Rahasia Gelap Part 6

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34

Cerita Sex Dewasa Rahasia Gelap Part 6 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Rahasia Gelap Part 5

A WET JOURNEY and MEMORY of THE PAST

——————————————————————————————————————————
“Mas dimana Sherly” Tanya wanita itu ketika tak melihat siapapun disamping lelaki itu.
“Sudah kujual” sahut si lelaki pendek.
“Apa? Mas jual?! Dasar bajingan”
Plakkkk….
Kudengar suara tamparan ketika si wanita melayangkan tangannya ke si lelaki.
“Dasar pelacur!!!” Teriak si lelaki sambil menendang si wanita.
Bukkk…
Berikutnya yang kudengar hanya suara pukulan dan tendangan, sumpah serapah dan cacian.
Kututup telingaku dengan bantal. Berusaha tidak mendengarkannya.
——————————————————————————————————————————————

Lidya POV

“Gimana mbak?” Tanya Lisa ketika aku selesai menelepon si mata keranjang.

“Hmmmm…” Aku ragu sejenak sebelum melanjutkan.

“Perusahaannya dia punya mess Lis, dia nawarin kita pakai itu selama kita disana”. Terangku.

“Wah, bagus itu mbak, kita bisa menghemat lumayan banyak kalau begitu”. Sahut Lisa, terlihat senang dengan kemungkinan penghematan di bidang akomodasi kami.

“Tapi Lis,,” Seruku ragu.

“Kenapa mbak?”

“Mbak ngerasa gak enak saja kalau kita terlalu banyak memberatkan mereka”.
“Hufttt….”.
Kuhembuskan nafas untuk mengurangi beban dan perasaan tak enak yang menghampiri.

“Terus bagaimana mbak?” Tanya Lisa setelah beberapa lama.

“Mbak bilang akan kesana sekarang untuk ngecek messnya” Sahutku.

“Sekarang mbak? Sendirian?”

“Iya Lis, sekarang”.

“Wah, aku ikut ya mbak. Biar aku yang nyetir. Kasihan mbak bolak-balik nanti”. Tawar Lisa.

“Hmmm, boleh Lis”.

“Kalau begitu aku kasi tau yang lain dulu mbak. Biar mereka bisa bersiap-siap untuk besok”.

“Iya Lis”. Sahutku.

Kami menyelesaikan makan siang dalam diam.

“Mbak, gimana kalau kita langsung bawa perlengkapan sekarang mbak. Kita bisa menghemat sekalian sekarang berangkat”. Tawar Lisa.

“Boleh juga Lis, cuma mbak nanti mau cek perlengkapan di belakang dulu”.

“Iya mbak, aku juga mau cek perlengkapan teman-teman nanti”.

“Mbak, kita perlu bawa komputer dan hardware lain nanti? Atau cukup laptop saja?” Tanya Lisa.
Hufttttt.
Terlalu banyak yang belum kami diskusikan, pikirku.

“Rasanya mbak pikir lebih baik kita tanya ke G-Team dulu. Biar tidak terlalu banyak barang yang kita bawa nanti”

“Kalau begitu biar aku yang telepon mbak” Kata Lisa. Sembari meletakkan peralatan makannya dan menuju pesawat telepon.

“Nanti saja Lis, masih jam makan siang”. Senyum mengembang diwajahku melihat semangat Lisa.

“Oh iya mbak, sampai lupa”. Sahut Lisa.

“Kalau begitu aku lihat persiapan teman-teman dulu ya mbak”

Tanpa menunggu persetujuanku Lisa beranjak ke kebelakang, keruangan multifungsi kami.

Semoga ini bisa berjalan dengan baik.

Pikirku.

Semoga.

Andri POV.

Kupandangi langit yang mulai gelap. Awan-awan hitam mulai berkumpul. Membuat sinar matahari yang terik mulai terhalang.

Apakah dia jadi kesini nanti?

Pikiranku masih belum bisa terlepas dari si-celana-dalam-putih. Dagu kecil yang terangkat dan pandangan mata yang menantang itu serta pantat yang bulat itu terus membayangiku.

“Ndri”
“Andri…”
“Andriiiiiiii..!!!”

“Sialan lu frans, aku gak budek tau” Sahutku. Suara keras Frans membuyarkan lamunanku.

“Budek engga, tuli iya” Ledek Frans.

“Iya-iya, knp?”

“Jiaahh, ne anak, kita sudah selesai makan. Mau sampai kapan disini?”

Shit.

Konsentrasiku benar-benar hilang hari ini.

“Ayo Ndri, banyak yang perlu kita kerjakan hari ini”. Ajak Edy sambil tersenyum.

“Roger that”.

Dalam perjalanan ke kantor, pikiranku terus membayangkan kerjasama kami.

G-Team dan Delta Company.

“Ndrii, aku dan Frans mau membuat perjanjian kerjasama kita dengan Delta Company.” Kata Edy setelah kami sampai diruanganku.

“Oke Dy, mungkin kita perlu meeting besok untuk pembagian tugas dan pengenalan tim”.

“Tentu Ndri. Lebih bagus lagi kalau kalau semua tim, baik dari kita atau Delta Company bisa hadir”. Saran Edy.

“Tentu Dy, aku siapkan materinya dulu”. Sahutku sambil menuju kekamar mandi.
Panggilan alam.

“Kring…Kring..Kring…”

Bunyi telephone menggangguku menyelesaikan panggilan alam.

“Frans, angkat telepon nya”Teriakku ke Frans.

“Halo selamat siang”.

“Andri masih dikamar mandi, dari mana Lin?

“Lisa? Delta Company?”

“Tunggu sebentar Lin”.

“Ndri, dari Lisa, Delta Company” Teriak Frans dari ruanganku.

“Terima saja dulu Frans, speaker.” Balasku.

“Halo selamat siang. Dengan Frans, bisa dibantu?”

“Selamat siang, saya Lisa, dari Delta Company.” Kudengar suara Lisa dari speaker.

Lisa? Bukan si-celana-dalam-putih berarti. Pikirku, sambil keluar dari kamar mandi dan memberi isyarat kepada Frans untuk melanjutkan berbicara.

“Ada yang bisa saya bantu mbak Lisa?”

“Begini mas, untuk perlengkapan selama kami disana, seperti computer dan yang lain, kami bawa dari sini juga atau bagaimana?”

“Tunggu sebentar mbak” Sahut Frans.

“Gimana Ndrrii?” Tanyanya meminta persetujuanku.

“Kita sediakan perlengkapannya disini, tapi kalau mereka mau membawa perlengkapan sendiri silahkan, toh nanti juga masih bisa ambil lagi” Bisikku.

“Halo mbak” lanjut Frans

“Iya mas?”
“Kami sediakan perlengkapannya disini, tapi kalau mbak mau membawa perlengkapan sendiri silahkan”

“Baik mas, thanks infonya ya, selamat siang.”

“Selamat siang mbak” Jawab Frans.

“Oke kalau begitu, aku buat perjanjian kita dengan Delta Company” Kata Edy.

“Ayo Frans” Lanjutnya sambil menarik tangan Frans.

Akhirnya, tinggal aku sendiri diruangan ini. Aku tekan ekstensi 101 di telepon.

“Halo, selamat siang, dengan Frida ada yang bisa saya bantu” Suara Frida, resepsionisku terdengar ditelepon.

“Halo Frid, ini Andri, nanti kalau ada orang dari Delta Company, suruh keatas untuk bertemu denganku ya” Pintaku.

“Iya pak, itu saja pak?”

“Iya, thanks ya” Sahutku sambil menutup telepon.

Sebaiknya aku buat presentasi untuk besok, pikirku. Sambil membuka data-data yang diberikan Raisa.
Time to work.

Dua jam kemudian.

“Huuuaaahhhhhhh, akhirnya selesai juga”

Akhirnya presentasi buat besok bisa kuselesaikan juga. Kulirik keluar dari kaca jendela, rintik-rintik hujan mulai turun. Tak lama kemudian rintik-rintik itu berganti dengan butiran-butiran air yang lumayan besar. Setelah sekian lama, akhirnya ada hujan lebat turun juga di ibukota ini.

Apakah si-celana-dalam-putih jadi datang juga di cuaca seperti ini?

Melihat dari sikapnya, rasanya dia pasti datang.

Kuberjalan mendekati jendela, memandang kebawah, ke jalanan yang mulai dipenuhi dengan genangan air hujan. Sebuah mobil jenis minibus memasuki halaman parkir dengan pelan. Kulihat security mendatangi pengemudinya sambil membawakan payung. Terlihat mereka berbicara sebentar sebelum si security menuju lobi dan kembali dengan membawa payung yang lain. Kemudian dia beranjak ke kursi penumpang dan memayungi seseorang yang terlihat membawa tumpukan kertas. Mungkin klien pikirku. Pandanganku kemudian terpaku pada sebuah mobil sedan yang memasuki parkir perusahaan dengan tersendat, mungkin mengalami masalah dengan mesinnya. Pikirku.
Setelah beberapa lama, tidak ada yang keluar dari mobil itu. Mungkin menunggu security yang masih mengantar tamu tadi.

Mungkinkah?

Setelah beberapa lama sebuah tangan kecil keluar dari kursi penumpang, dan akhirnya aku bisa melihatnya.

Si-celana-dalam-putih.

Dengan tergesa dia berlari menuju lobi. Ditengah hujan deras seperti ini, dengan menggunakan sandal berhak tinggi, dengan dipayungi sebuah map tipis.

Dasar tidak sabaran. Pikirku.

Sebuah ingatan dari masa yang ingin kulupakan berkebat dalam benakku.
Ingatan ketika…

“Kring..kring…kring…” Suara telepon membuyarkan ingatanku yang baru saja mau piknik ke masa lalu.

“Halo”

“Halo Pak, Frida dari lobi mau bicara pak” Suara Erlina terdengar diujung sana.

“Iya, sambungkan Lin”

Hening sejenak sebelum kudengar suara Frida.

“Selamat sore pak, ada Mbak Lidya dari Delta Company mau bertemu bapak” Kata Frida diujung sana.

“Oke, kalau begitu, antar keatas ya” Pintaku.

“Hmm, pak, Mbak Lidya sedikit basah pak, eh, maksudnya, pakaiannya basah pak, bagaimana pak?” Terang Frida dengan sedikit pelan.

“Kalau begitu, minta tunggu sebentar di lobi ya, aku yang kesana”

“Iya pak” Sahut Frida sebelum menutup teleponnya.

Si-celana-dalam-putih basah? Eh,, pakaiannya basah?

Dengan beberapa gambaran menyenangkan yang mucul dikepalaku, aku menuju kelantai bawah. Sampai dilobi, kulihat si-celana-dalam-putih sedang berbicara dengan Frida.

“Selamat datang di G-Team” Sapaku sambil melihat kearah si-celana-dalam-putih.

Pemandangan didepanku melebihi apa yang kubayangkan tadi. Disana dia berdiri dengan rambut yang basah, blouse putih yang dia kenakan basah, membuat bra putihnya menerawang. Menampakkan payudara yang tidak terlalu besar namun terlihat membulat dengan indah.
Tak sadar aku menelan ludah ketika memandangnya.

Dengan refleks si-celana-dalam-putih mengangkat map yang dibawanya untuk melindungi dadanya yang ‘telanjang’.

Well, kalau mau menyalahkan, salahkanlah sang hujan pikirku. Dan sepertinya sang hujan berpihak kepadaku, karena sekarang hanya tersisa gerimis saja.

“Selamat sore Pak Andri, maaf sudah menggangu bapak, tapi bisakah saya meminjam satu payung? Teman saya masih dimobil” Pintanya dengan nada yang sedikit ketus.

Mungkin dia tahu kalau aku memandang dadanya tadi.

Jangan salahkan mata yang memandang, salahkan dada yang mengundang…

“Frid, ada payung?” Pintaku kearah Frida.

“Maaf pak, payungnya dipinjam security tadi, eh itu securitynya pak” Katanya seraya menunjuk kebelakangku.

“Kebetulan pak, tolong payungnya” Pintaku kepada security.

Kuterima payung dari security dan mengangsurkannya ke si-celana-dalam-putih.

“Ini payungnya Nona Lidya”

“Terimakasih” Sahutnya sambil berbalik kearah mobilnya.

Kupandangi pantatnya ketika bergoyang menuju mobilnya. Disana dia terlihat berbicara dengan seseorang dikursi pengemudi. Ketika lawan bicaranya keluar -yang ternyata seorang gadis-, dia langsung menuju ke bagasi mobil dan mengambil sebuah koper.

Sebuah koper?

Mungkin dia mau mengganti pakainnya,pikirku.
Tunggu, artinya pemandangan indah itu akan segera berakhir.

God Damn It!

Sambil membawa payung si-celana-dalam-putih berjalan disamping temannya.
Kuamati temannya sejenak, cantik namun mungil, seperti bertolak belakang dengan si-celana-dalam-putih. Terlihat wajahnya lebih ceria dan lebih muda. Tinggi badannya cuma sampai ditelinga si-celana-dalam-putih.

And well, itu karena high hell yang…
Berapa cm kah itu? 10?15?
Ketika pandanganku terpaku pada high heel itu, terjadi beberapa kejadian yang bisa dibilang cepat namun bergerak seperti slow motion bagiku.
Diawali dengan tersangkutnya high heel itu di lantai parkir yang tidak jauh dari tempatku berdiri, kemudian…

Brakkk…

Bruuukkkkk….

“Aduh!” Samar kudengar si mungil berseru ketika high heelnya patah dan diikuti dengan tubuh yang sempoyongan memeluk si-celana-dalam-putih.

Andai saja aku yang ada di posisi si mungil itu.

Sementara itu, si koper naas dengan sukses menghamburkan isinya di lantai parkir yang masih tergenang air cukup tinggi.

Dengan refleks aku melangkah mendekati mereka dan membantu mengumpulkan pakain yang berserakan.
Beberapa rok dan blouse tercecer cukup jauh dan walaupun aku berusaha mengumpulkan mereka secepat yang aku bisa, tampaknya usahaku sia-sia. Genangan air yang masih cukup tinggi membuat sebagian besar atau mungkin semua pakaian yang aku ambil basah.
Diantara rok dan blouse yang tercecer, sebagian besar berwarna putih dan hitam. Termasuk juga beberapa pakaian dalam mini yang menyembul malu-malu dari bawah tumpukan roknya.

Oh My God…

Pikiranku seketika mengingat kejadian saat pertama kali kami bertemu.

Kupandang wajah si-celana-dalam-putih, yang saat ini sangat merah. Setelah sempat terpaku sejenak dia dengan cepat memunguti pakaiannya yang tercecer.
Aku curiga dia memungut pakaian dalamnya sebagai prioritas!

“Aduh, maaf mbak, pakainnya mbak jadi basah semua” Seru si mungil ketika membantu memasukkan pakaiannya kedalam koper.

“Gak apa-apa Lis” Sahut si-celana-dalam-putih sambil tetap memunguti pakaiannya yang berserakan.

“Mbak bisa pakai rok dan blouseku dulu mbak” Kata si mungil sambil berbalik menuju ke bagasi mobil mereka. Ketika kembali dia membawa koper yang hampir sama dengan punya si-celana-dalam-putih.

“Ini Nona Lidya” Kataku sambil menyerahkan pakaian yang berhasil ku kumpulkan.

Perlu semangat dan tekad yang keras bagiku untuk tidak memungut pakaian dalamnya!

“Silahkan berganti di kamar mandi dulu Nona Lidya dan…” Sengaja aku menahan kataku sambil menoleh kearah si mungil.

“Lisa Pak” Sahut si mungil sambil mengajak berjabattangan.

“Andri” Sahutku.

“Mari mbak” Ajak simungil ke si-celana-dalam-putih.

“Mbak naruh ini dulu di mobil Lis” Kata si-celana-dalam-putih.

Kemudian dia berjalan sedikit cepat kearah mobil ketika benda itu mengusik perhantianku.

Putih.

Dengan tali di kedua ujungnya.

Celana dalam! Celana dalam yang mini dan bertali.

Aku hanya bisa meneguk ludah, dan memanggil.

“Nona Lidya” Suaraku terdengar lebih serak dari yang biasanya.

Si-celana-dalam-putih menoleh dengan terpaksa. Dengan pandangan mata apa-lagi-yang-mau-kau-katakan dia berkata.

“Ada apa Pak Andri?”

“Eh,, itu nona… eh itu ketinggalan lagi satu” Kataku sambil menunjuk kearah benda putih bertali itu.

Lidya POV

Malu.

Sangat malu.

Sangat malu sekali.

Teramat sangat malu sekali.

Ingin rasanya aku masuk kedalam tanah dan tak keluar lagi.
Dengan wajah yang panas, dan kurasa pasti berwarna merah, aku mengambil celana dalam kesayanganku yang terletak tak jauh dari si-mata-keranjang.

Tanpa mengucapkan terimakasih aku memasukkan celana dalam putihku kedalam koper, mengunci koper, dengan benar kali ini, dan berbalik, lalu berjalan menuju mobil.

Setelah menaruh koper ke dalam bagasi mobil. Aku mengampiri Lisa dan si-mata-keranjang.

“Ayo Lis, mari Pak” Kataku sambil berjalan mendahului mereka kearah lobi.

Baru aku mau bertanya dimana letak kamar mandinya ketika kudengar suara si-mata-keranjang.

“Frid, tolong antar Nona Lidya ke kamar mandi ya”

“Iya pak” Kudengar suara gadis, yang kuduga Frida.

“Mari mbak” Kata Frida dengan ramah sambil berjalan mendahului kami.

Sambil berjalan mengikuti Frida, aku memperhatikan sekeliling ruangan yang kami lewati.

HUfffttttt.

Tak bisa kutahan ada rasa iri yang muncul dihatiku. Dengan aksen biru muda, warna putih mendominasi ruangan yang kami lewati.

Elegan.

Itu kata yang muncul di pikiranku ketika melihatnya.
Kapan aku bisa memiliki kantor seperti ini?
Suara Frida memutus hayalanku.

“Mbak, ini kamar mandinya, ada perlu yang lain mbak?” Tanyanya dengan ramah.

“Tidak mbak, terimakasih” Sahutku sambil tersenyum dan masuk kedalam kamar mandi.

“Mbak, pakai blouseku yang ini saja ya?” Suara Lisa terdengar ketika kami sudah sampai didalam kamar mandi.

“Gak apa-apa ni Lis?”

“Gak apa-apa kok mbak, size kita rasanya sama” Katanya sambil memberikan satu buah blouse kepadaku.

“Kalau untuk roknya….”

“Gak usah Lis, gak terlalu basah kok” Kataku jujur, setidaknya celana dalamku tidak sampai basah.

“Ah mbak ini, gak enak kalau nanti duduk mbak, walaupun gak basah sampai dalam sih,hihihi” Kata Lisa yang tak urung membuatku tersenyum

“Ah, kamu bisa aja” Jawabku dengan wajah yang memerah.

“Pakai yang ini saja deh mbak” Kata Lisa sambil menyerahkan sebuah rok hitam yang berpotongan sederhana. Namun beberapa centi lebih pendek dari rok yang biasa aku pakai.

“Gak ada yang lebih panjang Lis”

“Ituyang paling panjang punya Lisa mbak, paling besar juga”

“Ya udah kalau gitu, mbak ganti dulu ya” Kataku sambil masuk kesalah satu bilik kamar mandi.

Dengan perlahan kubuka blouse dan rokku.

Untung bra dan celana dalamku tidak sampai basah.

Dengan perlahan kupakai rok yang diberikan Lisa. Dan seperti yang kuduga. Rok ini beberapa centi diatas lutut, dan sangat ketat!
Kupandangi dengan pasrah pantatku yang membulat terbalut dengan sangat ketat. Membusung dengan beraninya kebelakang.
Kemudian aku gunakan blouse yang diberikan Lisa. Dan aku bersukur karena ukurannya hampir sama dengan punyaku.

Namun setidaknya pantatku lebih besar.

Tak kuasa kucegah ketika senyum menghiasai bibirku. Setelah merapikan pakaian lamaku yang basah, aku berjalan keluar.

“Wow, mbak cocok sekali pakai rok seperti itu” Puji Lisa sambil mengitari tubuhku.

“Wah, andai aku punya pantat seperti yang mbak punya” Kata Lisa, bisa kudengar sedikit nada iri dari suaranya.

“Ah kamu bisa aja Lis” Kataku.

“Dijamin deh, si-mata-keranjang melotot ntar mbak, hihihi” Sahut Lisa.

Ah, si mesum itu.

PIkirku ketika mau tak mau bayangan ketika pertama kali kami bertemu muncul dalam benakku.

“Ayo kita kedepan Lis” Seruku kepada Lisa sambil perlahan keluar dari kamar mandi.

“Mbak, mana bajunya yang basah, aku sekalian bawa ke mobil”Pinta Lisa.

“Ah gag usah Lis, mbak saja yang bawa” Gag enak juga kalau Lisa yang membawakan pakainku, aplagi masih basah.

“Gak apa-apa koq mbak, sini mbak”

Dengan sedikit berat aku berikan pakaianku yang masih basah ke tangan Lisa.
Sesampai di Lobi Lisa langsung berjalan menuju mobil sementara itu aku menghampiri si-mata-keranjang yang terlihat sedang menelepon membelakangiku.

Kupanggil namanya ketika dia selesai menelepon.

Bersambung