Rahasia Gelap Part 36

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Tamat

Cerita Sex Dewasa Rahasia Gelap Part 36 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Rahasia Gelap Part 35

Galang POV

Apa benar ini tempatnya?

Sepintas, tidak seperti tempat yang sering aku kunjungi. Dari luar, tidak ada papan nama atau security berbadan kekar yang menjaga. Tidak juga ada mobil-mobil yang biasanya berderet di sepanjang parkirnya. Memang, aku juga berjalan kaki menuju tempat ini.

Tapi, apakah yang lain juga mau begitu?

Dengan sedikit ragu aku menuju kepintu rumah yang bergaya victorian ini.Dari pintu pagar yang terbuka menuju kepintu, sebuah jalan setapak membelah padang rumput yang terhampar. Pintu rumah dalam keadaan yang terbuka. Kembali rasa ragu menghampiri.

South-Yarra-01.jpg

Dengan memantapkan hati, aku melewati pintu dengan pelan dan seorang gadis menyambutku dari belakang meja setinggi pinggul.

“Selamat datang di Victorian Club, ada yang bisa saya bantu mas?” tanyanya dengan ramah. Kuamati sebentar dirinya.

Pakaiannya seperti gadis kantoran dengan blouse yang rapi dan ketat. Wajahnya manis, dihiasi dengan lesung pipit. Gaya bicaranya halus dan tenang, seperti gadis yang terpelajar. Tidak seharusnya dia berada ditempat seperti ini…

“Hmmm, apa perlu ditanya lagi keperluan saya?” jawabku dengan tenang.

Sigadis resepsionis tersenyum, bibirnya yang merah membentuk garis lengkung yang menawan.

“Kalau begitu, pertanyaannya sama ubah, cari gadis yang seperti apa?” tanyanya dengan menggoda.

Ini baru benar!

“Yang anda rekomendasikan siapa?” tanyaku balik.

Kembali dia tersenyum. Dengan tenang dia mengambil sebuah tablet phone dan menunjukkan koleksi gadis-gadis yang ada disana.

Semakin canggih rasanya, bisnis seperti inipun sudah menggunakan tekhnologi seperti ini. Kuambil tablet yang diberikannya, foto gadis-gadis seksi dengan keterangan lingkar dada, ukuran payudara, tinggi, berat serta feenyapun ada. Ada juga pilihan tempat serta ruangan yang diinginkan beserta fee per jamnya atau perhari jika memilih long time.

Benar-benar beda dengan biasa yang kugunakan, dan semoga yang aku caripun ada disini.

“Sudah ada pilihan mas?” tanya sigadis resepsionis dengan tersenyum.

“Hmmm, bisa bantu yang mana yang bagus?” kataku diplomatis.

“Hmmmm, kalau suka yang ‘baru’ dan belum pengalaman, ini pilihan yang bagus,” katanya sambil menunjuk foto seorang gadis yang terlihat lugu.”Yang ini bisa depan, belakang, atas atau bawah, yang ini suka blowjob,” terangnya sambil menunjuk setiap foto yang dimaksudkannya.

“Hmmm, yang ini paling ‘ganas’ diantara semuanya mas, bisa diajak semua gaya, tapi untuk pintu belakang ada fee khusus dan harus pake pengaman,” terangnya sambil menunjuk seorang gadis yang terlihat manis dengan rambut sebahu. Matanya terlihat tajam dengan payudara yang sedang. Pantatnya terlihat lumayan menonjol kebelakang.

“Oke, yang ini saja, long time,” kataku sambil tersenyum.

“Baik mas, oh iya, disini bayarnya langsung disini, dan jumlahnya ini,” katanya sambil menunjukkan tabletnya, yang sekarang berisi angka.

Lumayan, 8 digit. Pikirku.

Setelah menyelesaikan pembayaran, sigadis resepsionis memberikannya satu buah kunci yang bertuliskan nomer kamar.

No 3.

“Mari saya antar mas,” katanya ramah sambil melangkah ketangga. Dan, tunggu!

Kucabut pernyataan kalau pakaiannya rapi seperti gadis kantoran. Karena ternyata dibagian bawahnya dia tidak mengenakan apapun kecuali thong warna putih dengan garter belt dan stocking warna hitam. Kontras dan seksi dikulitnya yang putih dan pantat yang lumayan membulat.Pantat yang sekarang berlenggok dengan pelan didepanku.

Kami menuju ke lantai dua rumah yang luas ini. “Ada berapa kamar disini mbak?” tanyaku penasaran.

“Dilantai dua ada 10 kamar mas, kalau lantai dasar ada 5 kamar, jadi totalnya ada 15 kamar,” sahutnya dengan lugas.
“Dan ini kamar mas,”katanya ketika kami tiba di kamar yang terletak tidak jauh dari lorong. “Semoga berkenan ya mas,” katanya sambil tersenyum.

“Mau ikut mbak?” godaku sambil memandangnya dengan serius.

“Ah mas bisa aja, saya tugasnya kan didepan sekarang,” katanya dengan wajah memerah.

“Habis tugas kan bisa,” godaku lagi.

“Lihat nanti mas, itupun kalau kantong mas yang ada dibawah masih ada sisanya, ” katanya sambil melangkah menjauh. Pantatnya terlihat sengaja digerakkan dengan lebih keras ketika berjalan menjauh.

Kupandang daun pintu yang menjadi pemisahku dengan bidadariku malam ini.

Semoga aku bisa menemukan apa yang kucari malam ini, semoga.

Keketuk pintu dengan pelan.

Tok..tok…tok…

Tak lama kemudian pintu terbuka, dan seorang gadis yang lebih cantik dari difoto terlihat di ambang pintu.

“Mari masuk mas,” katanya sambil melangkah kesamping hingga aku bisa melangkah kedalam.

Kuamati kamar bergaya victorian ini, sebuah ranjang kingsize dengan ranjang yang cukup tinggi serta meja kecil diujung ranjang. Sebuah sofa terletak didekat dinding yang berhiaskan sebuah lukisan abstrak. Diujung kamar terlihat sebuah kamar mandi yang hanya dibatasi dengan kaca transparan. Sungguh bernuansa seksi dan menantang.

Dan sekarang, kualihkan perhatianku kepada bidadari yang akan menemaiku melewati malam ini. Dengan dress hitam ketat warna hitam yang begitu kontras dengan kulit putihnya. Sebuah highhell berwarna senada dengan dress yang dikenakannya menambah kesan eksotiknya. Make up minimalis serta anting sederhana yang menghiasi wajahnya terlihat menonjolkan kecantikannya.

“Mau minum apa mas?” tawarnya dengan ramah.

“Sooft drink aja,” kataku sambil duduk disofa.

Kuamati dirinya ketika mengambil soft drink di mibar yang terletak disebelah meja kecil disamping ranjang. Pantatnya yang lumayan besar terlihat membulat ketika yang punya membungkuk ketika mengambil minuman. Tak terasa sesuatu yang dibawah mulai menggeliat pelan.

“Ini mas minumannya,” katanya sambil membungkuk, memberikan kaleng minuman ketanganku. Sebuah pemandangan yang indah tersaji didepanku ketika dia membungkuk, pemandangan sebuah lembah yang diapit dua buah bukit yang membulat indah yang tak dibungkus apa-apa kecuali dress hitam.

Aku tersenyum atas minuman yang diberikannya kepadaku dan pemandangan indah yang tersaji tadi. Dia juga terlihat tersenyum ketika tahu aku memperhatikan tubuhnya.

“Oh iya, Listia, panggil aja Tia mas,” katanya sambil mengulurkan tangan memperkenalkan dirinya.

“Galang,” sahutku singkat sambil menyambut uluran tangannya.

Halus dan hangat. Pikirku ketika tanganku menjabat tangannya.

Tia duduk disampingku disofa, samar, harum bunga mawar tercium dari tubuhnya. Kuminum soft drink yang diberikannya kepadaku. Kugelengkan sedikit kepalaku yang terasa sedikit kaku.

“Mau Tia pijet bahunya mas?” tanyanya dengan ramah.

“Boleh Tia,” jawabku spontan.

Kuletakkan kaleng soft drink yang kuminum dilantai, kugeser tubuhku sehingga punggungku menghadap kearah Tia. Dengan perlahan Tia memijit bahuku dari balik kemeja yang kukenakan. “Tia buka ya mas,” katanya sambil membuka kemejaku dari belakang. Otomatis dadanya menekan punggung, rasa hangat dan kenyal dari dua buah bukit dipunggungku membuat penisku mulai menggeliat dibawah sana.

Tangan lentik Tia mulai memijat pelan bahu dan kepalaku, untuk seorang dengan profesi sepertinya, pijatannya lumayan enak. Setelah lewat sepuluh menit, perlahan, tangan itu turun kebawah, kearah pinggang dan menuju kedepan. Tangan lentik itu mulai mengelus tonjolan yang ada didepan tubuhku.

“Mas, Tia mau mandi dulu ya,” kata Tia setelah sekitar 15 menit memijat bahuku. Kuamati ketika dia berbalik dan menuju ke kamar mandi yang terletak disudut ruangan. Tangannya sekarang terulur kebelakang melewati kepalanya, membuka simpul gaun dibelakang lehernya. Perlahan, gaun hitam ketat itu terjatuh kelantai yang dingin, menyisakan pinggul yang membulat dan tonjolan pantat yang padat sempurna.

Dengan langkah anggun Tia melangkah menuju kekamar mandi, pantatnya bergoyang dengan pelan, seolah tau, ada mata yang memandang dengan kagum.

Suara keran shower menandakan ritual mandi Tia dimulai. Dari balik kaca yang semi transparan, gerakan gemulai Tia membuat nafsuku naik. Sambil tetap memperhatikan kaca yang sekarang sedikit buram karena terkena air, celana panjang dan dalam kuturunkan. Sebagai gantinya, sebuah handuk kulilitkan dipinggang.

Tak berapa lama, Tia keluar dari kamar mandi dengan sehelai handuk yang menutupi sebagian payudaranya. Dengan tersenyum dia mendekatiku yang sekarang duduk diranjang yang cukup tinggi. Dengan gaya menggoda, handuk yang menutupi tubuhnya terjatuh kelantai, hingga tubuh indahnya yang putih mulus sekarang terhidang didepanku.

Payudara yang tidak terlalu besar namun dengan puting yang masih kemerahan dan tergantung dengan indah. Perut yang rata, pinggang yang kecil. Pandanganku turun kebawah, kearah vaginanya yang bersih dan garis lurus yang memanjang menandakan masih jarang digunakan.

Hmmmm, sekali lagi bukan yang kucari…

Dengan tersenyum kutarik tubuhnya mendekat dan seolah mengerti yang kumau, Tia menciumiku dengan lembut dan pelan. Seolah waktu menjadi milik kami berdua sekarang. Perlahan tangan Tia membuka handuk yang kukenakan dan membelai penisku yang sudah menegang dengan sempurna.

“Hmmmpphhh,” suara Tia pelan ketika tangannya mencoba mengukur penisku. Bisa kurasakan sedikit kekagetan diwajahnya ketika dia memegang penisku, yang tidak terlalu panjang namun cukup besar. Kulepaskan ciuman Tia dan mulutku menyusuri pinggiran payudaranya yang padat.

“Sssttt…mas…,” desisan keluar perlahan dari bibir Tia ketika lidahku bermain di putingnya yang mulai mengeras. Tangannya beralih dari penisku dan meremas rambutku dengan pelan. Tangan kiriku sekarang meremas pelan pantatnya yang membulat sedangkan jari tangan kananku turun kebawah, bermain-main di lipatan vaginanya yang sudah mengeluarkan cairan pelumas.

“Aaahhhh, mas…,” desis Tia ketika jariku menggosok klitorisnya yang masih tersembunyi. Tangannya semakin keras meremas rambutku dan sekarang pinggulnya bergerak-gerak seolah ingin kenikmatan lebih dari jariku.
Dan…

“Massssssss!!!” jeritnya ketika pinggulnya bergerak liar dan menjepit tanganku, punggungnya melengkung dengan indah yang diikuti dengan nafas yang memburu. Kurasakan cairan menyembur dari vaginanya yang sekarang terlihat berkilat.

Squirt? Secepat ini?

Dengan pandangan bertanya dan kagum aku pandangi wajah Tia yang berkeringat dan berwarna kemerahan setelah squirting orgasme yang cepat. Terlihat dia sedikit malu dengan pandanganku.

“Maaf mas, tangannya jadi basah,” kata Tia dengan nafas yang sedikit memburu. Dia kemudian memegang tanganku yang basah dengan cairannya dan mengulumnya dengan sensual. Setelah jariku bersih, dengan sedikit terengah Tia berlutut dan menciumi perlahan penisku sambil memandang keatas, kearahku yang menikmati perlakuannya.

Ting..ting…ting…
Ting..ting…ting…
Ting..ting…ting…

Suara nada dering dari handphoneku terasa sangat mengganggu.

Sial. Herman, semoga ada berita bagus kali ini. Pikirku.

Kuambil handphoneku dan memberi isyarat Tia untuk tetap melanjutkan ciumannya.

“Halo Her…,” sapaku.

“Lang, dimana kau sekarang?” tanya Herman tak sabaran.

“Biasa,” jawabku singkat. Sementara Tia sudah memasukkan penisku kedalam mulutnya dan mulai mengulumnya. Terlihat dia sedikit kesulitan mengulum semua penisku.

“Dasar! Bagaimana kalau yang lain tahu? Sudahlah, ada kabar baru dari Bram, dia berhasil mendapatkan sesuatu dari file video itu dan meminta kita kesana sekarang,” kata Herman dengan tegas.

“Hmmm, baiklah, tunggu aku ditempatnya Bram,” kataku sambil menutup telepon. Sementara dibawah sana, Tia menguum penisku dengan cepat.

Kupegang kepalanya dan kulepas penisku dari mulutnya. “Kita quickie saja dulu ya, nanti habis kerjaan mas kesini lagi,” kataku pada Tia yang dijawab anggukan. Tia berdiri dan menuju salah satu meja yang di samping ranjang dan mengambil sebuah kondom!

Dengan langkah menggoda Tia menuju kearahku dan menunduk. Dia memasangkan kondom dengan menggunakan mulutnya!

Aku bangkit dari ranjang dan meminta Tia berpegangan disisi ranjang, sementara pantatnya diarahkan padaku. Kumasukkan jariku kedalam vaginanya yang sempit.

“Ssstt,,, mas,” desis Tia manja ketika satu jariku kugerakkan di vaginanya. Nafas Tia semakin memburu ketika dua jariku sekarang mengocok keras dan cepat vaginanya yang sudah basah kuyup.

“Mas, cepetin!!!” pinta Tia dengan nafas yang memburu. Kukocok dengan cepat vaginanya dan…

Syuurrrrrr…..

Cairan orgasmenya kembali memancar dengan deras, terlihat Tia melengkungkan tubuhnya dengan indah, jariku terasa dicepit dengan kuat divaginanya yang memerah dan basah. Nafasnya semakin memburu dan kulihat tungkainya sedikit gemetar.

“Tia, mas masukin ya?” tanyaku sambil mengarahkan penisku ke depan vaginanya yang masih mengeluarkan sedikit cairan.

“Pelan-pelan ya mas,” kata Tia sambil melebarkan kakinya dan menoleh kearahku dengan mata yang sayu dan menggigit bibirnya yang ranum.

Dengan pelan kucoba memasukkan penisku ke vaginanya yang sempit. Walaupun sudah sangat basah, aku cukup kesulitan memasukkannya.

“Ughhhh, mas, tunggu,, perih…,” desah Tia ketika kepala penisku berhasil menyeruak kedalam celah sempitnya. Kudiamkan sebentar kepala penisku disana. Payudaranya yang menggantung bebas kuraih dan kuremas, sambil mulutku menciumi punggungnya yang sedikit berkeringat. Perlahan, kepala penisku kucabut dan kumasukkan dengan perlahan. Rintihan Tia pelan tapi pasti berubah menjadi desahan ringan.

“Ehhmmm…mas…pelanin…,” desis Tia ketika aku memasukkan sedikit lebih dalam dan dalam. Tangan Tia menahan pinggulku maju lebih dalam lagi. Dengan sabar kutarik mundur sampai hampir terlepas dan masuk lagi sampai Tia menahannya. Begitu beberapa kali sampai hampir semua penisku berhasil menyeruak kedalam liangnya yang sangat ketat.

“Mas, Tia diatas ya?” pintanya yang kujawab dengan mencabut penisku dan melangkah keatas ranjang lalu berbaring dengan penis menghadap keatas.

Tia naik keatas tubuhku dan menggigit bibirnya ketika berusaha memasukkan penisku kedalam liangnya. Payudaranya yang menggantung sekarang bebas kuremas.

“Sstttt…ahhh, mas, kerasin,” pinta Tia yang tentu saja kuturuti dengan senang hati. Tia sekarang menggerakkan pinggulnya melingkar dan menggerakkan otot kegelnya sehingga penisku serasa diremas-remas didalam. Nafas Tia mulai memburu, itu artinya orgasmenya semakin dekat.

“Ahhhhhhhhhh….masssssss… Tia udah maauuu dappheetttt… lagi,” kata Tia terbata-bata. Gerakan pantatnya semakin liar dan cepat. Remasanku di payudaranya juga semakin keras. Dan akhirnya kurasakan tubuhnya bergetar sesaat dan punggungnya melengkung kedepan. Matanya sedikit mendelik hingga hanya putihnya saja yang kelihatan. Vaginanya meremas penisku dengan kuat sehingga akupun tak tahan lagi.

“Masssssss, Tia….Tiaaaaa nyampeeeeeee!!!” teriak Tia dengan keras sehingga mengejutkanku. Cairan vaginanya kurasakan mengalir disepanjang batang penisku. Terasa hangat. Basah.

Kucium mulut Tia sehingga desahannya sedikit teredam. Sekarang kugerakkan penisku dari bawah dengan cepat dan keras.

“Ughhhh,,mahss,” desah Tia sedikit kurang jelas karena mulutnya yang kucium dan payudaranya yang kuremas dengan keras. Terasa Tia sedikit meronta ketika penisku masuk sampai pangkalnya dan mengocok dnegan keras dan cepat.

“Massssssssssss!!!” teriak Tia ketika ciumanku terlepas dan tubuhnya diangkat dan….

Syurrrrrrrrr…

Cairan orgasmenya menyemprot dengan keras, membasahi perut dan ranjang. Aku yang sudah dekat dengan orgasme membalikkan tubuh Tia sehingga aku berada diatas dan Tia dibawah. Kulepas kondom dan kukocok penisku didepan wajahnya. Diluar dugaannku, Tia bangun dan mengulum penisku sampai kepangkalnya. Terlihat matanya sedikit mendelik ketika penisku menyentuh kerongkongannya.

“Ahhh, Tia!!!” desisku ketika spermaku menyembur kedalam mulut Tia, mungkin langsung tertelan olehnya.

“Ugghhh,,uhukkk.uhukk.uhukk…,” Tia terbatuk ketika penisku sudah keluar dari mulutnya. Wlaupun terbatuk, hebatnya tak ada lelehan sperma yang terlihat dari mulutnya. Semua tertelan olehnya!

Kami terbaring dengan nafas yang menderu beberap lamanya. Sebelum dengan malas aku melangkah kekamar mandi dan mulai mandi.

Bisa ngamuk si Herman kalau mencium bau wanita dari tubuhku, pikirku dengan geli.

Sehabis mandi aku kembali keranjang dan terlihat Tia tidur dengan lelap. Kelelahan, mungkin.

Aku beranjak kepintu.

Saatnya bekerja.

~ ~ ~ * * * ~ ~ ~​

“Halo Her…,”.

“Lang, dimana kau sekarang?”.

“Biasa,”.

“Dasar! Bagaimana kalau yang lain tahu? Sudahlah, ada kabar baru dari Bram, dia berhasil mendapatkan sesuatu dari file video itu dan meminta kita kesana sekarang,”.

“Hmmm, baiklah, tunggu aku ditempatnya Bram,”

Rekaman itu berhenti ketika seorang wanita menekan tombol pause di sebuah alat yang ada di sampingnya.

“Bagaimana sekarang bos?” tanyanya.

“KIta tunggu dulu perkembangannya,” kata lawan bicaranya sambil berjalan keluar. “Kau awasi saja kedua orang itu, aku ada sesuatu untuk dikerjakan sekarang,” serunya.

“Oke boss, “sahut si wanita sambil mengambil sebuah alat perekam lain dari sebuah laci.

Saatnya memasang alat yang lain, pikir siwanita sambil melangkah kepintu.

~ ~ ~ * * * ~ ~ ~​

Lidya POV

Dua pasang kaki yang jenjang terlihat didepanku dan ketika aku melihat keatas, Lisa dan Shinta memandangku dengan pandangan ‘lapar’.

Ohhhh, tidakkk….

Berhadapan dengan dua orang yang biseks seperti mereka, rasanya malam ini akan menjadi malam yang panjang.

“Lis, apa nih hukumannya orang yang masuk tanpa ijin dan ngintip?” tanya Shinta kearah Lisa yang wajahnya masih memerah.

“Gimana kalau kita telanjangin aja?” jawab Lisa sambil tersenyum jahil.

“Cuma ditelanjangin aja?” tanya Shinta sambil mengelus vaginanya yang sama seperti milikku, polos, tanpa sehelai rambut yang menutupinya.

“Hmmmm, kalau disuruh untuk puasin kita berdua, sanggup gak ya?” Kata Lisa dengan jahil.

“Eh, kalian lanjutin aja lagi, aku mau keluar aja,” elakku. Bukannya tak mau, tapi besok hari yang berat, dimana aku harus melanjutkan kerjasama dengan si-mata-keranjang untuk proyek yang deadline demo lagi dua hari. Dan kalau harus seruangan dengan dua macan betina yang lagi dimabuk birahi, aku takut besok tak akan bisa bangun pagi.

Kulihat Lisa dan Shinta saling pandang. Wajah mereka sama-sama dihiasi senyuman mesum dan seolah sudah diatur sebelumnya, mereka maju dan membuatku bangun dari dudukku dilantai. Mereka terus menghampiri sampai aku terdesak diranjang.

“Eh, kalian kenapa?” tanyaku dengan bingung melihat mereka menghampiriku dengan wajah yang kelabu berselimut gairah. Dengan serempak mereka memegang tanganku, bedanya, Lisa memegang tanganku sambil menaikkan kaos yang kupakai dan menciumku, sedangkan Shinta memegang tanganku sambil meloloskan celana legging yang kupakai.

“Ughhh, Shin…,” desisku ketika celana dalamku terlepas dan bisa kurasakan tangan Shinta menggesek pelan klitorisku. Sejenak mereka melepaskan tanganku dan sama-sama memandangku dengan heran.

Dengan nafas yang terengah-engah aku memandang bingung kearah mereka.

“Lis, tau gak, ternyata Mbak Lidya sudah basah, hihihi,”
kata Shinta kepada Lisa yang tak urung membuatku merasa malu.

“Iya nih, kaitan bra nya juga terlepas, rasanya ada yang baru kabur dari kandang macan,hihihi, “tawa Lisa mengetahui keadaanku. Wajahku kembali memanas, tertangkap basah dengan keaadaan seperti ini.

Kembali mereka memandangku dengan bernafsu dan sekarang mereka mendorongku hingga jatuh keranjang. Yang baru kusadari adalah kesalahan yang fatal karena dengan mudah Lisa mencium bibirku dan meloloskan kaos serta bra yang kupakai, sedangkan dibawah, Shinta memegang kakiku dan lidahnya yang panas kurasakan menelusui pahaku, menuju keatas, keatas lagi dan…

“Shinnnn!!!” teriakku ketika ciumanku dengan Lisa terlepas dan lidah Shinta menciumi bibir vaginaku dengan rakus. Ciuman yang bergerak keatas, kearah klitorisku yang sensitif. Dan penderitaan, atau lenih tepatnya, kenikmatan, itu bertambah dengan hisapan Lisa di putingku yang sudah membengkak sedari kamar si-mata-keranjang dan pilinan jarinya diputing yang satu lagi.

“Ssstttt, Shin, Lis, sudah…,” tolakku, hanya untuk menjaga wibawaku sebagai atasan mereka.

Wibawa yang hancur ketika aku malah menekan kepala mereka lebih dekat dan lebih keras dengan bagian sensitif ditubuhku yang semakin sensitif dibakar birahi ketika rasa itu semakin dekat!

“Ssstttt..ahhhh,” teriakku sedikit keras ketika Shinta mencium dengan intens klitorisku sedangkan Lisa mencium putingku dengan rakus. Tubuhku terasa mulai ringan, rasa itu mulai berkumpul di seluruh sel-sel tubuhku sebelum berkumpul menjadji satu di vaginaku.

“Aaahhhhhhhh, Mbak nyampeee!!!” teriakku ketika rasa itu meledak dibawah sana. Tubuhku melengekung namun tertahan oleh ciuman Lisa di payudaraku. Sesaat tulangku rasanya mau copot dan tubuhku melemas. Mengtahui aku sudah orgasme hebat, bukannya berhenti, Lisa malah semakin keras mencium payudaraku yang sudah memerah, sedangkan Shinta mencium klitorisku dengan semakin keras.

Lisa kembali menciumiku dengan ganas, tanganku yang bebas, sekarang gantian meremas payudara Lisa. Putingnya kupencet dengan keras, mengekpresikan kenikmatan yang aku dapat dari ulahnya dan Shinta. Dikeroyok seperti ini membuat nafsuku kembali naik dan tak perlu waktu lama ketika aku kembali berteriak histeris ketika orgasme yang tak kalah hebatnya menerpa diriku.

Kami sekarang terbaring bersama di ranjang ini, nafasku masih terengah akibat orgasme yang bertubi-tubi aku dapatkan.

Lisa bangkit dan memandangku dengan menggoda.

“Mbak, siap untuk ronde berikutnya?” tanyanya sambil memperlihatkan sebuah dildo dan vibrator yang diambilnya dari koper yang masih terjatuh dilantai.

“Iya nih mbak, sudah siap?” tanya Shinta. Ditangannya kulihat ada tali pramuka dan lakban hitam. Entah darimana dia mendapatkan benda-benda itu. Dan entah untuk apa benda-benda itu.

Ouwh tidak…Jangan-jangan…

“Hmmm, mbak mandi dulu ya,” kataku pelan.

“Yakin gak mau sekarang mbak?” tanya Lisa sambil mulai memainkan vibrator yang ada ditanganya ke celah diantara paha Shinta.

Dengan tersenyum aku memandang mereka yang sudah saling belit diranjang. Desahan nikmat mulai terdengar saling bersahutan.

Dengan berjingkat aku memakai leggingku, kali ini tanpa daleman, demikian juga dengan kaosku. Sambil berjingkat aku berjalan kepintu.

“Eh, Mbak Lidya, jangan lari,” kata Lisa sambil berusaha mengejarku yang sudah ada didepan pintu.

“Lain kali ya Lis,” kataku sambil membuka pintu dan berlari menuju lift!

~ ~ ~ * * * ~ ~ ~​

Andri POV

Dengan ragu kuambil handphoneku, dari Edy. Raisa tersenyum manis dan naik keatas sofa dengan posisi vagina yang merekah basah menempel di penisku yang sudah tegang.

“Halo Dy?” kataku.

“Halo Ndrii, gimana perkembangan demo proyeknya?” tanyanya, seperti biasa, langsung ke permasalahan.

“Sudah hampir selesai Dy, tinggal membuat presentasi dan menyempurnakan desain antarmukanya saja,” kataku senormal mungkin. Raisa dengan senyum menggoda menurunkun badannya dengan pelan. Vaginanya yang sempit serasa memilin penisku disana, apalagi otot kegelnya yang digerakkan dengan kuat. Pijitan vaginanya serasa hendak memeras penisku didalam sana.

Baguslah kalau begitu, siapa yang akan demo nanti?tanyanya dengan pelan.

“Aku sama Lidya Dy,” kataku singkat, menahan desahan akibat pijatan otot kegel Raisa dibawah sana.

Oke Ndri, keep up the good job, kata Edy sambil menutup telepon.

“Ugghhhh,” desisku pelan.

“Gimana mas? Enak?” tanya Raisa dengan pelan.

“Sangat, ” sahutku jujur sambil berusaha mengeluarkan payudaranya.

“Jangan mas, nanti kusut,” tolak Raisa sambil menggerakkan tubuhnya naik turun dengan cepat di penisku. Gerakan naik turun yang sekali-sekali berganti dengan gerakan memutar. Rasanya sukar dilukiskan.

“Ahhhh, masss, penis mas besar sekali, Is kangen dari waktu ni,” ceracau Raisa dengan gerakan pantat yang semakin cepat.
Nafsuku yang sudah naik dari pagi melihat pakaian si-celana-dalam-putih mendapat pelampiasan.

“Masssss, Is dah mau dapet, mas masih lama?” tanyanya dengan suara yang mendesah. Serak dan basah.

“Udah deket Is, berengan ya,” sahutku sambil meremas pantatnya yang bulat. Gerakan pantat Raisa semakin cepat dan kacau, tanda dia sudah dekat mencapai orgasme.

“Ssstttttttt ahhhh, mas!!! Is dapetttttt….ahhhhh,” teriak Raisa kektika oragasme itu melandanya. Tubuhnya kaku sejenak dan punggungnya melengkung kebelakang. Vaginanya menyedot begitu kuat hingga akupun tak tahan, dan…

“Is, mas juga nyampeee,” kataku dengan terbata. Beberapa kali semprotan sperma didalam rahimnya membuat Raisa melenguh nikmat. Dengan cepat dia bangkit dan mengulum penisku yang mulai menyusut.

“Ahhhh, Is!” seruku ketika dia menyedot kuat penisku, serasa sedikit ngilu. Kulihat sedikit lelehan sperma dipaha dan mulutnya. Dia mengambil tissu basah dari tasnya dan mengelap lelehan sperma di paha dan mulutnya.Untungnya, bau omelet agak menyamarkan bau persetubuhan kami.

Tok..tok..tok…

Ketukan di pintu terdengar dengan agak keras. Aku dan Raisa saling pandang. Dengan terburu-buru kami merapikan diri masing-masing.

“Masuk!” seruku ketika merasa kami sudah sedikit lebih rapi.

Di pintu, sicelana-dalam-putih terlihat dengan keadaan yang sedikit awut-awutan.

“Eh, Mbak Raisa,mas, aku mau beli sesuatu keluar dulu ya,” katanya sambil menuju kemeja dan mengambil handphonenya. Terlihat sedikit noda basah dibagian pahanya.

Apa yang sebenarnya terjadi dengannya?

Kulihat dia mengambil jaket dan tasnya dari dalam koper yang ada diruang tidur. Pantatnya yang bulat terlihat begitu indah ketika tersorot cahaya lampu yang temaram di kamar tidur. Alis Raisa sedikit terangkat melihat kejadian ini. Aku hanya bisa tersenyum melihat ekspresi keheranan dari Raisa.

“Mas, ini dokumen yang aku maksud, kalau sudah selesai, nanti dikembalikan ya, aku juga mau balik sekarang,” kata Raisa sambil tersenyum. “Hihihi mas, yang panjang dipendekan saja lagi, biar gak ribet, alihkan perhatian mas dari tu pantat,hihihi” bisiknya sambil melirik kearah selangkanganku yang masih sedikit terlihat membengkak.

“Mas, aku balik dulu ya, sekalian sama Lidya,” kata Raisa ketika melihat Lidya sudah bersiap untuk keluar.

“Iya mas, Lidya keluar sebentar ya,” kata Lidya sambil melangkah kepintu.

Dan sekarang hanya tersisa aku yang memandang bengong pintu yang menutup.

Aduhhhhhh….

Si-celana-dalam-putih yang sulit ditebak, Raisa yang nakal. Hari yang berat.Aku tersenyum ketika mendengar perkataan Raisa, memendekkan yang panjang, memang semudah itu? Untung sudah sempat keluar tadi, kalau tidak, bisa sakit nih kepala.

Memendekkan yang panjang.hahaha, ada-ada saja Raisa. Tapi tunggu, memendekkan yang panjang? Sekelebat bayangan sebuah file terlintas dibenakku.

Jangan-jangan..

Kuambil laptop dan membuka file hasil ekstrak dari video trojan.avi.

Ternyata, itu artinya!

~ ~ ~ * * * ~ ~ ~​

Bersambung