Rahasia Gelap Part 37

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Tamat

Cerita Sex Dewasa Rahasia Gelap Part 37 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Rahasia Gelap Part 36

LOST IN THE ECHO
Part 11

Andri POV

Ternyata.
Nama file ini sendiri merupakan sebuah petunjuk.

Kulihat kembali file yang kudapat dari video Trojan.avi.

googlxxDGNo.rar

Pantas aku merasa sesuatu yang familiar ketika melihat nama filenya. Itu salah satu fasiitas dari Google. Url shortener!

Penyingkatan URL (bahasa Inggris: URL shortening) adalah suatu teknik pada WWW yang membuat suatu laman situs dapat diakses dengan menggunakan suatu URL yang sangat pendek selain alamat aslinya. Tujuannya antara lain adalah untuk menghemat ruang, terutama dengan semakin populernya layanan mikroblog seperti Twitter yang memiliki keterbatasan jumlah huruf yang bisa dikirim, serta untuk melakukan analisis terhadap suatu pranala. Contoh layanan penyingkatan URL yang terkenal antara lain adalah *******, *******, dan yang versi buatan lokal seperti Quinsha, TerPendek, keTKP.in, dll.

Dan dilihat dari formatnya menggunakan google, hmmm, tinggal menguraikannya saja.

googlxxDGNo.rar >> googlxxDGNo

Format umum Google adalah g00.gl/karakter acak. Jadi file ini :

googlxxDGNo >> g00.gl/xxDGNo

Sekarang, tinggal membuktikan teoriku. Kucopy paste url itu di browser dan sebuah alamat website terbuka!

http://www.imagebam.com/image/7f8179366215627

Sebuah gambar? Apakah passwordnya ada dalam gambar ini?

secret.png

Gambar sebuah mejakah? Ada sebuah buku, kaca pembesar, topeng, asbak berisi beberapa potong puntung rokok, sebuah gelas berisi es batu dan teh? Ah… Semakin ruwet saja. Kenapa Ade tidak langsung menulis pesan atau mengirim email ke email pribadiku? Atau jangan-jangan dia sudah curiga ada yang tidak beres?

Tapi tunggu, kalau tidak beres itu, berarti termasuk di G-Team!

Apakah…

~ ~ ~ * * * ~ ~ ~​

Lidya POV

Aku berjalan dengan cepat, tak ingin Mbak Raisa melihat noda basah pada celana leggingku atau tahu aku tidak mengenakan daleman hari ini. Dengan cepat aku menuju ke parkir dan menuju mobilku.

Braaakkkkk….

Kututup pintu dengan sedikit keras. Parkiran terlihat sedikit menyeramkan ketika malam, sinar lampu tidak bisa mengenai tempatku memarkir mobil. Aku ganti disini saja dulu.

Kulihat kesekeliling dan tidak terlihat ada orang lain disini. Dengan cepat kuturunkan legging yang kupakai dan memakai celana dalam yang sempat tadi aku ambil dari dalam koper. Dengan tergesa aku mengenakan kembali legging tadi. Sayangnya aku tidak sempat mengambil bra, jadinya putingku sedikit tercetak di kaos yang kupakai.

Jadi, sekarang kemana?

Ke mess Shinta dan Lisa tidak mungkin apalagi kalau ke mess si-mata-keranjang. Aku juga tidak punya kenalan disini. Tunggu dulu, Nick!

Kuambil handphone dan mencoba menghubungi Nick. Dia mengangkatnya pada dering kelima.

“Halo sayang, tumben nelpon?” tanyanya langsung.

“Nick, dimana kau sekarang?” tanyaku dengan harap-harap cemas.

“Di Jakarta, tepatnya di apartemenku,” katanya dengan lembut.”Ada apa sayang? Suaramu kedengaran sedikit bergetar?” tanya Nick.

“Nanti saja aku jelaskan, bisa aku kesana?” tanyaku lagi.

“Tentu saja, anything for you dear…,” katanya dengan lembut.

Kututup telepon dan bersiap menuju ke tempat Nick.

Semoga semua baik-baik saja.

Semoga.

***

Andri POV

Kulihat lagi gambar yang muncul di browser.

Apakah ini seperti dugaanku?

Kusimpan file gambar yang terbuka dan melihat propertiesnya.Hmmmm, sepertinya ada sesuatu didalamnya dan kalau melihat polanya, ini juga sebuah steganografi, yang paling sederhana, bahkan anak smp yang sudah mengenal command prompt dan winrar bisa melakukannya.

Kuklik kanan fie gambar yang kusimpan, kupilih open with>> Winrar.

Sebuah file text muncul dilayar. Secret.txt!

Kubuka file itu dan sebuah list muncul.

Composition

sildenafil citrate 150-200 mg
microcrystalline cellulose,
anhydrous dibasic calcium phosphate,
croscarmellose sodium,
magnesium stearate,
hypromellose,
titanium dioxide,
lactose,
triacetin,
FD & C Blue #2 aluminum lake.

composition 2

L-Arginine
Theobromine
Indole-3-Carbinol (I3C)
Ginseng
Ginkgo biloba
Damiana Leaf
Black Cohosh Root
Red Raspberry
Licorice Root
Ginger Root
Valerian Root
Kudzu
Vitamin A
Vitamin C
Vitamin E
B-Complex Vitamins
Folic Acid
Biotin
Calcium
Carbonate
Iron Zinc

In MD5
b4de12cb51d20942e5e7074f17b600fa

Out MD5
4bf5d8869c993f4cf5dc8d7b7a39fc0e

see boss?

Apa ini? Ini kalau tidak salah list obat kuat, kalau list ini punya Alfa Medika, tidak ada yang salah, tapi, MD5 ini, apa maksudnya?

Hmmmm, inti permasalahannya ada pada file rar itu, sekarang tinggal mencari passwordnya…

Hufttttt, semua makin jelas sekaligus semakin gelap…

Jika Kami bersama, nyalakan tanda bahaya
Jika kami berpesta, hening akan terpecah..
Aku, dia dan mereka memang gila memang beda,,
Tak perlu berpura-pura,, memang begini adanya..

Dan kami di sini,,, akan terus bernyanyi

Lagu Jika Kami Bersama dari SID membuyarkan lamunanku, kulihat handphone dan terlihat nama Lisa G-team disana.

“Halo, kenapa Lis?” tanyaku.

“Mas, Mbak Lidya ada disana?”tanyanya dengan ragu.

Apa? Jadi si-celana-dalam-putih tidak disana? Lalu kemana dia?

“Loh, bukannya dia disana?” tanyaku balik.

“Eh, tidak ada mas, tadi sempat kesini, tapi keluar lagi, menuju ke tempatnya mas,” jawab Lisa. Nada kuatir mulai terdengar dalam suaranya.

“Oke Lis, nanti mas yang akan hubungi dia,bye…,” kataku sambil menutup telepon.

Kemana dia?

Kucari namanya di contact dan menghubunginya.

Tersambung! Kutunggu beberapa saat dan belum ada jawaban.

Kucoba menghubunginya sekali lagi dan suara seorang pria menjawab di dering ketujuh.

“Halo, selamat malam?” sapa suara pria yang rasanya tidak asing bagiku.

“Halo, Lidya ada?” tanyaku tak sabar.

Membayangkan teleponnya diangkat oleh orang lain membuatku merasakan sesuatu yang lama tidak pernah lagi kurasakan.

“Lidya lagi mandi, ini siapa?” tanya pria itu lagi.

“Ini Andri, partnernya Lidya dan maaf anda siapa?” tanyaku memastikan.

“Ohh, Mas Andri, ini Nick yang waktu ini sempat bertemu mas di messnya Lidya,” jawab pria diseberang sana.

Nick? Sialan! Pria yang memijat si-celana-dalam-putih waktu ini! Dan sekarang sedang berada satu ruangan dengannya yang lagi mandi! Sialan! Sialan! Sialan!

“Bisa saya berbicara dengannya sebentar?” tanyaku, berusaha agar suaraku terdengar normal.

“Tunggu sebentar mas,” katanya.

Samar terdengar suaranya berjalan, mungkin, kekamar mandi. Kekamar mandi? Sialan!
Kembali bisa kudengar suara Nick memanggil si-celana-dalam-putih.

Lid, ada telepon! seru Nick di ujung sana.

“Tunggu sebentar mas,” jawab si celana dalam putih.

Krieeetttt…

Samar bisa kudengar suara pintu terbuka.

“Mas, bisa pinjam handuknya? Lidya lupa bawa handuknya, buru-buru tadi,” kudengar suara si-celana-dalam-putih.

Dasar, handuk aja masih minjam. Eh, minjam? Jadi dia membuka pintu tanpa pakaian sama sekali? Sel-sel kelabu diotakku memvisualisasikan bayangan erotis yang muncul.
Tapi, dia bugil didepan seorang lelaki?

Lagi.

Perasaan yang lama tak pernah kurasakan itu kembali lagi.

“Siapa yang nelpon mas?” kata si-celana-dalam-putih ringan.

Lihat saja sendiri, kata Nick.

“Halo mas, ada apa?” tanya si-celana-dalam-putih ringan.

“Lisa tadi nyariin, aku bilang apa ke dia?” kataku sedikit ketus.

“Aku lagi dengan Nick, Shinta pasti ngerti,” jawabnya pendek.

“Oke, ingat besok waktu terakhir kita untuk membuat demo projectnya,bye,” kataku mengakhiri panggilan.

Sialan!

Dengan sedikit kesal aku mengirim sms ke Lisa.

To : Lisa G-Team.

Lis, Lidya di tempatnya Nick. Shinta tau dimana.

Kutekan tombol sent dan mencoba mengalihkan pikiranku dari bayangan si-celana-dalam-putih yang sedang berduaan dengan lelaki lain tanpa pakaian dan dalam satu kamar.

Kuambil laptop dan mencoba membuat presentasi yang sempat tertunda. Namun bayangan itu tak mau berhenti menghantuiku.

Sialan. Ini akan menjadi malam yang panjang.

~ ~ ~ * * * ~ ~ ~​

Selasa, 09.00

Lidya POV

Dengan ragu aku menaiki lift menuju lantai tiga di mess eksekutif G-Team. Entah bagaimana tanggapan si-mata-keranjang atas kejadian kemarin. Semoga saja kami bisa bekerjasama, setidaknya hari ini dan besok.

Ting.

Pintu lift terbuka. Dan dengan perlahan aku menuju kepintu mess. Langkahku terasa semakin berat ketika mendekati ruangan si-mata-keranjang.

Dengan ragu aku berdiri di depan pintu mess.

Tok..tok…tok…

Kuketuk pintu mess. Sampai beberapa saat kemudian belum juga ada jawaban.

Tok..tok…tok…

Kembali kuketuk pintu, kali ini lebih keras. Namun belum juga ada jawaban. Dengan sedikit ragu aku memegang handle pintu dan membukanya.

Tidak terkunci?

Jangan-jangan…

Kubuka pintu dengan tergesa dan pemandangan yang ada didepanku membuat nafasku berhenti sejenak…

Ini kamar apa kapal pecah? Perasaan kemarin ketika terkahir aku disini, kamar ini masih rapi.

Tapi sekarang…

Buku-buku dan laptop tersebar di meja, dibawahnya bungkus cemilan dan kaleng soda tersebar dilantai. Kuarahkan pandanganku kearah sofa, kemeja dan celana panjang tersampir disandaran sofa. Beberapa VCD film juga terlihat di depan televisi.

Sebenarnyaa, apa yang terjadi? Dengan siapa si-mata-keranjang kemarin disini. Kalau dilihat dari kaleng soda yang tersebar, mungkin dia mengajak beberapa temannya berpesta disini.

Dan perasaan marah perlahan muncul dalam hatiku membayangkan dia berpesta bersama teman-temannya dan bahkan mungkin dengan ‘wanita-wanitanya’.

Aduh, kenapa aku harus memikirkan tentang dia, terserah dengan siapa dia mau berpesta, itu bukan urusanku, kata hatiku, walau dengan sedikit ragu…

“Mas Andri…., Mas…,” panggilku dengan pelan.

Tidak ada jawaban.

“Mas Andri…., Mas Andri…, Mas…,” panggilku, kali ini dengan lebih keras.

Juga tidak ada jawaban. Dengan sedikit ragu aku melangkah keruang tidur. Perlahan aku melihat kedalam dan disana terbaring si-mata-keranjang dengan selimut menutupi bagian perut kebawah.

Hufffttttt…

Kuhembuskan nafas lega melihat dia yang baik-baik saja. Dan seperti biasa, wajahnya terlihat begitu damai kalau seperti ini. Sejenak aku terpaku memandangnya yang masih tertidur lelap. Dengan wajah yang memanas aku memandang dadanya yang bidang turun kearah perutnya yang terlihat rata.

Sayang selimut itu menutupi bagian tubuhnya yang lain…

Dan pikiran itu membuat wajahku kembali terasa panas. Dengan malas aku keluar dari kamar tidur dan menuju ke ruang tamu. Dasar lelaki, dimana-mana sama. Jarang ada yang peduli pada kebersihan.

Sebisanya kubersihkan meja dan lantai dari sampah yang ada. Kemeja dan celana panjangnya kubawa ke kamar mandi dan kutaruh di tempat cucian yang ada disana. Kembali aku menuju ke ruang tamu dan melihat laptop dari si-mata-keranjang di atas meja.

Kuhidupkan laptopnya dan sedikit heran aku melihat laptopnya tanpa password. Mungkin karena laptop baru, belum terisi data jadi dia tidak mengisi password. Pikirku.

Kubuka file presentasi yang akan kami buat. Ternyata sudah hampir setengah presentasinya selesai! Apa mungkin dari kemarin si-mata-keranjang membuat presentasi ini?

Kubaca poin-poin presentasi yang dibuatnya…

***

Huffftttt…

Selesai juga akhirnya, kulirik jam di laptop. Pukul 10.00 dan si-mata-keranjang belum bangun juga.

Apa sebaiknya aku membangunkannya sekarang? Pikirku dengan sedikit ragu.

Drrrrtttt…drrrrttttt….drrrrrttttt….

Kuambil handphoneku yang bergetar didalam tas yang kubawa.

Ada sms dari Shinta.

Dari : Shinta

Mbak dimana sekarang? Untuk desain antarmuka programnya, ada beberapa perubahan. Mbak bisa skype meeting sebentar? Nanti biar aku bisa lebih detail jelasinnya.

Kukoneksikan leptop ke wifi yang ada dan membuka skype dan mulai meeting dengan Shinta. Ketika selesai, jam dilaptop menunjukkan 10.30.

Hmmmmm, si-mata-keranjang harus dibangunkan sekarang kalau mau presentasi dan demo proyek ini berjalan lancar. Dengan malas aku berdiri dan menuju kamar tidur dari si-mata-keranjang.

Dan…aduuhhhhhh…..

Pemandangan didepan mataku sejenak membuat jantungku berdetak lebih keras. Hamparan selimut yang sebelumnya menutupi bagian bawah tubuh si-mata-keranjang, sekarang tergelatak disebelah tubuhnya. Dan hanya sebuah boxer saja yang menghalangi pandanganku dari bagian tubuhnya yang paling intim. Bagian tubuh yang sekarang terlihat mengacung dari balik boxer yang dikenakannya. Dan dari luar terlihat begitu..

Dengan wajah yang panas aku berusaha mengalihkan pandanganku pada bagian boxernya itu. Aku memandang keatas, kearah matanya yang terbuka dan mulut yang tersenyum kearahku.

Owwwhhhhh… tidakkkkkk…..

Andri POV

Mata itu!

Mata si-celana-dalam-putih yang berkabut dengan gairah dan dengan wajah merahnya yang khas, aku tidak bisa menahan senyumku ketika pandangan kami bertemu.

Kulihat dia salah tingkah karena ketahuan memandangi penisku yang bisa kurasakan menegang dibalik boxer yang aku kenakan.

“Mas, eh, ada pesan dari Shinta, dia minta kita merevisi lagi desain antarmuka untuk demo projectnya karena ada beberapa perubahan, ” katanya dengan terbata, dengan mata yang memandang lantai.

“Oke Lid,” kataku

beranjak turun, hanya dengan mengenakan boxer saja, toh dia sudah melihatnya dari tadi.

“Eh, aku kedepan dulu mas,” katanya sambil melangkah dengan sedikit cepat menuju ruang tamu. Dengan tersenyum kuamati bongkahan pantatnya yang bergoyang seirama dengan langkah kakinya.

Well, bukan hal yang jelek mengawali hari dengan pandangan birahi dari seorang wanita bukan?

Sambil sedikit bernyanyi kecil aku menju kamar mandi dan bersiap melakukan ritual pagi hariku.

Setelah selesai mandi dan mengenakan pakaian santai, kaos dan celana pendek, aku menuju keruang tamu. Dimana si-celana-dalam-putih sedang terlihat serius mengerjakan sesuatu dilaptopku.

“Buat apa Lid?” tanyaku.

“Ini mas, buat presentasinya, tadi sudah sempat meeting dengan tim desain antarmukanya, mereka mau mengirim screenshot untuk antarmukanya sore ini mas,” jawab si-celana-dalam-putih.

“Ouwh, eh, kamu pakai wifi ya?” tanyaku melihat tak ada modem yang tersambung ke laptop.

“Iya mas, memang kenapa mas?” tanya si-celana-dalam-putih melihat rona gelisah di wajahku.

“Pinjam sebentar laptopnya Lid,” kataku sambil duduk disebelahnya dan menonaktifkan wifi yang sebelumnya terhubung dengan jaringan perusahaan.

Semoga tidak ada yang menyusup tadi…

Kupandangi si-celana-dalam-putih yang terlihat bingung dengan apa yang kulakukan. Mungkin sudah saatnya dia tahu.

“Begini Lid…”

***

Butuh beberapa saat sebelum si-celana-dalam-putih bisa menerima yang aku katakan. Dan kata pertamanya setelah mendengar penjelasanku adalah.

“Mas, ajarin cara buat steganografi itu ya?” katanya dengan pandangan yang memelas.

“Dapet apa kalau ngajarin?” tanyaku dengan jahil.

“Uhhh, gak usah deh, mending fokus ke demo besok mas,” kata si-celana-dalam-putih sambil mulai melihat presentasi yang kubuat.

“Oke…,” sahutku sambil duduk disampingnya. Harum rambutnya tercium dengan jelas ketika aku duduk dekat dengannya. Samar, parfumnya juga tercium, membuatku menghayalkan isi dibalik baju yang dikenakannya.

Kriiuuuuuukkkkkkkkkkkkk…

“Hahahaha, ada yang kelaparan ya mas?” tawa riang si-celana-dalam-putih mendengar suara perutku.

Sialan…

“Iya nih, mau masakin?” kataku sambil tersenyum.

Kena kau!

Perubahan wajahnya begitu terlihat. Sekarang dengan wajah cemberut dia memandangku.

“Sudah minta diantarkan kesini makan siangnya mas,” katanya sambil menunjuk handphonenya. Wajah cemberutnya berganti dengan senyum ketika dia melakukan itu.Dan matanya, bisa kulihat sinar kemenangan disana…

Aduhhhhhh….

Galang POV

Angin sepoi-sepoi berhembus, membuat mata ini sulit rasanya untuk tidak tertutup. Dengan mata yang mengantuk aku memandang keluar dari celah jendela ruang tamu ini. Iya, aku berada dirumah Herman sekarang. Setelah penyelidikan beberapa hari, tapi belum ada kemajuan berarti untuk kasus di G-Team.

“Dik Galang, ini kopinya,” sapa Mbak Marni sambil meletakkan segelas kopi diatas meja kayu jati, yang sudah tua namun terlihat masih kuat.

“Wah, jadi ngerepotin Mbakyu saja,” kataku, sedikit sungkan selalu merepotkan keluarga ini.

“Ngomong apa to dik, mbak kebelakang dulu ya, Mas Herman masih ganti baju, nanti juga kesini,” katanya sambil melangkah kebelakang.

Kuambil kopi yang ada diatas meja dan meneguknya dengan pelan. Rasa panas dari kopi yang mengalir di tenggorokanku, membuat mataku sedikit terbuka. Sayangnya, kasus ini masih belum juga ada titik terangnya. Biasanya semakin banyak petunjuk, semakin jelas suatu kasus. Namun tidak kali ini, semakin banyak petunjuk,justru semakin membuat kami bingung.

Kuteguk lagi kopi yang disediakan oleh Mbak Marni hingga habis setengah, saat pintu ruang tamu terbuka dan sesosok gadis berseragam SMA muncul dari balik pintu dan menyapaku dengan riang.

“Eh, ada Om Galang, sendirian aja om?” tanyanya dengan riang.

“Memang harus dengan siapa?” sahutku geli mendengar pertanyaannya.

“Ye, siapa tahu sama pacar atau selingkuhannya, hihihi, ” kata Tasya sambil tertawa dengan riang. Masih sambil tersenyum lebar dia melangkah mendekat dan duduk disebelahku. Roknya yang cukup mini, terangkat keatas ketika dia duduk, memperlihatkan paha mulus dan putihnya. Paha anak gadis yang sedang padat-padatnya! Tak terasa penisku mulai menggeliat dibawah sana.

“Hush, masih kecil udah ngomongin selingkuhan, eh, kok jam segini sudah pulang?” kataku sambil melirik jam didinding yang baru menunjukkan pukul 12.00.

“Udah 17 tahun neh om, bentar lagi ulang tahun tahu,” katanya sambil cemberut. “Gak ada guru om, jadi daripada diem gak ngapa-ngapain di kelas, kan mendingan pulang,” katanya dengan santai.

“Jadi, ceritanya sekarang bolos, makanya ngumpet disini?” kataku sambil tersenyum. “Ketahuan ibumu, bisa benjol tu kepalamu dijitaknya,” lanjutku santai.

“Ye, kalau om tidak cerita, kan tidak mungkin ketahuan?” katanya manja sambil dengan santainya menyilangkan kakinya. “Uugghhh, panas banget disini,” katanya sambil tangannya membuka dua kancing atas kemeja seragamnya. Mau tak mau aku menoleh kearah celah yang terbuka dari kemejanya, hanya untuk melihat gundukan kenyal yang terbungkus bra berwarna putih.

“Ckkckkck, yang begini nih, buat kita kalah jauh dari negara lain, kalau dari kecil saja sudah bolos, kalau besar gimana tuh?” kataku sambil menggelengkan kepala.

“Uhhhh, masa segini dibilang kecil lagi sih? Udah ada tonjolannya nih om, mau bukti?” katanya sambil membusungkan dadanya yang memang rasanya lebih montok dari gadis seusianya. Tak terasa aku sedikit menelan ludah melihat tonjolan yang membusung diantara baju seragamnya.

“Bukti apa?” suara berat Herman membuyarkan hayalanku. Kulihat Tasya mengancingkan kemejanya dan menurunkan kakinya dengan sedikit terburu-buru dengan masih membelakangi omnya.

“Bukti kalau Om Galang sudah punya pacar om, hihihi,” tawa Tasya sambil melirik dengan kearahku. Hilang sudah gadis yang menggoda itu, sekarang berganti dengan gadis yang kekanakan dan suka bercanda.

“Huh, Galang tu punya pacar yang berganti, bahkan setiap minggu!” ejek Herman sambil duduk di kursi, berhadapan dengan tempat dudukku dan Tasya. Dengan santai dia mengambil koran dan membacanya.

“Wah, ternyata om Galang! Tapi kok gak pernah diajak kesini om?” tanya Tasya.

Apa aku mendengar nada cemburu dalam suaranya? Ah…, pasti aku cuma berhayal saja.

“Mana bisa dia ngajak kesini, wong tidak ada yang bertahan lama,” ejek Herman. Lagi.

Kupandang Tasya, dan lagi, aku bisa melihat pandangan heran dan cemburu diwajahnya.

“Uhhh, gak ngerti, mending nyolong makanan dulu,” kata Tasya sambil melangkah pergi kedapur. Pantatnya yang lumayan bulat bergoyang dengan pelan ketika yang punya melangkah.

Hening sejenak ketika Tasya sudah berlalu. Tinggal aku dengan segelas kopi yang mulai dingin dan Herman yang masih dengan rajin membolak-balik halaman koran yang dipegangnya.

“Jadi, belum nemu petunjuk lagi Lang?” tanya Herman memecah kesunyian diantara kami. Koran yang sedari tadi dipegangnya sudah kembali ditaruh dimeja.

“Sampai saat ini belum Her, mungkin saatnya kita melihat kembali data apa saja yang telah kita dapatkan,” kataku pelan. “Fokus pada kejadian Andri tertembak, karena kurasa itu yang menjadi point utamanya,” lanjutku.

Herman melangkah kedalam kamarnya. Ketika keluar, dia membawa buku catatannya, yang biasa digunakannya untuk mencatat hal-hal dalam penyelidikan kami.

“Hmmmm, kita bisa mulai dari alibi tersangka, ” kata Herman sambil mebolak-balik catatannya. Udara semakin panas diruangan ini, angin yang tadi sempat berhembus, sekarang entah menghilang kemana.

“Kita mulai dari Frans,” kataku pelan.

“Frans..Frans…Frans,” kata Herman sambil melihat dicatatannya. “Pada saat hari kejadian, paginya dia mengaku berada di Bandung, mengunjungi panti asuhan tempatnya berasal, kemudian check in disebuah hotel dan pada saat waktu kejadian dia tidak mempunyai alibi yang pasti, hanya mengaku berjalan-jalan didaerah Puncak,” kata Herman membaca catatannya.

“Dan dari penelusuran kita, paginya dia memang mengunjungi panti asuhannya, siang sampai sore berada di hotel, berdasarkan kesaksian dari resepsionis dan juga satpam. Hanya saja aku merasa heran, kenapa dia seharian berada di kamar hotel?” kata Herman dengan ekspresi bingung.

Aku hanya bisa tersenyum memandang Herman. Dibesarkan di keluarga yang terbilang tradisional dan masih memegang teguh adat ketimuran. Dan masa mudanya dilewati dengan belajar dan belajar. Tidak heran, dia tidak bisa menebak apa yang dilakukan Frans di hotel seharian.

“Mungkin sama dengan yang kulakukan rutin setiap minggunya,” kataku datar. “Dan kalau kita bisa menemukan pasangannya, kita bisa membuktikan alibinya,” lanjutku.

Herman memandangku dengan pandangan yang sulit kukatakan. entah marah, kesal atau kagum.

“Tapi dia disana sampai pukul 7 malam, masih cukup waktu untuk kembali kesini dan menembak Andri,” kata Herman mengungkapkan analisisnya.

“kalau begitu, darimana dia tahu kalau Andri ada di Bidadari Massage? Memang dia dan Andri sering kesana, tapi kebetulan sekali dia tau Andri berada dimana pada saat itu tanpa menghubunginya,” jawabku.

Dan keheningan kembali diantara kami. Terlalu banyak kebetulan dan asumsi yang ada dalam kasus ini. Terlalu banyak kemungkinan yang ada.

“Tersangka berikutnya, Edy,” kataku.

“Edy…Edy…Edy…,” kata Herman sambil melihat catatannya. “Pada saat kejadian, dia punya alibi tak terbantahkan. Saat itu dia rapat dengan… Tony Firmansyah, CEO Alfa Medika, client utama G-Team. Dia bersama Erlina, sekretarisnya. Dan ada sekitar 7 saksi mata yang bersedia bersaksi untuknya,” jelas Edy.

“Hmmm, kalau begitu, tidak ada lagi yang bisa kita ragukan dari alibinya,” sahutku pelan. Dua tersangka utama untuk kasus ini, yang satu punya alibi yang sempurna, yang satu juga punya alibi walaupun masih ada celahnya. Sekarang, siapa lagi tersangka yang tersisa?

“Bagaimana dengan Lidya dan siapa namanya, temannya yang lagi satu,” kataku berusaha mengingat rekannya Lidya yang bertubuh lebih mungil dari Lidya.

“Temannya Lidya,…dia…, Lisa,” kata Herman setelah melihat catatannya. “Kalau untuk Lidya, pada saat kejadian dia sedang berada di mess dengan Lisa, jadi alibinya pun kuat,” kata Herman sambil memandang kearahku.

Semua tersangka utama mempunyai alibi masing-masing. Kasus yang rumit. Dengan malas aku mengalihkan pandangan keluar. Dari sela-sela jendela aku bisa melihat anak-anak dengan seragam biru dan abu-abu berjalan disepanjang jalan yang berdebu.

Seorang wanita terlihat membuka pagar dan menuju kearah pintu ruang tamu, wanita itu, Mirna!

Tok…tok…tok…

“Sebentar,” sahut Herman sambil menuju kepintu dan membukanya. “Eh, Mir, ada apa? Masuk dulu,” kata Herman sambil menyilahkan Mira masuk. Dengan kaos ketat dan celana leggingnya, Mira terlihat seperti gadis belasan tahun dibandingkan dengan seorang ibu yang sudah mempunyai anak remaja.

“Eh ada Mas Galang, kebetulan neh, mau minta tolong benerin keran kamar mandi, bocor neh mas,” katanya sambil tersenyum kearahku.

Senyum yang mengandung berjuta makna.

“Kalau begitu sana dulu Lang, aku tidur dulu kalau begitu hahaha,” tawa Herman sambil beranjak kekamarnya. Dengan usia sepertinya, berhari-hari mencari petunjuk untuk sebuah kasus memang bukan hal yang mudah. Mungkin memang saatnya dia dapat istirahat lebih hari ini. Kualihkan pandangan kearah Mirna, yang sekarang tersenyum mesum kearahku.

Rasanya bukan hanya keran yang bocor jadi masalahnya ini…

“Ayo mas,” katanya sambil melangkah menuju kerumahnya. Pantatnya yang bahenol dan tentu saja lebih besar dan bulat dari punya Tasya sekarang terlihat bergoyang dengan aduhainya didepan mataku. Aku melngkah pelan mengikutinya.

Didalam rumah, Mirna mengajakku masuk kesebuah kamar tidur yang cukup besar. Didalamnya terdapat kamar mandi dengan shower dan wastafel. Ternyata bukan keran yang bocor, namun pipa wastafelnya yang tersumbat.

“Ada tang dan kunci inggris?” tanyaku pada Mirna yang dijawab dengan anggukan. Kulihat dia menuju keluar dan tidak lama kemudian kembali dengan kotak peralatan yang cukup lengkap.

Kupandang dia dengan sedikit heran.

“Milik almarhum suamiku,” katanya dengan datar.

Dengan senyum maklum aku mengambil kotak peralatan dari tangannya dan mulai mencoba mengatasi kebocoran yang terjadi. Beberapa saat aku fokus pada usahaku mengatasi kebocoran itu hingga tak sadar kalau Mirna tidak berada didepanku lagi.

Mungkin kebelakang, pikirku sambil melanjutkan mengatasi kebocoran di wastafelnya.

“Akhirnya selesai juga,” kataku setelah beberapa lama.

“Kalau sudah selesai, sekarang tinggal ambil upahnya mas,” suara Mirna terdengar dekat dan ketika aku mendongak, pemandangan didepanku membuat sesuatu dibawah sana menggeliat…

Andri POV

“Aku yang presentasi besok!” kata si-celana-dalam-putih tegas.

“Tapi Lid,”

“Mas kan lagi sakit, untuk besok serahkan padaku!” katanya lagi, sekarang dengan dagu yang sudah terangkat keatas. Ekpresi khasnya jika dia sedang tidak mau mengalah atau menginginkan sesuatu.

“Sakitnya mas kan tidak terlalu parah Lid, lagian dokter sendiri bilang kalau aku sudah bisa kerja Lid,” bantahku padanya.

“Pokoknya besok aku yang presentasi! Titik!” katanya dengan mata yang bersinar keras.

Dasar keras kepala!

“Tapi apa kamu sudah hapal semua materinya? Dan mengerti bagaimana alur antarmukanya?” tanyaku dengan tersenyum.

Sejenak si-celana-dalam-putih terdiam. Mulutnya hendak terbuka beberapa kali, namun tertutup kembali. Tangannya yang kecil terlihat terkepal. Wajahnya yang menahan amarah terlihat begitu bersinar, begitu hidup.

“Akuu…aku…, aku akan hapalkan mulai sekarang, jadi besok sudah bisa langsung presentasi!” katanya dengan mantap.

“Tapi Lid, kalau kita bagi tugas, kita bisa melakukannya dengan lebih baik dan lebih mudah, kita kan partner,” jelasku.

“Tidak! Kali ini aku sendiri mas!”

“Kenapa?!” tanyaku tak bisa menahan kata-kata itu keluar dari mulutku.

“Kenapa? Mas tanya kenapa? Lihat mas, saat ini kita buat semuanya di perusahaan mas, dengan sumber daya yang sebagian besar dari perusahaan mas, perusahaanku hanya sebagai penggenap, tidak ada artinya dengan perusahaan mas!” katanya sambil berdiri, raut marah dan tertekan terlihat diwajahnya.

Hmmm, jadi itu alasannya.

“Lid, kita partner, sudah seharusnya kita mengeluarkan semua kemampuan dan sumberdaya yang kita miliki untuk mencapai tujuan yang kita inginkan,” kataku sambil berdiri, dan mencoba mengajaknya duduk. Yang tentu saja, ditolaknya.

“Mas bisa berkata seperti itu karena mas tidak ada di situasiku, aku gak enak, terus-menerus merepotkan G-Team dan mas!” jawabnya sambil mendekat kearahku dengan dagu runcingnya yang terangkat keatas.

Jarak diantara kami semakin dekat, bisa kurasakan hembusan nafasnya di mukaku. Matanya yang kecil terbuka dan sinar amarah dan penasaran terlihat disana.

“Mas, mbak, aku gak mengganggu kan?” sebuah suara terdengar dipintu. Bersamaan kami menoleh kesumber suara, dan terlihat Shinta berdiri dengan canggung di ambang pintu, sebuah bungkusan terlihat ditangannya. Dengan tergesa si-celana-dalam-putih melangkah mundur dan menyapa Shinta.

“Eh, gak kok Shin, kami cuma berdebat masalah besok,” sahut si-celana-dalam-putih sambil duduk. Terlihat rona merah diwajahnya.

“Mbak, ini cuma mau nganterin makanan yang mbak pesan,” kata Shinta sambil melangkah mendekat dan menaruh bungkusan yang dibawanya dimeja. “Makan dulu mbak, mas,” katanya kepada kami.

“Mbak belum lapar Shin,” sahut si-celana-dalam-putih sambil terus mengetik di laptopku. Harum bau masakna yang tercium dari bungkusan yang dibawa Shinta sungguh menggoda, dan…

Kriiiiuuuuuukkkkk…..

Kriiiiuuuuuukkkkk…..Kriiiiuuuuuukkkkk…..

Suara nyaring perutku dan si-celana-dalam-putih terdengar bersahutan.

“Hahahahaha…..”

“Hahahahahahha….,” tawaku dan Shinta terdengar bersamaan, bersamaan dengan wajah si-celana-dalam-putih yang memerah. Sangat merah kali ini.

~ ~ ~ * * * ~ ~ ~

“Lid, kita partner, sudah seharusnya kita mengeluarkan semua kemampuan dan sumberdaya yang kita miliki untuk mencapai tujuan yang kita inginkan,” suara lelaki terdengar dari sebuah perangkat elektronik yang ada dimeja, didepan seorang lelaki yang terlihat asyik mendengarkannya. Di layar terlihat, live feed seorang lelaki dan wanita yang sedang duduk.

“Mas bisa berkata seperti itu karena mas tidak ada di situasiku, aku gak enak, terus-menerus merepotkan G-Team dan mas!” sekarang suara seorang wanita menimpali.

“Mas, mbak, aku gak mengganggu kan?” suara lain terdengar sedikit pelan, mungkin jaraknya jauh dengan dua suara pertama.

“Eh, gak kok Shin, kami cuma berdebat masalah besok,” suara wanita pertama terdengar kembali.

“Mbak, ini cuma mau nganterin makanan yang mbak pesan,” Suara yang lebih pelan kembali terdengar “Makan dulu mbak, mas,” lanjutnya.
“Mbak belum lapar Shin,” Sahut suara wanita pertama.

Kriiiiuuuuuukkkkk…..

Kriiiiuuuuuukkkkk…..Kriiiiuuuuuukkkkk…..

Bunyi perut yang perlu diisi terdengar nyaring.

“Hahahahaha…..”

“Hahahahahahha….,” dan dua buah tawa terdengar kembali.

Live feed itu terhenti sampai disitu.

“Ah, sial, pasti tidak dicharge,” suara lelaki yang dari tadi asik mendengarkan live feed yang diterimanya.

“Sudah cukup banyak informasi yang kita peroleh, aku cukup kuatir dengan file yang berhasil mereka dapat, kita harus mendapatkannya kembali,” suara seorang wanita dari belakang si lelaki.

“Dan satu lagi, tidak hanya bukti, tapi semua saksi juga harus dihilangkan,” kata si lelaki dengan datar. Sedatar mukanya yang melihat peralatan elektronik yang ada didepannya.

“Tentu saja, siapa yang akan melakukannya?” tanya si wanita yang sekarang berdiri disamping si lelaki.

“Siapa lagi?” tanya silelaki sambil tersenyum.

Senyum kematian…

~ ~ ~ * * * ~ ~ ~​

Galang POV

“Akhirnya selesai juga,” kataku setelah beberapa lama.

“Kalau sudah selesai, sekarang tinggal ambil upahnya mas,” suara Mirna terdengar dekat dan ketika aku mendongak, pemandangan didepanku membuat sesuatu dibawah sana menggeliat…

Disana, Mirna, tanpa sehelai benangpun menempel dibadannya. Payudaranya terlihat begitu menggoda. Terlihat wajahnya merona merah, sungguh menantang. Dengan sedikit bingung aku berdiri.

Dengan cepat Mirna menuju kearahku, tangannya langsung membuka celana dan celana dalamku dan menurunkannya kebawah. Penisku yang sudah sedikit tegang terbebas dari sarangnya.

“Mir, sebentar lagi Tasya pulang,” bisikku.

“30 menit lagi, sudah lebih dari cukup kan mas?” sahutnya sambil berlutut didekat kakiku dan mulai mengulum kepala penisku. Sambil mulutnya memberikan kenikmatan, matanya memandang ekspresi keenakan diwajahku, tangannya juga tak tinggal diam, ikut memberi rangsangan di kakiku. Tak perlu waktu lama,penisku sudah sampai ke ukuran maksimalnya. Bukannya berhenti, Mirna semakin cepat memaju mundurkan kepalanya di penisku.

Dan bahkan sekarang…

“Ughghhh,,,uhhh…,” suara teredam terdengar dari mulut Mirna yang berusaha mengulum penisku sampai dengan kepangkal. Sebuah deepthroat!

“Ughhhhh, Mir,” lenguhku, merasakan hangatnya tenggorokannya menggesek pelan kepala penisku. Kutekan kepalanya lebih dekat, dan lebih dalam.

“Ugghhhh,,,ugghhh,,,huhhhh..,” suara tertahan dari Mirna, tangannya mmenggapai tanganku dan menariknya menjauh dari kepalanya.

“Hah…hah…hah…, mas jahat!” katanya dengan nafas yang menderu, bisa kulihat keringat membasahi wajahnya yang bersemu merah. Sambil tersenyum dia bangkit dan membalikkan badannya sehingga pantatnya yang bulat menghadap kearahku. Sambil tersenyum mesum dia menjulurkan lidahnya, membasahi bibir bawahnya. Dengan gerakan yang sensual, dia berpegangan pada westafel dan perlahan pantatnya semakin menungging…

Dengan tak sabar aku melangkah mendekatinya, kuraba sejenak pantatnya yang bulat dan meraba celah diantara pahanya.

Sangat basah…

Dengan tersenyum aku memasukkan satu jari kedalam vaginanya dan mulai mengocok dengan cepat.

“Ahhh, mas!” desahnya pelan.

Kutambah satu jari lagi dan bisa kurasakan otot vaginanya menjepit jariku.

“Ehhhmmm, tambah lagi mass!” katanya sambil tangan kirinya menggesek klitoris dan tangan kanannya meremas payudaranya sendiri.

Satu jari lagi dan vaginanya memijat pelan jariku didalam sana. Sambil tersenyum aku mennggerakkan jariku dengan cepat.

“Massss, cepetinnnn!” desis Mirna, tangannya kulihat semakin cepat menggosok klitorisnya, demikian pula dengan deru nafasnya.

“Massss!” teriak Mirna ketika orgasme itu melandanya. Punggungnya melengkung keatas dan vaginanya menjepit erat jariku.

Srrrrrr…..ssrrrrrr….srrrrrr.

Cairan vagina Mirna mengalir dengan deras keluar, membasahi tangan dan pahanya.
Badannya terus bergetar merasakan kenikmatan yang bersumber dipangkal pahanya.

Dengan tak sabar aku mengarahkan penisku kedalam celah vaginanya…

“Mas, jangan du…AHHHHHHhhhhhhhhhhhhhh,” teriak Mirna ketika dengan sekali hentak penisku menerobos masuk kedalam vaginanya yang masih basah akibat cairan orgasmenya.

“Ssstttt, mas! Jangan digerakin dulu, masih kerasa ngeganjel didalam,” pinta Mirna sambil menahan tubuhku. Vaginanya terasa sangat mencengkeram didalam sana.

Hmmmmmmm, mungkin karena jarang dipakai.

Pikirku.

Tapi, kalau vagina Mirna saja seperti ini, bagaimana dengan…

Lamunanku terhenti karena remasan pelan di penisku, kulihat kebawah dan Mirna tersenyum ketika tahu aku merasakan remasan nakalnya dibawah sana. Dan itu kuartikan sebagai tanda dia sudah siap.

Dengan pelan aku mulai memajumundurkan penisku di vaginanya yang masih terasa sempit.

“Sttt, pelan-pelan mas,” pinta Mira sambil menggigit bibir bawahnya, begitu panas, seksi dan berpengalaman. Bisa kurasakan vaginanya semakin licin seirign gerakan penisku yang semakin cepat. Mirna mengimbangi gerakanku dengan memainkan otot kegelnya, sesekali diselingi dengan pantatnya yang bergoyang memutar, serasa meremas pelan penisku.

“Ahhh, mas…. ssttttsss, cepetin mas!” pinta Mirna ketika sudah sepuluh menit lebih kami berpacu. Dengan senang hati aku menurutinya.

Plakkk…plak…

“Aahhhh, mas!” jerit Mirna ketika kutampar pantatnya ang sedikit berkeringat.

“Lebih keras mas! Lebih Ke”

Plakkkk…plakkkk…

“Sttttt,,,ahhhhhhh,massssss! Mirna udah mau nyampe laghi!” teriak Mirna ditengah tamparan dan kocokan penisku. Bisa kurasakan liangnya semakin basah dan semakin menjepit. Pantatnya bergoyang dengan liar, mengikuti liarnya kocokan penisku di vaginanya.

Penisku terasa dipijit dan diplintir didalam sana, walaupun sudah mempunyai anak, pijatan vaginanya begitu kencang, mungkin karena Mirna rajin melatih otot kegelnya dan juga vaginanya jarang dipakai.

Vagina Mirna semakin keras menjepit penisku, mungkin sebentar lagi dia akan mencapai orgasme yang kedua. Ketika aku merasakan seolah kami diawasi dan ketika aku melihat kesamping, sorot mata yang penuh nafsu memandang kami.

Tasya!

Aku menghentikan kocokanku pada liang sempit Mirna, dengan bingung aku memandang Mirna dan Tasya, ragu apa yang harus aku katakan. Tidak ada jalan menghindar lagi.

“Ahhhhh, mas kok di…em…” kata Mirna berhenti ditengah jalan ketika sambil mengatakan itu dia menoleh kearahku dan pandangannya bertemu dengan pandangan Tasya.

“Ta…sya? Eh, mama…,” dengan terbata Mirna mencoba menjelaskan yang kami lakukan, namun, tubuhnya masih tetap bergoyang dengan hebatnya.

Nafsu telah mengalahkan logikanya.

“Mama! Om! Kok gak ngajak-ngajak Tasya sih?” kata Tasya dengan nada yang merajuk.

“Eh, Tasya, ini…, ini… kami bukan seperti yang kamu duga…,” elak Mirna. Namun kenyataan kalau penisku masih menancap divaginanya dan pinggulnya yang terus bergoyang mematahkan semua alasan yang coba di katakannya.

“Ah mama, Tasya bukan anak kecil lagi! Kalau mama boleh sama Om Galang, berarti Tasya juga boleh kan?” tanya Tasya, pertanyaan yang rasanya tidak memerlukan jawaban. Sambil mendekat, Tasya membuka kemeja yang digunakannya hingga hanya menyisakan sebuah bra putih yang terlihat tak mampu menampung bukitnya yang penuh. “Boleh kan ma?” tanya Tasya sambil tangannya dengan nakalnya meremas payudara Mirna!

“Aaahhhhhhh, Tasya! Sssttttttt…..uuuuhhhhhh….., Tasya! Ja…ngan…!” kata Mirna.

“Jangan apa ma?” goda Tasya, tangannya semakin keras meremas payudara ibunya, kali ini, bahkan jempol dan telunjuknya dengan ahli memilin puting ibunya yang sudah mengeras. Bisa kurasakan goyangan Mirna semakin keras dan liar.

“Jangan ber..hen…ti!” teriak Mirna sambil menangkupkan tangannya di tangan Tasya dan meremamasnya dengan keras. Goyangan Mirna semakin liar yang dibarengi dengan cairan pelumas yang semakin banyak keluar, sebagian bahkan menetes kelantai kamar mandi yang dingin.

“Massss….ahhhhhh,,,, Mirna,,,nyam…peeeeee!” teriak Mirna ketika orgasme itu melandanya.

Plooopppp….

Penisku terlepas dari vaginanya dan…

Srrrrrr…srrrrr….sssrrrrrrrrrr………..

Cairan vaginanya keluar dengan deras, dengan kaki yang bergetar hebat, Mirna terduduk dilantai. Masih bisa kulihat cairan vagina meleleh keluar dari sela-sela lipatan vagina yang masih bisa menjepit dengan erat itu.

Kualihkan pandanganku kearah Tasya yang kebetulan juga memandangku, dan pandangannya itu. Pandangan betina yang kelaparan…

~ ~ ~ * * * ~ ~ ~​

Mess G-Team.
Lantai 3
24.00

Lidya POV

“Mas, bagianku sudah selesai, punya mas bagaimana?” tanyaku kepada si-mata-keranjang yang sedang serius mengetik dilaptopnya.

“Bentar lagi Lid,” katanya tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop yang digunakannya.

Kulirik jam dilaptopku. 24.05. Huffftttt…, hari yang melelahkan. Karena keterlambatan demo project yang kami dapatkan, baru sedari 3 jam lalu kami bisa membuat presentasi dan mempelajari demo yang disiapkan. Terpaksa kami bagi tugas, aku membuat presentasinya sedangkan si-mata-keranjang mempelajari demo proyeknya, mencari bug yang ada.

Kulihat si-mata-keranjang. Sungguh berbeda, orang yang ku lihat serius serius sekarang, dibandingkan dengan orang yang kulihat tertidur lelap saat dirumah sakit atau orang yang memandangku dengan pandangan yang penuh nafsu. sebenarnya, tipe orang seperti apakah dia?

“Huaaahhhmmmnnnn…,” tak kuasa aku menahan kantuk. Dengan deadline yang padat seperti ini, waktu istrirahat yang terbatas, membuat daya tahan tubuhku rasanya semakin lemah saja. Kupejamkan mata sejenak dan kepalaku rasanya semakin berat saja. Kubuka mata dan sambil memandang si-mata-keranjang yang masih sibuk mempelajari demo proyeknya, aku rebahkan kepalaku diatas meja. Perlahan, mataku semakin tertutup dan …

Andri POV

Hmmmmmnnn, sedikit lagi. Dan demo ini rasanya sudah tidak ada bug yang begitu penting. Sudah cukup rasanya untuk demo besok. Kulihat jam di laptop. 01.15. Sudah hampir pagi.

Kulihat si-celana-dalam-putih. Tak kuasa aku menahan senyum ketika melihat dia tertidur diatas meja. begitu tenang dan damai.

“Lid…Lid, bangun…, ” coba kugoyangkan pundaknya untuk membangunkannnya, namun tidak ada respon.

Andai saja kondisiku sudah lebih baik, mungkin aku bisa menggendongnya ke kamar tidur, tapi dengan kondisiku sekarang…

Dengan perlahan aku berdiri dan mengambil bantal dan selimut dari kamar. Dengan perlahan aku meletakkan bantal di meja dan berusaha memindahkan kepalanya keatas bantal.

“Uuuuhhhhh…,” si-celana-dalam-putih sedikit menggeliat dan kepalanya berada di pundakku.

Bagaimana sekarang?

Wajahnya yang tertidur begitu tenang, sangat berbeda dengan wajah galak yang tidak mau mengalah yang biasa ditunjukannya. Dengan sedikit ragu kuelus kepalanya. Samar tercium wangi shampo dari rambutnya. Rambut yang menutupi pundaknya yang…

Tunggu dulu!

Apa ini? Bekas seperti luka yang memanjang terlihat dipunggungnya. Kucoba menyibakkan kaos yang dipakainya dan beberapa bekas luka lain terlihat. Seperti…

Kulihat juga bekas luka lain, tapi yang ini bundar, kecil. Seperti bekas…

Jangan-jangan….

Bersambung