Rahasia Gelap Part 2

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36

Cerita Sex Dewasa Rahasia Gelap Part 2 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Rahasia Gelap Part 1

DOUBLE MASSAGE

—————————————————————————————————————————-
“Boss, misi berhasil” Lapor si mata sipit.

“Bagus! Apa ada yang curiga?” Tanya sang boss.

“Sejauh ini tidak, tapi untuk jaga-jaga perlu saya hubungi teman kita dikepolisian?” Jawab si mata sipit.

“Tidak perlu, bilang saja kepada rekan kita si pengacara, agar memantau semua pengacaranya!”

“Oke boss”
—————————————————————————————————————————-

Andri POV

Aku terbangun ketika mendengar bunyi mengalir. Aku melihat sekeliling dan melihat Sisca dishower. Terilhat tubuh mudanya yang menyimpan sejuta kenikmatan dari belakang. Pantatnya yang tidak terlalu besar namun bulat dan padat sungguh menggoda. Paha yang mulus dialiri busa sabun cair, sungguh eksotis dan membuat penisku kembali mengeras.

Dengan pelan-pelan kudekati Sisca, dengan pelan kuusap pantat mulusnya…

“Aaawwwwwwwwwwww” Dengan menjerit kaget Sisca membalikkan badannya.

“Mas Andri, membuat kaget Sisca aja…” Tegurnya sambil memanyunkan bibirnya.

“Abis mandi gak ngajak-ngajak sih” Sahutku sambil membelai kulit lembut disekitar putingnya yang masih tertidur.

“Abis mas kelihatan pulas sekali tidurnya sih…” Sahutnya manja.

“Sini aku sabunin” Sahutku sambil menuangkan sedikit sabun cair dan mulai mengusap bagian lehernya. Kulanjutkan kebawah, mengusap lembut disekitar buah payudaranya, kuusap lembut payudaranya tanpa menyentuh putingnya. Nafasnya mulai terdengar menderu.

Putingnya mengeras!!!

Seperti kebanyakan wanita, putingnya adalah bagian yang paling sensitif dari Sisca, selain klitoris of course, bisakah dia orgasme hanya lewat putingnya saja?

Objek yang menarik untuk lain kali.

Usapanku terus berlanjut kebawah, melingkari perutnya sampai ke pusar. Terus ke paha bagian dalam, kulewati dengan sengaja vaginanya. Usapanku berlanjut ke lutut, hingga belakang lutut pun tak lupa kuusap. Dengan pelan tanganku kembali keatas, meremas dengan lembut pantatnya yang sekal.

Wajah Sisca mulai memerah!

Air shower kembali kunyalakan untuk membilas tubuhnya dari busa sabun. Setelah bersih, kembali kuusap payudara dan kedua putingnya yang kembali mengeras! Dengan pelan kudorong tubuhnya hingga menempel kedinding tempat shower. Matanya memandang wajahku, seolah ingin mencari tahu apa yang akan kulakukan. Dengan tersenyum kudekati tubuhnya, penisku yang mengeras kugesekkan ke bagian atas vaginanya.

“Ahhhhhh…” Desahnya pelan.

Desahan pertamanya setelah pertempuran tadi, kucium bibir merahnya yang merekah basah.

Lembut.

Itulah hal pertama yang kurasakan dari mulutnya. Lidahku mulai menyeruak masuk kerongga kecil mulutnya, mencari lidahnya. Kami saling memainkan lidah beberapa lama. Tangannya yang semula pasif menggantung disisi tubuhnya mulai bergerak meremas rambutku. Tangan kanannya secara otomatis mengocok lembut penisku. Tak lama, penisku ditekan-tekankannya ke klitorisnya yang mulai menonjol.

“Uuggffttttttt…..sssssstttt,,uufffgggtttt”

Desahannya tersumbat oleh mulutku. Tangan kiriku yang tadi hanya diam mulai meremas payudaranya. Remasan ku terkadang kuganti dengan cubitannya kecil pada putingnya yang dibalas dengan kocokan keras pada penisku. Dua jari tangan kananku kumasukkan keliang vaginanya yang mulai basah.

“Aahhhhhhhhhhh,,,,”

Ciuman kami terlepas ketika jariku mulai masuk kedalam lorong vaginanya. Sebagai gantinya, kucium dengan rakus putingnya, yang kutahu sangat sensitif. Jariku mulai mengocok dengan pelan vaginanya, yang kurasakan masih menjepit jariku dengan rapat.

“Masssss…. ennaakkkkkkkkk,,, teeerussss massss…..” Desahnya sambil tangannya menjambak rambutku.

Kutingkatkan kecepatan kocokan jari tanganku, hingga akhirnya tubuhnya melengkung dengan indah, pahanya menjepit kuat jariku yang kurasakan basah dan hangat oleh cairan kenikmatannya. Kakinya kurasakan gemetar dengan kuat, hingga mungkin jika tangannya tidak menarik keras rambutku, mungkin dia akan terjatuh.

Tunggu!!. Menarik keras rambutku?!

“Aaawwwww sis,,, kamu kalau orgasme pelanin dikit dong nyambaknya, sakit tau!” Kataku sambil tersenyum.

“Eh… maaf masss,,, abis enak sih…hehehe..hah..hah” Yaelah, malah ketawa dia.

“Punya mas mau dikeluarin juga gak??” Tawarnya.

“Iya,,, tapi nanti,, isi jacuzzi nya dengan air hangat dulu ya, badanku pegel, maw berendam bentar” Jawabku sambil mengambil kondom yang tergeletak di ranjang.

Hmmmm… Cuma sisa dua, pelit juga neh si Nia.

Kuambil satu bungkus kondom dan menuju kearah jacuzzi yang terletak di pojok kamar.

“Jika kami bersama, nyalakan tanda bahaya
Jika kami berpesta, hening akan terpecah
Aku, dia dan mereka memang kita memang beda
Tak perlu berpura-pura, memang begini adanya
Dan kami disini
Akan terus bernyanyi”

Potongan lirik lagu SID dari handphoneku menunda langkahku ke jacuzzi, ketika kulihat layar Hpku terlihat:

Frans CALLING​

Oke. Apa mau sibadung ini?.

“Hallo, kenapa Frans?”

“Aku mau ke Cafe Luwak ma Jack, habis tu , biasa, hang out bentar ke pub 666, mau ikut boss?”

“Ogah ah, besok banyak deadline untuk Senin, lu aja ma Jack kesana” Jawabku sambil melirik ke Sisca.

Well, kayaknya aku tidak begitu menyesal tidak ikut Frans hari ini.

“Hahaha,,, jangan diabisin ikan baru nya boss, sisain buat minggu depan, hahaha”

“Baru dua ronde Frans, masih banyak waktu malam ini… ” Jawabku sambil nyengir kearah Sisca, yang dibalas dengan pandangan penuh tanda tanya darinya.

“Gimana pelayannnya bos? Masih seret gak?” Bisa kudengar rasa penasaran dalam nada suaranya.

“Yang jelas,, masih lebih seret dari si Nia,, mantap deh,, rugi lu Frans..” Ledekku, dan sekali lagi, alis Sisca terangkat setelah mendengar perkataanku.

“Gilaaa,,, mantap… BTW, dikasi pintu belakang boss??” Tanyanya antusias.

“Belum nyoba, mungkin nanti aja, mungkin ngajak Nia buat bantu hahaha”

“Wah,,, awas besok gak bisa bikin presentasi boss, hahaha,, oke,,bye boss”

“Roger that” Sahutku sambil menutup panggilan.

Kuhampiri Sisca yang masih terheran-heran dengan pembicaraanku tadi. Kuletakkan bungkus kondom disandaran jacuzzi. Kucoba air hangat di jacuzzi dengan tanganku.

Hangatnya pas.

Dengan perlahan aku masuk kedalam jacuzzi, sementara Sisca masih memandangiku tanpa suara.

“Sis, sini masuk bareng” Panggilku sambil melambaikan tanganku kearahnya.

“Ehh… iya mas,,,” Dengan perlahan dia bergerak kerahku.

Kulihat dia sedikit ragu-ragu untuk masuk kedalam jacuzzi. Kubantu dengan memegang tanganya. Karena jacuzzi ini tidak terlalu besar, otomatis Sisca berada diatasku, dengan perlahan kutarik badannya karahku. Penisku lembali menegang, membayangkan seks didalam air dengannya. Kedua paha Sisca mengapit pahaku. Payudaranya tepat berada didepan hidungku. Tanpa menyia-nyiakan waktu, kuciumi payudaranya bergantian, putingnya yang semula kecil, pelan-pelan membesar.

“Aduh! Mas! Jangan keras-keras dong” Tegur Sisca ketika aku dengan gemas menggigit putingnya sebelah kiri.

“Abis ngegemesin banget Sis” Pujiku, yang sukses membuat wajahnya kembali memerah.

Kuciumi bibirnya dengan pelan, lidahnya mulai berani mencari lidahku. Tanganku dengan aktif meremas payudaranya yang sekal. Puas bermain di payudaranya, tanganku turun kebawah, kumasukkan dua jari ke celah vaginanya, dan kukocok dengan cepat.

Ciplak,,,ciplakkk,,,ciplak,,,

Bunyi kocokan tanganku dibawah sana,wajahnya yang semula bersemu merah, semakin kelam.

“Masss,,,, ahhhhhhh,,,,,ahhhhh” Desisnya tak karuan. Wajah nya yang semakin merah mendekati orgasme, kupercepat kocokan jariku.

“Mass… ce…pee…tinnnn ahhhhhhhh” Rupanya dia sudah dekat dengan orgasmenya. Liukan tubuhnya semakin keras, demikian juga dengan desahannya.

“Mass…. ahhhh,,, kok dilepas?” Protesnya ketika kucabut jariku dari dalam vaginanya. Wajahnya terlihat penasaran dan nafasnya menderu dengan kencang.

Aku hanya tersenyum sambil dengan pelan mendorong tubuh Sisca dari atas tubuhku, aku bangkit keluar dari jacuzzi dan mengambil bungkus kondom yang tergeletak di sandaran jacuzzi.

Seolah bisa membaca pikiranku, Sisca bangkit dari jacuzzi serta mengambil bungkus kondom dari tanganku dan dengan cepat memasangkannya di penisku.

“Balik Sis” Perintahku sambil mendorong tubuhnya mendekati sandaran jacuzzi.

Tangannya memegang pinggiran jacuzzi sementara pantatnya menungging kearahku. Dengan cepat dia memposisikan penisku di pintu masuk vaginanya, dan bless!!

“Ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh” Jeritnya ketika penisku masuk hanya dengan satu sentakan.

Seperti sebelumnya, kurasakan tubuhnya sedikit tegang. Dengan posisi ini, kurasakan penisku masuk semakin dalam ke vaginanya. Dengan sedikit menggigit bibirnya, Sisca mulai memajumundurkan tubuhnya kearah tubuhku.

“Ahhhhhhhhh…ahhhhhhh…ahhhhhhh massss” Desahan nya semakin cepat. Kucium dengan gemas putingnya yang keras, terkadang kucubit dengan jariku. Bukkannya marah, dia malah mengambil kedua tanganku dan meremaskannya ke payudaranya dengan keras. Desisannya bertambah keras yang disusul dengan goyangan maju mundurnya yang semakin cepat.

“OOOOOOOOhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh, massssss……..” Teriaknya dengan keras ketika orgasme yang hebat melanda. Nafasnya tersengal dan wajahnya memucat. Namun tidak seperti sebelumnya, kali ini aku tidak membiarkannya istirahat, dengan cepat kutarik rambutnya hingga wajahnya mengarah kepadaku.

Kukocok vaginanya dengan cepat.

“Masss,,,ahhhh,,,,,,istira..hattt dulu…” Erangnya.

“Tahan bentar ya sis, nanti juga enak kok” Sahutku tanpa menghentikan kocokanku. Rintihannya semakin keras.

“Uda…hhh maw nyampe lagi mass,,,ahhhh” Sahutnya sembari menggerakkan pinggulnya kedepan dan kebelakang.

Gerakan pantatnya mulai tak beraturan, desahannya semakin keras bergema di ruangan

“Massssssssssssssssss……ahhhhhhhhhhhhhhh hahh…hahhhhh..hahhhhh”

Nafas Sisca menderu dengan keras, vaginanya menjepit dengan erat penisku didalam sana. Tubuhnya mulai melemas. Hanya tanggannya yang berpegangan pada dinding jacuzzi yang menahannya. Dengan pelan kukocok penisku. Kupompa dengan tempo yang pelan dan teratur.

“Hmm,,haahhhhh,,, masss, ” Hanya desisan yang bisa keluar dari mulut Sisca. Mungkin multiorgasme yang pertama baginya.

Hampir 5 menit kukocok dengan tempo pelan, ketika desisannya berganti menjadi desahan yang pelan. Kutingkatkan tempo kocokanku. Desahannya pun mulai terdengar. Putingnya kuremas dengan sedikit keras. Pantatnya yang membulat sungguh membuat ku tak tahan

Plaaaaakkkkkkkkkk…..

“Aduhhhhhh,,, Mas!!!!” Teriak Sisca kaget ketika kutampar pantatnya. Bisa terlihat cap telapak tanganku memerah di pantat mulusnya.

Plaaaaakkkkkkkkkk…

“Ahhhhhhh” Kembali kutampar pantat mulusnya. Pantatnya yang semula putih sekarang terlihat kemerahan.

Kupercepat kocokanku, sembari tanganku meremas dengan keras payudaranya. Desahannya kembali terdengar.

Plaakkkkkkkkkk….plaakkkkkkkkkkkk….

Plooookkkkkk…plooookkk..plookkkkkk….

“Ahhhhh..hahhhhh….hahhhhhhh”

Paduan tamparan dipantat, remasan dipayudara, dan kocokan yang semakin cepat dan desahan bercampur menjadi satu diruangan. Sisca yang semula pasif, sekarang mulai menggerakkan pinggulnya dengan liar. Tubuhnyapun bergerak dengan liar, tamparanku kuubah menjadi remasan kuat pada pantatnya.

“Aah! Aah! Ahh” Wajah sayu Sisca seperti orang kesakitan. Tangannya mencengkram pinggiran jacuzzi erat-erat.
Sisca semakin kencang menggoyangkan pinggulnya.

Memutar.

Menghentak.

Otot dalam vaginanya dikontraksikan dengan brutal.

“Masih jauh sis?”

“Bntar lagi mas!” Sahutnya sambil semakin liar menggoyangkan pinggulnya.

“Klo gitu barengan Sis” . Habis berkata seperti itu, kocokanku semakin kupercepat, tangan Sisca mencari tanganku dan meremasnya keras.

“Mass,, udahhhhh mauuuuu da…pettttttttttttttttttttttt”

Desahan Sisca terputus ketika orgasme itu melandanya, kepalanya mendongak keatas. Mulutnya megap-megap tanpa suara, matanya mendelik hingga hanya terlihat putihnya saja. Jepitan vaginanya begitu keras hingga membuatku tak tahan. Kucabut penisku dari dalam vaginanya, melepaskan kondom dan..

Crottttt..crrootttt..crootttt…

Beberapa kali semburan kuat sperma menimpa pantat dan punggung mulus Sisca. Tubuhnya merosot kebawah, masih bisa kulihat kakinya gemetar karena orgasme.

“Hahhh..hahhhhh…ahhhahhhh…”

“Hahhh..hahhhhh…ahhhahhhh…”

Suara nafas kami saling bersaut. Tanpa suara tubuh kami merosot kelantai yang dingin.

***

10 menit kemudian.

“Gmn sis?” Tanyaku sambil tersenyum.

“Massssss,,,,,” Cubitnya sambil menunduk malu.

“Masih kuat sis?” Cengirku.

“APA?? Mas mau lagi?” Oke. Bisa kulihat tatapan panik dimatanya. Newbie, pengalaman pertama pasti yang paling sulit.

“Vaginaku perih mas, mungkin lecet, punya mas kegedean sih” Sahutnya manja.

“Kan masih ada lubang yang lain Sis” Kuberikan tatapan menggoda kepadanya.

“Sisca belum pernah nyobain anal mas, lagian punya mas gede gitu, pasti gak bisa masuk tuh” Jawabnya sambil bergidik.

“Kan belum pernah dicoba Sis, pelan-pelan aja, nanti feenya tak double-in deh” Rayuku.

“Kalau ragu, ajak aja Nia, dia pasti bisa bantu” Sambungku. Kulihat dia ragu-ragu. Tetapi tawaran fee double kayaknya membuatnya bimbang.

“Hmmmmmmm”

“Telepon aja Nia, sekalian minta dia pesenin makanan dan jus” Rayuku.

“Hmmmm,,, telp Mbak Nia dulu ya mas..” Katanya sambil beranjak pelan dari jacuzzi.

Dengan langkah yang tertatih, Sisca beranjak ke telepon disamping ranjang. Tak terlalu kudengar apa yang dikatakannya ditelepon dengan Nia. Aku beranjak menuju shower untuk melanjutkan membersihkan badan.

“Makanannya masih dipesenin mas, bentar lagi Mbak Nia kesini” Kata Sisca ketika aku sudah selesai membersihkan badan.

“Kalau gitu kamu mandi aja dulu sis” Saranku melihat mukanya yang agak kelelahan.

“Iya mas”

Kukenakan kimono yang disediakan sebagai layanan massage. Sembari menunggu Sisca dan Nia, kuambil HP ku dari meja. Kuperiksa sebentar.

 

3 New Email​

Terpangpang dilayar notifikasi.

Kuperiksa sebentar, semuanya dari Frans.

 

Email Pertama :

From : [email protected]

To : andri ; Edy;

Subject : Alfa Medika Background.

Terlampir file Background Alfa Medika,

Thanks.

Frans.

Marketing Manager

G-Team | www.gteam.com

1 Attachment————————————————————————————————————————–Alfa Medika Background.PDF
—————————————————————————————————————————————–

Email kedua:

From : [email protected]

To : andri ; Edy;

Subject : Alfa Medika CEO Detail.

Terlampir file CEO Alfa Medika,

Thanks.

Frans.

Marketing Manager

G-Team | www.gteam.com

1 Attachment————————————————————————————————————————–Alfa Medika CEO Detail.PDF
—————————————————————————————————————————————–

Email Ketiga :

From : [email protected]

To : andri ; Edy;

Subject : Kompetitor Detail.

Terlampir file competitor untuk Alfa Memdika,

Thanks.

Frans.

Marketing Manager

G-Team | www.gteam.com

1 Attachment————————————————————————————————————————–Alfa Medika Kompetitor Detail.PDF
—————————————————————————————————————————————–

 

Kelihatannya Frans cukup sibuk mencari infomasi untuk pertemuan hari senin. Setidaknya sudah ada bahan untuk persiapan rapatnya. Tinggal mempelajari detail emailnya dan membuat presentasinya. Well, hari minggu yang sibuk besok.

Tok tok tok.

Ketukan di pintu mengalihkan perhatianku

Kubuka pintu dan kulihat Nia berdiri dengan menengteng kantong plastik berisi makanan. Dengan mengenakan kimono seperti yang dipakai Sisca, dengan langkah yang gemulai nan menggoda Nia masuk.

Dalam sekejap pandangannya sudah menyapu kesekeliling kamar, mulutnya tersenyum ketika melihat dua bungkus kosong kondom dilantai, jacuzzi yang airnya setengah, hingga shower dimana Sisca masih mandi.

“Kayaknya, ada yang habis ‘makan’ besar neh boss?” Sindirnya sambil tersenyum lebar.

“Cuma satu menu, mau nyoba menu yang ‘dibelakang’, tapi perlu bantuan nih'” Sahutku sambil menekankan kata dibelakang.

“Tapi sebelumnya, makan dulu, perlu energi lebih neh” Sambil mengambil makanan dari kantong plastik yang dibawa Nia. Makanan fast food dan jus, pasangan yang cukup aneh.

Sambil makan kuperhatikan tubuh sintal Nia. Walau sudah berusia 30 tahun, tubuhnya masih terlihat seperti gadis 20 tahunan. Payudaranya, ia, payudara merupakan aset terbesar yang dipunyainya. Tidak terlalu besar, namun bulat penuh, dengan puting merah agak kecoklatan. Pantatnya membulat penuh, khas wanita yang telah matang. Pantat yang sekarang tersaji didepan mataku, karena empunya sedang memperhatikan Sisca yang sedang mandi.

“Gimana boss? Puas dengan pelayanan Sisca? “Tanyanya penuh arti sambil berbalik menghadapku.

“Dengan latihan yang tepat, dia bisa jadi primadona disini” Sahutku sambil meliriknya penuh arti.

“Hmmm,,,,, latihan apa boss?” Sahutnya manja sambil mendekat kerahku.

“Bisa dimulai dari blowjob, kayaknya keahlianmu itu bisa diajarkan padanya”

Sambil melirik kearah Sisca yang sudah selesai mandi dan kini mendekat kearah kami, masih telanjang bulat seperti tadi. Walaupun sepertinya dia agak kikuk dengan kehadiran maminya disini. Selera makanku hilang ketika melihat tubuh setengah basah dan berkilat dari Sisca, apalagi membayangkan jika Nia dan Sisca menjilat penisku berdua.

Rasa ‘lapar’ ku segera berganti. Penisku mulai menegang lagi.

“Sis, coba kesini” Perintah Nia ke Sisca yang masih berdiri dengan agak kikuk.

Sambil melirik kearah maminya, Sisca mendekat kearah kami. Aku yang masih duduk dipinggir ranjang, dan Nia yang berdiri didepanku.

“Coba kamu kulum penis Mas Andri” Perintah Nia

“Ehhhh,,, mbak,,ehh” Dengan terbata Sisca mencoba menjawab, namun hanya gumam yang tak jelas yang keluar dari mulutnya.

Dengan tak sabar Nia menarik tangan Sisca hingga berlutut didepanku. Dengan pelan kubuka kimono yang kugunakan, penis setengah tegangku tepat didepan wajahnya. Sambil melirik kearah Nia, yang dibalas dengan anggukan kecil, perlahan mulut mungilnya membuka, penisku, dikulumnya dengan perlahan, tangannya mengocok pelan batang penisku. Kulumannya terasa menyentuh tenggorokkannya ketika dia berusaha memasukkan seluruh batang penisku ke mulutnya. Kocokan tanggannya di batang penisku semakin cepat.

Penisku menegang dengan cepat.

“Liat Sis!” Sambil menarik tubuh Sisca ke samping, gantian Nia yang mengoral penisku.

“Ufffttttttt…..”

Desisku tertahan ketika Nia memaju mundurkan mulutnya dengan cepat di batang penisku yang masih basah akibat ludah dari Sisca. Tangan kanannya membelai bolaku, sedangkan tangan kirinya membelai paha bagian dalam. Kulihat kebawah dan pandangan kami bertemu, kulihat matanya bersinar jahil, seirama dengan gerakan mulutnya yang semakin cepat.

Kupegang kepala Nia, dan kucabut penisku dari mulutnya. Penisku yang semakin tegang kuarahkan ke mulut Sisca, seolah mau membandingkan, kuluman siapa yang lebih hebat. Kurasakan sensasi berbeda dari kulumannya, lebih pelan dan lebih menghisap.

Nia rupanya tidak mau menganggur begitu saja, kaki jenjang yang dihiasi high heel perlahan menuju kebelakang Sisca, dengan gemas diremasnya payudara Sisca dari belakang.

“Ummhhhhh….uhhhhh….ummmmm,,”

Hanya itu yang terdengar dari mulut Sisca yang masih berisi penisku, wajahnya agak mengernyit menahan rangsangan yang diberikan Nia pada tubuhnya. Desahan tertahan dari mulutnya semakin keras ketika Nia memasukkan satu jarinya kedalam vagina Sisca, yang terkuak lebar kerena posisinya yang berlutut.

“Ughhhh!” Aku sedikit tersentak ketika penisku tergigit pelan oleh Sisca, dan wajar, karena dua jari tangan kanan Nia sekarang dengan cepat dikocokkan ke vagina Sisca yang berkilat basah oleh cairan vaginanya. Sementara tangan kirinya dengan kasar meremas payudara Sisca yang kutahu sangat sensitif. Sepuluh menit kemudian kuluman Sisca semakin tidak karuan, pantatnya bergerak liar mencari kenikmatan dari jari tangan ahli Nia.

Plooppp….

“Ahhhhhhhhhhhhhhhh,,,, ”

Bersamaan dengan terlepasnya penisku dari mulut Sisca, badannya bergetar dan pinggulnya meliuk dengan kencang, menjepit tangan Nia seolah ingin melampiaskan rasa melayang yang dialaminya kepada dua jari mungil nan ahli dari Nia.

Sisca terduduk sambil terengah menikmati orgasme yang kesekian kalinya hari ini. Disampingnya Nia dengan kimono yang awut-awutan, menampakkan kulit mulus payudara dan pahanya. Tangan kanannya menyelinap ke pangkal pahanya dan mengocok pelan. Sementara tangan kirinya meremas sendiri payudaranya.

Sambil tersenyum kupasang kondom terakhir hari ini, kuhampiri Nia, kubuka ikatan kimononya, yang menampakkan tubuh polos, putih mulus dan terawat. Payudara sekal yang sedikit kemerahan karena diremas dengan kasar oleh empunya yang menahan birahi. Kucari mulutnya yang membuka merah dengan mulutku, lembut, basah, menggoda.

Itulah kesan yang kurasakan saat menciumnya.

“Ahhhh… ayo mas,,,” Rengeknya ketika kucium pelan payudaranya yang menantang. Tangannya yang basah oleh cairannya memegang penisku dan diarahkan ke liang kenikmatannya.

Bleesssss…..

Dengan sekali hentakan penisku masuk kedalam vagina Nia. Berbeda dengan Sisca, Nia bisa dengan mudah melahap penisku.

“Ahhhhhhhhhhhhhhh”

“Ugghhhhhhhhh”

Walaupun tidak seseret dan sesempit punya Sisca, cengkraman vaginanya terasa ketat. Apalagi ketika otot kegelnya digerakkan, penisku serasa dipijat tangan yang kenyal, basah dan hangat. Kugenjot dengan ritme yang tinggi.

Desahan Niapun menggema didalam ruangan.

“Ahhh…ahhhh.ahhhhh”

Tidak seperti Sisca yang agak pasif ketika bercinta. Nia sangat aktif, pantatnya bergerak menyambut tusukanku di dalam liang vaginanya. Ketika penisku bergerak keluar, dibarengi dengan gerakan berlawanan. Ketika kutekan, pantatnya juga diayunkan kearahku. Rasanya sungguh nikmat, penisku yang tidak bisa masuk semua ke punya Sisca, bisa habis ditelan vagina Nia.

Plokkkk…plokkkk…plokkkkk

Bunyi benturan tubuh kami begitu serasi. Hampir sepuluh menit kukocok vaginanya ketika goyangan pantatnya semakin tidak beraturan, desahan nya semakin keras. Kuremas payudaranya dengan keras.

“Ahhhhhhhhh massssssss,,,,, Niaaaa dapet……..!!!” Teriaknya ketika orgasme melanda. Tubuhnya berkelojotan sesaat sebelum diam. Nafasnya memburu, dengan keringat kecil membasahi dahinya.

“Hah…hah…hah… Mas sama Sisca dulu ya, masih kerasa ngeganjel nih” Serunya sambil mengerjapkan mata kearah Sisca yang berbaring disebelahnya.

Tunggu.

Sisca rupanya asik masturbasi sambil melihat kami. Wajahnya memerah ketika aku menggapainya dan menariknya keatas ranjang.

Sisca POV.

Woowwwwwwwww.

Mbak Nia sungguh hebat. Vaginaku masih kerasa ngilu setelah dihajar penis Mas Andri, namun Mbak Nia dengan sekali tusukan langsung bisa bergoyang dengan tempo yang tinggi.

Hanya membayangkan penis besar dan panjang itu dalam vaginaku saja membuat vaginaku meremang. Goyangan Mbak Nia liar sekali, pasti kerasa sampai keujung penisnya. Tanpa sadar dua jariku mengocok dengan pelan vaginaku yang kembali terasa gatal. Tapi jariku tak cukup panjang untuk menjangkau sudut-sudut gelap yang gatal.

“Ahhhhhhhhh massssssss,,,,, Niaaaa dapet……..!!!” Teriakan orgasme Mbak Nia mengembalikanku dari khayalan.

“Hah..hah..hah… Mas sama Sisca dulu ya, masih kerasa ngeganjel nih” Samar kudengar kata-kata Mbak Nia.

Oh My God

Aku lupa tanganku masih mengocok pelan vaginaku. Senyum Mas Andri membuat wajahku terasa panas. Aku hanya bisa menunduk ketika tangannya terulur, mengundangku keatas ranjang. Mas Andri berbaring menghadap keatas, dengan penis besarnya mengacung keatas. Dengan menggigit bibir aku mengangkanginya, pelan-pelan kuturunkan pinggulku, mencari lubang yang pas.

“Ouwhhhh……”

Tak bisa kutahan mulutku mengerang ketika dengan perlahan kepala penis itu menerobos lliang vaginaku yang basah. Kutahan sebentar Mas Andri agar aku bisa beradaptasi dengan ukurannya.

Jleeebbbb..
..
“Ahhhhhhhhhhhhhhhh… massssssssssss…….!!!”

Dengan satu kali dorongan penis itu masuk sempurna kedalam vaginaku. Rasa penuh yang familiar serasa menggaruk dinding vaginaku yang gatal tadi. Tangan Mas Andri kuremas-remas tanpa sadar. Kunaikturunkan tubuhku dengan pelan, penis besar itu terasa begitu sempurna.

“Ahhhhh…ahhhhh..ahhhhh”

Desahanku tak bisa kutahan lagi. Pantatku bergerak naik turun, dari pelan menjadi cepat. Tak kuhiraukan Mbak Nia yang bangun dan munuju lemari disamping ranjang, mungkin mengambil minuman yang tersedia disana.

Plokkkk…plokkkkk…ploookkk….

Bunyi tubuh kami yang beradu semakin keras terdengar. Penis besar ini serasa membuatku melayang.

Begitu indah.

Begitu nikmat.

“Ehhh,,, mbakkk….” Seruku ketika tangan Mbak Nia mendorong pelan bahuku kearah Mas Andri. Tangan Mas Andri memeluk erat tubuhku, hanya pantatnya yang bergerak mengocok pelan vaginaku. Dada Mas Andri yang bidang menekan erat payudaraku, membuat gairahku semakin naik.

“Rileks ya Sis” Kata Mbak Nia belum bisa kucerna dengan baik, ketika benda yang dingin, basah dan licin perlahan masuk kedalam anusku!!!

“Auuwwww…ahhhhhh,,, mbakkkk” Jeritku, lebih karena terkejut, ketika benda sebesar kelingking itu masuk ke anusku. Aku diam merasakan sensasi pertama benda asing didalam pantatku. Kulirik kebelakang dan melihat benda semacan dildo mini digerakkan dengan perlahan oleh Mbak Nia, sesekali tangannya mengoleskan semacam gel di permukaan benda itu.

“Ahhh..ahhhh..ahhhhh”

Desisku kembali ketika Mas Andri dan Mbak Nia bergerak bersamaan. Rasa takutku berganti menjadi penasaran, kugerakkan pantatku naik dan turun.

My First Anal

Perlahan aku mulai bisa menikmatinya, kocokan kami pun semakin cepat. Ketika tiba-tiba Mbak Nia mencabut dildo mini itu dari pantatku, aku terlalu malu untuk memintanya memasukkannya kembali.

Perlahan aku merasa Mbak Nia mengoleskan gel pelicin lagi ke pantatku, dan…

“Owhhhhhh…ahhhhh…uhhhhhhhh” Benda yang sama, namun dengan ukuran yang berbeda kembali memasuki pantatku. Sekarang dildo mini sebesar ibu jari memamasuki anusku yang beberapa menit lalu masih perawan.

Dengan pelan kugerakkan pantatku maju menyambut penis Mas Andri, mundur menjepit dildo mini itu.

“Ahhhh…ahhhhh.ahhhhhhh…” Desahanku semakin keras bergema didalam ruangan ini.

“Ouwhhhhh,,,,, cepetin mbak,,,ahhhhh” Tanpa malu-malu lagi aku meminta Mbak Nia lebih cepat memasukan dildo itu ke pantatku. Nikmatnya mulai terasa, vaginaku semakin terasa gatal, kugerakkan pantatku dengan cepat, mengikuti gerakan pinggul Mas Andri yang semakin cepat juga.

Ploooppppppp….

“Kok dicabut?” Protesku ketika mereka mencabut penis dan Dildo masing-masing dari lubang tubuhku.

“Gantian Sis, aku capek” Sahut Mas Andri sambil bangkit.

Gantian? Maksudnya?

Kulihat Mbak Nia sedang memakai celana dalam yang aneh. Aneh karena celana dalam itu berisi dildo di kedua sisinya. Besarnya sedikit lebih kecil dari penis Mas Andri. Kulihat matanya sedikit mengernyit ketika memasukkan satu ujung dildo kedalam vaginanya.

Sambil tersenyum jahil Mbak Nia memintaku naik keranjang. Mbak Nia mengambil posisi tidur di atas ranjang. Ujung dildonya mengarah keatas, dengan pelan dia menggapaiku dan mengarahkanku ke atas tubuhnya. Perlahan dildo itu diarahkan ke vaginaku.

“Ahhhhhhhhh…” Walaupun lebih kecil dari penis Mas Andri, batang dildo ini terasa lebih keras. Sensasi batang berurat yang seperti penis sungguhan ini sungguh memabukkan, dengan cepat kunaikturunkan tubuhku. Desahanku dan Mbak Nia bersahutan.

Mbak Nia menarik wajahku kebawah.

“Rileks aja Sis, nikmati saja” Ketika aku sedikit segan menyambut ciuman Mbak Nia.

Sepanjang hidupku aku belum pernah berciuman dengan wanita. Namun entah karena nafsuku yang sudah dipuncak, kuterima ciuman Mbak Nia. Ciumannya lembut dan menuntut. Kalau semula aku ragu, namun karena desakan nafsu, ciuman kami berubah menjadi liar. Kuberanikan diri meremas payudara Mbak Nia.

“Ouwhhhhhh….ahhhhhh…yang keras Sis”

Desisan Mbak Nia menambah keberanianku. Aku pun meremas payudaranya dengan keras, begitu juga sebaliknya.

“Ouwhhhhh,,,,ouuuu,,,ahhhhh….”

“Ahhhhh..hahhhhh..aahhhhhhhhhhhh”

Desahan kami saling bersahutan. Vaginaku semakin gatal, dildo itu menusuk vaginaku dengan keras. Kocokanku kupercepat.

Kurasakan Mas Andi menambah gel di pantatku, kemudian dildo sebesar ibu jari itu dikocok dengan cepat di pantatku. Sensasinya semakin membuatku melayang. Namun Mas Andri manarik lagi dildo itu dari pantatku, kemudian menambah gel lagi. Walaupun kurasakan masih licin dari sisa gel yang tadi.

“Ouwhhhh…ahhhhh,,, mbakkk,,, sakittt”

Protesku ketika Mbak Nia menggigit pelan payudaraku. Tangannya memeluk erat diriku, kakinya dilingkarkan di pahaku, otomatis aku hanya bisa menggoyangkan pantatku. Kini Mbak Nia yang bergoyang dengan cepat, membuat vaginaku semakin gatal. Dan…..

“Ahhhhhh,,, sakitttttttttttttttttttttttt!!!”

Jeritku ketika ada benda yang besar dan hangat mencoba menerobos masuk pintu anus ku yang sempit. Kulihat kebelakang dan disana Mas Andri berusaha memasukkan penisnya kedalam lobang pantatku.

“Tahan ya Sis!” Sahutnya sambil mencabut keluar penisnya, lalu menambahkan gel kedalam anusku dan penisnya.

“Pelan-pelan mas….” Seruku sambil mengambil nafas dalam-dalam.

“Pahanya jangan dikeraskan gitu Sis, lemaskan saja, kalau di gituin, nanti terasa sakit masuknya” Saran Mbak Nia.

Sambil berkata seperti itu, Mbak Nia terus merangsang puting payudaraku dan menggerakkan pantatnya naik turun. Lidahnya yang lembut menelusuri lekukan leher dan menjilati pelan telingaku.

“Owuuhhhhh,,,, sempit sekali Sis”

Ceracau Mas Andri ketika mili demi mili penisnya masuk kedalam pantatku.

Rasanya sakit. Bohong kalau ada yang bilang anal seks tidak sakit.

“Pelan-pelan mas, sakit” Pintaku memelas.

“Iya Sis, rileks ya” Sahut Mas Andri sambil menarik penisnya. Kurasakan dingin ketika gel ditambahkan lagi keanusku. Dengan pelan Mas Andri kembali memasukkan penisnya.

“Uhhhh,,,, sempit sekali Sis”

“Mas, pelan-pelan, penis mas kegedean” Pintaku ketika kurasa kepala penisnya berhasil masuk ke liang yang beberapa saaat lalu hanya bisa menelan dildo kecil.

“Rileks Sis, nikmati” Seru Mbak Nia yang masih terus memompa vaginaku dengan dildonya. Remasan tangannya di payudaraku, kocokan dildo dan ciuman di leherku sedikit bisa mengalihkan perhatianku dari rasa sakit di pantatku.
Perlahan birahiku naik kembali, kupegang kepala Mbak Nia dan kucium bibirnya. Ingin kualihkan rasa sakit dipantatku dengan ciuman yang panas dengan Mbak Nia.

Melihat hal ini, Mas Andri mulai melakukan penetrasi di pintu belakangku. Bisa kurasakan penisnya masuk lebih dalam.

“Sempit sekali Sisca… Sama seperti milik Nia ketika pertama dulu!” Seru Mas Andri.

Sambil berkata seperti itu Mas Andri mulai menggerakkan penisnya maju mundur.

“Mbak Nia, cepettinnnn….” Pintaku memelas kepada Mbak Nia. Rasa sakit dan ngilu pada anusku terobati oleh kocokan kasar Mbak Nia pada vaginaku.

“Ahhhhhh..sempit sekali pantatmu Sis” Racau Mas Andri. Kocokannya semakin kencang di pantatku. Perlahan ditariknya penisnya keluar, ditambahkannya lagi gel pelicin di penisnya.

Jlebbbb…jleebbbb,,,jleebbb

Plokkkk…plokkkkk,plookkk

Bunyi persetubuhan kami. Pelan tapi pasti, rasa sakit di pantatku berkurang. Berganti dengan sensasi lain. Vaginaku serasa semakin penuh karena penis yang bersarang di anusku. Rasa gatal di vaginaku semakin menjadi. Kulirik Mbak Nia, wajahnya merah padam, mungkin menahan rasa nikmat yang mendekati puncak. Begitu pula Mas Andri.

Dan akhirnya.

“Masssss….Sisca maw nyampe lagiiiiiiiiiiiiiiii..ahhhhh ahhhh ahhh” Jeritku ketika puncak kenikmatan itu semakin dekat. Tubuhku bergerak liar namun terhalang himpitan tubuh Mas Andri dan Mbak Nia, rasa yang hari ini mulai familiar itu serasa semakin dekat. Rasa gatal di vaginaku semakin keras, kucium dengan ganas mulut Mbak Nia yang membuka.

“Mas ju..gaaaa Siss..”

“Kalian duluannn,, nanti giliranku,,hah hah hah” Timpal Mbak Nia.

“Ahhhhhhhhhhhh,,,, Sisca nyampeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee….” Dengan tenaga terakhir kugoyang tubuhku dengan cepat, meresapi orgasme terbaik hari ini. Pandanganku serasa kabur. Tubuhku serasa lemas. Kakiku gemetaran.

“Ahhhh,,, sempit sekali pantatmu Sis” Racau Mas Andri sambil mengocok pantatku dengan cepat.

“Keluarin dimulutku aja mas” Tawar Mbak Nia. Sambil mendorong tubuhku kesamping, dilepasnya kondom di penis Mas Andri. Dengan cepat kepala Mbak Nia maju mundur dibatang penis Mas Andri. Gerakannya sungguh ahli, tangannya sibuk mengelus kantong bola dan paha Mas Andri.

Clepppp..clepppp.cleepppp

“Nia , aku mau keluar..rrrrrrrrrrr” Teriak Mas Andri.

“Uhhhh,,uhhhhhh” Dengan ahli Mbak Nia memasukkan seluruh batang penis Mas Andri kedalam mulutnya.

Deepthroat yang hebat.

Wajah Mbak Nia sedikit tegang.

“Ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh,,,Niaaaaaaaa!!!”

Badan Mas Andri mengejang dengan hebat ketika keluar. Tubuhnya berkelojotan beberapa kali ketika spermanya tersembur kedalam mulut Mbak Nia

Ploopppp

“Hahhh..hahhh…hahhhh” Nafas Mbak Nia memburu, namun tak sedikitpun sperma yang tercecer.

“Gilirannmu Nia!”

Dengan sebelah tangan tubuh Mbak Nia ditelentangkan oleh Mas Andri, celana dalam dildonya diturunkan . Tiga jari sekaligus Mas Andri mengocok cepat vagina Mbak Nia.

Tiga jari.

Tak perlu waktu lama, sampai…

“Mas,,,,,,Niaaaa,, nyampaiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii” Tubuh Mbak Nia meliuk indah sebelum badannya terhempas ke ranjang.

Tangannya mencengkram seprai dengan erat, matanya membelalak keatas hingga hanya terlihat putihnya saja. Cairan vaginanya mengalir deras hingga meleleh ke pahanya. Raut wajah kepuasan dan kelelahan terlihat dari wajahnya. Mas Andri menarik tanganku, kami bertiga berpelukan dalam ranjang yang masih tercium bau sperma dan cairan vagina. Mataku semakin meredup sebelum akhirnya gelap menyelimuti.

Bersambung