Rahasia Gelap Part 9

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34

Cerita Sex Dewasa Rahasia Gelap Part 9 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Rahasia Gelap Part 8

Project: START

——————————-
“Ibu….” Hanya itu yang bisa aku katakan ketika lelaki itu menarikku.
Kulihat air mata mengalir dari mata beningnya ketika mobil kami perlahan menjauh.
“Ibu…ibuu… aku gak mau pergi, aku mau ibu,huhuhu…” Ratapku kepada lelaki yang menarikku tadi.
“Sudahlah nak, tak ada gunanya kau menangisi ibumu, mulai saat ini kami keluargamu” Kata seorang wanita cantik yang duduk didepanku.
“Ini untukmu…” Katanya seraya memberikan sebatang coklat padaku.
Wajahnya yang cantik dengan pakaian sederhana.
Aku ragu.
“Tidak usah ragu, ini ada temanmu” Katanya seraya menunjuk seorang anak kecil.
Anak kecil dengan mata hitam dan lesung pipit dipipinya.
——————————–

Andri POV

“Huaaaaaaahhhmmmmmmm” Dengan malas kurentangkan tangan di apartemen.

Iya, apartemenku.

Aku belum sempat membawa perlengkapanku kemessnya Frans. Jadinya untuk sementara aku tetap tinggal diapartemen.

Kulihat keluar dari sela-sela jendela dan matahari belum menampakkan dirinya. Belum ada sinarnya yang biasanya membangunkanku dari tidur. Dengan malas aku bangun dan duduk diranjang.

Kuingat percakapanku kemarin dengan Frans.

“Gimana kontraknya Frans?” Tanyaku ketika baru saja aku melangkah dari messnya si-celana-dalam-putih.

“Sudah beres boss, cuma ada beberapa revisi kecil saja, nanti kucek sama Edy, mungkin besok sudah bisa ditandatangani.”

“Good, besok setelah meeting aku mau ke Semarang Frans” Terangku.

“Ngapain Ndrii?

“Mau ngecek lokasi pabrik, alur produksi dan sistem kerja disana, biar kita punya data untuk sistem yang akan kita buat”

“Sama siapa? Mbak Lidya?” Tanya Frans sambil tersenyum penuh arti.

“Belum tahu, mungkin aku akan tanya dia besok, ngapain lu senyum-senyum?” Kataku heran melihat Frans tersenyum dari tadi.

“Hehehe… ada aja boss, kalau pergi jangan ajak Lisa ya?” Katanya lagi.

“Sialan lu, ada mulus sedikit aja lu embat” Kataku sambil menekan tombol lift.

“Eh, mau ke mess apa ke kantor lu Frans?”

“Kantor aja boss, kerjain ini dulu” Katanya sambil menunjukkan map kontrak kami dengan Delta Company.

Aku menekan tombol kelantai satu.

“Ehhhh,,, Lisa jadi target lu Frans? ” Tanyaku.

“Hehehe,,, kayaknya boss” Jawabnya sambil nyengir.

“Roger that, be professional saja nanti” Lanjutku.

“Roger that” Jawab Frans.

Kami berjalan dalam diam sampai di lobi.

“Frans aku mau pulang lebih awal hari ini. Besok biar bisa fit kalau jadi berangkat ke Semarang.”

“Siippp boss, nanti aku sms atau telepon kalau ada something urgent” Kata Frans sambil melangkah kekantornya.

Huffttt,,, hari yang melelahkan.

Pikirku sambil melangkah menuju basement.

Kuambil mobilku dan menuju ke apartemen.
Sesampainya di apartemen aku langsung menuju keparkir. Kubuka pintu mobil ketika sebuah tas mungil terlihat teronggok di tempat duduk belakang.

Dengan penasaran kuambil tas itu dan kulihat isinya.

Sebuah celana dalam putih mini dan sebuah bra putih!

Dengan penasaran kulihat size di bra itu.

32 B

Tidak terlalu kecil juga pikirku.

Pasti milik si-celana-dalam-putih yang baru dibeli tadi pikirku sambil melangkah masuk kedalam mobil untuk mengantar tas ini kemessnya.

Tunggu dulu.

Kalau tidak kuantar sekarang, berarti besok pagi dia gak punya ganti?

Beberapa pikiran mesum melintas diotakku yang sayangnya terisi dengan sel-sel abu-abu yang ditakdirkan mesum.
Tapi kalau tidak kuantar, mungkin dia tidak bisa ikut rapat!
Antar sekarang saja pikirku.

Tunggu dulu!

Kalau kuantar besok pagi, ada kemungkinan melihatnya dalam keadaan baru bangun!

Dan seperti biasa, keinginan buruk-baca mesum-ku menang.

Kuantar besok pagi-pagi sekali pikirku sambil berbalik menuju apartemenku.

Senyum tak kuasa menghiasi wajahku ketika membayangkan kejadian kemarin. Kulirik kemeja dan terlihat tas yang kemarin aku ambil dari jok belakang mobil.

Dengan senyum dibibir akau menuju kamar mandi dan memulai rutinitas pagi hari ini.

Pukul tujuh kurang aku berangkat menuju kantor dengan tas mungil dijok samping tempat dudukku. Pemikiran melihat si-celana-dalam-putih tanpa makeup dan mukanya dipagi hari membuatku bersemangat. Tak terasa aku sudah sampai di kantor. Kuparkir mobil dibasement dan menuju kemess si-celana-dalam-putih.

Aku ketuk pintu mess si-celana-dalam-putih dengan sedikit berdebar-debar membayangkan penampilan si-celana-dalam-putih atau si-mungil dipagi hari.

“Tok.tok.tok..”

Kutunggu sebentar namun belum juga ada jawaban. Kuketuk pintunya, kali ini dengan lebih keras.

“Tokkk..tokkk..tokkk..”

“Tokkk..tokkk..tokkk..”.

Krieetttt…..

Pintu terbuka dengan pelan.
Pemandangan didepanku membuatku terperangah.

Si-celana-dalam-putih!

Dengan rambut basah yang tergerai bebas dipundaknya. Tangannya masih menyeka sebagian rambutnya yang basah. Badannya terbungkus oleh selimut!

Selimut?

Dan…

Oh shit!

Dan belahan dadanya mengintip dengan malu-malu dari bagian atas selimut yang tidak secara sempurna melilit tubuhnya.

Untuk kesekian kalinya aku menelan ludah melihat penampilannya.

‚ÄčKulihat matanya dan sepeti biasa pandangan marah dan malu terlihat disana.

“Mbak,.. Eh… Cuma mau nganter ini” Kataku sambil menunjuk ke tas kecil yang kubawa.

Sejenak kulihat ekspresi bingung dimatanya sebelum berganti dengan ekspresi malu.

Wajahnya perlahan merona merah.

“Eh, makasi mas, tapi…” Dia melihat kebelakang dan kearahku. Kurasa dia bingung mau menyilahkanku masuk atau tidak.

“Silahkan masuk dulu mas” Katanya, ragu.

“Gak usah mbak, saya mau ke kantor dulu, siapin bahan presentasi buat nanti” Sahutku sambil tersenyum.

Sopan santun oh sopan santun.

“Mari mbak” Lanjutku sambil berjalan menuju lift.

Kutarik nafas dalam-dalam sambil berjalan.

Moment yang bagus untuk mengawali hari, pikirku.

Lidya POV

Lagi.

Lagi dan lagi.

Kenapa si-mata-keranjang selalu berada disaat yang tidak tepat. Dengan melihat atau membawa sesuatu yang memalukan. Kenangku mengingat dari awal pertemuan kami begitu banyak kejadian yang ‘memalukan’ terjadi.

Pandangan matanya tadi membuatku merinding. Seperti pandangan mata pemangsa melihat hewan buruannya.

“Hihihi, ngapain mbak pake selimut?” Tegur Lisa dari belakangku.

Kuberbalik dan melihat Lisa yang telanjang. Tubuhnya terlihat segar sehabis mandi.

“Ada tamu tadi Lis” Kataku sambil meletakkan tas pakain dalamku dimeja dan membuka selimut yang membungkus tubuhku.

“Siapa mbak?” Tanya Lisa sambil mengoleskan lotion di badannya.

“Si-mata-keranjang” jawabku pendek.

“Ngapain dia kesini pagi-pagi mbak?” Tanya Lisa sambil tersenyum jahil. Tangannya masih sibuk mengoleskan lotion ke seluruh badannya.

“Eh, bawain pakain dalam mbak yang mbak beli kemarin dengannya, ketinggalan di mobilnya” Sahutku dengan sedikit pelan.

“Hah? Hahaha, pasti ngiler dia dengan pilihan pakain dalam mbak, berani taruhan dia dah tahu size mbak sekarang, hahaha” Tawa lepas Lisa tak urung membuatku malu.

Benar juga!

Sialan, dia pasti tertawa melihat ukuran dadaku.

Dengan refleks aku melihat dadaku yang tidak terlalu besar.

“Hihihi, dada mbak bagus kok, dia pasti ngiler kalau tahu gimana bagusnya tubuh mbak” Puji Lisa sambil memandangku penuh arti.

Kupandangi Lisa yang sedang berdiri.

Kupandangi bagian bawah tubuhnya yang tadi memberikan kenikmatan bagiku.

“Eh, kamu punya tatto Lis?” Seruku melihat tatto mungil di bagian atas vaginanya.

“Hihihi,, iya mbak, iseng dulu” Katanya sambil memakai sebuah G-string berwarna merah menyala.

Seksi.

Dipadu dengan bra putih. Lisa masih terlihat seperti anak SMA saja.

“Mbak, di kulkas ada roti tawar, kayanya G-Team nyediain buat kita yang kelaparan” Seru Lisa.

“Mbak ambil dulu ya” Kataku sambil mengambil sarapan kami hari itu.

Masih telanjang tentu saja.

“Teman-teman dah diperjalanan mbak, mungkin lagi setengah jam sudah nyampe” Kata Lisa ketika kami sarapan.

“Berarti kita bisa langsung meeting dengan G-Team nanti, sekalian bagi tugas” Kataku.

“Oh iya mbak, siapa yang akan melihat proses produksi dan meninjau pabrik Alfa Medika”

“Mbak belum tau Lis, rasanya antara mbak dan si-mata-keranjang” Jawabku. Aku membawa perlengkapan sarapan kami dan mulai memakai pakain.

Kupakai celana dalam putih mini yang baru aku beli. Terlihat pas ditubuhku, menutup dengan sempurna vaginaku.

Bra yang kubeli dengan terburu-buru pun terasa pas didadaku.

Blouse dan rok sebagai pakaian kerja hari ini pun kupakai.

Kuperhatikan Lisa, dia mengenakan pakain yang hampir sama denganku, cuma bedanya dia mengenakan rok mini yang beberapa cm diatas lutut.

“Dah siap Lis? Mbak mau berangkat sekarang?” Ujarku.

“Oke, ayo mbak”.

Andri POV.

Bayangan si-celana-dalam-putih masih menghantuiku sampai diruanganku.

Huft…

Lets begin!

“Lin, bisa bawakan schedule untuk hari ini?” Pintaku pada Erlina via telepon.

“Iya pak, saya antar sekarang keruangan bapak” Katanya.

“Ada perlu yang lain pak?” Lanjutnya.

“Tidak Lin, itu saja” Sahutku sambil meletakkan telepon.

“Pak ini schedule hari ini dan dua hari kedepan” Kata Erlina sambil menyerahkan sebuah map.

Kuterima map yang diberikan Erlina dan mulai membacanya.

“Well, tidak ada kegiatan yang mndesak untuk besok dan lagi dua hari?” Kataku setelah selesai membaca schedule yang diberikan Erlina.

“Tidak ada pak” Sahut Erlina.

“Mungkin aku besok dan lusa mau ke Semarang Lin, lihat pabrik dari Alfa Medika” Terangku pada Erlina.
“Kalau ada meeting atau hal lain, pindahkan ke hari yang lain ya?”

“Baik pak, kalau tidak ada lagi saya balik dulu pak” Tanyanya.

“Gak ada Lin, thanks ya”.

Hmmm, sekarang saatnya menghubungi Raisa, pikirku.

Kulihat kartu nama Raisa sebentar :

Raisa Firmansyah
Sekretaris
Email : [email protected]
Mobile : 0123 4567 8911

Kuketik sebuah sms kepadanya.
To : Raisa Firmansyah
Is, nanti siang bisa kepabrik? Sorry pemberitahuannya mendadak.
Thanks,
Andri

Beberapa menit kemudian, sebuah sms masuk.

From : Raisa Firmansyah
Bisa mas, cuma lokasinya agak jauh mas, kalau satu hari mungkin kurang cukup waktunya, mau nginep mas?
Raisa

Hmmm, kalau pakai pesawat mungkin bisa sampai Semarang sebelum malam. Tapi kalau sekalian ngetes jalur tranportasinya, sekitar 8 jam perlu waktu lewat darat.

Dan tawaran menginap dari Raisa rasanya sayang untuk dilewatkan.

To : Raisa Firmansyah
Kalau pakai mobil bagaimana Is? Sekalian aku mau ngetes rute tranportasi dari Jakarta-Semarang dan sebaliknya. Tapi kalau Is keberatan, Is berangkat lewat udara, aku lewat darat. Gimana?
Thanks,
Andri

Kalau sendirian, lumayan juga kalau harus ke Semarang.
Hmm, kalau si-celana-dalam-putih mau bareng gak ya?

From : Raisa Firmansyah
Lewat darat aja mas, sekalian lihat pemandangan. Mas sendirian aja ne?
Jam berapa mau berangkat mas?
Raisa

Not bad.

Berduaan dengan Raisa, dalam satu mobil!

To : Raisa Firmansyah
Berdua sama Is saja. Hmm,, mas masih ada rapat hari ini. Nanti mas hubungi? Bagaimana?
Thanks,
Andri

From : Raisa Firmansyah
Oke mas, jangan lama-lama rapatnya ya..
Raisa

Oke, satu masalah selesai. Sekarang persiapan rapat dengan Delta Company.

Tapi apakah tim mereka sudah datang? Jam di handphoneku sudah menunjukkan pukul 09.00

“Tok.tok.tok”

Terdengar ketukan dipintu.

“Masuk”

“Pagi Ndrii” Sapa Edy sambil tersenyum

“Pagi Dy, duduk dulu” Sahutku sambil menunjuk ke kursi didepan meja kerjaku.

“Kudengar dari Frans, kontrak kita dengan Delta Company sudah hampir rampung, dia masih keruangannya tadi, ngambil map” Terangnya.

“Dan dari pandanganku, kontrak itu sudah beres” Lanjutnya.

“Baguslah Dy, kalau itu sudah selesai kita bisa mulai mengerjakan proyek ini. Oh ia, mungkin sore ini aku berangkat ke Semarang, mau ngetes jarak tranportasi dari sini kepabrik Alfa Medika ”

“Sama siapa berangkat Ndri?” Tanya Edy.

“Sendiri, mungkin nanti sama sekretaris Pak Tony” Jawabku.

“Kring…kring…kring” Telepon dimejaku berbunyi.

“Halo, selamat pagi”.

“Selamat pagi pak, Ini Erlina, ada telepon dari Frida di Front Office”

“Sambungkan Lin”

Hening sejenak sebelum terdengar suara Frida di telepon.

“Selamat pagi pak, tim dari Delta Company sudah datang, bagaimana pak?”

“Minta security dan CS untuk membantu menurunkan barang mereka, aku turun sekarang”.

“Baik pak” Jawab Frida sambil menutup telepon.

“Dy, aku kebawah dulu ya”

“Oke Ndrii, aku tunggu diruang rapat” Sahut Edy sambil berjalan menuju ruang rapat.

“Lin, siapin ruang rapat ya, konsumsi untuk rapat sekarang sudah ada?” Tanyaku pada Erlina.

“Sudah pak, saya cek lagi sekarang pak?”

“Iya, tolong ya Lin”

Aku berjalan menuju lobi, disana kulihat si-celana-dalam-putih dan si-mungil sedang berbincang-bincang dengan beberapa orang, yang kuduga, anggota dari Delta Company.

“Mas, bisa langsung bawa barang-barang nya ke mess?” Tanya si-mungil, sebelum aku bisa menyapa mereka.

“Boleh Mbak, barang-barang pribadi bisa langsung dibawa ke mess, kalau perlengkapan komputer dan yang lain,
bisa langsung dibawa ke ruang kerja”

“Sebentar mbak” Kataku sambil mendekat ke lobi.

“Frid, minta Guzur dan tim kesini, bilang teman-teman dari Delta Company sudah datang, biar dia bisa bantu
setting perlengkapan untuk mereka” Pintaku pada Frida.

“Baik pak” Jawab Frida sebelum mengambil pesawat telepon.

Kulihat tim security dan cleaning service sudah berada diparkiran.

“Rekan-rekan semua, tolong bantu bawa barang mereka kemess dulu ya, nanti tunggu komando pak Guzur untuk perlengkapan komputernya.” Pintaku pada staff security dan cleaning service.

Hampir satu jam lamanya kami perlu waktu untuk memindahkan semua perlengkapan tim Delta.
Hari sudah beranjak siang dan panas mentari sudah semakin terasa.

Kulihat si-celana-dalam-putih sedikit berkeringat, rambut-rambut halus menempel didahinya.

Kutahan keinginan kuat untuk mengusap rambut-rambut itu.

Kuhampiri si-celana-dalam-putih yang sedang berbincang dengan si-mungil.

“Mbak Lidya, mau keruangan rapat sekarang sakalian beristirahat atau bagaimana?”

“Boleh mas” Sahutnya sambil menyeka keringat didahinya.

“Kalau begitu mari mbak” Ajakku sambil menuju keruangan rapat.

Sesampai diruang rapat, kulihat Edy dan Frans sudah ada disana. Juga Erlina, dan semua kepala bagian masing-masing.

“Teman-teman dari Delta, silahkan istirahat dulu, kita mulai meeting 30menit lagi” Terangku pada semuanya.

“Mbak Lidya, bisa keluar sebentar?” Pintaku yang dijawab dengan pandangan bingung darinya.

Tapi dengan perlahan dia mengikutiku keluar.

“Mbak, aku nanti siang atau sore mau ke Semarang, ke pabriknya Alfa Medika, mbak yang handle disini sementara aku pergi ya?”

“Hmmm, boleh mas, tapi tim yang lain bagaimana?”

“Timku nanti dihandle Edy, untuk setiap bagian nanti ada kepala bagian masing-masing yang bisa bekerja secara terpisah atau dalam satu tim” Terangku.

“Untuk tim kerja, bagaiamana kalau kita serahkan kepada rekan-rekan saja? Biar mereka yang menentukan bagaimana baiknya. Biar tidak tertekan nanti”.

“Kalau itu tidak bisa, kita tentukan bagaiamana cara kerja mereka nanti” Lanjutku.

“Hmm, rasanya bisa, kalau tidak bisa, aku yang handle nanti?” Jawab si-celana-dalam-putih.

“Boleh juga mbak, kalau begitu deal, nanti kita jelaskan semua kepada mereka”

“Oke mas, ayo kita masuk dulu” Katanya, seolah takut berduaan denganku.

“Mari mbak” Sahutku sambil mengikutinya dari belakang.

And well, pantat itu masih terlihat menantang!

Satu jam kemudian…

“Jadi untuk rapat hari ini kita akhiri sampai disini, dari sekarang, proyek ini akan saya dan Mbak Lidya handle bersama, dibantu Pak Edy, Frans dan Mbak Lisa, kalau ada pertanyaan atau keluhan, jangan ragu menyampaikannya, sekarang saatnya untuk makan siang” Tutupku mengakhiri rapat hari ini.

“Lin, antar teman-teman ke kantin ya”

“Baik pak” Sahut Erlina.

Sekarang hanya tersisa aku, Frans, Edy, si-celana-dalam-putih dan si-mungil.

“Seperti pembicaraan kita sebelumnya, Mbak Lidya nanti handle disini selama aku berangkat ke Semarang, kalau perlu bantuan ada Edy Dan Frans yang bisa membantu” Kataku sambil menoleh kearah si-celana-dalam-putih, yang dijawab dengan anggukan kepalanya.

“Kalau begitu, saatnya makan siang” Dan kami semuapun menuju kantin dengan Edy sebagai penunjuk jalan.
Kudekati Frans dan bertanya.

“Frans, pinjam mobilmu ya, buat ke Semarang nanti, hujan-hujan biar aman dijalan”

“Beres boss, yang penting pulang isi bensin full ya” Cengirnya.

“Eh, bersihin dulu, masih ada perlengkapan camping adikku disana” Lanjutnya.

“Iya-iya” sahutku sambil berjalan.

Kulihat kantin masih full.
Hanya dua meja yang kosong, itupun disatu meja sudah ada Guzur yang menempati.

‚ÄčIt’s lunch time.

Ku mengantri dibelakang si-celana-dalam-putih.

Sengaja..

Dan hasilnya segera, dimana aku bisa melihat dengan jelas pantat sekalnya yang sedari awal sudah menggodaku.

Selesai mendapatkan porsi makan siang hari ini, aku mencari-cari meja yang kosong. Dan kulihat hanya satu meja yang kosong.

And well, it’s my lucky day.

Si-celana-dalam-putih yang duduk disana.

Bersambung