknya membuat Reva langsung terkejut. Dia ingat bahwa SUV itu adalah mobil yang dipakai Citra saat menghadiri acara lamaran Reza kepada Rahma.

“Loh… inikan mobil ibu Citra?” Tanya Reva.

“Kalo aku bilang ini mobilku, kamu percaya gak?” Jawab Al santai. Dia mencoba memancing reaksi gadis itu.

Reva tergelak mendengar ucapan Al. Dia mengira Al bercanda. Walau dalam hati dia masih bertanya-tanya tentang background Al, bagaimana Al bisa memiliki Mobil, Apartemen, dan sekarang dia menjemputnya dengan mobil premium SUV. Namun dia tidak berani bertanya lebih lanjut, takut Al menjadi tersinggung.

“Hahahahaha… mimpi kali lu, mahal tau nih mobil Al. Dapat duit darimana lu bisa beli mobil semahal ini” ujar Reva. Al hanya menggelengkan kepalanya lalu mengajaknya naik ke mobil.

Tapi saat Al baru saja membuka pintu mobilnya, tiba-tiba Rahma melihatnya lalu berlari mendekat ke mobilnya.

“Zyyyyy” sapa Rahma saat Al membuka pintu mobilnya, sedangkan Reva yang udah naik duluan hanya bisa mengernyitkan alisnya menatap Rahma dari dalam mobil.

“Eh Rahma, kenapa Ma?” Ujar Al lalu mendekat ke Rahma.

Mereka berdua saling menarik nafas panjang, dan saling memandang satu sama lain. Ingin sekali rasanya Rahma memeluk Al saat ini, mencurahkan segala beban dihatinya sambil bersandar di dada pria pujaan hatinya. Tapi mengingat tujuannya menghampiri Al, dia pun menahan sekuat tenaga keinginannya itu. Di sisi lain, Al ingin sekali membuka jati dirinya pada Rahma. Berharap hal itu dapat mengubah keadaan saat ini, membatalkan rencana pernikahan Rahma dengan Reza. Bagaimanapun, dalam hatinya masih terukir dengan kuat nama Rahma.

“Zy”

“Ma”

Mereka bersamaan memanggil nama masing-masing, reva yang melihat mereka cuma bisa heran.

“Kamu duluan aja” ujar Rahma.

“Jadi gini… ada sesuatu yang harus aku sampaikan ama kamu Ma” kata Al yang sudah tak tahan untuk membuka identitasnya.

“Apaan tuh Zy?”

“Jadi gini, sebetulnya itu aku… hemmm” ujar Al menggantung. Bingung ingin memulai darimana menjelaskan jati dirinya pada Rahma.

Tapi Reva yang melihatnya tak sabaran menunggu akhirnya turun dari mobil dan saat Al melihat Reva turun, segera menepis keinginannya untuk membuka identitas dirinya.

“Woi Al, lama bener lu” teriak Reva.

“Maaf Ma, kayaknya belum saatnya aku ngomong ama kamu masalah yang tadi” ujar Al. “Bentar Va” lanjut Al menyuruh menunggu sebentar si Reva.

“Bentar Zy… nih” ujar Rahma saat Al mau pamit.

Dengan berat hati, Rahma memberikan sesuatu pada Al. Sebuah undangan pernikahan antara Rahma dan Reza di salah satu gedung di kota makassar. Begitu juga dengan Al, ingin rasanya dia menolak tawaran itu dan mengajak Rahma kabur. Tapi pikiran waras masih hinggap di otaknya. Akan menimbulkan masalah besar jika ia membawa Rahma kabur dari Makassar.

“Jadi? Beneran kamu akan nikah ama Reza?” Tanya Al yang terlihat kekecewaan diwajahnya. Rahma pun dapat melihat dengan jelas kekecewaan di raut wajah Al. Membuat hatinya semakin teriris perih.

“Maafkan Rahma, Zy. Mungkin memang ini jalan terbaik buat kita berdua. Jangan lupa datang yah di acara Rahma minggu depan”. Rahma mencoba tersenyum, menutupi kegundahan hatinya.

“Semoga Ma, aku gak janji bisa hadir atau gak” jawab Al lalu segera meninggalkan Rahma sendiri yang masih berdiri mematung tanpa pamit sedikitpun.

—​

Perasaan sakit, sedih saat ini sedang berkecamuk di diri seorang Al. Ingin rasanya dia melampiaskan semua rasa kekesalan di hatinya saat ini. Tapi dia sadar, memang Rahma bukan diciptakan untuk menjadi miliknya.

Saat perjalanan pulang menuju appartemen nampak Al hanya diam sambil fokus menyetir. Reva yang melihat situasi Al saat ini enggan untuk memulai sebuah obrolan.

“Oh iya, besok aku balik Jakarta yah Va” ujar Al memecahkan keheningan.

“Hu uh” jawab Reva yang masih melamun.

“Kok jawabnya kek gitu Va” tanya Al lalu melirik ke gadis itu.

Reva menatap ke jendela dengan pandangan kosong. Begitu banyak pertanyaan yang ingin dia utarakan pada Al. Tentang latar belakang Al, apa yang diinginkan pria itu darinya, seperti apa anggapan Al terhadap dirinya mengingat apa yang mereka lakukan malam itu, dan bagaimana status hubungan mereka kedepan. Perasaan wajar seorang wanita yang ingin sebuah kejelasan dan kepastian.

“Apa yang lu sembunyikan dari gw Al? Gw kok jadi orang paling bego saat ini… lu itu sebenarnya suka ama cowok apa cewek sih?” tanya Reva, mencoba mengeluarkan isi hatinya.

“Menurut kamu?”

“Gw kok merasa lu tuh sebenarnya normal… karena lu keliatan banget ngejar si Rahma, lu punya hubungan apa dengan dia?”

“Ok gini… dia itu masa laluku Va, karena dia, aku jadi kayak gini” jawab Al.

“Trus?”

“Dulu dia adalah cinta pertamaku, aku mengenal cinta saat aku masih SMU. Tapi… dia sama sekali tak pernah membalas cintaku, bahkan sampai sekarangpun” jawab Al mulai menjelaskan ke Reva dan tentu saja ada sesuatu yang dia sembunyikan. “Karena itulah aku trauma sama seorang wanita. Jadi, karena rasa sakit itu membuatku menjauhi semua wanita di dunia ini dan…” lanjut Al tapi tiba-tiba Reva memotong ucapannya.

“Dan lu ganti orientasi menjadi penyuka sesama jenis? Ohhhh jadi itu penyebabnya” ucap Reva membuat Al hanya bisa menarik nafas dan mengangguk seakan meng-iyakan kalimat dari Reva barusan.

“Udah taukan semuanya… jadi aku harap kamu bisa membuatku menghilangkan rasa trauma itu” ujar Al membuat Reva tersenyum.

“Hemmm… lu mau pacaran ama gw gak?” Tanya Reva ragu-ragu dan menahan malu. Al pun meliriknya dan menertawakannya.

“Hahaha… apa sih arti sebuah pacaran Va? Mending kek gini… toh juga aku belum sepenuhnya sembuh dari trauma masa lalu aku” jawab Al membuat Reva sedikit cemberut.

Reva merasa harga dirinya sebagai wanita jatuh mendengar ucapan Al. Bagaimana pun sebagai wanita, mengungkapkan isi hatinya lebih dahulu kepada pria sama saja dengan meruntuhkan harga dirinya. Ditambah reaksi Al yang malah menertawakannya, bagaikan pukulan telak untuknya. Tidak hanya menjatuhkan harga dirinya, tapi juga mencabik-cabiknya. Namun, karena sudah terlanjur mengucapkannya, Reva pun melanjutkan mengungkapkan apa yang ada dalam hatinya.

“Trus lu maunya apaan? Eh asal lu tau yah Al… gw juga cewek… pengen ngerasain punya cowok yang kita cintai. Dan ingat, gw gak mau hanya jadi pelampiasan seks semata” Ucap reva menahan tangis.

“Kok kamu ngomong kayak gitu? Siapa yang jadiin kamu pelampiasan Va?”

“Lu kan… apalagi coba? Lu udah sekali nge-ML dengan gw… trus lu bakalan minta lagi saat lu butuh. Iya kan?”

“Astagfirullah Va, pliss… kejadian itu gak bakalan terulang lagi. Trust me”

“Dan lu bakalan pergi gitu aja? Ninggalin gw sendirian? Bisa gak sih Al, lu tuh ngerti sedikit aja apa yang gw rasakan saat ini” ujar Reva yang sedikit emosi.

“Emangnya aku salah apa Va? Trus apa yang kamu inginkan?” Tanya Al bingung.

“Salahhhhh??? Okeee gw yang salah… gw yang maksain lu untuk ngelakuin hal itu… tapiiii, lu tuh nyadar Al kalo gw itu cewek normal… gw pengen ada yang nemenin gw tiap saat, dan lu tau… setelah kejadian itu. Gw jadi sayang ama lu tau”

Dammm!

Tiba-tiba Al terdiam, entah kenapa Reva bisa senekat itu mengungkapkan perasaannya ke Al saat ini. Tapi justru Al bingung dengan semua ini.

“Tapi aku kan belum bisa keluar dari trauma masa laluku Va, apa iya kamu bisa bertahan sampai aku beneran sembuh?”

Sebuah perasaan sedih menghampiri Reva, entah kenapa saat ini dia merasakan kalo Al sedang mempermainkannya. Jantungnya berdetak kencang, sedikit lagi bendungan air matanya akan meledak. Diapun saat ini menatap tajam wajah Al dari samping. Mungkinkah dia mencintai Al? Beberapa kali sebuah pertanyaan-pertanyaan muncul di kepalanya. Tapi, kenapa harus dengan Al?.

Al mengetahui bahwa Reva saat ini sedang menunggu sebuah kepastian tentang hubungan mereka. Tapi, dia juga masih takut untuk mengungkapkan apa yang dirasakan saat ini. Karena jujur, diapun belum tau dengan pasti apakah dia mencintai Reva atau hanya sebagai pelampiasan semata. Karena biar bagaimana, dihatinya saat ini masih teriris luka yang disebabkan oleh Rahma. Sebuah masa lalu yang entah mengapa tak bisa hilang dari ingatannya.

“Al… gw benci ama lu, hikz… hikzz” sebuah kalimat yang terucap dari mulut Reva membuat bendungan air matanya akhirnya pecah juga. Air matanya menetes membasahi kedua pipinya.

Al yang melihatnya langsung menghentikan kendaraannya dan menepi dipinggir jalan.

“Kamu kenapa Va?” Tanya Al sambil tangannya seakan mendekat dan ingin mengusap rambut Reva.

“Don’t touch me Al” Reva menepis tangan Al dan menatapnya dengan tatapan benci.

“Aku minta maaf kalo aku ada salah… tapi emang aku bingung Va, salahku dimana?” Tanya Al masih mencoba bertahan agar tidak terpengerauh dan ikut larut oleh kesedihan gadis itu.

“Turunin gw disini… gw malas ketemu ama lu saat ini” ujar Reva lalu mencoba membuka pintu mobil. Tapi Al segera menahannya lalu memeluk tubuhnya.

“Lepasin gw… hikz… hikz… lepasin gw”

“Plisss Va, jujurr aku juga gak bisa berbuat apa-apa… andai kamu ada diposisiku saat ini, mungkin kamu akan ngelakuin hal yang sama seperti yang aku lakukan” ujar Al memeluk erat tubuh Reva, awalnya Reva memberontak tapi dengan sekuat tenaga Al menahan Reva dan akhirnya gadis itu luluh juga dan makin merapatkan wajahnya di dada Al.

“Lu jahat Al… hikzz… hikz… gw.. gw sayang ama lu tau… hikz… hikz, plisss jangan pergi lagi” ujar Reva melampiaskan semuanya. Al hanya bisa diam dan mengusap lembut rambut Reva dan memberikan sedikit ketenangan yang sebelumnya sempat terbawa emosi.

“Iya maafkan aku, aku janji gak akan pernah jauh dari kamu lagi… tapi, pliss kasih aku waktu untuk menjawab semuanya… dan juga, biarkan aku menyelesaikan semua urusan aku di Jakarta sampai semuanya selesai.” ujar Al membuat Reva sedikit tenang.

“Dan satu lagi… kamu sekarang resmi jadi milikku dan gak ada seorangpun laki-laki yang bisa menyentuh kamu. Ingat itu” lanjut Al dan di jawab dengan anggukan kepala dari gadis itu.

“Lu sayang gak ama gw Al?” Tanya Reva pelan.

“Jujur iya… tapi kasih aku waktu untuk bisa meyakinkan semuanya” jawab Al.

“Sampai kapan?” Tanya Reva.

“Melewati satu purnama, aku pastikan akan menjawabnya” jawab Al dengan pasti.

“Janji?” Tanya Reva yang udah menatap wajah Al.

“Aku janji…” ujar Al lalu memperbaiki posisinya kembali keposisi semula.

“Trust me, aku gak akan mengenal wanita manapun selain kamu… dan kamu jangan pernah berfikir aku di Jakarta sedang dengan wanita lain… ingat, hati kamu dan hati aku sudah menyatu satu sama lainnya. Kamu juga harus menjaganya selama aku di Jakarta” lanjut Al sambil menunjuk dada Reva untuk menjelaskan semuanya.

“Oh iya lu bakalan datang di pernikahan Rahma gak?” Tanya Reva saat Al mulai menjalankan mobilnya.

“Kayaknya gak deh Va… karena aku lagi banyak urusan di Jakarta” jawab Al.

Lama Reva terdiam, dan menimbang-nimbang apakah dia harus menanyakan sekarang atau nanti saja. Tapi, kayaknya rasa penasarannya saat ini lebih besar. Lalu diapun menatap sendu wajah Al dari samping.

“Al… hemm”

“Ya Va”

“Boleh aku nanya sesuatu gak?” Tanya Reva yang langsung membuat Al tersenyum.

“Aku?”

“Heh?” Reva sedikit bingung.

“Iya aku… ” ledek Al.

“Maksud kamu?” Tanya Reva bingung.

“Iya kamu, kok bahasanya sekarang jadi aku-kamu?” Tanya Al membuat Reva sadar yang baru saja ia katakan lalu menunduk malu.

“Ihhhh emang gak boleh?” Ujar Reva malu.

“Hehehe terserah kamu aja… btw tadi mau nanya apaan?” Tanya Al.

“Hemmm… tapi janji jangan marah yah” ujar Reva memohon.

“Hemmm… iya janji” jawab Al membuat Reva tersenyum dan menarik nafasnya.

“Kamu di Jakarta kerja apaan Al?” Tanya Reva pelan.

“Yang jelas kerjaan aku halal kok Va, dan cukup buat meminang kamu nantinya. Hehehe” jawab Al membuat Reva memanyunkan bibirnya.

Reva cukup sedikit tenang mendengar jawaban Al barusan, dan sepertinya ia tak ingin bertanya lagi lebih dalam tentang diri Al sebenarnya. Karena biar bagaimanapun dia sedikit banyaknya sudah mengetahui watak Al yang keras dan gak banyak bicara. Tak lama kemudian, mereka tiba di parkiran appartemen Al.

“Udah sampai… kayaknya aku gak nginap di appartement yah. Ada sedikit urusan di rumah ortu” ujar Al saat memarkirkan mobilnya di parkiran appartement.

“Jadi kamu langsung berangkat besok?” Tanya Reva.

“Iya… makanya aku pamitnya sekarang aja” jawab Al.

“Ya udah deh… ati-ati yah, jaga diri baik-baik. Ingat janji kamu tadi” ujar Reva menunduk dan Al lalu mendekatkan wajahnya. Kemudian Al menarik dagu Reva dan mata merekapun bertemu, lalu bibir mereka menyatu. Sebuah kecupan dari Al mampu meluluhkan hati Reva.

“Hemmm… lagi” pinta Reva saat Al melepaskan kecupannya.

Hhhmmmppffffff…

Al langsung melumat bibir Reva lalu merekapun hanyut dalam sebuah ciuman panas didalam mobil. Mata mereka terpejam, tangan mereka saling memeluk. Dan lidah Al sudah menggelitik rongga mulut gadis itu. Beberapa menit sudah mereka berganti air liur membuat nafas mereka tersengal-sengal. Saat mereka melepaskan ciuman mereka, nampak Reva sedikit bernafsu diperlakukan seperti tadi oleh Al.

“Hemm… gak mau nyetor dulu Al?” Tanya reva malu.

“Hahahahaha… dasar, kan tadi aku dah janji gak akan nyentuh kamu lagi” ujar Al membuat Reva malu.

“Ya udah deh… aku turun dulu yah” ujar Reva lalu membuka pintu mobil dan lalu diapun turun.

Al juga ikut turun dan melangkah mendekat ke arah gadis itu.

“Kamu jaga diri yah pria gay-ku yang paling tampan… hehehe” ujar Reva saat mereka saling berhadapan.

“Kamu juga jaga diri baik-baik disini… ya udah aku pamit dulu yah” ujar Al lalu merekapun akhirnya berpisah dan meninggalkan beberapa pertanyaan dibenak Reva yang sampai saat ini belum terjawab. Tapi Reva sadar, bahwa dia gak boleh memaksakan kehendeknya karena mengingat posisi kondisi Al saat ini belum sepenuhnya normal. Atau dengan kata lain, ia masih berfikir bahwa Al masih belum bisa lari dari trauma masa lalunya. Mungkin Al ada benarnya, maka mulai saat ini Reva bertekad untuk membuat Al kembali normal dan melupakan masa lalunya.

“Aku yakin, kamu pasti bisa Al” gumam Reva pelan sambil menatap mobil Al yang sudah menjauh dan meninggalkan gedung appartemen.

○●○​

Bandara Soekarno Hatta, terminal domestik nampak beberapa orang sedang keluar dari pintu kedatangan. Begitu juga sore ini keluarga Al sedang berjalan menarik travell bag mereka. Nampak Echi, papa dan mama mereka baru saja tiba di Jakarta. Al yang melihat mereka langsung mengangkat tangannya.

“Tuh Kak Yuda” ujar Echi memanggil nama kecil Al, lalu mama dan papanya tersenyum dan melangkah keluar dari pintu kedatangan.

“Gimana perjalanannya ma, pah?” Tanya Al saat setelah menyalim tangan kedua orang tuanya.

“Yah gitu lah… agak goyang sih Yud,” jawab Papanya.

“Hehehe Kak” ujar Echi menyalim tangan kakaknya.

“Bentar yah, aku telfon supir dulu biar dia bawa mobilnya kesini.” Ujar Al lalu menelfon supirnya untuk menjemput mereka.

Sebuah SUV Jeep WR berwarna Hijau Army baru saja berhenti di depan mereka. Lalu sang supir segera turun dengan memakai baju safari, mencoba membantu mengangkat barang-barang mereka.

“Yuk Naik mah pah” ajak Al lalu merekapun naik ke dalam mobil.

“Adek kamu dimana?” Tanya papahnya. Dimana mereka bertiga duduk di kabin tengah sedangkan Al duduk di kursi depan samping supir.

“Dikantor pah… btw, dia gak tau loh kalo kalian datang ke Jakarta” ujar Al. “Kan mau kasih surprise ke dia” lanjut Al tapi masih sibuk menekan touch screen HPnya sepertinya sedang membalas BBMnya yang masuk.

“Jadi malam ini kita nginap dimana?” Tanya mamahnya.

“Hemm… mending dirumahku aja dulu mah, nah besok kita berangkat pagi-pagi trus kita stand by di appartementnya Citra… jadi saat dia udah bangun kita bikin surprise aja. Gimana?” Jawab Al.

“Emangnya kamu punya kunci appartemem adek kamu?” Tanya mamahnya.

“Punya donk mah, ya udah… kalo gitu mending kita nyari makan aja dulu” ujar Al lalu di iyakan oleh semuanya.

—​

Kriiiingggggg!

Pagi ini dikamar yang asri, bersih dan juga bernuansa pink. Sebuah jam beker yang terletak di sudut meja kecil disamping ranjang. Terlihat seorang gadis dengan berselimutkan bedcover berwarna biru muda dan bermotif kembang baru saja terjaga dari tidur panjangnya semalam.

Sayup-sayup, gadis itu yang tak lain adalah si Citra baru saja memencet tombol Off jam bekernya.

“Hooaemmmmm”

Citra meregangkan kedua tangannya lalu mengecheck beberapa pesan di HPnya.

Beberapa pesan masuk mengucapkan sebuah kata “happy Birthday to Citra” dan berbagai macam embel-embel kata dari para sahabat dan temannya. Tapi tak ditemukan sebuah pesan dari keluarganya. Baik itu kedua orang tuanya maupun kedua saudaranya.

“Uhhhh… ternyata mereka gak ingat” gumam Citra lalu melihat tanggal di HPnya.

25 Januari 2016 tepat hari ini genap sudah usianya 25 tahun. Usia yang cukup buat wanita seumurannya untuk memikirkan jenjang pernikahan.

Ia-pun dengan malas bangkit dari ranjangnya, lalu masih sempoyongan Citra melangkahkan kakinya menuju pintu kamarnya.

Saat ia membuka pintu kamarnya, ia merasa heran karena terlihat sebuah asbak rokok yang lengkap dengan abu rokoknya. Sedikit was-was dalam benaknya saat ini. Karena saat ini ia hanya tinggal sendirian di appartementnya. Dan ini kok ada asbak yah? Sebuah rasa penasaran berkecamuk di benaknya saat ini.

Lalu dengan perlahan-lahan ia pun melangkah menuju ruang tengah.

Tiba-tiba…

Dooorrrr… dooorrrr… teeetttt tooooottt….

Sebuah petasan kecil dan juga terompet mengagetkannya. Diruangan tengah nampak semua keluarganya telah berkumpul. Baik itu Al, mamah dan papahnya, dan juga adiknya si Echi.

“Happy birthday to You x3…. happy birthday…. kak Citra” tepukan tangan dan nyanyian seluruh keluarganya menyanyikan lagu ulang tahun buat Citra.

Citra yang terkejut langsung memeluk kedua orang tuanya dan merekapun akhirnya larut dalam kebahagiaan. Tak lupa kue ulang tahun yang di pegang oleh mamahnya lengkap dengan lilin ber-angka ’25’ yang apinya masih menyala segera ia tiup dan berdoa dalam hati sambil menutup matanya.

Beberapa saat kemudian…

Di meja makan saat ini lengkap sudah kedua orang tuanya, kakaknya dan juga adiknya sedang berkumpul di meja makan untuk sarapan pagi.

Beberapa makanan baik itu omlete, nasi goreng, roti bakar dan juga susu telah dihidangkan oleh sang mamah.

Tiba-tiba Citra keluar dari kamarnya sudah berpakaian lengkap. Kemeja putih dan rok hitam agak span membuat penampilannya sangat elegan. Dan juga menenteng sebuah tas bermerk international.

“Citra… sini dulu” panggil papahnya saat Citra baru saja melangkah keluar.

“Iya pah… Citra udah telat nih pah” jawab Citra sambil bermalas-malasan menghampiri papahnya. Al yang melihatnya hanya bisa senyam-senyum dengan si Echi.

“Kakak kamu aja yang punya perusahaan masih santai… kok kamu buru-buru gitu sih kekantornya” ujar Mamahnya menimpali.

“Sini duduk” ujar Papahnya.

Dengan bermalas-malasan gadis itu akhirnya menarik sebuah kursi lalu duduk di samping mamahnya.

“Usia kamu saat ini udah 25 tahun… usia yang sudah sangat-sangat pantas untuk berfikir tentang pernikahan” ujar Papahnya yang lengkap dengan kaca matanya yang bertengger dihidung mancungnya. “Dan usia kamu itu sudah sangat terlambat… hati-hati, bisa-bisa jodoh kamu udah pada menghindar” lanjut papahnya membuat Citra sedikit kesal.

“Maksudnya terlambat ngantor gitu Pah?” Ledek si Echi.

“Apaan sih kamu Chi” ujar Citra kesal.

“Kamu itu kalo dikasih tau jangan suka ngalihin pembicaraan Cit” ujar Papahnya sambil mengunyah roti bakarnya.

“Trus Citra harus ngapain Pah? Kak Yud aja sampai sekarang belum nikah… kok sekarang Citra yang harus di suruh nikah sih?” Ujar Citra.

“Cit… kakak kamu itu cowok. Dia juga kan harus memilih siapa yang harus jadi istrinya kelak” ujar Papahnya.

“Lagian kalo kamu udah punya suami, kan gak perlu capek-capek ngantor. Iya kan sayang?” Ujar Mamahnya.

“Laahhhh iya. Hati-hati kamu bisa turun peringkat loh Cit. Dari seorang perawan menjadi perawan tua. Kiwirrr kiwirrrrr” ledek ayahnya membuat Citra kesal dan cemberut.

“Apaan sih papah… udah deh, Citra pengen ngantor dulu. Oh iya kak Yud, proposal untuk improvement salary staf grade 16 jangan lupa di tanda tangani yah Kak… udah seminggu loh Citra email ke kakak”

“Beres…” jawab Al singkat sambil tersenyum seakan ngeledek adiknya.

“Jangan lupa, bentar makan malam ajak pacar kamu loh yah” ujar Papahnya.

“Pacar apaan sih Pah, udah deh… Citra saat ini gak punya pacar dan Citra sebenarnya pengen fokus dikerjaan dulu” jawab Citra.

“Loh… trus si L gmn Cit?” Celetuk si Al membuat Citra gerang terhadap kakaknya.

“Apaan sih Kak, Citra dan L gak ada hubungan apa-apa loh”

“Citra… diam, maksud kamu L sahabat kamu yah Yud?” Ujar Papahnya sedikit membentak si Citra.

“Ya” jawab Al singkat.

“Kakaaaakkkkk… plisss deh ah” ujar Citra.

“Cie… cie… cie… Cinlok donk kak Cit” celetuk Echi.

“Diam kamu Chi… masih kecil maen nimbrung aja” hardik Citra membuat Echi hanya cengingisan sendiri.

“Ya udah Citra berangkat dulu yah Pah, Mah, Kak dan Echi… daaaahhhh” ujar Citra lalu menyalim tangan kedua orang tuanya dan juga Al. Kemudian Echi menyalim tangan kakaknya lalu akhirnya Citra berangkat ke kantor dengan sedikit perasaan dongkolnya.

Saat Citra sudah meninggalkan mereka, tiba-tiba ayahnya melirik ke Al yang masih sibuk makan nasi gorengnya.

“Kamu… kapan kamu bisa ngenalin calon mantu papah dan mamah?” Tanya Papahnya membuat Al hampir saja keselek.

“Uhukk… uhukkk”

“Hahahahaha… rasain deh Kak,” celetuk Echi membuat Al salah tingkah.

“Kok gak jawab nak?” Tanya Mamahnya.

“Aku belum punya pacar Mah pah” jawab Al.

“Lah… trus itu kak Reva siapa?” Celetuk Echi.

“Reva?” Ujar Mamahnya sambil tersenyum.

“Ups… maaf kak” ujar Echi lalu pergi meninggalkan meja makan karena takut kena marah dari kakaknya.

“Kapan papah bisa ketemu ama Reva?” Tanya Papahnya.

“Hadehhhhh… plis, Reva itu hanya teman saja pah mah… gak lebih kok”

“Yuda… gak usah terlalu banyak memilih. Ingat, umur papah dan mamah udah gak muda lagi. Masa iya kamu tega ngelihat kami gendong-gendong anak orang lain? Kami sebetulnya malu ama keluarga. Masa iya anak-anaknya mamah dan papah sukses dalam karir tapi gak ada satupun yang bisa memberikan cucu kepada kami.” Ujar Papahnya.

“Iya iya… nanti deh aku kasih kenal ama mama dan papa.”

“Kapan?” Tanya Mamahnya.

“Hehehe… gak tau” jawab Al sambil tersenyum kecut.

“Maahhh Pahhhh…. Echi kenal kok ama kak Reva… nanti Echi yang ngenalin ke mamah dan papah” celetuk Echi dari ruang tengah sambil teriak membuat Al kaget lalu seakan mengalihkan perhatian kedua orang tuanya dengan kembali sibuk memakan sarapannya.

“Ya udah… nanti biar papah aja sendiri yang berkenalan ama nak Reva” ujar Papahnya tapi Al terlihat cuek saja.

“Terserah. Hehehe”

——–

Malam hari disebuah Restoran western di daerah Jakarta pusat, di ruang Vip nampak semua keluarga Al saat ini sedang berkumpul untuk makan malam keluarga. Semua hadir tanpa terkecuali. Dan malam ini juga adalah makan malam untuk merayakan hari ulang tahun ke 25 tahun untuk Citra Dwi Andayu.

Al tiba-tiba meraih Hpnya lalu mengirim pesan ke seseorang menanyakan posisi saat ini sudah dimana. Lalu tak lama pesan balasanpun diterima oleh Al yang mengatakan posisi udah dekat. Sebuah senyuman tersirat di wajah Al. Citra yang menyadarinya langsung mengernyitkan alisnya seakan menebak apa arti senyuman dari kakaknya barusan. Sambil menunggu pesanan mereka, papahnya memulai sebuah obrolan.

“Cit… mana pacar kamu?” Tanya Papahnya membuka obrolan.

“Eh… siapa pah?”

“Kak L” jawab Echi membuat Citra menendang kaki adiknya.

“Inikan acara keluarga pah… kenapa harus ngajak orang lain?” Tanya Citra sedikit gak nyaman karena kasus tadi pagi masih berlanjut sampai malam ini.

“Sebentar lagi kan dia akan jadi adik ipar kakak loh Cit” celetuk Al.

“Apaan sih Kak, lagian kan Citra juga gak sempat ngajak si L tadi dikantor. Jadi mungkin dia gak bakalan datang”

“Siapa bilang… tuh anaknya” ujar Al lalu menunjuk ke sosok pria dengan menggunakan jaket biru lengkap dengan kemeja abu-abu dan jeans biru. Tak lupa kaca matanya bertengger di hidung mancungnya menghiasi wajah tampan khas seorang ahli dalam bidang akunting.

“Hai Om, Tan… Al, dan Cit… eh ada Echi… maaf yah agak telat” ujar L menyapa seluruh keluarga Al. Nampak Citra tak senang akan kehadiran L saat ini.

“Duduk nak L… lama yah gak ketemu” ujar Papahnya setelah acara salam-salaman mereka dan mempersilahkan L untuk duduk.

“Ngapain lu datang?” Bisik Citra saat L duduk persis dihadapannya. Lebih tepatnya disebelah Al.

“Ntuh abang lu yang merintahin untuk datang” jawab L membuat Citra menatap Al lalu memanyunkan bibirnya.

“Udah udah… kita makan dulu, ngobrolnya ntar aja dilanjut” ujar Papahnya saat semua makanan mereka selesai dihidangkan oleh dua orang waiters.

Akhirnya mereka sekeluarga menikmati hidangan makan malam mereka. Nampak L maupun Citra saling menatap sambil mengunyah makanannya. L hanya bisa tersenyum ke arah Citra. Walaupun Citra sebal akan situasi saat ini. Tapi diapun tak bisa memungkiri bahwa saat ini memang L sudah mengisi relung hatinya.

Hubungan mereka beberapa minggu belakangan ini sudah sangat intim. Tapi tak ada yang berani memulai untuk mengatakan hubungan mereka apakah sebatas ini atau bisa lanjut ke jenjang yang lebih serius. Baik L mapun Citra hanya bisa memendam perasaan mereka masing-masing. Dulunya, L memang selalu menembak Citra saat Citra masih mempunyai seorang kekasih. Tapi, saat ia telah putus dengan Oji maka saat itulah L mulai memasuki kehidupannya.

“Ok jadi gini… apakah Nak L serius ama Citra atau tidak?” Tanya Papahnya saat mereka selesai makan.

“Uhukk… uhukkk… ” L terkejut lalu menatap wajah Citra kebingungan.

“Eh… maksud Om?”

“Apakah kamu serius dengan Citra atau tidak?” Tanya Papahnya mengulang pertanyaannya.

L masih menatap Citra lalu menoleh ke Al. Tapi yang didapat dari Al hanya sebuah anggukan bahu dan kepalanya seperti semua diserahkan kepadanya.

“Aku… aku serius banget om ama Citra. Bahkan sering L menanyakan tentang semuanya. Tapi Citra selalu menolaknya”

“L… apa-apaan si Lo?” Hardik Citra.

“Citra… diam” hardik papahnya. “Kamu loh Cit Cit… cowok ganteng, kinyis-kinyis kayak gatot kaca gini kok ditolak sih nak?” Lanjut papahnya.

“Gak pah… jadi gini” ujar Citra tapi terhenti karena papahnya sudah menatapnya tajam.

“Jadi kapan kamu datang melamar Citra?” Tanya papahnya.

“Secepatnya Om… kapan Citra siap, aku juga akan siap”

“Nah tuh… tunggu apalagi loh nak?” Mamahnya menimpali.

“Lu tu yeh… uhhhh menyebalkan… awas lu bentar” ujar Citra berbisik sambil memanyunkan bibirnya ke arah L. Dan L hanya bisa cengingisan sambil tersenyum.

“Awas kamu L… sampe adikku kenapa-kenapa… dan dia sakit hati gegara kamu, kamu taukan apa yang akan terjadi? Hehe” ujar Al sambil menepuk pundak sahabatnya.

“Tenang kakak ipar… serahin semua tanggung jawab ama gw. Hihihi”

“Matamu kakak ipar… resmi dulu baru kamu manggil kakak ipar” ujar Al sambil bercanda.

—​

Setelah makan malam selesai, L pamit kepada mereka. Dan Citra juga pamit karena L menawarkan diri untuk mengantar Citra. Karena memang gadis itu sebelumnya nebeng bareng mobil kakaknya.

Saat meninggalkan parkiran Resto. L lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil terbungkus kado di dashboard mobilnya. Kemudian menyerahkan kotak tersebut ke Citra yang duduk disebelahnya.

“Nih Cit… happy b’day yah… wish you all the best” ujar L sembari memberikan kotak kecil tersebut.

“Apaan nih L?”

“Buka aja… hehehe” jawab L.

Perlahan-lahan Citra membuka kotak kecil tersebut. Sebuah cincin berlian dengan kilauannya tiba-tiba terlihat isi dalam kotak kado itu. Citra yang melihatnya langsung tersenyum dan menoleh ke L.

“Makasihhh yah L… aduhhh kok kadonya mahal banget sih” ujar Citra sambil melihat cincin tersebut.

“Cit… hemmm, gw sayang ama lu” ujar L menembak si Citra didalam mobilnya.

“Iya gw tau kok… hehehe” ujar Citra sambil tersenyum seperti mengulum sesuatu dimulutnya.

“So?”

“So apaan?” Tanya Citra.

“Hadehhhhh… gini nih. Ya udah lupain aja. Anggap lu gak pernah dengar”

“Gak bisa L, gw denger kok” ujar Citra.

“Jadi? Apakah lu nerima gw atau gak nih?” Tanya L tapi Citra tetap tersenyum dan tak mau menjawab pertanyaan L.

“Appartemen kamu kosong yah?” Tanya Citra.

“Iya… kenapa emangnya?”

“Hemmm… hemmm… kesana yuk” ajak Citra membuat L terkejut.

“Maksud lu? Lu mau ke appartemen gw ngapain?” Tanya L masih belum mudeng.

“Ahhhh dasar cowok gak pekka. Udah kita kesana aja… gak usah banyak nanya”

“Jangan bilang lu mau?” Tanya L.

“Iya… kenapa emangnya? Gak boleh? Kan udah dapat restu dari orang tua gw… dan juga kakak gw. Hehehe”

“Wanjirrrrr…. yuuuhuuuiiiiiiiiii” teriak L lalu menggebyer laju mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju appartemen pribadinya.

Still Continued

END – Rahasia Pribadi Part 22 | Rahasia Pribadi Part 22 – END

(Rahasia Pribadi Part 21)Sebelumnya | Selanjutnya(Rahasia Pribadi Part 23)