Rahasia Gelap Part 42

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Tamat

Cerita Sex Dewasa Rahasia Gelap Part 42 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Rahasia Gelap Part 41

Burn It Down

Kupandangi wajah kelelahan itu dan berpikir saatnya aku membantunya.

“Tidurlah Andri, biar aku yang mencari mereka sekarang!” kataku sambil membuka pintu dan berjalan menelusuri lorong yang sepi ini.

Dengan menatap laptop yang kubawa, kuperhatikan dua titik kecil yang menghiasi peta digital yang terlihat dilayar. Satu berlabelkan Frans dan satu lagi Lidya.

Kulihat lokasi mereka dan seperti yang aku duga, mereka berada di salah satu gudang di pinggiran ibukota. Gudang itu, gudang penyimpanan Alfa Medika.

Gudang di pinggiran ibukota.
Pukul 16.55

Dengan menggunakan taksi aku menuju ketempat yang terlihat dilayar laptop. Sekitar 30 menit kemudian aku sampai di tempat itu. Terlihat dua buah bangunan yang berdiri memanjang saling berhadapan. Pagarnya berdiri kokoh dengan gerbang besar ditengahnya. Didepan dua buah bangunan yang kuduga gudang ini, mengalir sebuah sungai yang cukup besar.

Hmmmmm, sungai, apakah untuk membuang limbah? pikirku melihat kondisi gudang yang seolah-olah dipisahkan oleh sungai ini dari keramaian. Dengan jarak sekitar 50 meter dari jalan raya, gudang ini bisa dikatakan cukup terpencil, apalagi disekitarnya masih terlihat tanah kaplingan yang belum dibangun oleh pemiliknya.

Strategis, terpencil dan baru.

Sebuah tempat yang sesuai untuk gudang atau….

Kuamati gedung itu dari kejauhan. Dengan menggunakan topi untuk menutupi wajahku aku mendekat kearah sana. Sekitar 50 meter dari tempat itu ada sebuah warung kecil yang menjual jajanan dan makanan ringan lainnya.

“Siang bu, kopinya satu ya,” kataku sambil menaruh laptop diatas meja.

“Iya dik, sekalian pisang gorengnya?” tanya ibu penjaga warung dengan ramah. Sisa keramahan di pinggiran ibukota.

“Boleh bu,” kataku sambil melihat kearah bangunan yang berdiri didepanku. Seolah menyadari arah tatapanku, ibu itu menjelaskan tanpa diminta.

“Itu bangunan baru dik, denger-denger sih gudang, katanya juga lagi nyari pegawai, kalau belum kerja coba aja kesana ngelamar dik,” katanya sambil meletakkan segelas kopi dan sepiring pisang goreng diatas mejaku.

“Wah, kebetulan bu, tapi kok kelihatan sepi ya?” tanyaku mencoba mencari tahu lebih jauh lagi.

“Dari luar memang sepi dik, karena masih baru, tapi kemarin apa kapan tu ya, ibu lihat ada mobil yang masuk kesana dan belum keluar, eh, tadi juga ada mobil yang masuk kesana dik,” kata ibu itu sambil mengawasi bangunan di kejauhan itu.

Hmmmmm…, berarti kemungkinan besar memang disini. Tapi sepertinya ini…., bagaimana sekarang?

Kuhirup kopi yang tersisa setengah dan sambil menikmati pisang goreng yang ada aku mengirim sms kepada seseorang.

Safety first…Dan semoga dia menerimanya. Kuamati layar handphone dan melihat tanda terkirim dilayar.

“Mari bu,” kataku sambil menyerahkan uang untuk kopi dan pisang gorengnya. Dengan langkah pelan aku mendekati bangunan itu.

Apakah aku atau Andri yang harus kesana?

“Ndriii, bangun…,”

“Ughhhh…, iya kak?”

“Kau atau aku yang akan masuk kesana?”

“Ini masalahku, biar aku saja yang menyelesaikannya kak,”

“Baiklah, file itu, kau sudah tahu passwordnya kan?”

“Berkat bantuan kakak, sudah, cuma aku masih bingung dengan maksudnya,”

“Jawabannya mungkin ada didalam, yakin kau mau kedalam?”

“Tentu saja, lagipula, kalau aku gagal, masih ada kakak kan?”

~ ~ ~ * * * ~ ~ ~​

“Dia sudah berada disini…,” kata seorang wanita sambil terus memperhatikan monitor didepannya.

“Seperti yang aku duga, kalian berdua ke pos masing-masing,” katanya kepada dua orang yang berdiri didekat pintu,”Angel, kau sudah mempersiapkan apa yang kusuruh?” tanya si lelaki kepada wanita yang memperhatikan monitor.

“Sudah boss,” kata Angel sambil mengambil sesuatu dari dalam laci dan berlalu keluar dari ruangan. Sambil menatap kepergian Angel, lelaki itu perlahan menuju ke sofa, dimana duduk seorang wanita dengan mengenakan jubah bulu hitam. Pahanya yang putih tersembul dari sela jubah yang tidak mampu menutup rapat bagian bawahnya. Disebelahnya, duduk wanita lain dengan gelisah. Suara dengungan pelan terdengar.

“Saatnya memulai pertunjukkan,” kata si lelaki sambil mengawasi dua buah layar besar, dimana layar yang satu menampilkan seorang lelaki yang lehernya terpasang sebuah rantai dari besi, sedangkan layar yang satu memperlihatkan seorang wanita dalam ruangan putih yang cukup luas.

“Aku sudah menunggu ini dari dulu mas,” kata wanita yang mengenakan jubah sambil menekan tombol ditangannya. Suara dengungan semakin keras terdengar dan wanita yang duduk disebelahnya terlihat semakin gelisah.

“Dimana lelaki itu?” tanya silelaki kepada wanita berjubah.

“Huhfftt, dia? Di mobil, terlalu takut untuk melihat ini!” kata si wanita berjubah sambil mencibir. Tangannya kemudian meremas dada wanita yang duduk disebelahnya. Dada yang besar, bulat dan terlihat penuh sesak didalam blouse yang dikenakannya.

“Enak sayang?” tanya si wanita berjubah dengan lidah terjulur membasahi bibirnya.

~ ~ ~ * * * ~ ~ ~​

Andri POV

Kuamati bangunan itu dari dekat. Terlihat kosong dan tidak ada orang dari luar. Namun kamera CCTV yang terpasang di dekat pagar dan disepanjang badan bangunan, sebagai bukti kalau ada sesuatu didalam sana.

Atau sebagai alat untuk memantau orang yang datang.

Dan kalau seperti kecurigaannya, ini mungkin sebuah perangkap. Tapi kemungkinan Frans dan Lidya didalam sana.

Kuhampiri pintu gerbang untuk memperoleh kejutan lainnya.

Tidak terkunci!

Kucoba mendorong pintu gerbang dan dengan bunyi yang halus pintu gerbang terbuka. Dengan langkah pelan aku melewati gerbang. Dua buah bangunan besar berdiri dengan megah dikanan dan kiriku. Sementara diujung sana, terlihat bangunan lain yang lebih kecil.

Dimana mereka?

Seolah disengaja, pintu bangunan yang disebelah kananku terbuka dengan pelan.

Take it or leave it!

Dengan langkah yang panjang dan cepat aku menuju ke pintu yang terbuka. Dibelakang pintu itu terlihat lorong yang cukup panjang. Dengan hati-hati aku menyusuri lorong itu dan dikejauhan terlihat seseorang terduduk di dinding ruangan yang dibatasi oleh jeruji besi.

Dari pakaiannya dia….

“Frans…, Frans!” teriakku sambil berlari mendekat. Dan…

Sringgg….

Jleeeeebbbbbbb…

Kakiku terasa menabrak sesuatu dan sebuah jeruji besi turun dibelakangku.

Siaaallll! Sekarang aku juga ikut terkurung.

Tapi tak apa, aku bisa melihat Frans disana mulai menggeliat dan membuka matanya. Ketika dia melihatku dia langsung terperanjat dan berteriak.

“Andriii! Lari! Ini jebakan!” teriaknya dengan suara yang sedikit serak.

“Sudah terlambat untuk lari sekarang, bagaimana kabarmu, Mas Andri?” suara wanita di belakangku membuatku berbalik dan melihatnya.

“Kau!”

“Kenapa mas? Tidak gembira bertemu aku disini?” katanya dengan nada yang lembut. Nada yang sama ketika digunakannya pada saat kami menghabiskan malam bertiga dahulu.

“Kau mengenalnya Ndri?” tanya Frans heran.

“Tentu saja mas, walau itu hanya satu malam saja kan? ” katanya dengan nada menggoda. Masih terbayang adegan kami bersama dahulu.

“Siapa kau sebenarnya? Dan apa maksud dari semua ini?” tanyaku tak sabar. Keheningan sejenak terasa diantara kami, dengan tegang aku menunggu jawaban darinya.

“Hmmmm…, mas gak kangen sama aku?” tanyanya dengan senyum terkembang dibibirnya. “Apa mas sudah lupa saat dibawah pohon dengan Mbak Raisa? Saat punya mas memasukiku?” tanyanya menggoda.

“Tidak! Tentu saja aku tidak lupa, tapi kenapa kau ada disini? Apa kau yang merencanakan semua ini?” tanyaku dengan nada marah.

“Waduhhh…santai saja mas ”

“Bagaimana aku bisa santai kalau seperti ini Tri, apa maumu?” tanyaku tak sabar.

“Aku hanya menjalankan perintah mas, oh iya, namaku bukan Megatri, namaku Angel,” katanya dengan serius. “Oh iya, kalau mas mau cepet-cepet, coba lihat monitor disebelah sana,” katanya sambil menunjuk kebelakang Frans.

Aku menoleh kearah jarinya menunjuk dan kurasakan nafasku berhenti sejenak melihat siapa yang ada disana.

Dengan amarah yang mulai menggelora aku menghampiri jeruji besi yang membatasi aku dan Angel atau Megatri.

“APA MAUMU! LEPASKAN DIA!” teriakku marah sambil mencoba mengguncang jeruji besi yang sayangnya terpasang dengan kuat.
Namun dengan santainya Angel berkata.

“Sayangnya, mas bukan berhadapan denganku sekarang, tapi dengan orang yang membayar jasaku, kalau aku sih maunya dengan yang mas punya dibawah sana, bukan dengan kepalan tangan mas,” katanya.

“TERSERAH DENGAN SIAPA, CEPAT KATAKAN APA MAU KALIAN!” Teriakku tak bisa mengendalikan diri lagi. Teman baikku diikat seperti hewan dan sekarang, pacarku juga terkurung diruangan lain, tanpa busana!

Terlihat Angel mengangguk samar, kuikuti arah pandangannya dan melihat ada sebuah CCTV diatas kepalaku, tepatnya di jeruji yang memisahkan aku dan Frans.

“Halo Andri, selamat datang di permainan ini,” sebuah suara yang berat seolah-olah terdengar dari dinding ruangan ini. Namun kutahu itu berasal dari speaker yang dipasang didinding.

“CEPAT KATAKAN APA MAUMU SETAN!” teriakku penuh amarah kepada siapapun yang mengawasi kami. Dengan penasaran kumemandang CCTV yang terpasang di atas dinding. Dan nafasku rasanya menjadi sesak, ketika di monitor sana, tubuh telanjang Lidya terlihat menggeliat-geliat.

“Hahahahaha…, aku bukan setan, aku hanya manusia sepertimu, tapi bedanya, kau dan anak buahmu terlalu usil mencampuri urusan orang lain,” katanya terdengar geram. “Tapi, mungkin kau yang akan menjadi setan disini, apa kau sudah melihat tubuh telanjang kekasihmu disana?” tanyanya.

Secara otomatis aku menoleh kearah monitor dan kurasakan dadaku mengembang karena marah.

“Katakan apa maumu?”

“Hahaha…, simple, aku ingin memainkan dua game, dengan taruhan dan hadiah, tentunya,” katanya. “Ada dua game, yang pertama, antara kau dan temanmu yang terikat disana,” lanjutnya.

Kulihat kearah Frans, terlihat dia memandangku dengan tatapan mata yang penuh amarah dan rasa penasaran.

“Kau lihat, temanmu terikat disana, dibelakangnya, ada satu tombol, yang fungsinya, membuka kurunganmu, tapi dengan satu konsekuensi,” katanya membuat penasaran.

“Konsekuensinya apa bajingan?” suara Frans terdengar sama marahnya dengan suaraku. Sejenak kami saling tatap dan kuingat semua petualangan kami sejak masih jaman kuliah dulu. Rasa haru menyelimuti hatiku.

“Sama-sama tidak sabaran rupanya hah? Coba kalian lihat lantai tempat Frans berada, ada garis ditengahnya bukan? Dan ujung rantai yang mengikat leher Frans berada ditembok, konsekuensinya sederhana, jika Frans mau menekan tombol, lantai itu akan membuka dan trak! Frans akan tergantung di rantai itu, sederhana bukan?” kata suara itu dengan santai.

Sejenak hening ketika aku mencoba mengerti maksud dari perkataanya. Dan akupun terduduk lemas ketika memahaminya.

Kakak, bantu aku…,

“Frans, lama tak jumpa, ” kataku pelan kepada Frans yang memandangku dengan pandangan yang sulit kuterka artinya.

“Kau…, Indra???” katanya pelan dengan pandangan tak percaya ketika melihatku.

“Iya, jadi tidak enak bertemu kau di situasi seperti ini,” kataku sambil bangkit dan memandang kearah CCTV yang terpasang diatas kepalaku.

“Bagaimana kalau kami diam saja, apa konsekuensinya?” tanyaku .
“Silahkan saja, kau sudah membaca file yang anak buahmu kirimkan kepadamukan? Yang di file bokep itu, jadi bisa kuasumsikan kau sudah tahu, apa obat yang resepnya ditemukannya kan?” katanya. “Sekarang coba lihat kekasihmu,” lanjutnya.

Dengan pandangan penasaran kulihat kemonitor dibelakang Frans dan disana, Angel terlihat sedang menyuntikkan sesuatu kepada Lidya.

“Apa yang kau berikan padanya?” kataku dengan dengan tangan terkepal menahan amarah. Apa dia memberikan obat perangsang sekaligus obat kuat yang komposisinya ditemukan Ade pada salah satu record Alfa Medika?

“Melihat ekspresi wajahmu, aku yakin kau sudah tahu apa yang diberikan Angel pada pacarmu, tapi supaya kau lebih mengerti, obat yang diberikan Angel akan bereaksi secara instant dan dosisnya sangat kuat, jadi pacarmu akan ingin dipuaskan terus, kalau kau memutuskan diam, bagaimana kalau selama kau diam, kita menonton adegan percintaan yang panas? Hahahaha…,” katanya sambil tertawa.

Seiring dengan tawanya, masuk dua orang lelaki dengan wajah dan perawakan yang kasar. Wajah mereka jauh dari kata tampan. Yang membuat nafasku rasanya berhenti, mereka sudah telanjang bulat!

“Ndriii, eh, maksudku Indra, apa kau tahu semua yang diketahui Andri?” tanya Frans dengan wajah serius.

“Hanya beberapa hal saja yang disembunyikan anak itu, kenapa Frans?” tanyaku, bergantian melihat antara wajah Frans dan monitor dibelakangnya.

“Apa kau tahu jika Andri pernah meragukanku selama ini?” tanya Frans dengan nada penasaran.

“Cuma ketika orang yang mirip denganmu diduga memasuki apartemen Andri, tapi itu semua sudah selesai, dia sudah menemukan bukti kalau kau tidak bersalah,” jawabku pelan.

“Apa?” tanya Frans cepat.

“Rekaman video yang diambil dari apartemen, disana terlihat pelakunya dengan refleks mengambil benda yang terjatuh dengan tangan kanan, padahal, kutahu kau kidal,” jelasku. “Namun aku punya pertanyaan, kemana kau saat Andri tertembak?” tanyaku penasaran.

Kulihat ekpresi lega diwajah Frans, sambil menyandarkan kepalanya di dinding dia menjawab.

“Aku pergi ke makam ayahmu,” jawabnya singkat.

“Kenapa?” tanyaku heran.

“Hari itu, hari meninggalnya ayahmu,” jawab Frans singkat.

Degggg……

Kenapa aku sampai lupa hari itu.

Tunggu!

Kenapa Frans bisa tahu, hari itu hari meninggalnya ayahku?

Seolah bisa menebak apa yang ada dalam hatiku, Frans tersenyum ringan.

“Kau pernah bertanya, siapa yang membantu membiayai kuliahku kan? Orang itu, ayahmu, bahkan setelah beliau meninggal, beliau tetap memikirkanmu, dan memintaku untuk menjagamu, yang kulakukan, dengan caraku sendiri,” katanya sambil tersenyum lebar.

“Apa sudah cukup berbincangnya? Kalian melewatkan tontonan yang menarik?” suara di speaker itu membawaku kembali ke bumi. Kualihkan pandanganku pada Lidya, terlihat tanda-tanda dia mulai terangsang dengan hebat.

“Lepaskan dia, BA..JI..NGAN!” kataku sambil menatap CCTV diatas kepalaku. Disana Lidya terlihat menggeliat dengan liar, sementara dua orang lelaki disampingnya terlihat menciumi gaun yang kemarin digunakan Lidya. Gaun hitam itu…

“Sialan, jika aku bisa keluar dari tempat ini, akan kuburu kau sampai dimanapun!” kataku dengan tangan terkepal menahan amarah.

“Apa kau tahu siapa aku?” tanya suara di speaker.

Siaalllll….Sayangnya aku belum punya petunjuk siapa dia…

“Indra, biar aku yang bicara,” kata sesorang dengan lembut.

“Apa itu kau Sliv?” tanyaku.

“Iya…, aku sudah tahu siapa dia,” jawabnya seiring dengan keberadaannya yang menggeserku.

~ ~ ~ * * * ~ ~ ~​

Aneh, kulihat sikap Mas Andri berubah-ubah dan tatapan matanya itu. Tatapan matanya berubah! Dari tatapan jeli, ramah dan pintar, ke pandangan yang penuh dengan amarah dan kejam! Sekarang, tatapan matanya tenang, tapi tajam menusuk dan penuh dengan kepercayaan diri dan perhitungan.

Sikapnya juga berubah-ubah, dari tenang, kemudian meledak-ledak dan sekarang, aku merinding melihat ketenangannya.

Tapi sialan, bagian bawah tubuhku tidak mau berkompromi dan terus bergetar dengan hebat. Membuat konsenterasiku sedikit buyar dan tidak bisa memikirkan kemungkinan-kemungkinan itu semua.

Maaf mas, aku juga tidak ingin seperti ini…

Tapi mereka memegang rahasiaku…

~ ~ ~ * * * ~ ~ ~​

POV Andri

“Selamat sore Pak Roy atau harus saya panggil, sang pengawas?” tanyaku sambil melihat kearah CCTV yang ada diatas kepalaku. Aku yakin siapapun yang disana bisa melihat dan mendengar dengan jelas apa yang aku katakan.

Sejenak hening bisa kurasakan, walau secara samar aku bisa mendengar lenguhan-lenguhan pelan dari monitor dibelakang tubuhku.

“Konsentrasi Sliv, sekarang giliranmu…,” kata Indra menasehati. “Jangan biarkan Andri mengambil alih dulu, dia tak akan bisa berpikir jernih melihat keadaan kekasih kita disana,” lanjutnya.

“Tenang saja, akan aku selesaikan ini dulu sambil mengulur waktu, dimana bantuan yang kau rencanakan Ndra?” tanyaku.

“Entahlah, harusnya dia sudah datang, jangan pikirkan itu dulu, sekarang bicara saja pada orang itu!” kata Indra marah. Aura kejamnya sekarang semakin terasa. Semoga saja Andri bisa mengendalikan kami nanti.

“Hmmmm…, sejak kapan kau tahu?” tanya suara dispeaker dan untuk pertama kalinya suara. Suara Roy, Troy Company.

“Sejak aku membaca MD5 yang berbeda di report anak buahku, hanya ada satu kemungkinan untuk itu dan kemungkinan itu pula yang menyebabkan kau bisa mengendalikan orang-orang disekitar kami dan mengendalikan pihak-pihak yang mengusut kasus kamu,” sahutku dengan suara tegas.

“Hmmmm…, dari sana? Sayang sekali orang sepertimu tidak ada dipihakku dan apakah kau hanya ingin mengulur waktu? Karena aku sendiri tidak keberatan, malah aku senang, karena bisa melihat tontonan gratis disana,” katanya dengan nada yang membuatku muak

“Ndri…,” panggil Frans dengan nada yang aneh, yang membuatku mengalihkan perhatian kepadanya. Kulihat wajah Frans ceria, dengan senyum yang mengembang tapi dengan air mata yang mengalir dari sudut matanya.

Siv, minggir dulu! Paksa Andri dengan keinginan yang kuat sehingga aku tidak bisa menolaknya.

“Kenapa Frans?” tanyaku panik melihat wajahnya yang seperti ini, wajah Frans saat dia melihatku kecelakaan dulu.

“Kau ingat saat kita di kuliah dulu? Tidur di emperan toko karena pintu pagar kos yang tertutup? Saat membeli satu mie rebus dan membaginya karena uang yang habis? Atau saat kita bertemu cewek bule dan threesome pertama? ” katanya dengan senyum lebar.

“Ingat Frans, tapi kenapa?” kataku dengan gelisah.

“Itu saat-saat terindah dalam hidupku dan satu lagi, terimakasih kau selalu mempercayaiku,” katanya dengan senyum di mata dan mulutnya.

“Jangan Frans, jangan lakukan itu, aku tak akan bisa menanggung semua ini,” kataku dengan dada yang bergejolak dan suara yang serak. Kurasakan aliran air di mukaku.

“Masa lalu hanya kenangan Ndri, hiduplah untuk masa depan, kau pasti bisa, ” katanya dengan suara serak. “Dan terimakasih Ndri, terimakasih karena tak pernah berhenti untuk mempercayaiku sebagai teman,” katanya dengan airmata di wajahnya dan senyum di mulutnya.

“Selamat tinggal Ndri, ” katanya sambil berbalik pelan dan seperti di gerakan lambat aku melihatnya menekan tombol di belakanganya.

Sreeggggggg….

Suara lantai dibawahnya terbuka dan…

Jleeegggg…,

Rantai itu menegang dengan keras…

“Tidak!Tidak! TIDAAAKKKK! FRAAANNNNSSSSS!,” teriakku menyaksikan pengorbanan salah seorang sahabatku.

“BAJINGAN! Buka PINTUNYA! KUBUNUH KALIAN SEMUA, KUBUNUH KALIAN!” teriakku sambil berusaha mendobrak jeruji besi itu. .

Bukk…buukkkk..buuukkkk…,

Namun jeruji itu terlalu kokoh untuk bisa kubuka dengan tubuhku.

Sreeeggggg…

Jeruji dibelakangku perlahan terangkat keatas. Namun tak kuhiraukan.

“Tidak Frans, tidak…, Frans…,” kupanggil namanya sambil memegang jeruji besi yang memisahkan kami. Kudengar suara-suara tercekik dibawah sana, suara yang perlahan menghilang..

“Sungguh menyentuh sekali, tak kusangka masih ada teman yang mau mengorbankan nyawanya untukmu, sungguh beruntung,” suara di speaker itu menyadarkanku.

“Bajingan, apa yang sekarang kau inginkan hah!” tanyaku dengan sisa-sisa tenaga dan amarah yang ada. Sebagai jawaban atas pertanyaanku, jeruji besi yang kupegang perlahan terangkat keatas.

Dengan cepat aku melangkah masuk kedalam dengan air mata yang perlahan mengalir pelan diwajah, dengan mengeraskan hati aku melihat kedalam lubang yang menganga. Tak kuhiraukan suara jeruji yang perlahan turun dibelakangku.

Maafkan aku Frans, tapi aku akan hidup dengan dendam ini…

“Aaaahhhhh…,”

Suara lenguhan pelan terdengar di atasku. Dengan pandangan nanar aku melihat bagaimana vagina Lidya sedang diciumi dengan rakusnya oleh salah satu lelaki kekar itu. Tanganku terkepal dengan kuat mengiringi detak jantung dan aliran darah yang semakin cepat. Dengan nafas memburu kusadari kalau Indra menguasaiku dan menyampingkan diriku.

“Apa yang kau inginkan?!?” kataku dengan suara yang keras.

“Lihat ketembok disebelah kirimu!,” perintah suara itu. Diakhir perkataannya, tembok itu perlahan terangkat keatas dan menampakkan sebuah jeruji besi yang sama dengan sebelumnya. Tapi yang membuat darahku rasanya mengalir dua kali lebih cepat sesuatu yang ada di balik tembok itu.

Lidya yang berlutut sedang mengulum penis salah satu lelaki kekar itu dengan bernafsunya!

Sementara dibelakangnya, lelaki yang lagi satu sedang memainkan tangannya di klitoris Lidya yang kutahu sangat sensitif.

“SETAN! LEPASKAN DIA! teriakku tak bisa menguasai diri melihat keadaaannya seperti itu. Pengaruh obat perangsang sekaligus obat kuat yang disuntikkan oleh Angel terlihat begitu kuat sehingga Lidya seperti orang yang sangat kehausan akan sentuhan lelaki.

Sejenak pandanganku dan Lidya bertemu, tapi sinar matanya sangat berbeda. Seperti kehilangan jati dirinya.

Pasti karena pengaruh obat perangsang sialan itu… Pikirku marah.

“Hahaha, bagaimana rasanya tak berdaya melihat kekasihmu diperlakukan seperti itu tapi kau tak bisa berbuat apapun? Hahaha,” katanya sambil tertawa lepas. “Kau ingin menolongnya kan? Aku akan mengampuni nyawanya, asal kau menandatangani dokumen yang diberikan oleh Angel,” katanya. Entah muncul darimana, kulihat Angel mendekat dengan membawa beberapa dokumen ditangannya. Lewat celah jeruji dia memberikan dokumen itu padaku.

Senyum manisnya membuatku muak!

Tanpa membacanya lagi, aku mengambil dokumen yang diberikan dan menandatanganinya. Kuberikan kembali dokumen itu kepada Angel.

“Hahaha…, bagus-bagus, sekarang, bagaimana kalau kita lanjutkan menonton tayangan live dari pacarmu itu?” tanyanya yang membuat aku tersentak.

“BIADAB! Kau sudah berjanji untuk…, mengampuni nyawanya,” kataku pelan teringat perkataannya.

“Hahaha…, pikir dengan kepala dingin anak muda, dengan kepala dingin…,hahaha…,” tawanya mengetahui kesalahanku.

~ ~ ~ * * * ~ ~ ~​

“Sayang, ayo kita pergi dari sini, ” kata Roy kepada wanita yang berjubah.

“Nanggung sayang, kekasihku ini sebentar lagi mau nyampe, ” katanya sambil meremas dada wanita disebelahnya, wanita yang wajahnya sangat merah menahan birahi yang sudah memuncak.

“Nanti saja lanjutin di hotel, aku sudah tak sabar menikmati tubuh kalian berdua,” kata Roy sambil menarik wanita berjubah dan menciumnya mesra.

“Tapi bagaimana dengan suamiku?” tanya wanita berjubah dengan lirikan yang genit. Jubahnya tersingkap memperlihatkan kalau dibaliknya dia tidak menggunakan pakaian lain.

“Suruh saja dia nanti semobil dnegan Angel dan mereka, setelah pekerjaan mereka bers tentunya,” jawab Roy dengan tenang. Setenang tangannya yang meremas payudara wanita yang satunya dengan gemas.

“Kalau begitu ayo, ” kata wanita berjubah sambil bangkit dan mengajak pasangannya untuk pergi.

Dengan wajah memerah, pasangannya mengikuti langkah wanita berjubah dengan langkah yang mengangkang, menahan getaran halus vibrator di di kedua lubang bawah tubuhnya.

Terlihat Roy mengambil handphonenya dan menghubungi seseorang.

“Kalian selesaikan pekerjaan kalian, nanti kembali ketempat masing-masing,” katanya sambil memandang monitor yang memperlihatkan Andri yang terkurung di jeruji besi, sedang berteriak-teriak agar pacarnya dilepaskan.

“Sayang sekali nak, kau harus menanggung beban orang lain,” katanya sambil berlalu menuju mobilnya.

~ ~ ~ * * * ~ ~ ~​

Kualihkan pandanganku kesebelah, dimana Angel sudah tak terlihat lagi dan ruangan Lidya sekarang juga sama tertutup oleh jeruji besi seperti ruanganku ini.

Dengan pandangan yang menyesal kupandangi Lidya yang mengulum penis lelaki yang berada didepannya. Sedangkan lelaki yang lagi satu mengambil gaun yang dipakainya sebelumnya dan mulai menyabet pelan punggung Lidya….

Plak…

Sebuah suara tamparan terdengar ketika pantatnya yang bulat ditampar dengan keras oleh lelaki yang dibelakangnya, tamparan yang diselingi oleh deraan gaun dipunggung Lidya.

Terdengar suara tertahan dari Lidya ketika tamparan dan deraan itu silih berganti di punggungnnya.

“Apa cantik? Kau mau bilang apa?” tanya lelaki yang penisnya dikulum oleh Lidya.

“Huugghhtigan….,” kata Lidya pelan dengan mulut penuh oleh penis yang lelaki didepannya.

“Apa kau bilang?” tanya lelaki yang ada didepannya sambil mencabut penisnya dari mulut Lidya.

“Hentikan…,” kata Lidya pelan dengan sinar mata yang berubah.

Apakah pengaruh obat itu sudah hilang?

Plakkkkk….plakkkkkkk…plaaakkkkkkk

Suara tamparan terdengar beberapa kali dari belakang tubuh Lidya, kulihat lelaki yang dibelakangnya menyabet punggung lidya dengan gaun berkali-kali.

“Hentikan….aghhh…hentikan…, ” ratap Lidya dengan air mata yang mulai mengalir di wajahnya.

“Hahaha… hentikan? Rasakan ini…,”

Plaakkkkkk…

Sebuah tamparan yang keras menerpa wajah Lidya yang membuatnya terguling kelantai!

“HENTIKAN! Bajingan! Kubunuh kalian!” kataku sambil berusaha melepaskan jeruji besi yang ada didepanku. Tapi sialnya jeruji itu terlalu kaut bagi kedua tanganku ini. Kulihat kesekeliling kamar namun tidak ada benda yang bisa kugunakan untuk mendobrak jeruji ini.

Siaaalll!

Dan ketika aku berbalik, sejenak aku terkesiap melihat wajah Lidya. Sorot mata itu. Sorot mata yang sekarang memandangku, sorot mata yang sama sepertiku!

Sebuah senyum perlahan muncul dibibir tipisnya, senyum yang terlihat mengerikan diatas muka yang penuh dengan air mata.

“Nah, kalau senyum gitu kan AAAAAAAAAAAAA!,” jerit kesakitan si lelaki terdengar menyayat hati ketika kamaluannya dicengkram dan diremas hingga berdarah.

“Eh, kenapa kau?” tanya lelaki dibelakangnya dengan heran. “AAAHHHHHHHHHHHHHHHHHH!” jeritannya menyusul tak lama kemudian ketika sebuah tendangan yang keras mengenai penisnya yang tadi mengacung tegak.

Tak berkedip aku memandang Lidya yang sekarang begitu dingin dan kejam. Tak sadar aku bergidik melihat wajhnya yang datar, hampir tampa emosi.

“Pelacur sia..AAHHHHH…,” belum habis makian lelaki yang tadi penisnya dikulum Lidya ketika beberapa tamparan yang sangat keras mengenai telinganya yang membuatnya terhuyung, disusul dengan tendangan di belakang lutut dan dibelakang tengkuk.

Seperti layangan yang putus, tubuh lelaki itu jatuh dan tidak bergerak lagi. Dengan senyum yang menyerupai cengiran Lidya menghampiri lelaki yang lainnya yang sedang memegangi penisnya yang berdarah.

“Ammpunnnnn…,” suara lelaki itu mengiba namun dengan satu buah tendangan yang cepat dan keras, yang mengenai pangkal lehernya, lelaki itupun terjatuh dan tidak bergerak lagi.

Seperti mimpi rasanya aku melihat keadaan Lidya. Apakah dia…

“Halo Mas Andri…, atau siapa sekarang disana?” tanyanya dengan ramah. Namun ekpresi datar dimukanya belum juga berubah.

“Aku Indra, kau siapa?” tanyaku penasaran.

“Kita sama mas, aku Siena, orang yang melakukan sesuatu yang tak akan pernah bisa dilakukan oleh Lidya, dia terlalu lembut untuk itu,” katanya sambil mengambil gaunnya dan mengenakannya dengan perlahan.

“Kita sama tapi juga berbeda, apa Lidya tau apa yang kau lakukan?” tanyaku.

“Tentu saja tidak! Kalau dia tahu mungkin dia kan gila, jadi bagaimana kalau kita menyimpan rahasia ini berdua?” tawarnya.

“Berempat Siena, karena saudaraku yang lain tau apa yang kau lakukan sekarang,” jawabku tenang.

Jlleeeeggggggggg… jeruji besi dibelakang Lidya atau Siena terangkat dan Angel muncul dengan pistol ditangannya.

“Berhenti disana!” teriaknya sambil memeriksa kedua orang lelaki yang tergeletak dilantai.

“Siapa yang membantumu? Katakan!” katanya dengan suara keras kepada Lidya. “Berhenti atau kutembak!” katanya ketika melihat Lidya mencoba mendekatinya.

“Jangan bodoh Lid!” kataku melihat dia yang semakin mendekati Angel. Tapi seperti tidak mendengarkan perkataanku, dia tetap mendekati Angel dan …

Doooorrrrrr!

Suara tembakan terdengar dan kulihat Lidya memegangi perutnya yang berdarah!

“LIDYA!” teriakku ketika dengan pelan tubuhnya jatuh kelantai. Namun dengan nekad dia tetap mendekati Angel.

“Jangan paksa aku! Peluru berikutnya akan bersarang di kepalamu!” Ancam Angel, yang kutahu, akan dilakukannya.

Dengan wajah tegang kulihat Lidya yang tak menghiraukan ancaman Angel dan jari Angel yang perlahan bergerak…

Buuuukkkkkkk… Bruuggg suara pukulan benda tumpul terdengar dan dengan terkejut kuamati tubuh Angel yang terbaring dilantai. Dibelakangnya kulihat seseorang memegang sebatang kayu dengan gemetar.

“Edy! Apa yang kau laukan disini?” tanyaku. Sekelebat kecurigaan menghampiriku dan kupandang wajah Edy tak percaya. Mata kami bertemu dan sorot mata bersalah kulihat diwajahnya.

“Ndriii…maafin aku Ndrii…,” katanya pelan sambil menghampiri Lidya.

“Kau sentuh Lidya dan aku bersumpah akan membunuhmu DY!” teriakku marah. Kehilangan sahabat dan tak lama kemudian dikhianati sahabatmu yang lain. Ini terlalu berat untuk kulalui dalam hitungan menit.

“Ayo kita keluar dari sini Ndriii, mereka mau meledakkan tempat ini, tempat ini penuh dengan bahan peldak dan bensin!” katanya dengan tegang. Dan seolah membenarkan perkataannya, terdengar suara ledakan beberapa kali di sebelah. Gudang sebelah!

“Bawa Lidya pergi dari sini! SEKARANG!” teriakku kepada Edy, berusaha mengatasi suara ledakan yang terasa semakin dekat.

“Tapi kau?”

“BAWA DIA PERGI SEKARANG!” teriakku yang diikuti dengan suara ledakan yang terdengar sangat dekat dengan tempatku berada.

Kuamati kepergian Edy sambil memapah Lidya sampai menghilang di pintu. Suara ledakan terdengar semakin dekat dan…

Duuuaarrrrr…, bruuaakkkkk…

Ledakan terdengar dilangit-langit tempat aku berada yang disusul dengan jatuhnya plafon dan atap kearahku. Tembok yang tadi memisahkanku dengan tempat Lidya berada pun jatuh sehingga menghalangi pandanganku.

Kudengar suara langkah kaki mendekat.

“Bawa saja Angel dan susul Lidya yang melarikan diri bersama lelaki pengecut itu!” kata seorang lelaki.

“Tapi mereka…,” sela seorang wanita.

“Apa kau mau mati konyol hah?” kata silelaki dan akhirnya suara langkah kaki yang menjauh terdengar diantara suara reruntuhan.

Duuuuuuuaaaarrrrrrrrrrrrrrr!

Bruuuaaakkkkkk…

Suara ledakan yang diikuti dengan suara benda-benda berjatuhan dan suara benda yang dilahap api semakin sering dan semakin dekat terasa. Kulihat jeruji besi yang menghalangiku bergoyang-goyang.

Dengan sekuat tenaga aku mencoba mendorong jeruji besi itu dan

Baammmmm…,

Jeruji besi itu jatuh dengan suara berdebam yang keras. Dengan semangat yang kembali tumbuh aku berlari keluar diantara benda-benda yang mulai terbakar api.

Sedikit lagi..Sedikit lagi, ketika akhirnya aku melihat pintu yang terbuka disebelah kananku.

Dengan semangat berlipat aku berlari diantara puing-puing dan api yang menjalar ketika…

Duaaaaarrrrrr…,

Suara ledakan yang keras terdengar diatasku dan…

Brruuuugggggg….

Rasa panas menyengat muka dan tubuhku, puing-puing bangunan menutupi pandanganku…

“To…longg…,” kataku lemah sebelum ledakan lain terdengar didekatku. Sebuah ungkapan teringat dikepalaku.

Kebaikan akan selalu menang.

Tapi tidak untuk ceritaku ini… Pikirku, sebelum gelap menyelimuti.

Epilog

“Selamat malam pemirsa, kembali bersama saya Chantal Della Concetta di acara News Flash, untuk mengabarkan berita yang kami rangkum dalam Indonesia All In malam ini.

Setelah kebakaran hebat yang melanda G-Team Company pada pagi dini hari tadi, kembali kita dikejutkan dengan sebuah berita kebakaran lainnya. kali ini kebakaran melanda dua buah gudang milih Alfa Medika yang terletak di pinggir Kota Jakarta.

Kebakaran yang terjadi tadi, menyebabkan dua buah gudang itu rata dengan tanah, belum diketahui apa penyebab kebakaran dan apakah ada korban jiwa dalam musibah ini.

Tak jauh dari lokasi kebakaran, terjadi sebuah kecelakaan maut yang menewaskan seorang laki-laki dan seorang korban wanita yang sampai saat ini masih dalam keadaan koma.

Berita tadi menutup acara News Flash pagi ini. Saya Chantal Della Concetta mengucapkan terimakasih dan sampai jumpa.”

~ ~ ~ * * * ~ ~ ~ ​

“Hahaha, akhirnya urusan ini selesai juga, sekarang sayang, buat aku menuju sorga dunia,” kata seorang lelaki sambil menekan kepala wanita berjubah di selangkangannya.

Sementara itu wanita lain bergoyang dengan erotis didepan lelaki itu. Mata si lelaki menelusuri lekuk tubuh sempurna wanita yang bergoyang mengikuti alunan musik. Sesekali pandangannya mengawasi televisi yang sedang menyiarkan kebakaran hebat di gudang Alfa Medika.

~ ~ ~ * * * ~ ~ ~ ​

“Bisa lihat data pasiennya?” tanya petugas di sebuah bandara internasional.

“Ini pak,” sahut seorang lelaki jangkung sambil memperlihatkan data pasien dan medical record.

“Luka bakar grade 3, mengenai muka dan sebagian punggung dan dada, tangan keseluruhan,” baca petugas itu.

“Nama korban, Arka, tujuan Korea Selatan, untuk operasi rekonstruksi wajah?” tanya petugas itu sambil memandang lelaki jangkung, terlalu ngeri melihat ekpresi mata yang tajam di sekeliling kulit yang terlihat menghitam.

“Iya, ” sahut lelaki jangkung singkat.

~ ~ ~ * * * ~ ~ ~

Tamat