Rahasia Gelap Part 41

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Tamat

Cerita Sex Dewasa Rahasia Gelap Part 41 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Rahasia Gelap Part 40

Shadow of the Day

Masih dengan pikiran yang penuh dengan keraguan aku sampai di depan pintu apatemenku.

Tok…tok…tok…

“Lidya…,” panggilku dengan sedikit keras. Tidak ada jawaban. Apa mungkin dia masih tertidur?

Memikirkan kemunginan itu aku menuju ke pos security dan meminta akses card cadangan kemudian kembali ke apartemenku.

Krriiieeeettt….

Pintu terbuka dan apa yang kulihat membuatku pandanganku kabur…

Ruang tamu apartemenku seperti kapal pecah, sofa terbalik, televisi tergeletak dilantai. Kertas dan buku-buku bertebaran dengan hiasan dan furniture lain yang juga tersebar dilantai.

Pandanganku mengarah ke kamar tidur dan mencari keberadaannya.

Lidya! Kau dimana?

Dengan sedikit berlari aku menuju ke kamar tidur, keadaaan disini sama, seprai yang masih terisi bercak merah teronggok dilantai. Pakaianku dikeluarkan dari lemari dan terhampar di lanati kamar tidur. Meja dan kursi berpindah dari tempatnya.

Kamar mandi!

Dengan cepat aku menuju kekamar mandi dan tidak terlihat sesuatu yang berbeda dari terakhir kali aku disana. Dan Lidya juga tidak ada disini.

Sekarang hanya tersisa lantai bawah. Dengan perasaan yang tidak menentu aku menuju kelantai bawah dan ditangga aku berhenti sejenak.

“Lidya..! Lid!,” panggilku ditangga. Dengan ragu aku turun kelantai bawah dan disini keadaan lebih kacau balau. Koleksi film, game dan buku-bukuku berserakan dilantai.

Sialnya, kamera cctvku belum terpasang setelah diperiksa oleh
polisi sehingga aku tidak bisa melihat siapa yang memasuki apartemenku.

Lidya…, dimanakah dirimu sekarang?

Dengan putus asa aku mengambil handphoneku dan mencoba menghubunginya, namun seperti dugaanku, hanya terdengar pesan kalau nomernya tidak aktif.

“Siaaaaaaaallll!, Siallllllllll! SIIIIAAAAAAAAAAAALLLLLLLL!,” dengan sisa tenaga yang ada di tubuhku aku berterika memanggil nama pacarku, pacar yang baru kumiliki hanya beberapa jam yang lalu.

“Dimana kau sekarang Lid? Dimana…,” ratapku sambil dengan sisa tenaga dan amarah yang ada aku menuju keatas dan melihat jika ada sesuatu yang tersisa sebagai petunjuk.

Dikamar tidur aku termangu melihat tempat yang menjadi saksi bisu persetubuhan kami. Tidak terlihat pakaian atau tas atau barang-barang milik Lidya disini. Seolah dia pergi atau dibawa pergi dengan semua barang-barangnya.

Kulihat sekeliling, tidak ada barang yang hilang…

Tunggu! Laptopku!

Dengan perasaan kesal aku melihat kesekeliling dan laptop baruku tidak terlihat.

Apakah mereka mengincar laptopku lagi? Tapi kenapa? Tidak ada apa-apa disana kecuali file video dan file rar hasil extract dari video itu.

Jika memang itu incaran mereka, mereka salah besar kalau mengira hanya itu satu-satunya file yang kupunya.

Dddrrrrttt…ddrrrrtttt…drrttttt

Suara getaran handphoneku terasa mengganggu disaat seperti ini. Baru ingin kutekan tombol reject ketika aku melihat nomer tidak dikenal dilayar handphoneku. Jangan-jangan…

“Halo?” kataku dengan ragu di handphone.

“Selamat pagi, dengan Pak Andri?” sebuah suara yang rasanya tidak asing terdengar menyahuti sapaanku.

“Iya, ini siapa?” tanyaku, masih belum bisa mengingat suara siapa yang kudengar di ujung sana.

“Saya Galang, rekan dari Herman, masih ingat saya?” tanyanya dengan ramah.

Sosok polisi kurus dengan mata yang tajam serta kemampuan analisa yang baik terbayang dibenakku. Bercampur dengan bayangan polisi gendut temannya.

“Iya pak, ada yang bisa saya bantu?” tanyaku sedikit heran kenapa dia menghubungiku dipagi hari seperti ini. Mungkinkan untuk kasus kebakaran tadi? Tapi itu sudah ditangani oleh polisi bernama Arka tadi?

“Bisa saya bertemu anda sebentar? Saya ada di dekat apartemen anda, saya kurang tau dimana anda sekarang berada…”

“Saya ada diapartemen dan rasanya anda perlu melihat apa yang terjadi disini,” kataku sambil menutup teleponnya.

Dengan perasaan yang resah aku membalikkan sofa yang untungnya tidak terlalu berat dan duduk diatasnya. Berbagai kemungkinan hal yang terjadi berkelebat di dalam pikiranku. Apa sebenarnya inti dari semua ini?

Menit demi menit kulalui dalam keheningan ketika samar aku mendengar langkah kaki mendekat. Ketika akhirnya langkah kaki itu berhenti didekat pintu masuk, dengan malas aku menoleh dan melihat pandangan heran dari si polisi kurus.

Galang POV

Kulihat wajah kusut dari Andri melihatku dengan pandangan gabungan antara marah, heran dan khawatir. Rasanya akupun akan seperti itu ketika melihat ruangannya yang berantakan dan mengingat baru saja terjadi kebakaran di perusahaannya.

Dengan pelan aku masuk kedalam ruangan dan berusaha untuk tidak menginjak barang-barang yang berserakan dilantai, yang cukup sulit mengingat kacaunya ruangan ini.

“Hmmmm…, rasanya bukan waktu yang tepat untuk bertanya?” tanyaku.

“Tergantung pertanyaannya? Apa yang bisa kubantu pak polisi?” tanyanya dengan pandangan tajam.

“Sebaiknya kuluruskan satu hal dulu Pak Andri, aku bukan polisi,” jawabku tegas sambil melihat kearahnya.

Pandangan heran dan terkejut terlihat dimatanya.

“Ouwh…,” katanya. Dan hanya itu suara yang keluar dari mulutnya.

“Apakah anda sudah menghubungi polisi?” tanyaku.

“Belum dan apakah harus?” tanyanya getir. “Sepertinya polisi juga belum bisa mengungkap kasus Ade dan kasus saya yang sebelumnya,” katanya dengan nada yang tidak bersemangat.

“Sistem dinegara kita seperti itu dan alangkah baiknya kita mengikuti sistem yang sudah ada…,” kataku mencoba memberikan alasan.

“Sistem yang korup ini? Sistem yang dipenuhi dengan malpraktek dan kepalsuan ini, saya sudah muak dengan semua itu, toh hasilnya tidak aka, berganti pemimpin sekian kali, berganti sistem sekian kali, perubahannya besar dan sangat terasa bukan?” katanya dengan nada sarkasme yang kentara.

Huuuufffttttt….

Apa yang dikatakannya tidak semuanya salah namun tidak seluruhnya benar juga.

“Kalau menurut saya, sistemnya sudah benar, yang salah adalah pelaksananya, human error. Yang jadi masalah adalah kita sebagai pelaksana sistem itu sendiri. Ada suatu ungkapan, yang membuat peraturan adalah manusia, yang melanggarnya juga manusia itu sendiri.” Kataku menjelaskan.

Terlihat penolakan dimatanya namun berganti dengan pemahaman. Dengan tangannya dia mengacak-acak rambutnya dan terlihat memikirkan berapa hal.

“Jadi, to the point saja, apa yang bisa saya bantu?” tanyanya. Sorot matanya berubah, sekarang berisi amarah, semangat dan sesuatu yang baru pertama kali kulihat dimatanya. Kejam. Iya kejam, sorot mata kejam yang hanya kulihat pada penjahat kelas kakap atau orang yang berusaha bertahan hidup dengan mengandalkan segala cara.

“Mungkin lain kali saja, kalau ada sesuatu yang ingin anda katakan, telepon saja kenomer yang saya berikan tadi, oh iya, pertimbangkan untuk menghubungi polisi, sampai jumpa,” kataku sambil melangkah keluar ruangan.

Menarik, semakin menarik, kasus ayng awalnya hanya terlihat sebagai kasus pembunuhan biasa sekarang berkembang menjadi suatu kasus yang pelik. Pikirku sambil meninggalkan apartemen.

Sekarang saatnya menghubungi Bram…

Andri POV

Kupandangi kepergian si-polisi-kurus dengan pikiran yang bercabang. Kehilangan Lidya dan kebakaran di G-Team membuat dua hal yang baru bisa kuraih menghilang dalam sekejap.

Mungkin sudah saatnya meminta bantuan padanya.Kulihat handphoneku. Hampir pukul 08.00. Kukeraskan tekadku dan menghubunginya.

“Halo, ada orang?”

“Huaaaahhhmmm…, iya..iya..aku disini,” kudengar sahutannya.

“Aku perlu bantuan…,”

“Sudah kuduga, kalau tidak perlu bantuan kau tidak akan menghubungiku, apa kali ini?” tanyanya dengan lembut sekarang.

“Aku perlu melacak keberadaan seseorang dari handphonenya, apa itu bisa?” tanyaku penuh harap.

“Bisa, itu mudah selama kartu SIM handphonenya masih didalam handphone, ngomong-ngomong, siapa orangnya yang beruntung sampai kau perlu lacak dengan bantuanku?” Tanyanya, sekarang dengan nada ingin tahu yang kuat.

“Lidya dan Frans, kau sudah kenal Frans kan? ”

“Playboy kampung itu? Tentu saja! Tapi siapa Lidya?” tanyanya penasaran.

“Pacarku…,” jawabku pelan.

“Ouwhh.., oke, berapa no nya?”

Kukatakan no handphone mereka dengan harapan mereka segera bisa ditemukan.

“Aku ambil alih dari sini, kau istirahat saja dulu…,” katanya penuh pengertian.

“Iya, terimakasih…,” kuberhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan pelan. “Terimakasih, kakak…”

“Ndriii…,” panggilnya pelan.

“Iya kak?”

“Mungkin sebaiknya kau sembunyi dulu, aku merasa kau tidak aman lagi sekarang,” sarannya lagi.

“Baik kak,” jawabku mengakhiri percakapan kami.

Mungkin sudah saatnya.

Kupikirkan lagi saran yang diberikan kakak tadi. Saran yang bagus, sekarang tinggal mengikutinya.

Kuambil perlengkapan yang diperlukan dari kamar dan dapur lalu kututup pintu depan.

Lidya, akan kutemukan kau dan Frans, tidak peduli apa yang perlu aku korbankan dan apa yang perlu aku hadapi nanti, tunggu aku….

Galang POV

Perusahaan G-Team.
Pukul 10.00

Kuamati puing-puing yang tersisa dari bekas gedung G-Team. Masih cukup jelas bagaimana megah dan elegannya ruangan-ruangan yang kulewati dulu, sekarang yang tersisa hanyalah puing-puing hitam yang membisu. Puing-puing yang menjadi saksi bisu kecelakaan atau tindak kejahatan tadi malam.

Disebelah garis polisi, berdiri beberapa orang yang kalau tidak salah ingat adalah karyawan dari G-Team. Dan itu dia, orang yang kucari-cari, Bram dan pasangan sejatinya, Aiko.

“Halo Bram, Aiko,” sapaku dari luar garis polisi.

“Halo Lang., sigemuk mana?” tanya Bram sambil melihat kebelakangku.

“Tidur dirumah, biasa,” kataku sambil melihat kearah Aiko yang sedang memasukkan sesuatu kedalam kantong plastik, tempat barang bukti.

“Boleh aku bertanya Bram?” tanyaku sambil menatap wajahnya dengan serius.

“Sebagai apa?” tanyanya sambil tersenyum.

“Mungkin sebagai teman?” kataku tersenyum.

“Kalau teman akan mengajakku dan Aiko minum kopi di sebelah,” katanya.

“Oke,” kataku sambil mengajaknya dan Aiko beranjak kerestauran atau cafe kecil disebelah jalan didepan G-Team.

Setelah sampai kami semua memesan kopi. Rasanya sekarang hari yang padat untuk semua orang. Kupandang Bram yang asyik meminum kopinya, namun disebelahnya Aiko terlihat tidak begitu menikmati kopinya.

“Kenapa Aiko? Ada masalah?” tanyaku sambil melihat ekpresi wajahnya.

“Hanya terburu-buru kesini sebelum sempat mendapat jatahku!” katanya ketus sambil menoleh kearah Bram dengan cemberut.

“Hahahaha….,”

“Hahahaha…,” aku dan Bram serentak tertawa mendengar perkataanya yang terus terang, yang membuat wajah Aiko semakin cemberut dan memainkan sendok didalam cangkir kopinya.

“Jadi Lang, apa yang ingin kau tanyakan?” katanya dengan wajah serius.

“Kebakaran di G-Team, kecelakaan atau sengaja? Off the record,” kataku pelan.

“Kemungkinan besar sengaja, ada botol-botol bekas yang terindikasi berisi bensin ditempat kebakaran, selain itu security diserang dan masih dirawat intensif di rumah sakit, dan CCTV juga diretas,” jawabnya sambil menghela nafas panjang.

Hmmmmmm…Terlalu banyak bukti untuk sebuah kecelakaan. Pikirku.

“Bagaimana dengan jenazah yang ditemukan? Apakah itu benar jenazah Lisa dan kalau benar apa penyebab kematiannya?” tanyaku.

Braaakkkk!

Suara tangan yang membanting meja terdengar disamping kami.

“Bisakah kalian membicarakan tentang mayat saat kita tidak makan atau minum?” teriak Aiko dengan marah sambil melangkah keluar dari cafe.

Aku hanya bisa memandang kepergian Aiko dengan tertegun, kulihat kearah Bram dan hal yang sama rasanya bisa kulihat pada dirinya.

“Itu sudah pasti Lisa, ciri fisik dan juga sidik jari benar miliknya, hanya saja, penyebab kematiannya bukan karena kebakaran, tapi karena kehilangan banyak darah karena luka tembak di bagian dadanya, sudah dulu, aku ngejar Aiko dulu, thanks kopinya,” kata Bram sambil bergegas keluar mengejar Aiko.

Kupandangai kepergian Bram dengan seribu satu macam spekulasi. Keterangan yang diberikannya membuat mendapatkan banyak data dan kemungkinan baru, tapi aku ingat sebuah kutipan:

“Jangan membiarkan pengetahuan-pengetahuan yang baru menyingkirkan pengetahuan-pengetahuan lain yang berguna bagimu…,”

Rasanya itu benar, tapi, apa yang harus kulakukan sekarang? Dengan menghilangnya Frans, entah sebagai tersangka atau korban. Dikeluarkan dari kasus ini dan sulit mendapatkan akses ke sumber-sumber informasi yang ada. Apa yang harus kulakukan sekarang?

Siaaaallllllll!

Tunggu dulu, suatu kutipan lain terlintas dibenakku:

“Begitu pandanganmu berubah, hal yang paling memberatkanmu justru bisa menjadi petunjuk untuk menyingkap kebenaran…”

Itu dia!

Selama ini aku selalu melihatnya dari pandangan korban, bagaimana kalau aku mencoba melihatnya dari pandangan pelaku?
Semuanya berawal dari kematian Ade Mahendra, kuasumsikan dia dibunuh ketika mengetahui sesuatu ketika mempelajari sistem yang akan dibuat di G-Team.

Dari sana, ada ledakan yang disengaja di mobil yang dikendarai Andri di Bidadari Massage. Saat disana, laptopnya yang ada didalam mobil rusak dan handphonenya juga hilang. Kemudian malamnya saat dia dirawat, apartemennya juga kemalingan dan HDD komputernya hilang.

Laptop, handphone dan komputer. Itu sasaran utamanya. Dan jika Andri hanya untuk pengalih perhatian, maka kebakaran di G-Team adalah sebuah keharusan, karena mungkin saja ada data yang masih disana. Tapi itu percuma saja karena polisi sudah mendapatkan file yang mereka cari.

Siaallllll!
Siallllllll!
Siallllllll!

Kalau mereka bisa mengeluarkan aku dan Herman dari kasus ini, apa sulitnya menghilangkan barang bukti yang ada dikantor polisi???

Tapi ada yang janggal, kenapa harus membunuh Lisa? Dan kemana menghilangnya Frans? Hanya itu saja yang belum aku temukan petunjuknya. Andai saja aku bisa mendapatkan laporan autopsi dari Lisa.

“Eh maaf, bisa saya duduk disini?” suara seorang lelaki muda membawaku kealam nyata.

“Eh silahkan,” kataku sambil menunjuk ke kursi yang ada didepanku. Dan untuk pertama kalinya aku melihat wajahnya, seorang pria muda, mungkin usia 25an memandangku dari mata yang memancarkan keingintahuan dan kekaguman?

“Maaf nama anda Galang bukan?” tanyanya ragu.

“Iya, darimana anda tahu?” tanyaku sambil memperhatikannya. Dari potongan rambut dan bentuk tubuhnya, mungkinkah dia?

“Oh berarti benar, saya Arka pak dari kepolisian, nama anda sudah sering saya dengar dibicarakan dengan oleh rekan-rekan ” katanya sambil mengulurkan tangannya.

Kusambut uluran tangannya dan berkata “Saya harap yang anda dengar yang baik-baik saja.”

“Tentu saja banyak yang saya dengar, salah satunya kalau anda dan Pak Herman adalah salah satu pasangan terbaik untuk menangani kasus-kasus yang tak terpecahkan, yang mana membuat saya heran, kenapa anda dikeluarkan dari kasus G-Team dan sebagai gantinya, yang belum berpengalaman seperti saya yang ditugaskan,” katanya panjang lebar sebelum memesan kopi kepada salah seorang waitress.

Sejenak suasana menjadi hening ketika keterusterangannya yang sederhana membuatku tidak bisa berpikir untuk mengelak dari pujiannya ataukah harus berterimaksih atas pujiannya itu.

“Ini kopinya mas,” kata waitress sambil meletakkkan kopi di meja kami.

“Terimakasih,” kata Arka sambil melihat kearahku. “Maaf kalau perkataan saya menyinggung anda,” lanjutnya.

Kutarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaannya.

“Saya bingung, harus mengelak dari pujian anda ataukah berterimakasih atas pujian anda,” sahutku terus terang.”Apakah saya boleh bertanya kepada anda?” tanyaku pelan.

“Tentu saja, apa yang anda ingin tahu pak?” tanyanya penuh perhatian.

“Apakah saudara Andri, pemiliki dari G-team ada menghubungi polisi hari ini?” tanyaku.

“Kalau dia menghubungi kami, dengan senang hati kami akan menerimanya, yang jadi masalah, dari pagi kami mencoba menghubunginya, namun tidak ada jawaban, dan satu hal lagi pak, dia merupakan salah satu tersangka atas kebakaran di perusahaannya,” katanya sambil menarik nafas.

“Apa?” kataku tak percaya. Tapi instingku mengatakan hal itu bisa jadi. Kalau Andri yang jadi otak semua kasus ini.

Tunggu dulu!

“Motifnya apa kalau Andri tersangkanya?” kataku penasaran.

“Uang asuransi, dia mengasuransikan bangunan perusahaannya dengan nilai yang cukup tinggi,” jawabnya.

Asuransi? Rasanya terlalu bodoh membakar bangunan perusahaanmu sendiri hanya untuk mendapatkan asuransi sementara kau sedang mengerjakan proyek dengan nilai yang cukup besar. Ada yang tidak cocok disini.

“Bolehkah saya tahu, apakah anda yang menyimpulkan itu?” tanyaku tak bisa menahan rasa penasaranku.

“Anda heran kan? Begitu juga saya, atasan saya yang menyimpulkan seperti itu,” katanya dengan suara datar.

Menarik…Semakin menarik saja…

Kualihkan pandanganku keluar cafe, suara kendaraan terdengar tanpa henti walaupun tidak terlalu keras terdengar dari dalam sini. Kopi dalam cangkirku sudah dingin namun aku tak ada niatan untuk memesan yang baru.

“Sebaiknya sekarang anda ikut saya ke apartemen Andri,” kataku. “Tadi saya berjumpa dengannya disana dan sepertinya seperti ada perampokan disana,” lanjutku.

“Apa? Dia disana?” katanya tak percaya sementara aku memanggil waitress dan membayar tagihan kami. “Aku yang traktir kali ini, ikut ke apartemen Andri?” tanyaku yang dijawabnya dengan anggukan.

“Pakai mobilku saja, ” kataku sambil menunjuk kearah jeep CJ 7 yang sering aku gunakan bersama Herman. Jeep tua tahun 1981 namun soal tenaga masih bisa diandalkan.

“Wah CJ 7 ya pak? Boleh saya yang mengemudi? Tanyanya dengan bergairah.

“Ini, ” Kataku sambil melemparkan kunci mobil kearahnya yang ditangkapnya dengan senyum lebar sementara aku hanya bisa tersenyum dan melangkah ke pintu penumpang ketika…

Duuuaaaaaarrrrrrrrrrr…

Sebuah tenaga dorongan yang kuat membuatku terlempar kesamping menjauhi mobilku dan rasa sakit serta panas membutakan pandanganku. Kulihat kobaran api dengan cepat membakar mobilku yang malang.

“Arka…,” kataku lemah sebelum hitam menyelimuti.

~ ~ ~ * * * ~ ~ ~​

Mess G-Team
Pukul 12.22
Beberapa jam sebelum kebakaran di G-Team.

“Auuuuuuuwwwwww…, Mas Frans, Lisa nakal nih, masa putingnya Shinta dicubit sih,” kata Shinta kepada Frans yang berjalan didepannya dengan tergesa.

Saat ini mereka sedang bergegas dari parkir menuju messnya Frans di lantai bawah mess eksekutif. Lisa berjalan sambil memeluk Shinta, sesekali tangan mereka meremas bagian tubuh rekannya dengan bersemangat.

“Remes balik aja Shin, kalau perlu yang dibawah itu, pasti dah basah tuh,” celetuk Frans dengan celana yang sudah mengembung dibagian depan.

Berjalan dengan dua orang wanita cantik yang sedang horny, anak kecilpun tahu kalau Frans sedang mati-matian menahan nafsunya yang sudah di ubun-ubun.

“Hihihi, Mas Frans kok buru-buru banget sih? Udah kebelet yah mas?” tanya Lisa sambil tangannya dengan nakal tetap meremas dada Shinta.

Plaaakkkkkkk!

“Auuuhhhhh!” teriak Lisa terkejut ketika Shinta menampar pantatnya yang sekal dengan keras.

“Mass, pantat Lisa merah ni, ditampar Shinta!” rengek Lisa sambil menaikkan roknya yang pendek sehingga pantatnya yang putih namun sekarang berhiaskan cap merah terpangpang jelas.

Mata Frans seperti hampir melompat keluar ketika melihat pemandangan dibelakangnya. Tonjolan dicelananyapun semakin terlihat.

“Nanti mas pijetin deh,” kata Frans sambil melangkah lebih cepat menuju mess.

“Ihhhhh…, mas jahat…, ” rengek Lisa dengan wajah imut dan horninya sambil mengejar Shinta yang berjalan didepannya dan…

Sreeekkkkk….

“Lisa!” teriak Shinta ketika tangan mungil dan jahil dari Lisa menurunkan tali gaun Shinta sehingga bagian atas gaun Shinta melorot yang menyebabkan payudara mulusnya terhampar dibawah sinar bulan yang temaram.

Dengan kedua tangan menutupi payudaranya yang bergoyang ketika berlari mengejar Lisa didepannya, Shinta menuju ke mess Frans.

Didepan pintu mess Frans, terlihat Frans dengan tangan yang sedikit tegang mencoba memasukkan kunci kedalam lobangnya.

“Mas, lubangku perlu dimasukin kuncinya juga nih, mas mau bantu?” tanya Lisa dengan gaun yang sudah terangkat sehingga Frans bisa melihat belahan kecil berwarna merah muda yang sekarang terlihat mengkilap karena cairan kewanitaan yang mulai keluar.

“Gleekkk..,” Frans hanya bisa menelan ludah melihat pemandangan itu apalagi ketika perlahan cairan itu mengumpul dibagian bawah lipatan vagina Lisa kemudian menetes kelantai.

Suasana temaram dari sinar rembulan dipadu dengan aroma betina yang sedang birahi membuat Frans tidak bisa lagi mengendalikan dirinya.

Dengan satu gerakan cepat khas pejantan yang sedang dimabuk birahi, Frans menyergap Lisa mendesak badan mungil tapi sintal Lisa ke dinding disebelah pintu dan mendaratkan satu ciuman panas di bibir Lisa. Hanya sejenak Lisa tertegun sebelum membalas ciuman Frans dengan sama panasnya. Tangan Frans meraba kepantat Lisa dan meremasnya dengan lembut.

“Ugghhh…,” Frans melenguh tertahan ketika sepasang tangan yang lentik menurunkan resleting celananya dan meremas penisnya yang sudah menegang.

“Wow…Lis! Gede banget! Melengkung keatas lagi, pasti enak banget nih kalo gesek G-Spot nanti!,” kata Shinta terbelalak kagum, sambil tangannya memainkan dua buah bola kembar Frans dengan bergairah.

Suasana semakin memanas ketika Shinta membuka baju Frans dan menempelkan payudaranya yang mulus ke punggung Frans. Dengan gerakan menggoda dia memijat punggung Frans. Suasana temaram sekarang bercampur dengan aroma cairan kewanitaan yang mulai menguar diudara terbuka.

“Sudah… nanti ada orang, didalam sa…ja,” kata Frans dengan nafas terengah. Wajahnya terlihat merah padam menahan gairah yang mengalir deras dalam darahnya.

“Uhmmm…, disini aja mas, kan sepi, lagian Mas Andri gak bakalan kesini deh kayaknya,” kata Lisa sambil dengan gerakan pelan menurunkan sedikit gaunnya sehingga puncak payudaranya terlihat. sambil tersenyum samar Lisa meraih kepala Frans dan menariknya keputingnya yang mengeras namun masih terlihat berwarna merah muda.

Belum terlalu banyak terjamah!

“Ahhhh…Shin..!” Lenguh Lisa ketika Shinta berlutut diantara Lisa Fan Frans. Dengan ahlinya dia mengulum penis Frans yang sudah membengkak sedangkan tangan kirinya perlahan memasuki vagina Lisa yang sudah basah kuyup akibat cairan cintanya yang sedari di club sudah mengalir keluar.

“Ahhh…Mas..Jangan digigit…sakit…,” desah Lisa ketika dengan gemasnya Frans menggigiti puting Lisa dengan pelan sementara dibawah sana Shinta memasukkan dua jari kedalam vaginanya.

“Ugghhhh mas na…kalll!” kata Lisa ketika jari Frans sekarang dengan nakalnya menggesek daging kecil yang menyembul malu-malu dibagian atas vagina Lisa. Titik sensitif bagi sebagian besar wanita dan Lisa termasuk salah satu diantaranya.

“Ohhhhh shittttt! Cepetin Shin!” teriak Lisa sambil menekan kepala Frans kedadanya.

“Eh.. kok?” tanya Lisa dengan gusar ketika Shinta menghentikan kocokan jarinya dan menarik Frans menjauh dari Lisa. Dengan sedikit kasar Shinta mendorong tubuh Frans supaya terbaring di lantai. “Biar sama-sama nyampe Lis,hihihi…,” kata Shinta sambil menarik tubuh Lisa dan merekapun tenggelam dalam ciuman yang basah dan panas.

“Hei…., dingin nih…, mau ini apa gak?” tanya Frans sambil menunjuk penisnya yang mengacung tegak walupun sedikit bengkok keatas.

“Bagusan mana mas?” tanya Shinta sambil menurunkan gaunnya dengan pelan, demikian juga Lisa. Malam yang dingin, suasana yang temaram karena sinar rembulan dan sekarang dihiasi dengan dua wanita cantik yang sekarang sedang menurunkan gaunnya.

Terlihat Frans hanya bisa menahan nafas ketika dua gadis yang memiliki kecantikan berbeda, Lisa yang centil dan berwajah imut dan Shinta yang terlihat lebih dewasa, menurunkan gaun yang dikenakannya dengan pelan. Dua pasang payudara yang berbeda terpangpang di mata Frans.

Gaun itu sekarang turun memperlihatkan perut datar dan putih mulus tanpa cacat, hanya, sebuah tatto kecil menghiasai bagian bawah perut Lisa, dekat dengan vaginanya. Dan ketika gaun itu turun sepenuhnya, Frans bisa melihat dua vagina yang tidak ditumbuhi satu rambut kemaluanpun dan terlihat basah mengkilap oleh cairan cinta yang mulai memancar keluar.

“Bagusan kali ini,” kata Frans sambil menunjuk kearah penisnya “masuk kedalam sana,” lanjut Frans sambil menunjuk ke kedua vagina yang sekarang berjalan mendekat kearahnya.

Dengan pelan Shinta mengangkang diatas penis Frans sedangkan Lisa memilih mendekatkan vaginanya ke kepala Frans. Dengan satu kedipan ringan dari Shinta, mereka berdua dengan serentak menurunkan vaginanya, satu kearah penis dan satunya kearah mulut Frans.

“Ugghhhhh…gila…gede banget mas!” kata Shinta sambil berusaha memasukkan vaginanya kedalam penis Frans yang mengacung tegak.

Dengan wajah antara sakit dan nikmat Shinta berusaha memasukkan semua penis Frans kedalam vaginanya yang sudah basah menanti.

“Aaaahhhhhhhhh massssss!” teriak Shinta ketika dengan satu kali hentakan keras, penis Frans masuk kedalam lubang sempit milik Shinta.

Tangan Shinta membuka dan menutup, merasakan sensasi batang panas dan keras didalam vaginanya.

“Lis, kamu ha..rus coba ini nanti! Penuh banget, ampe mentok lagi didalem, enak bangetsss…,” ceracau Shinta merasakan nikmat dari penis Frans.

“Ugghhhh, pasti Shinnn! Tapi ini juga nikmatt bangetsss! Terus Mas! Yang cepet,,, iyah disana…disana!” teriak Lisa ketika lidah Frans menari-nari divaginanya. Apalagi dengan sengaja Frans menyentil-nyentil klitoris Lisa yang sudah membengkak.

Sementara itu Shinta semakin cepat menaikturunkan pantatnya di penis Frans. Beberapa kali dia memutar-mutar pantatnya di penis Frans sehingga jilatan Frans di vagina Lisa beberapa kali berhenti.

“Lis! Enak bangets, penuh banget rasanya, sssttttttt….,” racau Shinta. Sekarang tangannya dengan kuat meremas payudaranya sendiri.

Plak…plak….

Suara paha yang beradu bercampur dengan suara desahan Lisa dan Shinta, kedua wanita muda yang sedang dimabuk birahi.

“Mas cepetin please….Dikit lagi masss,…” ceracau Shinta semakin menjadi ketika orgasmenya semakin dekat terasa.

Dalam satu gerakan pelan Lisa mencondongkan tubuhnya dan meraih kepala Shinta. Dan kedua betina itu akhirnya berciuman dengan panasnya. Namun ciuman itu tak lama karena kemudian Lisa mengarahkan ciumannya ke leher Shinta sedangkan tangannya memilin puting Shinta yang sudah mengeras.

“Oooh…oooohhh..oooohhh, curang…, masa aku saja yang..ooouuhhh…stttttt…,” erangan Shinta semakin tidak beraturan merasakan penis Frans yang menggaruk pelan dinding kewanitaannya.

“Uuuumh!” nikmat sekali dibawah situ.

Sementara Lisa dengan nakalnya membuat tanda merah dipayudaranya sedangkan tangannya mencubit pelan putingnya.

“Mmmmmh…ahhhh!” payudaranya terasa sangat geli! Keduanya membuat birahi Shinta semakin membumbung tinggi.

“Lisa…. Lisa… Ooooh…,” Shinta hanya bisa menceracau sambil mendekap punggung telanjang Lisa, hingga payudara kenyal mereka beradu yang semakin memacu nafsu dalam diri mereka.

“Oooh! Ooooh! Ooooh!” Shinta menjerit penuh birahi, saat penis Frans menghujam kewanitaannya mentok sampai dalam.

Sambil memejamkan mata, Shinta membiarkan lidah Lisa menguas pelan di leher dan telinganya.

“Lisa… sssssh… oooh…. Ummh…,” desah Shinta semakin tidak terkendali.

“Mas… Mas Frans… sssssh….” Shinta mendesis pelan, menikmati rasa gatal yang menggerogoti selangkangannya, pelan-pelan menuju keperut kemudian ke puting yang sedang dihisap Lisa, ke kerongkongannya yang membuat Shinta tak sadar menjerit dengan pelan, dan menyebar ke seluruh tubuh. Gelombang birahi yang mendera membuat Shinta tidak bisa menahannya lagi.

“Ooooh…Mas…Lis Aku sudah hampir… oh… oh…. Oooooh….” Shinta menjerit panjang merasakan orgasme yang semakin dekat.

Mulut Shinta mengangga, seperti kehabisan udara. Otot-ototnya berkedutan tak terkendali, dadanya membusung-busung hingga payudaranya berguncangan kesana kemari. Lisa yang tahu Shinta segera mencapai puncak, segera melumat bibirnya.

“Mmmmmh… ooohmmhhhh… mmmmhhh…aaaaaaahhhhhhhhhhhhhhh!”

Shinta menjerit dengan kuat seiring dengan cairan cintanya yang keluar dari dalam vaginanya namun tersumbat dengan penis Frans yang menutup dengan rapat celah keluarnya.

Hanya desah nafas Shinta yang terdengar memecah keheningan malam, dengan tubuh lemas karena orgasme yang melandanya, Shinta bersandar pada Lisa yang tak henti-hentinya menciumi leher dan memilin pelan putingnya.

“Shin, gantian dong…,” kata Lisa dengan wajah yang memerah menahan birahi. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada mereka bertukar posisi. Sekarang Lisa yang bersiap memasukkan batang basah, keras dan panas Frans ke selangkangannya.

“Istirahat dulu ugghhhh,” suara protes dari Frans terhenti oleh vagina basah Shinta yang menyumbat mulutnya. Sementara itu dengan gaya yang menggoda Shinta, Lisa bersiap memasukkan penis Frans.

“Oooohhhh….Gilaaaa! Rasanya penuh banget, padahal baru kepalanya saja yang masuk, gilaaa Shinnnn!” teriak Lisa ketika baru kepala penis Frans yang menyeruak kebelahan dagingnya yang basah.

“Oooohhhhh…ughh,” desahan Lisa tertahan oleh dekapan tangan Shinta ketika sekelebat cahaya menyinari tempat yang tak jauh dari mereka bercinta. Dengan wajah tegang Shinta menoleh dan mendengar suara didekat mereka.

~ ~ ~ * * * ~ ~ ~​

Galang POV

Duuuaaaaaarrrrrrrrrrr…

Sebuah tenaga dorongan yang kuat membuatku terlempar kesamping menjauhi mobilku dan rasa sakit serta panas membutakan pandanganku. Kulihat kobaran api dengan cepat membakar mobilku yang malang.

“Arka…,” kataku lemah sebelum hitam menyelimuti.

Kepalaku terasa berat ketika akan kugerakkan.

Dimana aku sekarang? Pikirku sambil mencoba membuka mataku. Cahaya yang menyilaukan menimpa mataku ketika kucoba membukanya pelan-pelan.

“Sudah sadar Lang?” kata seorang pria gemuk yang menjadi rekanku selama beberapa tahun ini dengan wajah yang gembira.

“Her kenapa kau bisa ada disini?” tanyaku heran.

“Bram yang memberitahuku dan dia juga yang mengantarmu kesini setelah kejadian itu,” jawab Herman.

“Ughhht,” kepalaku masih terasa sedikit pusing.”Bagaimana dengan polisi yang bersamaku?” tanyaku teringat kepada Arka.

“Untungnya dia selamat, cuma…,” Herman terlihat ragu untuk melanjutkan.

“Cuma kenapa?” tanyaku tak sabar.

“Dia mengalami luka bakar yang cukup parah dan sekarang masih ditangani di ICU,” jelas Herman. Namun dari wajahnya aku mengatahui ada sesuatu yang membuatnya gelisah.

“Lang, aku pulang dulu, kalau perlu apa-apa hubungi aku,” katanya sambil menjabat tanganku. Kuterima uluran tangannya walaupun rasa heran menggerogoti hatiku.

Kupandangi kepergian dirinya sambil menatap secarik kertas yang tadi diberikannya saat bersalaman. Hanya ada sedikit tulisan namun isinya membuatku terkesiap.

Anakku ada pada ‘mereka’, maaf aku tidak bisa membantumu. Kawan atau lawan sulit dibedakan, percayalah pada instingmu!

Tok…tok…tokk…

Suara ketukan dipintu membuyarkan lamunanku, dengan cepat kusembunyikan kertas yang diberikan Herman dibawah selimut.

“Masuk!” kataku sambil mengamati pintu yang perlahan terbuka.

“Halo Lang,” sapa Bram dengan ekpresi lelah diwajahnya, dibelakangnya Aiko mengikuti sambil membawa parcel.”Halo mas, sudah baikan?” sapanya ramah. Hilang sudah wajah kesalnya saat kulihat terakhir kali.

“Halo, yah lumayanlah, rasanya semua badanku masih ada ditempatnya,” kelakarku.

Pandangan Bram terlihat serius dan dengan nada pelan dia berbicara.

“Lang, sebaiknya kau tidak mengusut kasus ini lagi, lagipula kau sudah dikeluarkan dari kasus ini, aku tidak ingin kehilangan teman sepertimu,” katanya sambil memandangku dengan tajam.

“Sudahlah Bram, kau tahu dengan jelas bagaimana aku, ada kabar terbaru mengenai ledakan itu?” tanyaku tak mempedulikan kekhawatirannya.

“Huffftttt,” dengus Bram sambil menggelengkan kepalanya.”Ledakan itu menggunakan peledak yang tidak terlalu besar daya ledaknya, sepertinya tujuannya memang hanya utuk memberikan peringatan untukmu Lang,” kata Bram pelan. “Untung juga begitu, kalau tidak Arka tidak akan bisa keluar dari ledakan itu dalam keadaang bernyawa, yah, walaupun sekarang dia mengalami luka bakar yang cukup parah dan masih memerlukan perawatan yang intensif,” jelas Bram panjang lebar.

Peringatankah?

Atau pengalih perhatian?

“Oh ya Bram, kau tahu Andri?” balik ku bertanya.

“Andri G-Team? Aku pernah melihatnya beberapa kali,” jawab Bram.

“Apa kau tahu kalau dia ditetapkan jadi tersangka?”

Tok..tok…tok…

Suara ketukan di pintu membuat kami saling pandang. Kulihat Bram dan dia terlihat mengangkat bahunya tanda tidak punya ide siapa yang datang.

“Masuk!” Seruku ke siapapun yang berdiri di balik pintu itu.

Seorang pria berusia sekitar 27 tahun terlihat memasuki ruangan. Wajahnya kelihatan sedikit heran melihat keberadaan Bram dan Aiko.

“Selamat siang, bisa saya berbicara dengan pasien sebentar?” tanyanya dengan ramah.

“Ooohh, silahkan,” kata Bram. “Kalau begitu aku dan Aiko pergi dulu Lang, dan ingat, jaga ‘dirimu'” katanya sambil mengajak Aiko keluar dari kamar. Sambil mengangguk singkat kearah orang yang baru datang, Bram dan Aiko keluar dari kamarku.

“Selamat siang Pak Galang, saya Reza dari kepolisian,” katanya sambil memperlihatkan kartu identitasnya.”Bisa saya bertanya sebentar?” lanjutnya penuh selidik.

“Tentu saja, apa yang bisa saya bantu saudara Reza?”

“Apa benar pagi ini anda menuju Apartemen Chapista dan bertemu dengan Saudara Andri, CEO dari G-Team?” tanyanya sambil mengambil notes dari sakunya dan mulai mencatat.

“Iya benar dan sepertinya anda juga sudah tahu mengenai kondisi apartemennya sekarang?” tanyaku.

“Iya, saya sudah tahu, tapi kalau boleh saya tahu, apa yang anda lakukan pagi ini ke apartemennya?” tanyanya sambil mengawasiku dengan tajam.

“Hanya kunjungan biasa saja, seperti bertemu teman lama saja, apa tidak boleh?”

“Tentu saja boleh, cuma sayangnya, ketika tadi saya dan rekan-rekan kesana, dia tidak ada diapartemennya ”

“Tapi apa hubungannya dengan saya?” selaku.

“Memang tidak ada, cuma saya rasa sangat kebetulan, ketika dia dan anda memasuki apartemen, terekam oleh kamera CCTV, begitu pula saat anda keluar juga terekam kamera CCTV, tapi saat dia keluar dari apartemennya, kenapa dia tidak terekam kamera CCTV? Dan kenapa juga rekan saya, Arka, yang tadinya menangani kasus ini terkena ledakan dari bom yang ada di mobil anda?” tanyanya panjang lebar.

Jadi mereka belum berhasil menemui Andri, kemana anak itu sebenarnya???Kualihkan pandanganku ke Reza, terlihat dia menantikan jawabanku.

“Kenapa dia tidak terlihat di CCTV saat keluar, mungkin sebaiknya anda bertanya pada security disana, bukan malah bertanya kepada saya. Dan masalah ledakan di mobil saya, apakah anda mencurigai saya sebagai orang yang meledakkannya? Kalau iya, apa motifnya?” tanyaku.

“Itu yang masih saya cari tahu,” jawabnya singkat.”Saya dengar anda sering bersama Pak Herman saat memecahkan suatu kasus?” tanyanya.

“Iya, ada yang salah dari itu?”

“Tidak ada yang salah, tapi yang saya heran, nama anda tidak ada dalam daftar kepolisian, jadi pertanyaan saya, siapa anda dan apa yang anda lakukan sehingga berpura-pura sebagai polisi?” tanyanya tajam.

~ ~ ~ * * * ~ ~ ~​

“Kenapa kau bisa gagal?” tanya seorang pria dengan gusar kepada lawan bicaranya.

“Aku tidak menyangka akan ada orang lain yang mau mengemudikan mobilnya,” jawab pria yang ditanya.

“Huh, kau selalu bisa mengelak! Terus kenapa orang itu bisa sampai menghilang? Kalau dia tidak ditemukan, kita tidak akan bisa menyelesaikan rencana ini!”

“Tenang saja, dia yang akan datang mencari kita, aku jamin itu!” kata seorang wanita yang hanya mengenakan kimono tipis sambil memeluk lelaki pertama.

“Kalau tidak bagaimana?” kata lelaki pertama sambil tangannya menyelusup ke selangkangan si wanita yang telanjang.

“Kau boleh bercinta denganku semalaman, ” kata siwanita sambil membuka sedikit leher kimononya.

“Apa yang kau lihat disini? Pergi!” Suruh silelaki pertama sambil melambaikan tangannya kearah lelaki kedua. Sambil menelan ludah, lelaki kedua pergi keluar seperti kerbau dicocok hidungnya.

~ ~ ~ * * * ~ ~ ~​

Kupandangi wajah kelelahan itu dan berpikir saatnya aku membantunya.

“Tidurlah Andri, biar aku yang mencari mereka sekarang!” kataku sambil membuka pintu dan berjalan menelusuri lorong yang sepi ini.

Dengan menatap laptop yang kubawa, kuperhatikan dua titik kecil yang menghiasi peta digital yang terlihat dilayar. Satu berlabelkan Frans dan satu lagi Lidya.

Kulihat lokasi mereka dan seperti yang aku duga, mereka berada di salah satu gudang di pinggiran ibukota. Gudang itu, gudang penyimpanan Alfa Medika.

~ ~ ~ * * * ~ ~ ~​

Mess G-Team
Pukul 12.52
Beberapa jam sebelum kebakaran di G-Team.

“Oooohhhh….Gilaaaa! Rasanya penuh banget, padahal baru kepalanya saja yang masuk, gillaaaa Shinnnn!” teriak Lisa ketika baru kepala penis Frans yang mnyeruak kebelahan dagingnya yang basah.

“Oooohhhhh…ughh,” desahan Lisa tertahan oleh dekapan tangan Shinta ketika sekelebat cahaya menyinari tempat yang tak jauh dari mereka bercinta. Dengan wajah tegang Shinta menoleh dan mendengar suara didekat mereka.

“Mana, gak ada orang?” terdengar suara yang berat didekat mereka sedang saling bercinta dengan panasnya.

“Aku denger disini tadi kok, suer!” jawab rekannya dengan suara yang cempreng.

“Ah, paling salah denger kau, ”

“Beneran kok, tadi aku dengar suara mendesah didekat sini,” jawab temannya tak mau kalah.

Sinar dari lampu senter yang dibawa orang-orang yang berbisik itu perlahan semakin dekat dengan lokasi Frans dan kedua betinanya terbaring dengan kelamin masih menyatu.

“Dari sini tadi..”

Srrrrrkkkkkkkkkk…

“Meeeoooooooongggggggg…,”suara seekor kucing terdengar didekat mereka.

“Ahhhh,,, ini nih yang kau dengar mendesah tadi? Dasar keseringan nonton bokep!” terdengar pemilik suara yang berat mengejek rekannya.

“Apa aku salah denger ya?” si krempeng bertanya dengan pelan. Tak lama kemudian suara mereka terdengar menjauh dari tempat Frans berada.

“Huffffttttt…, hampir saja, ” kata Frans menghembuskan nafas lega.

“Uhhhmmm, Mbak Shinta, laper nih, ” kata Lisa sambil mengedipkan matanya kearah Shinta. Shinta yang mengerti akan isyarat Lisa pun menjawab.

“Iya bih, aku beli makan dulu ya, Mas Frans, pinjem kunci mobilnya dong?” kata Shinta.

“Eh, jam segini? ” kata Frans sambil mengambil kunci mobilnya dan memberikannya ke Shinta.

“Keluar bentar ya,” kata Shinta sambil melangkah menuju keparkiran. Suasana yang temaram membuat lekuk tubuhnya terlihat begitu indah dari belakang.

“Ayo mas!” kata Lisa dengan wajah misterius.

~ ~ ~ * * * ~ ~ ~​

Apartemen Chapista
Pukul 13.00

“Paijo, aku ngecek ke parkir dulu sama si Parman, kamu awasi dulu disini,” kata seorang lelaki berpakaian satpam kepada rekannya. Mereka sedang bertugas di apartemen Chapista saat itu. Dengan banyaknya tindak kejahatan yang terjadi disana, satpam yang bertugas lebih banyak lagi sekarang.CCTV siaga 24 jam dengan seorang satpam yang mengawasinya tanpa henti.

“Iya boss, siiipppp…,” kata Paijo sambil mengacungkan ibu jarinya. Dengan ekor matanya dia mengawasi kepergian bossnya sambil memantau CCTV.

“Eh, kok rasanya CCTV nya aneh ya?” gumam Paijo sambil melihat monitor. Tangannya kemudian menggaruk kepalanya yang tak gatal melihat keadaan CCTV yang dia rasa aneh, namun dia tidak menemukan keanehannya. Saat dia bingung melihat monitor,sebuah mobil berwarna hitam keluar dari gerbang.

“Loh! Kok gak kelihatan?” katanya keheranan melihat mobil yang melintas tadi tidak terlihat di monitor CCTV untuk kamera di pos satpamnya. Padahal kamera yang ada di pos satpam khusus merekam kendaraan atau orang yang keluar masuk di pintu gerbang.

Dengan bingung Paijo memanggil boss nya dengan Handy Talkie yang ada dimeja.

“Boss, posisi dimana ne? Ganti,” kata Paijo di HT-nya.

“Diparkirlah, kenapa Jo? Ganti” jawab bossnya.

“Ada yang aneh boss! Ganti,” kata Paijo sambil melihat monitor CCTV dengan pandangan tak percaya.

“Kenapa Jo?” Ganti, tanya sang boss dengan penasaran.

“Sebaiknya boss kesini sekarang boss, ganti,” kata Paijo.

“86” jawab sang boss.

Dengan mata terbuka lebar Paijo memandang layar didepannya. Tak terlihat sang boss di parkiran!

Tak berapa lama sang boss datang dan bertanya dengan suara tinggi. “Kenapa Jo?”. Pada saat yang sama sebuh mobil keluar lagi dari gerbang dan Paijo menunjuk kearah CCTV.

“Itu boss!” kata Paijo.

“Itu apa?!?” tanya sang boss dengan suara tinggi, mungkin mengira Paijo bercanda.

“Mobil yang tadi keluar itu, tidak kelihatan di CCTV,” kata Paijo sambil menoleh kearah mobil yang sudah menjauh.

“Tidak mungkin! Coba kau Man, berdiri didepan gerbang!” perintah boss nya dengan sedikit gusar. Dengan tergesa Parman berdiri didepan gerbang dan ternyata seperti yang dilihat Paijo, tidak ada Parman yang berdiri di gerbang pada monitor CCTV.

~ ~ ~ * * * ~ ~ ~​

Troy Company
Pukul 13.20

“Pak, kita mendapat laporan kerusakan dari salah satu client,” kata seorang wanita kepada CEO perusahaanya.

“Dan kenapa kau mengatakan itu padaku Vian? Suruh saja tekhnisi memperbaikinya,” balas sang CEO, Roy.

“Masalahnya, kerusakan itu ternyata tidak disana, tapi diperusahaan kita, seseorang menyusup kesistem kita dan menonaktifkan security sistem di klien kita dan menggantinya dengan rekaman,” beber Vian panjang lebar.

“Apa?!” kata Roy terkejut.

“Minta semua tekhnisi melakukan clean reboot system kita dan lacak siapa yang bisa melakukan ini kepada system kita,” kata Roy dengan geram.

“Dan satu lagi Vian, jangan sampai orang luar tahu kejadian ini,” pinta Roy kepada anaknya dengan wajah muram.

Bersambung