Rahasia Pribadi Part 12

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30Part 31Part 32
Part 33Part 34Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42 END

Rahasia Pribadi Part 12

Start Rahasia Pribadi Part 12 | Rahasia Pribadi Part 12 Start

” Gede yah Al “. Ujar Reva saat mereka berada di dalam kamar mandi, dimana Al baru saja selesai membuang air kecil lalu Reva menahannya saat pria itu akan memasukkan penisnya kedalam celana.

Reva memegang penis panjang milik Al, seorang pria berdarah arab Makassar. Kalian para reader bisa membayangkan bagaimana panjang dan besarnya belalai milik Al kan?.

“Ssttttt, udah yah.” Ujar Al melepas tangan Reva.

“Yeh ada yang terangsang ni, cie cie cie. Paling lu lagi bayangin kan yang megang kontol lu ini pasangan gay lu. Hehehe.”

“Grrrrr… Udah ah,”

“Uhh,” Tiba – tiba Reva memegang perutnya menahan sakit yang tiba-tiba saja muncul.

“Eh Va kenapa kaki kamu berdarah ?” Tanya Al melihat darah di paha gadis itu.

Plakkk…

“Itu darah haid gw tau, duuhhhh perihhh.” Jawab Reva sambil menabok kepala pria itu.

Reva segera keluar kamar mandi bersama Al lalu mencoba mencari obat penahan rasa sakit ke sekeliling appartement Al dan ternyata obat yang dicarinya tak juga ditemukan. Sedangkan sekarang sudah malam dan semua toko obat sudah tutup.

“Kamu gak apa – apa? apa kamu mau pergi ke RS saja ?” Tanya Al panik.

“*Haha, kram karena menstruasi pergi ke RS? diketawain suster ama dokter gw nya tau. Dasar bego.”

“Tapi muka kamu pucat gitu, kamu duduk dulu gih.”

“Lu tuh ihhhhhh, nih kalo gw duduk ranjangnya bakalan banjir darah dodol.” Ujar Reva kesal lalu berlari mengambil pembalut di lemarinya.

“Huh, dasar.” Guman Al pelan.

“Gw akan menahannya saja sampai besok pagi.” Ujar Reva saat selesai memasang pembalut diselangkangannya.

“Ya udah kamu bobo aja yah, ntar aku jagain kamu deh.”

“Hehe, makasih yah… Gw duluan yah.”

“Met bobo,” Ujar Al dan dibalas dengan senyum manis gadis itu.

Saat ini Al sangat kasihan melihat Reva dengan kondisi meringis menahan keram dan sakit diperutnya, maka Al melakukan hal yang biasa TS lakukan, ber-googling ria dengan keyword : bagaimana menghilangkan rasa sakit dan kram saat Haid.

“Hemmm, teh jahe.” Gumam Al saat mendapatkan informasi barusan.

Kemudian Al mencari di kulkasnya sebuah teh sachet jahe yang sering dia minum untuk menyegarkan tubuhnya dikala lelah. Setelah itu Al membuatkan teh jahe untuk Reva dan kembali ke dalam kamar.

“Va, bangun dulu. Nih minum tehnya mumpung masih anget.” Ujar Al saat duduk ditepi ranjang.

“Uhhhh, apaan nih?” Tanya Reva sambil mencoba untuk duduk dengan bersandar di ujung kepala ranjang yang rapat di dinding dengan memegang bantal.

“Teh jahe untuk mengurangi rasa nyeri dan kram di perut saat Haid.” Jawab Al.

“Hehe, makasih yah.” Ujar Reva kemudian meraih secangkir teh jahe ditangan Al lalu menghabiskannya tanpa bekas.

Nampak Reva sangat senang sekali biarpun sakitnya belum hilang tapi ia senang karena punya teman pria yang bersedia berbagi sakit kram dengannya. Setelah itu Reva kembali berbaring dan mencoba memejamkan kembali matanya.

“Huh, semoga sembuh yah.” Ujar Al lalu membawa cangkir bekas teh tadi ke dapur.

Tapi saat Al kembali kedalam kamar dan mengechek Reva lagi, ternyata gadis itu masih merintih kesakitan (yah memang ada bbrp cewek yg sakit sekali kalau sedang dapat, kalau nenek TSnya sih biasanya pake kunyit, temulawak, ama gula jawa. Hehe).

“Kamu kenapa Va?”

“Duhhhh, sakit Al. Pake bangettttt.” Jawab Reva yang sudah bolak balik diatas ranjang.

“Kamu tunggu yah, aku keluar dulu mencari sesuatu.” Ujar Al lalu tanpa mendapat jawaban dari Reva diapun segera keluar dari appartementnya menuju rumah orang tuanya di daerah cendrawasih.

Al akhirnya keluar dan menyalakan mobilnya. Tanpa fikir panjang, pria itu menjalankan mobilnya menuju kediaman orang tuanya.

Begitu tiba di rumah orang tuanya, segera dia meminta obat penghilang rasa sakit pada mamanya.

“Buat siapa Yud?” tanya mamanya heran dan sedikit menyelidik.

“Buat calon mantu mama dan papa tentunya,” ujar Citra yang nyeletuk sambil senyum penuh arti.

Menghindari sebuah diskusi yang akan melebar dan tentu saja Al mengetahui pertanyaan yang akan di lontarkan oleh mamanya, maka secepat kilat pria itu bergegas keluar rumah dan kembali ke appartementnya.

Saat tiba di appartementnya, Al langsung menuju ke kamarnya dan melihat Reva masih menahan sakit diperutnya. Bahkan gadis itu saat ini sampai bergelung di lantai menahan sakit membuat Al langsung mengangkatnya naik ke atas ranjang.

“Nih minum dulu obatnya,” ujar Al yang sudah duduk ditepi ranjang sambil memegang segelas air mineral yang diambilnya di atas meja kecil disamping ranjangnya.

“Dari mana lu dapat nih obat?” Tanya Reva setelah meminum obat tersebut.

“Dari mamaku Va, btw gmn keadaan kamu sekarang?” Ujar Al yang agak legaan setelah melihat kondisi Reva udh bisa tersenyum.

“Agak lumayan sih Al, makasih yah sebelumnya.”

“U’r welcome, ya udah kamu bobo aja gih.” Ujar Al lalu mencoba membaringkan gadis itu.

“Al… hemm… sekali lagi makasih.” Ujar Reva sedikit pelan sambil melempar senyum hangatnya ke arah pria itu yang sudah menolongnya barusan.

“Hehe, iya sama-sama Va. Ya udah kamu bobo yah dan moga mimpi indah”

“Met bobo my Gay.”

°°°​

Sinar matahari menembus melalui jendela kamar, menyorot wajah cantik gadis itu yang belum tersadar dari tidurnya.

Pelan-pelan gadis itu membuka matanya dan mendapati Al sudah duduk ditepi ranjang menatap wajahnya dengan sebuah senyuman.

“Morning gadis bodoh,” sapa Al dengan senyuman.

“Hei Al, hoaemmm… jam berapa nih sekarang?” Ujar Reva sambil mengucek-ucek matanya melihat jam dinding yang tergantung di atas dinding kamar.

“Baru jam 7 lewat, kamu gak kerja?”

“Hu uh, malas euy… masih mules.” Jawab Reva.

“Kalo gitu kamu istirahat aja dulu, aku mau keluar bentar karena ada urusan dikit.”

“Gw lapar euy,” ujar Reva sambil memegang perutnya.

“Udah aku buatin sarapan tadi, nih makan dulu.” Ucap Al sambil menyodorkan sepiring nasi goreng yang dibuatnya sendiri khusus untuk gadis itu.

“Makasih,”

Akhirnya Reva menerima sepiring nasi goreng lalu menyantapnya dengan lahapnya dihadapan Al sambil sesekali tersenyum hangat membuat suasana pagi ini sangat berbeda dari sebelumnya. Begitu juga Al, ada sesuatu yang dia rasakan yang tak bisa dia pungkiri bahwa gadis itu sudah mengorek relung hatinya yang paling dalam. Tapi dia tidak mau sakit untuk kedua kalinya, maka diapun menganggap gadis itu hanya sebagai adiknya saja.

“Aku pergi dulu yah” ujar Al saat Reva lagi santai di ruang rengah dan nampak Al sudah bersiap-siap untuk pergi ke suatu tempat.

“Kayaknya gw udah agak mendingan euy, gw kerja aja deh.”

“Ya udah, kalo gitu kita bareng aja. Karena kebetulan aku searah dengan tempat kerja kamu.” Ujar Al.

“Tapi kan gw belum mandi, apa lu mau nungguin gw dulu?”

“Iya, makanya buruan gih mandi.” Jawab Al dengan lembut dan segera gadis itu beranjak menuju kamar mandi.

Tanpa mereka sadari sepasang mata sedang melihat dari arah kejahuan saat Al dan Reva berjalan menuju mobil Civic kesayangan pria itu.

Terlihat wajah emosi menghampiri pemilik sepasang mata itu, lalu segera bergegas meninggalkan parkiran appartement karena tak sanggup melihat keduanya yang jelas membuat hatinya sesak dan sakit.

Saat tiba di Clarion Hotel tempat Reva bekerja akhirnya Al memarkir mobilnya tepat di depan pintu masuk karyawan hotel.

“Makasih yah Al, udah mau ngantarin gw.”

“Sipp, ya udah met bekerja yah.” Jawab Al dengan senyum.

“Ti ati dijalan, oh iya bentar malam lu balik ke appartemen gak?”

“Belum tau,” jawab Al simple.

“Ya udah bye” lanjut Al lalu segera meninggalkan hotel dan juga gadis itu dengan perasaan yang tak menentu.

“Reva… bentar,” teriak seseorang dari belakang saat gadis itu akan melangkah masuk.

“Eh Riyan, kenapa yan?” Ternyata Riyan yang baru saja menyapa Reva karena pria itu baru saja mengantar Indah sang kekasih.

“Kamu semalam nginap dimana?” Tanya Riyan dengan tegas.

“Apa urusan lu?”

“Setidaknya gw harus tau, setelah putus dengan gw lu gak berubah di jalan yang salah.” Ujar Riyan.

“Maksud lu?”

“Tadi pagi gw liat lu keluar dari appartement Pnk bersama pacar baru lu, dan gw tau jelas appartemen itu bukan milik lu.” Ujar Riyan membuat kuping Reva sedikit terbakar.

“So what?” Tanya Reva.

“Ternyata lu udah berubah Va,”

“Gw mau berubah kek… mau ngapain kek… terserah gw donk, dan ingat.. bukan urusan lu lagi” ujar Reva ketusnya.

“Dulu waktu lu ma gw* masih jalan, gak pernah sama sekali mau diajakin nginap bareng… sekarang, dengan pria itu belum lama kenal udah berani nginap bareng.”

“Trus, gw harus bilang wow gitu?”

Riyan yang kesal langsung menunjuk wajah Reva membuat gadis itu terdiam.

“Ternyata lu udah jadi cewek murahan sekarang yah… cuihhhh”

Plakkkkk…..

Seketika sebuah tamparan mendarat dipipi pria itu, Reva tak terima ucapan Pria itu segera berlari dengan kedua matanya yang sembab.

“REVAAA TUNGGUUUUU!”Teriak Riyan tetapi gadis itu tak menghiraukannya lagi.

Saat gadis itu berpapasan di ruang absensi dengan Indah yang tak lain adalah kekasih baru Riyan, membuat darah Reva langsung mendidih. Senyum sinis dari Indah membuatnya sedikit muak.

“Apa lu pikir pria akan melihatmu sebagai wanita? Anda seharusnya mulai berpikir bagaimana pacarmu bisa kucuri!” Ucapan Indah benar-benar membuat Reva sakit hati dan seketika mendorong tubuh Indah kesamping.

“Setidaknya gw tau bahwa dia adalah pria murahan dan tak gentleman.” Balas Reva dengan sinis dan segera meninggalkan gadis itu tanpa bisa berkata apapun.

Saat hampir seluruh karyawan shift pagi pada berkumpul di ruang breafing lantai 2, tiba-tiba mereka di kejutkan oleh kedatangan adik pemilik perusahaan yang tak lain adalah Citra Dwi HRBP Director ditemani oleh pak Toto sang GM.

“Morning all,”. Sapa lembut sang HRBP Director.

“Pagi ibu… pagi pak,” Sapa hampir bersamaan seluruh karyawan yang berada di ruangan breafing.

“Oh iya udah pada kenal kan dengan ibu Citra?” Tanya Pak Toto.

Dan hampir pula bersamaan kembali seluruh karyawan yang berada di ruangan mengatakan “iya”.

“Oke… salam kenal semuanya, kalo udah ada yang kenal dengan saya terima kasih tetapi saya tetap akan memperkenalkan diri sebelum melanjutkan morning breafing kita.” Ujar Citra mengambil alih breafing pagi ini.

“Saya Citra, posisi HRBP Director… oh iya induk perusahaan kita sekarang udah 3MP yah.” lanjutnya dengan gayanya yang anggun dan beriwaba membuat seluruh karyawannya berdecak kagum dalam hati melihat sosok sang bos yang cantik dan mempesona itu.

“Oh iya ada yang tau kepanjangan 3MP?”

“Tiga Mandiri Pratama,” jawab Indah dengan PDnya.

“Ada yang lain?” Tanya Citra lagi.

“Kamu,” lanjutnya yang langsung menunjuk Reva yang terlihat sedikit tidak bersemangat hari ini.

“Eh… nda tau bu,” jawab Reva dengan gugupnya.

“Nama kamu siapa?” Tanya Citra.

“Re.. reva bu.”

“Oh iya lupa… semalam kita sudah kenalan yah, dan sepertinya hari ini kamu lagi ada masalah dan terlihat gak semangat untuk bekerja.” Ucap Citra mencoba menebak keadaan gadis itu.

“Iy… iya bu, maaf hari ini badan Reva lagi gak enakan bu”

“Siapa bos kamu?” Tanya Citra.

“Dia bu,” jawab Reva menunjuk Indah.

“Ok… kamu ibu Indah kan?” Ujar Citra.

“Iya Bu, saya supervisor FO bu.” Jawab Indah dengan mantapnya.

“Kenapa kamu tidak memperhatikan kondisi karyawan kamu? Ingat… manajemen 3MP sangat care terhadap karyawannya baik level atas maupun level bawah… dan satu lagi, bukan pratama tapi perkasa nama perusahaan kita… Tiga Mandiri Perkasa.”

“Iya bu… maaf karena saya sudah lalai dalam bekerja.”

“Its Ok… mulai sekarang semua karyawan dibawah naungan 3MP harus mendapatkan perhatian dari manajemen… pak Toto, nanti tugas bapak menjelaskan remunerasi terbaru dari manajemen buat seluruh karyawan kita yah”

“Baik Bu,”jawab Pak Toto.

Setelah mendapatkan beberapa arahan dan informasi yang singkat dari Sang HRBP Director, akhirnya seluruh karyawan yang shift pagi mulai kembali ke post masing-masing untuk memulai aktifitas pagi ini dengan sebuah senyuman dan harapan baru buat mereka.

°°°​

Pagi hari di kantor pusat PT. Tiga Mandiri Perkasa,Tbk nampak dua sahabat Mr. Nostra dan Mr. L sedang berjalan menuju lift direksi. Dan keduanya menghentikan langkahnya saat berpapasan dengan gadis cantik salah satu karyawan mereka di depan pintu karyawan.

“Pagi Mr. Nostra dan Mr. L.” Sapa gadis itu yang telah berdiri dan menudukkan kepala memberikan tanda hormat kepada kedua bigboss.

“Hei hei… kok gw baru liat elu?” Ujar Nostra yang melihat Elsya.

“Widih… Nos, dia anak baru,” ujar L.

“Hai cantik, nama lu siapa?” Tanya Nostra sambil menatap seakan ingin menyantap gadis itu yang terlihat sedikit gugup dan tersipu malu.

“Elsya pak,” jawab gadis itu.

“Morning L… morning Nos,” sapa Kim yang sudah tiba di kantor mengagetkan Nos yang sedang SSI dengan karyawan barunya.

“hei… yuk, malu nape ditangkap basah ama Kim elunya kan.” Ujar L berbisik ke nostra membuat pria berdarah sunda tersebut hanya bisa nyengir dihadapan sahabatnya.

“Pada mau naik atau masih ingin godain dia?” Nanya Kim saat pintu Lift terbuka membuat keduanya langsung bergegas melangkah masuk kedalam lift tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Elsya yang di tinggal sendiri di meja kerjanya hanya bisa tersenyum penuh arti, tanpa sadar diapun menghela nafas dan tersadar akan sesuatu.

“Eh iya gw lupa mau nelfon,” gumam Elsya pelan lalu meraih HPnya untuk menelfon seseorang.

“Halo, hari ini lu jadi ke jakarta?” Ujar Elsya menelfon seseorang.

“Jadi donk, bentar sore gw ama cowok gw berangkat naik Cipaganti.”

“Oh ya udah… masih ingatkan alamat gw?”

“Masih donk… hehehe, gak papakan gw bareng cowok gw nginap dirumah elu sya?”

“Ya elah kayak gw siapa aja, nyantai aja keles.” Jawa* Elsya lalu mengakhiri percakapan mereka ditelfon.

“Dasar lu gak pernah berubah cin,” gumam Elsya sambil menggelengkan kepalanya dan sekejap diapun kembali bekerja dengan aktivitasnya seperti biasa.

Diruang SMD nampak pemilik ruangan sedang sibuk membuat sebuah presentasi di Mac Pro nya, saat sedang fokus dalam bekerja nampak Nostra jauh berbeda jikalau dia lagi gak sibuk. Dimana dia sangat penuh dengan candaan, apalagi jika mereka bertiga para pentolan 3MP sedang berkumpul dan bercanda bersama. Tak akan habis bahan candaannya.

Tiba-tiba dering HPnya mengagetkannya dalam kegiatannya saat ini, nampak Nostra mengernyitkan alisnya melihat layar di HPnya nama yang begitu dia ingat sedang menelfonnya pagi ini.

“Yah,” jawab Nos saat mengangkat telfon.

“Beib… bentar Hellen jadi berangkat yah ke Jogja untuk study tour.”

“Oh gitu… ya udah, kamu hati-hati aja disana.”

“Makaciii sayankkkk…. muachhh”

Saat setelah Nos menutup telfon dari sang kekasih, akhirnya dia memutuskan untuk keluar mencari sarapan pagi atau sekedar ngopi dikantin bawah.

“L… ngopi yuk,” ujar Nos saat di atas lift sedang menelfon sahabatnya.

Teng… tong…

Pintu lift direksi terbuka dan Nostra melangkahkan kakinya menuju kantin, tapi tiba-tiba langkahnya berhenti saat melihat Elsya sedang sibuk mengetik di komputer mejanya.

“Bentar sore lu ada acara gak?” Tanya Nos mengagetkan gadis itu.

“Eh….”

“Nda usah kaget gitu, gw hanya nanya aja kok.”

“Gak ada pak… kenapa emangnya pak ?”

“Sms pin bbm lu di nomor hp gw yah, taukan nomor gw?” Ujar Nos dan dengan sedikit malu akhirnya di iyakan oleh gadis itu.

°°°​

“Lu perhatiin gak sih tuh Elsya L?” Tanya Nos ke L saat mereka lagi lunch bareng.

“Cakep dia… tapi bukan selera gw sih Nos.” Jawab L sambil mengunyah makanannya.

“Ya gw tau lu dah kesihir ama cewek jutek itu kan? Kemarin dulu gw ama dia hadirin acara perpisahan pak Ferdi… dan lu tau? Gw udah… ah lupain aja.” Ujar Nos sambil sok seriusan dihadapan sahabatnya.

“Lagak lu Nos… Nos… ketahuan bohong lu… hahahahaha,” ujar L sambil tertawa.

“Hihihi… ya udah klo gak percaya,”

“Percaya ama lu musrik tau,”

“Yaelah dibilangin, ya udah keep silent aja… hanya gw dan dia aja yg tau.”

“Beneran nih? Gw telfon dia skr nih.”

“Haloooo… haloo L, ada apa?” suara Citra di HP L saat dia loadspeaker membuat Nostra jadi gugup dan kebingungan atas kelakuan si Mr. L.

“Cit… kata Nos ehhh,” ujar L terputus karena mulutnya sudah dibungkam oleh Nostra.

“Gak apa-apa Cit, si L salah teken nomor.” Nos yang menjawab membuat L hanya cengingisan menangkap basah kebohongan sahabatnya.

“Oh kirain ada apaan, ya udah byee.”

Tuttt… tutt… tutt…

“Wkwkwkwkwkwkwkw….,” tawa L akhirnya pecah.

“Sinting lu ye… lu kayak banci aja main lapor ke Citra,” ujar Nos.

“Lagian kan gw hanya ingin mastiin kebenaran ucapanlu tadi Nos,”

“Sialan lu emang, gw hanya bercanda dodol.”

“Hahahaha… kan gw gak tau lu bohong atau serius,” Ujar L masih tertawa sambil kembali memakan sisa makanannya tadi yang sempat terhenti.

“Serius dah bubar tau,”

“Btw Al kapan balik jakarta?”

“Gak tau gw L… si Bos mah gak ketahuan rimbanya dimana,” jawab Nostra dan di anggukkan oleh L.

“Iya sih… beda ama kita yang hanya sebagai KKO,” ujar L membuat Nos mengernyitkan alisnya.

“KKO apaan L?”

“Kacung Kampret Officer Nos,”

“Wkwkwkwkwkw… aya aya wae elu mah L,”

“Hahahaha… ya udah coba lu nelfon si Al deh, kangen gw ama dia.” Ujar L dan akhirnya Mr. Nos menelfon sang owner.

“Halo bos, lu dimana?” Tanya Nos yang sudah mengload speaker HPnya saat Al mengangkat telfonnya.

” Hai kang… gw lagi di Surabaya ketemu dengan Pak Upil Tungka pemilik Mega Developer Manado,” jawab Al di seberang.

“Nah loh… kok namanya aneh euy, kayak tai hidung aje namanya”

“Hushh… aku juga bingung kok namanya kayak gitu,”

“Ada urusan apaan Al? Ada proyek baru lagi di Manado?” Tanya L.

“Kan kita mau buka kantor cabang di Manado… dan kebetulan beliau pemilik areal pergudangan di sana,”

“I see… ya udah klo gitu, lanjut gih.” Ujar Nos dan L.

“Btw ada undangan dari Pak Upil, katanya mau di ajak ke pulau Bentenan dan pulau Tumbak miliknya… hemm lu orang mau…” ujar Al terputus oleh mereka berdua.

“Mau Al… kapan?” Ujar Nos dan L bersamaan.

“Hahahaha… belum juga aku selesai ngomong kalian udah main motong segala,”

“Kalo masalah adventure jangan main nanya segala bos… kita mah ikut aje apa kata si Bos,” ujar L.

“Kalo aku bilang kalian gak usah ikut, gmn??”

“DAMMMM….. no comment gw,” ujar Nos.

“Ya udah… minggu depan kita berangkat yah,”

“Lu emang bos paling pengertian, ada hemmm…. ada yang nemenin gak Al selain kita-kita?”

“Hahahaha… aku udah tau arah pertanyaan kalian, apa yah… kata pak Upil sih kalian akan di buat senang sesenang-senangnya kalo udah disana…. kalian ngerti kan maksud dia?”

“Wanjirrrrr….. di tengah pulau bareng awewe Manado… udah gak sabar gw ncuk,” Ujar Nos yang paling kegirangan.

“Ya udah see u yah brad,”

“Wokehhh bos… jangan lupa ole-ole nya ye” ujar L dan akhirnya setelah di iyakan oleh al maka Nostra menutup telfonnya dan menatap wajah sahabatnya dengan penuh kemesuman.

“Time to searching L,” ujar Nos yang langsung mensearching di om Google info mengenai kedua pulau yang dimaksud Al tadi.

°°°​

Malam semakin larut, kondisi jalan dikota makassar malam ini tak begitu padat sehingga membuat Riyan menyetir seperti kesetanan.

Akhirnya diapun tiba di tempat yang sudah di sepakatin bersama dengan Reva siang tadi. Yah, malam ini Riyan dan Reva sedang janjian untuk bertemu. Awalnya Reva menolak ajakan pria itu, akan tetapi karena sebuah keterpaksaan akhirnya diapun mengiyakan tawaran pertemuan tersebut.

“Lu tau gak? Kalo sekarang lu udah banyak berubah Va,” ujar Riyan saat mereka duduk berdampingan disalah satu rumah makan sea food Ratu Muda yang terletak di daerah pantai Losari.

“Apanya yang banyak berubah yan? Gw merasa gw kayak dulu aja,”

“Gak Va… oh iya asal lu tau aja, gw dengar si Al itu atau Izzy atau siapalah namanya… yang gw dengar dia itu pengangguran dan memanfaatkan wajahnya untuk menggaet wanita-wanita kaya buat kepentingan pribadinya… contohnya appartemen dan mobilnya… kamu sadar gak? Kenapa dia punya semuanya, sedangkan dia tidak bekerja.” Penjelasan pria itu cukup membuat Reva berfikir dan membenarkan dalam hati atas ucapan Riyan.

“Menurut lu Al seorang gigolo gitu?”

“Bisa dibilang gitu, dan dia dekatin lu itu hanya untuk sekedar tempat pelampiasan seksualnya semata… setelah bosan, lu akan di campakkan begitu saja.”

“Tidak mungkin Al melakukan itu, ia bukan tipe orang yang suka memanfaatkan dan melukai seperti diri lu, Yan.”

“Plis Va… kali ini percayalah dengan apa yang gw katakan.”

“Cukup yan, gw gak mau dengar perkataan lu yang menjelekkan si Al”

“Gw hanya ngingatin lu aja Va… karena jujur gw masih sayang dengan elu Va.”

“Stop… kayaknya gw harus pulang sekarang, karena gw udah muak mendengar semua ucapan lu yang gak masuk akal.” Ujar Reva yang langsung berdiri dan melangkahkan kakinya keluar dari rumah makan.

“Va… gw masih sayang ma lu” ujar Riyan yang tak digubris sama sekali oleh gadis itu.

Diperjalanan pulang Reva diam di atas taksi, gadis itu memikirkan semua perkataan Riyan tadi. Dan memang cukup membuatnya berfikir, karena semua yang di jelaskan ileh Riyan sangat masuk akal.

“Gak… gak… lu salah yan, Al itu seorang Gay.” Gumam Reva pelan.

°°°​

Disebuah perumahan di daerah jakarta barat nampak Elsya baru saja tiba dirumahnya. Gadis itu saat ini hanya tinggal sendirian, dan langkahnya terhenti saat dua pasang muda-mudi berdiri di depan pagar rumahnya.

“Hai hel… udah lama?” Sapa Elsya saat melihat sahabatnya baru saja tiba dengan seorang pria yang tak lain adalah nickolai.

“Baru aja kami sampai kok.. hehehe,” Jawab Hellen yang masih saja menggandeng manja lengan kekasihnya.

“Yuk masuk,”

Di ruang tengah akhirnya mereka ngobrol biasa aja, dan ternyata Hellen dan Nick sedang liburan dijakarta dan mungkin mereka akan menumpang 3-4 hari dirumah Elsya.

BBM dari Nostra :

Gw jemput sekarang yah, setengah jam lagi nyampe.

Mendapat bbm dari sang direktur, gadis itu senyam-senyum sendiri membuat Hellen kepo.

“Kenapa lu Sya?”

“Hehehe… ini Hel, bos gw ajakin dinner.”

“Cie… cie yang belum sebulan kerja udah bisa kecantol ama bosnya nih,”

“Hehe… dia tuh yg duluan godain gw tau,”

“Cakep gak orangnya?”

“Kepo lu Hel… udah ah gw mandi dulu yah, lu berdua gw tinggak bentar yah.”

“Iya Sya… santai aja, gw juga ama ayank Nick pengen istirahat dulu… iya gak yank.” Ujar Hellen sambil ngelirik ke Nickolai dengan lirikan penuh arti dan dijawab oleh pria itu dengan anggukan kepalanya.

Sebuah Mobil SUV keluaran dari Ford bermerk New Everest berwarna putih milik Mr. Nos membelah jalan ibu kota menuju perumahan di daerah ibu jakarta barat.

Mobil yang berasal dari amerika tersebut dengan gagahnya dikendarai oleh seorang Nostra ajie prasetyo ditemani dengan sebuah lagu “Orang Utan” from Relp. otak lu picik kayak seorang DONJUAN makna lagu itu membuat Nos keselek mendengar lirik lagu tersebut.

“Hahahahaha…. gw banget nih,” ujar Nos setelah lagu tersebut selesai terputar di audio yang sudah di modifikasi olehnya.

“Elsya i am Coming,” gumam Nos lalu menancap gas dengan kecepatan di atas 60km/jam.

BBM Nostra :

“Gw jemput dimana?”

BBM Elsya :

“Didepan gerbang perumahan aja pak”

15 menit kemudian…

BBM Nostra :

“Gw udah di TKP, mobil putih yah”

Tampilan dengan kaos berbahan chiffon berwarna putih dan bawahan menggunakan jeans yang tak begitu span membuat tampilan Elsya malam ini sangat serasi dengan tampilan Nos yang malam ini juga hanya menggunakan kaos oblong berwarna Putih dengan jeans yang di lutut sengaja disobek seperti anak Gaul, hahaha.

“Hai… assalamualaikum Pak Nos,” sapa Elsya saat Nos turun dari Mobil dan menyambut gadis itu dengan sebuah senyuman kekaguman akan kecantikan gadis itu.

“Beautiful… hufhh,” gumam Nos yang terdengar oleh Elsya.

“Makasih Pak,”

“Oh iya Wa’alaikumsalam wr wb… hehehe sorry lupa balas salam lu.” Ujar Nos lalu membuka pintu samping kiri dan mempersilahkan Elsya untuk naik di atas mobilnya.

“Mau makan apa?” Tanya Nos saat mereka sudah meninggalkan perumahan tempat tinggal gadis itu.

“Terserah bapak aja, Elsya ikutan aja.”

“Hemm… oke deh kalo gitu, kita makan Suki aja mau gak?”

“Boleh pak,”

“Gw manggilnya El atau?”

“Eh jangan El… kayak Mr. L aja ntar manggilnya,” lanjut Nostra menyadari sesuatu.

“Hehehe..* terserah bapak,”

“Kok lu dari tadi terserah melulu, kalo gw ajakin kawin terserah juga nih?”

“Hehe… bapak bisa aja becandanya,”

“Kalo gw gak becanda lu percaya?” Ujar Nos yang cuek dan pandangannya masih menghadao kedepan jalan.

“Hehehe,”

“Kok Hehehe doank?”

“Trus Elsya harus ngomong apa donk?”

“Lupain… so, gw ajak lu keluar apa cowok lu gak marah?”

“Elsya baru putus sebulan lalu pak dengan cowok Elsya,” jawab Elsya sambil menunduk.

“Jadi lu jomblo donk sekarang?”

“Bisa dibilang gitu pak,” jawab gadis itu lagi sambil melirik ke arah pria tampan di sampingnya.

“Ujung mata gw nangkap klo lu lagi merhatiin gw kan?”

“Eh… anu pak”

“Hahahaha… lu kok jadi gugup gitu sih, santai aja dengan gw kali.” Ujar Nos tanpa menoleh sedikitpun ke arah gadis itu.

“Kalo gw jadi cowok lu… apa lu setuju gak?”

“Eh… maksud bapak?”

“Gak ada replay… berarti lu gak mau?”

“Ntar Elsya di hajar ama cewek bapak,”

“Hahahaha… gw gak punya cewek, tapi tunangan iya gw punya… tapi selama janur kuning belum menghiasi rumah gw… siapapun masih punya kesempatan menjadi istri gw nantinya,”

“Sama aja kali pak… hehehe, mending bapak setia tuh ama tunangan bapak… kan biar gimana Elsya juga cewek pak, jadi ngerti perasaan cewek apabila cowoknya menduakan cintanya.” Ujar Elsya sambil menatap sendu wajah Nos dari samping.

“Tau darimana kalo dia setia ama gw?”

“Kok bapak bilang kayak gitu?”

“Loh emang bener kan? Hanya Allah dan dia yang tau kalo dia setia pa gak.” Ujar Nos dan akhirnya diapun menoleh kesamping sambil tersenyum membuat gadis itu tersipu malu.

“Bisa aja nih bapak, dasar orang sales jagonya berlipat lidah kalo ngomong”

“Maksudnya berlipat lidah itu apaan?” Tanya Nos bingung.

“99% perkataan seorang sales itu adalah sebuah kebohongan… hanya 1% doank yang bisa dipercaya,”

“Dasar… hahahaha, tapi jangan anggap remeh 1% itu loh”

“Jurus membela diri.. hehehe,” ujar Elsya yang sudah tidak gugup lagi mengobrol dengan Mr. Nos.

Berbeda dengan Hellen dan Nick saat ini yang sedang bergumul ria untuk mencapai sebuah kenikmatan di dalam kamar tamu rumah milik Elsya.

“Oughhtttt beib… di apain puting Hellen ayank.” Desah Hellen saat Nick sudah mulai menghisap kedua puting payudara miliknya bergantian.

Slurpp… slurpppp…..

“Ohhhhhh nikmat ayank nick,”

“Bodoh banget tunangan kamu sayank… tubuh indah kayak gini di anggurin” ujar Nick sambil membelai rambut gadis itu yang malam ini dilanda birahi tinggi.

“Hu uh beib… memek Hellen gatal yank, isepin atuh.”

“Oughhttttttt,” erang Hellen saat lidah Nick sudah mulai menyentuh clitoris miliknya.

Slurppp… slurpp… slurppp…

Terlihat Hellen menaikkan bola mata hitamnya hingga tak terlihat lagi karena begitu nikmat yang dia rasakan dari for play yang diberikan oleh Nickolai.

Sluurpppp…. Sluurpppp…

Nickolai mulai menelusuri tiap lekuk tubuh tunangan Nos dengan lidahnya, menggaris dibantu dengan air liurnya mulai dari ujung putingnya turun ke pusar lalu membelok ke pinggang turun ke paha Hellen.

Rangsangan demi rangsangan diberikan oleh Nick membuat Hellen mengangkat pantatnya agar Vaginanya bergesek di dada nick yang saat ini sudah mulai mengangkat kaki kanan Hellen lalu di tekuknya dan mulai menelusuri memakai lidahnya sampai ke ujung jemari kakinya.

“Oughhttt… Geli ayaankk…. Hihihi… Sstttt.”Desah Hellen saat ujung bibir vaginanya di hisap oleh Nick.

Kemudian Nick mulai menelusuri kaki jenjang milik Hellen terus naik kebetis lalu menggelitik di belakang lututnya, setelah itu lidahnya mulai naik ke paha sampai ke pangkalnya membuat gadis itu merasakan sensasi yang begitu nikmat.

“Udaaahhhh donkk yaank…. Memekkk Hellen dah gateeelll bingittsss nih,” Desah Hellen lalu menarik tubuh Nick sejajar dengan tubuhnya.

“OUGHHHHTTTT….. Stttttt,” Seketika Hellen mengerang dan tubuhnya melengking saat ujung penis Nick sudah menggesek bibir vaginanya.

“Nikmaaattt sayaanggg,” Desah Hellen merasakan kenikmatan di bibir vaginanya.

“Oughhttt… aku masukin yahhhh” Ujar Nick.

Srekkkk….

” Oughhhhhhhhhtttt myyy goshhhhh “. Erang Hellen sambil memejamkan matanya menikmati batang kemaluan Nick yang menerobos masuk ke liang vaginanya walau tak begitu besar akan tetapi cukup membuat Hellen merasakan sebuah kenikmatan.

Plokkk…. Plokkk…

Nick mulai menggenjot vagina Hellen perlahan-lahan sambil membelai lembut wajahnya.

Mata mereka bertemu pandang kemudian saling menatap mengisyaratkan bahwa mereka sangat menikmati persetubuhan yang saat ini mereka lakukan.

“Nikmaaattt aayyankkk sstttt??”

“Bangetttt… Oughhtttt,” Jawab Hellen sambil mendesah dan memejamkan matanya.

Plokkk…. Plokkkk….

“Beib… Oughhttt… Kontolmu nikmat banget sayaanggg… Aaahhh”

Hellen mengalungkan kedua lengannya ke leher Nick sambil menarik wajahnya lalu segera melumat bibirnya.

“Hmmfffffmmm,”

“Sabar yahhh ayaankkkk…ssttttt,” Ujar Nick melepaskan ciumannya lalu menarik mulutnya untuk mengarahkan ke payudara gadis itu kemudian menghisap payudaranya bergantian.

Sluurrrpppp…. Sluurpppp…

Plokkkk… Plokkkk…. Plookkkk…

“Oughhhtttt myyy gooshhhh…. Memekkk kontolll nikmaaatttt.” Erang Hellen tak karuan menikmati genjotan Nick dan hisapan di payudaranya.

Lama Nick menggenjot dengan posisi masih di atas Hellen membuat ujung penisnya berdenyut-denyut tanda ia akan mencapai puncaknya dengan cepat.

“Argghhhh beib aku dah mau keluar nih,” erang Nick tak bisa menahan spermanya yang sudah di ujung tanduk.

“Bentar dulu ahhhh, Hellen belum apa-apa yank”

“Argghhhhhhh…..”

CROOOTTT…. CROOOTT… CROOTTT…

Akhirnya tanpa memperdulikan ocehan gadis itu, Nick akhirnya menyemprotkan spermanya didalam liang vagina milik Hellen.

“Payah banget kamu yank, kok cepat banget keluarnya”

“Masalahnya udah gak tahan beib,” jawab Nick. “Biar aku bantuin pake lidah yah.” Lanjutnya.

“Gak usah… udah habis mau aku yank.” Ujar Hellen yang langsung berdiri menuju kamar mandi untuk bersih-bersih diri.

Tanpa Nick sadari gadis itu masih menahan birahinya yang begitu tinggi, sehingga ada kekecewaan dibenak Hellen saat ini.

“Apakah aku harus merasakan penis yang lebih kuat dari punya ayank Nick yah?” Gumam Hellen saat didalam kamar mandi.

“Apakah aku harus memaksa aa Nostra untuk melayani kebutuhan seksku saat ini? Hikz.. hikz.. hikz.. tapi apakah dia akan menerima keadaanku saat ini yang sudah tak perawan lagi? Hikz… hikz… maafkan Hellen yah a, sudah menyinyanyiakan cinta dan kasih sayangmu untukku… hikz.. hikz.” Penyesalan saat ini yang dirasakan oleh Hellen.

Apakah Mr.Nos akan menerima kenyataan bahwa tunangannya sudah tak tersegel lagi? Tunggu di update berikutnya.

Still Continue

END – Rahasia Pribadi Part 12 | Rahasia Pribadi Part 12 – END

(Rahasia Pribadi Part 11)Sebelumnya | Selanjutnya(Rahasia Pribadi Part 13)