Rahasia Gelap Part 5

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33

Cerita Sex Dewasa Rahasia Gelap Part 5 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Rahasia Gelap Part 4

EVERYTHING HAVE a START
——————————————————————————————————————————————
“Dasar wanita sialan! Uang segitu aja gag becus nyarinya”

Plak.

Suara tamparan masih bisa kudengar dari tempatku bersembunyi.

“Maaf mas, pelanggan sepi belakangan ini” Jawab wanita itu dengan air mata yang mengalir dipipinya.

“Dasar tak berguna, hanya bisa menangis saja, sekarang layani aku” Perintah lelaki itu.

“Di..kamar saja mas..”

“Aku mau disini, atau kau mau dihalaman hah? ” Teriak lelaki itu sambil membuka paksa gaun yang dikenakan sang wanita.

Brekkkkkk…. Suara robekan kain itu terdengar begitu mengerikan ditelingaku.

“Cuuhhhh” Lelaki itu meludah entah kemana dan

“Arrghhhhhhhhhhhhhhhhh,, jangan disana mas!” Jerit wanita itu sambil menangis terisak.

“Siapa yang mau pake memek mu yang longgar itu hah?”
——————————————————————————————————————————————

“Halooo bos, gimana presentasinya?” Sapa Frans ketika aku tiba dikantorku.

“It’s complicated” Sahutku sambil masuk keruangan.
Frans mengikuti dibelakangku.

“Siang Lin, tolong buatkan teh dan bawakan sedikit cemilan ya” Pintaku pada Lina.

“Buat jadi dua, cemilannya yang banyak ya” Cengir Frans.

“Siip boss” Sahut Lina sambil beranjak keluar.

“Jadi bagaimana Ndrii?” Tanya Frans dengan nada yang lebih serius.

“Kita dapatkan dealnya, tapi ini Joint Project” Jawabku.

“Dan mitra kita Delta Company” sambungku.

“Delta Company? Aku belum pernah mendengar tentang perusahaan itu?” Seru Frans sambil menyilangan tangannya didepan dada, pose khasnya jika sedang berpikir.

“Aku juga baru mendengarnya sekarang, mereka perusahaan yang bergerak di bidang transportasi dan penjadwalan, dan percayalah, mereka jauh lebih mengerti tentang teori yang akan kita buat nanti” sahutku sambil menghembuskan nafas panjang.

“Well, kalau begitu kita bisa lebih mudah nanti kan?” Tanya Frans, belum mengerti dimana permasalahannya.

“Waktu kita cuma dua minggu untuk mempersiapkan demo project” Jawabku sambil menatap Frans.

“Dua minggu? Memangnya kita pesulap? Data saja kita belum punya” Seru Frans dengan nada-marah-tapi-tak-percaya.

“Ini datamu Frans” Sahutku sambil menyerahkan map-map yang diberikan Raisa

Raisa.Untung aku membaca sms mu sebelum sampai dikantor. Kalau tidak, entah bagaimana tanggapan Frans melihat hadiah yang kau berikan kepadaku.
Pikirku sambil tersenyum.

Kuambil pesawat telepon dari meja dan menekan no 102, ekstensi ruangan Edy.
Dia mengangkat telepon nya sebelum dering ketiga

“Halo, selamat siang, Edy disini” Suara nyaring Edy terdengar diujung sana

“Edy, ini Andri, keruanganku sekarang, ASAP” pintaku.

“Roger that”

Hanya itu suara yang kudengar sebelum sambungan diputus.

Tok..tok..tok..

“Pak, ini tehnya” Suara Lina dipintu.

“Bawa kesini Lin, sekalian kamu ikut duduk disini, ada beberapa hal yang perlu kita bahas.”

“Baik pak, saya ambil alat tulis dulu” sahutnya sambil berlalu untuk mengambil perlengkapannya.

“Well, kita tidak mendapatkan data yang terlalu banyak dari sini” Seru Frans sambil menunjuk map yang kuberikan.

“Disini hanya ada garis besar dari sistem yang akan kita buat, kita tidak bisa membuat suatu sistem yang baik jika data yang kita punya hanya ini saja” Lanjutnya.

“Data apa saja yang kita punya?” Tanya Edy yang baru muncul. Tampaknya dia mendengar potongan pembicaraan kami tadi.

“Ini saja data yang kita punya Dy” Sahut Frans mendahuluiku sambil menyerahkan map ditangannya.

Kuhirup teh buatan Lina sambil menikmati cemilan. Sementara itu Frans juga mengikuti jejakku. Hanya Edy yang masih sibuk membaca detail di map yang diberikan Frans tadi. Sedangkan Lina duduk agak jauh sambil membawa perlengkapannya.

“Hmmm,,, terlalu sedikit memang, ada berita lain yang kulewatkan?” Tanya Edy sambil memandang Frans dan aku bergantian.

“Tidak banyak, Cuma kita mendapatkan dealnya, tapi ini Joint Project, dengan Delta Company yang entah apa dan siapa, dan kita punya dua minggu untuk menyiapkan demo projectnya, itu saja” sahut Frans sebelum aku bisa membuka mulut.

“Ouwhh,, itu buruk” sahut Edy setelah beberapa saat.

“Sangat buruk” Sambung Frans.

“So? ” Tanya Edy sambil menatapku.

“Hufffffftttttt…..” Kutarik nafas panjang sebelum melanjutkan.
“Lina, panggil semua kepala bagian, dalam waktu 15 menit agar berkumpul di ruangan rapat.” Pintaku pada Lina.

“Baik pak” Sahutnya sanbil berlalu dari ruangan.

“Frans, cari info tentang Delta Company, dalam waktu 15 menit datang keruang rapat”

“Roger that” sahut Frans sambil menuju keruangannya.

“Dy, tutup pintunya”

“Kenapa Ndri?” Tanya Edy ketika pintu telah tertutup.

“Pihak Delta Company belum tentu menerima dengan baik joint project ini” Paparku.

“Kenapa Ndri?”

“Aku berargumen dengan entah CEO, direktur atau marketingnya, dia minta kita sebenarnya kesana, dan terus terang, mereka jauh mengetahui tentang sistem yang akan kita buat.” Jawabku.

“Good point kita apa?”

“Kita unggul didesain antarmuka, HRM sistem dan juga sistem berbasis cloud, aku ragu kita bisa membuat demo project dalam waktu dua minggu” Keluhku melihat rumitnya sistem yang akan kami buat.

“Well, tak ada yang tak mungkin Ndri, aku rasa kita bisa lembur, seperti masa kuliah dulu” Hibur Edy, mengingatkanku akan masa kuliah kami dahulu.

“Saatnya kita tidur di mess lagi Dy” Senyumku.

“Mengapa tidak?” Sahutnya.

“Aku mau buat perhitungan kasar pengeluaran dan yang lainnya dulu”Lanjutnya

“Oke Dy, aku juga mau buat presentasi agar kita ada bayangan nanti”Sahutku.

Kuhidupkan laptopku dan mulai membuat presentasi ringan untuk menjelaskan kepada semua kepala bagian tentang apa yang akan kami buat.

10 menit kemudian aku beranjak menuju ruangan rapat. Yang paling berat dari menyelesaikan suatu pekerjaan yang sulit adalah awalnya.

Dan, aku akan menuju awal itu.

“Ndrii, ini detailnya” Kata Frans sambil menyerahkan kertas berisi print out sebuah document. Ketika aku sedang berjalan menuju keruangan rapat.

Delta Company
Berdiri : 11 September 2010
CEO : Lidya Herlambang.
Karyawan : 9 orang.
Alamat : Bandung.
Bidang usaha : Software house, terutama bergerak di bidang sistem transportasi dan penjadwalan.

Garis besar dari Delta Company kubaca dengan cepat sebelum memasuki ruangan rapat. Sesampainya di pintu aku bertemu dengan Edy.

“Minimal profit kita bisa mencapai 1 M Ndri” Terangnya tanpa kuminta.

“Kita bisa mendouble salary staff selama proses ini juga” Tambahnya.

“Oke, thanks Dy” Sahutku pendek.

Didalam ruangan telah berkumpul semua Kepala Bagian di kantorku. Wajah mereka terlihat bingung sekaligus excited dengan apa yang akan aku beritahukan. Aku memasukkan flashdisk yang kubawa kedalam port USB computer diruangan rapat. Dan memulai presentasiku.

“Selamat siang semuanya, terimakasih sudah datang dengan pemberitahuan yang singkat ini. Hari ini kita akan membicarakan tentang Alfa Medika, klien baru kita. Alfa Medika adalah perusahaan farmasi yang terbesar di Asia Tenggara. Kita membuat kesepakatan dengan mereka” Terangku sambil melihat kesekeliling.

“Adapun inti dari kesepakatan itu adalah, kita akan membuat tiga sistem, yaitu sistem produksi, tranportasi dan HRM yang terintegrasi menjadi satu. Kita membuatnya bersama dengan perusahaan lain, yaitu Delta Company, jadi ini semacam join project ” Lanjutku sambil menunjuk ke screen.

“Permasalahannya sekarang, kita belum memperoleh banyak data mengenai project yang akan kita buat. Kita baru mendapatkan detail untuk HRM saja. Untuk produksi dan transportasi kita harus survey langsung kelapangan. Masalah kedua, waktu kita cuma dua minggu untuk menyiapkan demo”

“Delta Company? Ada yang pernah dengar?”

“Join Project? Sistemnya bagaimana nanti?”

“Dua minggu? Untuk demo saja?”

“Dua minggu?”

“Kapan kita mulai?”

Terdengar beberapa gumaman ketika aku selesai dengan penjelasanku. Wajah bingung juga terlihat jelas. Hanya Frans dan Edy yang terlihat tenang,sedangkan Lina sibuk mencatat di notesnya.

“Ini detail untuk Delta Company” Terangku ketika gumaman itu sudah berhenti sambil menunjuk kelayar.

Delta Company
Berdiri : 11 September 2010
CEO : Lidya Herlambang.
Karyawan : 9 orang.
Alamat : Bandung.
Bidang usaha : Software house, terutama bergerak di bidang sistem transportasi dan penjadwalan.

“Rekan-rekan kita dari Delta Company akan kesini, mungkin besok atau lusa, jadi kuminta kalian menyiapkan semua perlengkapan untuk project ini, termasuk perlengkapan untuk team Delta Company, kalau ada yang kurang atau perlu kita beli, minta saja sama Pak Edy” Jelasku sambil melirik Edy yang terlihat menganggukkan kepalanya. Namun tiba-tia dia berhenti seolah teringat sesuatu.

“Ndri, mereka dari Bandung, apakah tidak sebaiknya mereka tinggal di mess perusahaan selama project ini?”

Oh iya, jarak Jakarta-Bandung cukup lumayan kalau ditempuh setiap hari, apalagi dengan jadwal kami yang padat, kalau mereka tinggal di mess kami, ini akan lebih mudah.

Dan aku bisa melihat si-celana-dalam-putih lebih lama.

“Ide bagus Dy, Lin, masih ada mess yang kosong sekarang?” Tolehku pada Lina yang masih sibuk mencatat dinotesnya.

“Ada 4 yang kosong pak” Jawabnya. See. Sekretaris seperti dia sulit didapat.

Hmmmm, berarti kalau berdua dalam satu mess, masih kurang lagi satu.

“Minta staff cleaning service memindahkan barangku ke mess nya Frans”

Mereka nanti bisa berdua dalam satu mess. Dan aku bersama Frans, pikirku.

Seandainya saja si-celana-dalam-putih mau satu mess denganku.

“Baik pak” Sahut Lina sambil mencatat di notesnya.

“Untuk detail sistemnya akan dijelaskan nanti oleh Frans, ada pertanyaan untuk nanti?” Tanyaku sambil menoleh ke semua orang.

“Pak, untuk detail sistem tranportasi dan produksinya, siapa yang akan mencari datanya dan kapan datanya akan kami dapat?” Tanya Ade, kepala bagian programmerku.

“Nanti aku sendiri yang akan berangkat mencari datanya, kalau besok aku berangkat, mungkin dua atau tiga hari lagi kita bisa mendapatkan datanya, untuk sementara kita siapkan perlengkapannya saja dulu” Terangku.

“Kita pakai ruang utama untuk pengerjaannya pak? Apakah sistemnya nanti perlu clous storage atau bagaimana?”Guzur, kepala bagian hardwareku bertanya.

“Kita pakai ruang utama, job lain untuk sementara kita kerjakan di sebelah ruang utama. Kita perlu dedicated dan cloud server. Full akses internet dan mobile service, siapkan juga beberapa laptop untuk di mess, sambungkan data di ruang utama dengan di mess” Jawabku. Kulihat Guzur menganggukkan kepalanya.

“Kita fokus dimana saja pak? Di GUI atau di coding atau bagaimana pak?” Surya, kepala bagaian desain dan web bertanya.

“HUffttt,, ini belum jelas Sur, tapi dari meeting tadi, kita unggul di bidang desain, bidangmu, tetapai untuk algoritmanya, mereka lebih menguasainya, maaf De, mereka lebih berpengalaman di bidang itu” Jawabku sambil melihat wajah Surya yang tersenyum dan wajah Ade yang sedikit masam.

“Mungkin nanti kita bekerja sebagai tim dengan unit yang terpisah atau full bekerjasama sebagai teamwork, masih perlu kubicarakan dengan pimpinan mereka nantinya”

“Ada pertanyaan lain?” Tanyaku sambil menoleh kepada mereka semua.

“Oh iya, karena ini projek penting. Seperti biasa, yang punya kesibukan lain atau tidak bisa bekerja harus menginformasikan kepada Lina langsung, dan untuk fee lembur, akan double dari biasanya” Jelasku.

“Huhuiii…”

“Yess….”

“Siiippp…”

Kuperhatikan ekspresi kegembiraan mereka sebelum melanjutkan.

“Jadi untuk sekarang, silahkan kembali ketempat masing-masing dan siapkan semua perlengkapan yang diperlukan” Pintaku mengakhiri rapat hari ini.

Setelah semua kepala bagian keluar dari ruangan. Edy mendekat dan bertanya.

“Ndrii, apa kita tidak sebaiknya kita menghubungi Delta Company dan merumuskan kerjasama kita dengan mereka secara resmi?”

“Aku juga ingin seperti itu Dy, tapi masalahnya si-ce, eh, maksudku Lidya, tidak memberiku nomer yang bisa kuhubungi” Jawabku dengan masam.

“Lidya? Jadi kau rapat dengan CEOnya?” Tanya Edy.

“Begitulah Dy”

“Terus kenapa dia tidak memberimu nomer teleponnya?”

“Dia bilang dia yang akan menghubungiku nanti” Dengan menghela nafas aku mencoba menghilangkan sedikit penat dalam benakku.

“Hmmm,, wanita yang keras kepala?” Tanya Edy.

“Seperti itulah”

“Oke, ada yang ingin makan siang? Aku lapaaaaarrrrrrrrrr” Seru Frans dari pintu.

“Ayo Ndri, aku yang traktir” Ajak Edy.

“Ayok”Seruku sambil berjalan kepintu.

“Asik, ada yang nraktir!” Seru Frans dengan gembira,

“Aku cuma nraktir Andri saja, bukan kamu Frans” Sahut Edy sambil tersenyum.

“Jiaaaaahhhhhhhhhhhh!!!”

***

Lidya POV

“Huftttttt,, sial, kenapa aku harus berpartner dengan lelaki mata keranjang seperti itu?”

“Dan kenapa aku mau mengalah mengerjakan projectnya disana!”

Beban perusahaan yang semakin tinggi membuatku harus berupaya agar project ini bisa kami dapatkan. Kalau tidak dengan terpaksa kami harus menjual beberapa aset perusahaan yang baru saja kami beli.

“Huftttttttttttttttt” Kuhembuskan nafas kesal ketika mengingat pertemuan kami tadi pagi.

Brukk…..

Suara benturan terdengar saat aku ditabrak seseorang didepanku.

“Awwwwww” jeritku.

Aku melihat keatas dan pandangan terpesona dan nafsu dari seorang pria membalas pandanganku.

Karena posisi jatuhku kebelakang, otomatis pantat besarku mencium lantai yang dingin.
Kakiku terbuka dan lututku mengahadap keatas, rok hitamku tertarik keatas dan memperlihatkan sebagian paha dan mungkin celana dalamku!

Sialan, sudah nabrak, orang ini malah diam dan bengong lagi. Dan pandangan matanya! Pandangan mata yang seolah mau memperkosaku.

“Kalau balik liat-liat dong pak!”

Dengan kesal aku berkata pada dirinya.

Seolah tersadar, lelaki itu mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri.

“Maaf mbak” katanya sambil masih mengulurkan tangan.

Kesal, marah dan malu, aku menolak tangannya kesamping.

“Bisa sendiri kok!!” Sahutku kesal sambil beranjak melewatinya menuju ke resepsionis. Harum samar seperti pohon pinus menerpa hidungku ketika melewatinya.

“Iya, maaf mbak” katanya sambil berlalu.

“Dasar lelaki, semuanya mata keranjang, lihat celana dalam saja sudah segitunya, apalagi kalau melihat wanita telanjang” Umpatku didalam mobil tua yang berjalan menyusuri jalan menuju perusahaanku.

Namun setidaknya aku terhibur dengan pembagian fee yang 50%-50%. Kalau project ini selesai akan sangat membantu perusahaanku. Perusahaan yang kurintis dari bawah empat tahun lalu.

Panas terik matahari serasa menembus kedalam mobilku yang tanpa AC. Apalagik ketika macet seperti ini. Kulihat sejenak kartu nama yang diberikannya kepadaku.

Andri Kusuma
CEO
G-TEAM COMPANY
Phone 021 123456
Email : [email protected]
Mobile : 0813 3812 1234

Kenapa semua CEO yang kukenal mata keranjang? Pikirku mengingat beberapa kejadian dulu.
Kuambil handphoneku dan kusimpan namanya di buku telepon.
Hmmm,,,, nama apa yang cocok buatnya ya?

Hmmm, itu saja!

Nama : Mata Keranjang
Phone : 0813 3812 1234

Cancel || Done

Kuklik tombol Done, dan sambil tersenyum kusimpan kembali hanphoneku.

“Tiinnnnnnn…Tiiiinnnn…tinnnnnnnnn” Suara klakson dari kendaraan dibelakangku menyadarkanku.

“Iya-iya,,, sabar dikit napa” gerutuku sambil menekan pedal gas dan mobil tuakupun melaju membelah panasnya udara.

Setelah kurang lebih satu jam, mobilku sampai dihalaman gedung kantorku. Kantor yang kubeli dengan susah payah setelah menabung lebih dari lima tahun. Walaupun sederhana yang penting dari usahaku sendiri pikirku.

Dengan langkah perkahan aku keluar mobil dan berjalan dihalaman kantorku, kubuka pintu depan dan melihat Sinta, sekretaris sekaligus akunting sekaligus customer service dikantorku.

“Siang Mbak” Sapanya ketika aku lewat dari pintu masuk.

“Siang Sin” Sapaku.

“Gimana rapatnya mbak? Tanyanya ketika aku duduk di lobby sekaligus ruang rapat ini.

“Baik Sin, tolong panggil teman-teman kesini ya, ada beberapa hal yang mbak mau bicarakan” Pintaku sambil mengambil perlengkapan menulis.

“Iya mbak” sahutnya sambil menelpon ke belakang, iya, ruangan tempat kami mengerjakan project berada disebelah belakang ruangan ini.

Tak berapa lama kudengar langkah kaki mendekat. Tak berapa lama, semua anggota timku sudah berada diruangan ini. Mereka duduk disekeliling meja yang berada ditengah ruangan.

“Teman-teman, ada kabar baik dan buruk, mau dengar yang mana ?” Tanyaku. Kulihat sekeliling, wajah-wajah yang penuh harapan dan antusias terlihat memandangku balik.

“Baikkkkkkkkkkkkkk……” Dengan serempak mereka menjawab.

“Kabar baiknya…” Kupandang kesekeliling.

“Kita mendapat deal dengan Alfa Medika”

“Yeessssssssss”

“Horeeeee……”

“Akhirnya…..”

Desah lega dan senyum bahagia bisa terlihat dari wajah semua staff sekaligus teman-teman bagiku. Walaupun berkedudukan sebagai pemilik dan CEO perusahaan ini, aku selalu berterus terang mengenai keadaan perusahaan kepada mereka, sehingga ekspressi kepuasan mereka terasa wajar bagiku.

“Dan kabar buruknya…..”

Keadaan yang tadi gembira berubah menjadi tegang. Raut wajah cemas terlihat di wajah-wajah yang balik memandangku.

“Pada projek ini kita akan bekerjasama dengan G-Team, jadi ini adalah projek bersama” Kulihat kesekeliling untuk mengetahui reaksi mereka mendengar berita ini.

“Bukan hal yang terlalu buruk” Sahut Andik, programmer senior di perusahaanku.

“Kita mengerjakan project ini di kantor G-Team, di Jakarta” Lanjutku.

“Tidak begitu buruk juga” Sahut Rina, analis algoritmaku.

“Tapi kita tinggal disana atau pulang pergi kesana?” Tanya Sinta.

Kualihkan pandangan kearah Sinta, dan dari sinar matanya dia seolah mengatakan kalau kita tinggal disana berarti menambah biaya akomodasi, kalau pulang pergi menyita waktu dan juga menambah biaya transportasi.

“Kurasa lebih baik kita tinggal disana” Sahutku pelan.

“Kenapa”?

“Kita hanya punya waktu dua minggu untuk memberi demo project ke Alfa Medika” Sahutku tanpa berani melihat kearah mereka.

“Dua minggu?”

“Yang benar saja?”

“Demo full project atau bagaimana?”

Beberapa gumaman terdengar, dan aku tidak bisa menyalahkan mereka. Dua minggu, untuk sistem sekompleks yang diminta Pak Tony bukan hal yang mudah, sama sekali tidak mudah.

“Demonya bukan full project, tapi setidaknya mencangkup beberapa detail yang diminta, nanti aku akan bertanya pada G-Team dan pihak Alfa Medika mengenai detail tambahannya, nanti aku beri kabar lagi setelah makan siang” Kataku sambil memberi isyarat untuk makan siang.

“Sin, keruanganku sebentar ya, aku bawa bekal lebih” Pintaku kepada Sinta.

“Apa menu hari ini mbak?” Tanya Sinta ketika sudah sampai diruanganku.

“Ayam goreng, sayurnya kangkung” Sahutku sambil memberikan satu kotak lauk kepada Sinta.

“Wow, mantap neh” Sahut Sinta sambil mulai menyantap makanannya.

“Mbak, gimana deal kita dengan Alfa Medika? Dan G-Team juga” Tanyanya disela makan siang kami.

“Kita akan membahasnya dengan G-Team dulu, baru kita lanjut dengan Alfa Medika”Sahutku.

“Yang mbak bingung, urusan akomodasi kita disana, kamu tahu sendiri bagaimana kondisi keuangan kita sekarang” Lanjutku. Potongan paha ayam ini seolah terasa hambar kalau aku memikirkan masalah ini.

“Kenapa mbak tidak coba tanyakan dengan orang di G-Team, mungkin mereka tahu akomodasi yang murah dan dekat dengan lokasi perusahaan mereka” Saran Sinta sambil terus melanjutkan makan siangnya.

“Hmmmm,,, itu…..” Kataku ragu.

“Kenapa mbak?”

“Mbak tidak begitu suka dengan CEO-nya” Akhirnya keluar pernyataanku.

“Kenapa mbak? Orangnya jelek ya? Gendut? Bau? Atau rese?”

Jelek?
Sebaliknya Sin, jujur, orangnya tampan. Tapi ketika teringat pandangan matanya ketika melihatku yang jatuh…

“Mata keranjang Sin, matanya itu seperti mau memperkosaku!” Sahutku kesal.

“Hahaha… salah mbak sendiri yang cantik” Sahut Sinta yang sukses membuat pipiku memerah.

“Kalau saran Sinta si, mbak hubungi saja dia, atau kalau mbak mau, biar Sinta yang menghubunginya”.

“Hmmm, gak usah deh Sin, mbak hanya yang menghubunginya habis makan”

Kami melannjutkan makan dalam diam, pikiranku menerawang dengan beberapa kemungkinan skenario untuk kerjasama dengan G-Team.

Sepuluh menit kemudian aku selesai makan. Setelah berpikir beberapa saat, aku mengambil handphone dan mencari nama si Mata Keranjang sebelum menekan tombol panggil.
——————————————————————————————————————————————
Andri POV
“Jika kami bersama, nyalakan tanda bahaya
Jika kami berpesta, hening akan terpecah
Aku, dia dan mereka memang kita memang beda
Tak perlu berpura-pura, memang begini adanya
Dan kami disini
Akan terus bernyanyi”
Kuambil handphoneku sebelum nada deringnya membuat kami diusir satpam. Iya, aku masih makan siang di fi cafe dekat kantorku bersama Frans dan Edy.

Kulihat nomer tak dikenal ada di layar handphoneku

0857 3812 3456 calling….
Reject || Answer.

Kutekan tombol answer ketika kudengar suara wanita yang rasanya tidak asing…

“Selamat siang, dengan Pak Andri, CEO dari G-Team” Suara wanita yang tegas dan lugas terdengar di speaker telephoneku.

“Iya, dengan saya sendiri, dengan siapa saya berbicara?” Tanyaku

“Ini Lidya, dari Delta Company”

“Tunggu sebentar mbak” Kataku sambil menutup permukaan telephone ku dengan tangan.

“Ssstttt, Lidya, CEO Delta Company” Terangku melihat pandangan bertanya dari Edy dan Frans. Mereka pun diam dan memasang telinga mendengar percakapan kami.

“Iya kenapa Nona Lidya?” Tanyaku pada Lidya.

“Kapan kami bisa mulai kerja bersama dengan tim bapak?”

“Kalau nona mau, sore ini kami sudah selesai set up perlengkapan dan sarana lainnya, besok pagi sudah bisa kita mulai project kita”

“Kalau begitu besok kami jam berapa bisa kesana?”

“Jam 10 saja kalau bisa”

“Kalau begitu kami kesana jam 10 pagi, untuk rumusan kontraknya bagaimana?”

“Kontrak dari Alfa Medika sudah berada ditangan saya, kalau nona perlu merevisinya, besok kita bicarakan.”

“Baik pak, hmmm,,ehhhh,, pak” Kudengar suara ragu dari ujung sana.

“Iya, ada yang bisa saya bantu?”

“Eh,, rencananya kami mau mencari akomodasi disekitar kantor bapak, bapak bisa merekomendasikan beberapa tempat yang cocok?”

“Ouwww, untuk itu sebenarnya kami disini ada mess yang masih kosong, 5 buah, rasanya bisa untuk tempat tinggal team anda disini, kalau anda tidak keberatan. Dan kalau nanti tidak sesuai, ada beberapa tempat yang bisa saya rekomendasikan”

Hening beberapa saat.

Apakah dia marah atau tersinggung dengan tawaranku?

“Kalau begitu saya akan cek sore ini, kalau anda tidak keberatan.”

“Boleh saja” Sahutku.

“Kalu begitu sampai jumpa nanti, selamat siang”

Aku meletakkan handphoneku di saku dan menatap Edy serta Frans.

“Bagaimana Ndrii?” Tanya Edy ketika aku selesai menelephone.

“CEO Delta Company akan kesini nanti sore, dia mau ngecek mess untuk timnya” Sahutku.

“Wow, berapa kali dia mau bolak-balik Jakarta-Bandung?” Tanya Frans dengan heran.

“Entahlah, aku juga tidak tahu”

“Tipe wanita yang keras kepala, gigih dan tak mau kalah” Gumamku pelan.

“Mengingatkanku pada seseorang” Kata Frans dengan pelan.

“Frans!” Tegur Edy kepada Frans.

“Tidak apa-apa Dy, itu sudah berlalu” Kataku pada Edy.

“Maaf Ndri” ucap Frans dengan pelan.

“Ayo kita habiskan makanannya dan kembali ke kantor sebelum hujan” Ajakku sembari menunjuk langit yang mulai gelap dan untuk mengalihkan pembicaraan dari hal yang kurang mengenakkan ini.

Bersambung