Rahasia Gelap Part 4

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34

Cerita Sex Dewasa Rahasia Gelap Part 4 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Rahasia Gelap Part 3

TIME to WAR

—————————————————————————————————————————
From : Hades

Subject : Re Cari

Sampai sejauh ini, tidak ada kejadian penting selain yang sudah kau ketahui. Tapi aku menemukan beberapa kejadian yang cukup menghebohkan sebelum tanggal itu, akan kukirim detailnya jika aku sudah selesai menggalinya.

Thanks,

Hades
—————————————————————————————————————————

“I bleed it out digging deeper
Just to throw it away
I bleed it out digging deeper
Just to throw it away
I bleed it out digging deeper
Just to throw it away
Just to throw it away
Just to throw it away
I bleed it out”

“Huffttttt…huaaaahmmmmmm”
Lagu Bleed It Out Linkin Park yang kusetel sebagai nada alarm sukses membangunkanku pagi ini.

Kutekan tombol merah untuk mengakhiri lagu dari Chester Benington itu.
Kumulai rutinitas harianku hari ini, mandi, sarapan, dan terkhir, mempelajari presentasi yang aku buat. PUkul 08.00 kuambil laptop dan perlengkapan lainnya dan turun ke garasi untuk mengambil mobilku. Jarak apartemenku dengan tempat rapat hanya sekitar 30 menit.
Tapi prinsipku.

Lebih baik lebih awal satu jam daripada telat satu menit.‚Äč

45 menit kemudian.

“Hufttttt, untung aku berangkat lebih awal!”
Gumamku ketika melirik jam tangan yang menunjukkan pukul 08.45. Macet yang cukup parah di ruas jalan menuju kantor Alfa Medika membuatku harus mengambil jalan memutar.
Desain interior dari ruangan ini seolah menjelaskan kepribadian dari pemiliknya. Lantai yang bersih dan hanya satu warna, putih. Dinding yang hanya dihiasi dengan beberapa lukisan. Dan meja resepsionis yang terbuat dari keramik juga kursi dan sofa yang memiliki warna senada dengan meja resepsionisnya.

“Selamat pagi, selamat datang di Alfa Medika, ada yang bisa saya bantu?” Sapa resepsionis.

Hmm, pakaian karyawannya juga sopan dan simple. Rok hitam, blouse putih dengan rompi yang sayangnya menutupi lekak-lekuk pemakainya .

“Selamat pagi, saya ada janji meeting dengan Pak Tony pukul sembilan ini” Sahutku.

“Maaf dengan siapa saya sekarang berbicara?” Tanyanya dengan ramah

“Andri, dari G-Team” Jawabku sembari mengamati resepsionis ini.
Masih muda, mungkin umur 21 atau 22 tahun. Wajahnya bulat dengan lesung pipit dipipinya. Dan pakaiannya, terlihat sopan walaupun tidak bisa menutupi gundukan didadanya yang lumayan besar

“Oh Pak Andri, silahkan ke ruang rapat pak, nanti ikuti saja rekan saya ini” Sahutnya sambil menujuk rekannya.

“Iya, terimakasih Mbak…” Kulirik nametag didadanya yang terlihat membusung “Lisa…” Lanjutku sambil tersenyum. Aku berbalik dan

Brukk…..

Suara benturan terdengar saat aku menabrak seseorang dibelakangku.

Aku melihat kebawah dan pandangan kesal dari seorang gadis membalas pandanganku.

Deggg…

Karena posisi jatuhnya kebelakang, otomatis kakinya kedepan dan sialnya atau untungnya terbuka, rok hitamnya tertarik keatas dan memperlihatkan paha mulus yang terawat. Kakinya yang cukup terbuka juga membuatku bisa melihat sekilas warna putih di pangkal pahanya. Kualihkan pandangan keatas, hanya untuk melihat blouse putih yang sedikit terbuka sehingga menampakkan bra dengan warna senada yang membungkus payudara yang tidak terlalu besar dari pemiliknya

Sialan.

Aku bisa merasakan penisku mengeras.

“Kalau balik liat-liat dong pak!”

Suara kesal dari si empunya celana-dalam-putih membuatku mengalihkan pandangan keatas, hanya untuk menatap bibir merah basah yang mengkerucut karena kesal. Butuh upaya yang cukup keras agar aku bisa mengalihkan pandangan dari bibirnya yang menantang.
Kuamati wajahnya yang terlihat memerah, marah.

Mata hitamnya memandangku tajam.

Tersadar, kuulurkan tanganku untuk membantunya berdiri.

“Maaf mbak” Kataku sambil masih mengulurkan tangan. Tapi dia menolak tanganku kesamping dan bangkit. Sekilas dari pakaiannya aku menduga dia salah satu karyawan disini.

“Bisa sendiri kok!!” Sahutnya kesal sambil beranjak melewatiku menuju ke resepsionis.
Harum lebut bunga mawar tercium saat dia melewatiku. Dari belakang, tubuhnya terlihat sempurna. Pantatnya membulat padat dan besar, mungkin diciptakan untuk mengimbangi dadanya yang tidak terlalu besar.

“Iya, maaf mbak” kataku sambil mengikuti rekan Lisa yang telah menuju keruangan rapat.
Namun roman marah dan tatapan galak si-celana-dalam-putih mengusik pikiranku.

Sepanjang jalan menuju ruangan rapat, wajah si celana-dalam-putih terus terbayang. Bibirnya yang mengerucut kesal dan pantat itu. Bukan gambaran yang bisa kulupakan dengan cepat.

“Pak, ini ruangannya” Suara si pegawai yang mengantarku menyadarkanku dari lamunanku dari si-celana-dalam-putih.

“Iya, terimakasih mas” Sahutku sambil masuk keruangan rapat yang pintunya terbuka.
Tulisan meeting room terlihat pintu. Ruangan rapat ini terkesan mewah namun sederhana. Warna biru muda mendominasi dengan aksen warna perak. Meja dan kursi ditata membentuk huruf U. Dimana ujung huruf U itu sekarang duduk CEO dari Alfa Medika.

Tony Firmansyah.

Sekilas dilihat dari penampilannya yang sederhana, tidak akan ada yang menduga kalau lelaki yang duduk itu adalah seorang CEO dari perusahaan farmasi yang terbesar di Asia Tenggara. Kemeja putih dan celana kain hitam, tanpa dasi. Namun pandangan matanya, pandangan mata seseorang yang telah melalui banyak batu karang kehidupan. Kulihat pandangan menilai sebentar di pandangan itu sebelum berubah menjadi pandangan hangat.

Aku bergerak menghampiri beliau.

“Selamat pagi Dik Andri, selamat datang di Alfa Medika” sapanya sebelum aku sempat membuka mulut.

“Selamat pagi pak, terimakasih atas kesempatannya” Jawabku sambil menyambut uluran tangan beliau. Jabat tangannya kuat dan hangat. Ciri orang yang mempunyai kepercayaan diri tinggi.

“Oh iya, kenalkan ini Raisa, anak sekaligus sekretaris saya” Jawabnya sambil bergeser kesamping. Dibelakangnya terlihat seorang gadis awal 20an, dengan pakain yang hampir sama dengan resepsionis yang kutemui tadi, bedanya dia mengenakan stocking berwarna transparan dan kemeja putih.
Wajahnya terlihat segar, dengan bibir yang dipolesi lipstick berwarna merah muda.

“Raisa”

“Andri”

Kami berjabat tangan sambil menyebutkan nama masing-masing. Tangannya sedikit meremas tanganku dan jari telunjuknya perlahan digoreskan ke telapak tanganku.

Aku memandangnya untuk mendapatkan kedipan mata ringan darinya.

Hmmmm…. Gadis ini nakal juga rupanya…

“Oh iya mas, silahkan duduk dulu” Tawar Raisa sambil menarik sebuah kursi disebelah kanan dari ruangan, cukup dekat dengan tempat duduk Pak Tony.

“Iya, terimakasih mbak” Sahutku.

“Kok mbak sih? Panggil saja Raisa” Sahutnya ramah.

“Iya Mbak,,, eh Raisa”

“Silakan duduk dulu dik, sambil menunggu wakil dari Delta Company” Ajak pak Tony sambil menyebut nama perusahaan yang masih asing di telingaku.

“Selamat pagi” Ucapan salam dari pintu mengalihkan perhatianku dari Pak Tony. Beliau bangkit dan perlahan berjalan menuju pintu, dimana si empunya suara berada.

What??

Si-celana-dalam-putih.

Apa yang dilakukannya disini?

“Selamat pagi, dengan dik?” Sahut Pak Tony sambil menyalami si-celana-dalam-putih.

“Lidya pak, dari Delta Company” Sahut si-celana-dalam-putih sambil melirik-ketus-sekaligus-heran melihatku berada diruangan rapat ini. Kubalas pandangan herannya dengan anggukan dan senyuman kecil.

Sial, rupanya dia wakil dari tim lawan, pikirku.

“Dik Lidya, ini Dik Andri dari G-Team, Dik Andri ini Dik Lidya dari Delta Company” Terang Pak Tony memperkenalkan kami berdua.
Aku bangun dan menjabat tangan si-celana-dalam-putih.

“Andri”

“Lidya”

Kami menyebut nama masing-masing ketika berjabattangan. Telapak tangannya halus namun jabat tangannya bertenaga, kalau boleh dibilang keras.

Mungkin sengaja pikirku mengingat kejadian tadi.

Kubalas jabat tangannya dengan tak kalah kuat, yang dibalas dengan bola matanya yang sedikit membesar. Kulihat tatapan marah dan sedikit merendahkan disana.

“Dik Lidya ini Raisa, anak sekaligus sekretaris bapak” Seperti tadi Pak Tony juga memperkenalkan anaknya pada si-celana-dalam-putih (aku lebih suka memanggilnya begitu)

“Raisa”

“Lidya”

“Mbak Lidya, silahkan duduk disebelah sana” Tunjuk Raisa ke kursi yang bersebelahan denganku.

—————————————————————————————————————————-
“Mungkin adik berdua merasa sedikit heran dengan permintaan bapak mengenai system yang bapak ingin bangun di perusahaan ini” Papar Pak Tony kepada kami ketika si-celana-dalam-putih sudah duduk.

“Bapak hanya ingin mendapatkan orang yang terbaik untuk pekerjaan ini, dan kalian yang masuk kategori itu. Reputasi perusahaan Dik Andri sudah tentu tidak usah disangsikan lagi. Sedangkan perusahaan Dik Lidya memang fokus di system tranportasi dan penjadwalan, yang mana bapak perlukan untuk sistem bapak ” Terang Pak Tony.

Aku memandang wajah si-celana-dalam-putih. Dan yang kudapatkan pandangan menantang. Serta dagu kecil yang diangkat, menandakan pemiliknya tidak terintimidasi olehku.

Bibir itu, uffttt,,,, jaga konsentrasi! Andri!

“Bapak minta kalian presentasi hari ini, untuk melihat, bagaimana pandangan orang diluar perusahaan bapak mengenai system kerja dari perusahaan bapak ini. Sekaligus mencari solusi yang terbaik untuk permasalahan yang bapak ingin pecahkan nanti. Jadi, siapa yang ingin presentasi pertama?” Tanya Pak Tony, sambil melihat kami berdua.

“Lady’s first? ” Tanyaku sambil menaikkan satu alis kepada si-celana-dalam-putih.

“Saya pak” Sahut si-celana-dalam-putih tanpa melihatku.

Well, perang dimulai.

Kulihat si-celana-dalam-putih dengan sigap menyiapkan perlengkapan untuk presentasi. Payudaranya yang tidak terlalu besar terlihat sedikit bergoyang ketika sibuk menyiapkan bahan presentasinya.

“Selamat pagi semuanya, saya Lidya hari ini mewakili Delta Company. Pada kesempatan ini, kami ingin membagi bahasan presentasi saya hari ini menjadi tiga poin pokok, yaitu produksi, tranportasi dan HRM. Untuk bagian produksi, kami menyiapkan system yang menginventarisasi semua bahan, alat dan proses produksinya. Untuk tranportasi, kami menyiapkan algoritma khusus yang mencari jarak terpendek untuk suatu lintasan tranportasi. Sedangkan untuk HRM atau Human Resource Management, kami menyiapkan system yang terpisah dengan system produksi dan tranportasi”.

Sambil menjelaskan si-celana-dalam-putih memperlihatkan detail dari system yang akan dibuatnnya.

Sial. Dia bagus. Terlalu bagus malah.

Aku melirik kearah Pak Tony, beliau terlihat manggut-manggut melihat pemaparan dari si-celana-dalam-putih.

Double Sial!

Kualihkan pandangan kearah Raisa, dia tersenyum manis ketika aku melihatnya. Well, mungkin hanya Raisa yang tidak terlalu memperdulikan presentasi dari si-celana-dalam-putih.

“Ini tampilan dari system yang akan kami bangun” Perkataan si-celana-dalam-putih mengalihkan perhatianku dari Raisa. Di screen aku bisa melihat desain GUI dari programnya.
Dan untuk pertama kalinya aku tersenyum melihat presentasinya, kulirik Pak Tony, beliau juga terlihat mengkerutkan keningnya.

Tidak semua team bagus di semua hal. Setidaknya Delta Company tidak terlalu memperhatikan antarmuka. Warna-warna cerah, biru, hijau bajkan kuning dicampur dalam GUI nya. Tampilan depan yang terlalu banyak tombol dan teks keterangan.
Aku mencatat poin plus dan minus dari si-celana-dalam-putih. Data ini akan sangat kuperlukan kedepannya.

“Demikian presentasi dari team kami, terimakasih.” Dengan tenang si-celana-dalam-putih kembali ketempatnya. Senyum lega terlihat dari wajahnya. Walaupun ruangan ini ber-AC, namun bisa kulihat butir-butir keringat menempel didahinya.

Sexy.

Tanpa sadar pikiran itu masuk kedalam diriku.

“Baik, demikian tadi dari Dik Lidya, sekarang Dik Andri” Kata Pak Tony dengan lembut.

Dengan tenang aku maju. Tanpa tergesa-gesa aku siapkan materi presentasi hari ini.

“Terimakasih atas kesempatannya, saya Andri dari G-Team. Untuk presentasi hari ini, kami dari G-Team membaginya juga menjadi tiga bagian, yaitu, system produksi, system transportasi dan system manajemen karyawan. Semua system ini terkait menjadi satu. Sehingga terjadi kesinambungan data.” Terangku sambil melirik si-celana-dalam-putih.

“System produksi akan kami titik beratkan pada FIFO, jadi kami akan berupaya meminimalisasi kerusakan sumber daya karena proses penyimpanan. Selain itu kami membuat system ini terstruktur sedemikian rupa sehingga prosesnya akan lebih mudah. Untuk proses transportasi, kami membuat system dengan mapping. Sehingga user lebih mudah mencari rute dan kita bisa memantau keberadaan dari saran tranportasi dan status pengiriman barang. Untuk manajemen karyawan, menitik beratkan pada akses dan kontrol terhadap karyawan.”

Sambil jeda sejenak ku lirik Pak Tony, beliau terlihat membuat beberapa catatan di notesnya. Sedangkan si-celana-dalam-putih tersenyum melihat presentasiku tadi. Dan Raisa, dengan sengaja dia menjulurkan lidah mungilnya dan menjilat bibirnya saat kumeliriknya.

Sialan. Kalau saja bukan rapat.

“Untuk bagian GUI. Kami akan menggunakan touchscreen PC, dimana program kami juga akan bisa dijalankan di mobile device dan juga berbasic cloud. Warna yang kami gunakan dominan biru dan putih yang menyejukkan pandangan dan nyaman digunakan dalam waktu lama.” Sambil memberikan penjelasan aku juga mendemonstrasikan GUI yang akan kugunakan. Kulirik Pak Tony, dan beliau tersenyum lebar. Sedangkan si-celana-dalam-putih terlihat cemberut

Well , 1-1.

“Demikian presentasi dari timkami, terimakasih.” Aku kembali ketempat dudukku. Ketika aku lewat di dekat tempat duduk Raisa, dengan sengaja dia menjatuhkan penanya kelantai. Sambil tersenyum aku membungkuk dan mengambilnya.

Deggg…

Pandanganku terpaku pada dua paha mulus yang terbuka, paha mulus yang tertutup stocking transparan, dimana ujungnya bisa kulihat kain segitiga kecil berwarna merah. Yang terlalu kecil sehingga bisa kulihat rambut-rambut tipis mengintip keluar.
Dengan terpaksa aku bangkit, Raisa tersenyum ketika tahu aku mengambil kesempatan yang diberikannya.

What a view!

“Terimakasih kepada Dik Lidya dan Dik Andri atas presentasinya. Dari setiap presentasi ada kelebihan dan kekurangannya menurut bapak. ” Ujar Pak Tony ketika aku sudah duduk di kursiku.

“Kalau Dik Lidya, teori dan algoritma, terutama algoritma transportasinya lebih bagus, namun untuk antarmukanya bapak rasa terlalu banyak warna dan terlalu rumit bagi karyawan bapak” Papar Pak Tony sambil melirik si-celana-dalam-putih.

“Sedangkan Dik Andri, paparan mengenai cloud dan sinergi antar sistem bagus, namun untuk sistem tranportasi dan yang lain masih kalah daripada Dik Lidya”

Damn, it’s true.

“Sedangkan antarmukanya bapak suka, seperti itulah yang bapak inginkan.” Lanjut Pak Tony sambil tersenyum.

“Raisa, berikan map penawaran dan konsep sistem yang kita inginkan” Pinta Pak Tony kepada anaknya.

Dengan cekatan Raisa bangkit dan memberikan sebuah map merah kepada Lidya, ketika dia memberikan map itu kepadaku, dengan sengaja tubuhnya dicondongkan kearahku sehingga aku bisa melihat belahan dadanya.

Hufftt, penuh. Pikirku.

“Silahkan dipelajari dulu” Saran Pak Tony mengalihkan pikiranku.

Kubaca dengan teliti poin-poin yang dinginkan Alfa Medika. Secara umum hampir sama dengan yang aku dan si-celana-dalam-putih presentasikan. Pandanganku menelusuri poin demi poin, sampai ke poin 15 yang sedikit menyita perhatianku.

15. Penghematan di bidang transportasi dengan membuat suatu sistem yang bisa mengetahui keberadaan sarana transportasi dan semua unit pendukungnya sehingga bisa mengetahui kondisi pengiriman dan mempersempit kemungkinan kehilangan.
Apakah selama ini terjadi kehilangan bahan atau obat di Alfa Medika?

Kuteruskan membaca poin-poin berikutnya. Poin 21 membuatku kembali merasa heran.
21. Membuat sistem yang berjalan dibawah sistem keamanan dari Alfa Medika.
Jadi Alfa Medika punya sistem keamanan tersendiri? Karena itu mereka tidak meminta kami membuat sistem keamanan.

“Untuk semua sistem ini, bapak hanya bisa memberikan waktu dua bulan untuk kalian menyelesaikannya dan bapak perlu demo produknya dalam 2 minggu ini” Papar Pak Tony.

Dua minggu demo dan dua bulan finish? Dengan tingkat kompleksitas yang diminta aku rasa minimal perlu waktu tiga bulan untuk mengerjakan semuanya.

“Jadi, siapa yang bisa mengerjakannya dalam waktu dua bulan?” Tanya Pak Tony kepada kami berdua.

Aku menatap si-celana-dalam-putih. Dan terlihat padangan penasaran dimatanya.

“Dik Lidya bagaimana?” Tanya Pak Tony.

“Untuk sistem dan codingnya, dua bulan kami bisa pak, tapi untuk pengerjaan antarmuka dan cloudnya, minimal kami perlu waktu tiga bulan pak” Sahut si-celana-dalam-putih sambil menarik nafas.

“Dik Andri bagaiamana?”

“Sama pak, minimal perlu tiga bulan juga, terutama untuk pengerjaan sistem transportasi dan produksinya pak” Sahutku sambil menggelengkan kepala.

“Bagaimana kalau kalian berdua yang mengerjakannya bersama? Bapak rasa kalian bisa kalau bersama”.

Aku terdiam dan memandang Pak Tony dan si-celana-dalam-putih bergantian.

“Jadi, untuk proyek ini, bapak putuskan kalian berdua yang kerjakan, bersama, atau bapak cari perusahaan yang lain”

“Tapi pak…”

“Tapi pak…”

Aku dan si-celana-dalam-putih bersamaan bersuara dan bersamaan berhenti. Aku memandang si-celana-dalam-putih dan melihat pandangan bimbang disana. Sejujurnya join project semacam ini bukan yang pertama bagi perusahaanku. Namun, bekerja bersama si-celana-dalam-putih, berdua, beberapa pikiran mesum terlintas dibenakku.

“Apa tidak sebaiknya kami mengerjakan satu macan sistem terpisah pak? Dengan begitu kami lebih fokus mengerjakannya” Tanyaku.

“Iya pak, kami mengerjakan sistem yang sesuai dengan keahlian kami, dengan begitu sistem nya akan menjadi lebih cepat selesai” Sambung si-celana-dalam-putih.

Untuk pertama kalinya setuju denganku!

“Dan siapa nanti yang menggabungkan sistem yang kalian buat? Siapa yang mengorganisasinya? Bukannya nanti akan tambah sulit? Dan menurut bapak, kalian sangat serasi, bisa saling melengkapi nanti” Lanjut Pak Tony.

“Maksud bapak, keahlian kalian, kalau digabungkan jadi satu, rasanya bapak akan mendapatkan sistem yang bapak mau.”
Sambung Pak Tony ketika melihat wajah si-celana-dalam-putih merona merah.

“Jadi deal?” Tanya Pak Tony ketika kami berdua terdiam. Aku melirik sebentar kearah si-celana-dalam-putih. Pandangan kami bertemu, kudapat persetujuan di sinar matanya, walaupun ada bayangan kekhawatiran juga disana.

“Iya pak” Sahut kami berdua.

“Baguslah kalau begitu, untuk detail sistem nya dapat kalian tanyakan pada Raisa. Untuk nilai kontrak dan penawarannya, bisa kalian kirimkan nanti. Kalau ada perlu apapun yang berhubungan dengan project ini, bisa kalian hubungi Raisa. Kalau dia tidak bisa menjawab pertanyaan kalian, hubungi bapak” Tawar Pak Tony sambil menyerahkan kartu namanya kepadaku.

“Baik, bapak masih ada pertemuan di Bali nanti sore, bapak permisi dulu, kalian bisa memakai ruang rapat ini untuk membahas projectnya. Bapak tunggu presentasi kalian yang lebih lengkap, dua minggu dari sekarang” Kata Pak Tony sebelum beliau menjabat tanganku dan si-celana-dalam-putih.

Setelah menjabat tangan si-celana-dalam-putih beliau keluar dari ruangan.

Sekarang tinggal aku, Raisa dan si-celana-dalam-putih.

Aku memandang Raisa dan si-celana-dalam-putih. Kalau kubandingkan antara mereka, Raisa menang muda dan putih, dadanya juga sedikit lebih besar, tapi si-celana-dalam-putih mempunyai bibir tipis yang sungguh membuatku menahan diri untuk tidak mendekati dan menciumnya. Pantatnya juga lebih membulat dan lebih besar dari Raisa. Kalau harus memilih, aku akan lebih memilih si-celana-dalam-putih.

“Mas Andri dan Mbak Lidya, kalau ada perlu bisa bilang kepada saya” Kata Raisa sambil tersenyum.
“Oh iya, mau minum apa?” Tawarnya lagi.

“Ada kopi?” Pintaku

“Ada mas, kalau Mbak Lidya mau minum apa?” Tanya Raisa.

“Teh aja” Sahut si-celana-dalam-putih tenang.

“Oke, tunggu sebentar yah” Kata Raisa sambil melangkah ke luar ruangan.

Jadi, tinggal aku dan si-celana-dalam-putih sekarang.

“Well, karena ini joint project, bagaimana sekarang?” Tanyaku pada Lidya.

“Yah, mau tidak mau kita harus bekerjasama, namun sebelumnya kita harus deal untuk pembagian job dan feenya, tentu saja, dan teknis pengerjaannya juga.” Jawab Lidya.

“Feenya 50:50, bagaimana?” Tawarku

“Deal, pengerjaannya, team saya lebih fokus ke algortima dan coding, team anda ke desain antarmuka dan cloud sistemnya, bagaimana?” Sambung Raisa.

“Well, waktu kita mepet, dua minggu untuk pengumpulan informasi dan desain antarmuka sudah cukup mepet, apalagi kita harus full presentasi untuk semuanya dua minggu lagi, jadi kupikir pembagian itu cukup adil, namun kita harus bekerja satu tempat, bagaimana?” Kataku setelah berpikir sejenak.

“Satu tempat? Bukankah kita bisa bekerja di tempat yang terpisah sebelum menggabungkannya?” Tanyanya dengan garis muka berkerut.

Tentu saja cantik, memang bisa seperti itu, tapi akan memakan waktu lama dan kurang efektif, dan aku tidak bisa melihat pantat bulatmu itu!

“Dalam waktu dua minggu? Data saja kita belum punya, desain antar muka untuk PC saja mungkin memakan waktu lebih dari satu minggu, sinkronisasinya dengan coding dari pihakmu, aku tidak yakin kita bisa dalam waktu dua bulan kalau harus bekerja terpisah” Tegasku.

“Hmmmmm,,, kalau begitu kita bekerja disatu tempat yang sama, ditempat saya” Sahutnya.

Pandangan dan senyum jahil keluar tanpa bisa kutahan. Lidya mengernyit bingung sebelum bisa menebak apa yang kupikirkan.

“Dasar mesum! Maksud saya kita bekerja di perusahaan saya, bukan di rumah saya!” Jawabnya dengan wajah yang memerah.

“Kapan saya bilang kita bekerja dirumah anda? Walaupun kalau boleh dengan senang hati aku bersedia. Diranjang yang sama lebih baik lagi.” Jawabku sambil menatap wajahnya yang memerah.Tentu saja kata yang dicetak miring hanya kuucapkan didalam hati.

“Berapa staff yang anda punya Nona Lidya?” Tanyaku dengan mimik wajah yang kubuat serius.

“Sepuluh orang termasuk saya sendiri, kenapa?”

“Kalau begitu kita bekerja di tempat saya.”

“Kenapa? Apa karena perusahaan kami kecil anda merasa tidak pantas untuk bekerja di tempat kami?” Tanyanya dengan marah.

“Bukan begitu, hanya saja, memindahkan 50 orang staff dan peralatannya ketempat anda rasanya lebih sulit daripada memindahkan 10 orang ke tempat saya” Jawabku dengan tenang.

“Dan aku perlu server untuk menguji GUI dan Cloud sistemnya” sambungku sambil melirik wajah Lidya. Pandangan matanya membara dan tak mau kalah.

“Kami juga punya server!” Katanya tak mau kalah.

“Berapa buah?”

“Tentu saja satu, berapa lagi?” Sambungnya. “Maksud saya baru satu!” Sambungnya dengan cepat.

“Nona Lidya, kita perlu beberapa server untuk cloud, dengan platform yang berbeda!” Terangku.

“Oke, kami ke tempat anda, hanya, dengan catatan hanya sampai sinkronasi data dan GUI, kalau sudah coding sistemnya, kami kembali ketempat kami!” Katanya tegas stelah berpikir sejenak.

“Oke,as you wish..”

“Deal, kalau begitu sampai nanti” Sahutnya sambil beranjak pergi.

Dengan langkah cepat dia beranjak kepintu.

Pantat bulatnya bergoyang dengan cepat ketika empunya melangkah dengan tergesa, marah?

Tunggu dulu, rasanya ada sesuatu yang kulupakan?

Oh, shit!

Pantat sialan!

Kuberlari kepintu, dan kulihat si-celana-dalam-putih telah berada di luar lobi.

Shit!

Kulari mengejarnya.

“Nona Lidya, tunggu dulu!” Teriakku sambil menghampirinya. Tak kupedulikan pandangan heran dari orang-orang disekitar kami.

“Ada apalagi Pak Andri?” Dengan tatapan heran dia menatapku yang terengah-engah.

“Sekarang….hah,,, kita perlu..hah…mengambil data dari Mbak Raisa” Sahutku dengan terengah.

“Dan panggil aku Andri”

“Saya rasa anda bisa menangani itu bukan? ” Senyum licik dan mata nya bersinar dengan jahat.

“Dan saya perlu nomer handphone atau telp perusahaan anda beserta alamat email anda”

“Untuk apa?”

Untuk bahan sop! Sialan, untuk apa lagi?!

“Untuk sekedar mengetahui kapan kita memulai pekerjaan ini, dan untuk mengirimkan detail data yang saya dapat nanti, dan untuk mengirimkan lokasi kantor saya hingga nanti anda bisa datang tepat waktu”

Oh yeah, sarkasme sangat menyenangkan.

Untuk pertama kalinya wajahnya terlihat memerah karena malu.

“Kalau begitu berapa no telp anda, biar nanti saya yang menghubungi anda?” Sahutnya.

Fuck yeah!

“Ini” Sahutku sambil memberikan kartu namaku padanya.

“Ada lagi Pak Andri?” Sahutnya sambil mengambil dan mengamati kartu namaku. Kernyit heran terlihat dari wajahnya sebelum dia memasukkannya ke tasnya.

Ada, apa aku boleh bercinta denganmu disini?

“Tidak, itu saja”

“Kalau begitu, saya permisi dulu, Pak!” sambil memutar pantatnya yang membuatku kehilangan konsentrasi.

Dengan menahan jengkel aku kembali ke keruangan rapat. Hari yang melelahkan.

Di pintu ruangan rapat aku bertemu dengan Raisa.

“Mbak Lidya kemana mas?” Tanyanya heran.

“Hmmm tadi dia ditelp, kayaknya ada panggilan” Bohongku menghindar.

“Iya mas, kalau begitu silahkan diminum kopinya dulu” Tawarnya.

“Terimakasih mbak”

“Panggil Raisa atau Is saja mas” Senyumnya ketika aku lupa memanggil namanya.

“Ehhh, iya Raisa, eh Is”Ralatku.

Rasanya ada yang aneh dengan pakaiannya, tapi apa?

Shit!!!

Kancing kemejanya terlepas satu. Dan dari celah yang ada aku bisa melihat sebagian payudaranya yang lumayan besar ditopang bra warna putih.

Namun pandangan itu berganti dengan goyang gemulai pantat sekalnya ketika empunya berbalik dan menuju kedalam ruangan rapat.

Mungkin secangkir kopi bisa menghilangkan bayangan itu.

“Jadi apa saja yang mas perlukan untuk materi sistem yang diminta?” Tanya Raisa ketika pantat sekalnya sudah didudukkan di kursi didepanku.

“Struktur organisasi perusahaan, dan hak akses setiap karyawan dalam perusahaan untuk sistem HRM-nya, alur produksi dan jenis-jenis barang produksi beserta detailnya. Daftar supplier dan partner. Peta distribusi dan alur distribusi produk. Secara garis besarnya seperti itu ” Terangku panjang lebar sementara Raisa sibuk mencatat apa yang kuperlukan.

“Hanya itu mas?”

“Kalau bisa kunjungan ke pabrik atau tempat produksi lainnya, serta kunjungan ke tempat distribusi produk, untuk mengetahui secara langsung proses dari masing-masing kegiatan” Lanjutku.

“Apalagi Mas?” Senyum Raisa sungguh menggodaku.

Berhubungan seks denganmu disini apakah termasuk yang bisa kausediakan?.

Well. Tentu saja kata yang dicetak miring diatas tidak kusebutkan.

“Sementara itu dulu, nanti aku beri detailnya besok”

“Struktur organisasi dan hak akses karyawan hanya ada hard copy nya mas, di ruangan CEO. Mas mau mengambilnya sekarang? ” Tawarnya.

“Hmmm,, boleh juga Is” sahutku sambil menghabiskan kopi yang disediakan Raisa tadi.

“Ikut saya ya Mas” Saran Raisa sambil bangkit dan melangkah keluar ruangan.

Gemulai goyangan pantat Raisa didepanku membuat perjalanan keruangan direktur terasa begitu cepat. Tak terasa kami sudah berada didepan ruangan direktur.

Tringggg….

“Upssss..!” Kunci untuk masuk keruangan direktur tak sengaja dijatuhkan Raisa. Aku dipaksa menelan ludah ketika pantatnya yang bulat terlihat semakin membulat ketika Raisa menunduk untuk mengambil kunci pintu.

Ada yang aneh pikirku, namun aku tidak bisa menemukan apa keanehan itu.

Kami berjalan masuk dan kupikir ini ruangan Raisa karena kesannya yang feminim. Dan tebakanku benar karena kulihat nama Raisa di meja ini. Ruangan ini kecil, hanya ada satu meja dan beberapa kursi dan meja kecil untuk tamu, di ujung ruangan sebelah kiri ada pintu kecil, mungkin kamar mandi pikirku. Sementara langkah Raisa membawa kami ke ujung ruangan lainnya.

Ruangan CEO Alfa Medika hampir sama dengan ruangan rapat. Hampir sulit kupercaya kalau ruangan CEO perusahaan farmasi terbesar di Asia Tenggara hampir sama dengan ruangan sekretaris di kantorku. Hanya ada meja sederhana dan sebuah lemari. Beberapa kursi terletak disebalah dinding ruangan. Di pojok ruangan ada sebuah pintu.

“Duduk dulu mas” tawar Raisa sambil beranjak kelemari disebelah meja.

Setelah beberapa saat Raisa kembali dengan membawa map biru, ketika dia menunduk aku bisa melihat buah dadanya dari dua kancing kemejanya yang terlepas.

Tunggu!

Dua kancing? Sejak kapan dua kancingnya terlepas?

Pandanganku tak bisa lepas dari belahan dadanya. Setelah seharian disuguhi dua pantat yang bulat, satu menggoda yang satunya keras kepala. Pikiranku tak bisa jernih lagi.

“Idih,,, mas liatin apa sih?” Seru Raisa sambil ‘pura-pura’ menutupi dadanya.

“Ada didepan mata masa gak lihat?”

“Ah mas bisa saja, keruangan saya mas” Sahutnya sambil menuju keruangannya.

Sampai disana, dia menju kemejanya dan mencari sesuatu dilacinya. Sementara itu aku meuju kursi yang disediakan untuk tamu. Setelah beberapa lama dia bangkit sambil membawa map berwarna merah dan hijau.

“Mas, map merah ini berisi data-data mengenai proses produksi dari perusahaan sedangkan yang ini berisi alur tranportasi dan data-data klien serta supplier kami” Tanya sambil menunjuk map warna hijau.

“Idih mas koq bengong sih?” Tanyanya ketika aku hanya diam memandang buah dadanya yang tersembul dari celah-celah baju yang dia kenakan.

“Abis kamu ngegemesin si IS” Cengirku. Sementara Andri junior sudah menegang dibawah sana.

“Hihihi,, masa si mas? Idih, yang dibawah kenapa tu mas?” Sahutnya sambil menunjuk tonjolan di celanaku.

“Gara-gara kamu ni, tanggung jawab donk” Pintaku sambil tersenyum mesum.

“Nidurin aja kan mas?” Sahutnya sambil mendorong pelan tubuhku ke belakang, dengan pelan tangannya mendorong pahaku membuka.

Dengan cekatan dibukanya resleting celanaku dan mengeluarkan si junior dari kurungannya.

“Wow, besar juga mas!” Suaranya terkagum dengan ukuran penisku. Dengan cepat dikulumnya penisku kedalam mulut mungilnya.

“Ufgghhtt,, Isss,, terus” Caracauku.

Sambil menatap mataku Raisa menaikturunkan kepalanya dengan cepat di penisku.

Tangannya tak tinggal diam, yang satu mengocok cepat batang penisku, serasi dengan gerakan kepalanya, sedangkan yang satunya mengelus bolaku.

“Isss, pintunya!” Seruku teringat dengan pintu yang tidak terkunci.

“uhhh…ugghhtt” Hanya itu yang terdengar ketika dia meneruskan kulumannya sekaligus membuatku semakin mendekati puncak.
Panduan antara godaannya dari pagi, goyangan pantat si-celana-dalam-putih yang menggangguku serta takut ketahuan menyebabkan puncakku datang dengan cepat.

“Kring..kringg…kringg” Suara telepon mengejutkanku.,

Ploooppppp.

Suara ketika mulut mungil Raisa keluar dai penisku yang sudah memerah, tanda sudah mendekati puncak.

“Kok udahan Is?” Tanyaku karena tanggung.

“Bentar mas, siapa tahu penting” Sahutnya sambil beranjak mendekati mejanya meninggalkanku dengan nafsu yang sudah diubun-ubun.

“Selamat Siang, dengan Raisa ada yang bisa saya bantu?” Terdengar suaranya mengangkat telepon.
“Bisa Lis, bawa saja kesini” Sahutnya pendek dan mentutup telepon.

“Lisa mas, dia mau kesini bawa dokumen” Katanya seraya menuju kearahku dan meraih penisku.

“Jangan Is, nant…” belum sempat aku menyelesaikan ucapanku ketika dengan sangat cepat Raisa memajumundurkan kepalanya di penisku.

“Ahhhh,, Is, keburu Lisa datang!” Seruku dengan nafas tersengal. Paduan antara nafsu yang sudah dipuncak dan rasa takut ketahuan menyebabkan puncak kenikmatanku semakin dekat.

Bukannya berhenti, kuluman Rasia semakin ganas, seolah berlomba dengan waktu sebelum Lisa datang.

“Tok.tok.tok..”

“Ahhhhhh…Issss!!!” Seruku ketika terdengar suara ketukan dipintu. Berbarengan dengan semprotan spermaku di tenggorokan Raisa.

“Crotttt..croottt..croottt”

Aku meremas pinggiran kursi ketika puncak kenikmatan itu datang, menahan desahan yang hendak keluar dari mulutku.

Semprotan kuat spermaku semuanya ditelan Raisa. Dengan ujung tangannya ia menyeka peluh didahinya dan mengancingkan kemejanya dengan tergesa.

“Tok.tok.tok…” Kembali terdengar ketukan di pintu.

“Iya sebentar” Sahutnya sambil melangkah kepintu.

Dengan tergesa aku memasukkan penisku ke sarangnya, dan menaikkan resletingku. Bertepatan dengan itu Raisa membuka pintu.

“Mbak ini filenya” Kata Lisa sambil menyerahkan map kepada Raisa.

“Thanks ya Lis”

“Sama-sama mbak, saya kedepan dulu” Sahut Lisa sambil berjalan ke lobi.

“Hahhhhhhh” Aku bernafas dengan lega ketika Lisa sudah menjauh dan pintu sudah tertutup.

“Nekat kamu Is” Tegurku ketika Raisa berbalik kearahku.

“Tapi mas suka kan?” Katanya dengan manja.

“Sekarang giliranmu Is”

“Gag usah mas, aku ada meeting sebentar lagi, nanti saja mas” Senyumnya seolah bisa menebak apa yang ada dalam pikiranku.

Nanti?

“Mas, untuk kontraknya, nanti akan diberikan saat presentasi programnya dua minggu lagi. Data-data yang mas pinta akan ku kirimkan lewat email. Oh ia, untuk proses produksi dan tranportasinya, rasanya mas harus lihat sendiri ke pabrik.” Terangnya seolah tidak terjadi apa-apa diantara kami.

“Hmm,,, untuk kontraknya nanti temanku yang akan mengurus, aku tidak begitu paham urusan kontrak. Kapan kami bisa ke pabrik Is?” Tanyaku kurang fokus.

“Kapan saja yang mas mau, nanti aku antar” Sahutnya sambil tersenyum jahil.

“Ini kartu namaku mas, kalau ada perlu bisa menghubungiku disini” Sahutnya sambil memberikan sebuah kartu nama .

Raisa Firmansyah
Sekretaris
Email : [email protected]
Mobile : 0123 4567 8911

“Ini kartu namaku Is” Sahutku sambil memberikan kartu namaku.

“Oh ia, kalau yang dibawah perlu, hubungi kemana Is?” Tanyaku sambil tersenyum lebar.

“Ahh,,, mas!” Serunya sambil memukul ringan tanganku.

“Kalau yang dibawah perlu, nanti Is yang hubungi mas!” Serunya dengan mata bersinar jahil.

“Oke, kalau begitu aku pamit dulu Is”

“Iya mas, nanti perlu apa-apa, hubungi aku”

Aku melangkah kepintu keluar, kubuka daun pintu dan bersiap untuk keluar.

“Mas. Nanti kalau ke pabrik, ajak Mbak Lidya, siapa tahu kita bisa main bertiga” Serunya sambil terkikik.

“Eh,,, maksudnya?”

“Alah, jangan sok muna mas, aku bisa lihat pandangan mas yang penuh nafsu kearah Mbak Lidya, apalagi pas mas lihat pantatnya Mbak Lidya” Paparnya blak-blakan.

Owhh,, shit!

“Ehh,, ya begitulah” Sahutku sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal

“Sampai jumpa nanti Is” Seruku sambil berjalan kearah parkiran untuk mengambil mobilku.

Pikiranku menerawang ketika mengemudi menuju kantor. Peristiwa pagi ini berkelebat satu demi satu dalam benakku.

Hari yang melelahkan.

Sekaligus menyenangkan

Pikirku sambil tersenyum sendiri ketika kendaraan yang berada didepanku tidak bisa maju.

Huftt,, Jakarta, Jakarta.

Tiada hari tanpa macet.

“Ting…ting..ting..”

Suara handphoneku yang menandakan ada pesan masuk. Dengan malas aku buka pesan yang masuk.

From : 0123 4567 8911

Mas, buka mapnya sebelum sampai dikantor ya :), Raisa.

Hmm,,,,Apa yang ada didalam map?

Dengan tangan kiriku kubuka map merah yang diberikan Raisa.

Oh shit!

Selembar G-string mini berwarna merah dengan rapinya terselip didalam map!

Bersambung