Rahasia Gelap Part 19

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36

Cerita Sex Dewasa Rahasia Gelap Part 19 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Rahasia Gelap Part 18

FACTORY.
III

Bukan sepasang kekasih yang sedang memadu asmara.

Bukan pula sepasang pencuri yang sedang melaksanakan aksinya.

Tapi dua orang remaja laki-laki mendengarkan musik sambil bernyanyi dengan suara fals!

Huffftttt, kena deh.

Apes!

Kedua remaja itu terlihat kaget dengan kedatangan kami, apalagi dengan pisau yang ada ditanganku.

Sontak mereka menjerit dan minta ampun

“Ampun pak, kami tidak punya barang-barang berharga, kami hanya menjaga villa ini sementara saja pak” Ujar yang lebih tinggi. Sementara temannya merapat kedinding.

Ampunnnnnnnnnn!!!

“Hihihi, tampang mas kaya maling, pantas mereka takut mas” Ledek Raisa yang muncul dibelakangku.

Asem dah, ne anak malah ikut ngeledekin!

“Eh, mbak kan…Mbak Marisa kan? Yang punya villa ini? ” Kata anak yang lebih tinggi dengan takut-takut.

“Bukan, ini Mbak Arisan, pembantunya” Jawabku sewot.

“Hihihi, ada yang sewot… Aku R-A-I-S-A, anak yang punya villa ini tepatnya, siapa yang keponakannya Bi Ijah?”

“Saya mbak, jawab anak yang lebih tinggi”

“Kamu tahu apa yang kamu lakukan sekarang salah?” Kata Raisa dengan tajam.

“I..iya mbak, Maafkan saya mbak”

“Sekarang mbak maafkan, lain kali jangan diulangi lagi ya” Tegur Raisa.

“Nama kamu siapa?” Lanjutnya.

“Andri mbak”

Buset dah.

“Hihihi, namanya juga sama,hihihi” Tawa Raisa sekarang benar-benar membuatku sewot.

“Andri, kata Bi Ijah kamu bisa masak?” Tanya Raisa sambil melirik kearahku.

“Bisa sedikit mbak” Jawab Andri.

“Kalau begitu, sekarang kamu beli bahan masakan, ini uangnya” Pinta Raisa sambil menyerahkan dua lembar uang berwarna merah kepada Andri.

“Mbak, saya boleh pulang?” Anak yang mepet ke dinding bertanya dengan takut-takut.

“Hmmm, boleh kok, tapi, anterin dulu Andri beli bahan masakan, nanti kalau ada sisa uangnya, boleh kalian pakai jajan” Kata Raisa dengan lembut.

“Iya mbak, saya berangkat sekarang” Kata Andri sambil mengajak temannya.

“Eh tunggu dulu” Kata Raisa sambil mendekat dan berbisik kepada Andri.

Terlihat muka Andri memerah ketika Raisa selesai berbisik.

Aku memandangnya dengan pandangan curiga, yang dibalasnya hanya dengan mengangkat bahunya saja.

“Mas sini aja langsung kerjanya ya, kebetulan ini kamarnya Raisa” Kata Raisa, yang kujawab dengan anggukan.

“Mas, Is mau mandi, mas mau ikut?” Tawar Raisa.

Tawaran Raisa sangat menggiurkan, tapi aku harus mengupload foto-foto yang kuambil ke cloud storage perusahaan, sekaligus memberi keterangan untuk masing-masing foto, yang mana kurasa memerlukan waktu yang tidak sedikit.

“Hmmmm, mas harus upload fotonya Is, ada internet kan?” kataku dengan berat.

“Ada mas, gak isi password kok, tapi, mas yakin tidak ikut mandi?” Tawar Raisa, kali ini sambil mengangkat rok mininya keatas, lebih keatas dan keatas lagi, sehingga terlihat rambut-rambut lebat yang menutupi celah sempitnya.

Glekkk.

Untuk kesekian kalinya aku harus menelan ludah melihat aksi nakal yang dilakukan Raisa.

“Yakin Is” Aku harus yakin.

“Ya udah kalau gitu, aku mandi dulu ya mas” Jawab Raisa sambil menggoyangkan pantatnya dengan sengaja.

Perlahan, dengan sangat perlahan Raisa berjalankearah kamar mandi yang ada disebelah kamar.

Kumenuju sound system dan mematikannya
.
Ruangan yang tadi hingar bingar perlahan menjadi sepi.

“Mas nitip ini ya” Kata Risa di pintu sambil melemparkan branya kearahku.

Alamak.

Huft, Andri Fokus.

F-O-K-U-S!

Kuambil laptop dan menyalakannya, satu persatu foto yang kuambil dari pagi kukelompokan sesuai dengan tahapan produksi. Setengah jam kemudian Raisa keluar dari kamar mandi, tanpa pakaian.

“Mas, tubuh Is bagus ndak?” Tanya Raisa sambil memutar-mutar badannya.

Tubuh telanjang yang putih dan mulus.

Terawat dengan sangat baik.

Dan bongkahan pantat yang membulat.

Walaupun tidak bisa mengalahkan bulat pantatnya si-celana-dalam-putih, well, setidaknya dari yang kuhayalkan.

“Kok malah bengong si? Jawab donk mas” Kata Raisa sambil merenggut manja.

“Bagus Is, bagus banget malah” Kataku jujur.

“Ah mas bohong, apa buktinya mas?” Tuntutnya.

“Buktinya, Andri junior mulai bangun sekarang ” Kataku seraya menunjuk tonjolan di celanaku.

“Hihihi, jangan sekarang ya mas, Is laper, ntar gak kuat kuda-kudaannya” Kata Raisa sambil menuju salah lemari yang ada dipojok ruangan.

Ketika tubuhnya menungging untuk mengambil pakaian, terlihat celah kecil dipangkal pahanya yang berwarna merah muda.

Pantat bulatnya semakin bulat.

Pantat itu.

Pantat itu…

Andri. Kerjaan masih banyak.

Perlu usaha yang keras agar aku bisa mengalihkan pandanganku dari suguhan bulatnya pantat Raisa.

“Mas, Is kebawah dulu ya” Kata Raisa beberapa menit kemudian.

“I….ya Is” Kataku terbata melihat pakain yang dikenakan Raisa.

Tanktop hitam yang ketat serta celana jeans yang super pendek.
Tanpa bra! Bisa kulihat dari putingnya yang tercetak dipermukaan tanktop yang dikenakannya. Sementara celana yang dikenakannya super pendek sehingga memperlihatkan paha mulusnya .

“Is, Andri kecil bisa mimisan lihat kamu pake baju kayak gitu” Seruku.

“Hihihi, biarin mas, emang sengaja, hihihi” Katanya sambil berlalu dari kamar.

Dasar nakal.

“Saatnya bekerja Ndri! Semangat!” Kataku sebagai penyemangat untuk melanjutkan pekerjaan ini. Tinggal edit beberapa ratus gambar lagi, setelah itu tinggal menguploadnya.

…satu jam kemudian…

“Finally! Done!”

Setelah berkutat sekian lama, akhirnya aku bisa menyelesaikan mengedit gambar, sekarang tinggal menguploadnya.

“Beres, sekarang tinggal menunggu prose upload selesai!”

“Kriiuuukkkkkkkk” Bunyi protes dari perutku yang kelaparan member isyarat untuk segera mencari makanan kebawah.

“Raisa…Raisa..Is…” Panggilku ketika sudah sampai di bawah.

“Iya mas” Sahut Raisa dari arah belakang. Mungkin dapur.

Kuikuti arah suara Raisa dan melihatnya sedang duduk disalah satu kursi didapur.

Didepannya terlihat beranekaragam masakan yang terlihat lezat.

“Andri kecil kemana Is?” Ketika disekeliling tidak terlihat batang hidung anak itu.

“Sudah kusuruh pulang kerumahnya mas, masakannya juga sudah siap kok” Lanjutnya.

“Ayo makan mas” Ajaknya, yang tentu saja aku turuti dengan senang hati.

Kami makan seperti berlomba, dan harus kuakui, masakannya Andri kecil enak. Ditambah lagi dengan perut yang kelaparan, jadilah hidangan yang sekian banyak, habis dalam waktu yang tidak terlalu lama.

“Wah Is, kalau terus makan seperti ini, bisa-bisa semua bajuku tidak muat nih”

“Sama mas, perut Raisa rasanya penuh banget nih” Katanya sambil menepuk perutnya yang terlihat membuncit.

“Hahaha, kayak lagi hamil aja Is” Ledekku.

“Ih, mas ini…Besok jam berapa balik mas?”

“Mungkin pukul delapan pagi Is, biar gak kemaleman sampai di Jakarta” Usulku.

“Oke deh mas, jobnya mas sudah selesai?”

“Tinggal nunggu uploadnya selesai ja Is”

“Kalau gitu temenin nonton dong mas, ada film yang serem, Is gak berani nontonnya sendiri” Pinta Raisa dengan wajah memelas.

Shit.

Kukira mau ngasi dessert seperti waktu sama Tri.

Ternyata oh ternyata.

“Ayo Is, eh, dimana nontonnya?”

“Diatas mas, dikamarnya Is” Katanya sambil menarikku.

“Film apa Is?” Tanyaku ketika kami tiba diatas.

“Pulau Hantu mas” jawab Raisa sambil beranjak menghidupkan televisi dan VCD player. Tak berapa lama kemudian film pun dimulai. Raisa dengan manjanya tiduran dipangkuanku, dengan posisi aku bersandar di dinding ranjang.

Dan filmpun diputar.

Ini film hantu atau apa sih? Pikirku. Ketika adegan gadis-gadis dengan bikini terlihat dilayar.

Seksi.

Wajah salah satunya seperti Lisa, yang lagi satu seperti si-celana-dalam-putih, terasa pas, karena didalam film juga mengenakan daleman warna putih.

Apakah si-celana-dalam-putih akan terlihat seperti itu ketika memakai bikini?

Hayalan mesum sel-sel kelabu diotakku direspon dengan baik oleh Andri junior, yang mulai menggeliat dibawah sana.

“Idih, Mas Andri, baru lihat segitu aja sudah bangun, apalagi kalau lihat ini” Kata Raisa sambil menaikkan tangktopnya.

Payudara mungilnya kembali terpangpang bebas.

AKU TIDAk TAHAN LAGI!!!

“Mas Andriiiiii!!!” Pekik Raisa ketika dengan tak sabar tangan dan mulutku mencium payudaranya

“Uhuhhh” Jawabku sambil terus mencium, sesekali mengulum putting kemerahan yang berdiri dengan tegak.

“Mas udah…”

“Uhuhh,,” Tak kuhiraukan perkataan Raisa, tanganku dengan sedikit kasar meremas payudaranya, sementara lidahku menciumi telinganya bergantian.

“Ahhh,, mas,, udah….” Lagi Raisa menolak namun hanya kuanggap angin lalu.

Perlahan tanganku turun, meraih celana jeansnya, ketika Raisa dengan lirih berkata.

“Mas, aku lagi dapet sekarang!”

Perlu beberapa lama sebelum aku bisa mengerti perkataan Raisa.

Dan…

Shit!

Shit!Shit!
Shit!Shit!Shit!
Dari pagi dia menggodaku, dan sekarang, dia dapet!

Kenapa hari ini aku tidak beruntung sekali?

“Aduh Is, Andri junior dah pengen dimasukin ke lubangnya nih” Kataku seraya menunjuk tonjolan dicelanaku yang semakin membesar dan terasa sakit.

“Sini mas” Kata Raisa sambil menurunkan celana yang kupakai.

Andri junior yang sudah tersiksa dari pagi akhirnya bisa menghirup udara segar.

Tanpa basa-basi Raisa langsung mengulum penisku dan mengocoknya dengan kecepatan tinggi. Namun, sampai sepuluh menit kemudian belum ada tanda-tanda aku akan keluar.

“Mass..hah.. pegel mulutnya Is” Katanya sambil agak terengah.

“Bandel banget sih mas” Katanya sambil memandang dengan cemberut. Namun segera berganti menjadi sebuah senyuman.

“Mas, coba bayangin pas main bertiga ma Tri, pasti bisa nyampe ntar,hihihi” Katanya sambil mendekatkan payudaranya kewajahku.

Membayangkan saat main bertiga dengan Tri?

Usul yang bagus…

Saat itu….

***

………..Raisa menghampiriku dengan langkah sensualnya, tangannya membelai bahuku dengan perlahan. Dia melangkah kebelakang tubuhku dan perlahan memelukku dengan mesra. Gundukan kenyal didadanya menekan erat punggungku, bibirnya yang tipis dan basah menciumi tengkuk dan telinga, sementara tangannya memilin pelan putingku.

Sementara dibawah sana ,Tri masih asik mencium penisku yang telah menegang dengan sempurna. Tangannya dengan aktif mengelus bola-bola yang menggantung pasrah. Perlahan penisku dikulum oleh Tri, bisa kurasakan Tri belum begitu berpengalaman.

Giginya masih menyentuh penisku.

Terasa ngilu.

Kuminta Raisa untuk berjongkok didepanku, ingin kubandingkan, kuluman siapa yang lebih enak. Sambil tersenyum mesum, Raisa mendekatkan mulutnya kearah Tri yang masih asik dengan penisku. Sambil melirikku dengan tatapan menggoda, Raisa mulai menjulurkan lidahnya menjilat bolaku dengan pelan.

“Ahh…” Tak bisa kutahan untuk tidak mendesah nikmat. Dikulum dan dijilat oleh dua orang wanita cantik seperti ini. Rasanya aku seperti melayang.
Dengan pelan kugenggam tangan Tri dan memintanya untuk berdiri. Tangktop hitamnya yang ketat perlahan aku tarik keatas, lewat tangannya sebelum aku lepaskan. Begitu juga celana pendek warna hitamnya yang begitu kontras dengan kulit pahanya yang putih dan mulus.

Mungil.

Putih.

Mulus.

Kutarik Raisa berdiri, dengan pelan kubisikkan sesuatu ditelinganya.

“Is, pernah main sama cewek?”

“Belum mas, tapi bisa dicoba” Jawabnya sambil tersenyum simpul.

Perhatianku sekarang beralih ke Tri.

Terlihat dia sedikit gugup dengan tangan mendekap payudara dan satunya lagi ditaruh didepan celana dalamnya, seolah untuk melindungi dirinya.
Sambil tersenyum, kuangkat sedikit dagunya, kupandang matanya dan perlahan kukecup bibirnya yang menggoda.

Bisa kurasakan tubuh Tri tegang ketika aku menciumnya, namun perlahan, desakan birahi membuatnya rileks. Ciuman yang semula ringan, semakin lama semakin panas dan lama. Lidahku mencari lidahnya yang menyambutnya dengan tak kalah panas. Tangannya yang semula menghalangi bagian-bagian intim ditubuhnya, perlahan terangkat memeluk pinggangku.

Kulirik dengan sudut mataku, Raisa melangkah pelan ke belakang Tri, tangan mungilnya kemudian membuka kaitan bra Tri. Dengan kaitan yang sudah terbuka, aku bisa dengan mudah membukanya. Kulepaskan sebentar ciumanku pada Tri. Kupandangi payudaranya.

Kecil.

Bulat.

Dan terasa kenyal ketika kusentuh.

“Mas, pindah ketenda saja yu? Banyak nyamuk nih” Pinta Raisa.

“Ayo” Jawabku sambil menarik tangan Tri.

Sampai ditenda kuamati tubuh Tri dengan lebih jelas. Dan harus kuakui, payudara Tri sangat menggoda, dengan putting yang berwarna kemerahan. Tanda belum terlalu sering menerima sentuhan lelaki.

“Mas, jangan dilihat seperti itu” Kata Tri pelan. Kata-kata pertamanya sejak tadi.

“Terus, kalau tidak boleh dilihat, diapain Tri?” Godaku.

“Diginiin aja mas” Sahut Raisa dari belakang tubuh Tri. Tangannya dengan nakal meremas payudara Tri yang pasti sangat sensitif, melihat dari kerasnya putting merah mudanya itu.

“Ahh,, mbak Is…” Kata Tri sambil memejamkan matanya.

Perlahan Raisa menciumi leher jenjang Tri, kemudian berpindah ke telinganya.

“Ahhhhh,,,” Desah pelan Tri dengan dagu terangkat keatas, perlahan kepalanya disandarkan dibahu Raisa.

Wow…

Kunikmati adegan sesame jenis yang dilakukan Raisa. Walaupun katanya ini pengalaman pertamanya, namun terlihat dia menikmatinya.

Kudekati Tri, g-string putihnya terlihat tidak bisa menutupi semua rambut kemaluannya yang sangat lebat! Sebagian rambut itu keluar dari celana dalamnya yang mini. Perlahan kuelus bagian depan dari g-string itu, dan…

Basah!

Bisa kurasakan lengketnya cairan vagina Tri yang merembes keluar. Rupanya Tri sangat terangsang dengan apa yang kami lakukan. Kutarik kebawah G-string itu, dan benar!

Rambut kemaluan Tri sangat lebat. Jauh lebih lebat dari punya Raisa!

Kalau rambut kemaluan Raisa lebat, namun terawat.

Kalau rambut kemaluan Tri lebat, tak beraturan, menutupi celah vaginanya yang mulai mengeluarkan cairan kenikmatan.

Kuberi tanda kepada Raisa yang sedang asyik mencium Tri.

Mencium Tri???

Well, tampaknya tidak hanya aku saja yang terangsang saat ini. Ciuman mereka terlihat basah, panas dan lama. Dengan tak sabar kutarik tangan Tri dan kubawa kebagian belakang jeep. Kuminta dia naik keatas jeep dengan kaki menjuntai kebawah.

Pelan-pelan kusibakkan rambut kemaluan Tri sehingga bisa terlihat vaginanya yang masih sempit.

Kupandang mata Tri yang terlihat kelam karena gairah. Lalu perlahan kudekati vaginanya.

Setelah tau apa yang ingin kulakukan, Tri merapatkan pahanya dan berkata.

“Jangan mas, punya Tri basah” Katanya dengan wajah memerah.

“Hihihi. Yang basah itu yang lebih nikmat Tri, sudah, nikmati aja Tri” Kata Raisa sambil naik keatas jeep dan kembali mengulum payudara Tri.

Kusibakkan kaki Tri sehingga celah itu bisa terlihat, kudekatkan kepalaku kevaginanya. Aroma khas vaginanya membuatku semakin terangsang.
Kulihat keatas, mata Tri semakin berkabut oleh gairahnya.

“Masss….ssttt”Desah Tri ketika lidahku menelusuri lapisan luar vaginanya. Kucium dengan pelan vaginanya tanpa menyentuh klitoris atau lubang vaginanya.

“Uughh… hisap terus mass ssttt……remas yang kuat aaghhh Is……”,racau Tri menerima serangan dari aku dan Raisa.

Perlahan kurasakan tangan tri menekan kepalaku, mencoba mengarahkan lidahku kedaging kecil sebesar kacang yang ada dibagian atas vaginanya.

“Uhhhhh..masssssss” Teriaknya ketika akhirnya lidahku mencium klitorisnya. Cairan vagina Tri semakin banyak keluar, tanda dia begitu terangsang.

Pantat Tri diangkat, mencoba mendapatkan kenikmatan yang lebih dariku. Tangannya menekan kepalaku dengan kuat.

Beberapa saat kemudian pantat Tri bergerak tak menentu, remasan tangannya di rambutku semakin keras.

“Aaaagghh…. Mas… aku uggh…mau…..aahhhhh……”, ceracau Tri ketika puncak kenikmatan itu segera tiba.

“Masss!!!” Protesnya ketika aku mengangkat kepalaku dari vaginanya. Kulihat protes dari pandangannya.

Sementara itu kulihat Raisa.

Sambil mencium payudara Tri,satu tangannya menggosok klitorisnya sendiri!

Kurasakan penisku menegang dengan sangat keras ketika melihatnya.

“Sayang kalau cuma dicium aja Tri, mending pake ini” Kataku sambil menunjuk Andri junior.

“Tapi mas, punya mas…” Katanya ragu.

“Kenapa Tri?”

“Hihihi,, ,mas kayak gag tau aja” Kata Raisa sambil tertawa pelan.

“Emang kenapa Is?”

“Penis orang Jepang kan katanya kecil-kecil mas, lebih pendek lagi dari orang Indonesia, lah, punya mas gede gitu, aku ja masih ngerasa ngilu, apalagi untuk Tri,hihihi” Jelas Raisa yang membuat Tri memalingkan wajahnya.

Wajah Tri merah padam.

Malu?

Maybe.

“Hmm, kalau begitu, kita start slow aja ya Tri, Is bantu bikin Tri rileks ya” kataku sambil mengedipkan mata kepada Raisa.

Raisa bergeser kesebelah kiri Tri. Kemudian dia dengan lembut mencium bibir Tri, tangannya tak lupa meremas pelan payudara dan putting Tri yang berdiri menantang.

Kubelai perlahan klitoris Tri yang mulai membesar dengan indah, perlahan kumasukkan satu jari ke liang vaginanya yang sangat sempit.

“Mass… mmmm….aahhhh……”, Tri mulai meracau ketika satu jariku kumasukkan. Dan bisa kurasakan vaginanya menjepit erat jariku.

Satu jari.

Hanya satu jari dan jepitannya sangat terasa.

Bisa kubayangkan bagaimana rasanya jika penisku yang masuk menggantikan jariku.

Pelan-pelan kugerakkan jariku keluar masuk liang vagina Tri yang sangat sempit. Cairan vagina Tri mulai mengalir disela-sela jariku dan diantara pahanya.

“Arrgghhhh,, mass, pelanin..sakitttt..” Rintih Tri ketika dua jariku menerobos masuk kedalam celah vaginanya.

Tangan Tri memegang tanganku, berusaha menghentikan tanganku memasuki vaginanya. Kulirik mata Tri, terlihat matanya semakin sayu menahan gairah.

Melihat keadaanku, Raisa semakin ganas mencium Tri, sekarang Raisa menggesekan dadanya ke payudara Raisa, mencoba mencari sensasi kenikmatan dari gesekan dua pasang benda bulat nan kenyal itu. Perlahan genggaman tangan Tri di tanganku mengendur, kumanfaatkan kesempatan ini untuk memajumundurkan tanganku, cairan vagina Tri yang semakin banyak membuatku lebih mudah melakukannya.

Beberapa menit kemudian, dua jariku sudah bisa keluar masuk vagina Tri dengan mudah.

It’s time…

Kuberi tanda pada Raisa untuk berganti posisi. Sekarang Raisa ,mengangkang di depanku dan Tri, tubuh Tri kubalikkan sehingga menungging. Dengan pelan kuusapkan penisku divagina Tri.

Kulihat kedepan, Tri tampak agak ragu ketika Raisa memintanya untuk mencium vaginanya. Namun nafsu mengalahkan segalanya, Raisa mendesah lirih ketika lidah hangat dan basah Tri mulai menjilati vaginanya.
‚Äč
Dengan pelan kucoba memasukkan penisku ke vagina Tri.

Sulit.

Sangat sempit.

Namun dengan bantuan cairan vaginanya yang sudah sangat banyak. Perlahan kepala penisku mulai memasuki celah hangat milik Tri.

“Aaauuuggh…peellaann mas.”, pinta Tri , bisa kurasakan badannya menegang ketika kepala Andri junior sudah menyeruak masuk kedalam vaginanya.

“Ssstt…sempit banget Tri ….”, pujiku merasakan lebut permukaan vaginanya meremas kepala penisku.

Kudengar rintihan Tri ketika dengan pelan aku berusaha mamajukan penisku kedalam vaginanya.

“Aaagghh…mas sstt….aaaah…..”, desis ketika aku mulai memasukinya dengan perlahan. Kepala penisku terasa sedikit perih.

Luar biasa, seperti perawan saja!

Aku mundurkan lagi penisku, sehingga hampir terlepas dari vaginanya. Kemudian aku masukkan setengah. Begitu berkali-kali sampai rintihan Tri berubah menjadi desahan nikmat.

“Aaahh, mas, masukin lagi, tapi pelan-pelan ya mas” Katanya memberi lampu hijau kepadaku unutk memasukkan penisku lebih dalam lagi.

“Tri, terus..aahhh… keatas lagi dikit Tri” Kudengar rintihan Raisa ketika Tri semakin cepat menjilati vaginanya.

Dengan perlahan kucoba memasukkan semua penisku kevagina mungil Tri.

Hangat.

Basah.

Dan bisa kurasakan dinding vagina Tri menjepit dan memijat penisku.

Sedikit lagi.

Dan.. blesss…

“Aaaahhhhh massss!” Teriak Tri ketika dengan sekali hentakan aku memasukkan penisku.

Luar biasa!

Sempitnya seperti vagina perawan saja!

Kudiamkan sesaat penisku didalam sana supaya Tri terbiasa dengan ukuran penisku. Raisa juga membantu dengan meremas payudara Tri dengan kuatnya. Setelah beberapa saat, bisa kurasakan tubuh Tri mulai rileks, pahanya tidak dikencangkan seperti tadi.

“Tahan bentar ya Tri, nanti terasa enaknya kok…” Bisikku sambil mulai memaju mundurkan penisku.

“Aaaaaghh…mmpphh…mmmpphh….stttt……massssss…..”,Desis Tri ketika penisku maju mundur dengan perlahan.

“Ahhh,,, lebih keras Tri” Pinta Raisa sambil meremas payudaranya sendiri.

Genjotanku semakin kupercepat, cairan kenikmatan yang keluar dari vagina Tri sangat membantu penetrasiku.

“Ugghh…uugghh,, enak banget punyamu Tri” Pujiku disela-sela persetubuhan kami.

“Punya mas besar dan lebih nikmat masss” sahut Tri.

Kami terus berpacu dalam gairah, berusaha mendapatkan puncak kenikmatan yang kami dambakan. Hampir sepuluh menit kami bergelut dengan birahi saat aku mulai merasakan gelombang kenikmatan berkumpul di penisku.

“Aaaghhh…mas…. Tri dapet aagghhh…..”, jerit Tri saat orgasme. Tubuhnya bergetar dan menggeliat liar. Tangannya memegang paha Raisa yang juga mulai meracau tak jelas. Raisa lalu mendekatkan vaginanya ke muka Tri, berusaha mendapatkan orgasme yang didepan mata.

Dan…

“Aaahhhh….ugghh..ugghh…Is mau dapett……aaagghh….”, Kata Raisa ketika tak mampu lagi bertahan. Vaginanya digerakkan dengan cepat kearah lidah Tri yang menjulur.Dan…

“Aahhhhhhhh….Is nyampe….aaaggghhh!”

Pemandangan orgasme Tri dan Raisa membuatku semakin tak tahan.Vagina Tri bagaikan bisa mengempot-empot dan menghisap kuat penisku. Aku pun mengocok penisku dengan cepat dan akhirnya..

“Crotttt..croottt..crootttt”

Beberapa kali semprotan kuat spermaku didalam vagina Tri. Disatu sisi bisa kurasakan cairan orgasme Tri begitu hangat menyiram batang penisku……….

“Is, mas mau nyampe!” Kataku pada Raisa, ingatan bercinta dengan Tri dan Raisa malam kemarin membuatku akan mencapai orgasme saat ini.

“Uhuhhhh…” Sebagai jawabannya, Raisa memaju mundurkan penisku dengan cepat, dan akhirnya…

“Crottt..crottt.crottt..” Beberapa semprotan kuat spermaku didalam mulut Raisa.

Sebagian meleleh keluar.

Dengan gaya yang menggoda, Raisa mengusapkan spermaku diwajahnya.

“Masker alami neh mas hihihi” Katanya.

Kurebahkan badanku di ranjang. Pertempuran yang melelahkan. Beberapa menit kemudian akupun menyerah pada rasa kantuk yang menyerang.

***

Drrtttt….drrttttt….drrrttttt….
Drrtttt….drrttttt….drrrttttt….
Drrtttt….drrttttt….drrrttttt….

“Huh… “Nada getar handphoneku membangunkan paksa aku dari tidur. Kuingat dimana kuberada.

Dikamarnya Raisa.

Itu bisa kuketahui dari si empunya kamar yang berada di lengan kiriku.

Setengah telanjang!

Drrtttt….drrttttt….drrrttttt….
Drrtttt….drrttttt….drrrttttt….
Drrtttt….drrttttt….drrrttttt….

Kuambil handphoneku dan terlihat

Celana-dalam-putih calling…

“Halo”

“Mas, Ade meninggal!” Kata si-celana-dalam-putih dengan sedikit bergetar.

“Ade siapa?” Tanyaku, masih mengantuk.

“Ade, kepala programmernya mas!”

Bersambung