Rahasia Gelap Part 20

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34

Cerita Sex Dewasa Rahasia Gelap Part 20 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Rahasia Gelap Part 19

TO FAST TO DIE

——————————–
Membosankan!
Berpura-pura menjadi orang lain itu memang tidak menyenangkan.
Apalagi ditempat seperti ini.
Apalagi aku tidak dapat jatah lagi.
Huft.
Andai aku bisa mendapatkannya.
Andai saja…..
——————————–

Lidya POV

Serius Lid? Tanya si-mata-keranjang, bisa kudengar nada tak percayanya.

Serius mas, bagaimana sekarang mas? Tak bisa kutahan nada panik dalam suaraku.

Aku sekarang berangkat kesana! Kudengar nada tegas dalam suaranya.

Aku menutup telepon. Dan sejenak merasa gamang.

Ya tuhan, kenapa semua terjadi begitu tiba-tiba.

Baru kemarin aku berbincang dengannya.

Mbak, mbak baik-baik saja? Tanya Lisa dengan khawatir.

Mbak baik-baik saja kok Lis kataku sambil tersenyum.

Tidak.

Aku tidak baik-baik saja.

Secara pribadi aku belum mengenal Ade, namun kehilangannya terasa begitu cepat.

Dan lagi dia lead programmer G-Team. Kehilangannya merupakan kerugian yang besar bagi proyek kami.

Ahhhh. Teganya diriku, hanya memikirkan proyek disaat seperti ini!.

Mbak, sebaiknya kita ke G-Team sekarang, mungkin kita bisa mendapatkan informasi yang lebih jelas mengenai hal ini Saran
Lisa.

Ayo Lis

Kami berjalan menuju ruang rapat G-Team dalam diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Ruang rapat hari ini terasa sedikit berbeda. Ruangan yang biasanya ramai dengan candanya Mas Frans, celetukan Mas Edy, serta percakapan hangat Lisa, aku dan Si-sekretaris-seksi, Erlina, hari ini terasa sepi.

Hanya ada Mas Edy disana, ditemani oleh si-sekretaris-seksi.

Pagi Mas Edy, Mbak Erlina..

Pagi Mbak Lidya sahut Mas Edy sambil tersenyum.

Pagi Mbak Lidya Jawab si-sekretaris-seksi, Erlina.

Sudah dengar beritanya mbak? Tanya Mbak Erlina.

Sudah mbak, dari Mas Frans.

Terus bagaimana sekarang mbak? Tanyaku menanyakan perkembangan terbaru.

Pak Frans sedang di kantor polisi sekarang, mungkin sudah mau balik sekarang

Kekantor polisi? Kenapa?

Pemeriksaan rutin mbak Jawab Mas Edy.

Sama siapa mas? Tanya Lisa, terlihat nada khawatir dalam suaranya.

Sendirian Lis Jawab seseorang dari pintu.

Mas Frans.

Kenapa mas? Gimana hasil pemeriksaannya? Sudah ada kejelasan dari polisi? Cerocos Lisa.

Mas jawab yang mana neh Lis? Kata Mas Frans sambil sedikit tersenyum.

Lin, tolong bikinin kopi satu ya? Kata Mas Frans.

Huffftttt Desah Mas Frans sambil duduk dikursi, terlihat kelelahan terpancar diwajahnya. Wajah yang biasanya ceria itu sekarang berubah menjadi serius.

Perlahan tangannya terangkat dan memijat kepala dan tengkuknya.

Kami hanya menanti dalam diam apa yang hendak dikatakan olehnya.

Pak, ini kopinya Kata Erlina. Terlihat dia juga membawa kopi untuk yang lain.

Mbak, mau kopi atau teh? Katanya memperlihatkan kopi dan teh yang dibawanya dengan nampan.

Kuambil secangkir kopi sambil mengucapkan terimakasih.

Harus aku akui kreatifitas dari si-sekretaris-seksi ini.

Calon istri yang akan diidamkan oleh setiap suami.

Apakah si-ma..

Gimana Frans? Tanya Mas Edy membuyarkan lamunanku.

Biar jelas buat semua, tadi pagi, pukul 06.00 aku menerima telepon dari kepolisian, menanyakan apa benar ada karyawan yang bernama Ade Mahendra disini Mas Frans berhenti untuk meminum kopinya.

Aku jawab ada, lalu polisi memintaku ke rumah sakit, untuk mengkonfirmasi bahwa mayat yang ditemukan dihotel benar Ade Lanjut Mas Frans.

Dihotel mas? Kenapa Ade bisa ada dihotel? Tanya Lisa tak sabaran.

Itu juga jadi pertanyaan mas dan pihak kepolisian. Namun ada dugaan dia kesana untuk jajan .

Darimana dugaan itu berasal mas? Akhirnya ku membuka suara.

Karena dia ditemukan dalam keadaan telanjang dan ketika pihak hotel dikonfirmasi, Ade check in dengan seorang wanita Jelas Mas Frans.

Apa sudah diketahui identitas wanita yang bersama Ade? Dan penyebab kematiannya Frans? Tanya Mas Edy.

Simpel, tapi mengena, seperti biasa.

Itu. Itu yang jadi masalahnya, mereka check in memakai identitas Ade, sedangkan pasangannya memakai pakaian yang tertutup, serta memakai topi dan kacamata. Jadi sulit untuk menggambarkan identitasnya. Penyebab kematian kemungkinan serangan jantung karena overdosis Viagra. Jelas Mas Frans.

Overdosis Viagra.

Kubayangkan kembali deskripsi Lisa mengenai Ade :

Tubuhnya kurus dan agak pendek, mungkin lebih pendek dariku. Dari yang kudengar dari Lisa-yang mendengarnya dari Mas Frans. Ade memiliki sedikit masalah jantung dan tekanan darah tinggi.
Tidak aneh, melihat pola hidup dan makanannya. Minuman bersoda dan rokok menjadi teman sehari-harinya. Disamping makanan cepat saji yang menjadi pilihan menu makan malamnya.
Dan suka jajan.

Mungkinkah?

Tapi Frans, kenapa polisi malah menghubungi kita? Bukan keluarganya? Tanya Mas Edy membuyarkan lamunanku.

Benar juga! Polisi harusnya menghubungi keluarganya dulu.

Mas Ade tidak punya sanak keluarga lagi Lirih suara Mbak Erlina menjawab.

Well, itu menjelaskannya Sahut Mas Edy.

Dan kemungkinan polisi akan kesini sebentar lagi, mungkin akan menanyakan sesuatu kepada kalian, jadi, yah.. siap-siap saja Kata Mas Frans.

Sudah ada yang menghubungi Andri? Lanjutnya.

Sudah mas, Mbak Lidya tadi Jawab Lisa.

Kami terdiam setelah mendengar jawaban Lisa. Hening terasa diruangan rapat ini. Kulihat semuanya merenung, mungkin memikirkan kehilangan Ade yang begitu cepat terasa.

Atau memikirkan kelanjutan proyek ini.

Andai si-mata-keranjang ada disini.

Kring…Kring..kringg…. Suara telepon mengejutkan kami.

Halo, selamat pagi, dengan Erlina bisa dibantu? Kudengar Mbak Erlina menjawab telepon.

Oke, antar mereka keruang rapat ya

Polisi sedang menuju kesini Terang Mbak Erlina setelah menutup telepon.

Hmm, cepat juga Gumam Mas Edy.

Tok..tok..tok

Aku menoleh kepintu, dan disana berdiri Frida, resepsionis, sambil mengantar dua orang lelaki.

Mas, bapak-bapak ini dari kepolisian Kata Frida sambil menunjuk dua lelaki dibelakangnya.

Iya Frid, thanks ya Jawab Mas Frans sambil melangkah mendekati kedua orang itu, sementara Frida kembali ketempatnya.

Selamat pagi pak, kami dari kepolisian, saya AIPTU Herman, ini rekan saya Galang Kata polisi yang lebih pendek.

Umurnya sekitar 40 tahun, dengan tubuh yang sedikit gemuk. Wajahnya kebapakan dan terlihat sabar. Sedangkan rekannya, beberapa senti lebih tinggi, dan kurus.

Namun pandangan matanya.

Pandangan matanya jernih dan tajam. Pandangan mata orang yeng diterpa kerasnya hidup dan juga cerdik. Aku merasa sedikit bergidik melihat pandangan matanya ketika melihat kearahku.

Ada yang bisa kami bantu pak? Tanya Mas Frans.

Maaf pak, siapa pimpinan di perusahaan ini? Tanya polisi yang lebih pendek.

Pak Andri pak, rekan saya, tapi kebetulan dia sedang di kuar kota, mungkin nanti sore baru balik.

Kalau begitu, siapa yang berwenang disini sekarang pak?

Bisa bicara dengan saya sendiri, atau dengan Pak Edy disana Kata Mas Frans sambil menunjuk kearah Mas Edy.

Begini Pak Frans, menurut keterangan yang saya dapat dari anak buah saya, korban, dalam hal ini Ade Mahendra, tinggal disini? Tanya polisi gendut.

Iya pak, dia tinggal disalah satu mess yang disediakan disini Jawab Mas Frans.

Boleh kami melihat kedalam messnya? .

Bisa pak, mari ikut saya pak Ajak Mas Frans dengan ramah.

Mari pak, bu Kata sipolisi gendut sambil melangkah keluar ruangan.

Apa yang dicari mereka diruangannya Ade? Pikirku.

Galang POV

Tinggal di mess?

Hmm.. Perusahaan yang memperhatikan kesejahteraan karyawannya.

Pikirku ketika kami mengikuti Pak Frans menuju mess korban.

Frid, minta kunci cadangan kamarnya Ade ya.? Kudengan Pak Frans meminta kepada resepsionis.

Ini pak Si resepsionis mengangsurkan sebuah kunci pintu setelah mencari beberapa lama.

Thanks Frid

Kami melangkah menuju kebagian belakang perusahaan. Disana terletak sebuah bangunan bertingkat tiga, memanjang ke utara dan selatan. Pak Frans menuju mess yang terletak paling selatan, di lantai bawah.

Bapak-bapak, ini mess nya AdeKatanya sambil menunjuk kekamar yang terletak paling selatan. Dan memberikan kunci kamar pada Herman.

Terimakasih pak, nanti kalau kami perlu bantuan lagi, kami akan hubungi bapak Kata Herman.

Iya pak, mari Katanya sambil tersenyum padaku.

Klik

Pintu ruangan kamar Ade terbuka.

Uhhhhhhh……hukk.hukk..hukk… Herman terbatuk ketika baru mau masuk.

Bau apek dari asap rokok menyambut kami ketika masuk.

Ada sainganmu rupanya Lang Katanya sambil nyengir kearahku.

Dan bisakah kau ceritakan alasanmu mengajakku kemari? Tanyanya tak sabar.

Sederhana saja, aku ingin mengenal lebih dekat korban kita, dan siapa saja teman-temannya. Jawabku singkat sambil mengambil sarung tangan latex dari celanaku. Herman juga melakukan hal yang sama.

Hufffttt, dari kamarnya saja aku bisa menebak, orang ini jarang mengajak temannya kesini Kata Herman melihat keadaan kamar yang berantakan.

Kalau dia punya teman Sahutku.

Hampir tak ada tempat yang kosong disini. Buku-buku bertebaran, selain pakaian yang juga mendominasi ranjangnya. Satu set komputer terpasang dimeja, dipojok ruangan. Dipojok lain ruangan terletak sebuah lemari. Aku melangkah kesana dan memeriksa satu persatu laci-lacinya. Namun hanya berisi pakaian dan buku-buku. Bukunya kebanyakan mengenai komputer.

Aku melihat sekeliling namun belum bisa menemukan apa yang aku cari.

Apa yang sebenarnya kau cari Lang? Tanya Herman, seperti biasa tak sabaran.

Barang yang tidak ada dikamar kejadian, dan barang yang seharusnya ada disini.

Dan barang apakah itu? Tanyanya tak sabar.

Apa kau sudah membaca hasil visum Ana? Kataku menyebut salah satu dokter yang memvisum korban.

Herman mengeluarkan satu gulungan kertas dari dalam sakunya, dan membacanya sekilas.

Meninggal karena serangan jantung, ditemukan zat sildenafil yang cukup banyak dalam tubuhnya. Selain itu terdapat zat isosorbide mononitrate, walupun dalam dosis yang sangat kecil. Itu saja penyebab utamanya. Jawab Herman.

Kau tau apa yang aneh? Tanyaku sambil tersenyum.

Bisa-bisa aku mati penasaran gara-gara dirimu Lang! Jawab Herman sambil memperhatikanku yang sedang mencari disekitar meja komputer.

Sebuah kotak diatas CPU menarik perhatianku.

Tekk….

Suatu benda terjatuh ketika aku membuka kotak itu.

Sebungkus obat.

Sambil tersenyum aku memperlihatkan bungkus obat itu pada Herman.

Ini yang aku cari Her….

Sambil memandang bingung Herman mengambil bungkus obat itu dari tanganku.

Obat apa ini Lang?

Obat untuk mencegah serangan jantung Jawabku.

Jadi ini yang kau cari?

Iya…

Ah, aku tau, jadi korban meninggal karena lupa meminum obatnya? Seru Herman dengan gembira.

Bukan, justru karena obat ini dia meninggal

Apa….? Maksudmu?

Tidak ada orang yang mengkonsumsi Viagra, ketika dia pada saat yang sama meminum obat pencegah serangan jantung!

Bersambung