Rahasia Gelap Part 38

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Tamat

Cerita Sex Dewasa Rahasia Gelap Part 38 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Rahasia Gelap Part 37

One Step Closer

Lidya POV

Gelap.

Kupandang kesekeliling dan hanya kegelapan yang terlihat.
Ingin ku berteriak, tapi tidak ada suara yang bisa keluar dari mulutku.

Peluh bisa kurasakan mulai muncul didahiku.

Ssssrrrtttt…..srrrttttt..srrrtttt….

Suara seperti sandal yang diseret perlahan terdengar mendekat.

“Uh…ah..uh…” hanya suara yang tidak jelas bisa kudengar keluar dari mulutku. Ingin kuberlari menjauh, namun kakiku terasa lumpuh, tidak bisa kugerakkan. Berdiri ditengah kegelapan seperti ini, bulu kudukku mulai meremang.

Dimana aku? Kenapa? Bagaimana?

Bermacam pertanyaan muncul dibenakku. Sejenak aku lupa dengan suara yang kudengar. Tapi tidak lama kemudian suara itu muncul lagi…

Ssssrrrtttt…..srrrttttt..srrrtttt….

Suara itu semakin mendekat.

“Lidya…, kalau kau melawan lagi…, kau tau apa hukumannnya kan?”

Deggggg.

Suara itu!

Suara yang ingin kulupakan. Suara yang ingin kuhilangkan dari ingatanku.

“Lidya…, kalau kau melawan lagi…, kau tau apa hukumannnya kan?” Kembali suara itu terdengar, sekarang lebih dekat.

“Uh…ah..uh…” kembali hanya gumaman tak jelas yang terdengar dari bibirku. Keringat semakin deras mengalir di tubuhku. Perlahan…sangat perlahan… sesuatu terasa menyentuh pundakku, turun ke arah lenganku. Ingin kuberlari dan berteriak, namun apa daya, lidahku terasa kelu dan kaki seperti dipaku.

Sesuatu itu naik kemukaku, membelai pelan bibir dan dagu sebelum menggenggam rambutku.

“Uhhhhhh!” jeritku, namun yang terdengar hanya suara tak jelas ketika sesuatu yang ternyata sebuah tangan itu menarik kepalaku kebawah, kearah sebuah benda bulat, panjang dan panas.

Tidak!

Aku tidak mau lagi!

Tidaaaaaakkkkkkkkkkkkkkkkk!

“Tidaaaaakkkkkkk!” jeritku tak sadar.

“Hah…hah…hah….,” desah nafasku masih terasa memburu dengan keringat yang kurasakan membasahi punggungku.

“Kenapa Lid?” sebuah suara mengagetkanku. Kutoleh kesamping dan terlihat si-mata-keranjang memandangku dengan bingung. Terlihat mukanya sedikit pucat dan kacau, seperti habis bangun tidur.

Seperti bangun tidur?

Dengan cepat kejadian kemarin berkelebat dibenakku. Kulihat kesekeliling dan kesadaran menghampiriku. Dengan malu aku bangun dan melepaskan tubuhku dari pelukan si-mata-keranjang.

Aduuhhhh,,, jangan-jangan aku tidur sambil meluk dia lagi?

“Eh, gak apa-apa kok mas, cuma mimpi buruk mas,” jawabku sambil merapikan pakaianku yang sedikit berantakan. Kucoba bangun dan melemaskan badanku yang terasa sedikit kaku karena tidur dalam posisi duduk.

“Yakin Lid? Tadi kamu mengigau lumayan lama, kalau mimpi buruk, mimpi apa sampai seperti itu?” katanya menyelidik. Bisa kurasakan tatapan tak percaya dari matanya ketika mendengar jawabanku.

“Iya mas, cuma mimpi buruk tadi,” jawabku. Memang mimpi buruk mas, cuma mimpi buruk yang datang dari masa lalu, masa yang tak ingin kuceritakan kepada siapapun, masa ketika aku kehilangan… Ahh…, sudahlah… “Jam berapa mas?” tanyaku, mengalihkan perhatian.

“8.15,” sahut si-mata-keranjang singkat.

“8.15!?” kata kami bersamaan.

“Mas. demonya pukul 9!” kataku dengan nada panik. Bisa kulihat hal yang sama di mata si-mata-keranjang.

“Kamu mandi dulu Lid, aku siapin perlengkapan dan sarapan sebentar,” katanya sambil merapikan laptop dan memasukkannya ke dalam tas. Tanpa menunggu lagi aku melangkah ke kamar dan mengambil handuk serta pakaian dalam dan mulai mandi.

Pintu kamar mandi menutup dibelakang tubuhku, dengan cepat aku lepaskan pakaian dan pakaian dalam. Kuhidupkan shower, dinginnya air membuat kesadaranku kembali. Itu cuma mimpi Lid, cuma mimpi. Pikirku menyemangati diri sendiri.

Ayo Lid, kamu bisa!

Aku mandi dengan lumayan cepat, mungkin terlalu cepat. Kukeringkan tubuhku dari sisa air yang tersisa dan mengenakan bra serta celana dalam, warna putih tentu saja, ketika itu aku sadar kalau hanya membawa pakaian dalam dan handuk saja kekamar mandi. Kuintip keluar dan tidak terlihat si-mata-keranjang di kamar.

Aman!

Tanpa menoleh aku berjalan ke kamar dan…

Brukkk…

“Aduh!” sambil mengelus pantatku yang lumayan sakit saat mencium lantai, aku melihat si-mata-keranjang yang berdiri sambil memegangi perutnya.

Aduuhhhh…Semoga bukan yang luka! Pikirku sambil melangkah mendekatinya.

“Mas, gak apa-apa?” tanyaku dengan khawatir.

“Eh, gak apa-apa kok Lid,” katanya sambil menatapku dengan pandangan terpana!

Ketika kusadari pandangannya, wajahnku terasa panas, gara-gara terjatuh handukku terlepas dan bodohnya aku baru menyadarinya sekarang, saat si-mata-keranjang memandangku dengan seolah ingin menelanku. Ah sudahlah, sudah terlanjur dilihat juga, pikirku.

“Mas, mandi dulu sana, biar gak telat,” kataku sambil berjalan santai menuju kekoperku dan mencari baju disana, kulihat si-mata-keranjang sedikit malas untuk melangkah kekamar mandi. Dasar mesum!

“Ehhhh….iya Lid,” sahut si-mata-keranjang dengan sedikit malas. Bisa kurasakan pandangan matanya menelusuri tubuhku ketika dia menuju kekamar mandi. Kukenakan sebuah kemeja putih dengan blazer dan rok hitam, tidak ketinggalan stocking putih juga kupakai hari ini.

Sinar matahari terlihat menerobos dari celah tirai yang menutupi kaca jendela. Kulihat handphone dan pukul 8.30. Semoga tidak macet hari ini.

“Lid, ada roti dan susu diruang tamu, sarapam saja dulu, biar konsen nanti, aku sudah sarapan tadi,” kata si-mata-keranjang dari dalam kamar mandi.

“Iya mas,” sahutku sambil menuju ke ruang tamu. Diatas meja terlihat roti dan susu diatas piring. Juga ada print out dari materi presentasi yang akan kami jelaskan hari ini.

Kapan si-mata-keranjang menyiapkan ini semua? Apakah tadi?

Sambil sarapan, aku mempelajari bahan presentasi yang di siapakn si-mata-keranjang. Dan harus kuakui, apa yang disiapkannya begitu mudah kupahami. Bahkan dia sudah memberi tanda siapa yang akan menjelaskan materi yang mana di dalam print out ini.

Huffffftttt…..

Dia, Untuk pertama kalinya aku baru sadar, kenapa dia bisa memimpin perusahaan sebesar G-Team ini, bukan, bukan itu saja, bahkan dia yang merintisnya dari awal.

“Ayo Lid,” suara si-mata-keranjang mengagetkanku.

“Mari mas,” sahutku sambil melihat kearahnya.

Dan sejenak aku tertegun melihat penampilannya.

Andri POV

Hmmmmmm…

Terkejut?

Jadi itu kesanmu melihatku memakai pakaian seperti ini?. Dengan sepatu pantofel hitam dan jas hitam yang membalut kemeja putihku, kesan formal memang ingin kutonjolkan hari ini. Karena demo ini sangat penting untuk memberi kesan positif kepada Alfa Medika, dalam hal ini, Tony Firmansyah.

Dan pandangan terkejut dari si-celana-dlaam-putih cukup membuatku yakin, kalau pakaian ini akan membawa kesan yang bagus nantinya. Dengan pikiran seperti itu, aku membawa laptop dan print out presentasi hari ini dan berjalan dibelakang si-celana-dalan-putih. Dan, tentu saja, pantat itu bergoyang dengan lembut didepanku!

Sampai di bawah, terlihat Frans sudah menunggu. Sambil tersenyum dia menyapa kami.

“Pagi boss, pagi mbak,” katanya sambil melihat pakaianku. “Not bad, katanya sambil tersenyum jahil.

“Ayo Frans, time is running fast,” kataku sambil berjalan menuju parkiran. Kulihat pandangan bertanya dari si-celana-dalam-putih ketika Frans mengikuti kami.

“Frans sekarang punya kerjaan sampingan Lid, sebagai sopir pribadiku, hahaha” kataku sambil tertawa. Sementara Frans hanya menyeringai saja mendengar kelakarku.

Sampai diparkir aku menuju ke mobilku yang terletak diujung, dengan remote control yang dibawanya Frans membuka pintu belakang mobil. Sambil menyilahkan si-celana-dalam-putih untuk masuk, aku juga masuk dari pintu yang disebelah.

Mobil melaju pelan membelah padatnya jalan ibukita dipagi hari. Bunyi klakson serta sepeda motor dan mobil yang menderu lewat disebalah kami menjadi suasana yang tak terelakkan. Frans mengemudi dengan cukup cepat, dia tahu kami harus sampai sebelum pukul 9 di Alfa Medika. Kulirik si-celana-dalam-putih dan dia terlihat serius membaca print out presentasinya.

“Lid, untuk presentasi nanti, kamu sudah mempelajari print out yang kubuat?” tanyaku kepada si-celana-dalam-putih.

“Sudah mas, kita lakukan seperti yang ada disana, tapi aku yang membuka presentasinya nanti,” katanya tegas.

Dasar keras kepala!

“Hmmmmm, baiklah, tapi dibagian demonya, aku yang mempresentasikan,” kataku, mencoba setegas mungkin. Kulihat si-celana-dalam-putih dan seperti yang aku duga, mulut tipisnya cemberut dan memandangku dengan pandangan kesal.

Well, take it or leave it…

Sejenak kami hanya saling tatap dan akhirnya kami seperti bertanding, siapa yang paling lama tidak berkedip. Aku tahan selama mungkin sampai mata ini terasa sedikit perih…

“Uhuhkkkk…uhukkkk..uhuuukkkk….,”

Suara batuk dari Frans yang sepertinya sengaja, mengembalikan kami ke dunia nyata.

“Ladies and gentlemen, kita sudah sampai, mau pandang-pandangan terus atau turun dulu, ” kata Frans sambil memandang kami dengan geli.

Ditengah seriusnya pertandinganitu, sampai kami tak sadar kalau mobil telah berhenti di depan lobi Alfa Medika. Dengan wajah bersemu merah, si-celana-dalam-putih turun dan melangkah pelan menuju ke lobi.

“Frans, mau ikut atau gimana?” tanyaku kepada Frans.

“Nanti aku susul boss, mau parkir dulu, eh, mungkin aku tunggu di lobi saja, rasanya lebih menarik disana, ” jawabnya sambil matanya memandang kearah lobi. Dimana si-celana-dalam-putih terlihat sedang berbincang dengan seorang wanita.

Kususul si-celana-dalam-putih yang berada di lobi. Sesampainya disana, kami langsung dipersilahkan menuju ruang rapat.

“Siap Lid?” tanyaku sebelum kami masuk kedalam ruang rapat.

“Siap Mas?” sahutnya sambil masuk kedalam.

Suasana ruang rapat yang serba putih menyambut kami, terlihat tiga orang sudah berada diruang rapat, satunya Pak Tony, yang dua lagi belum aku kenal.

“Ah, Pak Andri dan Mbak Lidya, selamat datang,” kata Pak Tony sambil mendekat dan menjabat tangan kami berdua.”Saya dengar anda mengalami kecelakaan, sudah baikan?” tanyanya dengan ramah.

“Sudah pak, cuma belum bisa bergerak atau beraktifitas yang terlalu berat saja dulu,” jawabku.

“Baguslah kalau begitu, mari saya perkenalkan dengan rekan bisnis saya,” katanya sambil mengajakku dan si-celana-dalam-putih ke dekat tempat duduknya tadi, dimana terlihat seorang lelaki setengah baya dan seorang wanita yang mungkin lebih muda dari si-celana-dalam-putih duduk. Mereka berdiri ketika kami sudah dekat dan Pak Tony memperkenalkan kami.

“Pak Andri dan Mbak Lidya, ini Pak Roy, CEO dari Troy Company, perusahaan yang mengurus security untuk Alfa Medika dan ini dik Vian, anak Pak Roy ini, sekaligus manajer operasional dari Troy Company,” kata pak Tony.

Kujabat tangan Pak Roy, genggaman tangannya terasa erat dan tegas. “Saya sudah banyak mendengar tentang Pak Andri, rasanya apa yang saya dengar tidak jauh berbeda dengan kenyataanya,” kata Pak Roy.

“Wah, saya harap yang anda dengar yang baik-baik saja,” kataku yang disambut gelak tawa yang hadir. Kualihkan perhatianku kepada wanita yang berdiri disamping Pak Roy, cantik, tapi terkesan dingin. Dan ketika kujabat tangannya, senyum yang ada diwajahnyapun terlihat dingin dan terpaksa. Berbeda jauh dengan ayahnya. Ah, mungkin itu semua hanya perasaanku saja.

Kulihat kearah si-celana-dalam-putih dan terlihat dia memandang kearah Vian dengan pandangan cemburu?

Cemburu???

Lidya POV

Huftttt…. Dasar mesum, liat cewek cantik dikit saja tidak bisa, matanya pasti langsung kayak mau melompat keluar.

Kuamati lagi Vian, gadis yang dikenalkan Pak Tony sebagai anak sekaligus manajer operasional dari Troy Company. Muda, cantik dan berkelas. Setidaknya itu yang bisa aku lihat. Dengan sedikit iri aku lihat pakaian dan aksesoris yang dikenakannya. Sekilas kulihat tatapan kagum dari matanya ketika melihat kearah si-mata-keranjang saat si-mata-keranjang sedang berbincang dengan Pak Roy, sebelum, kembali lagi pandangan matanya terkesan dingin.

Aku hanya bisa melihat mereka saling pandang dengan sedikit marah dan kesal.

Lid, kau bukan siapa-siapanya si-mata-keranjang dan mereka juga baru bertemu!

Kucoba mengabaikan perasaan ini, namun selalu saja menggangguku. “Oh iya, ini Lidya, partner saya dalam proyek kali ini,” kata si-mata-keranjang.

“Roy,”

“Lidya,” kataku sambil menyalami Pak Roy. Jabat tangannya terkesan hangat dan tegas. Khas seseorang yang telah merasakan asam garam kehidupan.

“Vian,”

“Lidya,” kataku sambil menjabat tangan anak dari Pak Roy. Hanya sekilas kami berjabat tangan. Dan pandangan hampa kulihat dari sinar matanya.

Hmmm…, dia meremehkanku!

“Kalau begitu, mari kita mulai saja demo kali ini?” tanya Pak Tony kepada kami semua.

“Baik pak, ” kudengar si-mata-keranjang menyahut dan menuju ketempat yang telah disediakan. Sebelum sampai ditempat yang disediakn, pintu terbuka dan Raisa terlihat masuk sambil membawa air mineral dan cemilan. Aku mengangguk ringan ketika dia meletakkan air mineral didepanku, yang dibalas dengan senyum manis.

Si-mata-keranjang mengeluarkan laptop dan menyiapkan materi presentasi. Dia mengangguk ringan ketika sudah siap. Kutarik nafas panjang dan memandang kesekeliling ruangan.

Kamu bisa Lidya! Pikirku menyemangati diri sendiri.

“Selamat pagi, terima kasih atas perhatiannya, pada kesempatan ini, saya Lidya mewakili Delta Company, partner dari G-Team dalam proyek ini, akan mempresentasikan demo proyek yang sudah kami buat dalam waktu 10 hari ini,” kataku sambil melihat kesekeliling. Pandangan penuh perhatian dari sebagian besar hadirin membalas tatapanku, iya, sebagian besar kecuali Vian dan Raisa yang terlihat sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri.

“Demo proyek ini, dibagi menjadi tiga buah sub bagian, yaitu produksi, transportasi dan manajemen karyawan. Adapun yang pertama yaitu…”

***

20 menit lebih aku gunakan untuk memberikan gambaran dan penjelasan mengenai konsep dan teori dari sistem yang kami buat. Terlihat senyum puas dari Pak Tony dan Pak Roy melihat pemaparanku. Kupandang si-mata-keranjang yang mengangkat jempolnya kearahku.

“Dan sekarang mengenai desain antarmuka dan demo sistemnya secara detail akan dijelaskan oleh partner saya, Mas Andri,” kataku mengakhiri pemaparanku.

Sekarang, saatnya melihat kemampuan si-mata-keranjang.

Andri POV

Sambil tersenyum aku berdiri dan mengambil tempat dimana si-celana-dalam-putih tadi berada. Si-celana-dalam-putih mengawali presentasi dengan baik, data dan detail yang dijelaskannya begitu rinci dan lancar, seolah telah dihapalnya diluar kepala saja.

Awal yang bagus

“Selamat pagi semuanya, tadi rekan saya Lidya sudah memberikan pemaparan mengenai teori dan bagaimana alur dari sistem yang kami kembangkan, sekarang saya akan menjelaskan mengenai desain antarmuka serta live demo dari sistem yang kami buat.” kataku sambil memperlihatkan tampilan dari sistem yang kami kembangkan.

“Sistem yang kami buat berupa web based system, sehingga bisa diakses menggunakan PC maupun moblie phone, tampilannya seperti ini, ” kataku sambil memperagakan dan menjelaskan setiap fungsi dari antarmuka yang terlihat. Hampi 20 menit aku menjelaskan ketika sampai pada bagian keamanan.

“Untuk bagian keamanan, kami sedikit mengalami kendala karena sebelumnya kami diberi link contoh dari sistem keamanan Troy Company, tapi terakhir tim kami coba mengaksesnya, link tersebut sudah tidak aktif, mungkin nanti Pak Roy bisa memberi masukan untuk masalah ini,” kataku sambil melihat kearah Pak Roy. Terlihat beliau menganggukan kepalanya.

“Jadi demikian demo proyek yang bisa kami sampaikan, jika ada kritik saran atau tambahan, saya persilahkan,” kataku megakhiri sesi ini dan duduk disebelah si-celana-dalam-putih.

“Minum dulu mas,” katanya sambil memberikan sebotol air mineral kepadaku. Sejenak aku merasa tertegun dengan perhatiannya. Sambil tersenyum aku menerima botol air mineral yang diberikannya dan meneguknya. Dingin air mengalir turun melewati tenggorokanku mengiringi tatapanku kearah Pak Tony dan Pak Roy.

Kulihat mereka sedang berdiskusi ringan dan sesekali menunjuk kearah kami.

Semoga saja semuanya berjalan lancar.

Kualihkan pandanganku kesamping, dimana si-celana-dalam-putih sedang memandang kedepan. Terlihat kegelisahan di rona wajahnya. Kupegang pelan tangannya dan mengangguk kearahnya, yang dibalas dengan senyum dan helaan nafas ringan.

“Pak Andri, saya rasa untuk demo ini, terus terang melebihi ekpetasi kami,” kata Pak Tony. Bisa kudengar tarikan nafas lega dari si-celana-dalam-putih disampingku.”Masalah keamanannya, Pak Roy bilang kalau sistem mereka seperti antivirus, jadi tidak masalah nanti seperti apa program yang anda buat, karena toh juga berbasis web, cuma,” Pak Tony berhenti sejenak dan bisa kurasakan helaan nafas yang berhenti disebelahku.

“Cuma kami perlu programnya dalam waktu yang lebih cepat, sebulan lagi tepatnya, entah Pak Andri bisa atau tidak, tentu saja ini diluar perjanjian kita sebelumnya dan diluar fee yang kita bahas, tapi seandainya Pak Andri bisa, tentu saja feenya nati kita bisa bahas lagi,” saran Pak Tony.

Kupandang si-celana-dalam-putih dan terlihat keraguan dimatanya.

“Hmmmm, begini pak, untuk masalah ini, kami perlu bahas lagi dengan tim kami, apakah bisa saya hubungi nanti?” tawarku.

Terlihat Pak Roy berbicara sebentar dengan Pak Tony. Sejenak mereka berdiskusi ringan sebelum Pak Roy memandangku dan berbicara.

“Pak Andri, untuk sistemnya, dari masalah kemanan memang tidak masalah karena sudah berbasis web, namun kalau ada hal yang Pak Andri atau Mbak Lidya belum yakin, bisa nanti dengan Vian,” katanya sambil menunjuk putrinya. “Bisa dengan Vian nanti berkomunikasi,” kata Pak Roy dengan tenang.

Aku tersenyum kearah Vian yang hanya terlihat menarik bibirnya sedikit.

Seperti es saja, dingin. Pikirku melihat ekpresi Vian.

“Oke, kalau begitu semua sudah clear?” tanya Pak Tony sambil memandang aku dan si-celana-dalam-putih bergantian.

Kulihat si-celana-dalam-putih, dan terlihat dia menggelengkan kepalanya.

“Saya rasa, semua sudah jelas saat ini pak,” sahutku.

“kalau begitu, terimakasih atas kerjasamanya Pak Andri,” kata Pak Tony sambil menjabat tanganku, yang dikuti Pak Roy serta Vian. Nama terakhir tertegun sejenak sebelum mengambil sesuatu dari tasnya. Sebuah kartu nama.

“Kalau ada pertanyaan mengenai keamanan, bisa hubungi saya disini mas,” katanya datar sambil menyerahkan kartu namanya.

“Baik mbak,” jawabku singkat sambil melangkah menuju pintu keluar. Si-celana-dalam-putih terlihat syudah berada diambang pintu ketika Raisa mengacungkan jempolnya kearahku, yang kubalas dengan kedipan mata ringan.

Aku melangkah keluar ruangan rapat yang nyaman dan elegan, menuju kelorong lobi yang udaranya terasa lebih segar. Eh, si-celana-dalam-putih kemana?

Kulihat keujung lorong dan ternyata dia disana. Kenapa dia?

Dengan langkah cepat aku coba mengejarnya dan ketika sampai di parkir baru aku bisa menyusulnya. Kulihat wajahnya cemberut.

Kenapa, lagi?. Pikirku dengan bingung.

“Ada apa Lid?” tanyaku dengan sedikit ragu.

Bukan jawaban yang kudapat tapi bibir yang cemberut semakin lebar dan pandangan mata yang tidak terima. Kutunggu beberapa saat dan belum juga ada jawaban. Kugaruk kepalaku yang tidak terasa gatal. Si-celana-dalam-putih membalik badan dan memunggungiku. Bisa kulihat kepalanya yang tegak.

Sebuah ide jahil muncul dari sel kelabu otakku, yang entah kenapa, selalu didominasi ide yang mesum atau jahil.

“Eh, awas, ada ular…ada ular..ulaarrr!” teriakku sambil menunjuk kebawah.

Dan yang terjadi melebihi harapanku, si-celana-dalam-putih memekik dengan keras sebelum melompat-lompat ditempat kemudian berlari kebelakang tubuhku dan memelukku dengan erat.

“Hah…hah…hah…Mas, di…mana ular…nya…,” kata si-celana-dalam-putih dengan nafas yang menderu. Bisa kurasakan tangannya memegang erat bahuku dan nafasnye berhembus dengan keras ditengkukku.

“Ada, tapi gak tau dimana,” kataku sambil tersenyum lebar.

Sejenak aku bisa merasakan pegangannya dibahuku mengencang sebelum berganti dengan cubitan-cubitan pedas diseluruh tubuhku.

“Aaawww…aaawww…sakit Lid, aaww…,” teriakku sambil berusaha menjauhi tangannya yang seolah berubah menjadi dua capit baja yang memburu bagian tubuhku tanpa mengenal pri kekulitan.

“Biarin, siapa suruh usil?” katanya dengan campuran ekpresi kesal, cemberut dan marah bercampur menjadi satu. Ingin kutertawa melihat ekpresinya itu, namun kutahan dengan susah payah karena tak ingin merasakan capit bajanya lagi.

Kualihkan pandanganku ke sekeliling, tidak terlihat Frans di tempat parkir ini.
Kuliaht kedalam mobil, juga tidak ada. Si-celana-dalam-putih melihat kearahku, masih dengan pandangan jengkelnya, cuma sekarang berisi rasa penasaran.

Kuambil telepon dan menghubungi si playboy kambuhan ini. Cukup lama aku menghubunginya ketika akhirnya dia mengangkatnya.

“Frans, dimana ini? Aku dan Lidya sudah diparkiran, demonya sudah selesai,” tanyaku langsung. Bisa kudengar hening sejenak namun samar terdengar nafas yang menderu dan lenguhan pelan. Sel-sel kelabu otakku dengan cepat bisa menyimpulkan apa dilakukan si playboy ini. Cuma, dengan siapa dan dimana? Jangan bilang…

“Wait a moment boss, let’s me finish this…,” jawab Frans dengan sedikit tercekat. Samar, lenguhan pelan dari seorang wanita terdengar, lenguhan panjang seorang wanita yang sedang mendapatkan puncak kenikmatannya!

Tutt..tuttt.tuttt…., sambungan terputus. Dan aku tahu apa yang menyebabkannya. Kulihat kearah si-celana-dalam-putih yang memandangku dengan pandangan heran melihatku yang tersenyum sendiri.

“Frans masih sibuk Lid, mungkin sepuluh menit lagi baru akan datang kesini, ” kataku memberi penjelasan.”Lid boleh nanya, tapi jangan marah ya?” kataku sambil memandangnya dengan tenang.

“Apa?” jawabnya singkat. Masih terdengar nada marah dalam suaranya.

“Tapi jangan marah ya?” kataku lagi.

Sejenak kulihat si-celana-dalam-putih memandangku dengan pandangan penasaran, namun dengan cepat berganti menjadi pandangan dinginnya. Suasana parkir yang lumayan sepi membuat keheningan diantara kami semakin bertambah.

“Nanya apa mas?” akhirnya dia berkata, tak sabar rupanya dengan keheningan yang tercipta. Hening sejenak. Bisa kurasakan angin sepoi berhembus membelai kemeja si-celana-dalam-putih yang berkibar pelan.

“Punggungmu…, punggungmu luka kenapa Lid?” tanyaku pelan.

Bersambung