Rahasia Gelap Part 40

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Tamat

Cerita Sex Dewasa Rahasia Gelap Part 40 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Rahasia Gelap Part 39

Until It Breaks

Lidya POV

“Boleh minta yang lain mas?” tanyaku sambil merasakan cairan dari bagian pribadiku mulai mengalir disepanjang pahaku.

“Apa Lid?” tanyanya bingung.

Kudorong tubuhnya ke sofa yang ada diruangan ini sebelum berkata

“Fuck me please!”

Dengan wajah yang merah kulihat si-mata-keranjang ternganga mendengar perkataanku. Suasana menjadi hening ditengah ruang tamu ini. Bisa kudengar nafasku yang sedikit memburu oleh nafsu.

“A..aapa Lid?” tanya si-mata-keranjang dengan suara yang sedikit bergetar.

“Fuck me right now!” kataku sambil naik keatas sofa dengan posisi kaki yang mengangkang dipahanya. Dengan cepat kucium mulutnya yang masih terbuka tak percaya dengan apa yang kukatakan.

Tubuhnya bisa kurasakan sedikit tegang dibawahku, tapi hanya sesaat. Sebelum dia menyambut ciumanku dengan sama bergairahnya. Lidahnya perlahan masuk, membelai lidahku dengan ahlinya. Tangannya tak tinggal diam, ikut meremas kedua payudaraku yang sudah terangsang sejak tadi.

“Hah..hah..hah…,” ciuman kami terlepas dan bisa terdengar suara nafas kami yang memburu. Pandangan matanya penuh nafsu dan…

Apakah itu pandangan sayang ataukah hanya hayalanku saja?

Dia mendorong tubuhku untuk berdiri dan berbisik ditelingaku ketika wajahnya berada dekat dengan ku.

“Didalam saja Lid and slow down please…,” katanya sambil menarikku dalam pelukannya. Bibir kami bertemu lagi saat kaki kami berusaha mencari jalan kekamarnya. Tanpa melepas ciumannya, dia menuntunku kekamarnya. Setelah sampai , kudorong pelan tubuhnya sehingga dia terduduk dipinggir ranjang.

Kulihat kesekeliling dan seperti dugaanku, warna putih juga mendominasi kamar tidurnya. Ditengah ruangan sebuah ranjang yang ditutupi bed cover warna putih dan bantal putih bergaris merah terhampar. Sedangkan lemari pakaian terlihat menempel didinding. Hanya ada satu kursi dan meja kecil disamping ranjang.

Mungkin ruangan yang terbilang sederhana untuk orang sepertinya

Di dinding yang berlawanan dengan lemari, terdapat sebuah pintu yang menghubungkan kamar ini dengan balkon. Dalam gelapnya malam, pemandangan diluar hanya bisa kulihat secara samar.

Ruangan ini, seperti di mess, G-team…, pikirku.

Kualihkan perhatianku pada si-mata-keranjang yang memandangku dengan paduan nafsu dan pandangan yang meneduhkan. Ketika dia bangkit dan hendak menciumku, kudorong dadanya dengan jariku sehingga terduduk kembali. Sambil terduduk dia mengambil handphonenya dan sebuah musik yang kurang kutahu jenisnya menggema di ruangan ini

Dengan posisi dia duduk, sekali lagi kami berciuman dengan pelan, panas dan basah. Kupejamkan mataku dan menikmati detik demi detik ciuman kami. Ciumannya terasa menuntut dan meminta lebih, membuat nafsuku naik dengan cepatnya apalagi ketika dengan nakalnya, tangannya meremas-remas pantatku dengan lembut, sesekali bahkan menggoyang

“Ahhh, jangan dulu mas,” cegahku ketika dia hendak menyentuh bibir vaginaku yang sudah basah dengan jarinya. Sambil tersenyum aku melepaskan ciuman kami dan mengambil kursi yang ada didekat meja lalu meletakkannya tepat didepannya.

Sambil berdiri di depan kursi yang aku taruh tadi, kuangkat ujung gaunku yang ketat perlahan-lahan sesuai dengan irama musik, sampai sedikit menampakan celana dalamku yang berwarna oranye. Wajah si-mata-keranjang semakin kelam! Namun kuturunkan lagi gaunku yang diiringi dengan tatapan kecewanya.

Tak tega melihat pandangan kecewanya, kuangkat ujung gaunku lagi, sekarang sampai sebatas perut sehingga bagian bawahku terekpos jelas. Kuamati pandangan bernafsunya dengan perasaan senang.

Lihat mas, sudah basah seperti ini…

Kududuk diatas kursi yang tadi kuambil dengan gaun yang terangkat sampai perut,sambil menghadap kearahnya tangan kiriku mulai meraba klitorisku dari atas celana dalam yang kukenakan. Titik sensitifku ini terasa membesar dan terasa sangat sensitif ketika disentuh, apalagi dengan vibrator yang juga masih bergetar ringan dibawah sana. Dengan gaya yang sebinal mungkin kutatap kearahnya.

Oh yessss! Terlihat gundukan besar dicelananya!

Dengan pandangan puas kuangkat gaunku sampai kebatas dada sehingga setengah payudaraku terlihat. Dengan tangan kiri yang juga memegang pinggiran gaun, kumainkan putingku yang sudah mengeras! Bisa kurasakan vaginaku semakin terasa basah dan gatal.

Namun semua yang kulakukan terasa sepadan dengan ekpresi tegang si-mata-keranjang yang tanpa berkedip memandangku dengan bernafsu.

And yesss, I’m fucking horny to!

Kuangkat gaunku melewati kepala dan melemparkannya kearah simata keranjang yang terlihat menciuminya dengan mata terpejam. Sekali lagi kelakuannya itu membuat wajahku memanas.

Kupegang pinggiran celana dalamku dengan dua ibu jari dan sambil menatap si-mata-keranjang, kuturunkan sampai di pertengahan pahaku. Kuhentikan gerakanku untuk melihat reaksinya dan kepalaku terasa ringan melihat gerakan naik turun dijakunnya!

Kubuka lebih lebar pahaku dengan celana dalam yang masih ada didekat lutut. Tangan kananku sekarang menuju kebagian vagina yang saat ini tak ditumbuhi satu rambut kemaluanpun.

Spoiler: Ilustrasi
Rasanya aku harus berterimakasih kepada Lisa dan Shinta yang sudah mengajakku kesalon dan melakukan Brazillian Waxing…

Jari tengahku kugunakan untuk mengelus bibir vaginaku dari atas kebawah sedangkan ibu jariku masih asyik mengelus klitorisku yang sudah mengeras dan terlihat mengkilap terkena cairan vaginaku. Suara alunan musik yang pelan dan pandangan bernafsu yang memandangku membuatku semakin melayang.

“Ahhhhh…mas….,” tak tahan aku mendesah ketika jariku mengelus klitorisku yang membengkak. Dan seolah menambah gairahku, vibrator dibelakang sana bergetar dengan keras. Kulihat si-mata-keranjang tersenyum dengan remote di tangannya.

Kuangkat kaki kiriku ke pinggir ranjang dan perlahan celana dalamku kuturunkan melewatinya. Celana dalamku yang basah kulemparkan ke si-mata-keranjang yang disambutnya dengan antusias. Kuturunkan kedua kakiku kelantai dan dengan pandangan menggoda ku sibakkan bibir vaginaku sehingga celah sempitku bisa dilihat dengan jelas olehnya.

Spoiler: Ilustrasi
Pemandangan didepan mataku membuat dadaku mengembang. Kulihat si-mata-keranjang mengelus pelan penisnya dari luar celananya. Matanya melotot kearahku, seolah takut kehilanngan satu bagian dari pertunjukanku. Hal ini membuatku tak tahan. Sambil menggigit bibir, kupanggil dia untuk mendekat dengan isyarat jariku. Getaran di pantatku berhenti.

Dan aku terlu malu untuk memintanya untuk menghidupkannya lagi…

Spoiler: Ilustrasi
Dengan bersemangat dia bangkit dan langsung berlutut didepanku. Bibirnya mencari bibirku dan memagutnya dengan pelan, seiring dengan remasan tangan kananya di payudaraku. Jemarinya dengan lincah memilin putingku yang semakin mengeras.

Ciumannya kali ini lebih bernafsu dari tadi dan aku merasa senang bisa memancing birahinya menuju puncak.

“Buka bajuku LId,” katanya dengan suara serak.

Seperti terhipnotis aku merunduk dan dia kembali mencium bibirku dan hanya melepaskannya ketika kaosnya melewati tangannya. Dan ketika aku menunduk, dada bidangnya memanjakan mataku dibawah sana. Sayang masih ada plester ditempat dimana dia dioperasi waktu ini.

Cukup lama aku terpana melihat dadanya yang bidang, sampai aku tak sadar kalau kepalanya sekarang sudah berpindah menuju kebawah perutku dan…

“Sstttttttt…., massss!” aku hanya bisa mendesah nikmat ketika lidahnya yang panas dan kasar mencium pinggiran vaginaku dengan telaten, mili demi mili dicium dan dijilatinya dengan keras dan tepat. Namun dia seolah menghindar untuk tidak mencium kebagian klitorisku yang sudah membengkak.

“Mas, clitnya…,” akhirnya aku tak tahan memohon ketika dia hanya menyenggol-nyenggol klitorisku dengan lidahnya,bahkan sekarang lidahnya diruncingkan dan berusaha dimasukkan ke celah vaginaku! Nafsuku sudah diubun-ubun ketika dia malah menghentikan ciumannya!

Tak sabar kuraih kepalanya dengan tangan kananku dan menempelkan lidahnya tepat dimana lidahnya kuinginkan.

Di klitorisku!

“Kera…sin, lagi…, mas!” pintaku sedikit keras.

Tangan kiriku menjambak rambutnya sementara tangan kananku memegang pinggiran kursi dengan erat. Oral seks pertamaku dengan lawan jenis dan bisa kurasakan kalau dia ahli dalam urusan ini.

Mungkin sangat ahli…

“Lebih cepat mas…,” pintaku kepadanya.

Rasa malu sekarang sudah digantikan nafsuku yang menggebu. Jilatannya di vaginaku semakin intens yang mebuat cairanku semakin banyak mengalir. Tangannya bisa kurasakan mengais bibir vaginaku, meratakan jarinya dengan cairanku.

“Aaaaaaaahhhhh mas, pelan-pelan!” teriakku ketika satu jarinya yang sudah berlumur cairan cintaku dimasukkan kedalam vaginaku yang sempit. Perlahan jarinya menyeruak masuk semakin dalam dan ketika jarinya terhalang sesuatu dibawah sana dia memandangku dengan tatapan tak percaya, bahagia dan bernafsu!

“Lid… kau…kau…,” katanya terbata.

Dengan wajah yang sangat panas aku menatap matanya. Seperti bisikan suaraku terdengar ditelingaku.

“Iya mas, aku masih perawan…,”

Hening sejenak sebelum si-mata-keranjang bangkit dan mencium dahiku untuk pertama kalinya. Bisa kurasakan perasaan bahagia mengembang didadaku. Ciumannya turun kemulutku dan kali ini, ciuman kami lebih ringan dan untuk pertama kalinya, penuh perasaan.

“Massss…,” kataku pelan.

“Iya Lid?”

Tanpa menjawab kutarik kepalanya dan kearah vaginaku dan mengarahkan mulutnya ke klitorisku. Seperti mengerti permintaanku dia mencium klitorisku dengan intens dan pelan.

“Ahhhh…sstttt…mas….,” tak bisa kutahan desahan keluar dari mulutku apalagi ketika ujung jarinya kembali menyeruak dalam lubang vaginaku, mengais-ngais syaraf kenikmatan dibawah sana. Walaupun tidak dalam dan besar namun itu cukup membuatku merasakan kenikmatan yang sulit dilukiskan.

“Mas…, cepetin… sedikit lagi!” pintaku sambil hendak menekan kepalanya ke vaginaku. Kurasakan orgasme pertamaku dengan lawan jenis sudah ditepi batas kemampuanku menahannya, ketika…

“Mas!” kataku sedikit keras ketika ciumannya berhenti.

“Nanti barengan Lid,” jawabnya sambil tersenyum dan kembali duduk diranjang.

Nanti? Barengan? Apakah maksudnya…. Wajahku kembali memanas ketika aku sadar apa yang dimaksudnya.

Kulihat celananya mengembung di bagian pribadinya dan aku tersadar kalau dia juga perlu dipuaskan.

Dengan langkah yang sedikit limbung karena orgasme yang sudah ditepi, aku melangkah mendekatinya. Sebelum sempat melakukan sesuatu, dia kembali menarikku dalam ciuman yang hangat. Sementara itu tanganku berusaha membuka ikat pinggang yang digunakannya dan ketika berhasil, kulepaskan ciumannya dan menurunkan celananya sampai mata kaki.

Penisnya mengacung dengan indah dan ukurannya membuatku merinding. Jauh lebih besar dari dildo yang pernah memasuki bagian belakangku, juga jauh lebih besar dari penis pria-pria yang pernah kutonton dari film xxx lokal yang aku dapat dari salah satu forum di internet.

Kalau pakai jari saja sudah sesak seperti tadi, apakah penisnya akan muat di vaginaku? Batinku melihat ukuran penisnya yang diatas rata-rata.

Bayangan penis besar dan panjang ini memasuki vaginaku kembali membuat cairanku meleleh di pahaku. Selain itu, membayangkan melakukan blowjob untuk pertama kalinya pada penis yang sedemikian besar membuatku ragu.

Akan muatkah dimulutku???

Andri POV

Kulihat kekaguman dan rasa takut dimatanya ketika melihat penisku.Namun dibalik itu ada hasrat yang menggelora dan keingintahuan yang terpancar.

Mungkinkah ini juga blowjob yang ‘pertama’ baginya?

Dengan sedikit ragu dia menggenggam penisku dengan tangan kanannya.

“Ayo Lid,” kataku memberi semangat.

Sambil tersenyum ragu dia mengocok pelan penisku dengan tangannya yang mungil. Hampir 5 menit dia mengocok penisku sebelum perlahan mulutnya didekatkan ke kepala penisku. Sambil memandang kearahku, lidahnya perlahan mencium kepala penisku.

“Ughhhh…,” tak tahan aku mendesah pelan ketika akhirnya kepala penisku menghilang di mulutnya yang hangat dan basah. Walupun sedikit canggung, dengan pelan lidahnya menggelitik kepala penisku didalam mulutnya yang hangat. Sekarang dia menatapku dengan pandangan menggoda sebelum mulutnya semakin dalam mengulum penisku.

“Huhggghhhhh… uhuk..uhukk.uhuuukkk….,” dengan sedikit tersengal dan terbatuk dia menarik mulutnya ketika baru setengah penisku yang berhasil di kulumnya.

“Pelan-pelan Lid, jangan dipaksa,” kataku sambil meremas payudaranya yang menggantung indah.

“Mas nakal, lagian punya mas kepanjangan, mentok rasanya mas,” katanya sambil menyeka bibirnya. Sebelum sempat menjawab dia kembali mengulum penisku. Kali ini, hampir setengahnya berhasil dikulumnya. Kulihat pandangan kepuasan darinya sebelum kepalanya maju-mundur dipenisku.

“Stttt, terus Lid!” desahku ketika sekarang kepalanya maju mundur dengan cepat di penisku.

“Jangan kena gigi Lid!” saranku ketika kurasakan sedikit sakit ketika giginya sedikit menyentuh penisku.

“Hiiniii magsss,” katanya tanpa mencabut penisku dari mulutnya. Sekarang bahkan tangannya mengelus bolaku , seirama dengan kulumannya.

“Sudah Lid,” kataku tak tahan dengan kulumannya.

Kami saling pandang sejenak dan bisa kulihat kabut gairah dimatanya. Kabut yang sama dengan yang pasti terlihat dimataku.

“Mas, seperti posisi Shinta dan Raisa tadi,” katanya dengan wajah memerah.

Tanpa menjawab kupeluk tubuhnya yang mungil dan menciumi dadanya yang bulat, tidak terlalu besar namun sungguh menantang. Aku berbaring diranjang dan mengerti keinginanku, dia berbalik sehingga vaginanya sekarang tepat berada di wajahku.

Kutarik pantatnya mendekat. Aroma vaginanya sungguh menggoda, khas betina yang sedang birahi tinggi. Kulihat vaginanya mengeluarkan cairan yang cukup banyak.

Kuciumi vaginanya dengan lembut namun cukup membuat si-celana-dalam-putih tersentak. Apalagi ketika ciumanku fokus pada daging kecil dibagian atas vaginanya.

Sebagai balasam tindakanku, dia menciumi kepala penisku dengan telaten. Ciuman yang segera berubah menjadi kuluman.

“Aaahhhh massss…., cepetin!” katanya ketika lidahku menjilat klitorisnya yang memerah dan membesar dengan indahnya. Pahanya menjepit mukaku dengan keras. Tubuhnya mulai menegang!

Tidak! Belum saatnya! Pikirku sambil mmenarik kepalaku menjauh.

“Mas!” serunya dengan wajah yang merah padam ketika sekali lagi orgasme yang ada didepan matanya tidak bisa diraihnya.

“Masih ada cara lain Lid,” kataku sambil memeluknya dan mencium mulutnya dengan rakus. Aroma vagina dan penis bercampur menjadi satu dimulut kami. Memberikan kesan persetubuhan yang kental.

Sudah saatnya….

Kubaringkan dengan pelan tubuhnya diranjang. Kubuat dia telentang dengan punggungnya menghadap kearahku. Kuremas dadanya yang sekal sampai dia mendesah kegelian.

“Ini namanya spooning,” jelasku sambil meremas payudaranya yang sekal namun sedikit berkeringat.

“Mas, kerasin…,” bisiknya ditelingaku yang tentu saja kusambut dengan baik. Dengan posisi tubuhnya membelakangiku. kucium mulutnya yang basah sementara tanganku masih meremas payudaranya.

“UUghhh….mass…,”

Desah si-celana-dalam-putih menahan nikmat dalam ciumanku. Perlahan tangan kananku turun kebawah, meraba vaginanya yang sudah banjir.

Kuarahkan penisku ke celah sempit di vaginanya, namun sebelumnya kugesekkan kepala penisku di bibir vaginanya keatas dan kebawah. Cairan vaginanya yang sudah membanjir membuat penisku dengan mudahnya kugerakkan dipermukaannya.

“Masssss….,” desahnya pelan ketika kepala penisku menggesek-gesek klitorisnya. Perlahan kupaskan penisku didepan lubang yang masih terasa sangat sempit itu.

“Mas…masukinnnn…,” pintanya sambil berusaha memundurkan pantatnya. Kuciumi telinganya dan kurasakan tubuhnya menggelinjang dengan kuat.

Titik sensitif yang lainnya???

“Maassss…,” rengeknya ketika penisku hanya menyundul-nyundul didepan pintu masuk vaginanya.

Sambil tetap menciumi telinganya, kubisikkan pertanyaan yang mengganjal dihatiku.

“Jawab dulu pertanyaan mas yang tadi,” kataku sambil tetap menciumi telinganya yang membuat si-celana-dalam-putih semakin blingsatan. Cairan kenikmatannya semakin banyak membasahi penisku.

“AAaghhhhh….mas… pertanyaan yang mana massss….?” tanyanya dengan tubuh yang menggeliat-geliat.

“Yang mas tanya pas kita dansa di club,” bisikku ditelinganya, penisku semakin mamsuk kedalam vaginanya. Terasa hangat, basah dan sangat ketat menjepit.

Si-celana-dalam-putih sedikit terdiam, namun ciumanku ditelinga, rabaan di payudara dan penisku yang mulai menyeruak masuk membuat dia sedikit kebingungan.

“Iya mas,” jawabnya pelan dengan muka yang memerah.

“Iya apa?” tanyaku memastikan.

“Aa.aaku mau jadi pacar mas…, tapi,” katanya menggantung.

“Tapi apa Lid?”

“Masukin punya mas,” katanya dengan sangat pelan, hampir tak terdengar.

“Masukin apa dan kemana?” godaku sambil meremas dadanya dengan kuat.

“Ahhhhh massss! Masukin penis mas ke vaginaku!” teriaknya frustasi dengan kepala penisku yang sudah berhasil masuk kedalam celah vaginanya.

Kuturunkan ciumanku ke lehernya dan kutelusuri sepanjang lehernya yang jenjang dengan lidahku. Si-celana-dalam-putih terasa semakin terangsang, tanpa sadar tangannya membantu meremas tanganku kepayudaranya sedangkan tangannya yang satunya meremas rambutku mendekat kearahnya.

Jepitan vaginanya membuatku hampir kehilangan kontrol!

Si-celana-dalam-putih berhenti menggeliat merasakan benda asing pertama yang mulai memasuki dirinya. Kutarik lagi penisku untuk membiasakan vaginanya menerima penisku. Suara desahan dari mulutnya kembali terdengar ketika penisku maju-mandur divaginanya.

“Ooouwww.. sshh.. sshiitt” desahnya pelan sambil meremas tanganku dengan sedikit kuat.

“Sakit Lid?” kataku melihatnya meringis ketika penisku semakin melesak masuk dan terhalang oleh selaput daranya.

“UUhhhhh…, sedikit perih mas, punya mas kegedean sih..,” katanya sambil menggigit bibirnya yang merah basah.

Kuremas payudaranya dengn sedikit keras untuk mengurangi rasa perih divaginanya. Dan perlahan remasannya di tanganku terlepas, berganti dengan geliat pelan pantatnya.

“Aaaww …Mas…. sakiit …,” rintih si-celana-dalam-putih memelas, tubuhnya menggeliat kesakitan ketika remasan tanganku pada payudaranya semakin keras.

Aku berusaha menentramkannya sambil kukecup mesra bibir mungil yg basah merekah dan kulumat dengan perlahan. Remasanku pada payudaranya berpindah pada putingnya yang sudah sangat keras. Wajahnya terlihat berkeringat namun itu justru menambah kecantikannya.

Aku mulai menekan pelan dan dia pun meringis menahan perih. Ku tekan lagi dan akhirnya perlahan-lahan mili demi mili liang vaginanya membesar dan mulai menerima kehadiran kepala penisku.

“Agghhh ..” suara si-celana-dalam-putih terhalang lumatan bibirku, mili demi mili batang penisku secara pasti terus melesak ke dalam liang vaginanya dan ketika hampir seperempat setelah masuk seperti ada selaput lunak yg menghalangi kepala penisku untuk terus masuk.

Kutarik penisku sampai hampir terlepas kemudian mendorongnya sampai kembali menyentuh selaput daranya. Begitu kulakukan berkali-kali hingga desah kesakitannya berubah menjadi desahan nikmat.

“Massss… mmmm….aahhhh…,” desahnya pelan. Bisa kurasakan cairan vaginanya semakin banyak keluar yang membuat penisku lebih mudah melakukan penetrasi.

“Lid, siapa Nick?” tanyaku ditengah persetubuhan kami.

“Dia.. ayahhhh.. angkatku mas….ahhhh,” jawabnya ditengah desahan nikmatnya.

“Hmmmm…, yakin?” tanyaku memastikan dengan penisku yang tak berhenti keluar masuk dengan pelan. Pantatnya mulai bergerak mengimbangi tusukanku.

“Iya mas…adduuuhhh…, sahutnya sambil mendesah ketika leher jenjangnya kegigit dengan pelan. Putingnya yang mengeras kupencet dengan keras dan lehernya kembali kugigit dengan sedikit keras. Kulihat keatas ranjang, mencari remote kecil yang diberikan Frans dan ketika kutemukan, kusetel ke tingkat yang paling tinggi.

“Masssssssss…,” desahnya ketika getaran bawah sana begitu kuat, bahkan penisku ikut bergetar.

“Massss…aaaahhhhhh! Sakitttttt!” katanya dengan tubuh yang menggeliat. Kugigit dengan sedikit keras lehernya, sedangkan tanganku meremas payudaranya dengan keras. Dia protes kesakitan namun tak kuhiraukan dan akhirnya, dengan sekali sentakan kuat….

“Agggggaahh…perihhhhhhh! Massssss… sakittttt…,” rintihnya sambil meronta dengan kuat ketika penisku berhasil mengoyak pertahanan terakhirnya. Rasa perih yang melanda membuat tangannya meremas kuat-kuat sprei, tubuhnya mengejang dengan mata membelalak.

Kudiamkan penisku didalam vaginanya yang sangat ketat, penisku terasa sedikit perih merasakan jepitan vaginanya yang baru saja kurenggut keperawanannya. Kupeluk tubuhnya dengan erat sambil tanganku meremas payudaranya dengan lembut. Bibirku menyusuri leher dan telinganya, berusaha mengurangi rasa sakit yang dideritanya.

Lidya POV

Rasa sakit itu serasa mengoyak bagian bawah tubuhku…

Penisnya yang begitu besar serasa membelah vaginaku yang baru pertama kalinya menerima benda didalamnya. Namun rasa sakit di vaginaku sedikit teralihkan dengan gigitan dileher serta remasan kuatnya di payudara.

“Rileks Lid, let’s it flow…,” bisik si-mata-keranjang dengan lembut ditelingaku. Tangannya sekarang meremas lembut payudaraku, sesakali memilin puting yang sedikit mengecil.

“Iya mas, punya mas kegedean…,” sahutku dengan malu-malu.

Kulihat matanya memandangku dengan mesra, sebelum bibirnya mencari bibirku dan mengulumnya dengan hangat. Perasaan bahagia, sedih dan rasa sakit bercampur aduk menjadi satu.

Akhirnya pelan-pelan birahiku naik kembali, apalagi dengan vibrator yang masih menderu dibawah sana.

Adddduuuuhhhh, baru pertama kali dan kedua lubangku sudah dipenuhi dengan dua buah benda yang berbeda ukuran…

Ciuman kami terlepas dan dia menelusuri leher sebelum mengulum pelan telingaku sementara kedua tangannya memilin putingku dengan lembut. Dan penisnya terasa berkedut didalam sana, memberikan sensasi yang sulit untuk kukatakan.

Kubalas aksinya di dalam vaginaku dengan menggerakkan otot kegelku, menjepit kepala penisnya yang besar.

Mungkin terlalu besar untuk pertama kalinya…

“Uhhhhh…, nakal ya…,” kata si-mata-keranjang sambil menarik penisnya keluar dari vaginaku sampai bisa kurasakan hanya kepala penisnya saja yang tersisa. Dengan pelan penisnya masuk dengan pelan. Mili demi mili masuk sampai hampir setengah batang penisnya masuk.

“Hmmm… Jangan dulu mas, masih perih kalau semua…” cegahku ketika dia hendak memasukkan semua penisnya. Sebagai jawabannya, pilinannya di putingku semakin keras. Lagi, penisnya ditarik sampai hanya kepala penisnya yang mengganjal di vaginaku. Begitu beberapa saat hingga kurasakan vaginaku melebar dan membuat penisnya bisa masuk dengan lebih mudah.

“Mas, kok berhenti?” tanyaku tak sadar ketika penisnya sekarang tidak dimasukkannya. Dan ketika aku menyadari perkataanku, aku hanya bisa diam tersipu malu dengan kepala mengarah ke bawah.

Warna merah terlihat di antara pahaku, begitu juga di seprai putih ranjang. Dan akhirnya, aku sudah…

“Aaarrghhhhh masssss!” kataku terkejut ketika aku masih melamun dan si-mata-keranjang memasukkan semua penisnya kedalam celah diantara kedua pahaku.

Tetap saja besar, hangat dan terasa penuh didalam sana, namun tidak seperti tadi, rasanya tidak begitu sakit sekarang, bahkan perlahan rasa nikmat mulai terasa yang membuat tubuhku meremang.

Semakin lama gerakannya semakin cepat yang seiring dengan semnakin basahnya vaginaku.

“Ganti posisi ya Lid,” katanya sambil mengangkat pahaku kesebelah tubuhnya. Dengan penis dan vagina yang masih menyatu, tubuhnya sekarang berada diatas tubuhku. Tatapan matanya yang penuh nafsu sekarang dengan bebasnya kulihat.

Tangannya kemudian mengangkat kedua kakiku kebahunya, mengapit kepalanya. Dengan posisi seperti ini, penisnya semakin dalam menusuk vaginaku. Dan rasa gatal yang sering kualami saat masturbasi mulai mendera dinding-dinding vaginaku.

“Aaaaggghhh mas, cepetin!” pintaku tak malu lagi untuk memintanya bergerak lebih cepat lagi. Kulihat senyum dibibirnya sebelum pinggulnya bergerak lebih cepat mendera tubuhku.

“Aagghhhh mas…,” jeritku ketika kenikmatan itu semakin nyata.

Jadi begini rasanya bercinta?

Walaupun masih terasa sedikit perih, namun kenikmatan yang menutupinya jauh lebih besar. Ketika kulihat kebawah, bibir vaginaku ikut tertarik kedalam dan keluar saat penisnya bergerak. Begitu indah terlihat.

Tak sadar tanganku turun kebawah dan membelai klitorisku yang sudah membengkak. Kugesek dengan keras dan cepat secepat penisnya yang keluar masuk vaginaku. Keringat sudah membasahi tubuh kami berdua dan dadanya terlihat mengkilap karenanya.

“Mas… cepeetin! Aku suda mau dapet!” kataku tak malu lagi. Kugerakkan pantatku memutar dan kadang naik turun untuk mendapatkan kenikmatan yang lebih. Nafas kami berdua sudah menderu dengan keras dan bisa kurasakan kalau dia juga sudah dekat mendapatkan puncak kenikmatanya.

“Lid, hah..hah.., keluarin dimana?” tanyanya dengan nafas yang menderu. Gerakan penisnya semakin cepat dan cenderung kasar. Namun itu justru menambah kenikmatan yang kurasakn.

“Didalem saja mas, aku safe kok, hah..hah.,” jawabku dengan nafas tersengal.

Kocokannya semakin cepat di vaginaku yang kuikuti dengan menggoyangkan pinggulku dengan cepat. Tangannya yang bebas meremas payudaraku dengan kasar. Kocokan penisnya, remasan tangannya serta getaran vibrator di anusku membuat rasa itu semakin dekat.

“Lid, masih jauh?” tanyanya dengan nafas terengah.

“Su…dah..deket mas,” jawabku pelan.

Dia memeluk tubuhku dengan erat sekarang, dadanya yang bidang menekan payudaraku sedangkan lidahnya mengulum telingaku.

“Massss… Lidya….,” kataku terengah ketika rasa itu sudah dekat, yang dijawabnya dengan kocokan yang semakin cepat dan kasar. Dan akhirnya…

“Aaaghhh…Mas…. Lidya dapet aagghhh…..”, jeritku saat orgasme itu datang. Tubuhku bergetar dengan hebatnya dengan kepala yang menengadah dan mulut ternganga merasakan orgasme terhebat yang pernah aku alami. Jemariku tak terasa mencengkram punggungnya yang masih bergerak dengan cepat.

“Lid…, masssss juga! Aaahhhh….,” teriak si-mata-keranjang dengan penis yang ditancapkan dalam-dalam di vaginaku. Beberapa kali semprotan kuat mengenai vaginaku, mungkin juga rahimku. Dengan nafas terengah dia memandang kearahku.

Dan sebuah bisikan pelan terdengar diantara desah nafas kami

“Love u…,”

Tak perlu lama sebelum aku menjawab.

“Love u too,” sebelum tubuhnya bergeser dari atas tubuhku dan dengan kemaluan yang masih menempel dia memelukku. Dan hanya kecupan ringan di dahiku yang kuingat sebelum akhirnya gelap menyelimuti.

~ ~ ~ * * * ~ ~ ~

Andri POV

Tok…tok…tok…

Suara ketukan samar kudengar. Ah, paling hanya angin, pikirku sambil memeluk tubuh hangat dan tanpa busana didepanku.

Ketika tidurpun kau terlihat cantik…

Tok…tok…tok…

Suara itu semakin keras dan samar aku bisa mendengar suara sirene di kejauhan. Tidak, ini bukan mimpi. Kulihat handphoneku dan tertegun.

Siapa yang mengetuk pintu pukul 3 pagi???

Dengan malas aku bangun dari tempat tidur dan menyelimuti tubuh polos si-celana-dalam-putih. Dengan mata yang masih mengantuk,kuambil sebuah celana pendek dan melangkah menuju kepintu.

Tok…tok…tok…

“Sebentar,” kataku sambil membuka pintu.

Dengan pendangan terkejut aku melihat sosok yang berada di depan pintuku pada pukul 3 pagi ini.

“Ada apa pak?” tanyaku keheranan sambil menatap seorang security yang sekarang berdiri didepanku.

“Maaf sebelumnya pak, kami menerima telepon dari seseorang yang mengaku bernama Edy, dia minta kami memberitahu bapak kalau terjadi kebakaran di perusahaan G-Team bapak,” jelasnya.

“Kebakaran?” What the hell! Tapi kenapa dia tidak menghubungi handphoneku?

Sial! Hp ku dalam flight mode!

“Terimakasih informasinya pak,” kataku padanya., masih sedikit ragu atas kebeneran hal yang disampaikannya.

“Sama-sama pak, maaf sudah mengganggu waktu istirahat anda, permisi pak,” katanya sambil melangkah pergi.

Dengan terburu-buru aku masuk ke dalam ruang tidur dan melihat si-celana-dalam-putih yang tertidur dengan lelap. Warna merah di seprai menjadi bukti apa yang kami lakukan tadi malam.

Mau tak mau aku tersenyum mengingat hal yang telah kami lakukan tadi…

Kuambil hp ku dan menonaktifkan flight mode, tak lama kemudian 7 sms masuk ke hp ku, kesemuanya dari Edy!. Semuanya berisi hal yang sama, kebakaran di G-Team.

Kuambil kertas dan menuliskan pesan kepada si-celana-dalam-putih dan meletakkan diatas meja dipojok kamar bersama dengan akses card apartemenku.

Sekali lagi kumenoleh kearah si-celana-dalam-putih yang meringkuk dengan nyamannya. Kuselimuti tubuhnya yang telanjang sebelum mengecup keningnya. Kuambil pakaian pertama yang kulihat dilemari dan setelah melihat sejenak ke arah si-celana-dalam-putih, tidak, sekarang pacarku, aku menuju kepintu dan keluar dari ruangan.

Pintu menutup dan terkunci otomatis dibelakangku. Dengan tergesa aku menuju kearah parkir dan menghidupkan mobilku. Dengan kecepatan yang cukup tinggi aku membelah jalanan ibukota yang tak pernah sepi.

Sepanjang perjalanan pikiranku memikirkan musibah yang menimpa perusahaanku. Tidak! Rasanya terlalu kebetulan kalau ini adalah sebuah musibah. Tapi kalau bukan, siapa yang ingin mencelakakanku dan perusahaanku.

Terbayang semua kejadian dari awal kami menerima project ini. Kematian Ade, ledakan di mobil Frans, tembakan yang mengenaiku, pencurian HP dan Hardrive komputerku dan yang terakhir, kebakaran di perusahaanku.

Semuanya seperti terpisah namun semuanya pasti berhubungan! Tapi apa hubungan itu?

“Siiiiaaaaaaaaaalllllllllll!” teriakku sambil memukul kemudi dengan tanganku. Siapa atau apa yang sebenarnya ada dibelakang ini?

Dengan perasaan yang campur aduk aku sampai di perusahaanku dan dari jauh api sudah terlihat di gedung utama kami. Semoga saja ruangan server tidak kena. Harapan terakhirku ada disana.

Beberapa mobil pemadam kebakaran terlihat berusaha memadamkan api, namun karena letak gedung perusahaan yang terlalu jauh, mereka terlihat sedikit kesulitan untuk memadamkan api.

Aneh, sebagian besar gedung dan peralatan kami adalah peralatan elektronik namun kenapa api bisa menjadi sebesar ini?

Semua staff terlihat membawa ember dan peralatan yang bisa mereka bawa dan bahu membahu memadamkan api.

“Pak!” seru mereka ketika melihatku.

“Ayo. mari kita padamkam apinya dulu! Semangat semuanya!” kataku sambil mengambil ember dari salah seorang staff dan membantu mereka memadamkan api.

“Ayooo!” teriak mereka sambil kembali fokus memadamkan api. Kulihat Shinta dan Edy juga ikut membantu. Mereka tersenyum getir ketika melihatku.

Akhirnya mungkin setelah satu jam yang kurasakan sangat panjang, api berhasil dipadamkan. Dengan nafas terengah-enagh aku duduk bersama yang lain. Hanya bisa memandang gedung perusahaan kami yang sekarang masih mengeluarkan asap yang mengepul membelah suasana pagi kota Jakarta.

Gedung yang kami bangun selama bertahun-tahun, sekarang menjadi puing hitam yang teronggok dalam diam. Tapi untungnya mess tidak sampai kena, pikirku membayangkan tragedi yang mungkin terjadi kalau sampai api menyebar kesana.

“Mas, minum dulu,” kata Shinta yang juga terlihat kacau dengan muka yang menghitam dan rambut yang acak-acakan. Memberikan segelas air mineral.

“Yang lain sudah?” tanyaku sambil melihat staff yang lain. Terlihat mereka memandang gedung perusahaan kami yang beberapa jam lalu masih berdiri dengan megah, sekarang…

“Sudah mas,” katanya sambil duduk didekatku. Kami memandang kedepan dalam diam. Bisa kudengar isak tangis beberapa staff wanita ketika melihat keadaan ini. Dengan sisa tenagaku aku bangun dan berusaha menenangkan mereka. Wajah-wajah lelah dan putus asa menatapku ketika berjalan menghampiri mereka.

Kulihat Guzur terduduk sambil memegang kepalanya, kulihat tangannya penuh dengan luka bakar.

“Zur, kenapa? Ayo, kerumah sakit dulu,” kataku sambil berusaha menariknya berdiri. Namun dia diam tak bergerak, perlahan bisa kulihat pundaknya sedikit berguncang.

Guzur menangis?

“Sudahlah Zur, ini bukan kesalahanmu, kita masih bisa membangunnya dari awal,” hiburku sambil menepuk pundaknya.

Kepalanya perlahan diangkat dan wajahnya yang juga terluka terlihat memandangku. Penyesalan terlihat diwajahnya.

“Bukan hanya masalah servernya pak, tapi aku…,” terlihat ekpresi marah, takut dan menyesal dari wajahnya. ” Tapi aku gagal menyelamatkannya pak,” katanya sambil menunduk lesu.

“Menyelamatkannya? Menyelamatkan siapa? ” tanyaku dengan khawatir. Jangan bilang ada korban jiwa dalam kejadian ini!

“Mbak Lisa,” jawabnya pelan, hampir menyerupai bisikan.

Apa!???? Lisa!???

Tidak, ini tidak mungkin, Lisa masih bersama Frans dan Shinta ketika mereka pulang dari club. Shinta disini tadi!

“Dimana kau gagal menyelamatkannya?” tanyaku pada Guzur.

“Diruang server pak,” jawabnya pelan.

Diruangan server? Kenapa Lisa ada disana? Apa yang dilakukannya disana? Dan kenapa dia tidak lari menyelamatkan diri saat terjadi kebakaran? Dan kemana Frans?

Pertanyaan demi pertanyaan berputar dikepalaku, semuanya tidak ada yang bisa kujawab. Semuanya masih terasa seperti diawang-awang, tidak bisa kujangkau.

“Mas, lihat Mas Frans dan Lisa? Aku tidak ada melihat mereka dari tadi,” kata Shinta disampingku.

“Eh, bukannya mereka bersamamu tadi?” tanyaku dengan heran.

“Tadi aku beli makanan keluar mas, Mas Frans dan Lisa masih dikamar tadi ketika aku meninggalkan mereka,” jawabnya dengan muka memerah.

Jadi ketika kebakaran, Frans hanya bersama Lisa. Jadi kalau mereka bersama, jangan-jangan…Firasatku tidak enak.

Kulihat kebawah, Guzur masih terdiam pilu, mungkin dia cukup terpukul dengan kejadian ini. Dan kalau benar yang berusaha diselamatkannya itu Lisa…

“Maaf, ada yang terluka disini?” tanya seorang petugas pemadam kebakaran sambil melihat kearah kami. Kulihat kearah Guzur dan memberi isyarat petugas itu. Setelah kubujuk beberapa saat akhirnya dia mau kerumah sakit.

“Mas!” kata Shinta sambil menunjuk kearahku dengan wajah khawatir. Kulihat arah jarinya untuk melihat noda merah yang terlihat di kaos yang kupakai.

Kuangkat sedikit kaosku dan melihat luka bekas operasiku yang mengeluarkan darah karena terlalu aktif bergerak.

“Pak, ayo ikut saya,” kata petugas yang tadi dengan wajah yang penuh pengertian. Kulihat kearah Shinta dan terlihat dia menganggukan kepalanya.

“Shin, kabarin aku nanti ya,” kataku sambil mengikuti petugas pemadam kebakaran yang menuju ke salah satu mobil ambulans. Saat kami berjalan kulihat sebuah brankar berisi sebuah kantong yang didorong oleh beberapa petugas medis.

Apakah itu….

Galang POV

“Lang…bangun!”

Sebuah suara yang keras ditelingaku merenggut paksa aku dari tidurku. Dengan malas aku membuka mata untuk melihat Herman memandangku dengan pandangan marah dan juga penasaran.

“Ada apa Her?” tanyaku melihat ekpresi wajahnya. Mataku mencoba beradaptasi dengan cahaya lampu di salah satu kamar di rumah Herman.

Kulihat Herman mencoba mengatur nafasnya yang sedikit terengah. Rona wajahnya berubah kelam.

“Terjadi kebakaran di perusahaan G-Team Lang,” katanya pelan dan tajam.

“Apa?!” kataku tak percaya. Mataka terbuka dengan lebar mendengar kabar yang dibawa oleh Herman. Kulirik jam di dinding. Pukul 6 pagi!

“Kapan kejadiannya? Ada korban?” tanyaku lebih lanjut.

Sambil menghela nafas dia menjawab.

“Tadi, pukul 3 pagi, korban hanya satu yang teridentifikasi, namun ada laporan kehilangan,” jawabnya pelan.

“Siapa korbannya?” tanyaku penasaran.

“Lisa, dan yang menghilang Frans,” jawabnya.

Lisa? Gadis yang sering bersama Lidya. Frans, rekan karib dari Andri, pemilik dari G-Team. Kasus ini semakin menarik..

Suara kendaraan bermotor terdengar dari jalanan didepan rumah Herman, mengiringi keheningan yang ada diantara kami. Pikiranku berkelana dari awal kasus ini, yang pada awalnya kuduga hanya kasus pembunuhan biasa. Namun ternyata didalamnya tersembunyi banyak misteri.

“Kalau begitu ayo kita ke TKP,” kataku sambil mengambil jaketku diujung ranjang.

“Lang, kasus ini sudah diambil alih oleh orang lain, kita dikeluarkan dari kasus ini,” kata Herman dengan nada marah. Raut wajahnya campuran antara marah dan penasaran.

Terlalu kebetulan rasanya kami dikeluarkan dari kasus ini, seperti ada pihak yang tak ingin kasus ini dipecahkan…

“Tapi kenapa Her? Bukannya kita mendapatkan banyak petunjuk untuk kasus ini? tanyaku bingung.

“Aku ditugaskan ke kasus lain Lang, jadi kita tidak bisa menyelidiki semua kasus ini lagi,” katanya marah, namun dengan senyum simpul diwajahnya.

“Iya, kita memang tidak bisa, tapi aku bisa,”jawabku sambil memikirkan berbagai macam cara yang bisa aku tempuh nanti.

Tunggu saja, kasus ini akan aku pecahkan!

Andri POV

Sisa asap masih mengepul dari gundukan bangunan besar yang dulunya adalah ruang meeting dan ruangan server. Sejenak pikiranku mengingat apa yang sudah kami lewati diruangan itu. Dari awal berdirinya, sampai sekarang, sudah tidak terhitung berapa waktu yang kuhabiskan disana. Dengan Frans, Edy dan yang lainnya. Saat kami terkadang bekerja sampai pagi untuk menyelesaikan deadline yang mendesak.

Lisa…

Apakah benar dia sudah?

Huffftttt…..

Frans, dimanakah kau sekarang?

Kupandangi hanphoneku dan mencoba menghubungi Frans namun tidak bisa, sepertinya handphonenya dalam keadaan mati.

“Ehemmm..,apa anda Pak Andri? Pemilik dari perusahaan ini?” tanya seorang polisi muda memandangku dengan pandangan penasaran.

“Iya pak, saya Andri, ada yang bisa saya bantu?” jawabku sambil menyambut uluran tangannya.

“Saya Arka dari kepolisian pak, saya yang ditugaskan menangani kebakaran ini,” katanya ramah. “Ada tempat lain untuk berbicara pak? Saya ingin menanyakan beberapa pertanyaan mengenai kebakaran ini,” lanjutnya.

Kuamati sekelilingku, sebagian besar staff sudah kembali ke messnya masing-masing. Hanya ada aku, beberapa petugas kepolisian dan pemadam kebakaran di balik garis polisi yang membentang di sekeliling kompleks perusahaanku.

Diluar garis itu terlihat mulai ada kerumunan masyarakat yang ingin mengetahui apa yang terjadi disini. Tak ketinggalan pula beberapa insan pers yang meliput kebakaran ini. Seperti biasa, dimana ada gula disitu pasti ada semut.

“Disini saja bagaimana pak?” tanyaku.

Terlihat dia menggaukan kepalanya sebelum mengambil notes dari sakunya.

“Begini pak, apa anda punya musuh atau saingan?” tanyanya sambil mulai mencatat di notesnya.

“Kalau musuh setahu saya tidak, kalau saingan tentu saja banyak,” jawabku sambil tersenyum.

“Terus terang saja, penyebab kebakaran ini bukan kecelakaan atau apa pak, tapi kebakaran ini disengaja pak,” katanya sambil memandang tajam kearahku.

Sudah kuduga…

Terlihat ekpresi herannya ketika melihat aku tidak terkejut dengan apa yang dikatakannya.

“Sudah saya duga pak,” kataku sambil mulai bercerita mengenai kejadian yang akhir-akhir ini menimpaku dan G-Team. Hampir 20 menit aku menceritakan detail kejadian sebelumnya sampai akhirnya tak tahan aku untuk bertanya.

“Dimana polisi gendut dan polisi kurus yang sebelumnya menangani kasus ini pak?” tanyaku.

“Aneh juga pak, biasanya kalau kejadiannya seperti ini, pasti polisi yang ditugaskan sebelumnya yang menangani, kecuali mereka memang ada tugas lain saat ini,” katanya menerawang.

“Darimana bapak tahu kalau ini bukan kecelakaan?” tanyaku.

“Ada beberapa botol berisi bensin yang ditemukan diantara reruntuhan pak dan juga keadaan security bapak,” katanyanya.

Securitiku? Oh iya, pada saat kebakaran aku tidak melihat mereka, apa mereka?.

“Mereka terluka dikepala karena pukulan benda tumpul pak, tapi sayangnya, luka mereka cukup parah dan kondisinya masih kritis sampai saat ini sehingga tidak bisa kami mintai keterangan,” katanya dengan nada pelan.

Kami sejenak terdiam dalam pikiran masing-masing. Siapa atau apa yang sebenarnya ada dibalik semua ini? Matahari mulai sedikit terlihat diufuk timur, seiring dengan mulainya aktifitas dipagi hari ini. Suara deru kendaraan yang menjadi musik rutin dipagi hari mulai terdengar.

“Untuk korban lain yang berjenis kelamin wanita juga sudah berhasil diidentifikasi sebagai saudari Lisa. Apa anda mengenalnya?” tanyanya lebih lanjut.

Lisa…, tentu saja aku mengenalnya, walaupun itu baru beberapa hari saja…

“Dia salah satu staff Delta Company, partner perusahaan saya dalam project pak,” jawabku.

“Kapan terakhir kali anda melihatnya?”

“Tadi malam, mungkin sekitar pukul 12.00 pak,” jawabku sambil mengingat hal yang kami lakukan sebelum kematiannya. Bagaimana binalnya dia saat itu. “Ugh…,” keluhku ringan merasakan rasa sakit di perutku.

“Kenapa pak?”

“Mas Andri masih perlu istirahat pak, luka bekas operasinya terbuka karena banyak bergerak ketika mencoba memadamkan api,” kata seorang wanita yang berdiri disampingku, Shinta.

“Ohhhh, maaf pak, kalau begitu silahkan istirahat pak, saya rasa sudah cukup juga,” katanya sambil tersenyum dan meninggalkan kami.

“Shin, mas mau melihat Lidya dulu di apartemen mas, sekalian mengabarkan tentang ..Lisa…,” kataku pelan sambil melihat kearah Shinta. Rona kesedihan terlihat jelas diwajahnya.

Dengan wajah yang sendu dia hanya menganggukan kepalanya.

Dengan langkah kaki yang berat aku menuju kearah mobilku dan sambil melamun mengemudi keapartemenku. Sepanjang perjalanan aku memikirkan kata-kata apa yang harus kugunakan untuk mengabarkan keadaan yang menimpa perusahaanku dan juga sahabat baiknya, Lisa.

Masih dengan pikiran yang penuh dengan keraguan aku sampai di depan pintu apatemenku.

Tok…tok…tok…

“Lidya…,” panggilku dengan sedikit keras. Tidak ada jawaban. Apa mungkin dia masih tertidur?

Memikirkan kemunginan itu aku menuju ke pos security dan meminta akses card cadangan kemudian kembali ke apartemenku.

Krriiieeeettt….

Pintu terbuka dan apa yang kulihat membuatku pandanganku kabur…

Bersambung