Rahasia Gelap Part 18

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36

Cerita Sex Dewasa Rahasia Gelap Part 18 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Rahasia Gelap Part 17

FACTORY.
II

Keluar???

“Maksudnya mas?”

“Hah..hah..hah, ada sarang lebah didekat sini mbak, gak sengaja aku ganggu kayaknya” katanya dengan terengah.

“Ne lagi lari mbak” Sahutnya, masih dengan nafas terengah.

Senyum tak bisa kutahan muncul diwajahku ketika membayangkan si-mata-keranjang dikejar sekumpulan lebah.

“Wah, hati-hati mas, kalau begitu sampai nanti mas” Kataku sambil menutup telepon.

Tak sadar aku senyum sendiri ketika selesai menelepon.

“Mbak kenapa? Kok senyum-senyum sendiri?” Tanya Lisa, heran dengan keadaanku.

“Ini, si-ma, eh maksudku Mas Andri, dikejar lebah pas mbak telepon” Jelasku.

Hampir aku memanggilnya dengan si-mata-keranjang.

“Wah, ngapain Andri sampai dikejar lebah? Memang di pabrik ada lebah?” Timpal Mas Edy sambil mengerutkan keningnya.

“Mungkin di laboratorium Dy, dia kan dipabrik obat-obatan” Jawab Mas Frans santai.

“Oke, jadi bagaimana mbak? Untuk data-data projectnya sudah diberikan oleh Andri?” Tanya Mas Edy, seperti biasa, serius.

Terlalu serius.

“Mas Andri sudah menguploadnya ke clous storage perusahaannya mas, jadi nanti tinggal kita download saja mas, untuk yang lebih detail akan dikirimkan nanti sore” Jawabku.

“Bagaimana dengan detail security system yang diminta Mas Ade, sudah ada kabarnya?” Lanjutku sambil menoleh kearah Mas Frans dan Erlina.

“Untuk detail security systemnya sudah diberikan mbak, sudah saya forward ke email nya Ade, untuk sementara dia masih ngeceknya, mungkin

besok atau nanti sore dia bisa memberikan penjelasan apakah datanya sudah lengkap atau tidak” Jelas Erlina detail.

Sekretaris yang bisa diandalkan, dengan otak dan tubuh seperti itu, setiap bos yang memmpunyainya pasti akan tertarik.

Apakah si-mata-keranjang juga?

“Hmm, untuk algoritmanya ada masalah mbak?” Tanya Mas Edy.

“Sampai sejauh ini belum ada kendala, masih nunggu data dari Mas Andri saja sekarang.”

“Kalau begitu, kita bisa memberitahukan kepada semua staff tentang data yang sudah masuk, sehingga nanti bisa kita proses lebih lanjut.” Lanjut Mas Edy.

“Oke, kalau begitu aku akan kasi tau mereka sekarang, sekaligus menanyakan apa saja data yang masih kurang”

“Silahkan mbak, kalau ada yang perlu lagi dari G-Team, jangan ragu menghubungi kami” Saran Mas Frans.

“Oke mas” Jawabku sambil menuju tempat kami membuat software untuk Alfa Medika.

Suasanya ruang kerja di G-Team dibuat semaksimal mungkin untuk kenyamanan staff. Staff bisa dengan bebas mendekorasi tempat kerjanya asal tidak menyebabkan kerusakan atau modifikasi permanen. Ruangan terasa nyaman, dengan kualitas standar yang tinggi. Setiap bagian mempunyai ruangan yang terpisah. Dari sekian bnayak ruangan yang ada, yang paling malas aku masuki adalah ruangan programmer.

Well.

Karena semua anggotanya laki-laki dan bau rokok!

Ruangan ini sedikit terasa pekat, karena kurangnya ventilasi, ruangannya juga sunyi, nyaris tak ada musik atau hiburan sejenisnya.

Namun ruangan itu harus yang pertama aku kunjungi.

“Halo, selamat pagi semuanya” sapaku ketika sampai diruangan programmer. Terlihat beberapa staff G-Team sedang asyik berkutat di depan computer masing-masing. Anggota timku juga terlihat sibuk dikomputernya.

“Pagi mbak” Sapa mereka, beberapa mengucapkan salam tanpa melihat kearahku.

Well, sudah biasa.

“Untuk hari ini, data dari pabrik Alfa Medika telah diupload Mas Andri di cloud G-Team, jadi teman-teman bisa mengunduhnya disana, sudah punya akunnya kan?” Tanyaku sambil melihat sekeliling.

“Sudah mbak. Untuk detail lengkapnya kapan bisa kami peroleh mbak?” Tanya Ade, kepala programmer dari G-Team.

“Kata Mas Andri, mungkin nanti sore, nanti seperti biasa akan diupload lewat cloud juga, ada data yang mas perlukan lagi?” Tanyaku sambil mengamati Ade.

Tubuhnya kurus dan agak pendek, mungkin lebih pendek dariku. Dari ayng kudengar dari Lisa-yang mendengarnya dari Mas Frans. Ade memiliki sedikit masalah jantung dan tekanan darah tinggi.

Tidak aneh, melihat pola hidup dan makanannya. Minuman bersoda dan rokok menjadi teman sehari-harinya. Disamping makanan cepat saji yang menjadi pilihan menu makan malamnya.

Dan suka ‘jajan’.

Well, itu bukan urusanku. Namun dibalik semua ‘kekurangan ‘itu tersimpan otak yang cemerlang, yang bisa menganalisa sebuah permasalahan dengan cepat dan mempunyai segudang akal untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Tidak salah kalau Mas Andri memilihnya sebagai ketua tim programmer.

“Untuk masalah securitynya ada perkembangan?”

“Masih running test mbak, nanti saya info kalau ada perkembangan” Sahutnya sambil kembali fokus ke depan computer.

Well done.

Aku keluar dari ruangan itu, sedikit bisa bernafas lega karena asap rokok yang tadi lumayan pekat.

“Hehehe, mbak pasti gak tahan dengan bau asapnya ya?” Tawa Lisa pelan dibelakangku.

“Iya Lis, mbak heran kenapa mereka bisa tahan.”

“Hanya mereka yang tahu jawabannya mbak” Sahut Lisa sambil mengangkat bahunya.

Sekarang kami menuju kebagian design grafis. Disini ruangannya berkebalikan dengan ruangan para programmer. Dentum music dan hingar bingar percakapan menyambutku dan Lisa.

“Selamat pagi”

“Selamat pagi mbak” Sahut mereka dengan gaya masing-masing.

“Wah, ada gerangan apakah sehingga ruangan kami dikunjungi bidadari pagi-pagi seperti ini?” Goda seseorang dari antara mereka.

“Wah, untung sudah mandi pagi ini,hehehe” Temannya menimpali.

“Eh, ketekku bau ndak?” Tanya salah seorang dari mereka kepada temannya.

Tak bisa kutahan wajahku sedikit memanas mendengar komentar mereka.

“Ada yang bisa dibantu mbak?” Tanya Surya, kepala bagian desain grafis. Kuamati dia sebentar.

Tinggi. Dengan wajah yang maskulin serta senyum yang menggoda.

Seperti si-mata-keranjang.

Tak tahan aku membandingkan mereka berdua.

“Cuma mau nanya mas, untuk masalah desain antarmuka dari sistemnya, mas perlu apa untuk buatnya? Kalau ada yang kurang, biar bisa saya carikan atau konsultasikan nanti”

“Kalau bisa, minta logo Alfa Medika yang high res, serta foto semua karyawan yang uptodate mbak, jadi bisa kami mulai dengan antarmuka system manajemen karyawannya mbak” Jawab Mas Surya.

“Oke mas, nanti saya info kalau sudah ada perkembangannya ya, mari mas” Jawabku sambil emlangkah menuju keruangan berikutnya.
Ruangan terakhir adalah ruangan yang penuh dengan perangkat keras computer.

Iya, ruangan server dan pusat pusat prangkat keras.

Semua perangkat yang diperlukan tim dan klien, dibuat atau dirakit disini.

Kulihat Mas Guzur, ketua tim perangkat keras sedang merakit sebuah computer atau sejenisnya.

“Selamat pagi mas” Sapaku.

“Selamat pagi mbak, ada yang bisa saya bantu mbak?” Tanyanya dengan ramah.

Berbeda dengan ketua tim yang lain. Mas Guzur berbadan besar kalau tidak dibilang gendut, diantara yang lain, Mas Guzur yang paling humoris dan santai.

“Cuma mau nanya, untuk hardwarenya mas ada masalah atau bagiamana? ”

“Sementara ini masih belum ada kendala mbak” Jawabnya sambil tersenyum.

“Satu-satunya kendala, berat badan saya yang semakin naik neh mbak hehehe” Lanjutnya sambil tertawa.

“Ya udah kalau begitu mas, nanti kalau ada yang perlu, hubungi saya ya mas” Kataku sambil melangkah keluar.

Satu agenda selesai, pikirku sambil menuju kembali keruangan rapat, yang sementara ini menjadi ruanganku. Sesampainya disana, kami duduk dan mulai membahas hal yang tadi.

“Lis, sudah kamu catat semua hal yang perlu tadi?”

“Sudah mbak, apa kita perlu menghubungi Mas Andri lagi mbak?” Tanya Lisa.

“Hmmm, coba kita hubungi saja Alfa Medika, Mas Andri pasti sibuk dengan pengambilan gambarnya.”

“Iya mbak, kalau begitu nanti aku coba hubungi pihak Alfa Medikanya mbak”

“Iya, thanks ya Lis” Sahutku.

Hmmmm, semoga si-mata-keranjang bisa tepat waktu mengirimkan datanya.

Masih mengambil gambar kah dia disana?

Andri POV.

“Hihihi, mas kalau lagi jutek lucu juga, hihihi” Gelak tawa Raisa membuatku semakin uring-uringan.

Tanya kenapa?

Ketika tadi spermaku sudah tinggal meluncur keluar, malah dia menghentikan aksinya.

“Buat nanti malam mas” Katanya sambil merapikan rok dan blousenya.

Huffffttttttt, kepalaku pusing karena nanggung.

“Mas Andri, jadi ngambil gambarnya sekarang?”

Busettt dah!

“Ayo Is” Mungkin dengan bekerja, gairahku bisa turun.

Hampir seharian kami sibuk mengambil gambar dan merekam pembicaraan dengan staff dipabrik. Hari sudah menjelang malam ketika kami selesai.

“Mas, nanti istrahat di villaku saja ya mas?” Tawar Raisa ketika kami sudah selesai mengambil foto dan video.

“Boleh Is, tempatnya masih jauh? ”

“Gak kok mas, dekat dari sini, mau sekarang kesana?” Tanya Raisa.

“Gak makan dulu Is?”

“Hmmm, coba Is telepon dulu Bi Ijah yang jaga di villa, biasanya Bibi Ijah yang masak mas” kata Raisa sambil mengambil handphonenya dan menelepon.

Setelah berbicara beberapa lama Raisa menaruh hanphonenya dan berkata.

“Mas, Is telepon Bi Ijah tadi, Bi Ijah dan suaminya yang biasa jaga villas sedang kondangan ke luar kota, besok baru datang, divilla ada keponakannya yang jaga sekarang, pinter masak juga katanya mas, gimana mas?”

Keponakannya?

Hmm, mangsa baru.

Seperti biasa pikiran mesum kembali bekerja.

“Hmmmm…. Ke villa aja deh Is, capek nih”

“Ayo kalau begitu mas”.

Kami menuju kemobil dan perlahan keluar dari pabrik.

“Eh, divilla ada internetnya Is? Mas perlu upload datanya sekarang”

“Ada kok mas, villanya biasanya dipakai bapak kalau lagi kesini” Jawab Raisa.

Lima menit kemudian kami tiba di villanya Raisa.

“Loh, kok pagarnya terbuka?” Seru Raisa melihat pintu pagar yang memang sedikit terbuka.

“Mungkin lupa ditutup Is”

“Mungkin saja mas”

Aku turun dan membuka pintu pagar lebih lebar sehingga mobil bisa masuk.

“Mungkin ada tamu Is” Seruku sambil menunjuk dua pasang alas kaki di pintu masuk.

“Mungkin saja mas” Sahut Raisa sambil mengetuk pintu villa.

“Tok..tok..tok…”

“Tok..tok…tok” Tidak ada sahutan dari dalam. Samar terdengar music dari lantai atas.

“Wah, kemana yang jaga nih?” Kata Raisa penasaran.

Kucoba membuka pintu dan ternyata bisa!

“Wah, pintunya gak dikunci Is? Beneran ada yang jaga? Jangan-jangan ada pencuri” Seruku dengan khawatir.

“Mundur dulu Is, biar aku yang masuk duluan, Is ikut dari belakang saja”

Dengan langkah pelan aku masuk dan melihat sekeliling, namun tidak ada orang. Hanya music yang mengalun keras dari lantai atas.

“Sssttt, Is, keatas” Bisikku pada Raisa.

Kuambil pisau yang terletak diatas meja dan perlahan menaiki tangga menuju kelantai atas. Suara music terdengar dari salah satu kamar dilantai atas. Kuminta Raisa mengikutiku dari belakang dengan isyarat.

Suara music terdengar keras dari balik pintu yang tidak tertutup dengan baik. Dengan pelan aku menuju kepintu, dengan satu tangan kupegang daun pintu dan membukanya lebar.

Pemandangan yang ada didalam kamar membuatku terkesiap!

Bersambung