Rahasia Gelap Part 30

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Tamat

Cerita Sex Dewasa Rahasia Gelap Part 30 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Rahasia Gelap Part 29

LOST IN THE ECHO
Part 4

Galang POV

“Lang, Galang…, bangun…,” samar kudengar suara seseorang di telingaku.

“Lang bangun, ada kasus lagi,” lagi kudengar samar.

Dengan malas kurentangkan tangan dan membuka mata.

“Kenapa lagi Her? Belum ada sejam aku tidur,” keluhku kepada Herman ketika melihat siapa yang membangunkanku.
Mataku masih terasa sangat mengantuk karena kurang tidur kemarin. Dan sekarang Herman membangunkanku dengan terburu-buru.

“Ada kasus pencurian Lang!” seru Herman sedikit keras.

“Kalau pencurian kan bukan bagian kita Her,” gerutuku sambil membalikkan badan, hendak melanjutkan tidurku yang terganggu tadi.

“Memang, tapi pencurian ini, terjadi di apartemennya Andri!” kata Herman dengan tegas.

“Andri? Andri G-Team?” tanyaku memastikan.

“Iya Lang, kebetulan bukan?” kata Herman sambil tersenyum.

“Tidak ada kebetulan yang seperti ini Her, apa ada barang yang hilang?” tanyaku.

“Hanya sebuah laptop,” jawab Herman.

Hmmmm, menarik. Laptop. Barang yang mungkin tidak terlalu penting bagi orang lain, namun bagi orang seperti Andri, pasti sangat berharga. Dan lebih berharga lagi, apa yang ada didalam laptopnya itu. Dan mungkin isi dari laptop itu akan membuat penyelidikan kami lebih mudah, seandainya kami mendapatkannya.

“Ayo Her, “ajakku sambil mengambil jaket yang terletak tidak jauh dari ranjang.

Andri POV

“Kenapa Ndri?” tanya Frans melihat ekspresi wajahku.

“Frans, Lisa, bisa mendekat sebentar?” pintaku kepada mereka berdua.

Dengan wajah yang bingung, keduanya mendekat kearahku. Samar bisa kurasakan sesuatu yang berbeda dari sikap mereka.

“Frans, Lis, mulai sekarang, stop semua komunikasi yang menggunakan email dan cloud perusahaan, ” kataku sambil memberi isyarat biar aku bicara dulu, kepada Frans. “Kemudian, stop semua akses internet dan wifi yang tidak terpakai di ruang coding dan perusahaan serta minta Guzur untuk mengecek ulang semua device kita, kemungkinan ada orang yang menyusup kedalam jaringan kita,” kataku sambil memandang tajam kepada Frans dan Lisa untuk melihat ekspresi mereka.

“Kau yakin?” tanya Frans dengan ekspresi wajah yang sedikit terkejut.

“Yakin sekali, minta juga semua security untuk bekerja lebih awas lagi serta cek kondisi semua CCTV, aku ingin CCTV dicek full 24 jam sekarang!” perintahku kepada Frans.

“Dan Lisa, tolong minta semua staff menggunakan BBM dalam komunikasi sekarang, rasanya masih cukup aman menggunakannya ketimbang email perusahaan,” kataku kepada Lisa.

“Baik mas,” sahut Lisa singkat.

“Sebaiknya kalian berangkat ke G-Team sekarang, oh ya Frans, bisa belikan aku laptop dan handphone? laptop dicuri dan yang handphone ku belum tentu rimbanya,” terangku.

“Roger that, aku berangkat beli perlengkapan untukmu sekarang, eh, aku nganter Lisa dulu, “jawab Frans dengan sedikit bingung.

“Mbak aja nanti yang ngantar, mbak mau pulang dulu ngambil baju sama ibu, Andri biar sama pacarnya saja disini,” kata si-nenek-lampir spontan.

“Pacar?” dengan terkejut Frans dan Lisa menoleh kearahku.

Dengan tampang pasrah aku hanya mengangkat bahuku dan memasang ekspresi apa boleh buat.

“Kalau begitu, aku berangkat sekarang Ndri, ” kata Frans sambil melangkah kearah pintu, wajahnya masih terlihat sedikit surprise mendengar aku punya pacar.

“Kalau begitu, mbak nyari ibu dulu ya Dik Lisa, biar tidak terlalu lama nunggu,” kata si-nenek-lampir sambil menuju kepintu.

Dan sekarang hanya ada aku dan Lisa saja disini.

Baru pertama kalinya kami seruangan seperti ini, kurasakan sedikit kikuk bersamanya. Kuperhatikan sejenak Lisa. Badannya mungil dan terkesan rapuh, jauh lebih mungil daripada si-celana-dalam-putih. Tonjolan didadanya juga tidak terlalu besar, begitu pula tonjolan dibelakang.

Mungil.

Kata orang, wanita yang tubuhnya mungil, vaginanya juga dangkal? Benar gak ya? Tak sengaja aku malah melamun membayangkan itu.

“Lis, Edy sama Erlina ada kekantor?” tanyaku.

“Kemarin Mas Edy dan Mbak Erlina pergi meeting dengan Pak Tony mas, ada beberapa perubahan yang ingin dibicarakan Pak Tony,” jelas Lisa.

“Perubahan apa Lis?” tanyaku penasaran.

“Belum tahu mas, Mas Edy belum ada kelihatan dari kemarin, mungkin meetingnya lama, soalnya diminta ke villanya Pak Tony,”terang Lisa.

“Eh, mas, gak bilang-bilang kalau sudah punya pacar, ” lamjut Lisa sambil tersenyum simpul.

“Justru aku baru tahu kalau aku punya pacar sekarang, Lis,” kataku kepada Lisa.

“Eh, maksud mas?” tanya Lisa dengan bingung.

“Tanya Lidya saja nanti, eh, gimana kamu sama Frans? Sudah sempat ngapain saja?” tanyaku sambil tersenyum jahil.

“Ah mas, belum ada ngapa-ngapain mas, ” jawab Lisa dengan nada malu.

“Well, jadi mau diapa-apain neh? Hahaha” kataku sembari tertawa.

“Ckckkckc,, masih sakit aja bisa kaya gini mas, ntar aku bilangin Mbak Lidya lho,” jawabnya.

“Bilangin aja, “seruku.

“Bilangin apa?” suara si-celana-dalam-putih terdengar di belakang Lisa.

“Bilangin kalau ada yang kangen mbak,” sahut Lisa yang sukses membuat pipi si-celana-dalam-putih memerah.

“Cie-cie.. baru saja ditinggal sebentar, sudah kangen,” sahut si-nenek-lampir.

“Ya udah, minta tolong jagain si kunyuk ini biar gak rewel ya Lid, nanti mbak kesini lagi sama ibu,” kata si-nenek-lampir.”Lis, ayo mbak antar ke kantor,” ajak si-nenek-lampir sambil mengajak Lisa.

Dan, sekali lagi, aku berduaan dengan si-celana-dalam-putih.

“Lid…,”
“Mas…,”

Kami menyapa barengan dan berhenti juga barengan.

“Kamu duluan,”
“Mas duluan”

Dan lagi, kami berhenti barengan.

“Masalah yang tadi,”
“Masalah yang tadi”

Ehmmm….

“Bicarain apa saja sama mak lampir tadi Lid?” tanyaku kemudian. Untuk pertama kalinya tidak sama.

“Ngobrol-ngobrol aja mas, “sahutnya sambil melihat kesamping.

Wajahnya terlihat sedikit merona. Hmmm, bukan pembohong yang baik. Terlihat sekarang dia menunduk sambil matanya sesekali melirik kearahku. Mata yang bening namun terlihat sedikit merah.

Apa dia baru saja menangis?

Tapi kenapa?

Apa yang dibicarakannya dengan ibu dan si-nenek-lampir?

“Mas, gimana dengan proyek kita?” tanya si-celana-dalam-putih.

Mengalihkan perhatian. Kulihat pandangannya tidak fokus.

Andai saja aku tidak seperti ini…

Lebih baik aku tidak mengatakan mengenai kecurigaanku mengenai adanya kebocoran data dan kemungkinan hacking di perusahaan.

“Aku sudah mengaturnya dengan Frans, jadi santai saja Lid,” kataku.

Dan tenangkan dirimu, aku ingin melihat sinar mata yang bersemangat dan tak kenal menyerah lagi dimatamu itu.
Mata yang begitu memancarkan aroma percaya diri dan persaingan!

Mata yang membuatku tertarik…

Galang POV

Kami menuju ke apartemen dari Andri, CEO G-Team, yang entah nasib buruk atau kejahatan yang teroganisir sedang terjadi padanya. Dari kematian salah satu staff terbaiknya, ledakan mobil, tembakan di perut dan sekarang, pencurian diapartemennya.

Segala sesuatu itu mempunyai pola, bahkan benang kusut sekalipun.

Semua kejadian ini pasti ada hubungannya.

Tugasku sekarang mencari hubungan itu!

“Lang, kenapa kau diam saja?”, tanya Herman ketika kami menuju kearah

“Hanya sedikit berpikir mengenai apa hubungan antara kejadian ini dengan kejadian-kejadian sebelumnya yang terjadi dengannya,” jawabku.

“Aku rasa ini kebetulan saja,” kata Herman singkat.

Kebetulan?

Bukan, terlalu mudah kalau hanya kebetulan.

Kami tiba di apartemen Andri, terlihat satu pos satpam didepan pintu masuk kompleks apartemen. Seorang anggota polisi terlihat berjaga disana. Dia bangkit dan memberi hormat ketika melihat Herman. Sipolisi tadi lalu berbicara sebentar dengan security yang ada didalam,pagar terbuka dan mobil kami masuk ketempat parkir yang terletak di basement.

Aku keluar dari mobil dan melihat kesekeliling.

Terlihat beberapa CCTV ada dibeberapa tempat yang strategis di parkir, walaupun parkir sedikit gelap, namun kurasa masih bisa memantau keadaan.

Kami melangkah menuju ruangan Andri seperti yang diberitahu oleh anggota polisi tadi, di pintu lift kami berhenti dan aku melihat kalau untuk menggunakan lift, harus menggunakan access card.

Gate, CCTV, access card, bagaimana sipencuri melewati semua ini?
“Eh, bagaimana cara pakainya ini? ” Kata Herman setelah beberapa kali memencet tombol namun lift belum terbuka.

“Kita perlu access card,”kataku pelan. “Sebaiknya, kita mulai penyelidikan ini dari depan,” kataku sambil berjalan pelan ke pos satpam.

“Eh, tunggu Lang,”seru herman sambil mengejarku dari belakang.

“Selamat pagi pak, ada apa pak?” sapa polisi yang berjaga dipos satpam.

“Selamat pagi, ” sahut aku dan Herman serentak.

“Ada security yang bertugas?” tanyaku.

“Ada pak,” katanya sambil memanggil seseorang yang berada didalam pos.

“Selamat pagi pak, ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang petugas security. Berusia kurang lebih 40 tahun, namun tubuhnya terlihat tegap dan berisi.

“Selamat pagi pak, saya Galang, ” kataku sambil menjabat tangannya.

Kuat dan tegas.

Itu kesanku saat menjabat tangannya.

“Tadi saya lihat ada CCTV pak, darimana diawasinya ya pak?” tanyaku.

“CCTV diawasi dari sini pak,” katanya sambil menunjuk kearah posnya. “Kalau mau, bapak bisa lihat,” tawarnya dengan ramah.

“Boleh pak,”sahutku.

“Kalau begitu mari pak,” katanya sambil berbalik dan menuju keruangannya.

Hmmmm, lumayan banyak CCTV.

Dan pengawasnya apakah hanya satu orang? Monitor-monitor pengawas berderet dengan rapi. Lebih dari sepuluh monitor, dengan masing-masing monitor berisi tampilan 6 buah CCTV. Jadi total ada 60 CCTV?

“Siapa saja yang mengawasi CCTV disini?” tanya Herman.

“Biasanya kalau malam ada 3 security pak, kalau siang, cuma dua, rekan saya sekarang kebetulan lagi ronda keliling pak,”sahutnya.

“Apakah ada rekaman untuk setiap harinya pak?” tanyaku.

“Rekamannya ada pak, biasanya rekaman yang belum satu minggu, disimpan dikomputer sini, sedangkan yang sudah lebih dari satu minggu, biasanya dibackup ke tempat lain pak,” jelasnya.

“Bisa saya lihat rekaman kejadian pas kemarin pak? Kemarin malam tepatnya,” kataku.

“Oh, bisa pak,” katanya.

Dengan cekatan dia membuka komputer dan mulai mencari file yang kuminta. Folder demi folder dibukanya, hingga berapa lama dia masih melakukannya. Perlahan kerut mulai muncul dikeningnya.

“Aneh,”gumamnya.

Kulihat kerut dikeningnya semakin banyak ketika beberapa saat kemudian dia masih berkutat dengan folder-folder di komputernya.

“Aneh,” gumamnya sambil menggelengkan kepalanya.

“Kenapa pak?” tanyaku melihat kebingungannya.

“File rekaman kemarin tidak ada pak, semuanya!” katanya sambil memandang kearahku.

“Semuanya? Satupun tak ada yang tersisa pak?” tanyaku menegaskan.

“Iya pak, satupun tak ada, “jawabnya.”Mungkin kena virus pak, dulu juga pernah seperti ini,”jelasnya lagi.

Virus? Terlalu kebetulan.

Terlalu kebetulan kalau file rekaman yang bisa menjadi bukti itu semuanya terhapus. Kasus ini semakin rumit saja, seperti benang kusut.

Segala sesuatu itu mempunyai pola, bahkan benang kusut sekalipun.

Sekarang tinggal mengurai ujung dari benang kusut ini.

Pertanyaannya.

Darimana bisa aku memulainya?

“Pak, kalau mau masuk ke apartemen kan harus lewat sini? Siapa yang kemarin berjaga disini pak?” tanyaku.

“Jajang pak, dia baru sebulan bekerja disini, “sahutnya dengan cepat.

“Bisa saya bertemu dengannya pak?” tanyaku.

“Bisa pak, kebetulan dia memang dipanggil oleh manajemen, karena lalai pak,” sahutnya dengan nada pelan.

“Lalai? Lalai kenapa pak?” tanyaku penasaran.

“Nanti bapak tanya sendiri pak, saya panggil dia sekarang kesini,” katanya.

“Kalau tidak merepotkan, silahkan pak,” sahut Herman.

“Terlalu kebetulan bukan Lang?” tanya Herman ketika sisecurity pergi untuk memanggil security yang bertugas kemarin. Aku hanya tersenyum ketika mendengar pertanyaan Herman.

Aku mencoba mencari ujung dari benang kusut yang coba aku urai saat ini. Satu ujungnya ada pada CEO G-Team. Pertanyaannya sekarang, ujung satunya ada dimana?

Atau dipegang siapa?

Hmmmm, harus bertemu dengan Andri lagi nanti. Rahasia apa yang ada dibalik semua ini, salah satu kunci menyelesaikan kasus ini, pasti ada pada dia.

“Pak, ini Jajang,” kata security tadi sambil mengantar seorang security berusia 25 tahunan. Terlihat wajahnya sedikit takut-takut ketika masuk keruangan.”Saya keliling dulu pak,” lanjut security yang tadi sambil melangkah pergi.

“Selamat pagi, kami dari kepolisian, saya Herman dan ini rekan saya Galang, “kata Herman memperkenalkan kami sambil menunjuk kearahku. “Silahkan duduk,” kata Herman sambil menunjuk kearah salah satu kursi yang ada disini.

“Eh, i…ya pak,” sahutnya, masih dengan pandangan takut seperti tadi.

“Santai saja dik Jajang, kami hanya ingin bertanya sedikit saja kepada dik Jajang, jadi jangan takut,” seru Herman mendinginkan suasana.

Kuperhatikan Jajang ini. Seorang pemuda diambang usia 25tahun, wajahnya tampan, namun terlihat ketakutan dan tertekan. Tubuhnya cukup padat dan berisi. Namun pandangan matanya sedikit licik? Dia duduk dengan gelisah. Jari tangannya saling meremas satu dengan yang lain.

“Benar dik Jajang yang bertugas jaga disini kemarin?” tanya Herman.

“Benar pak, ” sahutnya pelan.

“Bisa anda ceritakan, apa yang terjadi kemarin malam? Tanpa ditambah atau dikurangi! ” kataku sambil melihat kedalam matanya. Mata yang semula bimbang dan ragu, sekarang perlahan bisa kulihat ketakutan disana.

“Kalau anda berbohong dan nanti kami mengetahuinya, mungkin bukan hanya anda akan kehilangan pekerjaan anda, namun kebebasan anda,” kataku dengan pelan.

Terlihat ketakutan yang ada dimatanya semakin bertambah. Dan kulihat pandangan lain disana.

Heran? Bingung?

“Eh, kema..rin itu, begini pak,” katanya, dan mulailah Jajang bercerita tentang kejadian kemarin.

***…***

Rabu, 22.00, Apartemen Chapista.

Jajang POV

“Ahhhhh, harder, make me cum! Ah…, more!”
“Two in the pussy, can you handle this baby?”
“Yes, I want your cock in my pussy!”
“Take this baby!”
“Hush…hush.hushh…,slowly! OMG, two cock in my pussy! My wet fucking pussy ripped!”
“How about one in your ass? Can you take it?”
“Ahhh.ahh.ahhh, yes, but be gentle, spit on it!”

Gila!!! Dua kontol di memeknya, ne bule emang hobi ngentot kali. Pikir gue melihat adegan demi adegan di HP baru gue.

Lumayan nih HP, gambarnya jernih coyyy!

Jari gue meremas kontol kesayangan yang sudah menegang dibalik kolor yang gue pake.

Tiinnnnnn…tiiinnnnnn…tiiinnnnn….

Suara klakson mobil terdengar dari depan pos gue.

“Sialan, nanggung banget.”

“Eh, ne mobil siapa lagi? Tumben gue lihat?”

Gue lihat kedepan, seorang wanita turun dari mobil, dengan kacamata hitam dan dress pendek. Dress pendek yang terlihat menerawang ketika tersorot lampu mobil.

“Mas, bisa bukain pagarnya?” sapa sigadis dengan dress pendek.

Wow, sexy!

“Maaf mbak, bisa lihat ID nya?” tanya gue.

“ID apa mas?” tanyanya.

“ID penghuni didalam mbak, kalau gak access card nya,” tanya gue sambil liatin nih cewek.

Cantik, putih mulus, sayang toketnya kecil.

Dressnya pendek berwarna hitam, dengan bahan kain yang tipis, terlihat menerawang dan itu…

“Ehhmmm, begini mas, saya dan teman saya mau ke apartemen pacar teman saya, mau ngasi surprise ulang tahun, tapi gak punya access cardnya, boleh pinjam gak mas?” tanyanya dengan nada yang genit.

“Waduh, gak boleh mbak, kalau ada apa-apa saya nanti yang disalahkan, saya baru kerja disini mbak, gak ingin kehilangan pekerjaan saya mbak, ” kata gue sambil ngelihatin toketnya yang terlihat dari belahan dressnya yang rendah.

Wow, tanpa bra.

Putingnya terlihat tercetak didressnya.

Tak sadar gue menelan ludah melihat toketnya yang gak begitu besar, tapi sekal!

“Kalau begitu antar saya kesana ya mas?” katanya sambil mendekatkan toketnya kearah gue.

Gila, wangi bener! Pasti parfum mahal neh, dari luar aja sudah begini wanginya, apalagi kalau bisa ngenyot tuh toket! Kepala gue jadi pusing ciumnya.

“Wah, gak boleh ngajak orang yang tidak dikenal kedalam mbak, eh, saya kerja sendiri mbak,” jawab gue dengan dahi yang mulai berkeringat. Celana gue terasa sesak melihat tonjolan toket yang terlihat begitu ketat didressnya!. Putingnya tercetak jelas di permukaan dress tipis itu. Sebagian toketnya kelihatan ketika dia mendekat.

Putih mulus!

“Ehmmm, kalau saya yang temenin mas disini, sekarang, temen saya aja yang naik ke apartemen bagaimana mas? Kan saya jaminannya, nanti saya kasi ini deh, “katanya sambil menunjuk kearah selangkanganya.

Tangannya seolah tak sengaja mengangkat sedikit dress yang dikenakannya dan terlihat paha putih mulus bulat dan menantang. Toketnya yang terlihat begitu bulat dan padat sedikit ditekankan kedepan sehingga terlihat seakan mau meloncat keluar.

“Ehmm, mbak itu, itu…, saya gak berani mbak,” kata gue.

Antara ragu dan nafsu!

Kontol gue sudah mengeras dicelana gue.

“Ehmmmm, cuma sebentar aja mas, gak sampai 30 menit, mas tahan segitu?” tanyanya sambil meraba tonjolan kontol gue dari balik celana gue.

“Tahan apa mbak,” tanya gue dengan nafas yang mulai mengeras.

Gila neh cewek! Lagi sange apa make neh?

“Tahan ini,” katanya sambil membuka resleting celana gue. “Access cardnya mana mas?” rayu siwanita dengan tangan yang membelai penis gue yang sudah membengkak. Matanya terlihat sange abis!

“Ak…ses card kamar be..rapa mbak?” kata gue tak tahan.

Cuma sebentar! Gue bakal keluarin pejuh gue didalam memeknya yang pasti sempit.

Kapan lagi gue bisa ngentot ama cewek kaya gini? Pikir gue.

“903” jawabnya sambil membelai kantong bola gue dengan lembut.

Gila, pro neh ce!

“Sebentar mbak, “kata gue sambil mengambil access card cadangan buat kamar 903.

“Ini mbak,” kata gue sambil ngasi access card kedia.

“Tunggu bentar ya mas, itu dikerasin aja dulu, biar bisa langsung masuk nanti, hihihi,” katanya sambil menunjuk kekontolku lalu berbalik dan berjalan menuju kemobil. Dengan pantat yang menungging, gue bisa lihat dia ngasi access card ketemennya. Sayang, karena suasana yang gelap, gue gak bisa lihat muka dari temennya. Gue buka gerbang pagar dengan menekan remote control yang ada dipos security. Remote yang setiap penghuni apartemen punya.

Setelah mobil melaju, bidadari sexy ini kemudian menuju ke pos gue lagi.

Dengan tak sabar, celana udah gue pelorotin sampai kemata kaki, tangan gue dengan santai mulai mengocok kontol gue yang sudah berdiri tegang.

“Ehmmm, sudah main berdiri aja mas? Sudah siap masukin kesini?” tanyanya sambil menaikkan dressnya sampai keperut.

Mata gue serasa mau meloncat keluar melihat pemandangan yang ada didepan gue, paha mulus, putih dan padat hingga kepangkal. Dan pangkal paha itu, demikian mulus, tanpa celana dalam dan tanpa rambut kemaluan! Celah sempitnya menyerupai garis lurus dan berwarna kemerahan.

Belum begitu sering dipakai!

Lagi, gue terpaksa nelen ludah melihat begitu sempurnanya pemandangan didepan mata gue.
Dengan langkah pelan dia menghampiri gue dan berlutut didepan. Pandangan matanya penuh nafsu, tangannya dengan pelan mulai mengocok batang kontol gue. Gak tahan dengan itu gue pegang kepalanya dan membuatnya mengulum kontol gue!

“Ahhhh, “gak tahan gue gak mendesah, sepongannya mantap, beda dengan perek-perek jalanan yang gue pake.

“Terus sayang, eh, nama lu siapa?” kata gue sambil menarik kepalanya dari kontol gue.

“Panggil saja Angel mas,” katanya sambil mau memasukkan kontol gue kedalam mulutnya.

“Gak usah, gue pengen ngerasain memek lo karang,” kata gue sambil menarik dia berdiri.

Dressnya gue turunin hingga kelihatan toketnya yang kecil namun padat dan membulat dengan indah, dengan tak sabar gue kenyot toketnya, sesekali pentilnya juga gue isep dengan rakus.

“Sssttt,, mass,,,” desahan kecil mulai keluar dari mulutnya. Suasana diluar semakin gelap. Gerimis mulai turun, udara berubah jadi sedikit dingin.

Pas banget neh buat ngentot, pikir gue sambil memasukkan jari gue ke dalam memek Angel yang seperti gue duga masih sempit dan menjepit!. Jari gue mengocok pelan memek Angel yang mulai sedikit basah.

“Ahhh…sstttttt mas, ” desahan mulai lancar keluar dari mulut Angel.

Kocokan gue semakin cepat dimemek Angel. Desahannya pun semakin keras. Kucabut jari gue dari dalam memeknya yang sempit, terlihat lendir dan cairan kenikmatan membasahi jari gue. Kuarahkan jari gue yang berlumur cairan Angel ke mulutnya, dan dihisapnya jari gue dengan rakus!

Emang dasarnya perek neh cewek!

“Sini, gue pengen ngentot lo sekarang!” perintah gue kedia.

“Pakai kondom dulu mas,” pintanya.

Sialan! Mau gak mau gue ambil dompet dikantong celana, semoga masih ada sisa kondom dari ngentot gue waktu ini. Dan syukurnya masih, dengan cepat gue robek bungkus kondom dan gue pasang dikontol gue yang sudah memerah karena nafsu.

“Nungging Ngel!” perintah gue. Angel kemudian nungging dengan tangan berpegangan ditepi meja.
Dengan posisi nungging kayak gini, pantat Angel terlihat begitu menantang, putih, mulus dan padat. Kalah ne semua perek-perek yang pernah gue entot.Pikir gue.

Hujan yang semakin deras membuat udara cukup dingin. Semoga kagak ada mobil lain yang datang, pikir gue. Dingin-dingin gini, memang paling enak ngentot ama cewek cantik kayak gini.

Gratis lagi!

Pelan-pelan gue arahin kontol gue yang sudah keras kememeknya.

“Uhhhh, sempit banget Ngel, belum sering dipake ya?” tanya gue kedia.

“Ahh, masukin yang dalem mas, iyahh,,, belum sering Angel pake ngen…toot!” jerit Angel ketika gue dengan sekali dorong ngemasukin kontol gue kedalam memeknya.

“Ssttttt,,,mas, ja..hattt, gak bilang-bilang masuknya!” omel Angel .

Gile!

Cantik, sexy, memeknya empot ayam lagi! Ne baru high class, pikir gue ketika memeknya terasa menyedot pelan kontol gue.

Dengan pelan gue gerakin kontol gue maju mundur di memek Angel. Sempitnya lobang memeknya terasa nyedot penis gue didalem.

Plok..plok…plok…

Bunyi pertemuan paha gue dan pantat Angel. Desahan Angel, suara hujan, bunyi masuknya kontol gue ke memek Angel.

Rasanya seperti diawang-awang. Atau mungkin surga?

“Ahhhhh, mas! Tampar pantat Angel!” pinta Angel ditengah desahannya.

Mantap! Pikirku.

Plakkk.plakkk..plakkk,,,

Bunyi tamparanku di pantat Angel.

“Sstttt…ssttttt….ahhhhhh!” suara Angel ketika aku menampar pantatnya.

“Mas, ganti posisi, mentok nih, ” pinta Angel.

Gue lihat keliling, ada sofa tempat security istirahat nganggur. Dengan kontol masih mengacung tegak gue menuju kesofa dan duduk dengan kontol mengacung keatas. Dengan gaya yang centil, Angel berjalan kearah gue, badannya yang putih mulus hanya dihiasai dress yang melilit dipinggangnya. Sementara itu, beberapa rambut kecil menghiasai keningnya yang berkeringat. Sementara itu kacamata hitam tetap menghiasi wajahnya.

Dengan lembut, Angel naik keatas tubuh gue, kakinya mengangkang sehingga memeknya membuka dan siap ditusuk kontol gue yang tegang. Tangannya memegang sandaran sofa dibelakang gue. Dengan gaya yang sangat menantang, jarinya dimasukkan kemulutnya yang kecil lalu jari itu perlahan turun ke bawah, menggesek daging kecil dibagian atas memeknya. Sementara itu, toketnya yang kecil namun bulat padat diarahkan kemulut gue. Ini yang gue mau dari tadi! Dengan pelan putingnya yang kecil dan berwarna kemerahan gue hisep dengan kuat.

“Ahhhhhh mas!” desisnya ketika tubuhnya turun sehingga kontol gue masuk seluruhnya kememek Angel yang basah kuyup.

Pelan-pelan tubuhnya naik turun diatas tubuh gue.

“Sssttt, mas,,, remes toket Angel,” pintanya sambil pantatnya naik turun tanpa henti ditubuh gue.

Gue remes toket Angel yang bulat kecil. Pentilnya gue cubit karena gemes.

Plok…plok…plok…

Suara beradunya kontol dan memeknya terdengar diseluruh ruangan. Tubuh Angel naik turun dengan cepat, dan sekarang diputar kekanan dan kekiri dengan tak beraturan. Memeknya digoyangkan dengan keras, membuat penis gue sedikit ngilu.

“Ugghhttt,Ngel! Mantap,” kata gue merasakan goyangan pantatnya yang semakin mengulek kontol gue.

“Ahhhh,,,ahhhhh,, mas,,,, Angel mau nyampe!” desis Angel, sementara itu bisa gue rasaain memeknya semakin menyempit dan basah.Kontol gue serasa diremes-remes didalam sana, rasanya sungguh nikmat

“Barengan Ngel,”kataku sambil memegang pantat Angel agar berhenti bergerak. Sekarang gue yang ngocok
memek Angel dari bawah.

Plok…plok…plokkk…

Plak…plak…plak….

“Ahhhhh,,,,ssssttttttt, mas, cepetin…”

Desis Angel, pantatnya yang gue pegang sekarang melawan tangan gue dengan kuat. Tangannya yang tadi memegang sandaran sofa sekarang meremas rambut gue dengan kuat.

“Cepetin mas, cium toket Angel!, ahhhh,,ahh,ahhh,”desis Angel dengan kuat. Goyangan pantatnya semakin liar yang membuat gue berhenti ngocok memeknya dari bawah.

Luar biasa!

Dengan keringat yang mulai terlihat diwajahnya yang memerah, mata sayu menahan gairah, Angel bagaikan bidadari yang sedang muasin nafsunya dengan manusia jelata.

“Ahhhhhhhh,,,,masssssss, Angel nyampheeeeee….”kata Angel, memeknya menjepit kontol gue dengan ketat, gue juga bisa rasain kontol gue seperti kesiram cairan hangat dari balik kondom yang gue pake.
Tubuh Angel kaku beberapa saat sebelum lemas. Tubuhnya diam menindih badan gue, toketnya empuk menggencet mulut gue.

Gak sabar gue kocok memeknya yang basah kuyup.

“Mas, hah…hah..berhenti dulu, “katanya terputus sambil mengangkat badannya dari kontol gue.

“Nanggung neh Ngel!” kataku sedikit kecewa.

“Bentar mas, pegel banget, ” katanya sambil duduk disofa dengan paha yang mengangkang. Bisa gue lihat cairan memeknya mengalir, pelan, dipahanya yang putih. Wajahnya yang sayu terlihat sedikit kelelahan.

“Mas, Angel haus, ada air minum gak mas?” katanya seperti mendesah.

Gue ambilin air minum dari dispenser dan langsung gue kasi Angel yang langsung menyesapnya sampai habis. Gue juga minum, itung-itung buat nambah nafas. Gue taruh gelas didispenser dan ketika gue balik terlihat pemandangan yang membuat kontol gue kembali tegang.

Angel tiduran diujung sofa, kaki kanannya diangkat keatas sandaran sofa. Sementara kaki kirinya menjuntai kebawah. Memeknya yang kemerahan habis gue entot tadi terlihat memerah. Memek yang bagian atasnya terlihat sedang digesek dengan lembut oleh yang punya. Gue lihat tangan kiri Angel meremas toketnya yang bulat.

“Mas, masukin kesini dong,” kata Angel sambil tangan kanannya digerakkan dilobang memeknya yang merekah, merah dan indah.

Kontol gue merespon ajakan Angel. Dengan tak sabar gue menuju kearah Angel, gue remas toketnya yang terlihat begitu bulat dan kemerahan sekarang.

“Ssssttt, mas, masukin aja, keburu dateng temannya Angel, ” pinta Angel sambil bibirnya menggigit jari telunjuknya dangan pelan.

Gue pura-pura gak denger perkataan Angel, gue tetep gesekin kontol gue ke lobang memek Angel, tapi belum gue masukin, sementara tangan gue masih meremas-remas toket Angel.

“Mas, masukin!” kata Angel, sedikit frustasi karena hanya kepala kontol saja yang menowel-nowel lubang memeknya. Perlahan gue cium bibir Angel yang setengah membuka, tak gue sangka dibalas dengan sangat ganas, Jadinya sekarang kami saling belit, saling hisap dengan sama-sama bernafsu.

“Hah.hah.hah,” nafas kami terdengar ketika ciuman kami lepaskan karena kehabisan nafas. Perlahan gue condongin badan seolah mau menciumnya, yang disambut dengan mata yang terpejam oleh Angel, tapi gue malah ciumin telinganya, yang gue rasa pasti jadi titik sensitif sebagian besar cewek.

“Hmmm, massss….” desah Angel ketika gue mulai mencium telinga dan lehernya yang wangi.

“Aaaahhhhhh massssssssss!” teriak Angel ketika dengan sekali hentakan gue masukin kontol tegang gue
kedalam memeknya yang basah kuyup dan tanpa memberi waktu gue langsung genjot dengan kecepatan tinggi.

“Sssttttt, mas…. terussssinnn,hah.hah.hah…” desah Angel semakin menjadi ketika memeknya sudah terbiasa dengan ritme genjotan gue.

“Mass,,, remes toket Angel mas!” desah Angel.

Plok…plok…plok

“Ssstttt, masss… cepetinnn….,” pinta Angel dengan wajah berkeringat. Kulihat kontol gue masuk dicelah memek Angel yang sempit. Cairan kenikmatan yang keluar semakin menambah licin memek Angel, yang membuat kocokanku semakin cepat.

Gue cabut kontol gue dari memek Angel, tak gue peduliin protes dari Angel. Kaki Angel yang semula mengangkang gue angkat keatas, kearah toket Angel. Kakinya gue rapetin dan gue tekuk kearah toketnya yang sekarang terhimpit oleh kaki Angel sendiri.

Gue masukin kontol gue yang tegang. Dan benar!

Memek Angel semakin terasa menjepit kontol gue, rasanya jauh lebih nikmat dari tadi. Pelan tapi pasti gue genjot lagi.

“Sttttt,,, mass, cepetin, Angel dah mau dapet lagi….!!!” pinta Angel dengan wajah memelas.

Wajah Angel yang semakin terangsang hebat membuat nafsu gue semakin tinggi. Kocokan gue semakin percepat.Tangan Angel mulai memegang tangan gue yang meremes toketnya.

Sudah mau nyampe rupanya.

Perlahan, tangan gue mengelus toketnya, terus keleher jenjangnya.

Pengen nyobaain yang gue lihat di bokep.

Tangan gue mencekik pelan leher Angel yang nafasnya mulai memburu.

“Mas, lepa..sin..,” pinta Angel ketika cengkraman dileher putihnya semakin keras.

“Ugghhh,, massss,,,” desah angel mulai tak jelas. Gue genjot memek Angel dengan kuat seiring dengan cengkraman dilehernya yang juga semakin kencang. Gue bisa lihat wajah Angel mulai merah padam, berusaha bernafas dan mencari celah orgasmenya!

Dan akhirnya, diiringin kocokan gue yang semakin cepat, gue lepas cengkraman dilehernya…

“Hah..hah..hah…ahhhhhhhhhh, masssss, A…ngelll da…pet…,” teriak Angel ketika orgasme itu menderanya.

Tubuhnya berkelojotan beberapa saat sebelum terdiam dengan nafas yang memburu.

Gue cabut kontol gue dari dalam vaginanya yang banjir, gue lepas kondom dan…

Croootttt..croootttt…croottttt….

Beberapa kali semprotan kuat sperma gue di toket kenyal Angel, beberapa mengenai muka dan rambutnya.

“Hah…hah…hah…..,” suara nafas kami yang terengah bersahutan dalam ruangan security yang terasa sedikit pengap walaupun hujan masih menyisakan gerimis diluar sana.

“Gimana Ngel? ” tanya gue.

“Mas jahat, sakit tau lehernya Angel, tapi nikmat banget mas, hah..hah.hah…,” jawab Angel dengan nafas yang masih terengah.

“Ada tisu mas?” tanya Angel .

Dengan malas gue rapiin celana dan mencari dilaci meja, selalu ada stok tisu bagi yang mau coli di laci security.
“Ini Ngel,” kata gue sambil ngasi tisu kearahnya. Kuperhatiin Angel membersihkan memeknya yang terlihat penuh dengan cairan orgasmenya. Dengan santai Angel juga mengelap badan,leher dan mukanya dengan tisu.

Dressnya yang semula melilit dileher, sekarang dipasang seperti semula,

Hmmm, dia semakin seksi kalau pake dress kayak gini, pikir gue.

Gue lihat jam, 23.00, berarti hampir 50 menit gue main sama Angel. Tapi puasnya ngalahin main satu hari sama perek-perek jalanan yang biasa gue pake.

Hujan yang tadi deras, perlahan berubah menjadi gerimis saja.

Tak lama setelah Angel memakai dress nya, terlihat sebuah mobil keluar dari halaman parkir.

Mobilnya Angel.

“Mas, udah dulu ya, kapan-kapan lagi, “kata Angel sambil berlari kecil menerobos hujan menuju mobilnya.

Pantatnya terlihat bergoyang dari balik dress tipis yang dikenakannya.

Gue pandangin mobilnya sampai tak kelihatan, dan gue baru sadar…

Access cardnya belum dikembalikan!

***…******…***

Galang POV

“Jadi anda membiarkan seseorang yang tidak anda kenal, meminjam access card menuju salah satu kamar diapartemen yang anda jaga, sementara anda sibuk berbuat mesum disini? ” tanya Herman dengan nada marah.

“Eh, iya pak,” sahut Jajang tanpa berani melihat kearah Herman.

“Hmmm, kalau begini, pekerjaan anda tidak akan tahan lama,” gerutu Herman.

Kulihat Jajang sedikit terdiam ketika mendengar perkataan Herman.

Aku tatap mata Jajang dan bertanya padanya.

“Apa anda tidak merasa heran? Kenapa orang yang mau membuat kejutan untuk pacarnya, malah pergi sebelum pacarnya datang?” tanyaku dengan pelan.

Kulihat pandangan keterkejutan dimatanya, pemahaman dan kemudian ketakutan.

Andri POV

“Mas! Jangan pakai laptop dulu!” kata si-celana-dalam-putih marah ketika aku mau menggunakan laptop yang baru dibelikan dan diantarkan Frans, sementara Frans aku minta menanyakan keberadaan handphoneku di Bidadari Massage..

“Hanya untuk memeriksa email dan file-file untuk perusahaan Lid,” kataku sambil menyalakan laptop.

“Tidak baik bekerja dengan laptop dipangkuan mas!” katanya dengan marah.

“Lalu apa yang baik dipangkuan Lid?” tanyaku sambil tersenyum.

Bagaimana kalau kamu yang dipangkuanku Lid? Pikirku, lagi, mesum.

“Apa saja boleh kecuali laptop,” sahutnya dengan agak jutek.

“Yakin apa saja boleh?” kataku sambil memandangnya dengan tatapan aku-ingin-kamu.

Kulihat pandangan marah sebelum berubah menjadi pandangan yang jahil.

Jahil?

“Boleh kok mas, tapi sekarang ya?” katanya sambil tangannya ditekankan dibagian perutku.

“Aduhhh!” jeritku ketika tangannya dengan sukses meraba bagian perutku yang dioperasi.

“Bentar aja Lid, mau ganti password email dan cloud saja,” seringaiku sambil membuka browser.

“Kok ganti password mas?” tanyanya dengan curiga.

“Laptopku dicuri kemarin, sedangkan handphoneku belum tau rimbanya Lid,” kataku sambil mengetikkan
username dan password emailku.

Kuperiksa dan hanya email dari ade yang hilang. Mungkinkah?

Kubuka tab baru dan memasukkan username dan password cloud perusahaan. Dan seperti yang aku duga, semua fileku yang ada dicloud dihapus.

Hmmm…

Kuganti semua password email dan cloud, sekarang tinggal satu lagi. Kubuka tab baru dan memasukkan username dan password cloud pribadiku. Akhirnya, satu kabar baik untuk hari ini. Video Trojan.avi yang kusimpan dahulu masih ada. Segera kubuat satu duplikat dan membackupnya di tempat yang biasanya

Kubuka file trojan.avi yang dikirimkan ade, dan video adegan blowjob dari salah satu produk x-art terlihat dilayar.

Apa maksud semua ini? Apakah ini kesalahan attach file? Atau Ade mau bercanda? Ataukah ada sesuatu dibalik semua ini?

Trojan. Kuingat salah satu cerita kuno mengenai awal mula penamaan trojan house, kuda troya. Perang Troya

Spoiler: Perang Troya
Perang Troya adalah salah satu perang terbesar yang pernah terjadi dalam sejarah Yunani kuno. Pada perang itu, Bangsa Akhaia (Yunani) menyerang kota Troya. Reruntuhan kota Troya sendiri kini telah ditemukan di Asia Minor (Turki). Perang besar yang menghabiskan banyak korban manusia itu dipicu oleh perbuatan para dewa.

Semua dewa-dewi dan orang penting diundang ke pernikahan Peleus dan Thetis (orang tua Akhilles). Hanya dewi Eris (dewi perselisihan) yang tidak diundang. Dewa Eris marah dan melempar sebuah apel ke tengah-tengah pesta, apel tersebut beruliskan kallistei (“untuk yang tercantik”). Afrodit, Hera, dan Athena mengklaim sebagai pemilik apel tersebut dan sebagai dewi tercantik.

Ketiga dewi tersebut mendatangi Zeus untuk menentukan siapa yang berhak memiliki apel emas itu. Zeus tidak ingin memihak siapapun dan menyuruh mereka untuk meminta keputusan pada Paris. Hera berusaha menyuap Paris dengan kekayaan, Athena berjanji akan menjadikan Paris jenderal yang berjaya dan terkenal, sementara Afrodit menawarkan wanita tercantik di dunia (Helene).

Paris akhirnya memilih Helene dan dengan demikian memilih Afrodit sebagai dewi tercantik. Helene sendiri sebenarnya telah menjadi istri Menelaos, raja Sparta tetapi Eros, dewa cinta anak Afrodit, memanah Helene dengan panah cinta sampai akhirnya Helene jatuh cinta pada Paris. dan bersedia untuk dibawa kabur ke Troya. Suami Helene, Menelaos, marah besar. Dengan didukung oleh saudaranya, Agamemnon raja Mikenai dan raja-raja Yunani lainnya, Menelaos menyerang kota Troya.

Perang Troya berlangsung selama sepuluh tahun. Banyak pahlawan yang terlibat dalam perang ini, di antaranya adalah Akhilles, Odisseus, Aias, dan Diomedes dari pihak Yunani, dan Hektor serta Paris dari pihak Troya. Setelah berjuang bertahun-tahun dan belum bisa juga menjebol benteng Troya, pasukan Yunani mulai frustasi. Tetapi kemudian Odisseus mencetuskan ide cemerlang. Pasukan Yunani membangun sebuah kuda kayu raksasa yang diisi oleh beberapa prajurit. Pasukan Yunani kemudian meninggalkan kuda itu lalu pura-pura pergi
meninggalkan Troya.

Pasukan Troya melihat pasukan Yunani mundur dan mengira mereka telah menyerah. Kuda raksasa itu dikira sebaagi pernyataan kekalahan dari yunani. Orang-orang Troya membawa kuda itu ke dalam kota mereka dan merayakan kemenangan mereka. Pada malam harinya, para prajurit yang bersembunyi di dalam kuda keluar dan membuka gerbang kota Troya sehingga pasukan Yunani bisa masuk. Pasukan Yunani pun meluluhlantakan kota Troya. Seusai perang, Menelaos berhasil mendapatkan kembali istrinya sementara beberapa orang Troya, dengan dipimpin oleh Aineias, berhasil menyelamatkan diri.

Dan kemudian sebuah ide muncul dikepalaku. Mungkinkah itu yang dimaksud Ade? Kalau begitu, sedari awal Ade sudah yakin ada penyusup diperusahaan. Sedari awal dia sudah mempersiapkannya. Sedari awal dia sudah tahu ada bahaya yang mengintai.

Dan dia kehilangan nyawa karena menyampaikannya padaku.

“Mas!” sebuah panggilan mengejutkanku.

“Eh, iya Lid,” kataku sambil melihat sebuah mata yang sedikit khawatir.

“Lihat tas isi pakaian gak tadi?” tanyanya dengan sedikit malu.

“Ouwh, lihat kok, tadi ibu bawa, mau di cuci dirumah katanya,” kataku.

Ingin kulihat bagaimana reaksi si-celana-dalam-putih mengetahui itu.

“Aduh mas, tas itu kan isi, kan isi…,” katanya tergagap.

“Apa Lid? ” tanyaku sambil mengawasi wajahnya yang sekali lagi bersemu merah.

Seperti saat pertama kali kami bertemu…Bedanya saat itu bersemu merah karena marah.

“Hmmm,,, isi, pakaian……..,” katanya pelan, tak bisa jelas kudengar.

“Pakaian apa si Lid?” kataku pura-pura tak tahu.

“Pakaian dalam mas!” katanya sambil mengangkat dagunya yang runcing.

Seperti biasa. Inilah Lidya yang kukenal.

“Ouwh, itu, tak kira apa, yang warna putih itu ya?” kataku sambil tersenyum.

“Mas!” teriaknya, warna merah semakin kentara di mukanya.

“Gak apa kok Lid, biar sekalian dicuciin, tapi takut juga, ntar bisa ilang kalau pakai mesin cuci, habis, mini gitu,” godaku lagi.

“Ihhhh, mas ini, masih sakit gini sukanya urusin daleman aja!” katanya dengan wajah kesal.

“Berarti beneran warna putih dan mini ya Lid? Itu tadi suster masukin tas kelemari sana,” kataku sambil
menunjuk kearah pojok.

“Mas!” serunya dengan wajah marah. Dengan tangan terkepal, dia menuju kepojok dan menunduk mencari bungkusan pakaiannya.

Tidak terlihat garis celana dalam ketika dia menunduk, jangan-jangan?

“Lid, kamu gak pake cd ya?” tanyaku ketika dia berbalik kearahku.

Bersambung