Rahasia Pribadi Part 19

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30Part 31Part 32
Part 33Part 34Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42 END

Rahasia Pribadi Part 19

Start Rahasia Pribadi Part 19 | Rahasia Pribadi Part 19 Start

Aku tak tau, mengapa aku bertahan dengan rasa sakit ini. Ingin sekali aku menghentikan rasa ini, namun semakin aku ingin menghapusnya semakin aku mencintainya. Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? Aku ingin melupakannya, tetapi aku sangat mencintainya. Aku tak sanggup, ya Allah. Benar-benar tak sanggup.​

Rahma menutup diarinya. Dia menangis terisak, menenggelamkan wajahnya di tangannya yang berada di meja. Sepertinya samurai di hatinya semakin menancap. Bahkan mulai merobek-robek hatinya.

“Zy, aku gak sanggup hidup tanpa kamu… hikz… hikz” Gumam Rahma pelan sambil mengeluarkan air matanya.

Sebuah rasa penyesalan yang saat ini hinggap dihatinya, jikalau roda kehidupan ini dapat di replay. Maka dia akan memilih untuk menerima cinta Al saat disekolah dulu.

Tiba-tiba Hpnya berdering…

“Apa tante? Reza sakit? Iya iya tante, Rahma akan segera kesana.” Dengan segenap rasa khawatir akhirnya Rahma pergi melesat ke kediaman Reza.

○●○​

Terlihat seorang pemuda sedang tergolek lemas di kasur empuk di kamarnya. Wajahnya terlihat pucat, namun tak mengurangi ketampanannya. Terlihat pula ada gadis yang setia di sampingnya, menjaga dan memerhatikan gerak-geriknya.

“Kamu dah bangun?” Tanya Rahma saat Reza baru saja bangun.

“Eh kamu Ma, uhhhhh” ujar Reza melihat Rahma sedang duduk ditepi ranjang. Lalu dia seakan ingin bangun tetapi rasa pusing dikepalanya membuatnya meringis kesakitan.

“Udah… baring aja, kamu masih sakit” ucap Rahma yang membantunya untuk baring kembali. Rahma tersenyum sambil menyibakan rambut Reza yang sedikit menghalangi matanya. Reza yang di perlakukan seperti itu hanya bisa diam. Sepertinya dia merasakan suatu kenyamanan yang belum pernah ia rasakan.

Tok. Tok. Tok.

“Bentar yah Za”

Rahma berdiri dari duduknya, lalu membukakan pintu kamar Reza. Di dapati bik Ijah pembantu Reza yang membawa nampan.

“Non Rahma, ini makan dan obatnya buat Den Reza.” Bik Ijah lalu menyerahkan nampan yang di atasnya terdapat semangkuk bubur dan terdapat pula beberapa bungkus obat serta segelas air putih.

“Makasih ya, bik.” Ucap Rahma sambil mengambil nampan itu.

“Iya, non.”Jawab bik Ijah. Rahma tersenyum lalu masuk kembali ke kamar Reza.

“Ma, ada yg ingin aku omongin ama kamu” ujar Reza saat Rahma sudah menyuapinya.

“Aa…” Rahma tak menjawab malah menyuapi sesendok lagi bubur yang di bawakan oleh bi Ijah tadi.

“Apa yang kamu ingin omongin?” Tanya Rahma setelah Reza menghabisi semua buburnya. Dan meneguk beberapa obatnya.

“Aku pengen melamar kamu” jawab Reza membuat Rahma terkejut dan menghela nafasnya mendengar ucapan Reza barusan.

“Kenapa kamu gak jawab?” Tanya Reza lagi karena melihat Rahma hanya diam tanpa mengucapkan sepatah katapun.

“Tapi…” ujar Rahma terputus.

“Tapi apa? Kamu lebih memilih si Al dibanding aku Ma?” Tanya Reza.

“Bukan gitu Za, tapi…” jawab Rahma masih bimbang.

“Kamu mencintaiku kan?”

“I… iya Mas, tapikan kamu gak bisa langsung mengambil keputusan kayak gitu untuk melamarku” jawab Rahma.

“Apa perlu aku ngomong ama kedua orang tua kamu lagi?huh!”

Sepertinya kata-kata Reza mampu membuat Rahma sedikit ketakutan. Sebenarnya Reza memang sangat mencintainya, akan tetapi Rahma lebih memilih Al untuk mengisi hatinya saat ini. Sebuah dilema yang hadir dibenak Rahma saat ini.

“Aku anggap kamu setuju yah Ma” ujar Reza membuyarkan lamunannya.

“Eh…”

“Makasih yah sayang, secepatnya kalo aku udah sembuh akan langsung mengatur semua acara pelamaran. Kalo perlu aku ingin mengundang semua karyawan dikantor tanpa terkecuali” ujar Reza dan Rahma hanya bisa diam dan menerima semua keputusan Reza.

○●○​

Jakarta, pagi ini sudah rame baik para pejalan kaki maupun yang berkendaraan. Matahari pagi sudah terang bersinar memberikan cahyanya ke bumi. Sebuah taksi bermerk burung biru baru saja memasuki area parkir gedung tower 3MP. Saat taksi berhenti tepat didepan pintu masuk lobby gedung, terlihat seorang pria paruh baya baru saja turun dan menenteng tas ransel sekalian mendorong travel bagnya menuju pintu masuk.

Pak Sugiharto Wijaya, RBD untuk wilayah Timur baru saja tiba di HO 3MP untuk menjalani training Manajemen selama seminggu. Begitu juga dengan ke 3 temannya yang baru saja terangkat menjadi RBD tiba bersamaan dengan Pak Toto di HO.

“Silahkan pak, naik saja ke lantai 7 ruangan ibu Citra. Kebetulan beliau sudah menunggu bapak-bapak di ruangannya” ujar salah satu Front office saat pak Toto menanyakan ruangan Citra.

Ting… Tong…

Pintu lift terbuka, di lantai 7 nampak beberapa staf baru saja tiba dikantor. Ke-empat RBD segera melangkah masuk ke ruangan Citra. Dan setelah mendapatkan izin dari pemilik ruangan yang baru saja di informasikan oleh sekertaris pribadinya, akhirnya mereka ber-empat dipersilahkan masuk kedalam ruangan.

“Selamat pagi” sapa mereka bersamaan saat pintu ruangan terbuka.

“Eh pagi pak Toto, Pak Indra, Pak Rafa, dan juga Pak Hendra… selamat datang di HO kita. Oh iya silahkan duduk” ujar Citra setelah berjabat tangan dengan mereka, dan mempersilahkan duduk di kursi yang sudah dipersiapkan.

“Hemm… bentar yah pak, Citra lagi balas email Pak Al dulu.” Lanjut Citra sambil duduk di kursinya kembali.

Mereka berempat masih diam sambil menunggu Citra selesai mengirim email.

“Ok… jadi pertama-tama Citra ucapkan Congratz buat bapak ber-empat karena sudah terpilih untuk mengisi posisi baru sebagai RBD di post masing-masing” ujar Citra setelah menutup laptopnya.

“Iya ibu Makasih banyak”

“Sama-sama bu”

“Jadi bapak-bapak akan mengikuti beberapa trainning yang nanti akan dibantu oleh Sales Trainer kita, dan Citra berharap bapak sekalian mampu menyerap bahan-bahan training nantinya dengan cepat. Supaya nanti saat kembali ke post masing-masing, sudah mampu menguasai keseluruhan SOP perusahaan” ujar Citra dengan tampilan elegannya pagi ini mampu membuat ke-empatnya berdecak kagum akan skill dan performance dari sang HRD.

“Mungkin ada baiknya Citra mengajak bapak-bapak sekalian berkenalan dengan para jajaran direksi di perusahaan kita” lanjutnya.

“Kami ikut aja Bu” kata Pak Toto dan di iyakan dengan yang lainnya.

“Hemm baiklah, kebetulan semua direksi sudah pada kumpul di ruangan meeting Direksi. Yuk pak kita langsung kesana aja”

Akhirnya mereka berlima menuju ruangan meeting Direksi yang tak jauh dari ruangan Citra saat ini.

Di ruangan Meeting sudah pada berkumpul para Direksi perusahaan, dan juga tak ketinggalan Al selaku pemilik perusahaan juga hadir di ruangan itu.

“Selamat Pagi” sapa Citra saat memasuki Ruangan.

“Kebetulan lagi pada ngumpul, Citra hanya pengen ngenalin ke semuanya RBD kita yang baru”

“Ok Gw Nostra, hai Pak toto, Pak Hendra, pak Indra dan Pak Rafa… moga betah yah pak” ujar Nos yang memulai berkenalan saat ke-empatnya mengelilingi meja bundar sambil berjabat tangan satu persatu.

“Gw Lara, Panggil aja L”

“Hai, Kim”

“Hai saya Sinta, SCD( Supply Chain Director) diperusahaan. Saya juga baru join beberapa minggu lalu”

“Ehem… Sin, lu gak minta Nocan atau Pincan mereka?” Celetuk Nos membuat L tertawa.

“Paan sih Kang Nos” ujar Citra sambil melototkan kedua matanya ke arah Nos yang sudah cengingisan di kursinya.

“Ini pak Alit, selaku Legal Director kita” Ujar Citra saat mereka berada di kursi Alit.

“Alit Pak”

“Saya Brokek Pak, Q&C Director Pak”

“Dan yang terakhir sudah pada kenal kan?” Tanya Citra dan ke-empatnya tersenyum saat sudah berada di meja sang Owner.

“Hai pak Toto, Pak Indra, Pak Hendra dan Pak Rafa… Congratz yah, silahkan dilanjut Cit” ujar Al yang sudah berdiri dari kursinya sambil menjabati satu-satu.

Setelah sesi perkenalan, akhirnya Citra pamit untuk mengantar mereka ke ruangan Sales Trainer.

“Oh iya Pak Toto, lusa acara pelamaran Pak Reza yah?” Tanya Citra saat mereka lagi berjalan menuju ke ruangan Training.

“Iya Bu, tapi saya tidak bisa hadir” jawab Pak Toto.

“Hemm… rencananya sih Citra akan ke-makassar besok, ada urusan pribadi lah pokoknya. Kalo sempat nanti Citra akan usahain hadir juga selaku pihak perwakilan dari perusahaan” Ujar Citra.

“Oh makasih banyak kalo misal Ibu bisa hadir disana, karena biar gimana pun Pak Reza juga kan baru saja terangkat jadi GM. Mungkin kalo ada dari pihak manajemen bisa hadir di acaranya, Pak Reza akan merasa sangat senang sekali pastinya” ujar Pak Toto.

“Baiklah… nanti Citra akan usahain bisa hadir di acaranya”

“Makasih banyak yah Bu”

“Sama-sama Pak”

Setelah memperkenalkan ke sales trainer Manager akhirnya Citra meninggalkan mereka ber-empat untuk memulai training mereka hari ini.

○●○​

Setelah ditentukan tanggal pertemuan keluarga, dengan tempo sesingkat-singkatnya maka Ayah Rahma dan ayah Reza langsung mempersiapkan apa yang perlu disiapkan dalam acara pelamaran. Tadinya dari pihak Reza ingin mengundang keluarga inti saja, tapi semakin dekat acaranya justru si Reza sendiri yang menambahkan tamu undangan yaitu teman kantor dan sahabat terdekat. Jadilah sekalian dibuat acara lamaran dan kenalan antar keluarga besar. Karena ini pengalaman pertama buat Reza dan Rahma sendiri belum tau mau prepare yang seperti apa untuk acara tersebut, akhirnya setelah diskusi sama orang tua, baca-baca referensi di internet dan inget-inget acara lamaran beberapa teman mereka. Akhirnya dipersiapkanlah segalanya.

Dekorasi yang tidak terlalu mewah, tapi masih berkelas mampu menyulap ruang tengah rumah Rahma menjadi sebuah tempat mewah dalam acara pelamaran tersebut. Reza maupun Rahma masih bersalam-salaman terhadap para tamu yang baru saja hadir di acara tersebut. Baik dari pihak keluarga besar maupun pihak sahabat dan teman sekantornya.

Di antara hal-hal spesial di hari lamaran tersebut, terlihat Rahma yang sedang menerima tamu tersenyum paksa dan kedua matanya masih mencari-cari sosok seseorang yang sangat diharapkannya bisa hadir di acara pelamaran dia.

“Wihh cantiknya Ma” ujar salah satu teman sekerjanya.

“Makasih say” jawab Rahma sambil cipika-cipiki.

○●○​

Ditempat yang berbeda, nampak Reva juga sedang dalam perjalanan menuju Rumah Rahma. Saat diperjalanan diapun menelfon seseorang untuk diajaknya dalam acara pelamaran tersebut.

Gadis itu sedang menelfon Al untuk bisa menemaninya di acara, akan tetapi sepertinya dia hanya mendapatkan sebuah jawaban yang membuatnya kecewa.

“Lu di Jakarta yah? Katanya mau balik Makassar hari ini”

“Ya udah deh kalo gitu… byeeeee”

Terlihat sebuah kekecewaan diwajah Gadis itu. Sebuah senyuman yang tadinya terlukis diwajahnya, menghilang begitu saja berganti sebuah wajah yang murung setelah menutup telfonnya.

○●○​

Malam ini juga sebuah SUV Range Rover membelah jalan menuju rumah Rahma. Nampak Al dan Citra sedang duduk berduaan di kursi kedua dibelakang supir.

Citra malam ini tampil begitu elegan, dengan busana pesta berwarna krem dan sedikit belahan belakangnya memperlihatkan punggungnya yang sangat putih dipenuhi dengan bulu-bulu halus. Di depannya sedikit memperlihatkan belahan dadanya yang ranum. Al yang melihat penampilan adiknya malam ini hanya bisa menggelengkan kepalanya, karena sebelumnya Al sudah menegurnya untuk berpakaian yang tidak terbuka seperti ini. Akan tetapi Citra mampu memberikan sebuah alasan yang bisa diterima oleh sang kakak.

Saat diperjalanan Hp Al tiba-tiba berdering tanda panggilan masuk dari seseorang.

“Siapa Kak?” Tanya Citra.

“Teman Cit” jawab Al.

“Hihihi… teman atau teman?” Citra mulai ngeledek si Al sambil tangannya dilingkarkan dilengan Al.

“Ya Hallo Va”

“Hemmm… aku gak bisa hadir. Sorry yah karena aku masih di Jakarta”

“Yah mau gimana lagi… sekali lagi sorry yah”

“Ya udah byee”

Setelah Al menutup telfonnya, Citra menatap wajah Al seperti menyelidik siapa yang barusan menelfon. Sambil menyipitkan kedua matanya meminta sebuah penjelasan dari sang kakak yang membuatnya penasaran.

“Dia Reva” ujar Al sambil kesal terhadap kelakuan adiknya.

“Reva? Apakah Cicit kenal gak?” Tanya Citra sambil mengulum sesuatu lalu mengembungkan kedua pipinya karena tak mendapat jawaban lagi dari Al.

“Satu hal yang ingin aku bilang ke kamu, disana nanti anggap kamu gak mengenaliku… apapun yang terjadi kamu seakan tidak mengenaliku dan bersikap biasa aja” ujar Al membuat Citra mengernyitkan alisnya.

“Loh kenapa gitu Kak?” Tanya Citra heran.

“Ikuti saja kata-kataku dan gak usah banyak nanya” jawab Al membuat Citra tak bisa apa-apa lagi. Dia sangat mengenal sosok sang kakak. Selalu saja menjadi orang yang misterius, dan selalu menyembunyikan jati dirinya. Tapi satu hal yang Citra tangkap, ada sesuatu yang Al sembunyikan. Tapi jelas ini ada hubungannya dengan Reva atau Rahma.

“Oke deh kakakku yang tampan… muachh” jawab Citra lalu mengecup pipi kanan si Al.

“Hadehhhh lipstick kamu berbekas tau” ujar Al sambil memegang pipinya.

“Nih ada tissue kok” ujar Citra sambil memberikan tissue ke Al yang langsung menghapus bekas lipstick si Citra.

○●○​

Saat tiba di rumah Rahma, nampak beberapa teman sekantornya juga baru tiba. Saat supir memarkirkan mobil SUV kesayangan si Al, Citra mengambil sebuah cermin kecil lalu memastikan make upnya tidak berlebihan dan berkaca seadanya.

“Yuk Kak” ajak Citra.

“Kamu duluan aja” ujar Al membuat Citra mengangguk mengerti kemauan kakaknya.

“Ya udah, Citra turun duluan yah kak”

Saat Citra turun dari Mobil, beberapa pasang mata langsung terkejut akan kedatangannya malam ini. Beberapa karyawannya yang mengenalinya langsung menyapanya dan mendekatinya sambil bersalaman.

“Malam Ibu Citra” sapa Indah sok akrab.

“Hai Ndah, sama siapa datangnya?” Tanya Citra sambil berjalan menuju pintu.

“Nih bu sama pacar Indah” jawab Indah.

Beberapa orang yang melihat Citra masuk ke dalam rumah, langsung menyapanya dan tak lupa Reza dan Rahma yang melihat kedatangan Citra langsung menemuinya bersamaan dengan kedua orang tua mereka.

“Wah Ibu Citra ternyata datang juga diacara Reza bu” ujar Reza.

“Iya Pak Reza, oh iya Congratz yah atas pengangkatan jabatan bapak untuk menggantikan pak Toto dan tentu saja selamat atas pertunangan bapak dengan Rahma”

“Iya Bu, makasih banyak atas semuanya” ujar Reza.

“Sama-sama Pak”

“Udah rame yah” ujar Citra selanjutnya setelah melihat para tamu yang hadir sudah banyak.

“Bu kenalkan ayah dan ibu saya dan juga kedua calon mertua saya” ujar Reza memperkenalkan kedua orang tua mereka.

“Citra.” citra menyalaminya satu persatu sambil tersenyum.

“Sebuah kehormatan bagi kami karena kedatangan tamu special di acara pelamaran kedua anak kami. Maaf ibu, acara yang keluarga buat sangat sedehana” ujar ayahnya Rahma.

“Hehe… sama-sama Pak, kebetulan Citra juga sedang diMakassar karena ada urusan pribadi. Yah ada baiknya Citra juga menyempatkan hadir sebagai perwakilah perusahaan karena pak Toto tidak bisa hadir. Dia sedang ada trainning di Jakarta pak” ujar citra.

“Iya Bu, bapak juga baru tau kemarin saat Reza bilang kalo pak Totonya berhalangan untuk hadir”

“Ya udah Bu, silahkan duduk dulu… oh iya sebentar apakah ibu berkenan memberikan sepatah kata di atas panggung?” Tanya Reza mempersilahkan duduk.

“Hemm… boleh deh” jawab Citra sambil tersenyum.

Berbeda dengan Al saat turun dari mobil, tiba-tiba Reva yang juga baru saja turun dari taksi melihatnya turun dari mobil mewah.

“Al?” Gumam Reva pelan.

“Woi Al… ” panggil Reva membuat Al menoleh kebelakang.

“Heheheh… hai” ujar Al menyapa Reva yang sudah mendekatinya.

“Katanya gak mau datang?” Tanya Reva cemberut.

“Pengen ngasih suprise ke kamu Va” jawab Al.

“Huuuuffhhh… ya udah yuk masuk” ajak Reva sambil menggandeng lengan Al.

“Va… kamu cantik banget malam ini”

“Gomballlll… gak ngefek kali,” kata Reva.

“Btw bentar aku nginap di appartemen yah” ujar Al.

“Hihihi… kan itu punya lu tau, gw kan cuma numpang doank” ujar Reva.

“Jadi gimana kosan kamu?” Tanya Al.

“Ya mau gimana lagi, rugi deh sebulan… lagian lu nya sih maksain banget”

“Hihihi… makanya, kan duitnya kamu bisa nabung… ada appartementku yang kosong kok milih ngekos sih” ujar Al.

“Au ah” jawab Reva.

“Haiiiii Va” teriak beberapa teman sekerjanya saat melihat Reva dan Al baru saja masuk.

“Haiiiii… eh yuk Al” balas Reva sambil mengajak Al untuk bergabung dengan teman sekantornya.

Al dan Citra bertemu mata, dimana Citra hanya tersenyum ke arah kakaknya. Reva yang melihat tiba-tiba mengernyitkan alisnya, heran dengan tingkah Al dan kenapa Al bisa mengenal si Citra yang juga sebagai direktur HRD diperusahaan tempat dia bekerja.

“Al, lu kenal bu Citra?” Tanya Reva heran.

“Kenapa emangnya Va?” Tanya balik Al.

“Gak sih, cuma pengen nanya aja”

“Aku gak kenal kok, kan dia bos kamu yang waktu acara apa gitu di hotel. Dia yang ngasih kata sambutan kan?” Tanya Al belaga bodoh.

“Iya, dia adik pemilik perusahaan. Makanya gw heran kok dia tersenyum waktu melihat lu tadi?” Tanya Reva masih heran.

“Mungkin karena aku tampan kali”

“Hahahhahhaha… tampan dari hongkong”

“Serah kamu deh Va, lagian mana mau cewek kayak dia kenalan ama aku yang gak ada kerjaan sama skali” ujar Al.

“Hemmm… cinta tak pernah memandang status kok Al”

“Maybe”

Tak lama si MC memanggil nama Citra untuk memberikan beberapa kata sambutan buat kedua pemilik acara. Citra dengan anggunnya naik ke atas panggung kecil lalu memulai mengucapkan beberapa kalimat sambutan dan juga ucapan selamat baik sebagai perwakilan perusahaan maupun secara pribadi.

“Cantik yah Al” ujar Reva yang masih saja memperhatikan ke anggunan Citra saat memberikan sepatah dua kata.

“Hemm… cantikan kamu Va”

“Auuwww….” lanjut Al meringis kesakitan karena dicubit oleh gadis itu.

“Masih mau ngegombal gak?” Ujar Reva.

“Udah ampun deh Va, cubitan kamu beneran sakit tau” jawab Al masih mengusap-usap lengannya yang terkena cubitan Reva.

Setelah Citra selesai, maka acara tukaran cincin tunangan pun dimulai. Al sepertinya akan membongkar identitasnya hari ini, agar supaya bisa membalas rasa sakitnya kepada orang tua Rahma maupun Rahma sendiri.

Semua tamu undangan bertepuk tangan saat pemasangan cincin selesai, tapi tidak berlaku dengan Al yang masih diam duduk di kursinya.

Waktu menikmati hidangan makan malam pun akhirnya tiba, Al tiba-tiba berdiri untuk menemui Rahma yang masih sibuk mengobrol dengan beberapa temannya.

“Ma…” sapa Al saat sudah berdekatan dengan Rahma.

“Eh Zy… kamu datang juga?” Tersirat wajah kesedihannya yang tiba-tiba muncul setelah melihat Al.

“Selamat yah Ma” dengan gentlenya Al menyalami Rahma.

“Makasih Zy, maaf….” hanya sebuah kata maaf yang mampu Rahma ucapkan kepadanya. Citra yang sedari tadi menperhatikan kakaknya langsung mampu menangkap keadaan kakaknya saat ini. Lalu diapun menghampiri mereka. Dan sengaja ingin mencairkan suasana.

“Hai Ma, kapan rencananya acara nikahan kalian?” Ujar Citra membuat Al sedikit kikuk.

“Oh iya Bu rencananya insya allah sih bulan depan Bu kalo gak ada halangan, eh sampe lupa… kenalin Bu teman Rahma” ujar Rahma lalu memperkenalkan Al ke Citra.

Sebuah senyuman dari Citra mampu menenangkan Al saat ini, lalu setelah berjabat tangan Al dan Citra meninggalkan Rahma karena memang saat ini Rahma masih sibuk menjamu beberapa sanak saudara dan juga teman-temannya.

“Ya udah kak, Citra tinggal dulu yah” ujar Citra tapi tiba-tiba Reza menghampiri mereka berdua.

“Eh Ibu Citra kenal dengan dia?” Tanya Reza.

“Ohhh baru aja dikenalin ama Rahma” jawab Citra.

“Oh kirain… hehehe ayo Bu silahkan makan dulu”

“Iya Pak, Citra lagi gak makan malam hari ini… paling makan buah aja”

Baru saja Citra akan melangkah meninggalkan Al tiba-tiba ayah Rahma menghampiri Al.

“Ngapain kamu kesini?” Hardik ayah Rahma mampu membuat emosi Al makin memuncak.

Citra yang baru saja ingin meninggalkan mereka tiba-tiba terkejut lalu seakan ingin menegur ayah Rahma.

Siapapun yang melihat sudara kandungnya di sakiti di depannya pasti akan marah, begitu juga dengan Citra. Tapi sebuah tatapan tajam dan kedipan matanya Al mampu menjawab kerisauan Citra saat ini. Citra mengerti bahwa ini adalah bagian yang sudah diinginkan oleh kakaknya.

“Aku hanya ingin memberikan selamat buat Rahma pak” jawab Al.

“Heh… gak pantas kamu hadir di acara ini. Yang hadir disini hanyalah kalangan terhormat saja”

“Pah sudahlah” ujar Reza mencoba menenangkan ayah si Rahma.

Reva yang melihat kejadian itu langsung mendekat, lalu berdiri disamping Al. Citra masih diam sambil memperhatikan kejadian saat ini. Ingin sekali rasanya dia membongkar jati diri kakaknya, akan tetapi dia sangat tau karakter sang kakak. Sekali dia ngomong maka sebagai seorang adik dia harus mengikuti perkataan kakaknya.

“Jadi saya harap kamu bisa meninggalkan rumah kami sekarang” ujar Ayah Rahma.

“Hei Pak, gak sepantasnya bapak berkata demikian kepadanya… apa yang salah dari Al?” Reva yang tak terima perlakuan keluarga Rahma langsung menghardik ayah Rahma.

“Va sudahlah…” ujar Al.

“Diam lu Al, lu kok jadi cowok bodoh banget sih… asal bapak tau yah… dia ini pacar gw pak. Dan dia punya harga diri yang tak sepantasnya bapak menghina dia didepan umum”

“Va…”

“Maaf mengganggu semuanya, mungkin ada baiknya anda meninggalkan acara ini… dan juga papah mending kita kembali ke meja pah” ujar Reza melerai mereka. Lalu mengajak ayah Rahma untuk kembali ke kursinya.

“Yuk Al…” ajak Reva tapi Al masih diam berdiri ditempat sambil mengepalkan kedua tangannya.

“Apalagi yang kamu tunggu? Cepat tinggalkan rumah saya” hardik ayah Rahma membuat Al menarik nafasnya.

“Kak” gumam Citra pelan tapi tak terdengar oleh siapapun.

“Pak… aku hanya akan bilang, apa yang bapak lakukan malam ini. Dikemudian hari akan membuat bapak menyesal” ujar Al yang mampu membuat senyuman di wajah Citra.

“Saya gak akan menyesal… camkan itu baik-baik” ujar ayah Rahma.

“Ok… kita lihat saja nanti” ujar Al lalu meninggalkan acara bersama dengan Reva. Citra yang masih saja melihat mereka hanya bisa menarik nafas.

Saat berada di luar, Reva mengajak Al untuk pulang. Tapi sepertinya Al enggan pulang bersama Reva malam ini.

“Aku pengen balik kerumah ortu dulu Va” ujar Al.

“Lu kok bego amat sih tadi Al?” Tanya Reva kesal.

“Trus apa yang harus aku lakukan?”

“Yah se-enggaknya kan lu membela diri… jangan dipermalukan kek gitu lu diam aja” ujar Reva.

“Udah lah Va, kan udah lewat juga kejadiannya”

“Huffhhhhh… lu tuh ye… heran gw ama lu Al”

“Ya udah… kamu balik aja dulu, ntar aku bakalan nyusul ke appartemen” ujar Al.

“Hemmm… yakin lu balik sendiri?” Tanya Reva sambil melangkah kedepan bersama Al.

“Yakinlah”

“Ya udah kalo gitu… temenin gw nunggu taksi yuk” ajak Reva.

“Ok”

Citra juga akhirnya pamit kepada kedua pihak keluarga. Lalu mereka mengantar Citra sampai kedepan pintu.

“Maaf yah bu, ada kejadian kecil tadinya yang gak bikin nyaman ibu Citra” ujar Reza.

“Iya pak santai aja, hehehe”

“Makasih yah Bu udah hadir di acara anak saya” ujar ayah Rahma.

“Sama-sama pak” ujar Citra lalu pamit kepada mereka untuk pulang.

Citra melangkah keluar sambil matanya mencari sosok sang kakak yang tak terlihat sedikitpun.

“Kak dimana?” Tanya Citra saat menelfon Al.

Ternyata Al baru saja mengantarkan Reva sampai naik kedalam taksi. Lalu kemudian diapun menghampiri Citra yang sudah menunggunya di dekat mobil.

Keluarga Rahma dan keluarga Reza yang masih berdiri didepan pintu memperhatikan Citra saat ini. Tiba-tiba sosok Al yang mendekat ke Citra mampu membuat mereka semua terkejut.

“Kak Yuk” ajak Citra untuk naik bersama kedalam mobil.

“Za, kenapa anak itu bisa pulang bareng dengan ibu Citra?” Tanya ayah Rahma yang terkejut baru saja melihat Al dan Citra bersamaan masuk kedalam mobil sambil bergandengan tangan.

“Entahlah pah… mereka juga baru kenalan tadi” jawab Reza yang juga bingung.

“Jangan-jangan dia mau mencoba mendekati bos kamu… bisa ajakan dia memploroti bos kamu itu” ujar ayah Rahma lagi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Biarlah pah… bukan urusan kita juga kan”

“Iya sih… ya udah yuk kita masuk”

Still Continued

END – Rahasia Pribadi Part 19 | Rahasia Pribadi Part 19 – END

(Rahasia Pribadi Part 18)Sebelumnya | Selanjutnya(Rahasia Pribadi Part 20)