Rahasia Gelap Part 35

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Tamat

Cerita Sex Dewasa Rahasia Gelap Part 35 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Rahasia Gelap Part 34

LOST IN THE ECHO
Part 9

Lidya POV

Dengan langkah cepat aku berlari menuju kepintu dan berlari dilorong yang sepi.

Tidak, tidak sepi.

Seorang wanita terlihat berjalan kearahku ketika aku berlari pelan menuju ke lift. Setelah dekat aku baru tahu kalau dia Raisa, sekretaris di Alfa Medika. Sambil tersenyum aku meneruskan berlari menuju ke lift. Bisa kulihat ekpresi keheranan darinya ketika aku lewat disampingnya.

Kubuka pintu lift dan masuk. Dengan nafas terengah aku bersandar dipintu lift. Hampir saja, hampir saja aku tidak bisa mengendalikannya. Lembab masih bisa terasa di antara kedua pahaku. Hufftttt. Ini hanya karena hormon kewanitaanku saja. Tidak lebih.

Ting.

Pintu lift terbuka dan udara segar dari lantai dua ini membuatku sedikit lebih baik.

Sedikit.

Kuambil nafas dalam dan mencoba menenangkan debur diantara dadaku. Dan menenangkan rasa gatal yang tadi membuatku terhanyut.

Dengan pipi yang masih terasa sedikit panas aku melangkah menuju pintu dan mengetuknya pelan.

Tok…tok..tok…

Kutunggu beberapa saat dan belum juga ada jawaban. Kuulangi lagi, kali ini sedikit lebih keras.

Tok…tok…tok…

Tidak juga ada jawaban. Apa mereka sedang keluar?
Kucoba memutar knop pintu dan dengan pelan pintu terbuka. Mungkin mereka sedang tidur, tapi ceroboh sekali membiarkan pintu terbuka seperti ini. Baru aku mau memanggil Shinta dan Lisa ketika aku mendengarnya.

Suara itu.

Suara lenguhan dari seorang wanita yang sedang terangsang dengan hebatnya. Kumelangkah dengan pelan, berusaha mencari sumber suara itu. Dan kembali, lenguhan itu terdengar dari arah kamar tidur. Dengan sedikit berjinjit aku melangkah mendekat kearah kamar tidur. Dengan desain ruangan yang sama dengan mess di lantai tiga, berarti kemungkinan suara itu berasal dari kamar tidur atau kamar mandi.

“Ughhh…,”

“Ssttttt…,”

Suara desisan dan lenguhan samar mulai terdengar lebih keras. Kuiintip perlahan dari balik pintu kamar tidur dan hanya ranjang kosong yang terlihat. Tapi tunggu!

Diatas lantai kamar tidur terlihat pakaian berserakan bahkan sepasang celana dalam warna pink dan ungu terlihat di pinggir ranjang. Sebuah koper terdampar ditengah kekacauan itu, seolah menjadi pertanda akan ketergesaan pemiliknya. Kalau disini kosong…

Berarti…

Kulihat pintu kamar mandi yang terbuka, suara itu terdengar dari sana.Dengan langkah yang semakin pelan aku menghampiri pintu kamar mandi yang sedikit terbuka.

Pemandangan yang ada didalam kamar mandi membuat pangkal pahaku terasa gatal. Nafasku semakin menderu dan bisa kurasakan wajahku memanas.

Didalam kamar mandi, terlihat Lisa berbaring dilantai mengahadap keatas. Wajahnya tertutupi oleh pantat lebar milik Shinta, yang mengangkang diatasnya dengan vagina yang dijilati dengan telaten oleh Lisa. Posisi 69 yang mereka lakukan membuat kehadiranku tidak dirasakannya.

Rasa gatal di pangkal pahaku semakin menghebat, bisa kurasakan sedikit cairan sudah mulai mengalir diantara pahaku, turun ke bagian kaki. Dengan nafas yang mulai memburu kulangkahkan kakiku mundur menjauhi pintu kamar mandi.

Dan…

Gubraakkkkk….

“Aduhhhhhh!” seruku tak sengaja, ketika pantatku menyentuh lantai setelah menabrak koper yang terletak ditengah ruangan. Dengan kesal aku menoleh kebelakang, kearah koper yang sekarang isinya berantakan keluar. Beberapa koleksi pakaian dalam berwarna cerah menyita perhatianku.

Punya Shintakah?

Dan ketika berbalik, dua pasang kaki yang jenjang terlihat didepanku dan ketika aku melihat keatas, Lisa dan Shinta memandangku dengan pandangan ‘lapar’.

Ohhhh, tidakkk….

Andri POV

Dengan malu aku berusaha menutupi tonjolan diselangkanganku.

“Ngapain ditutupin mas? Kan Is dah pernah lihat bahkan pernah rasain juga,hihihi” kata Raisa dengan centil.

Benar juga.

“Eh, masuk dulu Is,” kataku sambil menyilahkan Raisa untuk masuk.

Dengan tersenyum simpul Raisa masuk dan ketika dia lewat didepanku, tangan kirinya menutup pintu sedangkan tangan kananya meremas kejantananku dengan pelan.

“Makin besar aja nih mas, Is kangen banget nih, “katanya sambil meremas-remas penisku dengan lembut. Nafsuku yang tadi sempat turun sekarang dengan cepat naik kembali.”Mas, udah boleh main belum?” tanya Raisa sambil membuka kancing kemejaku.

“Boleh si Is, tapi gak boleh gerak yang banyak,” jawabku dengan serak.

“Hmmmmm, kalau begitu, kesini mas, “katanya sambil menarikku kesofa. Dengan pelan dia membuka semua kancing kemejaku. Sekarang, tangannya membuka kancing celana kain yang kupakai dan dengan perlahan celana dan boxerku melorot kebawah.

“Ini nih yang bikin punya Is kerasa keganjel, sekarang muat gak ya? Dari pas M belum pernah yang masukin punya Is lagi,” kata Raisa sambil berlutut dan kepalanya dengan cepat maju mundur dipenisku yang telah menegang dengan sempurna sekarang.

“Ahhh Is, ” seruku ketika mulut Raisa yang ahli mengulum dan menjilati seluruh penisku. ketika mulutnya bekerja, tangannya tak tinggal diam, mengelus bola-bola yang menggantung itu dengan lembut. Membuat nafasku semakin cepat dan keras.

Sialll, tehniknya jempolan!

“Is, udah, nanti keburu keluar,” kataku sambil memegang kepalanya dan duduk di sofa.

Dengan tersenyum puas Raisa berdiri. Dan sekarang, tangannya membuka kancing blouse yang dipakainya sehingga terlihat bra warna krem yang digunakannya. Tangan Raisa sekarang terulur kebelakang punggungnya dan akhirnya bra itupun terjatuh kelantai. Namun aku belum bisa melihat payudaranya karena tangannya menghalangi.

Dengan menelan ludah aku melihat Raisa berputar ditempat dengan pelan, pantatnya yang sekal terlihat bulat dibalik rok kain yang digunakannya. Dan semakin membulat ketika dia menunduk dan menggoyangkan pantatnya dengan pelan. Ketika dia bangun dan berjalan mendekat kearahku, Payudara Raisa yang membulat putih dan terlihat begitu menggoda tersaji didepan mataku.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, aku mengulum putingnya yang berwarna merah kecoklatan, tanda sudah lumayan sering menerima kuluman lelaki. Tanganku meraba naik kepaha Raisa yang putih dan berlabuh di celah sempit yang sudah menganga basah.

Tunggu, tanpa celana dalam, lagi?

Aku pandang Raisa yang tersenyum menggoda, seolah tahu apa ayang ada dipikiranku. Celah yang basah itu sungguh menggodaku.

“Jangan mas,” seru Raisa ketika aku hendak memasukkan jariku kedalam celah yang sempit itu. Kupandang Raisa dengan pandangan bertanya. “Langsung masukin aja mas, keburu malam nanti,” kata Raisa sambil menaikkan roknya sebatas perut dan naik kepangkuanku.

Jika Kami bersama, nyalakan tanda bahaya
Jika kami berpesta, hening akan terpecah..
Aku, dia dan mereka memang gila memang beda,,
Tak perlu berpura-pura,, memang begini adanya..

Dan kami di sini,,, akan terus bernyanyiÂ…

Petikan lagu SID dari handphoneku membuatku ragu, antara…

“Mas, ambil saja dulu HPnya,” kata Raisa sambil tersenyum jahil.

Aduhhhh,apa yang akan dilakukannya???

Bersambung