Rahasia Gelap Part 17

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Tamat

Cerita Sex Dewasa Rahasia Gelap Part 17 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Rahasia Gelap Part 16

FACTORY.
I

***

Entah mengapa, aku selalu tertarik dengan yang lebih muda.
Entah itu siswi SMP bahkan SD.
Apakah ini suatu kelainan?
Yang jelas, aku ingin menikmati gadis-gadis muda itu.
Gadis-gadis yang baru berkembang.
Membayangkan saja sudah membuatku meneteskan air liur.
Membayangkan menikmati lubang mereka yang sempit.
Teriakan kesakitan yang dipadu dengan kenikmatan mereka yang bersahutan.
Teriakan itu, bagai simfoni yang begitu merdu ditelingaku.
***

Ketika…

“Ouwh…!” Kataku terkejut ketika sepasang tangan yang mungil membelai penisku yang setengah tegang dari belakang.

Kemudian kurasakan nafas halus perlahan disekitar paha, naik ke pinggang.

Tangan mungil itu perlahan mengelus bola dibawah sana.

Perlahan.

Lembut.

Kemudian sesuatu yang hangat dan basah menciumi kepala penisku.

Kulihat kebawah dan tatapan menggoda Tri memandangku.

​”Tri, ayo kita bikin Andri junior mabuk malam ini,hihihi” Kata Is sambil perlahan bangkit dari duduknya.

“Uffftttttt…terus Tri” Racauku.

Perlahan penisku yang setengah tegang mulai mengeras.

Lagi.

Raisa menghampiriku dengan langkah sensualnya, tangannya membelai bahuku dengan perlahan. Dia melangkah kebelakang tubuhku dan perlahan memelukku dengan mesra. Gundukan kenyal didadanya menekan erat punggungku, bibirnya yang tipis dan basah menciumi tengkuk dan telinga, sementara tangannya memilin pelan putingku.

Sementara dibawah sana ,Tri masih asik mencium penisku yang telah menegang dengan sempurna. Tangannya dengan aktif mengelus bola-bola yang menggantung pasrah. Perlahan penisku dikulum oleh Tri, bisa kurasakan Tri belum begitu berpengalaman.

Giginya masih menyentuh penisku.

Terasa ngilu.

Kuminta Raisa untuk berjongkok didepanku, ingin kubandingkan, kuluman siapa yang lebih enak. Sambil tersenyum mesum, Raisa mendekatkan mulutnya kearah Tri yang masih asik dengan penisku. Sambil melirikku dengan tatapan menggoda, Raisa mulai menjulurkan lidahnya, men…

***

“Mas, Mas Andri” Raisa menggoyangkan tangannya didepan mataku.

“Ayooo, pasti ngelamunin yang kemarin ya? Ckckkckc, gak usah dilamunin mas, nanti Is kasih lagi kok, hihihi” Suara Raisa membawaku kembali kealam nyata.

“Abis enak, ngapain gak diinget Is, hehehe. Dah siap?” Tanyaku ketika dia memasukkan alat kosmetiknya kembali ketas.
Kuambil semua perlengkapanku dan memasukkannya kedalam tas yang kubawa.

“Sudah mas, ayo” Ajak Raisa sambil melangkah kedalam pabrik.

“Wah, Mbak Raisa, tumben mbak?” Tanya petugas security di pintu masuk.

“Iya mas, nganter mas ini, mau ambil gambar dan detail produksi disini” Jelas Raisa sambil menunjuk kearahku.

“Ouwhh, bisa saya lihat ID nya mas?” Tanya security dengan ramah.

“Ini pak” Kataku sambil memberikan ID ku yang tadi tergantung dileher.

Setelah dia mencocokannya diposnya, dia mengembalikannya padaku.

“Ini mas, silahkan masuk” Katanya sambil membukakan pintu.

“Mari pak” Kataku kepadanya sambil melangkah mendekati Raisa yang sudah berjalan duluan.

Kami menuju bagian dalam pabrik.

Dan, oh yeah!

Luas.

Sangat luas.

Beraneka ragam mesin dan ruangan ada disini. Dengan ratusan mungkin ribuan orang yang bekerja.

“Siap mas?” Tanya Raisa melihatku sedikit tertegun dengan suasana pabrik.

“Let’s go!”

Selama dua jam berikutnya, kami berkutat dengan pengambilan gambar. Pencatatatan data, pembuatan alur produksi, dan beberapa rekaman dengan staff produksi. Secara garis besar, alur pembuatan obat-obatan sudah berhasil kucatat. Bagian detailnya ternyata ada berupa semacam e-books dan bagan.

“Wah Is, nanti tinggal aku ambil gambar dan video sesuai alur ini, jadinya detail yang mas dapet lebih full” Kataku pada Raisa.

“Iya mas, tapi pegel nih, istirahat dulu yu mas? Sambil ngopi” Ajak Raisa.

Kopi.

Good idea.

“Ayo Is, mas juga pengen kopi, plus susu tapi, hehehe” Godaku pada Raisa.

“Ihhh, dasar maniak, ayo mas” Ajak Raisa.

Kami menuju kebagian resepsionis, disana Raisa meminta kopi.

“Mbak, minta dua kopi, antarkan ke ruang kerja bapak yang dulu ya” Pinta Raisa.

“Iya mbak Raisa, ada lagi mbak?” Tanyanya dengan ramah.

“Kalau ada cemilan boleh juga ya, tapi jangan yang kentang ya, bosen nih ma kentang dari kemarin” Kata Raisa sambil melirikku.

“Ayo mas” Ajaknya sambil tersenyum.

Aku mengikuti langkah Raisa.

Dan baru aku mngerti apa makna senyumnya tadi.

Langkah Raisa perlahan didepanku, pantatnya yang tertutup dengan rok hitam dibalut kain pantai digoyangkan dengan gemulai. Terpaksa lagi dan lagi aku menelan ludah.

Ruangan yang dikatakan Raisa terletak sedikit terpisah dari ruangan pabrik dan berada di gedung bertingkat. Terlihat beberapa staff diruangan bawah.

“Wah, Mbak Raisa, tumbeh ni mbak” Sapa seorang staff.

“Iya neh mbak, mau ngambil gambar sama mas ini” Katanya sambil menunjuk kearahku, yang hanya bisa tersenyum kepadanya.

“Mbak mau keruang atas?” Tanyanya kepada Raisa.

“Iya, kuncinya ada?” Tanya Raisa.

“Ada mbak, ini kuncinya” Katanya sambil mengambil sebuah kunci dari laci dan memberikannya pada Raisa.

Kami naik kelantai dua dengan menggunakan tangga. Sampai di lantai dua, hanya ada sebuah ruangan disini. Raisa membuka pintu dan terlihatlah sebuah ruangan kecil yang nyaman. Aku menutup pintu yang berayun pelan dibelakangku.

Terdapat sebuah meja panjang berwarna coklat yang dilengkapi dengan kursi putih yang sederhana. Didinding terlihat berjejer lemari yang berisi buku-buku. Dibelakan meja, terdapat kaca yang ditutupi tirai berwarna putih. Dari kaca itu terhampar pemandangan pabrik yang berada diluar ruangan.

“Duduk dulu mas” Kata Raisa, sementara dia melepaskan kain pantainya dan bersandar dimeja.

“Huftftttt, lumayan capek juga” Kataku.

“Mau dipijet mas?” Tawar Raisa dengan senyum khasnya.

“Pijet pakai apa Is?”

“Mas maunya pake apa?” Sambil berkata seperti itu Raisa mencondongkan tubuhnya.

“Yang dua ini?” Sambil menunjuk dadanya.

“Atau yang dibawah sini?” Katanya sambil membuka kakinya dan perlahan menaikkan rok hitamnya.

Kembali aku menelan ludah melihat apa yang dilakukan Raisa.

Sebelum aku bisa menjawab, terdengar ketukan dipintu.

Tok.tok.tok..

“Iya” Sahut Raisa sambil menurunkan roknya dengan tergesa dan melangkah kepintu.

“Mbak, ini kopinya” Kata si resepsionis yang kami jumpai tadi.

“Thanks ya mbak”

“Sama-sama mbak” Kudengar jawaban pelan dari si resepsionis sebelum berlalu.

“Mas, ini kopinya” Sambil menyerahkan kopinya, Raisa menunduk, terlalu menunduk, sehingga terlihat belahan dadanya yang kemarin aku puas cicipi.

Hufftttt.

Fokus kerja ndri!

Kuambil cangkir kopi dari Raisa, dan tanpa melihatnya, aku mengambil laptop, menyalakannya. Setelah laptop menyala, aku transfer gambar-gambar yang aku ambil tadi.

Kulirik Raisa.

Dia tersenyum memandangku sambil menghirup kopinya.

Well, ada lain kali untuk menikmati tubuh mulusnya.

Setelah selesai mentransfer gambar, aku melirik lagi kearah Raisa.

Dan…

Raisa menaikkan roknya sampai kepangkal paha!

Sementara itu paha mulusnya dibiarkan terbuka sehingga belahan kecil yang berada di pangkal paha itu terlihat samar karena dipenuhi dengan semak-semak yang rimbun.

Tak bisa kucegah lagi, Andri junior berontak bangkit dan terasa sesak dicelanaku.

“Hihihi, mas cepet banget banget tu bangunnya, tapi sekali bangun, sulit bobonya hihihi” Goda Raisa.

Andri, fokus!

“Is, apa password wifinya?” Tanyaku melihat ada wifi tersedia.

“Hmmm,,,Is Tanya dulu mas, tapi yakin ndak mau ini mas?” Kata Raisa sambil menyibakkan rambut-rambut yang ada dipangkal pahanya.

Gleeekkkkk.

Penisku terasa sakit dibawah sana.

Kutatap belahan sempit yang terlihat disana, sangat indah dan merangsang.

“Oh iya, password wifinya ya mas?” Kata Raisa sambil berbalik dan mengambil telepon yang ada di meja.

Pantat itu, membulat dengan indah.

Konsentrasiku semakin buyar.

Tidak bisa kudengar dengan jelas apa yang dikatakan Raisa ditelepon.

Pantat itu terasa lebih penting untuk dilihat sekarang.

“Mas passwordnya empiris ”

“Hah klitoris?” Kataku tak percaya.

“Hihihi, mesum mulu mas, EMPIRIS, huruf besar semua ya” Kata Raisa, menikmati situasiku yang serba salah.

Ayo Andri, konsentrasi!

Kutaruh semua file gambar yang berhasil aku ambil sampai saat ini di fasilitas cloud perusahaan, ebook dan bagan yang kudapat juga aku upload, hanya video saja yang tidak aku upload karena sizenya yang terlalu besar.

Kuhirup kopi yang sudah terasa agak dingin, hanya untuk meredakan nafsu yang sudah dititik kritis.

Oke, email beres, tinggal menunggu semua file terupload.

Oh iya, dimana Raisa?

Pertanyaanku terjawab ketika benda yang hangat dan lunak terasa di punggungku.

Perlahan benda itu bergerak kesamping dan akhirnya kulihat Raisa.

Kancing blousenya terbuka. Memperlihatkan daging putih yang mengintip malu-malu.

“Is…”

“Uhuh…”

Raisa menarik tanganku kearah meja. Dengan satu tangan dia mendorongku hingga terduduk diatas meja. Tangan yang satunya dengan ahli membuka resleting celanaku.

Andri junior terbebas dari sangkarnya.

“Ahhhh, is….” Hanya itu yang bisa kukatakan ketika lidah Raisa mulai menjilati kepala penisku. Lidah itu kemudian dengan lincah menyusuri batang dan bola-bolaku yang tergantung dengan pasrah.

Drrttttttt..drrrttttttt…

Drrttttttt.drrrrtttttttttt…

Getar handphoneku yang terus menerus membuatku tersadar.

“Is, ada telepon, tunggu dulu…”

“Angkat aja mas” jawab Raisa, sekarang tangan lentiknya ikut mengocok pelan batang penisku.

Kulihat layar handphone dan nama si-celana-dalam-putih terlihat disana.

“Is, Lidya, berhenti dulu..ughhttt…”

“Uhuh… ” Yang kudapat malah jilatan pelan di kepala penisku.

Terpaksa kuangkat telepon dengan keadaan batang penis yang dikocok pelan, dan kepala penis dihisap oleh mulut mungil Raisa.

Lidya POV.

“Halo, selamat pagi” Kudengar suara si-mata-keranjang diujung sana.

“Halo Mas Andri, Mas dimana sekarang? ” Tanyaku to the point.

“Di pabrik Alfa Medika mbak, kenapa mbak?”

“Untuk detail alur produksinya bagaimana mas?”

“Link gambar awal sudah aku kirim lewat email, gambarnya masih aku upload via cloud perusahaanku, nanti minta filenya di Erlina atau Frans”

“Itu sudah semua filenya mas?”

“Belum mbak” Suara si-mata-keranjang sedikit tersendat.

Dan seperti kesakitan?

“Halo, mas baik-baik saja?”

“Baik-baik saja kok mbak, cuma ada lebah yang masuk ke ruangan sini” Terangnya.

Ouuwwhhh.

“Mbak, mungkin file lengkapnya nanti sore sudah bisa aku kirimkan, ada detail lain yang mbak perlukan, ah..?” Kata si-mata-keranjang, sedikit terengah.

Terengah?

“Sementara ini belum mas, detail security yang mas kirimkan sudah aku terima, kepala programmer mas sedang running test sekarang. ” Terangku.

Jadi besok si-mata-keranjang sudah ada disini.

“Bagaimana dengan kerja tim kita mbak? ” Tanya si-mata-keranjang.

“Sampai saat ini lancar mas” Jawabku pelan.

“Ughhhh,, aku m..au keluar…” Kudengar suara pelan si-mata-keranjang disebelah sana.

Keluar???

Bersambung