Rahasia Gelap Part 8

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34

Cerita Sex Dewasa Rahasia Gelap Part 8 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Rahasia Gelap Part 7

A SWEET LONG NIGHT

——————————————–

Apa yang kutakutkan akan segera terjadi.
Akan siapkah aku menghadapi?
Kejujuran yang mungkin berbuah tragedi.
Pasrah atau tidakpun akan berujung mati.
Namun ku tak kan hanya diam menanti.
Walau ku mati.
Masih ada generasi lain menanti.

———————————————

Biseksual.

Biseksual!!!

Sejenak otakku merasa bingung dengan fakta yang kudengar.

Sekilas aku merasa ragu dengan kebenaran dari perkataan Lisa.

Kutatap matanya dan kulihat kejujuran disana. Mata yang mulai mengelam dan kulihat api birahi mulai muncul disana.

“Ehhhh… Lis, jangan bercanda” Kataku sedikit gemetar.

“Mau bukti mbak?” Katanya sambil mendekat.

Aku terhuyung kebelakang, sampai pantatku menyentuh dinding pembatas ruang tidur dan kamar mandi. Perasaan malu, tegang dan bingung bercampur menjadi satu.

“Hihihi, wajah mbak lucu banget deh kalau lagi bingung gitu” Kata Lisa sambil melangkah mundur.

“Cuma becanda kok mbak” Lanjutnya.

“Huffttt, kamu bikin mbak jantungan aja Lis” Tegurku sedikit ragu.

“Hihihi, habis mbak tegang banget dari pagi, rileks aja mbak” Kata Lisa.

Benar juga, hari ini sudah terlalu banyak kejadian yang menguras tenaga dan membuatku lapar.

Lapar.

“Eh, kamu lapar ndak Lis? Mbak mau pesan makanan cepat saji dulu”Tanyaku pada Lisa.

“Aku sudah pesan mbak, untuk mbak juga, mbak keasikan berendam tadi, gak nyahut waktu kupanggil-panggil tadi” Terang Lisa yang membuatku malu.

“Giliran Lisa yang mandi dulu ya mbak” Lanjutnya

“Iya Lis, thanks ya” Kataku sambil memakai baju tidur babydoll yang baru kubeli.

Tanpa pakaian dalam.

Semoga tidak ada tamu hari ini.

Baju tidur ini cukup tipis, sehingga putting payudaraku terlihat menerawang.
Untung aku sempat mencukur rambut kemaluanku sehingga tidak tersisa.

Kalau tidak pasti akan terlihat dari balik baju tidur ini. Pikirku.

Aku menuju ruang tamu dan melihat bungkus pizza dimeja. Kubuka dan bisa kulihat beberapa slice pizza tersisa. Kuambil satu dan mulai makan malam.

Aku menuju pintu dan menguncinya.
Untung si-mata-keranjang meninggalkan kunci pintu mess, pikirku.

Kuteringat koleksi buku bacaan si-mata-keranjang.

Aku beranjak menuju lemari bukunya dengan koleksi yang cukup aneh. Karena berjejer buku detektif seperti Sherlock Holmes karya Sir Arthur Conan Doyle, seri Poirot-nya Agatha Christie, namun ada juga Novel Harlequin juga serta beberapa komik Detective Conan dan Dragon Ball.

Koleksi yang aneh!

Aku ambil sebuah novel Harlequin, sepotong pizza dan mulai menikmati keduanya di sofa ruang tamu.
Lima belas menit berlalu dan paduan antara kekenyangan dan membaca buku membuat mataku mengantuk.
Aku hanya bertahan lima menit lagi sebelum terbang kealam mimpi…


Aku merasa geli di puting payudaraku.

Dan pelan rasa itu berpindah ke bawah, menyusuri lekukan perutku, berpindah kedaerah dalam paha…

Rasa geli itu kemudian berganti rasa hangat basah ketika mendekati belahan vaginaku.

Pelan tapi pasti, rasa itu mendekati bagian sensitif di vaginaku.

Please..

Daerah itu…

Namun seolah tak mau mengerti, rasa hangat dan basah itu hanya memainkan bagian luar vaginaku dan sesekali beralih ke bagian perut dan bermain-main ke paha bagian dalam.

Pelan tapi pasti api birahi mulai menggelitik kedalam diriku, vaginaku terasa semakin lembab.
Rasa hangat dan basah itu kembali menuju ke vaginaku dan berlama-lama di bibir luar vaginaku yang terasa begitu sensitif sekarang.

Please.

Sekarang rasa itu dengan lembut mencium daerah sensitif dilipatan atas vaginaku.

Rasa gatal yang sedari tadi ada semakin memuncak!

Perasaan nikmat mulai menjalar kesetiap bagian saraf ditubuhku sebelum rasanya berkumpul didaerah klitoris yang kurasakan mulai membesar.

Rasa gatal didinding vaginaku semakin menjadi.

Kugerakkan pahaku supaya klitorisku bisa bergesekan dan akhirnya rasa itu tak bisa kutahan.

“Hah..hah..hah” Aku terbangun dengan nanar.

Antara sadar dan tidak kuraba badanku.

Pakaianku masih menempel di badan.

Apakah yang tadi mimpi? Pikirku.

Kalau mimpi kenapa terasa begitu intens?

Kuraba bagian bawah tubuhku dan bisa kurasakan vaginaku terasa basah.

Apakah aku mimpi basah?

Setelah sekian lama?

Dengan kepala sedikit pening, api birahi yang masih tersisa aku beranjak menuju beranda. Namun sebelum sampai beranda aku dengar suara desisan pelan yang bercampur dengan suara air yang mengalir dari kamar mandi.

Apa Lisa masih mandi?

Dengan perlahan aku menuju kamar tidur lalu dengan sedikit berjingkat aku melangkah kekamar mandi. Suara itu perlahan semakin keras terdengar.

“Ughhtt..ahh”

“Nggguunnngggg”

Suara desahan bercampur dengan suara dengungan mekanik terdengar dari balik pintu kamar mandi.

Aku teringat dengan dua buah benda yang terjatuh dari handuk Lisa dan seketika aku mengerti apa yang ada dibalik pintu itu.

Dengan wajah memanas aku melangkah keluar dari kamar dan berjalan keberanda.

Dinginnya malam pertama di ibukota negara ini menyambutku.

Bisa kulihat lampu-lampu dari gedung-gedung seperti ribuan kunang-kunang yang menghiasi malam.
Aku duduk disalah satu kursi yang ada diberanda. Dari sini aku bisa melihat bangunan perusahaan G-Team.

Apakah si-mata-keranjang ada dibawah? Pikirku.

Aduh!

Kenapa malah aku berpikir tentang dia?!

Pasti gara-gara novel harlequin yang aku baca tadi.

“Mbak Lidya, mbak” Samar aku dengar suara Lisa dari kamar mandi.

“Iya Lis” Sahutku sambil melangkah kekamar mandi.

“Bisa ambilin handuknya mbak? ” Kata Lisa dari pintu kamar mandi yang setengah terbuka.

“Iya Lis” Kataku sambil mengambil handuk yang tadi kuletakkan di dekat ruag tamu.

“Ini Lis” Kataku sambil menyerahkan handuk kearah Lisa yang telanjang.

Iya, telanjang bulat.

Kuamati tubuh sekretarisku ini.

Mungil.

Hanya itu definisi yang bisa aku dapatkan untuk dirinya.

Payudaranya mungil, mungkin hanya sebesar buah apel. Namun membulat dengan indah dan terlihat begitu indah menggantung di dadanya.
Kulihat kebawah dah..

Woww…

Bisa kulihat rambut kemaluannya dicukur rapi, sangat indah.

“Wah, badanmu juga bagus sekali Lis” Pujiku dengan jujur.

“Ah, masih bagusan punya mbak kok…Eh, jangan lama-lama diliatin mbak, nanti kepengen lho,hihihihi” Lanjutnya jahil.

“Yeee,,,, sapa juga” Elakku sambil melangkah keluar dari kamar mandi.

Kembali aku menuju keruang tamu, kuambil novel yang tergeletak disamping sofa dan melanjutkan membaca.

“Baca apa mbak?” Tanya Lisa.

Kulihat dia mengenakan kimono tipis berwarna putih.

“Novel Harlequin Lis, koleksinya si-mata-keranjang” Jawabku.

“Hah, Harlequin? Gak salah tuh mbak?” Katanya sambil duduk disampingku dan menyalakan televisi.

“Iya, koleksi antara detektif dan romantis, entah punya dia atau siapa” Jawabku.

“Mungkin punya pacarnya kali mbak” Jawab Lisa.

Pacar?

Entah kenapa bayangan si-mata-keranjang bersama seorang wanita membuatku sedikit merasa aneh.

“Gimana kontraknya tadi Lis?” Tanyaku, mengalihkan pikiranku dari si-mata-keranjang.

“Sudah selesai bahasnya mbak, tinggal mbak baca ulang nanti, ada beberpa poin yang aku minta sedikit diubah, kalau sudah selesai diubah Mas Frans, mungkin
besok bisa ditandatangani mbak” Sahutnya.

“Bagus deh kalau begitu, berarti besok kita sudah bisa fokus memulai proyeknya” Jawabku.

“Untuk besok, tranportasi rekan-rekan sudah kamu siapkan Lis?”

“Sudah mbak, besok pagi-pagi mereka akan berangkat kesini” Terang Lisa.

Kami lanjut membaca dan menonton dalam diam.

Hampir satu jam lamanya sebelum Lisa mematikan TV dan beranjak menuju kamar.

“Aku tidur duluan ya mbak, gak ada acara yang bagus” Katanya

“Iya Lis, mbak juga mau istrahat nanti, masih nanggung baca ini”

“Duluan ya mbak” Katanya sambil melangkah ke kamar tidur.

Aku lanjutkan membaca novel sampai selesai.

“Huahmmm…HUffttt, hari yang melelahkan”

Kuletakkan novel yang baru selesai aku baca ditempatnya.

Lumayan banyak juga koleksi si-mata-keranjang. Pikirku sambil mematikan lampu diruangan tamu.

Waktunya istirahat.

Kulihat diranjang Lisa meringkuk sambil memeluk guling.

Kimono yang melekat ditubuhnya tersingkap kemana-mana, sehingga memperlihatkan lekuk tubuh mungilnya.

Mungil dan cantik.

Paduan yang akan membuat setiap laki-laki menolah kepadanya.

Dari belakang bisa kulihat vagina merah mudanya terpangpang karena empunya sedang memeluk guling.

Sebagai wanita pun aku merasa bergairah melihat vaginanya. Apalagi pria!

Membayangkan dia bercinta dengan seorang gadis membuatku tercekat.

Apa benar dia biseksual?

Pikirku sambil mengambil tempat disebelahnya.

Perlahan kupejamkan mata dan menuju kealam mimpi.

Lagi!

Rasa itu datang lagi.

Sekarang rasanya semakin intens!

Perlahan rasa itu menuju ke putingku, bermain-main disana.

Turun menuju perutku dan bermain-main sebentar dipusarku. Kemudian rasa hangat itu berganti menjadi basah ketika turun kepaha bagian dalamku, sebelum berlabuh di vagina.

Pelan.

Sungguh pelan.

Hangat dan basah.

Rasa itu bermain-main di bibir vaginaku, sesekali bisa kurasakan perasaan hangat pelan dibagian klitoris.

Nikmat.

Sungguh Nikmat.

Pelan tapi pasti perasaan nikmat itu berkumpul menjadi satu.

Tapi..

Rasa itu berhenti ketika sedetik lagi aku mendapat puncak kenikmatan itu!

“Hah..hah…hah….” Dengan terengah aku bangun.

Orgasme yang tertunda ini membuat seluruh tubuhku dilanda nafsu birahi yang tinggi.

Kulirik kebawah dan dua buah mata yang penuh gairah balik memandangku.

Lisa!

‚Äč

“Lis…kita..ufggtt” Suaraku dihentikan dengan ciuman pelannya ke bagian atas vaginaku.

Aku berusaha mencegah kepalanya menciumi bagian intimku.

Tapi itu terlalu lemah.

Sangat lemah.

“Hhhmmpp… Lis…sstt…hhmmpp…”, desisku.

Lisa terus mencium bagian atas vaginaku dengan hangat. Jari-jari Lisa yang lentik bermain menyusuri paha bagian dalamku. Sentuhan Lisa lembut, namun begitu terasa. Hal itu membuat gairahku naik dengan cepat.

Tak kupedulikan lagi rasa malu yang tadi sempat timbul dalam benakku.

Tak kupedulikan lagi aku melakukannya dengan seorang wanita!

Semua itu kulupakan. Rasa malu itu. Kini berganti dengan tuntutan naluri alamai seorang wanita yang menginginkan kepuasan seksual.

Tanganku yang tadi berusaha menjauhkan kepalanya, malah berusaha mendekatkan kepalanya ke vaginaku.

“Lis… mmmm….aahhhh……”, desisku saat Lisa kembali memainkan lidah dan bibirnya dengan lebih cepat. Permainan Lisa benar-benar memberikan kenikmatan yang lain buatku. Sembari tangan kanannya membelai paha dalamku, lidahnya dengan ahli menjilati vagina dan klitorisku yang mulai membengkak. Kulihat tangan kirinya diselipkan kebagian bawah perutnya.

Lisa menjilati vaginaku sambil bermasturbasi!

Permainan lidah Lisa kali ini benar-benar memberiku kenikmatan yang lain. Lisa seakan-akan tahu bagian dari vaginaku yang perlu dimainkan dan kapan memainkannya. Mungkin karena Lisa juga seorang wanita hingga ia tahu persis apa yang kuinginkan.

Kupandangi wajah Lisa yang juga kelihatan begitu menikmati keadaan ini. Gadis cantik bertubuh mungil ini begitu telaten mencium vaginaku.

“Sllurrpp…..mmm…..”, Lisa masih terus asyik bermain di vaginaku.

Hingga aku merasa puncak kenikmatanku sudah semakin dekat.

“Aaaagghh…. Lisa… mbak …..aahhhhh……” Jeritku ketika kenikmatan ini mulai mendekati puncaknya.

“Ehmm.. iya mbak?” Sahut Lisa dengan nakal sambil menajuhkan mulutnya dari vaginaku.

Tangannya kemudia membuka tali kimononya sehingga terpangpanglah tubuh mungil dan seksinya. Aku hanya dapat menelan ludah menunggu apa yang akan dilakukannya.

Malu.

Aku malu untuk memintanya melakukan apa yang sedari tadi dilakukannya padaku.

“Hmmm,,, mbak,, lanjut?” Tanyanya dengan pelan.

Aku terlalu malu untuk menjawab.

Aku hanya bisa menganggukkan kepalaku sambil memandang kebawah.

Dengan pelan Lisa menghampiri tubuhku.

Tangannya mengangkat paha kananku dan meletakkannya diatas paha kirinya. Sementara paha kanannya diletakkan diantara perut dan kaki kiriku. Perlahan dia mendekatkan pantatnya mendekati bagian bawah tubuhku.

“Ahhhhhh, Liss….” Seruku ketika vagina kami bertemu.

Hangat dan basah….

“Ehmmmm mbak… “Serunya tertahan.

“Mbak, tangannya mbak” Pintanya sambil mengulurkan tangan.

Kusambut tangan mungil Lisa dan menggenggamnya erat.

Scissor position.

Pikirku mengingat nama posisi seperti ini.

“Mbak gerakin sama-sama ya” Pinta Lisa dengan wajah memerah menahan nafsu.

Kujawab pertanyaan Lisa dengan menggerakan pantatku sehingga otomatis vagina kami bergesekan.

“Ahhhh….Lis”

“Mmm…mbak”

Aku menggerakkan vaginaku lebih cepat. Yang dijawab dengan desahan nikmat dari Lisa.

Peluh mulai mengalir dari tubuhku seperti menjelaskan betapa panasnya persetubuhan sesama jenis yang kami lakukan.

“Mbak.hah…hah..hah…lebih cepat, Lisa mau nyampe…” Kata Lisa bercampur dengan desahannya yang semakin keras.

Aku juga merasakan orgasmeku yang tertunda mulai datang lagi. Kami menggerakkan pantat kami dengan liar, seolah berlomba mendaki puncak kenikmatan.

“Lis… mmmm….aahhhh……cepertin Lis!”Pintaku sambil juga mempercepat goyangan pantatku.

Lisa mulai bergerak tak karuan, pantatnya bergerak dengan liar, puncak kenikmatanku juga semakin dekat.

“Aaaagghh…. Lisa… aku uggh…dapet…..aahhhhh……”, jeritku saat orgasme itu datang.

Tanganku menggengam tangan Lisa dengan erat sementara pantatku terangkat keatas.

“Hhmmpp…hhmmmppp…..Lisa juga mbak..aaggghhhhhh” Jerit Lisa dengan keras.

Kami ambruk dengan nafas yang tidak beraturan.

“Hah..hah..hah…”

“Hahh..hahh…hah”

Suara nafas kami bersahutan di pagi hari ini.

Aku memandang wajah Lisa yang dipenuhi dengan titik-titik keringat.

Lisa balik memandangku dan tersenyum.

“Wah, mbak hot banget pas dapet,hihihi” Kata Lisa sambil tertawa ringan.

“Tau gini dari dulu aku ngajak mbak main” Lanjutnya sambil nyengir dengan lebar.

“Jangan kapok ntar ya mbak” Lanjutnya tanpa memberikan waktu bicara kepadaku.

“Lis…” Ragu aku untuk mengatakan apa yang ada dalam pikiranku.

“Iya mbak?”

“Aku juga suka cewek lho”.

Bersambung