Rahasia Gelap Part 7

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Tamat

Cerita Sex Dewasa Rahasia Gelap Part 7 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Rahasia Gelap Part 6

An UNLUCKY DAY FOR SOMEONE

—————————————————————————————————————————
Kenyataan selalu lebih menakutkan.
Tapi itu harus kuhadapi.
Sedikit demi sedikit aku bisa mulai mengerti penyebab semua ini.
Benang merahnya mulai terjalin.
Namun mengungkapkan semua ini.
Terselip bahaya yang akan mengintai.
Aku dan keluargaku.
Sebuah kata bijak terlintas dibenakku.
Siapa yang akan mengawasi sang pengawas?
———————————————————————————————————————————–

Andri POV

“Pak Andri” Suara si-celana-dalam-putih terdengar memanggilku dari belakang.

Dengan refleks aku berbalik.

Wowww….

Dengan blouse yang menempel ketat di badannya, ditambah lagi dengan…

Oh my god!

Rok hitam pendek!

Rok hitam yang beberapa cm diatas lutut dan sangat ketat!
Tak terasa aku menelan ludah ketika memandangnya.

“Iya Mbak Lidya?”

Sengaja kuganti panggilanku menjadi mbak, dia saja memanggilku dengan pak! Padahal usiaku kurasa tak jauh dari usianya.
Kulirik si-celana-dalam- putih.

Dan bisa kulihat dia kurang nyaman dengan pakaiannya sekarang. Beberapa kali kulihat dia berusaha menurunkan roknya.Dan tentu saja tidak terlalu berhasil!

Setidaknya aku bisa melihat pahanya lebih lama. Pikirku.

“Bisa sekarang kita melihat messnya pak? “Tanyanya ketika si mungil sudah disampingnya.

“Bisa mbak, mari ikut saya”

Dengan langkah santai aku melangkah menuju kebelakang perusahaan dimana mess perusahaan kami terletak. Mess kami bertingkat 3, dengan lantai 1 berukuran 2×3 m, kamar mandi diluar, khusus untuk yang belum berkeluarga. Lantai dua dan tiga hampir sama, dengan luas 3×4, dengan kamar mandi didalam.

Sedangkan mess untuk eksekutif terletak ditempat yang sedikit terpisah.
Menurut informasi dari Erlina yang kutelepon tadi, mess yang kosong terletak paling utara.

“Mbak, itu mess yang bisa mbak dan tim gunakan nanti”. Kataku sambil menunjuk mess yang kosong di lantai dua.

“Bisa kami lihat kesana mas?” Tanya si mungil.

“Ohh… Boleh mbak” Sahutku sambil melangkah menuju ke lantai dua. Setelah sampai didepan pintu, kulihat kunci pintu ditinggalkan di lobangnya oleh tim cleaning service.

“Lumayan luas juga mbak” Kata si mungil sambil berjalan mengitari mess.

Sementara itu si-celana-dalam-putih dengan perlahan membuka tirai jendela.

Ketika dari depan rok pendek yang dikenakannya tidak memperlihatkan pantatnya.

Tapi dari belakang…

Pantat yang membulat penuh dan tercetak jelas di balik rok yang dikenakannya sehingga garis celana dalamnyapun terlihat.

Pasti putih lagi, dan mini. Pikirku sambil membayangkan celana dalam yang terapung di parkiran tadi.

“Ehemm” Suara dehemen pelan dari si mungil membuyarkan lamunanku.

Kupandang wajahnya untuk melihat senyuman jahil dan pandangan aku-tahu-apa-yang-kau-lihat-dan-yang-kau-bayangkan.

Aku hanya bisa nyengir memandangnya.

“Kurasa kita bisa tinggal disini Lis” kata si-celana-dalam-putih sambil menuju kekamar mandi.

“Kamar mandinya juga lumayan luas” Sambungnya.

“Mess yang lain disebelah mana mas?” Tanya si-celana-dalam-putih.

Tunggu.

Ada yang salah rasanya?

Apa baru saja dia bilang mas? Well, ada progress juga pikirku.

“Mess yang lain di sebelah mbak, berderet empat ke utara dari mess ini” sahutku.

“Empat? Kalau tidak salah mas bilang ada lima tadi ditelepon?” Tanya si-celana-dalam-putih sambil menaikkan alisnya.

“Semuanya lima mbak, yang lagi satu agak terpisah. Mess karyawannya tinggal empat, jadi mbak dan tim pakai mess eksekutif lagi satu mbak” Terangku.

“Nggak apa-apa nih kami memakai mess eksekutif?” Tanya si-mungil.

“Nggak apa-apa kok mbak” sahutku sambil tersenyum. Sementara si-celana-dalam-putih terlihat termenung.

“Mari mbak, saya antar melihat yang lain” Kataku sambil melangkah keluar ruangan.

Kami melihat ruangan yang lain dengan cepat karena model bangunan yang sama.

“Mari saya antar melihat mess yang lagi satu” Saranku ketika kami sudah selesai melihat mess yang keempat.

Kami berjalan dalam diam, mess eksekutif terletak sedikit kearah utara. Dengan luas 10×6 m setiap kamar. Interior nya lumayan berbeda dari mess staff. Ada sofa dan TV di setiap kamar, juga ada shower dan bathub dikamar mandi yang jadi satu dengan ruang tidur. Juga ada beranda di depan masing ruangan. Sedangkan untuk akses turun dan naik ada sebuah lift khusus. Selama ini aku, Frans, Edy menempati mess yang terpisah dari total 3 mess eksekutif yang ada.

“Ini mess eksekutif nya mbak, untuk ruangan mbak ada paling atas” kataku seraya menuju lift.

“Mas Andri tinggal di mess sini ya?” Tanya si-mungil Lisa.

“Kadang-kadang saja mbak, lebih banyak di apartemen mbak”

“Siapa aja yang tinggal di mess ini mas?” Lanjut si mungil.

“Saya, Frans dan Edy, kami bertiga, walaupun jarang berada disini” sahutku sambil keluar dari lift dan menuju messku.

Kukeluarkan kunci pintu mess.

Eh, tunggu dulu, ada barang-barang “terlarang” di dalam apa tidak ya? Aku berpikir sebelum membuka pintu.
Semoga saja tidak ada.

“Mari mbak, silahkan masuk” Seruku kepada mereka berdua.

“Wah, ruangannya luas juga ya mbak” Kata si mungil kepada si-celana-dalam-putih.

“Ada berandanya juga” Serunya ketika melihat kedepan.

Kulihat sekeliling dan melihat si-celana-dalam-putih sedang melihat koleksi buku bacaanku.

“Kalau mau baca silahkan” Tegurku.

“Eh,, iya,,mas” Serunya sedikit gugup.

“Mbak, ada shower dan bathubnya juga mbak, asikkk…” Seru si-mungil dari dalam kamar mandi.

Gadis yang ceria, pikirku.

“Maaf mas, Lisa memang aktif” Bisik si-celana-dalam-putih.

“Gag apa-apa kok mbak” Sahutku sambil tersenyum.

Kulihat kesamping dan untuk pertama kalinya aku melihat senyum lepas di wajahnya. Senyum yang hanya sekian detik sebelum berganti dengan raut wajah datar.

Senyum yang indah.

“Mas, untuk perjanjian kerjasama dengan perusahan kami bagaimana?” Tanya si-mungil yang entah muncul dari mana.

“Team kami sedang mempersiapkannya sekarang, kalau mbak mau melihatnya sekarang, boleh juga?” jawabku.

“Bagaimana mbak?” Tanya si-mungil kepada si-celana-dalam-putih.

“Kalau tidak merepotkan boleh juga” Jawab si-celana-dalam-putih.

“Mau mengerjakannya disini atau di ruangan saya?” Saranku, sambil melihat mereka berdua.

“Kalau boleh, disini saja mas”
“Oke, tunggu sebentar ya” sahutku sambil menuju telepon.

“Halo selamat sore, Erlina G-Team bisa dibantu?” Suara Erlina terdengar diujung telepon.

“Sore lin, bisa bicara dengan Frans dan Edy?”

“Pak Edy sedang keluar pak, ada meeting dengan klien. Pak Frans ada pak, saya sambungkan sekarang?”

“Boleh Lin”.

“Tunggu sebentar pak”.

Setelah hening sejenak, terdengar suara Frans diujung sana.

“Halo Ndrii, ada apa?”

“Kontrak kerjasama dengan Delta gimana Frans?” Tanyaku.

“Sudah selesai Ndrii, kau mau membacanya sekarang?”

“Tim Delta disini, mereka mau lihat perjanjiannya, bisa kau bawakan kemari?”

“Roger that, eh bawa kemana nih?”

“Ke mess ku” Jawabku.

“Roger that” Sahut Frans sambil menutup telepon.

“Rekan saya akan membawa filenya kemari, sambil menunggu, mbak-mbak mau minum apa?” Tawarku.

“Eh, silahkan duduk dulu?” Kataku melihat mereka masih berdiri di ruang tamu.

“Gak usah mas” Sahut si-celana-dalam-putih.

“Teh aja deh mas” Si mungil berkata sambil tersenyum.

“Tunggu sebentar ya”Sahutku sambil tersenyum.

Aku melangkah menuju dapur mini yang tersedia.

By the way… Tehnya dimana ya?

***

Beberapa saat kemudian aku membawa teh untuk kami ke ruang tamu.
Kulihat mereka sedang asyik berbisik-bisik sambil berdiri.

Kenapa mereka tidak duduk???

“Ini tehnya mbak, kok masih berdiri saja?” Tanyaku heran.

“Ini mas, eh… ” Si-celana-dalam-putih mejawab dengan bingung.

“Hihihi,, mas, Mbak Lidya gak berani duduk, takut itunya..hihihihi” Jawab simungil sambil cekikikan.

“Lisa!” Tegur si-celana-dalam-putih dengan wajah bersemu merah.

“Mas tahu laundry dekat sini?” Tanya si-celana-dalam-putih.

“Yang paling dekat sekitar dua kilometer dari sini mbak, kenapa mbak?” Tanyaku.

“Mbak Lidya mau ngeringin pakaiannya mas, biar besok bisa duduk,hihihi” Serobot si mungil.

Kulihat wajah si-celana-dalam-putih semakin merah.

“Kalau mbak mau, nanti bisa saya antar kesana” Tawarku.

Please. Accept.

“Sekarang aja bawa kelaundry mbak, sekalian nyari bengkel” Kata simungil sambil tersenyum jahil.

“Memang mobilnya kenapa mbak?” Tanyaku sambil menoleh ke si-celana-dalam-putih.

“Mogok mas, tadi hampir mati dijalan” Dan lagi-lagi si-mungil yang rasanya sudah memproklamirkan dirinya sebagai jubir sementara menjawab.

“Boleh juga mbak, nanti sehabis dari laundry kita bicarakan kontraknya” Ajakku.

“Untuk kontrak, sebenarnya Frans lebih mengerti dibanding saya.” Sambungku.

“Kalau begitu, mas antar Mbak Lidya ke laundry dulu, sekalian ke mall atau butik” Cengir si mungil.

“Tidak perlu mas, masih bisa besok kok” Kata si-celana-dalam-putih, dengan wajah yang memerah.

Suasana menjadi kaku.
Aku terdiam memandang si-celana-dalam-putih yang terlihat termenung.
Sementara si-mungil memandang kami berdua dengan tatapan bingung.

“Tok-tok-tok”

Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunanku.
Dengan sigap aku berjalan ke pintu.

“Tok-tok-tok”

“Sebentar”Sahutku.

Kubuka pintu untuk melihat Frans yang membawa map. Yang kuduga map tentang kerjasama kami dengan Delta Company.

“Halo boss”sapanya.

“Ayo masuk Frans, tutup pintunya”Pintaku.

Aku berjalan didepan Frans dan menuju ke ruang tamu.

“Frans kenalkan ini ce, eh Mbak Lidya, CEO Delta Company dan Mbak Lisa. Mbak Lidya dan Lisa, ini Frans, marketing dan CO-founder G-Team” Hampir aku menyebut panggilan kesayanganku ke Frans!

“Lidya”

“Frans”

“Lisa”

“Frans”

Mereka saling berjabatangan. Kulihat Frans sedikit lama menjabat tangan Lisa.

“Jadi, silahkan minum dulu, habis itu kita bisa lanjut ke pembahasan kontraknya?” Tanyaku.

“Untuk kontraknya, rasanya aku dan Mas Frans bisa membahasnya berdua, Mas Andri antar saja mbak Lidya ke Laundry dan mall dulu, betul kan mas Frans?” Tanya si-mungil sambil melirik dan tersenyum manis kearah Frans yang sedang memandang si-mungil.

“Eh,, apa? Eh..iya maksudku. Biar nanti aku yang membahasnya bersama Mbak Lisa” Dengan tergagap Frans menjawab.

Aku pandang wajah si-celana-dalam-putih, terdapat keraguan dan penolakan di matanya.

“Iya mbak, kalau dibawa sekarang kan pakaiannya bisa kering besok” sambung si-mungil memberi penjelasan.

“Hm, apa gak merepotkan mas?” Tanya si-celana-dalam-putih sambil memandangku. Kulihat masih ada pandangan ragu dan takut?

Pandangan takut?

“Kalau tidak merepotkan mas,…”

“Kalau begitu mari kita berangkat sekarang, Frans, yakin bisa sendiri?” Kataku menyelanya.

“Beres boss, iya kan Mbak Lisa?” Tanya Frans sambil tersenyum kearah si-mungil.

“Oke, kalau begitu kami berangkat dulu” Kataku kepada Frans dan si-mungil.

“Mari Mbak” Kataku kepada si-celana-dalam-putih.

Kami berjalan dalam dian, sampai dilobi aku berkata pada si-celana-dalam-putih.

“Tunggu sebentar disini mbak, parkir untuk staff disini ada di basement”.

“Iya mas, saya ambil kopernya dulu” Sahut si-celana-dalam-putih sambil melangkah ke mobilnya.

Aku mengambil mobilku dari basement dan menuju kearah lobi. Kulihat si-celana-dalam-putih menunggu dengan koper ditangan.
Aku turun dari mobil dan melangkah mendekatinya.

“Sini kopernya mbak” Pintaku sambil mengambil koper dari tangannya.

“Kopernya masih basah mas, tidak apa-apa nanti?” Tanyanya kuatir.

“Gak apa-apa kok mbak” Sahutku sambil membawa kopernya ke bagasi.

Sehabis menaruh koper dibagasi aku menuju ke pintu penumpang dan membukanya.

“Silahkan mbak”

“Terimakasih mas” Katanya sambil tersenyum.

Berdua dengannyanya dalam satu mobil.
Situasi kembali menjadi kaku.
Dengan setengah mati aku berusaha agar tidak menoleh kesamping bawah, kearah rok pendek yang rasanya tidak mampu menutupi paha jenjangnya.

Apakah celana dalamnya, yang kuduga putih, bisa terlihat? Hayalku.
Masih dalam diam akhirnya kami sampai di laundry.

“Biar saya saja yang turun mas” Kata si-celana-dalam-putih sambil membuka pintu dan beranjak kebagasi untuk mengambil kopernya.

As you wish.

Kutatap langkah gemulai si-celana-dalam-putih.
Terlihat dia berdiskusi sejenak dengan petugas laundry.
Cukup lama dia berdiskusi sebelum kembali kemobil. Kulihat wajahnya tidak terlalu cerah.

“Kenapa mbak?” Tanyaku setelah dia duduk disampingku.

And, jackpot!

Ketika dia duduk, roknya otomatis terangkat keatas. Kulihat paha jenjang dan putih mulus, sungguh kontras dengan rok hitamnya!
Uftt,, kupaksakan mataku memandang kearah lain.

“Mereka banyak order hari ini, jadi besok sore baru selesai, hufttt..” Katanya kesal.

Ketika menghembuskan nafas, dadanya terangkat naik, gumpalan kenyalnyapun bergerak dengan pelan.

Sexy…

“Kalau begitu kita ke mall dulu” Kataku dan tanpa persetujuannya aku arahkan mobil kemall terdekat.

Lidya POV.

Hari yang kurang baik.
Sangat kurang baik.
Kuambil nafas dalam dan kuhembuskan dengan pelan.

Suasana bisa kurasakan sedikit kaku, moodku sedang tidak begitu bagus untuk berbincang saat ini. Waluapun kurasa sedikit kurang sopan dengan si-mata-keranjang yang telah begitu banyak membantuku.
Dinginnya AC terasa di pahaku yang…

Pahaku?

Siallll..

Dengan wajah yang terasa panas aku menaruh tanganku dipaha, hanya bisa sedikit menutupinya.

Apa dia melihatnya?

Kulirik kesamping dan melihat si-mata-keranjang menelan ludah.

Huffttt..
Dia mungkin sudah melihatnya.
Dia pasti sudah melihatnya.

Aku bergerak dengan sedikit tak nyaman. Untungnya kami sudah tiba di parkiran mall.
Setelah mobil diparkir, aku turun.

“Eh mas, tunggu saja di mobil” Tak enak rasanya kalau berbelanja dengannya.

Apalagi sambil membeli pakaian dalam. Pikirku.

“Gak apa-apa kok mbak, bosan juga nanti diam di mobil” Sahutnya sambil tersenyum.

“Kalau begitu, jangan bosan menunggu lama nanti” Kataku sambil meuju stand pakaian.

Blouse, rok, pakain tidur, celana dalam dan bra.
Aku mencatat dalam hati apa yang perlu aku beli.

Di stand pakaian kerja aku memilih rok yang lebih panjang dari yang aku pakai. Untuk blouse aku pilih yang lebih tipis dari yang biasa aku beli mengingat suhu udara di Jakarta lebih panas daripada di Bandung. Kulihat si-mata-keranjang sedang asyik mengobrol dengan salah satu SPG di dekat kasir.

Well,
Dasar mata keranjang! Tidak bisa melihat gadis nganggur sedikit saja!

Tapi setidaknya aku bisa memilih pakain dengan lebih tenang.

Sekarang pakaian tidur.
Cukup banyak pilihan pakaian tidur disini, setelah memilih sebentar, aku putuskan memilih model babydoll dengan lengan panjang.
Pandanganku mencari si-mata-keranjang. Dan tidak kulihat dia.

Aman!. Pikirku.

Aku menuju ke stand pakaian dalam dan mulai mencari pakaian dalam kesukaanku.

Putih dan mini.

Wow, banyak pilihan disini.

Model kesukaanku juga banyak.

Dan banyak model G-String dan T-String juga. Apa aku beli satu ya? Ganti model sekali-sekali mungkin bagus juga. Aku ambil sebuah G-String dan mengamatinya sebentar. Terlalu kecil pikirku.

Kuletakkan lagi.

Tapi, siapa yang akan melihatnya?
Kuambil lagi G-String warna putih tadi.

Kulihat harganya.

Lumayan mahal juga. Aku letakkan lagi.

“Kok ditaruh lagi?” Sebuah suara mengejutkanku.
Aku berbalik dan melihat si-mata-keranjang berdiri sambil tersenyum dipojok.

Sejak kapan dia berdiri disana?
Malu.
Malu yang kesekian kalinya hari ini!

Kurasakan wajahku memanas. Dengan cepat aku menuju ke tempat bra dan tanpa memilih aku mengambil sebuah bra yang sesuai dengan ukuranku.
Dengan cepat aku menuju kasir, terlalu malu untuk menoleh kebelakang.

Hufttt, belanja lagi. Akan cukup menguras isi dompetku.

Tunggu!

Dompet!

Dengan panik aku mengingat.

Dompetku berada didalam tas, dan tasku tertinggal di mobilku.

Mobilku terparkir di G-Team!

“Mbak, semuanya lima ratus sembilan puluh ribu rupiah” Kata kasir dengan ramah.

“Ehmm,, mbak”Kataku dengan sedikit bingung.

“Pakai ini saja mbak” Suara si-mata-keranjang mengejutkanku.

Kulihat dia memberikan sebuah credit card ke kasir.

Setelah beberapa saat kasir mengembalikan credit card nya kepada si-mata-keranjang.
Tanpa berani melihat wajahnya aku mengambil dua kantong belanjaan yang diberikan kasir dan melangkah menuju keparkiran.
Sesampainya diparkiran kami masuk kedalam mobil dalam diam.
Aku letakkan kantong belanjaanku di jok belakang.

“Terimakasih mas, nanti aku ganti uangnya” Kataku setelah beberapa saat.

“Gak usah mbak” Jawabnya sambil tersenyum dan melirik kearahku.

Dan kulihat dia menelan ludahnya ketika melihat pahaku.

Yang lagi-lagi terbuka dengan bebasnya!

Dasar mata keranjang!

***

Sesampainya di parkiran aku mengambil kantong belanjaanku dan melangkah keluar dari mobil.

“Terimakasih mas, sudah repot mengantar” Tak enak telah merepotkannya begitu banyak.

“Oh ia, saya ambil ganti uangnya dulu mas” Lanjutku teringat belum mengembailkan uangnya.

“Tidak usah mbak”

“Tidak mas, saya sudah terlalu banyak merepotkan” Sahutku sambil hendak beranjak ke mobilku.

“Kalau begitu gantinya dengan yang lain saja mbak” Katanya menghentikan langkahku.

“Misalnya?” Tanyaku penasaran.

“Makan malam hari ini misalnya?” Katanya sambil tersenyum.

Kembali kurasakan wajahku memanas.

“Hmmm, boleh mas” Kataku, kulirik wajahnya dan kulihat senyumnya mengembang.
“Tapi tidak sekarang ya mas” Sahutku, balas tersenyum kepadanya.

Kulihat dia sedikit terkejut, namun segera senyum kembali diwajahnya.

“Oke” Jawabnya singkat.

Kami menuju mess dalam diam. Ketika sampai dipintu mes, kuketuk pintu mess.

“Tok.tok.tok”

“Masuk” Kudengar suara Lisa dari dalam.

Aku membuka pintu dan kulihat Lisa dan Mas Frans sedang duduk dan mengobrol dengan santainya.

“Wah, ada yang jadi belanja nih” Goda Lisa.

“Gimana kontraknya Lis?” Kataku mengalihkan perhatiannya.

“Beres mbak, ini Mas Frans dah mau balik tadi” Jawab Lisa.

“Oke, kalau begitu kami balik dulu mbak” Kudengar suara si-mata-keranjang dari belakangku.

“Ayo Frans” Lanjutnya.

“Roger that” Jawab mas Frans.

“Mari ladies” Sahutnya sambil melangkah keluar dan menutup pintu.

“Mbak mau mandi sebentar ya Lis” Kataku kepada Lisa sambil beranjak kekamar mandi.

Beban kerja dan kesialan hari ini mungkin bisa teratasi dengan mandi dan berendam pikirku.
Sesampainya dikamar mandi aku buka semua pakaianku dan menyalakan air dibathub.
Setelah hangatya terasa pas, aku masuk kedalam bathub.

“Huft, segarnya” Gumamku.

Hampir dua puluh menit aku berendam. Aku mulai mandi.

Setelah selesai mandi aku hendak mengeringkan badan.

Sial.
Kenapa hari ini aku selalu sial.Pikirku.

Handukku basah dan aku lupa membeli handuk tadi.
Mungkin aku bisa meminjam handuk Lisa dulu, pikirku.

“Lis, boleh pinjam handuknya? ” Teriakku dari kamar.

“Ambil aja di koper mbak”Jawabnya dari ruang tamu.

Aku menuju kopernya yang masih tergeletak diujung tempat tidur.
Aku ambil handuk dari kopernya dan..

Takkkk…Dukk…

Dua buah benda jatuh dari lipatan handuknya.

Sebuah vibrator dan dildo!

Dengan wajah merah aku hendak mengambilnya dari lantai.

“Biar aku saja mbak” Kudengar suara Lisa.

Kupandangi wajahnya, kulihat senyum malu dan jahil ada disana.

“Wah. Tubuh mbak bagus banget! Apalagi yang dibelakang ini” Katanya sambil mengelilingiku.

“Ah, kamu bisa aja Lis” Sahutku sambil mencoba menutup vagina dan dadaku.

“Untung kamu yang lihat Lis,kalau si-mata-keranjang..iihhhh” Memikirkan si-mata-keranjang melihat tubuh telanjangku membuat badanku bergidik.

Namun, desir pelan melintas divaginaku.

“Hehehe, iya si mbak, tapi aku boleh bilang sesuatu gak mbak? Tapi mbak jangan takut atau bilang ke yang lain ya?” Katanya misterius.

“Apa Lis?” Tanyaku penasaran.

“Aku biseksual lo mbak!”

Bersambung