Rahasia Gelap Part 34

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Tamat

Cerita Sex Dewasa Rahasia Gelap Part 34 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Rahasia Gelap Part 33

LOST IN THE ECHO
Part 8

Lidya POV

Huft, panasnya.

Hari sudah menjelang sore, namun panasnya udara Jakarta masih terasa. Walau hanya berjalan dari apotek yang jaraknya sekitar 500 meter dari rumah sakit, keringat sudah membasahi tubuhku.

Huft…Mbak Anisa. Dengan keringat seperti ini, daleman ku pasti tercetak jelas dari luar. Dan…terasa sedikit lengket ketika aku bergerak.

Tak bisa kutahan senyum, ketika membayangkan reaksi si-mata-keranjang ketika melihatku dengan pakaian dan kondisi seperti ini.

Dengan sedikit berdebar kuketuk pintu.

Tok..tok…tok

Masuk, kudengar suara si-mata-keranjang menyilahkanku masuk.

Kriiieeetttt

Kubuka pintu dengan pelan. Dan terlihat disana si-mata-keranjang memandangku dengan pandangan yang sudah kuduga.

Pandangan mesum!

Dasar lelaki!

Mas, ini obatnya, kataku sambil menunjukkan plastik tempat obat yang kubawa. Kata dokter, mulai diminun besok pagi, kataku.

Iya Lid, eh, kamu sudah makan? tanyanya.

Dan seakan menjawab pertanyaannya, perutku yang kelaparan menjawab dengan suara yang cukup nyaring.

Kriiuuuukkkk….kriiuuukkkk….

Hahaha, tawa si-mata-keranjang ketika mendengar suara perutku yang keroncongan.

Dengan wajah panas, karena malu dan marah, aku pandangi si-mata-keranjang yang tertawa dengan bebasnya.

Maaf Lid, sebentar lagi nenek lampir akan datang, dia sudah beli makan katanya, tahan bentar masih bisa kan? tanyanya dengan senyum dikulum.

Aku hanya bisa cemberut mendengar perkataannya.

Tok…tok..tokk

Suara ketukan dipintu menyadarkanku.

Masuk, seruku.

Wajah Mbak Anisa yang sedikit berkeringat terlihat dari pintu yang membuka.

Mbak gak ganggu sekarang kan? tanyanya dengan nada ceria..

Justru sedang ditunggu, tuh Lidya kelaperan nungguin mbak, kata si-mata-keranjang dengan cuek.

Kulihat Mbak Anisa membawa beberapa bungkusan ditanganya.

Waduh, maaf Lid, mbak ada beberapa urusan tadi, sini, mbak dah bawain makanan dan cemilan, kata Mbak Anisa sambil meletakkan bungkusan yang dibawanya dimeja.

Dengan wajah yang sedikit memanas, aku melangkah mendekati meja. Ada berbagai jenis masakan dan beberapa cemilan disana.

Air liurku serasa ingin menetes mengendus bau sedap dari masakan itu. Mbak Anisa menarikku mendekat dan berbisik.

Lid, mbak gak bisa lama sekarang ya, maaf ne, kamu temenin Andri dulu ya, mbak lagi bikin proyeknya nih, kata Mbak Anisa.

Dengan bingung kupandang Mbak Anisa.

Proyek apa mbak? tanyaku dengan pelan.

Proyek bikin momongan, hihihi, suami mbak semangat 45 baru dengar calon iparnya sudah isi, tadi aja disempetin quickie, nih masih kerasa lemes lututnya mbak, kata Mbak Anisa blak-blakan yang membuat mukaku terasa sangat panas. Pasti warna mukaku sangat merah sekarang.

Oh iya Lid, kamu pas jadinya itu, pagi, siang apa malem kuda-kudaanya?hihihi, tanya Mbak Anisa lagi.

Aduuuhhhhh! Gituan aja belum pernah ama Andri mbak! Gimana mau tahu kapan baiknya yang bikin isi?

Addduuuuhhhh….

Wah, kurang tau mbak…, kataku, keburu dipotong Mbak Anisa.

Pasti kebanyakan gaya ya ampe lupa? Hihihi, ada panduannya gak Lid? Pinjem dong… buat entar malem,hihihi tanya Mbak Anisa to the point.

Eh, ngapain bisik-bisik sana? Tu ada yang sudah kelaparan, entar pingsan lagi, kata si-mata-keranjang usil.

Dan untuk pertama kalinya aku merasa senang dengan keusilannya!

Iya…iya…, tahu kok yang perhatian banget sama calon istrinya, ledek Mbak Anisa, yang kembali, untuk kesekian kalinya hari ini membuat pipiku memanas.

Ini makan dulu Lid, udah mbak minta gak diisi sambal terlalu banyak, ini, mbak juga banyakin sayurnya, biar sehat ya, kata Mbak Anisa sambil tersenyum.

Kembali aku merasa bersalah dengan kesalahpahaman ini. Kupandang kearah si-mata-keranjang, dan senyum simpulnya yang kudapatkan. Mungkin sudah saatnya mengakhiri kesalahpahaman
ini.

Mbak, sebenarnya, ragu sejenak, kulihat kearah si-mata-keranjang dan terlihat dia mengerutkan alisnya.Sebenarnya aku..

Sebenarnya dia sudah kelaparan, bisa langsung makan gak? Itu…itu yang mau dikatakannya dari tadi, gak ngerti banget sih mbak! sela si-mata-keranjang
.
Mas!!! seruku dengan nada sedikit marah, bisa-bisa aku pingsan neh gara-gara kesal dan lapar! Ne anak perlu rasanya diberi pelajaran tambahan, pikirku.

Kriiuuuukkkk….kriiuuukkkk….

Aduhhhhhhhhhhhh……..

Hahaha, bener kan mbak, ampe sini kedengeran bunyinya tuh, kata si-mata-keranjang sambil tertawa, benar-benar membuatku habis kesabaran.

Eh, maaf Lid, sini, makan dulu, kata Mbak Anisa, membuyarkan rencana balas dendam yang mulai tersusun dikepalaku. Kupandang si-mata-keranjang dengan pandangan dan senyum menggoda.

Awas kau nanti mas!

Kulihat si-mata-keranjang memandangku dengan bingung, melihat perubahan ekpresiku.

Ah sudahlah. Mending isi perut dulu, kuhampiri Mbak Anisa dan wow

Di meja terhampar berbagai macam masakan dan cemilan, yang membuatku tertegun, porsinya mungkin cukup untuk tiga orang!

Mbak, gak kebanyakan nih? kataku sambil memandang masakan diatas meja.

Gak kok Lid, rencananya mbak mau makan disini, tapi karena berhubung yang mbak ceritain tadi, gak jadi, kalau masih baik, untuk nanti malam aja sekalian Lid, kamu kan disini nginep, biar gak capek keluar Lid, eh, berani sendirian kan Lid? Mbak rencananya mau lanjutin proyeknya nanti,hihihi kata Mbak Anisa.

Eh, kalau itu, gak masalah kok mbak, jawabku.

Hufttt, mungkin kalau Lisa ada disini….

Kalau gitu mbak tinggal dulu ya Lid, kata Mbak Anisa sambil mengahampiri si-mata-keranjang dan berbisik ditelinganya. Kulihat si-mata-keranjang cemberut ketika mendengar bisikan Mbak Anisa.

Ayo Ndri, Lid, mbak duluan ya, kata Mbak Anisa sambil melangkah kepintu. Oh iya, ibu mau buat acara pertunangan katanya, so, be ready, kata Mbak Anisa sebelum menghilang dibalik pintu.
What!?!?!?!

Pertunangan?!?!?!?

Andri POV

Kuperhatikan wajah si-celana-dalam-putih, terlihat ekspresi heran, terkejut, malu, marah dan entah ekspresi apalagi. Dari satu ekpresi ke ekpresi yang lain, begitu cepat berganti, mungkin hanya dalam hitungan detik saja. Sekarang terlihat terlihat dia termangu, makanan yang dibukanya masih utuh, belum tersentuh sama sekali. Sejenak aku merasa sesuatu dalam hatiku mencelos. Sesuatu yang lama sekali tidak pernah lagi kurasakan.

Lid, makan dulu, Mbak Anisa hanya bercanda kok, kataku kepada si-celana-dalam-putih.

Terlihat si-celana-dalam-putih memandang hampa kearahku, pandangan yang bingung, pandangan yang penuh dengan beban pikiran.

Andai saja aku bisa bangun…andai saja

Lid, makan dulu, nanti sakit juga, siapa yang jagain aku nanti? kataku, sambil berusaha membuat suaraku seceria mungkin.

Dan berhasil!

Terlihat mulut mungilnya cemberut, pandangan matanya juga ikut cemberut, sebelum akhirnya makan dengan lahap.

Gubraaakkkkkkkkk

Akhirnya, lapar juga yang mengalahkannya.

Kuamati mulut mungil itu, dan ampun, kenapa saat makanpun mulut itu bisa terlihat seksi?

Kugelengkan kepalaku untuk mengusir bayangan-bayangan mesum yang mulai tersimulasi saat melihat mulut yang mungil itu. Ouwhh tidak

Pasti karena lama tidak dapat jatah, jadinya Andri junior merespon setiap gerakan seksi yang terlihat dimata.

Eh, kan baru kemarin aku dapat jatah?

Sialll….

Huft, stay focus Andri.
Stay focus….

Sambil menunggu si-celana-dalam-putih selesai makan, sebaiknya aku memeriksa apa yang ada di file rar itu.
Kubuka laptop, kulihat file rar yang berhasil aku ekstrak dari video Trojan.avi. Ku coba mengekstrak file rar itu, namun ada passwordnya.

Hmmm.

Kira-kira apa yang digunakan Ade sebagai passwordnya?

Kuamati lagi file rar itu.

googlxxDGNo.rar

Sesuatu yang mengganggu terasa saat aku melihat file rar itu, tapi apa?
Sesuatu yang familiar, sesuatu yang sering kulihat saat berinternet ria. Sesuatu itu

Ah, lebih baik kucoba saja, cara bodoh

Kucuba satu persatu hal yang bisa kiranya menjadi password yang digunakan Ade.

Rokok, miras, wanita, psk, seks, oral, vagina, penis, doggystyle, massage, blowjob, komputer, programming, php, java, oracle, mysql, visualbasic, pascal.

Ah, seperti mencari tumpukan jarum dalam jerami. Sulit.

Sulit, apa yang kira-kira menjadi passwordnya? gumamku.

Password apa mas? terdengar suara si-celana-dalam-putih didekatku.

Eh, filenya Ade Lid, kataku sambil menoleh kearah Lidya.

Dan

Terlihat muka Lidya yang masih terlihat letih dan ada sisa makanan di ujung bibirnya.

Eh Lid, itu.. kataku sambil menunjuk kearah mukanya.

Apa mas? kata Lidya bingung sambil menyeka mukanya.

Dengan tangan kananku, kuusap sisa makanan yang ada disudut bibirnya, wajah Lidya merona merah.

Semakin manis

Tanganku yang masih ada dibibirnya, perlahan kugunakan untuk mengusap permukaan bibirnya, terasa basah dan lembut. Begitu menggoda untuk dicium.

Andri,,, dia salah satu rekan bisnismu…

Setitik kesadaran menggangguku, tapi hanya sebentar, sebelum aku berusaha bangun dan mencium bibir itu.

Mas, jangan, nanti lukanya terbuka, kata Lidya. Dan satu lagi mas, aku mau menemani mas disini, dengan satu syarat, katanya dengan nada serius.

Syarat? Syarat apa Lid? kataku bingung.

Selama aku disini, mas tidak boleh macam-macam atau satu macam kepadaku, termasuk mencium juga, kalau mas gak mau, aku gak mau jaga mas disini, katanya tegas.

Eh itu, kataku ragu.

Ya atau tidak? kata Lidya, dagunya yang runcing sekarang sedikit terangkat keatas.

Dasar keras kepala!

Hmmm, oke deh, tapi hanya diruangan ini ya? kataku mencoba menawar.

Sejenak dia berpikir, namun akhirnya senyum terukir dibibirnya, dan kuanggap itu ia

Oke, kalau begitu, bagaimana kalau sekarang kita bahas proyeknya? kataku sambil melirik laptopku yang masih menyala.

Oke mas, mulai darimana? tanya si-celana-dalam-putih.

Kita setting meeting dengan Skype dulu Lid, biar jelas pembagian tugasnya, kataku.

Oke mas, oh iya, tadi ada temenku Shinta, dia salah satu staff di Delta, baru aja gabung, untuk sementara, dia tinggal di mess ku, eh maksudnya, messnya mas, kata si-celana-dalam-putih.

Oh, boleh saja Lid, untuk sementara, itu kan jadi messmu dan kalau anak kita lahir, kan jadi messmu juga, kataku sambil nyengir dengan lebar.

Masss!!! kata si-celana-dalam-putih sambil mencubit pelan lenganku.

Aduh, itu jari apa apa capit Lid, kataku sambil berpura-pura sakit.

Dan akhirnya kami melewati sore itu dengan mensetting virtual meeting dengan rekan-rekan di G-Team. Sedikit demi sedikit, team kami kembali lagi kejalur proyek kami yang sempat tertunda.

~ ~ ~ * * * ~ ~ ~​

Senin, 09.00.
Rumah Sakit Sari Husada

Andri POV.

Jadi saya sudah boleh pulang sekarang dok? tanyaku pada dokter yang memeriksaku hari ini.

Iya mas, tapi nanti bed rest lagi dua hari dirumah ya dan belum boleh bergerak yang terlalu banyak, jawabnya. Dengan senyum yang mengembang, Dokter Franda terlihat menarik.

Wah, bergerak apa saja yang tidak boleh dok? tanyaku sambil tersenyum jahil serta menoleh kepada si-celana-dalam-putih yang sekarang berada di ujung ranjang. Dokter Franda melihat arah lirikan mataku dan kembali tersenyum.

Kalau yang itu boleh, cuma pelan-pelan ya mas dan mbak, katanya sambil tersenyum maklum melihat kearah si-celana-dalam-putih yang kembali, wajahnya merona merah.

Entah merona yang keberapa puluh atau ratus kalinya semenjak di rumah sakit ini, dan kalau kupikir, mukanya sangat mudah merona, jangan-jangan

Mas…mas, panggilan dari Dokter Franda mengembalikanku kealam nyata.

Ngelamun aja mas, pasti dah kangen berduaan nih sama tunangannya, katanya sambil mendekati si-celana-dalam-putih. Oh iya, ibu dan si-nenek-lampir dengan bangganya mempublikasikan hubungan kami sebagai sebuah pertunangan, yang sialnya, membuatku tidak leluasa bercanda dengan suster-suster yang ada disini.

Terlihat Dokter Franda berbisik kepada si-celana-dalam-putih. Sekali-sekali mereka menoleh kearahku dan tertawa geli. Kulihat wajah si-celana-dalam-putih memerah.

Dan sel-sel kelabu yang terbiasa berpikir mesum di kepalakupun mulai berandai-andai, bagaimana jika dia hanya mengenakan daleman putih dan wajahnya merona seperti sekarang. Andri juniorpun bereaksi atas visualisasi kreatif yang terjadi.

Mari mas, saya kepasien yang lain dulu, kata Dokter Franda sambil berjalan ke pintu.

Dan sekarang, hanya kami berdua yang ada diruangan ini.

Mas, mau balik sekarang? tanya si-celana-dalam-putih.Ke mess atau bagaimana mas? lanjutnya.

Ehmmm, bagaimana sebaiknya? Pikirku. Kalau keapartemen, terlalu jauh kalau ke kantor, kalau ke mess, berarti harus bersama Frans. Kalau saja

Bagaimana mas? tanya si-celana-dalam-putih.

Aku hubungi nenek lampir dulu ya Lid, sekalian untuk urusan administrasinya, kataku kepada si-celana-dalam-putih.

Kuambil handphone dan menekan no si-nenek-lampir.

Kenapa Ndrii? kudengar suara si-nenek-lampir pada deringan ketiga.

Sudah boleh pulang sekarang, aku langsung ke mess aja ya? Banyak job yang belum selesai, kataku sambil menoleh kearah si-celana-dalam-putih.

Yakin karena job? Apa mau berduaan sama Lidya? tanya si-nenek-lampir. Bisa kudengar nada geli dalam suaranya.

Keduanya, kataku sambil melirik si-celana-dalam-putih yang yang kebetulan juga sedang memandangku. Kulihat dia sedikit mengerutkan keningnya ketika melihatku memandangnya seperti itu.

Oke, apa mbak perlu kesana lagi? Ini masih di Bandung, nganter ibu check up rutin di dokter spesialis jantung, kata si-nenek-lampir. Dan perasaan bersalah menerpaku, kenapa aku tidak pernah bisa mengantar ibu periksa rutin. Apalagi kondisi jantungnya yang sudah semakin lemah.

Gak usah mbak, nanti aku bisa sendiri, lagian juga sudah ada Lidya, terangku.

Oke deh, kalau bagitu bye, kata si-nenek-lampir mengakhiri panggilan.
Kupandang si-celana-dalam-putih dan terlihat pandangan bertanya darinya.

Aku langsung ke mess aja Lid, kataku singkat.

Oke mas, kalau begitu aku ngurus pembayarannya dulu ya, katanya sambil mau keluar. Tunggu dulu Lid, pakai ini, kataku sambil mengambil kartu kredit dari dompet, serta memberikan detailnya.

Dengan langkah pelan si-celana-dalam-putih pergi keluar ruangan. Pantatnya yang dari awal kami bertemu begitu menggodaku terlihat bergoyang ke kiri dan ke kanan dengan lembut. Garis celana dalamnya tercetak dengan jelas di balik legging hitam yang dikenakannya.

Ufff, fokus Ndrii…
Saatnya kembali kehabitat asli. Pikirku.

Dengan pelan kucoba untuk duduk dan rasa sakit di bekas operasi tidak terasa lagi. Seperti kata Dokter Franda, kemungkinan baru dua hari lagi aku bisa bergerak dengan bebas. Dan dua hari lagi, waktunya demo project dan untungnya, semua persiapan sudah hampir selesai. Tinggal mengecek secara langsung dan membuat presentasinya. Aku melangkah turun dari ranjang dan perlahan menuju ke jendela.

Lembut sinar matahari pagi yang menerobos masuk dari jendela menyambutku. Pemandangan kendaraan yang beriringan , padat merayap di jalanan ibukota ini. Kuberdiri beberapa saat di depan jendela sampai kakiku terasa sedikit pegal.

Huaaanmmmmm,

Duh, ngantuknya. Begadang membuat program bersama si-celana-dalam-putih, membuatku tidak bisa begitu fokus tadi malam. Bagaimana mau fokus kalau yang ada dikepalamu, bagaimana rasanya memeluk pinggang yang ramping itu, atau bagaimana reaksinya ketika leher jenjangnya dicium? Ah sudahlah, mending cuci muka dulu. Menghilangkan kantuk yang mulai mendera.

Dengan langkah yang perlahan aku menuju kekamar mandi. Pintu kamar mandi dan kubuka dan sebuah celana dalam g-string mini warna putih yang tergantung dengan indahnya di dinding menyambut kehadiranku.

Mas, jangan masuk dulu!!!, kudengar suara si-celana-dalam-putih dari arah belakang yang diikuti dengan suara langkah kakinya yang cepat, namun kalah cepat dengan aku yang masuk dan melihat dari dekat celana dalam itu.

Mas!!! kata si-celana-dalam-putih sambil berusaha mengambil celana dalam yang tergantung itu. Namun karena aku berdiri di pintu, maka badan kami bersentuhan ketika dia lewat didepanku. Dan sesuatu yang kenyal terasa didadaku.

Dengan wajah yang memerah, kulihat bibirnya cemberut ketika melihat ku memandangnya. Kudekati dia dengan perlahan dan seperti bisa menebak apa yang ingin kulakukan, dia mundur sampai menyentuh bak kamar mandi.

Mas, mas sudah janji, katanya dengan nada yang sedikit bergetar.

Janji apa? tanyaku sambil mendekat, hingga bisa kurasakan badanku menyentuh tangannya yang terulur. mencoba mendorong pelan tubuhku. Pelan, sangat pelan.

Perlahan kudekatkan kepalaku kebawah, kearah bibir yang sedikit bergetar. Dan bisa kulihat kepanikan di matanya.

Cuma mau ngambil daun ini kok Lid, kataku sambil menunjukkan daun yang tadi terselip di rambutnya.

Bisa kulihat pandangan kesal muncul di wajahnya.

Memang kamu pikir mau apa? tanyaku dengan geli.

Mas!!!, dasar ya, baru juga baikan, sudah suka jahil, seneng bener ya bikin orang jantungan, bikin…

Kuhentikan bicaranya dengan sebuah ciuman ringan dibibirnya. Kurasakan sedikit penolakan dan keterkejutan. Namun dengan tenang kuraih punggungnya dan menariknya mendekat. Tubuh kami sekarang menempel , dan sesuatu yang lembut itu sekarang menekan dadaku.

Perlahan, ciuman kami semakin dalam, semakin basah.

Ughhh, lenguhan ringan terdengar ketika aku meremas pelan tonjolan yang dibalut legging ketat. Tonjolan yang dengan bangganya mengantung dengan indah dibelakang tubuh yang sekarang sedang menempel dengan erat dibadanku.

Hmmmm, mas, jangan, pelan suaranya terdengar ketika aku meraba tonjolan yang berada didepan. Tangannya dengan pelan menyingkirkan tanganku dan dengan protektif diletakkan didepan dadanya.

Hmm, yakin? tanyaku dengan pelan, sambil mencium daun telinganya, bisa kurasakan tubuhnya tersentak ketika lidahku menyentuh ujung daun telinganya. Ciumanku terus menuju ke leher jenjangnya, sedikit meninggalkan bekas merah disana.

Mas, jangan, katanya lirih ketika tanganku berusaha masuk ke celana leggingnya. Tangannya bisa kurasakan memegang tanganku. Kuhentikan ciumanku ditelinganya dan kupandang wajahnya. Wajahnya terlihat memerah dan deru nafasnya terdengar sedikit menderu.

Hmmmm, mungkin aku bukan lelaki yang baik. Namun yang aku tidak suka memaksa wanita. apalagi wanita yang…

Tok…tok…tok

Ketukan di pintu seolah menyadarkan si-celana-dalam-putih. Dengan menarik nafas panjang dia menuju ke pintu.

Eh!???

Lid, tunggu, kataku padanya. Bekasnya masih.

Namun terlambat, si-celana-dalam-putih sudah terlanjur membuka pintu.

Halo mbak, eh, itu kenapa? kata si-centil Lisa sambi menunjuk kearah leher si-celana-dalam-putih.

Lisa memandangku yang berada dibelakang si-celana-dalam-putih dengan pandangan aku-tahu-apa-yang-kau-lakukan-tadi.

Halo boss, kata Frans yang berada di belakang si-centil. Halo mbak, katanya kepada si-celana-dalam-putih dan tersenyum lebar ketika dia melihat leher si-celana-dalam-putih yang kemerahan.

Halo Lis, Frans, eh, kenapa kalian tersenyum? tanya si-celana-dalam-putih sambil melihat Lisa dan Frans bergantian.

Aduh, ne anak pura-pura gak tahu atau bagaimana?

Sambil tersenyum Lisa menarik si-celana-dalam-putih menuju ke kamar mandi.

Frans, dengan senyum lebar memandangku.

Sudah ada kemajuan boss? tanyanya dengan senyum lebar.

Rasanya belum semaju kau Frans, jawabku santai. Oh iya, maaf soal mobilmu Frans, kataku mengingat mobilnya yang terbakar.

Tidak masalah boss, masih ada asuransi, jawab Frans sambil tersenyum. Sekarang mau balik ke apartemen atau ke mes Ndri? tanya Frans lebih lanjut.

Ke mess Frans, waktu demo sudah dekat, mungkin nanti kita bakalan banyak lembur, sahutku.

Eh, kalau ke mess… kata Frans sedikit ragu.

Kenapa Frans? tanyaku heran.

Tanya Lisa saja nanti, jawab Frans ragu.

Tanya apa mas? suara si centil Lisa terdengar dari belakangku. Kulihat si-celana-dalam-putih melotot kepadaku, yang kubalas dengan cengiran.

Eh, ini Andri mau ke mess sekarang, eh, di mess kan, Frans berkata ragu.

Ouwh, itu, kata Lisa, dengan wajah yang sedikit memerah. Mbak Anisa kemarin ke mess dan memindahkan barang-barang Mas Andri ke mess yang paling atas, dari kemarin, aku dan Mbak Shinta di mess tengah, sedangkan Mas Frans di mess yang paling bawah, terang Lisa sambil tersenyum lebar.

Mess atas? tanyaku, sementara si-celana-dalam-putih mengertukan alisnya.

Maksudnya? tanya si-celana-dalam-putih.

Maksudnya kita sekamar, Lid, kataku sambil nyengir lebar.

Sekamar? Tidak! serunya sambil cemberut.

Hahaha, itu nanti saja kita bahas, oke? Sekarang aku sudah pengen meninggalkan kamar ini, bisa? kataku sambil memandang kesekeliling.

Roger that, sahut Frans sambil menuju ke pintu.

~ ~ ~ * * * ~ ~ ~​

Lidya POV

Mas, aku mau sama Lisa dibawah! kataku dengan nada yang tinggi.

Iya, kami sudah sampai di mess G-Team, dan seperti yang dikatakan oleh Lisa, barang-barang si-mata-keranjang sudah dipindahkan ke mess ku. Dan sekarang, kami sedang berargumen mengenai dimana aku tidur.

Tunggu sebentar Lid, sampai ibu datang, habis itu, terserah kamu, kata si-mata-keranjang..

Memang ibu mau kesini? tanyaku dengan ragu.

Jangan-jangan hanya akal-akalannya saja.

Iya Lid, habis periksa ibu katanya mau kesini, mungkin agak malam baru sampai, katanya dengan datar. Ekspressi serius terlihat diwajahnya. Ekspresi yang sama ketika dia sedang bekerja.

Bagaimana ini sebaiknya?

Sampai ibu pulang saja Lid, setelah itu terserah kamu, lanjut si-mata-keranjang.

Oke, kalau begitu sampai ibu pulang saja, sahutku. Akhirnya tidak tega juga.

Thanks Lid, bisa kita bekerja sekarang, deadline sudah didepan mata, katanya.

Dan, siang pun dilewatkan dengan skype meeting, buat draft presentasi dan coding, coding dan coding. Kuamati si-mata-keranjang yang sekarang sedang ber-skype dengan staff bagian interface di G-Team. Terlihat wajahnya serius memberikan pengarahan mengenai desain antarmuka dan desain aplikasi yang kami buat. Begitu berbeda dengan dia yang menciumku di kamar mandi, begitu panas dan yah, tampan.

Yah, jujur.
Dia CEO tertampan yang pernah aku temui sekaligus yang termesum, teringat bagaimana ketika dia baru dirumah sakit, yang menungguinya malah salah satu staff panti pijat.

Kurasakan wajahku memanas ketika tahu dia memberikan bekas merah dileherku, yang baru kusadari ketika Lisa memberitahuku! Bekas yang sekarang masih kelihatan kalau kerah bajuku agak kesamping.

Dasar mesum!

Kulihat jam di laptop, 17.00. Sudah sore ternyata.

Tok…tok…tok

Terdengar ketukan di pintu.

Apa mungkin ibu si-mata-keranjang sudah datang?

Masuk, seruku.

Pintu terbuka dan seorang petugas cleaning service terlihat dengan dua bungkusan di tangannya.

Pak Andri, ini pesanannya, katanya sambil memperlihatkan bungkusan ditangannya.

Kuhampiri petugas itu dan mengambil bungkusan ditangannya. Mari mbak, mari pak, kata si cleaning service lalu berlalu

Kuiintip kedalam bungkusan untuk melihat isinya, terlihat beberapa jenis sayuran, daging dan bumbu dapur.

Untuk apa semua ini? Pikirku.

Dengan pandangan bertanya aku menoleh ke-simata-keranjang.

Eh, aku lupa ngasi tau, kamu bisa masak kan Lid? katanya dengan tersenyum. Ibu mau datang dan sekalian mau makan malam disini, jadi nanti tolong masakin ya? katanya sambil tersenyum.

Eh mas, aku, jawabku terbata. Bagaimana ini? Aku kan tidak begitu bisa masak.

Jangan bilang kalau kamu tidak bisa masak? kata si-mata-keranjang sambil menaikkan alisnya.

Pandangan itu, pandangan yang meremehkan. Pandangan yang paling aku benci.

Siapa bilang mas, cuma disini kan peralatan masaknya gak ada, mana bisa aku masak dengan baik, kataku mencari alasan. Semoga peralatannya memang tidak ada, semoga.

Cuma masak nasi goreng, omelet, sop, perlu peralatan apa Lid, rasanya semua sudah ada didapur? kata si-mata-keranjang.

Apes

Dengan langkah tegap aku melangkah kedapur. Aduh, gimana sekarang? Kalau kubilang aku tidak bisa masak omelet dan sup, pasti si-mata-keranjang akan menertawaiku. Begini nih, kalau cuma bisa masak kangkung dan ayam goreng. Menu harianku dari dulu.

Ingin rasanya aku bilang tidak mood masak, tapi harga diri yang dipertaruhkan disini, membuatku mau tak mau mengambil pisau dapur dan mulai mengupas bawang.

Kira-kira, cara masak omelet seperti apa ya?

Kulihat si-mata-keranjang masih sibuk dengan laptopnya, dengan pelan aku mengambil handphone dari dalam tas dan kembali kedapur. Syukurlah, masih ada mbah google disaat seperti ini.

Saatnya mencari resep membuat omelet dan sup tahu.

5 menit berlalu…

10 menit berlalu…

15 menit berlalu…

Ternyata sulit juga, tapi tidak ada salahnya mencoba.

Kamu pasti bisa Lid!!!

Andri POV.

Huft, akhirnya selesai juga briefing desain antarmuka proyek ini. Dengan waktu yang cukup terbatas, hasil yang kami peroleh sekarang sudah cukup baik. Tapi sulit juga kalau terus bekerja lewat online meeting seperti ini.

Eh, bau apa ini?

Seperti bau terbakar, jangan-jangan…

Dengan tergesa aku menuju kedapur dan disana kulihat si-celana-dalam-putih sedang berjuang mengeluarkan omelet atau entah apa nama masakan yang sudah berwarna kehitaman itu dari wajan. Terlihat dia kesulitan ketika berusaha mengeluarkan omelet itu dari dalam wajan.

“Sial!!!” kudengar suara makian dari si-celana-dalam-putih ketika tidak berhasil mengeluarkan omelet itu dari wajan.

Tapi tunggu dulu, pantat bulat itu bergoyang dengan indahnya ketika empunya sedang berusaha mengeluarkan omelet nakal itu dari wajan. Dua buah bulatan indah yang begitu empuk ketika aku pegang dulu, empuk dan padat.

Praannggggggggg……bruaakkkk….

“Aduhhhh!!!”

Suara benda terjatuh yang diikuti jerit kesakitan menyadarkanku dari lamunan jorokku. Dengan terburu-buru aku hampiri si-celana-dalam-putih yang memegangi tangannya yang berwarna merah.

“Eh, mas!” serunya terkejut ketika aku memegang tangannya dan menariknya kearah keran air. Kuguyur tangannya dengan air yang mengalir dari keran untuk meredakan rasa sakit dan mengobati panasnya.

“Ayo Lid,” kataku sambil menariknya menuju kekamar mandi. Dengan tergesa aku mengambil gel pengurang panas dan mengoleskannya di tangannya yang berwarna kemerahan.

“Stttttt, aduhhh,” keluh pelan si-celana-dalam-putih ketika aku mengoleskan gel itu dibagian tangannya yang berwarna merah. Mukanya mengernyit menahan sakit ketika aku selesai mengoleskan gel itu.

“Maaf mas, udah ngerepotin,” katanya sambil menunduk.

Bulir keringat terlihat di wajahnya yang memerah, entah kerana panas atau apa.

“Harusnya mas yang minta maaf Lid, “sahutku. “Istirahat dulu Lid, ” kataku sambil melangkah menuju dapur.

Dan melihat kekacauan ini, apa si-celana-dalam-putih tidak bisa memasak? Akhirnya, ada satu kelemahannya yang kutahu, selain titik sensitif di ujung telingannya. Kulihat dia menuju ruang tamu dan ampun, pantat itu sangat menantang…

Kulihat sisa telur dan sayuran masih cukup untuk membuat omelet dan nasi goreng. Tahu dan daging ayam belum tersentuh, Saatnya membuat sop tahu dan ayam goreng, pikirku.

Oke, mari kita memasak!

1 jam kemudian….

Tok..tok…tok…

Kudengar sayup suara ketukan dipintu dan langkah kaki si-celana-dalam-putih yang membuka pintu.

“Lid, kenapa tanganmu?” suara cempreng dari si-nenek-lampir terdengar.

“Tadi kena omelet mbak, “jawab si-celana-dalam-putih.

“Aduh, pasti Andri yang minta masak ya? Dimana sekarang tu anak?” tanya si-nenek-lampir.

“Eh, didapur mbak,” jawab si-celana-dalam-putih.

Kudengar suara langkah kaki pelan menuju kedapur. Dan tak lama kemudian si-nenek-lampir sudah berkacakpinggang di depanku.

“Dasar kau ini, pacar hamil muda disuruh masak, ” katanya, yang kujawab dengan cengiran saja.

“Bantuin bawa ini kedepan,” kataku sambil menunjuk kearah beberapa menu masakan yang kubuat.

“Eh, masak apa?” tanyanya dan sebelum sempat kujawab dia sudah mencomot satu ayam goreng.

“Enak juga, ” katanya sambil menuju ke ruang tamu sambil membawa piring berisi ayam goreng dan omelet. Aku mengikuti dari belakang dengan membawa sup tahu dan nasi goreng.

“Bu, Andri masak besar nih baru ada Lidya, coba kalau aku nyuruh masak, gak bakalan mau, ” sungutnya.

“Sudah-sudah, kalian ini bertengkar terus, gak malu apa dilihat Lidya,” kata ibu dengan tenang.

“Biarin ja Bu, toh ntar Lidya jadi keluarga kita juga, ngomong-ngomong, piringnya dimana ya?” kata si-nenek-lampir sambil nyengir.

“Bilang aja kalau kelaparan, “sindirku sambil menuju kedapur. Kuambil piring dan perlengkapan lainnya dan membawanya keruang tamu.

“Mari makan!”

“Wah, siapa yang bikin omeletnya?” tanya si-nenek-lampir.

“Mas Andri mbak,” jawab si-celana-dalam-putih.

“Wah, makin enak aja omelutmu Ndri,” kata si-nenek-lampir.

Kami makan sambil bercakap-cakap ringan. Terlihat senyum mengmbang dibibir ibu, senyum yang terlalu lama tidak kulihat.

Selesai makan kami bercakap-cakap sebentar sampai sekitar pukul sembilan malam. Ditengah percakapan kami, Mbak Anisa menarik tangan si-celana-dalam putih menuju kekamar mandi. Mereka didalam beberapa lama, ketika keluar, terlihat ekspresi Mbak Anisa menahan tawa. Sementara si-celana-dalam-putih terlihat seperti berpikir tentang sesuatu.

Apa yang mereka bicarakan?

“Ndri, ibu pulang dulu, jangan bekerja sampai larut malam, Nak Lidya, kasi tau Andri jangan bekerja sampai malam ya,” kata ibu sambil menuju kepintu.

“I know your secret,” hanya itu yang dikatakan si-nenek-lampir sambil menutup pintu.

Sekarang tinggal aku dan si-celana-dalam-putih.

“Apa yang dibilang nenek lampir tadi Lid?” tanyaku penasaran.

“Aku sudah bilang kalau aku tidak hamil mas,” kata si-celana-dalam-putih pelan.

Sejenak aku terdiam mendengar perkataannya. Sebuah rasa kehilangan muncul dihatiku, kehilangan yang terlalu dini.

“Baguslah kalau begitu, ” kataku lirih. “Kita bisa konsentrasi ke proyek kita sekarang dan kau tak perlu pusing mengenai rencana pertunangan ibuku” lanjutku, tak mampu memandangnya lebih lama lagi.

Kulihat kelelahan terpancar dimatanya. Mungkin kelelahan yang sama yang ada dimataku. Tak sadar tanganku mengelus lembut kepalanya sebelum bibirku mendekat, mencium pelan dahinya. Sekarang, tidak terlihat penolakan dimatanya ketika aku memeluk dirinya dengan pelan.

Namun…

Tonjolan empuk yang menekan dadaku membuatku menginginkan lebih. Dengan perlahan kepalaku turun kebawah, kearah bibir tipisnya yang merah dan basah.

Kami berciuman lama dan basah. Lidahku mencoba menerobos masuk kedalam mulutnya, yang disambut dengan liar olehnya. Kami berciuman seolah tidak ada hari esok. Kurasakan penisku mulai mengeras dibawah sana. Dan hal itu dirasakan juga oleh si-celana-dalam-putih.

Tangan kananku menyusup kedalam kaos yang dipakai si-celana-dalam-putih dan melepaskan kait bra yang dipakainya. Sejenak dia tersentak ketika tangan kiriku berhasil menyusup kebalik bra yang dipakainya dan meraba pelan putingnya yang kecil dan mengeras.

“Ssstttsss, mas…,” desisan pertama keluar dari mulut mungilnya.

Tangan kananku kuarahkan kebawah, kelapisan celana legging yang dipakainya, sebelum meraba celah yang masih terhalang oleh sebuah celana dalam tipis.

Mulus, tanpa rambut kemaluan. Dan terasa lembab! Nafas kami sudah menderu ketika tangan lentik si-celana-dalam-putih meraba tonjolan yang mengeras dibalik celanaku dan meremasnya pelan.

Jari tangan kananku menyusup kedalam celana dalamnya yang basah dan mencari celah diantara kedua pahanya. Si-celana-dalam-putih tersentak ketika aku berusaha memasukkan jariku kecelahnya.

“Mas! Kita tidak boleh,” kata si-celana-dalam-putih sambil mendorong tubuhku dengan agak keras. Tanpa berkata dia melepaskan pelukanku dan berlari menuju pintu. Pantatnya bergoyang ketika dia berlari. Pantat yang hanya bisa kuamati menghilang dari pintu.

Saat sadar aku mencoba berjalan menuju kepintu dan berharap dia belum jauh.

Kubuka pintu dan seorang gadis berdiri didepanku.

“Mas, kok Mbak Lidya kulihat berlari tadi, ada apa mas?” tanyanya heran. “Eh, itu kok bangun? hihihi” lanjutnya sambil tertawa.

Dia. Raisa.

Bersambung