Rahasia Gelap Part 39

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Tamat

Cerita Sex Dewasa Rahasia Gelap Part 39 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Rahasia Gelap Part 38

High Voltage

Lidya POV

“Nanya apa mas?” tak sabar aku bertanya. Hening sejenak. Bisa kurasakan angin sepoi berhembus membelai kemejaku, yang membuatnya berkibar pelan.

“Punggungmu…, punggungmu luka kenapa Lid?” tanyanya pelan.

Sejenak aku bingung dengan pertanyaannya, kuraba punggungku untuk melihat ada noda atau tidak. Kulihat si-mata-keranjang.

Tidak ada pandangan usil sekarang!

“Maksud mas?” tanyaku ragu.

Terlihat si-mata-keranjang terdiam sebelum dengan ragu dia bertanya.

“Kemarin, pas kita tidur di ruang tamu, aku, eh…, aku tak sengaja melihat luka memanjang dipunggungmu, maksudku, bekas luka yang samar,” tanyanya sambil melihat dengan tajam kearahku.

Aku terdiam mendengar pertanyaannya. Tidak mungkin aku mengatakan alasan sebenarnya luka ini, tidak mungkin dan tidak bisa.

“Eh, luka jatuh pas masih kecil mas,” sahutku sambil melihat kebawah, takut melihat kearahnya.

Takut kebohonganku terbuka…

“Wah, jatuh dimana Lid?” tanyanya santai.

Kulihat kearahnya, pandangan matanya tajam, seolah mau menjenguk kedalam hatiku. Kukuatkan tekadku dan memandang kearahnya. Dia yang berdiri tegak disana, seperti batang pohon yang tak goyah oleh hembusan angin. Pohon!

“Jatuh dari pohon mas, waktu itu manjat pohon sama temen-temen mas, pas turunnya jatuh, jadi…, ” perkataanku terhenti ketika melihat kearahnya.

Kulihat si-mata-keranjang mengerutkan alisnya. Dengan pelan dia mendekatiku. Bisa kurasakan bau samar parfumnya di hidungku. Perlahan aku melangkah mundur sampai menyentuh mobil yang terparkir.

Tapi dia dengan tenang maju dan meletakkan tangannya dibahuku.

“Kenapa kalau jatuh dari pohon, lukamu justru di punggung,” katanya sambil mendekatkan mukanya kearahku. Bisa kurasakan nafasnya pelan menggelitik pipiku.”Dan luka itu memanjang, tidak beraturan?” katanya.

Dekat. Sangat dekat.

Sejenak aku melupakan pertanyaannya, ketika nafasnya dengan pelan menggelitik telingaku. Matanya memandang kearahku dengan tajam. Mencari kebenaran dari mataku.

Tidak, tidak bisa! Tidak bisa aku mengatakannya!

“Mas…,” kataku pelan dengan nafas yang memburu.

Mulutnya sekarang mendekat kearahku, dekat…, dan…

“Ehem…..,” suara deheman pelan membuat kami melompat menjauh. Dengan wajah memanas kuarahkan pandanganku kearah Mas Frans yang memandang kearah kami dengan wajah yang tersenyum lebar. “Rasanya aku mengganggu ya?” lanjutnya sambil bergantian memandang kearahku dan si-mata-keranjang.

“Selalu datang disaat yang tepat Frans,” kata si-mata-keranjang sambil tersenyum. “Tapi setidaknya, resletingku terpasang dengan benar,” kata si-mata-keranjang sambil nyengir. Sejenak aku menatap bingung kearahnya. Yang dibalas dengan pandangan matanya yang menuju kearah celana Mas Frans.

Kulihat kearah Mas Frans yang terlihat sedikit kebingungan dan menoleh kearahku.

“Mas Frans, resletingnya,” kataku sambil menahan tawa, ketika menyadari arti kata-kata si-mata-keranjang.

“Hahahahaha…,” si-mata-keranjang tertawa dengan bebasnya.

Kulihat dengan ujung mataku Mas Frans berbalik dan terlihat menaikkan resletingnya. Dengan muka yang merah dan cengiran menghiasi wajahnya, dia membuka pintu mobil dan masuk kedalamnya.

Dengan masih tertawa kulihat si-mata-keranjang masuk kedalam mobil dan melambai kearahku. Dengan senyum lega karena terhindar dari pertanyaannya, aku masuk kedalam mobil dan duduk disamping si-mata-keranjang.

Andri POV

Ápa yang kau rahasiakan?. Pikirku sambil menoleh kearah si-celana-dalam-putih. Apapun itu, pasti akan kucari tahu.

Dengan tenang mobil membelah jalanan Jakarta yang padat. Udara panas sedikit terobati dengan hidupnya AC didalam mobil ini. Kulihat si-celana-dalam-putih menoleh keluar jendela. Rambutnya sedikit berantakan menghiasi wajahnya yang tampak sedang memikirkan sesuatu.

“Jadi, gimana hasilnya boss?” tanya Frans memecah lamunanku.

“Lumayan sukses Frans, cuma Pak Tony minta waktu pengerjaan proyeknya maju menjadi satu bulan saja,” jawabku.

“Terus bagaimana?” tanya Frans lebih lanjut.

“Sekarang aku mau ngadain rapat dulu dengan yang lain, kita lihat apa rekan-rekan bisa,” jawabku sambil mengambil handphone dan menekan nomer handphone Erlina.

“Halo, selamat siang pak, ada yang bisa saya bantu?” Suara Erlina terdengar menyahuti panggilanku.

“Halo Lin, bisa ngadain rapat dengan semua staff G-Team dan Delta Company sekarang?” tanyaku.

“Bisa pak, kalau semua staff, bagaimana kalau dikantin rapatnya pak?” Kata Erlina memberikan masukan. Saran yang bagus, seperti biasa.

“Oke Lin, thanks ya,” sahutku sambil menutup telepon.

“Rapat untuk kepastian pengerjaannya ya mas?” tanya si-celana-dalam-putih sambil memandang kearahku. Raut wajahnya sekarang terlihat bersemangat.

“Iya Lid, menurutmu bagaimana?” tanyaku memastikan.

Terlihat dia mengerutkan keningnya sejenak dan bibir itu! Bibir itu terlihat begitu menantang ketika digigit pelan seperti itu.

Andai saja Frans tidak ada…

Detik demi detik berlalu, antara keinginan untuk mendengar jawaban dan menciumnya sekarang semakin besar. Tinggal sebentar lagi sebelum sampai di perusahaan. Oh, cepatlah!

“Rasanya bisa mas, tapi mending kita tanyakan ke rekan-rekan dulu, sekalian lihat reaksi mereka,” sahutnya mantap.

Tak terasa kami sudah sampai di perusahaanku. Dengan pelan Frans mengemudikan mobil menuju keparkiran. Si-celana-dalam-putih terlihat diam saja ketika kami keluar dari parkir dan menuju ke kantin. Dari jauh sudah terdengar hiruk pikuk dan canda tawa berbaur menjadi satu di area kantin.

Sejenak suasana menjadi sedikit lebih hening ketika kami sampai di kantin. Si-celana-dalam-putih memberi isyarat agar aku mengumumkan hasil demo kami tadi ke rekan-rekan yang terlihat penasaran menunggu hasil demo kami.

Huuuuufffffftttttt…

Kuhembuskan nafas panjang sebelum menoleh kesekeliling.

“Rekan-rekan semua, demo tadi…,” kulihat kesekeliling dan wajah-wajah yang terlihat tegang membalas tatapanku. “Demo tadi berjalan lancar,” kataku sambil tersenyum.

“Yessss!”

“Horeeeee!”

“Siiipppp!”

Beraneka ragam ekpresi lega terlihat dari wajah yang memandangku. Kuamati mereka sejenak dan menunggu sampai euforia kegembiraan mereka mereda.

“Namun…,” kataku setelah suasana kembali hening.”Namun, pihak Alfa Medika minta agar sistem ini selesai sebulan lagi, bagaimana?” tanyaku sambil melihat ekpresi mereka.

“Satu bulan?” tanya Shinta dan Lisa berbarengan, terlihat mereka sedikit ragu. Namun rekan-rekan di bagian coding, yang tepat dibelakang mereka, terlihat menganggukan kepala. Salah seorang staff coding mendekat dan berbisik kearah Shinta. Terlihat Shinta sedikit berdebat dengannya namun akhirnya dia terlihat menerimanya.

Kulihat kearah bagian desain, kulihat sambutan positif disana. Begitu juga dengan Edy dan Frans, keduanya terlihat menganggukan kepalanya.

“Bagaimana?” tanyaku sambil melihat bagian coding.

“Selama tidak ada penambahan lagi dari Alfa Medika, saya rasa bisa,” jawab Shinta mewakili bagian coding. Kulihat kearah bagian desain dan mereka menganggukan kepalanya.

“Oke, kalau semuanya sudah siap, mulai besok kita akan bekerja keras untuk membuat software ini, dan hari ini…, ” kulihat kesekeliling dan pandangan tegang kembali terlihat “Hari ini LIBUR!” kataku sambil tersenyum yang disambut dengan sorakan gembira dari semuanya. Perlu beberapa waktu sampai suasana kembali hening.

“Oke, hari ini libur, tapi besok kita mulai bekerja seperti biasa dan ingat, job masih panjang, jadi besok saya harap semua sudah bisa bekerja dengan maksimal, detail job akan saya kirimkan nanti. Dan sekarang, mari kita makan siang, setelah itu acara bebas,” kataku yang disambut dengan sorakan gembira.

Aku menoleh kearah si-celana-dalam-putih yang terlihat bersemangat, sejenak pandangan kami bertemu.

Mata yang indah, namun terkadang berisi rahasia. Sejenak aku terbuai dengan pandangannya.

“Bos, ada acara nanti malam?” tanya Frans dari sampingku.

Aku menoleh kearahnya dan terlihat dia tersenyum memandangku.

“Tidak, kenapa Frans?” tanyaku balik.

“Ayo ke 666,” tawarnya “Ajak Mbak Lidya juga,” katanya sambil memandang si-celana-dalam-putih.

“Ayo, ikut ya Lid?” ajakku penuh harap.

“Ikut kemana nih?” sela si-centil Lisa dari sampingku. Dengan pandangan bertanya dia berdiri disamping si-celana-dalam-putih dan Shinta.

“Club,” kata Frans singkat sambil tersenyum.

“Ayo, sudah lama gak refreshing, iya kan mbak?” tanya si-centil sambil memandang penuh harap kearah si-celana-dalam-putih.

Lidya POV

Sejenak aku tergagap mendengar pertanyaan Lisa. Wajahnya yang penuh harap itu…

“Iya,” sahutku pelan.

“Asyik, kalau begitu kita barengan kesana ya? Mbak Shinta ikut juga kan?” tanya Lisa sambil melirik kearah Shinta dan Mas Frans. Terlihat Mas Frans tersenyum lebar dan Shinta menganggukan kepalanya. Kutarik Lisa menjauh dan berbisik ditelinganya.

“Lis, mbak gak punya baju ke club,” bisikku pelan ketelinga Lisa.

“Hihihi, tenang aja mbak, Lisa juga gak bawa, sekarang beli yuk?” katanya sambil tersenyum jahil. Lisa memanggil Shinta mendekat dan berbisik ditelinganya.

“Mbak Shinta, shopping yuk? Beli dress buat nanti malam,” ajak Lisa yang disambut dengan anggukan oleh Shinta.

“Sekarang?” tanya Shinta pelan.

“Ayo, gimana mbak?” tanya Lisa sambil menoleh kearahku. Kulihat kearah si-mata-keranjang dan terlihat ekpresi ingin tahu disana.

“Ayo,” jawabku, mungkin dengan shopping, bisa mengurangi tingkat stress dan bisa menghindari pertanyaan dari si-mata-keranjang.

Sambil tersenyum Lisa menghampiri si-mata-keranjang dan berbisik didekatnya. Kulihat si-mata-keranjang memandangku dengan pandangan mesum! Dasar mesum! Si-mata-keranjang terlihat berkata kepada Mas Frans dan kulihat Mas Frans memberikan sesuatu kepada Lisa.

“Ayo mbak-mbak, saatnya jalan-jalan,” kata Lisa sambil melangkah keluar kantin, diikuti pandangan si-mata-keranjang yang menatap kami dengan penuh arti.

Lisa melangkah dengan cepat menuju ke parkir dan bisa kulihat dia melangkah ke mobilnya si-mata-keranjang.

Jadi kunci yang tadi diberikan Mas Frans kepadanya.

Lima belas menit kemudian kami sudah sampai di sebuah mall yang cukup terkenal di ibukota ini. Dengan riang kami berjalan menyusuri satu persatu gerai pakaian yang ada. Disalah satu gerai kami memilih gaun yang akan kami gunakan nanti malam. Berbagai macam gaun terlihat tergantung dengan anggun. Dari strapless, one-shoulder, sweetheart, v-neck, scoop, halter dan masih banyak jenis yang lain. Walau berbeda jenis, ada persamaannya. Gaun-gaun itu pendek dan mahal!

Seorang penjaga stand pria membantu kami memilih pakaian, walau tepatnya bisa kukatakan dia lebih banyak memelototi dada Lisa yang sedikit terlihat karena dua kancing bagian atas kemejanya dibiarkan terbuka.

“Mbak, yang ini bagus buat mbak,” kata Lisa sambil menunjukkan sebuah gaun one-shoulder warna hitam yang terlihat pendek.

Sangat pendek…

“Hmmmm, rasanya kependekan Lis,” kataku sambil mengamatinya lebih dekat. Bahannya lembut dan berleher rendah.

Huffftttt…., kalau saja dadaku…

“Coba aja yu mbak,” kata Lisa sambil menarik tanganku menuju ruang ganti yang pintunya sedikit terbuka. Dan ternyata didalam sana Shinta sedang menurunkan roknya yang membuat pantatnya hanya tertutupi sebuah celana dalam warna merah.

“Sudah dapat Shin?” tanyaku dengan wajah sedikit memerah, mengingat hal terakhir yang kami lakukan dengan keadaan tanpa busana. Dan itu bukan hal yang tidak menyenangkan…

“Sudah mbak, dipilihin Lisa juga,” katanya sambil menoleh kearah Lisa yang juga sedang menurunkan roknya. Bagian pribadinya tertutup oleh sebuah g-string hitam yang kontras dengan warna kulitnya yang putih. Badan Lisa terlihat paling mungil dari kami semua, namun terasa begitu pas dengan kepribadiannya yang ceria.

“Eh, mbak buka dong bajunya,” tegur Lisa ketika aku masih mengenakan pakaian lengkap. Dengan sedikit segan aku membuka satu persatu kancing kemeja yang kugunakan. Setelah kemeja terlepas dari tubuhku, kini giliran rok hitamku yang meluncur kebawah. Hingga kini tubuhku hanya terbungkus daleman warna putih.

“Wah, pantes aja Mas Andri betah mandangin mbak, ini toh yang disembunyiin terus,” kata Lisa sambil mencubit pelan bulatan pantatku.

Dengan wajah memanas aku mencoba mengenakan gaun yang dipilihkan Lisa dan seperti dugaanku, gaun ini sangat pendek. Pantatku hampir kelihatan jika aku menunduk. Bukan hanya pantat, namun selangkanganku…

“Wah, Mas Andri pasti melotot nih melihat mbak kayak gini,” kata Shinta sambil memandangku dengan sorot mata kagum, yang membuatku semakin malu. Dan entah kenapa sedikit terangsang, bisa kurasakan vaginaku sedikit meremang…

“Iya nih mbak, dijamin jadi pusat perhatian deh, kalau saja aku yang punya nih pantat,” kata Lisa sambil mengelus pantatku dengan pelan, yang membuat bulu kudukku sedikit merinding dibuatnya. Apalagi ketika dengan berpura-pura merapikan gaunku dibagian depan, Shinta meremas-remas dadaku dengan jarinya.

Kutepis tangan Shinta dan dengan perlahan aku melepaskan gaun yang aku kenakan. Saat aku menyadari, ada dua betina yang memandangku dengan pandangan liar.

Ouwhhhhh….

Belum sempat aku berpikir untuk kabur ketika Shinta mencium bibirku dan meremas payudaraku dari balik bra yang aku kenakan. Sementara itu, bisa kurasakan tangan-tangan yang lain menurunkan celana dalam yang kupakai dan sebuah benda yang hangat dan basah mencium pelan belahan…

“Ughhhhh…..,” erangan pelanku tertutup oleh ciuman Shinta yang semakin ganas. Sementara ciuman Lisa sekarang berpindah ke klitorisku. Ouwhh…, jangan bagian itu, aku tak akan kuat..!

“Rileks aja mbak, penghilang stress…,” bisik Shinta sambil menciumi telingaku.
Ouwh, bukannya aku tidak mau, tapi ini kan… Birahiku naik dengan cepat, bisa kurasakan vaginaku semakin basah, entah karena ludah Lisa atau cairan vaginaku yang mulai keluar. Ouwh, rasanya sungguh aneh, antara rasa malu, nafsu dan perasaan takut ketahuan ini membuat puncak itu semakin cepat datang…

Tak sadar aku meremas kepala Lisa, merasakan nikmat dunia yang sedikit lagi aku dapatkan…

“Aaahhhhh, Lis…” erangku pelan ketika ciumannya semakin cepat didaerah sensitifku. Sedikit lagi…Sedikit lagi…

“Eh…, kok?” Tanyaku ragu ketika Lisa dan Shinta menghentikan ciuman mereka. Kupandangi mereka dengan pandangan mengharap, hilang sudah perasaan maluku, berganti dengan kebutuhan yang minta dipuaskan.

Sambil tersenyum Lisa berkata.

“Simpan buat nanti malam ya mbak…, hihihi,” katanya sambil menyeka vaginaku dengan celana dalamku lalu dia mengenakan pakaiannya kembali, begitu juga dengan Shinta.

Dengan nafas yang sedikit terengah aku merapikan braku dan mengenakan kemeja, ketika aku sadar, celana dalamku tidak ada! Dan ketika aku menoleh kedepan, Lisa dan Shinta sudah berdiri didepan pintu. Lisa memegang celana dalamku!

“Lisa, siniin, ” kataku sambil mengenakan rok. Belum habis rasanya kata-kataku ketika Lisa membuka pintu dan keluar. Meninggalkanku dengan rok yang belum terpasang dengan benar. Dengan tergesa aku merapikan rok dan rambutku yang sedikit berantakan, mukaku masih bersemu kemerahan ketika kuputuskan keluar. Rasanya sedikit aneh, ketika dinginnya AC terasa langsung dibagian bawah sana…

“Ayo mbak, sudah kubayar gaunnya,” kata Lisa sambil mengacungkan tas belanjaan. Kulihat sipenjaga stand memamandangku dengan sedikit aneh. Apa dia tahu yang kami lakukan didalam, pikirku jengah. Dengan linglung aku mengikuti Lisa dan Shinta keluar.

“Lis, kembaliin daleman mbak,” bisikku pelan ditelinga Lisa.

“Tu, minta sama penjaga disana mbak,” kata Lisa sambil menunjuk kearah gerai yang kami masuki tadi.Bisa kulihat penjaga tadi sedang memegang celana dalamku dan menciuminya. Dia tersenyum ketika aku memandang kearahnya!

Ouuuuwwhhhh tidakkkkk…

Dengan wajah yang panas aku mengikuti Lisa dan Shinta yang berjalan didepanku.

“Eh, kesana yuk?” kata Lisa sambil menunjuk salah satu toko yang terlihat menjual lingerie dan perlengkapan seks! Waduh…!

“Gak ah, ” jawabku sambil melangkahmenjauh.

“Eh, ke salon yuk, ada yang perlu diwaxing nih,” seru Shinta dibelakangku. Dan belum sempat aku membantah ketika dia dan Lisa menyeretku keluar, entah kemana dan mau apa lagi!

~ ~ ~ * * * ~ ~ ~​

“Eh Shin, apa itu?” tanya Lisa ketika dia melihat Shinta menuangkan cairan kedalam minuman Lidya. Mereka berdua sedang berada didalam mess, ketika itu Lidya sedang mengambil perlengkapan mandi dan pakain dari kamar Andri.

“Sssstttt….ini cuma obat pencahar,” kata Shinta sambil mengedipkan matanya.

Terlihat Lisa sedikit bingung, sebelum perlahan sinar pengertian terlihat dimatanya.

“Wah, biar Mbak Lidya siap ya?” kata Lisa dengan ekpresi mesum.”Ehhhmmmm, berarti kita juga harus minum dong?” lanjutnya sambil memainkan rambutnya dengan jari.

“Iya, tapi gantian, biar nanti gak berebut kekamar mandi,hihihi” jawab Shinta sambil mengaduk minuman Lidya.

“Tapi yakin Mbak Lidya mau dengan kita nanti? Jangan-jangan disikat Mas Andri?” tanya Lisa lagi.

Sejenak terlihat Shinta termenung sebelum tersenyum jahil.

“Kalau Mas Andri rebut Mbak Lidya, kita ikut juga, kalau tidak, kan masih ada Mas Frans,” sahut Shinta sambil menatap Lisa penuh arti. Yang ditatap sendiri tergagap sejenak sebelum balik tersenyum .Senyum mesum…

“Eh, lihat nanti saja mbak, aku juga punya hadiah buat Mbak Lidya,” sahut Lisa sambil memperlihatkan sesuatu di tasnya.

Dan Shinta pun tersenyum lebar melihat benda-benda yang ada di dalam tas Lisa!

~ ~ ~ * * * ~ ~ ~​

G-Team Mess
22.00

Andri POV

Tak sabar kulirik jam yang yang tergantung di dinding.

Akhirnya, jam 10 juga…, Pikirku dengan sedikit geli. Seperti anak SMA yang akan berangkat kencan pertama saja aku ini.

Dengan langkah lebar aku melangkah keluar dan menuju ke lantai dua, kekamar si-celana-dalam-putih. Yang entah kenapa tidak mau berganti pakain dikamar kami. Rasa hangat terasa ketika aku memikirkan kata kamar kami.

Ah biarlah mengalir seperti air saja…

Kutekan tombol lift dan masuk kedalam. Didalam aku menebak-nebak, pakaian apa yang dibeli si-celana-dalam-putih and the gank???

Keluar dari lift dengan tak sabar aku menuju ke pintu masuk dan mengetuknya.

Tok…tok…tok…

“Sebentar…”

Suara Lisa terdengar dari balik pintu. Perlahan, suara kakinya sedikit terdengar dan akhirnya…

Degggg…..

Nafasku terasa sedikit berhenti ketika melihat gaun yang dipakainya.

strapless-high-low-nightclub-dress-with-peplum.jpg

Dengan menggunakan gaun strapless, tubuhnya yang mungil terlihat sedikit lebih tinggi. Gaun hitam yang membungkus payudaraya yang mungil dan dibagian bawah, berpotongan oval kedepan sehingga pahanya yang mulus terlihat jelas. Tak terasa aku menelan ludah melihat penampilannya yang begitu berbeda dari biasanya.

“Hihihi, kenapa mas? Seksi ya?” kata Lisa blak-blakan.

“Iya nih, biasanya gak kelihatan, sekarang kelihatan tuh,” kataku sambil melirik pahanya yang terbuka.

“Ih, ini belum seberapa mas, mau yang lebih hot?” tantangnya sambil menaikkan kakinya sedikit, sehingga otomatis pahanya lebih terbuka.

Putih, mulus dan terawat…Entah bagaimana rasanya jika aku bisa membelainya, pikirku dengan berjuta fantasi yang mulai muncul. Dan belum selesai aku berfantasi ria ketika Shinta muncul dengan gaun leopard print yang juga memperlihatkan paha empunya. Dan bukan itu saja, bagian belakangnya berbentuk V yang cukup rendah, sehingga bra warna hitamnya terlihat jelas, begitu kontras dengan kulit punggungnya.

sexy-leopard-print-nightclub-dress-with-deep-v-back.jpg

Aduuuuuhhhhh…. Andri junior sedikit berontak disarangnya…

“Eh, Mas Andri, masuk dulu mas,” tawarnya sambil menunduk, membetulkan highheels yang dikenakannya sehingga belahan dadanya terbuka! Kulihat Lisa memandang kearah selangkanganku yang untungnya tidak terlalu terlihat mengembung.

“Eh, Lidya ada?” tanyaku mengalihkan fokus pandanganku pada belahan dada yang begitu menggoda, hanya untuk melihat paha yang begitu dekat.

Paha Lisa…!

“Siapa Lis?” suara pelan Lidya terdengar dari belakang Lisa. Dan ketika aku mengalihkan pandangan dari paha Lisa untuk mendapatkan kejutan lainnya.

Kalau tadi aku bisa berpura-pura tidak begitu terpukau dengan gaun yang dikenakan Lisa dan Shinta, semua itu tak berlaku ketika aku melihat si-celana-dalam-putih.

Dia yang mengenakan one-shoulder-sheath-nightclub-dress yang memperlihatkan pundaknya yang putih. Namun bukan itu saja, kalau selama ini aku hanya biasa melihatnya tanpa make up, kali ini wajahnya dihiasi dengan make up minimalis yang menonjolkan bentuk matanya. Bibirnya yang tipis dan merah semakin merah dengan pulasan lipstik tipis. Rambutnya terlihat sedikit bergelombang, entah apa nama mode yang digunakannnya.

Yang jelas dia terlihat berbeda dan aku suka…

Kejutan itu tak berhenti sampai disana. Ketika dia berhadapan denganku, bisa kulihat dua buah titik kecil yang menonjol dari balik gaunnya yang cukup ketat.

Itu artinya…

Gleekkkkk…. Tak terasa aku menelan ludah menyadari si-celana-dalam-putih sekarang tidak mengenakan bra!

one-shoulder-sheath-nightclub-dress-with-soft-ruched-design.jpg

Dan kejutan terakhir, gaun itu pendek, sangat pendek dan ketat. Lekukan tubuh bagian belakangnya terlihat begitu indah, dari pinggang yang ramping, turun kepinggul yang bulat dan terakhir. Pantatnya terlihat menonjol kebelakang dan bulat. Sangat bulat…

Tapi tunggu dulu! Tidak terlihat garis celana dalam disana! Apa dia go commando? Ah, mungkin dia menggunakan celana dalam yang tipis sehingga nyaris tidak kelihatan. Dan sel abu-abu diotakku mulai membayangkan, apa yang ada dibalik gaun tipis itu…

Tapi jika dia benar-benar…

Bisa kurasakan Andri junior mulai bangun dari tidurnya dan sialnya, si-celana-dalam-putih kulihat memandang tonjolan dicelanaku. Dan mata kami bertemu ketika dia mengangkat wajahnya.

Entah wajah siapa sekarang yang lebih merah, wajahku atau wajahnya.

Sementara itu Lisa dan Shinta terlihat berbisik-bisik dan memandang bergantian antara aku dan si-celana-dalam-putih. Senyum muncul diwajah mereka, apalagi ketika mereka melihat tonjolan dicelanaku.

“Sudah siap berangkat?” Tanyaku mengalihkan perhatian.

“Eh, mas,” terlihat si-celana-dalam-putih ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak jadi. Ekpresi yang sulit kuduga kembali terlihat diwajahnya.

“Ayo mas, Mbak Lidya cuma sedikit belum terbiasa dengan gaun yang digunakannya” kata Lisa sambil menarik tangan Lidya dan berjalan didepan kami sementara Shinta mengunci pintu.

Kalau dari depan si-celana-dalam-putih terlihat menggoda, dari belakang dia semakin sempurna. Pantat itu! Masih teringat bagaimana empuknya ketika tanganku ini meremasnya. Ketika…

“Mas, ayo, jangan bengong saja,” kata Shinta. Bisa kulihat senyumnya mengembang melihat kelakuanku. Dengan sedikit malu aku mengikutinya kelantai satu dimana Frans sudah menunggu.

Dan seperti yang aku duga, ekpresi Frans sama sepertiku. Mungkin lebih parah, hanya bedanya fokusnya pada si-centil, Lisa.

“Ayo, sudah waktunya,” kataku sambil tersenyum kearah Frans. Dengan muka yang masih shock, Frans mengikuti kami keparkiran. Sebelum tiba diparkiran dia menarikku sedikit kebelakang dan berbisik.

“Boss, ini,” katanya sambil memberikan kunci mobilku. Kulihat dia dengan pandangan bingung. “Aku pinjam mobil Edy, biar boss sama Mbak Lidya saja nanti,” lanjutnya sambil mengedipkan matanya.

Sampai di parkir, Shinta dan Lisa mengikuti Frans menuju mobil Edy, sementara si-celana-dalam-putih terlihat sedikit bingung melihat Lisa dan Shinta mengikuti Frans.

“Sini Lid,” kataku sambil membukakan pintu mobilku.

Kulihat dia sedikit enggan untuk duduk didepan bersamaku dan ketika aku duduk dibelakang kemudi, baru aku tahu apa alasannya.

Ketika dia berdiri, gaun yang dikenakannya hanya beberapa senti dibawah bulatan pantatnya. Ketika dia duduk, gaunnya tertarik keatas beberapa senti dan itu membuatnya kelabakan menutupi pahanya yang putih dengan tangan.

Sepanjang perjalanan kami hanya diam, aku sibuk menebak nebak apa yang ada dibalik gaun itu dan sibuk melihat paha mulus yang mengintip dari jari-jari si-celana-dalam-putih. Sedangkan dia sibuk menutupi pahanya dengan tangan.

Bisa kudengar tarikan nafas lega ketika kami sampai ditempat tujuan. Kulihat Frans menggenggam tangan Lisa, sedangkan Shinta terlihat mengikuti dibelakang mereka. Kubantu si-celana-dalam-putih turun dari mobil dan sambil menggenggam tangannya kami menuju kedalam club.

Hingar bingar suara musik menyambut kedatangan kami, namun bukan itu yang menggangguku. Tatapan kelaparan dari pengunjung lelaki yang memandang kearah si-celana-dalam-putih yang terlihat begitu menawan malam inilah yang mebuatku mengertakkan gigi dan menggenggam erat tanganya sepanjang perjalanan menuju salah satu meja dipojok ruangan.

Meja ini masih terlihat kosong, hanya rombongan kami saja yang duduk disana. Dan seperti tadi, si-celana-dalam-putih terlihat bingung ketika hendak duduk. Aku duduk disebelahnya sementara Frans diapit Lisa dan Shinta. Suasana sedikit temaram di pojok ini dan itu rasanya sedikit membuat si-celana-dalam-putih tidak terlalu sibuk menutupi pahanya.

“Boss, mau pesan minuman?” tanya Frans. Tepatnya teriaknya.

“Kau saja yang pesan, ” kataku sambil memandang kesekeliling. Musik masih menghentak dengan keras sehingga suasana cukup meriah. Banyak pasangan yang asik melantai. Kulihat Frans memesan minuman pada salah satu waitress yang mendekati meja kami. Tak lama kemudian waitress itu kembali dengan membawa minuman dalam gelas dan sebotol minuman pesanan Frans.

“Boss, ini buat boss, seperti biasa, sedangkan Mbak Lidya, coba minum ini, biar lebih rileks,” kata Frans sambil memberikan minuman kepadaku dan si-celana-dalam-putih. Terlihat keraguan terpancar dari si-celana-dalam-putih ketika dia menerima minuman yang disodorkan Frans.

“Coba sedikit dulu Lid, rasakan dulu, kalau terlalu keras, nanti mas cariin soda saja,” kataku ditelinganya. Dan lagi, aku mendapatkan kejutan lainnya hari ini. Harum parfum yang baru pertama kali aku cium ditelinganya membuatku terangsang. Entah apa saja yang sudah dilakukannya tadi siang bersama Lisa dan Shinta. Tapi apapun itu, harus kuakui itu membuatku terkejut hari ini.

Kulihat tatapan keraguan dimatanya. Kuanggukan kepalaku dan tersenyum padanya.Rasa hangat kembali kurasakan didadaku.Mungkin, sudah saatnya…

Lidya POV

Addduuhhhhhhh…

Aku belum pernah minum yang seperti ini sebelumnya, dan baunya, uffftttt, menyengat!

Pandangan si-mata-keranjang yang tenang dan terlihat hangat memberi sedikit keberanian, apalagi, ketika kulihat Lisa dan Shinta bisa meminum minuman yang sama dengan mudah.

Masa aku nggak bisa?

Dengan menarik nafas aku mencoba meminum minuman yang diberikan Mas Frans.

“Uhukk..uhukkkk…,”

“Pelan-pelan Lid,” kata si-mata-keranjang sambil mengurut pelan punggungku yang terbuka. Dan sensasi rasa panas ditenggorokanku dan elusan tangannya membuatku wajahku memanas. “Mau mas pesenin soda aja?” tanyanya dengan wajah yang khawatir. Dan sesuatu yang telah lama hilang itu perlahan terasa hangat dan bersemi kembali…

“Gak usah mas, bisa kok,” kataku sambil menyesap kembali minumanku dan rasa panas kembali mengalir ditenggorokanku.

“Yeee, Mbak Lidya bisa juga minum…,” kata Lisa sambil tersenyum.

Aduhhhh… kok panas gini ya?

Kulihat si-mata-keranjang meneguk minumannya dan tidak seperti aku, dia melakukannya dalam sekali tegukan.

Hmmmmm, sudah biasa…Pikirku sambil melihat Lisa dan Shinta yang juga sedang menyesap minuman masing-masing. Waitress yang tadi datang kembali dengan membawa minuman yang sama.

Aduh, minum lagi???

Satu jam lebih kami habiskan untuk ngobrol dan minum saja. Kepalaku sudah terasa pusing padahal baru gelas ketiga yang bisa kuhabiskan. Si-mata-keranjang memijit tengkukku dengan pelan dan rasa pusing serta mual sedikit berkurang. Mas Frans, Lisa dan Shinta sudah turun dan terlihat mereka menikmati dentuman musik sambil meliukkan tubuh mereka. Tak kusangka Shinta yang terlihat alim ternyata bisa bergoyang dengan liarnya. Dan entah sudah yang kebeberapa kali dia berganti pasangan ketika musik berubah menjadi pelan.

“Lid, ayo!” kata si-mata-keranjang sambil menarik pelan tanganku. Dengan kepala yang sedikit pusing dan rasa ragu aku turun kelantai. Bisa kulihat senyum Lisa dan Mas Frans ketika kami masuk kelantai dansa.

Aduh, harusnya aku gak mau saja, gimana nih caranya?

Pikirku kalut ketika si-mata-keranjang memegang tangan kananku sedangkan tangan kanannya memeluk pinggangku dengan erat. Wajahnya perlahan mendekat dan berbisik ditelingaku. “Rileks aja Lid, ikuti saja aku,” katanya sambil melangkah pelan.

Tubuh kami menempel begitu erat, bisa kurasakan dadanya yang bidang menggesek dadaku yang hanya tertutup oleh gaun saja. Dua buah putingku yang sensitif mengeras seiring gesekan antara dada kami. Musik terus mengalun dengan pelan seiring dengan gerakan dansa kami.

Tiba-tiba kurasakan bulu kudukku merinding ketika nafasnya mengelus pelan telingaku. Sebelum satu bisikan terdengar ditelingaku. “Lid, mau jadi pacarku?” katanya dengan suara bergetar.

Ouwhh…jadi begini rasanya mabuk. Apa yang kita hayalkan bisa terdengar nyata. Eh, aku..Pasti mabuk. Aku pasti mabuk.

Tak kujawab pertanyaannya. Yang rasanya hanya hayalanku saja…

“Gimana Lid?”

Kudengar lagi suaranya. Kugelengkan kepalaku. Sedikit rasa pusing menyerangku. Kulihat keatas dan kulihat mata si-mata-keranjang memandangku dengan mesra.

Dengan mesra?

“Eh, aku mabuk ya mas?” tanyaku ragu. Seragu aku mendengar pertanyaannya. Bisa kurasakan dia berhenti berdansa dan kembali mengulangi pertanyaannya.

“Lidya, kamu mau jadi pacarku?”

Kali ini pertanyaan itu terdengar jelas ditelingaku. Sejenak perasaan bahagia mengembang didadaku. Namun itu semua tersapu ingatan masa laluku yang kelabu. Perlahan air mata bisa kurasakan mengalir dipipiku…

Aku tak pantas untuk orang sepertimu mas, aku tak pantas, tak pantas…

Si-mata-keranjang terlihat terkejut dan terpaku ditempatnya berdiri. Kulepaskan pelukannya dan berjalan dengan terhuyung menuju kemeja tempat kami tadi. Kulihat masih ada sisa di botol minuman yang dipesan Mas Frans, kuambil gelas dan menuangkan isinya kedalam gelas. Dengan sekali tegukan kuhabiskan minuman itu dan rasa panas yang membakar mengalir ditenggorokanku.

Rasa pusing dan panas melanda tubuhku, pikiranku rasanya lebih plong dari tadi. Kutarik nafas panjang dan berusaha mengambil keputusan ketika kulihat dia berdiri didepanku dan kemudian duduk disampingku.

Perasaanku campur aduk sekarang, bingung entah menjawab pertanyaannya atau tidak. Kutuang kembali minuman Mas Frans kedalam gelas dan hendak meminumnya ketika tangan si-mata-keranjang memegang tanganku.

Dengan marah kulihat kearahnya, namun, yang terlihat pandangan malah pandangan khawatir disana.

“Segelas lagi mas,” kataku sambil berusaha meminum minuman yang tak jauh dari mulutku.

“Lidya, kamu kenapa?!” tanyanya. Bisa kudengar lagi nada marah dan khawatir dari suaranya. Tangannye merebut gelas dari tanganku dan meletakkannya di meja.

“Tidak apa-apa mas, tidak apa-apa,” sahutku sambil memalingkan wajahku, tak ingin dia melihat air mata yang masih mengalir di wajahku. Kurasakan tangannya menarik tubuhku mendekat, sedikit memaksa dan memelukku dengan erat.

“Mas,” kataku lirih yang dijawab dengan pelukan yang semakin erat dan sebuah bisikan.

“Biarkan mengalir Lid,” bisiknya dengan pelan sambil melonggarkan pelukan dan mencium keningku dengan pelan.

Entah karena pengaruh alkohol dalam darahku atau perasaan senang atas pengakuan dan sikapnya. Kurasakan dadaku mengembang dan tubuhku ringan, seperti terbang, melayang.

Kulepaskan pelukannya dan mengambil gelas minuman dari meja. Kulihat pandangan khawatir darinya namun kujawab dengan senyuman sebelum meminumnya. Rasa panas yang membakar yang mulai familiar terasa ditenggorokanku. Dan sebuah keputusan akhirnya bisa kuambil. Mungkin ini salah, tapi aku tidak bisa menahannya lagi.

The truth is in the bottle. Akhirnya aku mengerti maknanya.

Kugeser tubuhku mendekat kearahnya dan merengkuh kepalanya sebelum bibir kami bertemu dalam sebuah ciuman yang panas.
Sejenak kurasakan dia diam sebelum tangan kirinya meraih kebelakang punggung dan manarik tubuhku merapat sebelum tangan kanannya meremas pelan pantatku.

Tubuhku terasa panas dan dan detak jantungku serasa lebih cepat seiring dengan ciuman kami yang semakin panas dan basah. Perlahan lidah kami bertemu dan saling membelit dengan liarnya.

“Uhhhhhh….,”suara lenguhan pelan keluar dari mulutku ketika tangan kirinya dengan nakal meremas pelan payudaraku dari balik gaun yang aku kenakan.

Tak sadar tanganku berpindah kekepalanya dan meremas rambutnya dengan gemas. Ciuman kami terlepas ketika tangannya menelusuri pahaku yang telanjang dan merayap keatas.

“Mas…, jangan disini…,” kataku. Yang segera dijawabnya dengan ciuman yang panas dan remasan di dadaku. Bisa kurasakan tangannya berusaha menyelinap kebalik gaun yang kupakai dan…

“Ehemmmm…, sebaiknya kalian segera mencari kamar atau akan ada tontonan panas disini,” sebuah suara mengagetkan aku yang segera menjauh dari si-mata-keranjang. Sedangkan si-mata-keranjang sendiri dengan malas berbalik dan melihat kearah Mas Frans serta Lisa dan Shinta yang memandang kami dengan seyum lebar. Dengan malu kurapikan gaunku yang berantakan.

“Ah, kalian mengganggu saja,” kata si-mata-keranjang sambil menuang minuman dan menenggaknya dengan sekali tegukan. Kulihat sambil berbisik-bisik Lisa dan Shinta duduk mengapit Mas Frans.

“Bagaimana kalau kita main games?” kata Sinta sambil mengedip kearahku. Aku memandangnya dengan heran sementara tubuhku masih terasa panas dan dengan malu aku baru menyadari kalau si-mata-keranjang masih memegang pahaku!

“Games apa?” tanya si-mata-keranjang sambil memandangku dengan lembut. Namun tangannya masih dengan jahilnya tak mau dilepaskan dari pahaku. Sekarang malah mengelusnya dengan pelan. Kulihat Lisa mengedipkan matanya kearahku dan mengelus pahanya sambil memasang wajah yang merangsang.

“Truth or Dare!” kata Shinta dengan senyum misterius diwajahnya.

Apa lagi yang direncanakannya?

“Sebaiknya kita menuju ruang VIP saja, bagaimana?” kata Mas Frans sambil memandangku dan si-mata-keranjang.

Apa perasaanku saja atau memang ada sesuatu yang lain dimatanya…

“Boleh,” jawab si-mata-keranjang sambil memanggil seorang waitress dan menanyakan jika ada ruang VIP yang kosong.

“Wah, full mas, tapi…,” kata si waitress dengan ragu.

“Tapi apa?” kataku cepat. Tak bisa mengontrol pertanyaan itu yang meluncur begitu saja dari mulutku.

“Ada satu ruang VIP yang isinya cuma seorang wanita saja, mungkin kalau mau gabung dengannya, bisa saya tanyakan,” jawabnya.

“Boleh mbak,” jawab Mas Frans sambil tersenyum lebar. Dasar lelaki, kalau nambah ceweknya pasti tambah senang saja!

Beberapa menit kemudian si waitress kembali dan sambil tersenyum dia menginformasikan kalau wanita itu mau bergabung dengan kami. Sambil tersenyum lebar kami semua melangkah mengikuti si waitress menuju ruangan VIP yang terletak dibagian belakang klub.

Cukup terpisah dengan tempat kami tadi. Bisa kudengar bisik-bisik dari Lisa dan Shinta yang berjalan dibelakang aku dan si-mata-keranjang ketika melihat si-mata-keranjang berjalan sambil memluk pinggangku dengan mesra.

“Disini mas,” tunjuk si waitress sambil menunjuk kearah sebuah pintu ruangan. Ruang VIP.

“Thanks ya mbak,” kata Shinta sambil memberikan tips kepada waitress itu.

Mas Frans membuka pintu dan cahaya lampu yang temaram menyambut kami. Ruangan ini cukup besar, mungkin sekitar 4×6 m. Di dinding sebuah televisi layar lebar terpasang lengkap dengan peralatan karaoke didekatnya. Tiga buah sofa lebar mengelilingi sebuah meja ditengahnya. Dan diujung sebuah sofa duduk seorang wanita sambil menyilangkan kakinya yang ramping.

Eh, dia kan…

Mbak Raisa!

Kulihat ekpresi terkejut diwajahnya, namun itu hanya sebentar sebelum dia berdiri dan merapikan gaunnya. Sebuah gaun ungu yang hampir sependek gaunku namun dengan belahan V yang rendah didepan sehingga sebagian payudaranya terlihat. Mungkin, jika dia sedikit salah bergerak, maka putingnya pun akan terlihat.

​Dengan anting-anting bulat dan gelang ditangan, serta lipstik merah muda membuat penampilannya terlihat semakin muda. Kulihat ekpresi kagum dimata Mas Frans dan bahkan di mata Shinta dan Lisa. Namun, si-mata-keranjang hanya tersenyum simpul saja. Ekspresinya sulit kutebak.

“Wah, kebetulan nih, Mbak Lidya beda banget, sampe Is gak bisa kenalin,” katanya sambil memandang gaunku yang semoga saja tidak terlihat basah dibagian pribadiku.

“Bisa aja Is,” kataku sambil tersenyum.”Oh iya, kenalin, Lisa dan Shinta,” kataku sambil mengenalkan Shinta dan Lisa kepada Raisa. Kulihat Shinta tersenyum kearah Lisa, senyum yang mencurigakan. Dan baru kusadar, kalau Shinta membawa tas yang lumayan besar dan terlihat berat, entah apa isinya…

“Ayo mari kita mulai!” kata Mas Frans yang tak sabar sambil meletakkan sebuah botol kosong di tengah meja.

“Mulai apa?” tanya Raisa dengan bingung.

“Games truth or dare Mbak Raisa, mau ikut?” tanya Shinta sambil tersenyum.

“Boleh,” kata Raisa sambil berjalan menuju sofa. Dari belakang, punggungnya terlihat begitu putih karena gaunnya terbuka sampai sedikit diatas pantatnya. Tali-tali kecil menjuntai dari punggung, sedikit menutupi kemulusan punggungnya. Apa dia….

Namun tidak sepertiku, Raisa tidak terlihat malu ketika duduk walaupun gaunnya sama pendeknya denganku. Bahkan dengan anggunnya kakinya disilangkan dengan pelan sehingga sesaat aku bisa melihat warna hitam samar diujung sana…

Aku duduk disebelah si-mata-keranjang yang sudah melangkah duluan. Sementara Raisa duduk disebelah Shinta. Sedangkan Lisa disebelah Mas Frans. Kami duduk melingkari meja yang terlihat kosong ditengah kami.

“Kita tentuin yang mutar botol pertama pakai hompipa ya?” tanya Mas Frans yang disetujui semuanya.

“Hompimpa alaium gambreng,”

Enam tangan yang berbeda mengacung kedepan. Namun cuma satu yang menghadap keatas. Tangan Mas Frans.

“Yups, aku yang mutar pertama!” seru Mas Frans dengan tersenyum lebar dan hendak memutar botolnya.

“Tunggu dulu Frans, gimana nih rulenya?” tanya si-mata-keranjang memastikan.

Habis dia berkata seperti itu, terdengar ketukan dipintu dan waitress yang tadi masuk sambil membawa tiga botol minuman dan gelas. Mas Frans terlihat memberi isyarat agar meletakkan minumannya di ujung meja. Sambil mengantar waitress itu keluar kulihat Mas Frans berbisik sesuatu kepada waitress itu sambil menyelipkan tips ke belahan dadanya. Si waitress terlihat memberikan beberapa kertas kecil ketangan Mas Frans. Mas Frans melihat-lihat kertas yang ada ditangannya dan tersenyum sendiri sebelum mengunci pintu dan kembali ke samping Lisa.

“Oke, aturan mainnya begini, siapa yang dapet giliran muter botol, bisa ngajuin truth or dare ke pihak siapa mulut botol mengarah setelah selesai diputer. Bila pihak yang ditantang tidak bisa melakukan truth or dare, hukumannya minum segelas minuman itu!” kata Mas Frans sambil menunjuk kearah minuman ayng tadi diletakkan waitress.

“Dan bila tiga kali tidak bisa memenuhi tantangan, maka akan dihukum sesuai dengan ada yang dikertas ini,” Katanya sambil menujuk kertas yang ada ditanganya”, “dan tidak boleh menolak. Yang terakhir, yang ditantang berhak memutar botol, walaupun tidak bisa memenuhi truth or darenya” kata Mas Frans sambil tersenyum lebar.

Waduuhhhhhh….. bakalan ‘panas’ nih…

“Oke, ayo mulai!” kata Mas Frans sambil memutar botol. Semua pandangan tertuju ke arah botol yang berputar dengan kencang sebelum melambat. Suasana menjadi hening, hanya suara botol yang berputar yang terdengar sekarang.

Tak…

Botol berhenti berputar dan mulutnya mengarah ke arah Raisa!

Sambil tersenyum lebar Mas Frans berkata kepada Raisa.

“Truth or dare?” tanyanya.

Terlihat Raisa berpikir sejenak sejenak sebelum berkata ringan “Kamu pake daleman warna apa Raisa?” kata Mas Frans sambil tersenyum mesum.

Dasar cowok!

Kulihat Lisa mendelik kearah Mas Frans yang hanya dijawab dengan mengankat dua jarinya yang berbentuk huruf V.

Sekarang semua mata memandang kearah Raisa yang terlihat tenang saja. Sambil tersenyum dia memandang kearah Mas Frans.

“Sayangnya aku gak pake daleman hari ini mas, jadi aku gak bisa jawab deh,” jawab Raisa pelan. Bisa kulihat ekpresi terkejut dari Mas Frans dan yang lain. Kecuali si-mata-keranjang. Apa dia sudah tahu kalau Raisa tidak pake daleman hari ini? Pikirku penasaran.

“Jadi giliranku sekarang ya?” kata Raisa sambil memutar botol. Kembali suasana hening menyelimuti kami sebelum akhirnya mulut botol itu berhenti didepan Lisa!

“Yah aku yang kena!” kata Lisa sambil menatap Raisa.

“Truth or Dare?” tanya Raisa.

Lisa berpikir sejenak sebelum memutuskan. “Dare!” katanya mantap.

Kulihat senyum Raisa sebelum dia berkata pelan. “Hmmmmm, kasi lap dance ke Mas Frans selama lima menit.”

“Yah, Mbak Raisa! Masa lap dance si, kan keenakan tu Mas Frans,” renggut Lisa. Namun kutahu itu hanya pura-pura saja. Mas Frans sendiri tersenyum sangat lebar, tentu saja, yang enak kan dia.

“Ayo, dance…dance…,” seru si-mata-keranjang dan Shinta. Rasanya mereka kompak sekali kalau urusan begini! Terlihat si-mata-keranjang menuju ke televisi dan sesaat kemudia alunan house musik terdengar.

“Ya, mulai,” kata si-mata-keranjang sambil menyalakan stopwatch di handphonenya.

Dengan wajah yang memerah namun dengan pandangan menggoda, Lisa berdiri dan mendorong tubuh Mas Frans ke belekang. Dengan gaya yang sensual dia naik keatas sofa dan tangannya menyingkapkan gaunnya keatas. Paha putih dan mulusnya terpampang semakin banyak, paha yang kontras dengan gaun hitamnya. Sungguh menggoda.

Perlahan Lisa meliukkan badannya seiring dengan musik yang mengalun. Garis celana dalamnya terlihat jelas ketika pantat itu menungging indahnya kebelakang. Bisa kulihat si-mata-keranjang menelan ludahnya. Hmmm, dia terangsang juga!

“Tidak boleh megang-megang!” kudengar Raisa berkata ketika Mas Frans tak tahan dan meraba pantat Lisa.

“Yah Raisa!” protes Mas Frans. Namun tak lama, karena sekarang dengan bagian depan tubuhnya, Lisa memberikan pijatan ke mukanya dengan payudaranya. Sayang terhalang gaunnya….. Goyangan Lisa semakin lama semakin cepat dan dekat dengan Mas Frans. Bahkan sekarang, Lisa membuat gerakan menaikturunkan tubuhnya diatas pangkuan Mas Frans. Tangan Mas Frans dengan pasrahnya bergerak disamping badan Lisa, kadang terbuka dan tertutup. Terlihat sekali kalau dia sangat terpengaruh dengan tarian Lisa.

“Sudah lima menit, ” kata si-mata-keranjang dengan suara sedikit serak.

Seperti saat naik tadi, saat turunpun Lisa membuat gerakan yang sangat sensual. Dan tak heran, kalau sekarang gundukan dicelana Mas Frans semakin mengacung kedepan. Shinta melangkah kearah televisi dan mematikan musik yang mengalun.

“Oke, sekarang giliranku,” kata Lisa ketika musik sudah berhenti dengan wajah yang sedikit memerah. Antara terangsang atau kelelahan, sulit kubedakan.

Lisa kemudian memutar botol dengan kencang. Senyum liciknya bertolak belakang dengan raut muka tegang dari peserta yang lain.

Tak…

Huftttt… kutarik nafas panjang ketika ujung botol mengarah tepat kearah si-mata-keranjang. Kulihat si-mata-keranjang yang kebetulan juga melihat kearahku.

Andri POV

“Truth…,” kataku cepat tanpa ditanya.

“Hmmmmmm…., boleh nanya tentang itu kan,hihihi..,” kata Lisa sambil tertawa.

“Tentang apa?” kudengar pertanyaan dari si-celana-dalam-putih. Aneh. Tidak biasanya dia blak-blakan seperti ini. Pengaruh alkoholkah?

“Hmmmm, masalah pribadi si, berarti boleh ya. Gini, posisi apa yang mas paling suka kalau lagi ML?” tanya Lisa sambil tersenyum jahil. Kulihat si-celana-dalam-putih tersipu malu mendengar pertanyaan Lisa. Sedangkan yang lain hanya tersenyum saja.

“Spooning dan doggy style…,” jawabku spontan.

“Wah, morning sex nih, ” celetuk Shinta. Yang disambut dengan gelak tawa yang lain, kecuali si-celana-dalam-putih yang terlihat bingung. Dan melihat pandangan bingung darinya, Frans langsung nyeletuk. “Kayaknya ada yang bingung neh, perlu praktek rasanya,hahaha…,” tawa Frans yang disambut tawa semuanya. Suasana menjadi cair karenanya.

“Oke. My turn,” kataku sambil memutar pelan botol itu. Semua bersorak ketika ujungnya mengarah ke si-celana-dalam-putih.

“Truth or dare?” tanyaku sambil menatap tajam kearahnya.

“Truth!” katanya cepat.

“Apa jawaban pertanyaanku yang tadi?” tanyaku tanpa pikir panjang. Damn! Seharusnya bukan itu, namun sudah terlambat!. Semua sekarang memandang kearahnya. Suasana menjadi hening.

Si-celana-dalam-putih terlihat bingung sejenak dan perlahan berdiri serta mengambil botol minuman lalu menungkannya kedalam gelas. Dengan cepat dia meminumnya.

“Wah, gak seru nih Mbak Lidya, padahal udah ngebet tuh Mas Andri mendengar jawabannya,” kata Raisa yang membuatku hanya bisa tersenyum getir. Tanpa menjawab sindiran Raisa dan menghindari tatapan mataku, si-celana-dalam-putih memutar botol yang ada ditangannya.

“Ah, kena juga! Dare!” seru Frans ketika ujung botol mengarah kedirinya.

Si-celana-dalam-putih terlihat tersenyum simpul. “Cium Lisa dibibir, deep kiss, selama lima menit!” serunya yang membuatku ternganga tak percaya. Bahkan Franspun sampai memandangnya dengan tak berkedip. “Ayo Mas,” pinta si-celana-dalam-putih dengan bersemangat.

“Ayo Frans,” seruku sambil bertepuk tangan.

“Ayo mas,” seru Raisa tak kalah bersemangat.

“Wah, Mas Frans keenakan dung kalo gini,” protes Lisa, namun bisa kurasakan itu tidak serius.

“Oke, start!” kataku sambil menstart stopwatch di hpku.

Dengan semangat 45 Frans menghadap kearah Lisa dan dengan raut wajah yang serius dia mendekati Lisa. Perlahan dia menurunkan wajahnya mendekati wajah Lisa yang merah padam. Hmmmm, beruntung kau Frans, pikirku sedikit iri ketika akhirnya bibir mereka bertemu.

Terlihat tubuh Lisa sedikit tersentak ketika dengan nakal tangan kanan Frans meraba kebawah, kearah pantat Lisa yang sekal. Sedangkan tangan yang lainnya meremas pelan payudara Lisa dari balik gaunnya.

“Ugghhh…,” suara lenguhan pelan keluar dari mulut Lisa ketika tangan nakal Frans meremas dadanya dengan sedikit keras. Tangan Lisa perlahan turun kebawah, mencari sesuatu yang tegang dibawah sana.

“HHhhhmmm…, ” bisa kudengar suara teredam Frans ketika dengan nakal Lisa mengelus penisnya dari luar celananya. Ciuman mereka semakin panas, tangan Frans sekarang mencoba menurunkan gaun Lisa sehingga dia bisa menyentuh payudara Lia. Namun tampaknya Lisa masih sedikit malu, tangannya yang mengelus penis Frans memegang tangan Frans.

“Sudah lima menit…,” suara si-celana-dalam-putih sedikit bergetar. Kulihat kearahnya dan wajahnya terlihat merona merah.

Dilatari suara nafas yang memburu, Frans dan lisa dengan malas memisahkan diri. Bisa kurasakan aroma persetubuhan semakin menguat diruangan ini. Tonjolan di celana Frans semakin mengembung saja. Dan itu wajar, karena bisa kurasakan penisku sendiri mulai mengeras.

“Oke, sudah siap jadi yang berikutnya?” tanya Frans kesekeliling ruangan sebelum memutar botol.

Tak…

Mulut botol berhenti kearah Raisa! Lagi!

“Aduh, aku salah apa ya sama Mas Frans, kok aku terus yang kena?” kata Raisa sambil berpura-pura takut kepada Frans. Tease yang menggoda…

“Pilih truth apa dare?” tanya Frans tak sabar.

“Ehhhmmmm,” gumam Raisa sambil memainkan rambutnya serta menggigit bibir bawahnya. So sexy!. “Dare,” sahut Raisa, yang disambut senyum mesum Frans.

“Sekarang, kamu coba berperan sebagai istri Andri, yang sedang horny, kamu rayu Andri agar mau ML sama kamu,” kata Frans tenang.Gila!.

Semua pandangan sekarang terfokus pada Raisa. Terlihat dia berpikir sebentar sebelum bangkit dari sofa dan menuju kearah meja. Pandangan terkejut kulihat dari wajah yang lain menyaksikan Raisa. Apa dia akan memenuhi tantangan Frans?

“Bisa dimulai Mas Frans?” toleh Raisa kearah Frans. Dengan sedikit terkejut Frans menganggukan kepalanya.

Dengan gemulai Raisa berpaling kearahku. Kakinya perlahan disilangkan sehingga pahanya semakin terlihat dengan jelas. Rambutnya yang semula menutupi dadanya disibakkan kebelakang. Sekarang aku bisa melihat putingnya tercetak dengan jelas di gaun ungu tipis yang dikenakannya.

“Mas…, ” panggilnya dengan nada menggoda.

“Iya Is,” sahutku tak sadar.

“Hari ini Is gak pake bra, lihat nih mas, puting Is sampe kecetak gini,” katanya sambil menunjuk titik kecil yang terlihat semakin nyata di balik gaunnya.

Gleekkkk…

“Tau gak mas, Is juga gak pake cd lhoo…., dinginnya kerasa nih mas, mana udah basah lagi, nih buktinya….,” kata Raisa sambil menyelipkan satu jari di celah antara pahanya. Ketika dia melakukan itu, pahanya semakin terlihat jelas, bahkan aku bisa melihat bulatan pantatnya!

Ketika dia mengangkat jari tangannya, terlihat mengkilap karena basah!

Penisku sudah mengeras dengan maksimal dibawah sana!

“Mas, vaginaku gatel nih, pengen banget digarukin, tapi jariku kekecilan nih mas, gak kerasa, bisa bantuin gak?” rayu Raisa dengan wajah yang honry serta pandangan yang binal.

Gleekkkk…..

“Mas, gatel banget nih, garukin dong mas…,” tawar Raisa sambil menggesekkan pahanya. “Kalo yang ini,” katanya sambil menujuk kepayudaranya yang sebagian besar kelihatan “enak banget kalo diteken gini mas,” lanjutnya sammbil meremas pelan payudaranya dari balik gaunnya.

“Aahhhhh….masss…, enak banget…,” desah Raisa sambil tangan kanannya meremas payudara sedangkan yang kiri, terlihat menekan-nekan vaginanya dari balik gaun yang dikenakannya. Payudara Raisa sekarang terekpos dengan lebih jelas. Seperti terkhir kali aku melihatnya, masih terlihat kenyal, bulat dan menantang.

“Cccuuu…cu…kuppp Raisa,” kata Frans dengan suara yang bergetar. Bisa kudengar nafasnya yang mulai menderu melihat godaan yang dilakukan Raisa.

“Yakin mas, padahal baru mulai ini,” goda Raisa.

“Ya…kin…,” sahut Frans tergagap.

“Kalau begitu, siap-siap ya mas,” kata Raisa sambil memutar botol dengan kuat.

“Hmmm, truth apa dare, Mbak Shinta?” tanya Raisa ketika mulut botol mengarah pada Shinta.

“Dare,” sahut Shinta singkat. Namun terlihat kalau wajahnya memerah dengan paha yang saling digesekkan.

“Buka bra dan celana dalam mbak, dan kasi ke Mas Andri,” kata Raisa. Semua yang mendengar perkataan Raisa terkesiap.

“Cuma itu?” tantang Shinta sambil tangannya dengan perlahan menuju kebelakang punggunganya, dan tak lama kemudian terlihat sebuah bra hitam tipis teracung kedepan. Kemudian dengan gaya yang sensual, Shinta kemudian menarik lepas celana dalamnya yang berwarna hijau menyala kemudian menjadikannya satu dengan bra yang tadi dilepasnya.

Setelah itu terlepas, Shinta mendekatiku dan memberikan kedua benda itu. Dengan berbisik dia berkata “Maaf Mas, celananya agak basah, habis, gak tahan sih liat Lisa tadi.”

Dan itu sukses membuat penisku kembali menegang dibawah!

Dengan sedikit ternganga aku meletakkan bra dan celana dalam, yang seperti dikatakan Shinta -terlihat basah dibagian tengah serta mengeluarkan aroma khas vagina- disampingku.

“Oke, giliranku ya,” kata Shinta.

Dan botol itu sekarang tepat mengarah pada si-celana-dalam-putih. Dengan tersenyum simpul Shinta berkata “Truth or dare?”

Terlihat si-celana-dalam-putih berpikir sejenak. Pilih truth, pilih truth, batinku,

“Dare,” jawabnya yang mebuatku sedikit kecewa.

Namun raut kekecewaanku berganti dengan penasaran ketika melihat senyuman Shinta.

“Oke, mau pilih yang warna pink, putih, ungu atau yang bening?” kata Shinta misterius. Dan sepertinya si-celana-dalam-putih juga sedikit kebingungan namun kulihat Shinta memberi isyarat ketasnya. Dan wajah si-celana-dalam-putih sekarang terlihat merah padam!

Kulihat dia hendak mengambil minuman lagi ketika langkahnya terhenti dan berbalik kearah Shinta dan berkata dengan nyaring.

“Yang ungu!” katanya tegas. Walaupun bisa kulihat tangannya bergetar.

Setelah mendengar jawaban si-celana-dalam-putih. Kulihat Shinta melangkah ke tasnya dan mengambil sesuatu dari sana.
Dan ketika dia dekat, bisa kudengar gumaman senang dari Raisa dan Frans.

Ditangan Shinta terlihat sebuah gel pelumas danbutt plug berukuran kecil, namun dari modelnya, bisa kutebak itu sebuah vibrator. Jadi vibrator di bagian belakang si-celana-dalam-putih! Dan membayangkannya membuat penisku semakin tegang dibawah!

​Aku pandangi si-celana-dalam-putih yang terlihat gugup. Wajahnya merah padam dengan tangan yang terlihat gemetar. Berlawanan dengan Shinta yang tersenyum senang.

“Ayo mbak, mau aku yang pasangin atau Mas Andri?” katanya mengggoda.

“Tidak! Kamu yang pasang!,” katanya tegas.

Sambil melirik kearahku, Shinta berjongkok didepan si-celana-dalam-putih dan mengoleskan gel pelumas di setiap bagian dari butt plug itu. Setelah semua bagian terkena pelumas, Shinta sedikit berdiri dan perlahan tangannya merayap kebagian atas, sedikit menaikkan gaunnya sehingga bagian intim si-celana-dalam-putih hampir terekpos jelas.

Si-celana-dalam-putih terlihat sibuk menutupi bagian pribadinya dengan tangan. Wajahnya sekarang sangat merah, namun itu justru membuatku semakin terangsang. Tangan Shinta sekarang hilang di dadalam gaun si-celana-dalam-putih yang hanya bisa menutupi bagian vaginanya saja.

Shinta merayap keatas dan mencium si-celana-dalam-putih dengan bernafsu! Yang dibalas dengan sama bernafsunya!

Gleeeekkkk….

Semua sekarang memandang adegan yang ada didepan kami. Tangan Raisa bahkan telah menelusup kedalam gaunnya dan tangannya sibuk meremas sesuatu yang ada disana. Sedangkan Frans meremas tangan Lisa, terlihat mereka sesekali saling pandang dengan pandangan yang sama, pandangan bernafsu!

“Uhhhh…..,” lenguhan pelan si-celana-dalam-putih mengalihkan perhatianku dari Lisa dan Frans.

Terlihat Shinta dan si-celana-dalam-putih masih saling belit, namun dengan tangan Shinta yang semakin menghilang di gaun hitam si-celana-dalam-putih.

“Ssttttt….,ah…,” desis pelan si-celana-dalam-putih semakin menjadi. Kulihat pandangan si-celana-dalam-putih semakin sayu ketika Shinta menarik tangannya dari dalam gaunnya. Tangan yang tampak berkilat karena cairan. Dengan gaya menggoda Shinta mengulum jari-jemarinya yang basah oleh cairan. Setelah puas menggoda dengan aksinya, Shinta sekarang membawa but plugg itu menghilang kedalam gaun si-celana-dalam-putih.

“Ahhhh…,” suara desisan samar kembali terdengar ketika tangan Shinta terlihat melakukan sesuatu didalam gaun si-celana-dalam-putih. Wajahnya sekarang terlihat sedikit meringis, seperti menahan sakit, tapi, itu hanya sebentar saja.

Shinta menarik tangannya dari dalam gaun si-celana-dalam-putih dan perlahan menuju ke tasnya sambil tersenyum. Dia mendekat kearahku sambil memberikan sesuatu.

“Simpan buat nanti mas,” bisiknya sambil kembali ke tempat duduknya. Ketika kulihat apa yang diberikannya, nafasku sedikit tercekat!

Sebuah remote control dan aku tahu untuk apa!

“Ayo putar botolnya!” teriak Frans tiba-tiba. Kami semua seolah terbuai oleh live show yang dilakukan Shinta dan si-celana-dalam-putih tadi sehingga lupa kalau sekarang giliran si-celana-dalam-putih untuk memutar botol.

Dengan sedikit pelan kulihat dia memutar botol dan ketika mulut botol berhenti didepan Frans, aku ingan tahu apa yang akan dilakukannya.

“Truth, ” pilih Frans cepat!

“Diantara, yang ada disini dan semua staff di G-Team serta Delta Company, mas sudah pernah ML sama siapa saja?” tanya si-celana-dalam-putih. Wajahnya terlihat serius kali ini.

“Eh…,” Frans sedikit bingung dengan pertanyaan yang diberikan kepadanya. Tak sadar dia menggaruk kepalanya dengan tangan.

Pertanyaan yang menarik…, pikirku.

“Aku pass ya,” kata Frans akhirnya sambil menuang minuman kedalam gelasnya dan langsung meminumnya. Terlihat kelegaan didalam wajahnya.

“Yah…,” bisa kudengar suara kecewa dari Lisa. Langkah yang tepat Frans!

Botol diputar dan sekarang ujungnya mengarah ke Shinta.

“Dare,” kata Shinta sebelum ditanya.

Senyum puas Frans membuatku yakin, kalau dia akan menyuruh Shinta melakukan sesuatu yang jauh lebih nakal. Sambil memandang Lisa, Shinta dan Raisa bergantian, Frans terlihat berpikir apa yang akan dilakukan dan siapa yang akan melakukannya.

“Beri Raisa blowjob selama 5 menit!” kata Frans alkhirnya.

Terlihat Lisa sedikit kecewa dengan tantangan Frans. Mungkinkah….

“Ayo Shin!” kata si-celana-dalam-putih memberi semangat. Mungkin lebih tepatnya membalas dendam atas tantangan yang telah diberikan Shinta kepada dirinya.

“Siapa takut,” kata Shinta sambil menoleh kearah Raisa yang ada disebelahnya.”Maaf ya Raisa,” kata Shinta sambil hendak membuka kaki Raisa.

“Tunggu dulu, tadi kan hanya memberikan blowjob kepadaku, tapi kan tidak ada peraturan yang mengharuskan aku untuk diam kan?” tanya Raisa sambil menoleh kepada kami semua.

“Eh, tidak ada, ” sahutku ketika tak ada yang menjawab pertanyaan Raisa.

Raisa terlihat senang ketika mendengar jawabanku. Sekarang dia berbisik ketelinga Shinta yang dijawab dengan anggukan antusias.

“Eh, ayo cepetan, keburu pagi entar,” kata Frans tak sabar.

“Keburu pagi apa keburu lemes yang dibawah mas?” tanya Raisa yang membuat Frans hanya bisa nyengir saja.

Eh, kenapa mereka sekarang membersihkan meja?

Dengan bingung aku menoleh ke si-celana-dalam-putih untuk melihat wajah yang sama bingungnya denganku. Tunggu, apa dia sedikit berkeringat?

Dan kebingungan kami akhirnya terjawab ketika Shinta dengan wajah yang merah tidur terlentang diatas meja dengan gaun yang terangkat keatas. Bisa kulihat vaginanya yang mulus tanpa rambut kemaluan, vagina yang sekarang terlihat basah dan mengkilap terkena cahaya lampu.

Raisa sekarang berdiri didepanku dan perlahan gaunnya disingkapnya keatas sehingga pantatnya bisa terlihat jelas dari tempatku. Perlahan dia menungging untuk melepaskan high heels yang digunakannya. Selama itu, vaginanya bisa kulihat dari belakang, sama indah dan polosnya dengan milik Shinta. Bedanya, vagina Raisa sekarang sangat dekat dengan mukaku, bisa kucium aroma vagina yang basah dari depanku.

Tahan Ndri, tahan..

Hanya perlu maju sepuluh senti saja dan lidahku akan bisa mencapainya, belahan itu!

Siallllll!

Penisku terasa sakit terkurung didalam celanaku.

“Hihihi,” bisa kudengar tawa si-celana-dalam-putih melihat aku yang tersiksa.

Plaaaakkkkk…..

“Aduuuhhhhh!” terika Raisa ketika kutampar pantatnya yang sengaja dipamerkan didepanku.

“Cepat Is, keburu pagi entar,” kataku beralasan. Pantat Raisa yang putih sekarang bersemu merah karena tamparanku yang sialnya semakin terlihat menggoda.

Huffffttttt….

Akhirnya bisa kuhembuskan nafas lega ketika Raisa akhirnya naik keatas meja dan mengambil posisi 69 dengan Shinta. Dua orang wanita. Dua orang yang sudah terangsang. Dua orang yang tanpa celana dalam dan dua buah vagina yang basah. Sekarang terhidang dimeja, siap saling menyantap.

​”Ayo mulai,” kata Lisa. Sedikit serak.

Dengan gaya yang pelan, Raisa mulai mencium paha dan perut Shinta dengan telaten. Shinta juga melakukan hal yang sama hanya saja, kulihat Shinta memasukkan satu jari kelubang vagina Raisa yang basah.

“Uuhhhh…,”

“Sssshhhhhhh…,”

Suara desahan dan lenguhan mulai bersahutan didalam ruangan VIP ini. Apalagi sekarang Raisa mulai menjilati bagian luar vagina Shinta dan seolah tak mau kalah dengan Shinta, satu jarinya sekarang dimasukkan kedalam lubang basah Shinta.

“Ahhhh, Raisa! ” desahan Shinta begitu keras terdengar ketika Raisa menjilati bagian atas vaginanya, dimana, clitoris mungilnya sekarang sudah menyembul dengan indahnya. Ciuman Shinta terlepas ketika dia menganga merasakan kocokan cepat jari Raisa.

“Time,” kataku serak ketika stopwatch di hp ku bahkan sudah menunjukkan 6 menit!

“Jangan berhenti! Please, sedikit lagi…,” teriak Shinta dengan wajah memerah menahan orgasme yang akan menderanya sebentar lagi.

“Eh,” tolehku terkejut ketika sesuatu merayap dipermukaan celanaku. Si-celana-dalam-putih!

Dengan wajah terangsang dan butir-butir keringat yang menghiasi dahinya dan gaun yang sedikit tersingkap dibagian dadanya yang memperlihatkan bulatan atas yang menggoda, dia mengelus penisku dari luar celana, sedangkan tangan satunya tersembunyi di balik gaun yang dikenakannya.

“Eh Lid, ” kataku sambil menoleh kearah Frans. Dan pemandangan disana membuatku tersnyum. Frans dan Lisa sedang berciuman dengan panasnya.

“Aaahhhhhhh……Raisa!”

Dengan terkejut aku menoleh kearah Shinta dan Raisa. Disana kulihat tubuh Shinta bergetar dan mengejang dengan hebatnya. Pahanya menjepit dengan erat kepala Raisa yang terlah memberikan kenikmatan kepadanya.

Tok..tok..tok…

Suara ketukan terdengar samar dipintu. Munkin hanya hayalanku saja, pikirku sambil menoleh kepada si-celana-dalam-putih yang terlihat begitu menggoda sekarang.

Bugggg.buggggg.bugggg…

Suara ketukan itu sekarang berubah menjadi gedoran.

“Mas, dengar suara gedoran?” tanya si-celana-dalam-putih.

“Iya Lid, aku cek dulu,” kataku sambil melangkah malas kepintu.

Cleekk…

Kubuka kunci pintu dan kulihat waitress tadi berdiri dengan didepan kami.

“Maaf mas, katanya akan ada razia disini nanti, hanya mau info saja ya mas,” katanya sambil bergegas ke ruang VIP yang lain.

Razia? Polisi?
Well, dimana-mana, razia kebanyakan sudah bocor sebelum dilakukan, pantas saja jarang ada yang tertangkap saat make di club. Pikirku.

Dengan bergegas aku menuju kedalam.

“Guys…, bad news, katanya akan ada razia sebentar lagi, so?” tanyaku kepada semuanya. Namun semua masih sibuk dengan pasangan masing-masing kecuali si-celana-dalam-putih yang sibuk dengan dirinya sendiri!

“Guys, ada polisi!” kataku lebih keras. Dan akhirnya mereka tersadar ketika mendengar ada kata-kata polisi.

Raisa dan Shinta turun dari meja dengan terburu-buru, Frans dan Lisa menghentikan ciuman mereka sedangkan si-celana-dalam-putih menarik tangannya yang terlihat basah dari dalam gaunnya.

“Ada razia Ndrii?” tanya Frans.

“Iya, lanjut nih atau gimana?” tanyaku memastikan.

“Mending pulang dulu mas, biar safe aja,” saran Raisa dengan wajah yang berkeringat. Apa dia sudah…

“Kita lanjut besok saja ya? Ditempatku,” kataku spontan.

“Boleh mas, ” kata Shinta dan Lisa bersamaan sedangkan Raisa hanya menganggukan kepalanya. Frans? Seperti biasa tersenyum mesum. Hanya si-celana-dalam-putih yang terlihat bingung.

“Oke, mari kita pulang dulu,” kataku sambil melangkah keluar. Setelah mengurus pembayaran kami menuju ke parkiran. Disepanjang perjalanan kulihat si-celana-dalam-putih berjalan dengan agak mengangkang.

Shiiiittttt!

Vibratornya belum dilepaskan!

“Besok Raisa boleh ikut kan?” tanya Raisa diparkiran.

“Tentu saja,” kata si-celana-dalam-putih sambil tersenyum. She’s naughty now…

“Okey, kalau begitu see you tomorrow,” kata Raisa sambil melangkah menuju kemobilnya sambil menyapa Shinta dan Lisa yang mengapit Frans.

“Ayo balik dulu, ” kataku pada semua dan masuk kedalam mobil. Kulihat Sinta memberikan sesuatu kepadanya yang disambut dengan wajah memerah.

Hmmm….

“Ayo mas,” kata si-celana-dalam-putih ketika dia sudah masuk kedalam mobil. Bisa kulihat dia tidak begitu nyaman saat duduk.

Wajar saja, dengan vibrator terpasang di bagian sensitifnya…, tunggu! Vibrator! Sambil tersenyum aku meraba remote control yang masih tersimpan dikantong celanaku. Berbagai ide mesum terlintas dibenakku memikirkan apa yang bisa aku lakukan dengan remote ini.

Kulirik si-celana-dalam-putih, namun dia hanya diam saja, walau kadang pahanya digesekkan dengan pelan.

Suasana sedikit menjadi canggung diantara kami ketika akhirnya kami sampai di apartemenku.

Eh??? Kenapa kesini?
Siaalll! Gara-gara hilang fokus aku malah mengemudi ke apartemenku.

“Eh, maaf Lid,” kataku sambil berhenti.

“Kenapa mas?” tanyanya dengan bingung. Apa dia tidak sadar diaman dia berada?

“Ehhh, gara-gara melamun, aku malah kesini, balik dulu sekarang,” kataku sambil melihat kaca spion, jika ada mobil dibelakang.

“Dimana ini mas?” tanyanya baru sadar kalau kami tidak di mess G-Team.

“Apartemenku Lid,” jawabku pelan.

Lidya POV

Apartemennya?

Aduh, pasti kami sama-sama hilang fokus sehingga tidak ada yang sadar kalau kami bukan ke mess G-Team.

Tapi sebuah ide gila muncul dibenakku..

“Mas, jangan ke mess, disini saja,” kataku tak sadar. Dan aku hanya bisa menunduk malu ketika sadar arti dari kata-kataku.

“Eh, beneran Lid?” kudengar nada terkejut dari si-mata-keranjang.

“Iya mas,” kataku sambil menunduk, tak berani melihat kearahnya.

Mobil kami perlahan bergerak ke dalam kompleks apartemen sebelum berhenti di parkiran.

“Ayo Lid,” ajak si-mata-keranjang sambil meraih tanganku. Dengan malu aku berjalan dengan si-mata-keranjang memegang tanganku.

Aku hanya bisa menunduk ketika dia memegang tanganku sampai dilift. Di dalam lift hanya ada seorang wanita dengan headset dikepalanya.

Vibrator sialan, rasanya begitu mengganjal…

“Awwwwwww…,” desisku perlahan sambil memegang tangan si-mata-keranjang.

“Mas!” kataku sambil menoleh kearah si-mata-keranjang yang tersenyum jahil.

Uuugghhhhh…. Vibrator itu.. Bergetar dengan pelan dibawah sana. Rasanya sulit untuk dilukiskan.

Ting…

Pintu lift terbuka dan si-mata-keranjang beranjak keluar.

“Ayo Lid,” katanya ringan.

Sambil bersikap sebiasa mungkin, aku mencoba berjalan dengan normal. Tapi dengan vibrator yang bergetar ringan dibawah sana, rasanya cukup sulit aku lakukan.

Awas ya mas!

Dengan mengertakkan gigi aku berjalan mengikuti si-mata-keranjang. Dengan sedikit pening karena pengaruh alkohol dan tubuh yang panas karena terbakar birahi, akhirnya kami sampai didepan pintu kamar si-mata-keranjang.

“Mari masuk Lid,” kata si-mata-keranjang ketika aku hanya diam di depan kamarnya. Kamar yang bersih, teratur dan berkesan mewah.

“Mau minum atau ada perlu apa Lid?” tanya si-mata-keranjang dengan ramah.”Ayo, jangan malu-malu Lid…,” lanjutnya.

“Boleh minta yang lain mas?” tanyaku sambil merasakan cairan dari bagian pribadiku mulai mengalir disepanjang pahaku.

“Apa Lid?” tanyanya bingung.

Kudorong tubuhnya ke sofa yang ada diruangan ini sebelum berkata

“Fuck me please!”

Bersambung