Rahasia Gelap Part 33

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Tamat

Cerita Sex Dewasa Rahasia Gelap Part 33 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Rahasia Gelap Part 32

LOST IN THE ECHO
Part 7

Lidya POV

Kuamati si-mata-keranjang yang sekarang tertidur dengan tenang. Seperti biasa wajahnya terlihat begitu berbeda ketika sedang tertidur. Wajah yang begitu tenang, begitu nyaman.

Seperti wajah bayi.

Kualihkan pandanganku dari si-mata-keranjang, pemandangan kota jakarta disiang hari terlihat dari celah tirai jendela yang terbuka. Seperti biasa, hanya kemacetan dan iringan kendaraan yang mengular dijalan raya terlihat.

Tok.tok.tok

Suara ketukan ringan di pintu memecah lamunanku.

“Iya, tunggu sebentar,” kataku sambil melangkah ke pintu.

Kubuka pintu dengan perlahan.

“Mbak Lidya,” kata seseorang yang menjadi teman dekatku selama ini.

“Shinta?” seruku sambil memeluknya dengan erat. “Kapan datang Shin? tanyaku sambil memandang juga Lisa yang ada disamping Shinta.

“Barusan mbak,” jawab Shinta sambil tersenyum. Kulihat wajahnya sedikit letih, namun senyumnya selalu menghiasi bibir tipisnya. Kualihkan perhatianku pada Lisa yang berdiri disamping Shinta.

“Pesanan mbak gimana Lis?” tanyaku.

“Sudah kok mbak, ini,” katanya sambil menunjuk kearah tas yang dibawanya. “Eh, pakaian mbak seksi sekali hari ini, hihihi,” katanya.

“Iy nih mbak, tumben pakai legging?”, tanya Shinta sambil tersenyum.

“Eh, ini…, tadi dibeliin sama kakaknya Mas Andri, mbak gak bawa ganti tadi,” jawabku dengan pipi yang sedikit memanas. “Yuk masuk dulu, Mas Andri lagi tidur,” kataku sambil melangkah kesamping. Memberikan ruang untuk Shinta dan Lisa untuk lewat.

“Mbak, ini ditaruh dimana?” tanya Lisa sambil menunjuk tasnya.

“Sini Lis,” kataku sambil mengambil tas dari tangannya.”Gimana di kantor Lis?” tanyaku sambil meletakkan tas di sebelah sofa.

“Masih perlu sedikit penyesuaian mbak, tapi sudah dihandle Mas Frans dan tadi Mas Edy serta Mbak Erlina juga sudah ada dikantor,” terang Lisa panjang lebar.

“Bagus deh kalau begitu, ehmmm, mbak mungkin kerja dari sini nanti, ” kataku pelan.

“Loh, kok gitu mbak?” tanya Shinta sambil menaikkan alisnya.

“Ehmmm, soalnya bagian coding mbak dan Mas Andri yang akan menghandle, jadi sampai Mas Andri sembuh, kantor mbak disini saja,” kataku sambil berusaha membuat suaraku sebiasa mungkin.

Terlihat Lisa dan Shinta saling pandang. Keduanya terlihat sedikit ragu dengan apa yang kukatakan.

“Mbak, yakin? Dengan si-mata-keranjang?” tanya Lisa dengan suara yang rendah, sambil menoleh kearah si-mata-keranjang.

Untungnya, yang dibicarakan masih terlihat pulas tertidur. Mungkin.

“Iya Lis, mbak sama kakaknya Mas Andri kok disini,” jelasku melihat keraguan diwajah mereka.

Kulihat raut heran diwajah Lisa dan Shinta. Dan kuanggap wajar, karena untuk pertama kalinya aku bersedia bersama seorang lelaki sedekat ini. Kecuali Nick tentunya

“Mbak, kekamar mandi dulu ya, kebelet nih,” kata Lisa sambil menuju kekamar mandi.

Kulihat Shinta, wajahnya terlihat sedikit lelah.

“Gimana Shin?” tanyaku. Dengan harap-harap cemas aku menunggu jawaban dari Shinta. Shinta mendekat kearahku, dengan suara yang pelan, Shinta berbisik kepadaku.

“Mengenai Sherly, sulit melacak keberadaannya mbak, aku sudah berusaha untuk mencarinya, tapi selalu saja ada penghalangnya mbak,” terang Shinta dengan pelan.

“Apa menurutmu Sherly…, Sherly masih hidup?” tanyaku dengan berat.
“Ehhmm, kemungkinannya besar mbak, cuma Shinta gak tau, dimana dia sekarang mbak,” katanya dengan nada menyesal.

“Tidak apa-apa Shin,” kataku. “Oh iya, nanti tidurnya di mess mbak aja ya Shin, bareng sama Lisa juga,” saranku.

“Iya mbak,” katanya sambil tersenyum.

“Hayo ngobrolin apa serius gitu? ” tanya Lisa yang baru keluar dari kamar mandi.

“Ini, untuk tempat istirahat Shinta nanti, jadi bareng sama kamu, gak apa-apa kan Lis?” tanyaku pada Lisa.

“Boleh saja mbak, bagus malah, nanti Lisa ada temen malemnya, pengganti mbak,” kata Lisa sambil mengedipkan matanya
dan tersenyum simpul. “Kalau begitu, kami balik dulu ke kantor ya mbak,” kata Lisa sambil melangkah mendekat.

Kulihat Shinta sudah berjalan melewati pintu. Ketika Lisa sampai disampingku dia melambatkan langkahnya dan berbisik.

“Mbak, Shinta sama kayak mbak nggak? Hihihi” tanyanya sambil tertawa kecil.

Kurasakan mukaku memanas. Dengan pelan kujawab pertanyaan Lisa.

“Kenapa tidak coba dulu Lis? ” tanyaku balik sambil tersenyum simpul.

Dengan tersenyum Lisa balik berkata.

“Punya mbak jaga baik-baik ya, ada predator ulung dekat mbak, ” katanya sambil menuju kepintu. Senyum jahil terlihat diwajahnya sebelum terhalang oleh daun pintu yang menutup dibelakang punggungnya.

Hufffttttt
Sherly, dimanakah kau sekarang?
Bagaimana keadaanmu?

Dengan pikiran yang dipenuhi dengan kenangan masa kecil kami, aku membuka tas yang dibawakan oleh Lisa tadi. Kuambil laptop yang ada didalam tas dan meletakkannya dimeja kecil yang ada dekat sofa tempat penunggu pasien istirahat. Selain laptop, tadi sempat kuminta Lisa mengambilkan pakaianku di mess. Tapi sayangnya sepertinya dia lupa mengambil pakaian dalam.

Kelupaan apa sengaja? Pikirku sambil mengingat bagaimana binalnya Lisa.

Dan memikirkan dia sekamar dengan Shinta, membuat bagian bawah tubuhku meremang.

Apalagi kalau kami….

Galang POV

“Lang, kenapa kita tidak langsung saja menuju ke G-Team? Kita bisa sekalian ngecek alibinya!” seru Herman, seperti biasa, tak sabaran.

“Dan buktinya? Hanya rekaman yang belum bisa dikonfirmasikan, apakah orang yang di video itu dia!?” aku balik bertanya kepada Herman.

“Tapi jenis pakaian, tinggi serta posturnya sesuai dengan ciri-cirinya!” kata German tak mau kalah.

“Pakaian mudah dicari, postur bukan hanya dia yang posturnya segitu, kalau ditangan pengacara yang ahli, dengan mudah dia akan dibebaskan, dan setelah itu apa?” tanyaku kepada Herman yang sekarang sedikit tergagap.

Kami sekarang sedang menelusuri lorong rumah sakit tempat Andri dan security yang mengalami nasib naas itu. Bau obat, suster dan dokter yang berlalu-lalang manjadi pandangan yang biasa ditempat seperti ini.

Nomer berapa kamarnya Her? tanyaku pada Herman yang berada disampingku.

113, kata Herman singkat. Kulirik wajahnya dan terlihat dia cemberut karena argumennya kupatahkan. Sambil tersenyum, aku mencari dimana ruangan dengan nomer 113 berada. Dan akhirnya, kulihat pintu dengan nomer itu di sudut lorong ini. Dengan langkah yang sedikit lebih cepat aku menuju kesana. Herman juga mengikutiku dengan lebih cepat.

Sesampai didepan pintu, keketuk dengan sedikit keras.

Tok..tok…tok

Sebentar, sebuah suara yang wanita menjawab dari balik pintu.

Kriieetttt….

Dengan suara pelan pintu membuka dan seorang wanita diambang usia 23 tahun berdiri dengan wajah bingung melihat keberadaan kami.

Selamat siang mbak, ada Mas Paijonya? Kami dari kepolisian, kata Herman memecah keheningan diantara kami.

Siang pak, ada, Mas Paijo didalam pak, silahkan masuk, katanya sambil melangkah kesamping sehingga kami bisa lewat.

Diatas ranjang bisa kami lihat seorang lelaki dikisaran usia 25 tahun sedang terbaring dengan perban dikepalanya. Dia tersenyum kecil ketika kami masuk.

Siang pak, sapanya sambil berusaha untuk duduk.

Santai aja mas, gak usah duduk, sambil berbaring saja, kata Herman sambil mengambil tempat duduk yang ditawarkan oleh wanita yang membuka pintu tadi.

Kami duduk disisi sebelah kanan dari Paijo. Kamar kelas dua dari rumah sakit ini hanya berisi empat ranjang, yang berarti bisa menampung empat pasien. Sekarang hanya berisi dua buah pasien, yang kebetulan berada agak jauh dari tempat kami berada sehingga rasanya wawancara kami bisa berlangsung dengan lebih tenang. Kulihat Herman sudah mengeluarkan catatannya dan bersiap untuk memulai wawancara. Dia menoleh kepadaku yang kujawab dengan anggukan, sebagai syarat dia bisa memulai wawancaranya.

Mas Paijo, benar mas saat ini berprofesi sebagai salah satu security di Apartemen Chapista? tanya Herman memulai wawancaranya.

Benar pak, sahut Paijo dengan pelan.

Benar anda bertugas pada hari Rabu ini? lanjut Herman.

Benar pak, jawab Paijo.

Bisa anda ceritakan bagaimana kejadiannya sampai anda bisa terluka seperti ini? lanjut Herman.

Lalu Paijo mulai bercerita bagaimana saat hari Rabu dia bekerja bersama Jajang dan seorang rekannya.

Saat itu saya dan rekan saya bertugas keliling di kompleks apartemen, sedangkan Jajang jaga di pos. Sekitar pukul sembilan lebih, saya sedang di lantai sembilan, ketika saya melihat seorang lelaki keluar dari salah satu kamar. Awalnya saya biasa saja, tapi saat orang itu memasukkan akses cardnya, ketika tangannya keluar dari kantong, saya lihat saputangannya terjatuh.

Dia tidak sadar kalau saputangannya terjatuh, jadi saya kejar dan mau mengembalikan saputangannya yang saya pungut, tapi dia tidak dengar, jadi saya dekati dia. Ketika saya sudah dibelakangnya, tiba-tiba dia berbalik dan wutttt, saya merasa sakit dikepala dan kemudian gelap. Ketika saya sadar, saya sudah berada disini pak, kata Paijo panjang lebar.

Apa anda melihat wajahnya? tanya Herman.

Hanya sekilas pak, lagian sepertinya dia memakai masker dan kacamata, jadi agak sulit pak, jawab Paijo.

Herman menoleh kepadaku, sepertinya dia sudah kehabisan bahan pertanyaan. Aku memandang kearah Paijo dan mulai bertanya.

Dibagian mana anda dipukul? tanyaku.

Disini pak, Kata Paijo sambil menunjuk kepala bagian kirinya.

Hmmmm, aku mencoba membayangkan kejadian itu, jika Paijo berada dibelakang tersangka, kemudian tersangka berbalik dan memukul yang mengenai bagian kiri kepalanya, berarti kemungkinan tersangka menggunakan tangan kanan. Sesuai dengan divideo.

Menurut anda, yang memukul anda, pria atau wanita? tanyaku lagi.

Terlihat Paijo sejenak berpikir.

Kalau dari postur dan cara berjalannya, kemungkinan besar pria pak, jawab Paijo.

Apa ada hal lain yang anda ingat mengenai orang yang memukul anda? tanyaku lebih lanjut, mencoba mencari sesuatu yang bisa kugunakan nanti.

Maaf pak, rasanya itu saja, jawab Paijo singkat.

Hmmmmm, jalan buntu lagi. Kupandang Herman, yang kebetulan juga sedang melihat kearahku. Kuanggukan kepala, memberi isyarat kalau aku juga sudah selesai.

Kalau begitu, terimakasih kerjasamanya mas, kami permisi dulu, kata Herman sambil bangkit dan menuju kearah pintu. Kujabat tangan Paijo dan mengangguk singkat kearah wanita yang membuka pintu tadi lalu menyusul Herman yang sudah berada diluar ruangan.

Ke Andri? tanyanya singkat yang kujawab dengan anggukan kepala ringan.

Andri POV

Huftttt, pegal juga rasanya terlalu lama berbaring di ranjang rumah sakit. Mana si-celana-dalam-putih keluar beli obat. Duhh kemana tu anak, sepi sekali disini.

Hmmmm, lebih baik aku mulai bekerja saja, daripada bengong seperti ini.

Kuambil laptop dan menghidupkannya. Tak berapa lama, kuperiksa email dan ada beberapa email masuk. Beberapa dari Frans, Edy, Erlina dan sisanya dari Raisa.

Kuperiksa email dari Frans dan yang lain, isinya sebagian besar menanyakan tentang keberadaanku.
Hmmm, berarti email ini sebelum aku sampai disini.

Raisa?

Kubuka email Raisa satu persatu.

From : [email protected]
Subject : Materi Pendukung

Sore Mas,

Kalau nanti perlu materi pendukung untuk proyeknya, hubungi saya saja ya,

Thanks,

Raisa

Sekretaris || Alfa Medika

Kubuka emailnya yang kedua:

From : [email protected]
Subject : Rapat

Malem Mas,

Kok nomer mas gak bisa dihubungi? Ada rapat sekarang dengan bapak, katanya ada beberapa yang perlu dibahas, reply ya mas.

Thanks,

Raisa

Sekretaris || Alfa Medika

From : [email protected]
Subject : Rapat

Malem Mas,

Mas, tadi Is diminta hubungi perusahaan mas, yang jawab Mbak Erlina, untuk rapatnya nanti Mas Edy dan Mbak Erlina yang akan ngewakilin mas,

Note : Handphone mas kok gak aktif terus?

Thanks,

Raisa

Sekretaris || Alfa Medika

Hmmm, berarti rapat yang dihadiri oleh Edy dan Erlina. Kubalas email Raisa.

To: [email protected]
Subject : Rapat dan No Handphone baru.

Siang Is,

Mas kecelakaan kemarin malam, sekarang masih dirawat di Rumah Sakit Sari Husada,
Handphone mas hilang, untuk sementara bisa hubungi mas di nomer : 081 999 333 333

Iya untuk rapat sudah diwakilkan oleh Edy, sementara ini belum ada yang perlu, mas belum bisa bekerja full sekarang,
mungkin besok baru bisa mulai Is.

Thanks,

Andri

CEO|| G-Team.

Sebaiknya istirahat dulu sebentar, sebelum besok mulai bekerja lagi.
Huft, capek juga.

Eh, si-celana-dalam-putih pergi kemana ya?

Ting

Suara email masuk di laptop membuatku menoleh kelayar laptop lagi. Dilayar terdapat notifikasi :

1 new email.

Ku klik balon notifikasi dan sebuah email dari Raisa kelihatan.

From : [email protected]
Subject : RE : Rapat dan No Handphone baru.

Siang Mas,

Waduh, men sekarang gimana mas? Udah baikan?
Is masih ada meeting sampai malam, belum bisa jenguk mas sekarang.

Nanti Is kabarin lagi,

Get well soon ya mas,

Raisa

Sekretaris || Alfa Medika

Sambil tersenyum aku baca email dari Raisa. Raisa…Raisa… Dan kenangan melewati malam dengannya bergulir lagi.

Aduuuhhhhh!

Andri junior malah bangun lagi.

Tok..tok..tok

Pintu diketuk dari luar.

Masuk, kataku dengan sedikit keras dan dengan terburu-buru meletakkan laptop dimeja kecil yang diambilkan oleh si-celana-dalam-putih.

Kriieettt.

Pintu terbuka dan terlihat dua orang polisi yang tadi pagi datang.

Selamat sore Mas Andri, maaf kami mengganggu lagi, kata polisi yang lebih gendut. Kalau tidak salah namanya Herman.

Tidak apa-apa pak, silahkan duduk, maaf saya belum bisa bebas bergerak, kataku sambil menunjuk kursi kecil yang biasa digunakan untuk menunggui pasien.

Hmmmm, apa lagi yang mereka inginkan?

Kami yang harus minta maaf Mas, kata polisi gendut sambil duduk dekat denganku.

Sejenak kulihat dia memandang polisi yang lebih kurus, sikurus yang lebih tenang.

Tenang.

Menghanyutkan.

Ehhmmm, Mas Andri, kata sikurus yang sekarang mendekat kearahku. Ekspresi wajahnya sukar dibaca. Pandangan matanya, tenang, tajam dan menyelidik.

Pandangan mata yang membuatku kesulitan untuk tetap memandanya lebih lama lagi!

Singkat saja, kata sikurus. Apa yang perlu kami ketahui tapi tidak anda katakan? tanyanya dengan pandangan yang seolah-olah mau menjenguk isi hatiku. Pandangan yang seolah menelanjangi kebohonganku.

Kupandang wajah dari sikurus.

Pandang matanya.

Sejenak aku menimbang-nimbang, apa perlu melanjutkan kebohongan ini atau bagaimana. Kulihat lagi

Hufftttt, sudahlah.

Kuraih laptop, menghidupkannya dan memperlihatkan file yang dikirim Ade kepadaku.

Sebelum meninggal, Ade mengirimkan ini kepada saya, bersama dengan sebuah email, namun sayangnya, emailnya telah didelete, kemungkinan dari handphone saya yang hilang, kataku memberi penjelasan.

Terlihat polisi gemuk memandang tak percaya file yang kuperlihatkan. Mungkin dia menganggap kubercanda memperlihatkan film xxx sebagai sebuah petunjuk.

Dan menurut anda ini sebuah petunjuk? Atau anda sudah mendapatkan petunjuk dari ini? tanya sipolisi kurus.

Lagi.

Analisa yang tajam dari polisi kurus.

Saya rasa, itu tugas anda bukan? tanyaku tajam sambil mengawasi sipolisi kurus yang sekarang terlihat serius mengamati file yang kuperlihatkan.

Bisa kami copy file ini? tanya sipolisi kurus singkat.

Bisa pak, kataku sambil menerima flash disk yang diuulurkannya.

Mungkin anda juga berminat mengecek file video yang ada di flash disk itu? katanya datar.

Setelah mengcopy file video yang kumaksud, aku melihat ada sebuah file video lain yang ada di flash disk yang diserahkannya. Kulihat kearah sipolisi kurus dan terlihat dia menganggukan kepalanya.

Kubuka file video yang ada dan sejenak aku terkejut.

Pemandangan familiar ruangan di perpustakaan pribadi diapartemenku terlihat!

Kulihat ekspresi senang diwajah sipolisi kurus saat merasakan keterkejutanku, namun hanya sekejap, kemudian berganti lagi menjadi ekspresi datar.

Terus? tanyaku melihat ekspresi sipolisi kurus yang datar

Anda bisa memajukannya sampai kira-kira pertengahan video itu, katanya datar.

Kuikuti saran dari si polisi kurus.

Kembali aku dibuat terkejut ketika video menunjukkan seorang lelaki memasuki ruang perpustakaan dan terlihat mengambil hard drive computerku dan meninggalkan ruangan dalam waktu yang relatif singkat.

Ketika masih didalam ruangan dan tak sengaja wajahnya menoleh kearah kamera. Sosok yang familiar denganku terlihat.
Aku pandang sipolisi kurus, tatapan matanya sekarang meperlihatkan keingintahuan.

Saudara Andri, apa anda mengenal orang yang memasuki apartemen anda? katanya sambil menatap tajam.

Dengan pakaian seperti itu, sulit bagi saya untuk mengenalnya, jawabku datar.

Tapi dari ciri-cirinya, dia kan seperti..

Seperti teman anda bukan? kata sipolisi kurus menyela perkataan si polisi gemuk.

Mungkin, jawabku pelan.

Terlihat si polisi kurus saling pandang dengan si polisi gemuk.

Kalau begitu kami permisi dulu mas, kalau ada hal yang anda ingat lagi, hubungi saya di sini, kata si polisi gemuk sambil memberikan sebuah kartu nama. Mari mas, lanjut si polisi gemuk sambil melangkah keluar yang diikuti rekannya.

Setelah kepergian mereka aku termangu sejenak. Semua terasa seperti mimpi, namun video tadi begitu nyata!
Tapi, orang itu, mirip sekali dengannya. Sangat mirip.
Hanya saja..

Tok…tok…tok

Suara ketukan di pintu menyadarkanku dari lamunan.

Masuk,seruku.

Si-celana-dalam-putih berdiri dengan wajah berkeringat di pintu. Terlihat letih dan merangsang. Ouwh tidak, kenapa sel-sel kelabu diotakku ini selalu berpikir mesum???

Bersambung