Rahasia Gelap Part 3

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34

Cerita Sex Dewasa Rahasia Gelap Part 3 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Rahasia Gelap Part 2

A BAD DAY to WORK HARD.

—————————————————————————————————————————–
To : Hades

Subject : Cari

Cari semua hal yang berkaitan dengan dan atau berita atau kejadian penting pada tanggal
11 Agustus 2004

Thanks,

S.
—————————————————————————————————————————–
“I’ve become so numb,
I can’t feel you there
Become so tired,
So much more aware
I’m becoming this,
All I want to do
Is be more like me and be less like you”

Nada dering spesial untuk keluarga terdengar di handphoneku.

Menggangguku dari tidur yang masih terasa sangat kurang.

“Huaaahaammmmmmmmm”

Dengan malas kutekan tombol merah di handphoneku. Samar bisa kurasakan lembut sinar matahari menerobos dari celah jendela apartemenku.

Ya, apartemen. Antara malas dan belum siap mempunyai rumah tangga. Atau gabungan dari keduanya. Aku memilih menempati apartemen daripada membeli rumah sendiri.

Dengan mata setengah terpejam kulihat layar handphone.
11 new message, 7 missed call. Well, it’s busy day. Pikirku.

“I’ve become so numb,
I can’t feel you there
Become so tired,
So much more aware…”

Oke! Aku tau dia tidak akan menyerah sebelum kujawab teleponnya.

“Halooo” Dengan malas kujawab panggilan di handphoneku.

“Andriiiiiiiiiiiiiiiiii…… Bangun! Jam berapa ini?” Suara cempreng dari kakakku, Anisa, terdengar naik beberapa oktaf.

“Masih pagi kak”

“Sudah pukul 10 dan masih pagi?” Suara kakakku terdengar lebih rendah, bisa kubayangkan dia berbicara sambil menahan senyum diujung sana.

“Hari minggu kak,,, masih pagi menurut zona wak…”

“Edy telp kakak tadi, dia bilang pertemuanmu besok dimajukan ke pukul 9 pagi.”

Potongnya sebelum aku selesai berargumentasi.

“Ouwwhhh,,, iya kak, APA?!?!!? Jam 9 pagi???” Nyawaku yang seolah setengah tadi tiba-tiba terkumpul menjadi satu dalam hitungan detik.

Oke, ini kabar buruk.

“Oke kak, thanks infonya, bye…” Sahutku.

“Andriiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!!!!!!!!!!!”

Masih bisa terdengar suara kakakku yang kembali naik beberapa oktaf ketika kuputuskan telp nya.

Aku beranjak kekamar mandi dan mencuci muka. Panggilan dari kakakku tadi seolah menjadi suntikan andrenalin yang membuatku habis seperti berlari 10km.

Setelah selesai mencuci muka, ku cek handphone dan mulai membaca pesan.

From : Edy G-Team.

“Presentasi besok dimajukan pukul 09.00 am. Be ready”

From : Frans Gteam.

“Boss, Edy telephone, bilang besok jadi pukul 09.00 :D”

Dan sisanya dari

From : Nenek Sihir.

ANDRI BANGUN. EDY TELP. BLG BESOK PRESENTASI PKL 09.00. BANGUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUNNNNNNNNNNNNN!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Kubayangkan wajah kesal kakakku ketika mengirimkan 9 pesan yang sama tanpa kubalas.

Well, its bad day to work.

Setelah kerja selama seminggu dan diakhiri dengan malam yang ‘panas’, sungguh, bekerja bukan hal yang ingin kulakukan hari ini.
Sinar matahari pagi kurasakan dari sela-sela tirai yang terbuka.

Melangkah pelan kubuka jendela dan kusibakkan tirai yang menutupinya. Sejenak sinar matahari membuatku silau. Dengan malas aku menuju ke meja kerja yang bisa dibilang minimalis. Dan mulai menghidupkan komputer.

Oke. Mungkin komputer bukan benda yang cocok disebuah apartemen. Tapi dengan luas yang lima kali dari ukuran apartemen biasa, dengan bangunan bertingkat dua yang dihubungkan sebuah anak tangga. Komputer bukanlah pilihan yang buruk.

Komputer tidak sesuai untuk seorang CEO!

Well, ini apartemenku.

Dan komputer jauh lebih sesuai menurutku. Kenapa?

Karena lebih bagus untuk digunakan main game! Seseorang perlu hobi, dan main game salah satu hobiku. Walaupun Frans dan Jack sering mengejek game yang kumainkan dengan kata jadul, gak level dan sebagainya. Kuhidupkan computer lalu kearah dapur untuk membuat segelas kopi dan mencari sisa makanan dikulkas.

Ketika kembali kuketikkan password BIOS di computer dan kembali menunggu proses booting. Kuketikkan lagi password untuk menuju ke desktop.

Kubuka browser dan login ke email accountku. Download attachment dari Frans. Kubaca latar belakang PT Alfa Medika:

Nama : PT Alfa Medika
Tahun Berdiri : 1990
Lokasi : Semarang, Jawa Tengah (pabrik), Jakarta (office)
Usaha : Farmasi
CEO : Tony Firmansyah.
Karyawan : 5.894 orang
Deal Object : Sistem Produksi, tranportasi, karyawan.
Future deal : Hardware dari system, security hardware.

Hmmmm, ada yang serasa aneh dari deal object nya. Tapi aku belum bisa melihatnya sekarang. Kubuka attachment kedua, biodata dari CEO Alfa Medika.

Nama :Tony Firmansyah.
Ttl : Semarang, 1 Januari 1964
Status : Menikah.
Sifat : Simple, perfectionis, tradisional.
Latar belakang : Dari keluarga pengusaha, drop out ketika kuliah, bekerja di perusahaan keluarganya sebelum berhasil mengembangkan bisnis farmasinya.

Oke.

Simple, perfectionis, tradisional.

Sifat yang sulit diterka nantinya seperti apa. Kuingat percakapan kemarin dikantor dan saran dari Frans dan Edy :

“Jadi, hari Senin, kita ada presentasi dengan Alfa Medika. Mereka perusahaan farmasi terbesar di Asia Tenggara. Fokus kita kali ini membuat program untuk produksi, tranportasi dan karyawan. Kemungkinan nanti kalau deal, langsung dengan hardware nya juga. Data-data pendukung dan materi presentasi sudah ada di file yang kukirimkan lewat email. Ada saran?”

“Jadi seperti rapat sebelumnya, titik berat nya di GUI, buat sederhana dan user friendly. Kita fokuskan disana” Saran Frans.

“Ide yang bagus, namun kita masih kekurangan data untuk teknis produksi dan alur transportasinya. Untuk keamanan, standar 2 layer seperti di presentasimu sudah cukup. Namun kudengar, bukan hanya kita yang akan presentasi senin ini?” Timpal Edy

Sederhana dan user friendly.

Itu kuncinya.

Mulai kubuat presentasi untuk besok, dengan warna-warna yang simple dan tidak begitu kontras. Sambil mendesain desain untuk GUI nya.
Sederhana karena untuk pegawai pabrik yang notabene tidak semua mengerti komputer!

Berarti kurangi aktifitas keyboard dan mouse.

Touchscreen!

Oke, mungkin ini sesuai, dengan layar sentuh, antar muka yang sederhana, warna yang tidak begitu kontras, biru? putih?
Sejenak bayangan warna salah satu situs jejaring social yang sedang booming saat ini terlintas di benakku….

Tidak terasa jam di computer menunjukkan pukul 17.00. Hampir tujuh jam aku bekerja membuat presentasi untuk besok.

“Jika kami bersama, nyalakan tanda bahaya
Jika kami berpesta, hening akan terpecah
Aku, dia dan mereka memang kita memang beda
Tak perlu berpura-pura, memang begini adanya
Dan kami disini
Akan terus bernyanyi”

Kuambil Handphoneku dan kulihat

Edy Calling…​

“Halo Di”

“Halo Ndri, gmn dengan presentasinya?” Tanya Edy to the point.

“Sudah selesai, untuk GUI aku rasa sudah cukup, untuk system tranportasi dan produksi masih kurang, data yang dikirim oleh Frans dan team nya belum cukup akurat untuk proses produksinya” Sahutku.

“Dan apakah kau tidak merasa aneh, kenapa kita diminta membuat presentasi tanpa mendapat data yang valid dari Alfa Medika?” Sambungku. Cukup aneh, karena biasanya client akan mengirimkan data dan merequest hal, program atau hardware seperti apa yang mereka inginkan. Namun Alfa Medika hanya meminta membuat presentasi mengenai system untuk karyawan ,system untuk produksi dan system tranportasi tanpa memberikan detail yang cukup.

“Aku juga merasa aneh, tapi ini permintaan langsung dari CEO-nya. Dan Alfa Medika merupakan klien yang potensial bagi kita” Terangnya, seperti keterangan yang sama seperti saat pertama dia membicarakannya.

“Oke, it’s done” Sahutku.

“Ingat besok presentasi pukul 09.00, jangan kelayapan dan ngegame sampai malam hari ini” pintanya mengetahui kebiasaan burukku dan Frans CS.

“Roger That, bye” Jawabku sambil menutup telephone.

Huffffttttt.

Hari yang melelahkan. Tapi setidaknya aku bisa bernafas lega, besok semua materi presentasinya sudah siap. Aku copy data presentasi dan kutaruh di flashdisk. Aku juga mengcopy nya di fasilitas Cloud perusahaan. Aku logout dari account email dan menutup browser. Saatnya untuk game!!!

Hmmm,, online apa tidak ya?

Seolah-olah ada evil dan angel yang berbicara di kepalaku.

Evil :Online ja boss, presentasi kan boss yang buat sendiri, tidak perlu dipelajari lagi lah…

Angel:Boss, kalau online, waktunya mepet, nanti keterusan gimana boss?

Evil:Kan besok jam 9 juga, paginya juga bisa kan?

Angel:Jadi kalau sampai pagi main gamenya, emang bisa paginya pelajari itu boss?

Evil:Lima jam saja cukup tidur untuk orang dewasa boss!

Angel:Ingat boss, ini klien kelas kakap, jangan karena main game ikannya lepas boss!

STOP kalian berdua! Perintahku pada dua mahluk yang seolah bertengkar di kepalaku.

Oke, offline.

Evil:Loser

Angel:Siiippp boss!

***

Dua jam kemudian…

Teroris win….​

F*ck, untuk kesekian kalinya aku kalah. Gara-gara presentasi sialan. Konsentrasi jadi buyar.

“Jika kami bersama, nyalakan tanda bahaya
Jika kami berpesta, hening akan terpecah
Aku, dia dan mereka memang kita memang beda”
Handphone ku berbunyi seakan menambah kesialanku hari ini.

Kulihat layar.

Frans calling…​

“Halo!”

“Hahaha boss, bad day?” Tawa Frans tanpa memperdulikan nada ketus dalam suaraku.

“Terbangun pukul sepuluh pagi, buat presentasi dalam waktu tujuh jam, kalah main game, menurutmu bagaimana?”

“Well, tidak seburuk yang aku duga boss, so, presentasi sudah siap?” Tanya Frans. Walaupun sikapnya terlihat cuek, tapi dia bertanggungjawab dalam hal pekerjaan.

“Aku rasa tidak terlalu buruk, menurutmu, touchscreen, simple GUI, warna biru dan putih, apa bisa dijadikan satu?” Sahutku meminta pendapatnya.

“Hmmm…… tergantung alur dari program yang kita buat, dan penggunanya tentu saja, kita masih kekurangan data untuk itu, jadi ,menurutku itu hal terbaik yang bisa kita buat” Sahutnya setelah terdiam cukup lama.

“Jadi mau ikut keluar boss?” Tanyanya kemudian.

“Mungkin lain kali saja” sahutku kurang bersemangat.

“Oke boss, bye” Sahutnya menutup telepon.

Terbayang hal-hal yang akan dilakukan Frans, dan itu sungguh membuatku ingin hari ini cepat berlalu.

Semoga ikan kakap itu tidak lepas besok!

Dengan malas kumatikan komputer dan beranjak ke kamar mandi. Selesai mandi aku memakai pakaian santai, kuambil handphone dan headset. Mencari udara segar mungkin bisa membantu pikirku.

Aku turun kelantai bawah dengan lift yang tersedia. Sambil mendengarkan lagu dari handphone, aku beranjak menuju ketaman yang ada disekitar apartemen. Matahari masih terlihat di ujung barat. Sinarnya lembut membelai wajahku.

Deggg….

Sinar matahari, rona merah, wajah…

Tanpa sadar mulutku menggumamkan sebuah sajak yang dulu selalu menghiasai hariku..

“Temaram merah merona wajah
Biaskan luka alirkan darah
Hatiku berteriak
Namun mulutku hanya bisa diam
Andai saja kau dan orang-orang itu tahu
Apa yang ada dihatiku
Mungkin…
Semuanya akan berbeda…”​

“Om, ndang boanya” Suara nyaring seorang anak lelaki yang masih berusia sekitar 2 atau 3 tahun menyadarkanku.

“Mas, tolong tendang bolanya kesini” Suara berat dari seorang lelaki, yang kurasa adalah ayah dari anak tadi memintaku melakukan hal yang sama dengan anaknya.

Sambil tersenyum kutendang bolanya dengan pelan kerah mereka.

“Dukkk”

Dengan pelan bola itu meluncur kearah si anak. Dengan sigap tangan mungilnya meraih bola itu dan mendekatkannya kedadanya.

“Ayo, bilang apa sama omnya?”

Sura lembut seorang wanita, yang kuduga ibunya, membuat anak kecil yang sudah siap berlari itu berbalik.

“Maaci om” Dan tak menunggu lama langsung berlari meninggalkan orang tuanya.

Keluarga yang bahagia.

Sebersit rasa iri tanpa bisa kucegah melanda hatiku.

Huffffftttt

Kuhela nafas untuk menghilangkan beban didadaku. Beban yang menghiasi hari-hari ku dulu.

Dengan langkah gontai aku kembali keapartemen.

Semoga besok lebih baik dari hari ini.

Bersambung